Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 63


__ADS_3

03 Januari 2020. Pukul 12.10 WITA (12.10 p.m.)


Adnan mengundang Endi datang ke kantornya. lelaki botak itu menyanggupinya dan berjanji berkunjung selepas sholat Jum'at berjama'ah.


Adnan sendiri menyempatkan sholat Jum'at di Masjid Agung Baiturrahim Kota Gorontalo, menunggu Endrawan yang akan menemuinya disana. lelaki itu mendengarkan khutbah yang diuraikan dengan begitu cermat dan lugas oleh Khatib pada saat itu.



uraian-uraian kata demi kata yang teruntai dalam kalimat-kalimat agung, disirami ayat Qur'an dan paparan Hadis Nabi Muhammad SAW yang sangat mengena dihatinya membuat Adnan terus menyimak hingga akhirnya sang khatib merampungkan uraian khutbah pertama dan duduk sebentar lalu berdiri lagi membacakan khutbah kedua.


Menghambalah kepada Allah...


Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berbuat adil dan baik


dan menyantuni kaum kerabat...


dan menghindari sesuatu yang keji dan munkar


dan permusuhan...


Allah mengajarkanmu agar kamu mengambilnya sebagai pembelajaran....


...********...


03 Januari 2020, 14.11 WITA, (02.11 p.m.)


Endrawan mengenakan stelan jas hijau lumut yang membalut kemeja hijau pastelnya. ia mengenakan dasi hitam bergaris tipis. celananya berwarna sama dengan jasnya. detakan sepatu pantofelnya menggema dilantai. beberapa pegawai menengok lalu memberi salam kepada lelaki botak itu.


Endrawan sebagai salah satu pemegang saham dalam perusahaan. selain itu ia merangkap sebagai sekretaris bayangan dan pengawal pribadi lelaki itu. ia tiba didepan ruangan direktur dan mengetuk pintunya.


"Masuk!" ujar suara dari dalam.


Endrawan memutar gagang pintu dan membuka daun pintu tersebut. ia masuk dan mendapati sahabatnya duduk di sofa. disana ada 2 botol bir bintang zero dan dua gelas tinggi terbuat dari kaca tebal. sebuah piring berisi butiran kacang tanah sangrai menggeletak di meja. Adnan mengisyaratkan Endi duduk.


"Kenapa ente memanggil ana kemari, Bro? kalau butuh pengawalan bilang dong. kan saya bisa memobiliisasi orang-orang kita. mau dinas luar, Bro?" tanya Endrawan sambil duduk di depan Adnan yang asyik mengunyah kacang sangrai.


"Santai dulu... memang kebiasaan kamu nggak bisa dihilangkan ya? kamu kira ini dipasar? pelihara prestise dong." tegur Adnan kemudian mengisyaratkan Ensi untuk merasai butiran kacang sangrai itu.


Endi mengikuti saran sahabatnya menikmati kacang sangrai. lelaki itu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.


"Aku sudah menemui Yanto tadi." ujar Adnan memulai percakapan sambil mencondongkan tubuhnya mengambil botol bir, membukanya dan menuangkan isinya sedikit ke gelas tinggi.


"Oh ya?" sambut Endi sambil mengambil botol dari genggaman Adnan dan menuangkan isinya ke gelas miliknya.


Adnan mengangguk. "Aku sudah mengancamnya untuk tidak mengganggu kita lagi. jadi kuharap kau tenang, tapi jangan turunkan kewaspadaan." lelaki itu mengangkat gelas dan meminumnya sekejap lalu menaruhnya lagi di meja.


"Mengapa harus begitu?" tanya Endi dengan kebingungan. lelaki botak itu meneguk bir dengan perlahan.


Adnan menghela napas dan menyandarkan punggungnya disandaran kursi itu. "Umumnya, orang yang dilanda kesedihan akan mendengarkan semua keluh kesah kepada orang yang sudah dianggap saudaranya sendiri."


...**********...


Endrawan mengendarai motor Honda CBR milik Trias membelah jalanan. ia kepikiran dengan ucapan sahabatnya.


"aku minta kau tenang, tapi jangan mengendurkan pertahanan. aku punya firasat ada yang kurang memuaskan dalam tanggapan Yanto terhadap penjelasanku." begitu ujar Adnan tadi siang


lelaki botak itu melajukan sepeda motornya. kembali ia mengenang percakapannya dengan sahabatnya tadi.


