Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 8


__ADS_3

Iechika membaca surat yang diberikan Chiyome, kemudian melipatnya kembali dan menatapi kakaknya.


"Sudah bulat tekadnya ke Indonesia?" tanya Iechika lagi untuk memastikan.


"Kau sudah lihat isi suratnya, bukan?" balas Chiyome dengan jengkel.


"Tentu. tapi apakah kakak sudah mempertimbangkan semuanya?" pancing Iechika lagi.


"Kalau aku tak serius, mana mungkin aku bela-belain bujuk ayah untuk membujuk koleganya di Monbu Kagaku Sho (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga dan Teknologi) dan Gaimu Sho (Kementerian Luar Negeri) untuk menerbitkan Surat Keputusan ini." ujar Chiyome dengan ketus dan merampas surat dalam genggaman Iechika.


pemuda itu tersenyum. "Obsesi untuk menjadi petarung terkuat? jangan mimpi!" ledek Iechika langsung berdiri hendak meninggalkan gadis itu.


tiba-tiba Chiyome melempar surat kesamping dan maju menerjang Iechika. untung saja pemuda itu lekas berkelit. Bagaimana pun Chiyome pemegang sabuk hitam tertinggi, strip emasnya sudah 8, sedang Iechika baru 6 strip.


terjangan Chiyome nyaris mematahkan batang leher Iechika jika saja pemuda itu tidak menghindar. keduanya terlibat dalam perkelahian, saling memukul dan menangkis serangan.


"Kau pikir aku tak bisa menjadi apa yang ku inginkan?" seru Chiyome yang terus mendesak Iechika yang sudah tersudut ke dinding.


"Tentu bisa, tapi melalui perjuangan panjang!" balas Iechika sambil terus menangkis dan sesekali balas menyerang.


pemuda itu memang tidak punya niat menjahati kakaknya. ia sekedar menggodanya dan menjajal kemampuan kakaknya. bagaimanapun ia merasa impian Chiyome terlalu melambung ke angkasa. Bruce Lee saja yang rajanya beladiri hingga wafatnya belum mencapai kesempurnaan, terkecuali tinju 1 inchi yang merupakan terobosan dan prestasinya yang luar biasa.


Iechika langsung melompat berlari dan turun ke halaman.


"Mau kemana?! jangan lari kau!!" ancam Chiyome dengan sengit.


"Aku nggak mau perabot rumah pecah gara-gara serangan yang membabi buta semacam itu." ejek Iechika sambil mengambil sikap hangetsu dengan kedua tangan terpentang lebar. dengan senyum mengejek ia berusaha memancing emosi kakaknya.


"Chiyome mendengus kesal. "Kuladeni kau!"


tiba-tiba Chiyome menerjang dengan teknik yoko tobi geri mengancam wajah Iechika. pemuda itu menggerakkan tapaknya menampar tendangan Chiyome sambil memiringkan kepalanya kesamping dan berguling ke depan menghindari terjangan itu.


begitu mendarat dihalaman, Chiyome langsung melayangkan ushiro mawashi geri yang langsung mengancam rusuk lawannya. untungnya Iechika langsung menekuk lututnya keatas membentengi rusuknya dari tendangan kakaknya. keduanya kemudian saling mundur selangkah kebelakang.


baru saja Chiyome hendak maju, terdengar bentakan yang membuatnya menahan serangannya.


diatas serambi, Fitri berdiri sambil bercakak pinggang menatapi kedua anaknya dengan tatapan membara. Iechika meneguk ludah, sedang Chiyome memamerkan cengiran kudanya.


"Kalian itu lagi latihan atau berantem beneran?!" bentak Fitri dengan dialek indonesianya. memang Fitri selalu bicara dengan kedua putrinya menggunakan bahasa jepang. tapi itu berlaku untuk suasana yang normal saja. namun jika ia marah baik kepada suaminya maupun anak-anaknya, secara tidak sadar Fitri akan nyerocos pakai bahasa Indonesia, tak perduli, mereka paham atau tidak.


namun sebenarnya sejak kecil, keduanya telah diajari agar bisa berbahasa indonesia secara umum. jadi tetap saja kedua anaknya akan paham dengan bahasa ibunya.


"Dia yang memulainya!" kata Iechika dengan menggunakan bahasa jepang sambil menunjuk Chiyome.


"Dia mengejekku!" sergah Chiyome.


