
Kenzie sesekali melebarkan bahu dan merenggangkan kedua lengannya agar ikatan tali itu melonggar. usahanya sedikit membuahkan hasil kalau saja Puspita tidak keburu muncul disitu dan duduk kembali dihadapannya.
Kenzie menatapnya lagi, namun kali ini dengan seringai ejekan. "Tumben... kamu sudah tiba." olok lelaki itu. "Kupikir kau akan ngelayap kesini malam-malam kayak paniki lalu hinggap dan langsung mengangkat rok kemudian mengangkangi selangkanganku."
Puspita tertawa, "Sebulan bersamaku rupanya telah merubah otakmu jadi lebih mesum, Ken." komentar wanita itu, "Tapi, nggak apa-apa. aku lebih suka kamu yang bicara kotor sekarang ketimbang yang lalu... terlalu dingin seperti balok es." ujarnya setengah berbisik.
Kenzie terkekeh. "Kekasaranku, muncul karena kebejatan moralmu Budi... ah, nggak layak juga kau menyandang nama Budi... bukankah Budi dalam bahasa sanskerta adalah amalan baik? ganti saja namamu, jadi Kadrun saja." setelah itu Kenzie tertawa.
"Tertawa sajalah Ken.... aku puas-puaskan diriku menatap wajah tampanmu ini... aku akan menikmatinya sebentar lagi untuk yang terakhir kali... milikku kebetulan sudah haus tongkolmu..." ujar Puspita sembari bangkit dan membungkuk membelai pipi Kenzie. lelaki itu membuang mukanya, jijik dengan perlakuan wadam itu kepadanya.
Puspita kemudian beranjak pergi. dengan tawa lepas, ia melangkah seakan tanpa beban. namun ketika langkahnya tiba dihalaman, perempuan itu tercekat lalu menutup mulutnya dengan kaget.
...******...
Kenzie kembali merenggangkan tubuhnya dengan susah payah. akhirnya usahanya membuahkan hasil. ikatan itu melonggar. namun pandangannya menjadi waspada ketika melihat sesosok tubuh bergerak dalam kegelapan makin mendekat ke arahnya.
"Siapa itu?" seru Kenzie dengan suara serak dan lemas.
sosok itu makin mendekat dan muncul dihadapan Kenzie menghalangi bias lampu. Kenzie mengerjap-ngerjapkan mata mengusir silau.
"Siapa kau?" tanya Kenzie lagi dengan suara serak.
"Masa kau lupa sahabatmu sendiri? keterlaluan." ujar wanita itu, "Ini aku, Ipah... Saripah Hamid..." sambungnya memperkenalkan diri.
"Ipah? mengapa kamu ada disini?" tanya Kenzie dengan heran. sementara Saripah mulai mengutak-atik liukan tali mencoba membuka simpulnya.
"Aku bersama Chiyo... dia masih sementara membunuhi para centeng bayaran waria itu. aku disuruhnya segera mencarimu. kamu baik-baik saja kan?" tanya Saripah ditengah ia membuka simpul-simpul pengikat tubuh Kenzie.
"Jangan hiraukan aku. pokoknya kau cepat lepaskan tali brengsek ini dari tubuhku." pinta Kenzie.
"Tenang saja. hampor selesai." kata Saripah.
namun gerakan gadis berikutnya itu tertahan mendengar suara tawa nyaring. makin lama makin dekat dan nampaklah sosok tubuh wanita yang sangat dikenali Kenzie.
"Budi..." ujar Kenzie alih-alih menyebut nama perempuan itu, malah menyebut nama dimasa lalunya.
Saripah berhenti mencoba melepaskan ikatan Kenzie dan langsung memasang sikap waspada. kedua kakinya terpancang lebar dengan formasi hangetsu. kedua tangannya terpancang dengan formasi nukite.
Puspita berdiri dengan kaki tegak terpancang membuka. tatapannya menghujam tajam ke arah Saripah.
"Rupanya ada tikus kecil yang mau coba-coba jadi pahlawan." cemoohnya sambil terkekeh.
"Terserah padamu mau bicara apa Budi. tapi, aku tak akan membiarkan siapapun mengganggu sahabatku." jawab Saripah.
"Brengsek kau Saripah. kau berani turut campur urusanku?" ancam Puspita.
"Kau sebenarnya yang brengsek Budi. kau bertindak pengecut dengan menculik sahabatku. apa kau takut berhadapan dengan Trias, sampai kau melampiaskan dendammu kepada Kenzie?" tukas Saripah dengan waspada.