"Bagaimana dengan Trias? apa dia baik-baik saja?" tanya Adnan


"Baik." jawab Endrawan singkat. "Aku berharap hari pertama masuk sekolahnya juga akan di presensi."


"Bagaimana jika aku menemui Kepala Sekolah untuk meredam berita bengkok tentang pribadi anakmu?!" pancing Adnan.


"Oooo jangan. tak usah..." tolak Ensi dengan tanggap. "Sebaiknya aku memang tak perlu mengkuatirkannya." ujar Endi dengan datar.


namun Adnan masih melihat segurat kegelisahan diwajah pria berkepala plontos itu.


"Kenapa lagi?" tanya Adnan dengan heran.


"Aku mengkhawatirkan, pertikaian kalian berdua akan berdampak pada perusahaan." jawab Endi.


"Kok hidupmu itu banyak kekhawatiran ya?" kata Adnan dengan kesal. "Aku yang akan menangani hal itu. kau nggak usah khawatir."


Endrawan tersentak dalam lamunannya. sebaiknya aku harus menghubungi beberapa kawanku untuk melakukan pengawasan atas aktifitas Bubu....


sepeda motor itu kembali melaju menyusuri jalanan yang masih ramai.


...*********...


seperti janji sebelumnya. Bakri datang mengunjungi keluarga Lasantu. ia diterima oleh dua laki istri itu diberanda. tak berapa lama Aisyah muncul membawa baki berisi teh dan beberapa penganan. jilbaber itu meletakkan masing-masing cangkir ke hadapan tamunya beserta kedua orangtuanya. setelah itu Aisyah kembali ke dalam ruangan.


"Ayo, minum dulu." kata Mariana mempersilahkan anak muda tersebut.


"Makasih Tante..." jawab Bakri sambil mencondongkan tubuh mengambil cangkir dan menyeruput isinya lalu meletakkannya kembali.


"Sudah jalan berapa kuliah mu, Bakri?" tanya Adnan.


"Jalan semester 7, Om. sedikir lagi saya akan menyusun skripsi." jawab Bakri dengan santun.


Adnan mengangguk-angguk lalu mendehem. "Kamu mau bantu Om nggak?" tanya Adnan.


"Bantuan macam apa,Om? kalau saya bisa bantu, akan saya bantu." kata Bakri.

__ADS_1


"Kau kerja di perusahaan Om. kebetulan ada jabatan yang lowong. kalau kamu mau. senin besok kamu sudah boleh masuk." kata Adnan.


"Wah, Om... bukan maksud menolak, tapi saya nggak tahu jenis pekerjaan apa yang akan saya jalani disana." kata Bakri sambil terkekeh.


"Kamu menolak?" todong Adnan dengan kening berkerut.


"Bukan menolak Om. saya sangat bersyukur. hanya saja saya dalam posisi gamang karena bingung, jenis pekerjaan apa yang Om mau tawarkan ke saya." kata Bakri dengan canggung.


"Kamu saya tempatkan di HRD (departemen sumber daya manusia yang bertanggung jawab dalam kepengurusan minat dan bakat seorang pegawai dalam sebuah perusahaan). ada posisi lowong disana. nanti kamu kalau sudah kerja, rubah waktu kuliah kamu. ambil kelas karyawan." kata Adnan panjang lebar.


"Om, boleh nggak saya jadi OB dulu?" tanya Bakri membuat Adnan dan Mariana langsung tertawa karena merasa pertanyaan pemuda itu yang lucu.


"Bakri... kamu itu sudah mau sarjana. nggak pantas seorang sarjana jadi OB, kecuali kamu sarjana kebersihan." olok Adnan membuat Bakri jadi kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu itu ada-ada saja." kata Mariana. "Sudah. terima saja dulu. disyukuri dulu, ya?"


Bakri berpikir bahwa yang dikatakan Mariana benar. di syukuri dulu. tak ada ruginya mensyukuri pemberian orang, apalagi ini masih termasuk pamannya dari jauh. meski tak semarga, setidaknya Adnan masih termasuk kerabat keluarganya.


pemuda itu akhirnya mengangguk dan tersenyum. "Siap Om. saya siap kerja."