"HENTIKAAAAAN....." Bentak Fitri dengan keras. "Sudah ibu bilang, berapa kali ibu bilang?! jangan pernah berseteru antara saudara! kalian semestinya saling menjaga satu sama lain! paham?!"


"Pahaaaaammmm..." jawab mereka berbarengan namun dengan nada yang terkesan lesu.


"Kalian berdua harus dihukum!" tandas Fitri sambil mengawasi kedua anaknya. "Chiyome! pel seluruh lantai sampai bersih!"


Chiyome terhenyak menatapi ibunya dengan sorot memelas sedangkan Iechika hanya menahan senyumnya. Fitri menatapi putranya.


"Kau Iechika! cabuti semua rumput dihalaman ini sampai bersih, tanpa menggunakan alat apapun kecuali kedua tanganmu!" perintah Fitri dengan tatapan nanar. tatapan yang paling ditakuti Iechika.


Iechika terbelalak, namun akhirnya mengangguk dengan lesu. kini giliran Chiyome yang tertawa melihat gaya adiknya seperti pesakitan yang menerima vonis hakim.


"Ayo! lakukan sekarang juga!" bentak Fitri.


maka kedua kakak beradik itu langsung bergerak menjalankan hukumannya. mereka nggak mau membantah, karena pasti ibunya akan mengadu dan mengomeli ayahnya.


ujung-ujungnya, pasti hukuman yang mereka dapatkan akan lebih pedih dan sadis.


...*******...


Kenzie sibuk mengerjakan soal-soal dalam pelajaran Kimia, ketika HP dalam sakunya bergetar. sejenak Kenzie mengawasi gurunya yang juga sementara tenggelam dalam keasyikannya mengutak-atik gadgetnya, kemudian mengawasi kawan-kawannya yang tekun mengerjakan soal-soal tersebut.


dirogohnya HP dengan pelan hingga keluar dari sakunya. Kenzie memperhatikan chat yang muncul pada layar sentuh gadgetnya, kemudian menon-aktifkan HP tersebut dan memasukkannya kembali kedalam saku.


ia mendengar suitan kecil dan mendongak melihat Trias menganggukkan kepala seakan menanyakan isi chat tersebut. Kenzie menggeleng cepat dan menyilangkan telunjuk kemulutnya menyuruh Trias untuk diam. pemuda itu kembali tersenyum lalu sibuk kembali.


seorang siswi menjawil lengan Kenzie. pemuda itu menoleh.


"Sudah tahu jawaban nomor 5?" bisik siswi tersebut.

__ADS_1


"Belum. kau tahu?" bisik Kenzie.


"Sama..." balas siswi itu dengan berbisik sampe tak sadar ia cekikikan.


suara itu terdengar oleh ibu guru yang langsung menatap kedepan.


"Susan? kenapa tertawa? ada yang lucu?" todong ibu guru.


Susan gelagapan dan langsung menggeleng kemudian kembali mengerjakan soal dengan bibir manyun, kesal karena berhasil dipergoki.


KRIIIIIIIIIINNGGGGG.........


bel listrik berbunyi menandakan kegiatan belajar pada saat itu telah berakhir. guru itu menutup bukunya dan menatapi siswa.


"Sekian dulu pembelajaran kita pada hari ini." ujar guru tersebut kemudian mengangkat telunjuknya keatas. "Ingat! soal yang tidak diselesaikan pada hari ini dijadikan pekerjaan rumah dan akan dikumpulkan besok. paham?!" tandas guru itu.


"Iyaaaa bu guruuuuu..." akur terdengar jawaban para siswa.


guru itu keluar dari kelas disusul oleh gerombolan siswa yang langsung menyeruak keluar menuju kantin untuk menuntaskan rasa lapar dan dahaganya.


Kenzie merapikan buku dan memasukkannya ke ransel. Trias melangkah mendekatinya.


"Ada pesan apa?" tanya pemuda itu.


"Dari kakak perempuanku. ia minta aku menyampaikan kepada Mama kalau ia akan terlambat tiba. kemungkinan nanti malam dia baru akan tiba dirumah." jawab Kenzie.


mulut Trias membulat dan kepalanya mengangguk-angguk lalu sesaat kemudian cengiran khasnya muncul.


"Ke kantin yuk.." ajak Trias.


"Tentu... masa aku menolaknya." balas Kenzie sambil mengelus-elus perutnya.


keduanya melangkah santai menuju Kantin. sesampainya disana, mereka berdua duduk disebuah bangku panjang. mereka memesan minuman dan makanan.


sambil menunggu pesanan mereka diantarkan pelayan, Trias merogoh sesuatu dari sakunya dan mengeluarkan bungkusan itu lalu meletakkannya di meja. Kenzie menatapi bungkusan itu dengan kening berkerut.