"Mereka berdua adalah musuh bebuyutanku! tak kan tenang sebelum kusingkirkan mereka berdua." geram Puspita dengan tatapan yang memendarkan kebencian.
"Oooh... jadi karena kau gagal mendapatkan hati Inayah, lalu kau cari gara-gara dengan Trias. nggak cukup dendam, kau memfintah Chiyome sebagai pelacur. waahhh.... pantas rupanya kalau Kenzie merubah bentukmu menjadi sama dengan apa yang kau ucapkan pada Chiyome.... dan nyata memang... kau adalah pelacur kawakan..." ejek Saripah.
Puspita meludah, "Puih! cukup sudah! kau harus mampus dibawah kakiku!" seru Puspita langsung maju menerjang.
Saripah telah siap mengantisipasi serangan. namun ia sedikit kaget ketika menyadari bahwa gerakan-gerakan waria itu begitu lincah dan terarah, seakan ia merupakan pakar beladiri yang tangguh. Saripah menghindari beberapa pukulan yang melayang mengincar titik-titik fatal dari tubuhnya.
sialan, nggak kusangka banci kalengan ini gesit juga... mana dia pandai beladiri lagi... aku harus bisa melumpuhkannya...
Saripah menghindar dan sesekali melakukan serangan balasan namun juga dapat ditangkis oleh Puspita dengab gampang pula. kedua petarung itu sedang tenggelam dalam pertikaiannya.
__ADS_1
sementara Kenzie berusaha kembali melepaskan dirinya. lelaki itu terus merenggang-renggangkan tubuhnya untuk melonggarkan ikatan yang membelitnya. sesekali dipandangnya pertempuran seru antara Puspita melawan Saripah.
ternyata setelah lama menghilang, kau mengembangkan potensi bertarungmu Budi.... aku salut, sayangnya kompetensi yang mumpuni dipergunakan dijalan yang salah...
upayanya menghasilkan terlepasnya belitan tali yang mengikat tubuhnya. tubuh Kenzie perlahan melepaskan belitan-belitan tali yang melingkari tubuhnya dan menatap terus ke arah pertarungan. setelah berhasil melepaskan tali, lelaki itu beranjak hendak bangkit namun ia merasakan keram di kakinya dan Kenzie terjatuh dilantai.
Telelliloloooo... gara-gara sebulan meringkuk terus dikursi ini, kemampuan kakiku langsung lumpuh... tinggolopuloo... apa harus belajar jalan lagi.... uhmmm....
Kenzie terus-terusan merutuk dalam hati sembari terus merayap menjauhi arena pertandingan. sementara itu Saripah terus berkutat menghadapi lawan yang tak disangkanya begitu hebat dan berhasil menekan dirinya.
Saripah memang diajari Chiyome teknik bertarung, namun tak sepenuhnya teknik itu diaplikasikannya. Saripah terjebak dalam kekacauan jurus antara menggunakan teknik Karate-do atau mengaplikasikan teknik kuno gaya Koga. pertahanan gadis itu kocar-kacir.
sebuah tendangan berhasil dilayangkan Puspita dirusuk kiri dan menghujam lambung Saripah. gadis itu terlempar dan jatuh meringkuk dilantai. Saripah meringis kesakitan memegangi perut kirinya yang terasa bagai ditusuk jarum. sementara Puspita berdiri tegak dan mengumandangkan tawa senang.
"Ahhhh.... Saripah.... kamu nggak ada apa-apanya denganku. kamu pikir, aku perempuan yang gampang ditekan?" seru Puspita dengan jumawa.
"Kau hanya bersembunyi dibalik kedok kelamin palsumu itu Budi... kamu bukan perempuan sejati." ejek Saripah yang bangkit dengan susah payah.
"Dasar perempuan murahan. mau kubikin mampus juga kamu ya?!" hardik Puspita dengan berang.
"Kamu boleh saja berniat menghapuskan hidupku dari dunia ini... tapi patut kamu tahu, bahwa kamu tidak akan pernah dihargai sebagai wanita. kamu tetaplah lelaki Budi... hanya saja bersembunyi dibalik kelamin palsumu!" balas Saripah dengan senyum provokatif.