"Bagus. nanti senin kamu menghadap. jam berapa kamu kuliah lowong?" tanya Adnan.


"Saya lowong pagi, Om. Insya Allah saya kesana pagi." jawab Bakri.


Adnan mengangguk kembali. "Okey. jadi Om tunggu hari senin ya?"


tak berapa lama, Aisyah muncul mengenakan pakaian yang rapi, sebuah gamis panjang warna ungu pastel dan khimar yang sewarna, menjulur panjang hingga ke lutut. Adnan menatapi anak gadisnya.


"Mau kemana anak Papa, sore begini?" tanya Adnan.



"Ais mau ke Q-Mart Telaga. ada janji dengan teman." jawab Aisyah kemudian memandang Bakri. "Kak Bakri boleh antar saya nggak?"


Bakri menatapi Aisyah lalu beralih ke Adnan. lelaki itu menghela napas. "Asal jangan kemalaman." pesannya.


Aisyah mengangguk lalu menatapi Bakri dan mengangguk lagi membuat Bakri langsung bangkit.


"Maaf Om, Tante, bukan maksud tak sopan. hanya saya minta ijin mau antar Aisyah ke tempat yang dia tuju." kata Bakri lagi.


Mariana tertawa. "Titip anak Mama ya?"


Adnan tertawa lalu mengangguk. Bakri kemudian pamit dan menuruni beranda dan menyalakan mesin motornya. Aisyah kemudian pamit mencium punggung tangan Adnan dan Mariana.


keduanya menuruni beranda. tak lama kemudian muncul Kenzie yang menaiki sepeda motornya memboncengi Chiyome membawa tas berisi pakaian yang mereka titipkan pada Endrawan.


"Halo Kak, mau kemana berduaan? mau dating ya?" sapa Kenzie.


"Halo juga Ken. nggak, cuma ngantar kakakmu saja ke Telaga." jawab Bakri kemudian menatapi Chiyome.


Bakri terbelalak dan menatapi Aisyah. jilbaber itu tertawa. "Kamu keduluan muridmu." oloknya.


"Sejak kapan? kok Kak Bakri nggak dikasih tau? curang lo." omel Bakri kepada Kenzie. tatapan pemuda itu terhenti ketika memandang Chiyome yang juga menatapinya dengan tajam.


tatapan apa ini... perempuan ini memiliki energi besar. apakah dia seorang praktisi beladiri?


seakan tahu isi pikiran guru silatnya, Kenzie langsung mengangguk. "Dia praktisi karate, sudah Shihan."


jawaban Kenzie tambah membuat Bakri melongo. pasalnya Shihan adalah praktisi penyandang sabuk yudansha tingkat 9 dan 10. harafiahnya, Chiyome adalah seorang grandmaster.


"Sebaiknya kakak jangan tatapi saya seperti menantang." kata Kenzie kemudian mengisyaratkan tatapannya ke istrinya. "Istriku nggak rela kalau ada yang melototi suaminya."


"Kare no noryoku o tesuto suru koto ni kyomigarimasu...." ujar Chiyome sambil turun di boncengan dan menatapi Bakri lebih serius. (Aku tertarik untuk menguji kemampuannya)


Bakri menatapi Kenzie yang langsung turun dan mengapit istrinya. "Sudahlah... Kakak kelamaan disini. sudah sana pergi." kata Kenzie berlagak mengusir.


akhirnya Bakri pamit kepada keduanya dan mengendarai sepeda motornya memboncengi Aisyah meninggalkan kediaman keluarga Lasantu, diekori terus oleh tatapan Chiyome yang mencorong itu.


Kenzie menatapi Chiyome. "Wiffy...." tegurnya.


Chiyome langsung menatapi Kenzie dan memasang wajah ceria. "Nggak kok Hubby, tadi Wiffy hanya bercanda saja. hanya mau gertak saja."


Kenzie terus menatapi istrinya membuat Chiyome menunduk. "Wiffy nggak suka orang ngeliat Hubby begitu. kesannya mereka mau nantangi Hubby..." entah kenapa emosinya tidak stabil. wanita itu sudah mau menangis.


Kenzie tertawa, "Duh, makasih yang sudah protektif sekali sama Hubby.... kamu yang terbaik deh." ujar pemuda itu mengecup pipi Chiyome membuat gadis itu bersemu merah wajahnya.