"Apa ini? tawas?" tanya Kenzie dengan berolok-olok.


sejenak Trias mengawasi teman-temannya yang sibuk menghabiskan makanan, ada juga yang sementara bercanda. pemuda itu kemudian menatapi Kenzie yang masih menatapnya dengan kening bertaut.


"Ini sabu-sabu...." bisik Trias.


"Kau dapat darimana ini?" bisik Kenzie.


"Burhan..." jawab Trias dengan berbisik.


Kenzie menatapi sahabatnya dengan pandangan sangsi. Trias menghela napas sambil memasukkan bungkusan itu kedalam sakunya.


"Burhan memberiku benda ini sepulang sekolah. kami bertemu di persimpangan jalan menuju Kampung Cina. dia lalu memberiku ini..." tutur Trias dengan nada pelan nyaris tak terdengar.


"Lalu...kau memakainya?" desis Kenzie seolah tak percaya.


"Lendengisiloooo ...ente kira 'ana bodoh, mau pake ini?!" sergah Trias sambil menowel kening Kenzie.


"Jadi?..." tanya Kenzie penasaran.


"Aku pura-pura menerimanya. aku sengaja menyimpan ini untuk kujadikan bahan bukti bahwa Burhan menjadi pengedar di sekolah kita." jawab Trias dengan pelan sekali.


"Lalu apa maksudmu memperlihatkan benda ini padaku?" tanya Kenzie dengan suara pelan.


"Bantu aku menyelidiki Burhan. siapa tahu dia ada komplotannya." pinta Trias.


"Mau jadi detektif lo? berlagak jadi Shinichi Kudo?" goda Kenzie.


Trias mendecak kesal, lalu mengawasi kembali para siswa yang berjubel dikantin itu.


"Tapi kamu mau kan?" desak Trias. "Anggap saja kamu Heiji Hattori." balas Trias.


Kenzie bersuit menyuruh Trias untuk diam. nampak seorang pria kurus setengah tua datang membawa pesanan mereka berdua. begitu hidangan mereka tersaji diatas meja, keduanya langsung sibuk menikmati makanan yang tersaji.


"Lalu, darimana kita akan memulainya?" tanya Kenzie ditengah asyik mengunyah makanannya.


"Nanti ku kabari." kata Trias lalu menelan makanannya. "Sebelumnya aku mau tanya sesuatu padamu."


"Apa?" tanya Kenzie sambil menyuap lagi satu sendok ke mulutnya.

__ADS_1


Trias menyedok lagi sesuap lagi ke mulutnya. sejenak ia mengunyah lalu menatapi Kenzie. "Papamu punya kolega ndak di kepolisian?"


Kenzie menggeleng sambil menelan makanannya. lalu ia menatapi Trias sambil meminum air dalam gelas. setelah dahaganya terpenuhi, Kenzie meletakkan gelas dan menyorongnya kesamping bersama piring yang isinya masih tersisa seperempatnya. kelihatannya ia tak berselera lagi karena tertarik dengan ajakan temannya.


"Papa cuma punya teman yang kerjanya sebagai reporter kriminal."


Trias mendesah kecewa. "Kalau cuma wartawan, kelihatannya bakal sulit. aku maunya yang anggota polisi."


Kenzie tersenyum sambil menggeleng. "Biarpun cuma wartawan, Oom Ahmad itu punya kolega di kepolisian. dia banyak berteman dengan reserse dan buser. aku yakin dia bisa membantu kita." kata pemuda itu dengan mantap.


Trias mengangguk menyorongkan piringnya yang isinya tandas. setelah kesusahan menelan makanannya dan diingatkan oleh Kenzie untuk minum air, pemuda itu mengangguk setuju.


"Nde Oke... kita akan menghubunginya." kata Trias lalu sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan. "Tapi kamu yakin, beliau akan mendengarkan kita?" tanya Trias dengan sangsi. pemuda itu masih ragu.


"Aku upayakan." jawab Kenzie. sejenak ia memandangi kantin yang mulai sepi karena siswa-siswa sudah kembali ke kelas meskipun bel masuk belum berbunyi.


"Aku akan menghubungi Papa untuk mempertemukan kamu dengan Oom Ahmad. nanti disana, aku akan mengungkit hal-hal yang berhubungan dengan operasi yang akan kita laksanakan."