Puspita terhasut. dia kembali menyerang dan mendesak Saripah hingga terpaksa gadis itu hanya bisa mengandalkan formasi pertahanan saja. rasa sakit ditubuhnya akibat hujaman tinju dan tendangan, berupaya ditahan Saripah dengan sekuat tenaga. ia tak mau terlihat lemah dihadapab Puspita yang terus-terusan menghujaninya dengan serangan yang bertubi-tubi.
sekali lagi, sebuah tinju menghantam pipi Saripah membuat gadis itu kehilangan keseimbangan dan terpelanting jatuh menimpa lantai lagi. Saripah sudah merasa kepalanya pusing dan pandangannya kabur. namun dikuatkannya tekad dan berupaya bangkit lagi meskipun sempoyongan.
"Kuat juga kamu ya?" puji Puspita tanpa sadar.
"Aku kuat karena menghadapi kebatilan.... innal haqq wa jahaqal bathil... innal bathila kaana zahuuqaa... " jawab Saripah menyetir sebuah ayat dalam Al-Qur'an.
Puspita mendengus, "Jangan pake-pake ayat jika hanya memamerkan omong kosongmu! buktikan semuanya dengan kemampuanmu... jangan cuma bicara."
Saripah melambaikan tangan menantang Puspita untuk menyerang. sekali lagi waria itu maju menerjang dan memberikan perlawanan yang lebih sengit dari sebelumnya membuat Saripah lagi-lagi harus menelan kepahitan akibat kalah teknik bertarung dari wadam tersebut.
...******...
Kenzie menyandarkan punggungnya pada dinding. ia menselonjorkan kedua kakinya dilantai. dengan gaya duduk itu ia menfokuskan diri menatap jemari-jemari kakinya. pikirannya memusat memberi perintah sekaligus stimulan ke bagian kakinya.
"Bergeraklah... wahai jempol... bergerak lah..." gumam Kenzie terus menatapi kedua jempol kakinya. lama ia melakukan demikian dan berulang-ulang. jika gagal, Kenzie kembali mengatur pola napas dan menekan pusarnya sendiri dengan pola pernapasan itu. lalu ia kembali memusatkan pikiran memberikan stimulan ke bagian kakinya.
bergeraklah.... bergeraklah.... bergeraklah..
Kenzie terus memberikan sugesti kepada anggota jemari kakinya. upayanya mulai membuahkan hasil. perlahan nan pasti, jempol kanan dan kiri mulai bergerak-gerak. senyum pun terbit dibibir yang sudah dihiasi kumis lebat dan cambang tebal itu.
bagus... sekarang tinggal jemari-jemari lainnya....
Kenzie kembali memusatkan pikiran dan mengatur pola napasnya, setelah itu ia mengirimkan lagi sugesti dan stimulan kepada anggota jemari kakinya.
...*****...
sekali lagi Saripah terbanting ditanah. dan kali ini ia sudah tak mampu bangkit lagi karena kelelahan. begitu juga dengan Puspita. namun waria ini kelihatannya memiliki stamina yang kuat bagai kuda betina sehingga meskipun napasnya tak teratur dan memburu, Puspita tidak lunglai.
"Hehhhh.... ternyata hanya cecurut sok galak! anjing!!!" umpat Puspita dengan histeris.
sementara Saripah yang berbaring dilantai hanya memperdengarkan napas yang memburu. seluruh tubuhnya sudah lemah nan tak kuat melanjutkan pertarungan. Puspita melangkah dihadapan Saripah lalu salah satu kakinya terangkat dan menginjak dada gadis itu.
Saripah terbatuk-batuk akibat dadanya diinjak oleh Puspita. gadis itu meringis kesakitan. Puspita tertawa.
"Saripah.... jangan memaksakan diri lagi. kau tak mampu menjajal kemampuanku. aku adalah pemenangnya!" seru Puspita menengadahkan wajah ke atas dan mengembangkan tangannya yang terkepal sejenak. wadam itu kemudian kembali menunduk menatap Saripah.
__ADS_1
"Sebutkan permintaan terakhirmu!" ujar Puspita dengan jumawa.
Saripah terkekeh dan kembali batuk-batuk lalu menatap Puspita yang berdiri angkuh menatapnya. "Aku hanya minta kepada Allah.... semoga dia tak lagi menciptakan makhluk semacam kamu di dunia ini...."
Puspita mendengus dan memicingkan mata. "Rupanya... perempuan sundal macam kamu memang harus mampus dari muka bumi! kukabulkan kematianmu!" seru Puspita mengangkat kakinya yang terbalut sepatu high heels dan turun dengan cepat mengicar leher Saripah.