"Aaaa... Hubby..." desah Chiyome dengan manja dan mengamit lengan Kenzie. mereka melangkah menaiki beranda dan menjumpai kedua orang tua mereka di beranda.


"Hei, baru pulang?" sapa Adnan.


Mariana memandangi wajah menantunya. "Chiyo... kok kamu pucat sayang?"


"Mungkin lelah saja, Ma..." jawab wanita itu agar mertuanya tak menaruh curiga lagi.


Mariana percaya saja dengan jawaban menantu tersebut, meskipun sebenarnya Chiyome berdusta...akhir-akhir ini ia merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. tadi saja entah kenapa emosinya tersulut melihat Bakri yang menatapi suaminya seperti itu. padahal Chiyome bukan pribadi seperti itu. ia sendiri heran melihat bercak-bercak darah di celana dalamnya. dan keanehan terakhir adalah kedua payudaranya begitu sensitif.


Kenzie yang tanggap dengan situasi yang canggung itu langsung mengapit tubuh istrinya. "Kalau begitu Ken amit dulu Pa.."


Adnan mengangguk. "Ya sudah... istirahat saja. kalau butuh apa-apa bilang ya?"



__ADS_1


Kenzie mengangguk lalu membawa Chiyome kedalam dan langsung menutup pintu kamarnya. Kenzie langsung melepaskan pakaiannya dan hanya mengenakan singlet dan celana boxernya. sedangkan Chiyome juga melepaskan pakaiannya dan menggantinya dengan lingerie model basque warna merah hati dan membalutnya dengan piyama panjang. keduanya kemudian naik ke ranjang.


"Wiffy istirahatlah. Hubby nggak mau Wiffy sakit." kata Kenzie sambil meraih buku bacaan disisi meja.


Chiyome hanya mengangguk pelan. ia kemudian berbaring dan menghadapkan bagian depan ke arah Kenzie yang sedang membaca buku karya seorang teoretikus politik asal Firenze.


wanita itu menatapi wajah Kenzie yang serius membaca rentetan tulisan dalam buku ilmiah politik itu. dalam tatapannya, wajah sang suami terlihat begitu seksi dan menggairahkan. Chiyome kemudian tersenyum, entah kenapa libidonya bangkit saat itu.


"Hubby....." panggilnya dengan lembut


"Hummm...." jawab Kenzie yang sedang membelai rambut istrinya dan menghentikan kegiatannya sejenak lalu memandang Chiyome yang tersenyum lebar memamerkan seringai gigi gingsulnya. Kenzie mulai bisa menebak arah keinginan sang istri dari gelagat senyumnya itu.


heheheh.... Hubby tau nih... seringai gingsul yang mempesona ini... pasti kearah itu nih.... hmmmm....


"Wiffy boleh minta nggak?" pinta Chiyome dengan manja sambil menatapi celana bokser Kenzie. ada sesuatu yang tersembunyi disana, menggugah selera wanita itu.


hmmm... benar, kan? ah sayangku.... kau paling gampang kutebak....


Kenzie tertawa pelan lalu mengangguk. "Mau dibawah atau diatas?"


"Wiffy saja yang lakuin." kata Chiyome dengan manja dan mulai memeloroti celana Kenzie dan mempermainkan tongkat Ruyi Jingu Bang miliknya hingga dalam waktu singkat, sentuhan jemari dan pijatan lembut menegakkan tongkat sakti tersebut.


Chiyome membasahi jemarinya lalu membawa jemari itu ke bagian bawahnya lalu membasahinya sedikit. setelah merasa cukup, Chiyome menaiki tubuh suaminya dan merekahkan kedua tungkai kakinya lalu menuntun lingga kejantanan Kenzie kedalam liang yoni miliknya yang telah basah.


perlahan nan pasti Chiyome merasai dinding vaginanya menjepit ketat batang ***** suaminya hingga akhirnya menancap hingga kepangkalnya. wanita itu mendesah pelan.


"Sudah?" goda Kenzie sambil meletakkan kembali buku bacaannya ke sisi meja dan memegang pinggang Chiyome untuk menyeimbangkan pola gerakannya.


wajah Chiyome memerah dan mengangguk dengan malu. Kenzie tersenyum lalu meraih ponselnya yang tergeletak di sisi ranjang. pemuda itu membuka fitur musik dan menyetel lagu hingga melantunlah lagu berbahasa jepang yang dinyanyikan oleh artis BoA.