"Jieeee.... macam komandan pasukan elit saja kau..." goda Trias, namun tak lama-lama karena takut sahabat karibnya tersinggung. pemuda itu mengangguk.


"Aku mengandalkanmu kawan." kata Trias sambil menepuk pundak Kenzie berkali-kali. sesudah itu keduanya bangkit meninggalkan kantin.


...*********...



Kenzie membonceng Trias dengan motornya, melaju menyusuri jalan Husni Thamrin menuju ke sebuah resto kecil yang terletak dikawasan pertokoan Kampung Cina.


disebut Kampung Cina, karena disana berdiri pertokoan yang banyak dibangun oleh keturunan-keturunan Cina yang berperan juga dalam pembangunan ekonomi kota Gorontalo. aslinya wilayah itu disebut Desa Biawao (Desa Biawak / kadal bengkarung). entah kenapa nama desanya dinisbatkan pada hewan berdarah dingin itu. lagipula, desa itu dikenal sebagai cagar budaya karena banyak bangunan bersejarah peninggalan belanda yang didirikan disana.


Bahkan dulu ada sebuah rumah sakit bersalin jaman belanda yang kemudian dirobohkan dan dibangun hotel mewah Quality Hotel. Mall City Gorontalo berdiri diatas bekas bangunan rumah sakit Aloei Saboei dulu sebelum akhirnya rumah sakit itu dipindahkan ke kawasan yang lebih luas di Wongkaditi.


kedua pemuda itu tiba di resto tersebut. disana Adnan sedang duduk di beranda resto sambil menikmati secangkir kopi. nampak mobil kebanggaannya terparkir diseberang jalan, depan Bank Sulutgo. lelaki itu melambai kearah kedua pemuda itu. Kenzie dan Trias masuk.


Kenzie mencium punggung tangan ayahnya, disusul oleh Trias.


"Bagaimana kabarnya Oom?" sapa Trias.


"Oom baik.." jawab Adnan tersenyum.


lelaki itu mempersilahkan keduanya duduk. Trias duduk di seberang meja sedang Kenzie duduk disamping Adnan.


"Mau ku pesankan kopi?" tanya Adnan.


"Nggak usah Oom.." tolak Trias dengan sopan.


"Kenapa kau menelepon Papa tadi?" tanya Adnan kepada Kenzie.


sejenak Kenzie memandang Trias yang memberinya kode untuk bicara. sejenak Kenzie mendehem.


"Kenken boleh minta sesuatu nggak?" tanya Kenzie dengan segan.


"Kalau cuma uang, kan ndak usah sungkan meminta. kan Papa selalu transfer ke rekeningmu setiap minggu." kata Adnan sambil tersenyum dan meminum kopi seruput.


"Ini bukan masalah uang, Pa..." kata Kenzie.


Adnan menatapi putranya dengan kening berkerut tapi senyum tak lepas dari bibirnya. "Wah pembicaraan penting kalau begini ni.... jangan bikin Papa penasaran dong."


"Memang penting, makanya saya hubungi Papa..." sambung Kenzie.


wajah Adnan berangsur-angsur berubah ke mimik serius. "Baiklah... sekarang katakan, hal penting apa yang mau kamu bicarakan dengan Papa?"


"Hubungi Oom Ahmad dong, Pa." pinta Adnan setengah merengek.


Adnan tersenyum lalu menggeleng. "Uyong.... Oom Ahmad itu orang sibuk. jangan ganggu dia kalau kalian cuma mau main-main." kata Adnan sambil mengacak-acak rambut Kenzie.


Kenzie memberenggut sambil merapikan kembali rambutnya. Adnan kemudian mengangguk. "Memangnya ada apa kok tiba-tiba kamu suruh Papa hubungi Oom Ahmad?" tanya Adnan mulai curiga.



"Kami dapat tugas Bahasa Indonesia, Oom." potong Trias dengan cepat. "Hal-hal yang berhubungan dengan jurnalistik."


wajah Adnan menjadi cerah lagi lalu tertawa keras karena sudah terlanjur berpikiran yang negatif.


"Ooooo.... lalu, kenapa harus Oom Ahmad?" pancing Adnan sambil menaikkan alisnya sebelah.

__ADS_1


Kenzie dan Trias saling berpandangan, mencari dalih lain untuk meyakinkan lelaki tersebut.


ternyata mengibuli Oom Adnan sulit juga..... []


__ADS_2