Chiyome mulai menggenjoti batang lelanang Kenzie dengan perlahan untuk membiasakan ritme hujaman ujung lingga kejantanan suaminya yang terasa menyentuh pintu uterusnya.


berapa banyak air mata yang kutumpahkan..


setiap hati, sebelum aku jujur..


kepada siapakah ku utarakan perasaanku...


setiap hati, akankah hatiku terisi....


"Kau.... suka.... lagu ini?" tanya Kenzie mulai terengah-engah. dengan mendesah, Chiyome mengangguk menikmati alunan lagu itu ditengah aktifitasnya menyetubuhi suaminya.


dimalam yang panjang, aku galau nan gelisah...


ku memohon kepada jatuhnya bintang...


Chiyome benar-benar menghayati lirik itu. bukankah lirik itu menggambarkan perasaannya kepada Kenzie dulu? cinta pada pandangan pertama ketika melihat wajah Kenzie yang terkesan cuek tapi penuh perhatian. perjuangan keras Kenzie dan dirinya mempertahankan cinta mereka berdua meluluhkan hati kedua orang tua mereka, mengantarkan keduanya ke dalam ikatan suci pernikahan. wanita itu sejenak tersenyum dan kembali mendesah pelan bersahutan dengan suara lenguhan yang keluar dari mulut Kenzie.


dalam pusaran waktu... kita mencari cinta...


ku ingin kuat.... kan ku tantang langit yang menjulang...


senyum macam apa yang kudapati...


setiap hati, sebelum ku masuki jalinan mimpi...


disisi lain, orang-orang yang berduka...


tampakkan kebahagian dan kembali tertidur


Chiyome mendongak dan melepaskan hasratnya dalam goyangan pinggulnya yang memacu cepat, makin cepat hingga ia mengejan dan tubuhnya bergetar keras. kedua jemarinya mencakar kuat dada suaminya, membuat Kenzie memejamkan mata dan menggigiti bibirnya hingga pemuda itu merasakan rasa asin dilidahnya. bibirnya berdarah. sakit... tapi terasa nikmat... sensasi yang aneh mungkin...


****** ***** itu melebur bersama susu kasih sayang membasahi dinding-dinding liang garba dan tonggak kelelakian kedua pasangan yang memadukan cinta itu.


*sehingga, suatu ketika mereka dan kita akan temukan kedamaian....


dalam pusaran waktu, kita mencari hakikat...


sesekali tertawa, sesekali menangis


saat ini juga, ku 'kan kembali melangkah...


disudut kenangan masa kecil, ada tempat yang termanis


bintang gemintang membaca masa depan


senantiasa bersinar begitu terang*


Chiyome merebahkan tubuhnya ditubuh Kenzie. wanita itu menikmati ekstase pelepasan diri dan membiarkan napasnya yang memburu perlahan mulai teratur. kedua matanya mulai mengatup dan dalam sisa-sisa kenikmatan itu Chiyome perlahan memasuki alam mimpinya.


dalam pusaran waktu, kita mencari cinta


aku ingin tegar menantang langit yang menjulang


dalam pusaran peristiwa mencari sebuah tujuan


kadang tertawa, kadang menangis...


aku akan melangkah kembali......


Kenzie menyadari dengkuran halus terdengar dari bibir istrinya. pemuda itu tersenyum. tanpa menggeser tubuh Chiyome, membiarkan sang istri membantali tubuh suaminya, Kenzie menarik selimut perlahan dan menutupi tubuh Chiyome.


"Tidurlah sayang.... aku mencintaimu..." bisik Kenzie.

__ADS_1


Chiyome menggeliat sejenak lalu kembali tidur dengan nikmat berbantalkan tubuh kekar Kenzie. pemuda itu membiarkan lagu terus mengalun, ia sendiri mengambil buku I'l Principe karya Niccolo Machiavelli dan membacanya sedang tangan lainnya membelai rambut Chiyome yang terurai.


maghrib mulai menjelang ketika Kenzie menyelesaikan bahasan tentang prinsip penggunaan tentara bayaran, dan ia meletakkan kembali buku itu dimeja lalu membiarkan dirinya tertidur dalam dekapan manja istrinya. []


__ADS_2