SWINGGGG.... HEHHH???
TRANGGG... BRAKKK...
sebuah benda meluncur cepat mengalihkan perhatian Puspita yang sudah berniat membunuh Saripah. sebuah pelat logam tipis melayang mengincar kakinya yang terangkat. dengan gesit, Puspita tidak jadi menghujamkan kakinya ke leher Saripah, sebaliknya menendang lempengan logam ringan itu hingga terlempar lagi dan jatuh dilantai menimbulkan bunyi nyaring yang berisik.
Puspita menengadah menatapi kegelapan dihadapannya. disana terdengar langkah sepatu yang mendekat. makin lama makin dekat dan akhirnya menampakkan sosok tubuh yang menyeruak dari kegelapan. waria itu terperangah menyadari siapa sosok dihadapannya kini.
"Chiyome...." ujar Puspita.
tatapan dingin wanita itu seakan menghujam dada Puspita. waria itu tahu, Chiyome menggunakan teknik unik dari gaya tarungnya. itu merupakan serangan psikis untuk menjatuhkan mental lawan. dan terbukti. Puspita kelihatan agak cemas.
"Ooo.... Puspita Kusmaratih... atau kupanggil saja... Budi Prasetya?" ujar Chiyome dengan datar.
"Terserah mana yang suka kau sebut dari diriku" jawab Pusita dengan jengkel lalu kembali tersenyum. "Lagipula... aku sudah merasai keperkasaan suamimu selama sebulan... waw, kepunyaanku sampai melebar lho, saking besarnya milik Kenzie yang menghujam-hujamkan hingga menyentuh dinding rahimku." goda Puspita memprovokasi.
Chiyome tersenyum sinis. "Silahkan kau nikmati sepuasmu... aku akan menagihnya lagi... dengan NYAWAMU!!!"
tiba-tiba Chiyome melesat dan melayangkan tendangan ke wajah Puspita. waria itu lekas berkelit dan bergulingan di tanah, kemudian bangkit lagi namun tak sempat mempersiapkan diri sebab Chiyome telah menyerangnya melalui teknik-teknik tingkat tinggi dari aliran Koga Koryu Bujutsu.
Chiyome memang tidak suka menghabisi musuh dengan cepat. ia lebih suka mempermainkannya, menyiksanya selayaknya kucing yang mempermainkan tikus hingga akhirnya karena bosan barulah ia membunuhnya. begitulah gaya Chiyome.
Puspita hanya bisa berkelit ketika serangan wanita itu gencar menghantamnya. wanita itu, meskipun telah membekali diri dengan penguasaan teknik-teknik beladiri, belum mampu mengalahkan kepiawaian Chiyome. sebagai praktisi tingkat akhir, Chiyome sudah dididik menghadapi berbagai kawan dengan jenis beladiri yang berbeda-beda. satu hal yang mungkin baru baginya hanyalah seni muaythai dari thailand dan silat tradisional yang memang tidak pernah ditemuinya, kecuali saat ia mengenal Kenzie, Trias dan Bakri.
Puspita boleh saja jumawa dengan kemampuannya saat mempecundangi Saripah, tapi bukan dengan Chiyome. dihadapan wanita bermata sipit itu, kemampuan Puspita hanyalah bagai kemampuan anak kecil yang belajar merangkak saja. satu-satunya kelebihan Puspita hanyalah bertahan dan mengandalkan fisiknya yang memang sebenarnya merupakan modifikasi dari fisik pria ke fisik wanita.
DUAGH.... IIKHHH....
sebuah tendangan gyaku mawashi berhasil mendarat ditengkuk Puspita dan mengkaramkan tubuh waria itu ke lantai hingga tak mampu bangkit lagi. Chiyome kembali ke posisi shizentai dan menatapi lawannya yang sudah tak berdaya.
"Sudah waria... murahan pula.. puih!!" Chiyome meludahi Puspita yang hanya bisa menerima kekalahannya dengab hati tak rela.
Chiyome berbalik dan melangkah hendak meninggalkan arena itu mencari keberadaan suaminya. tanpa disadarinya Puspita mengeluarkan revolver Smith & Wesson 617 milik Kenzie dan membidiknya kearah Chiyome.
DORRRR.....
Chiyome tersentak kaget karena merasa dirinya tertembak, namun tak merasakan apapun dan sesaat kemudian wanita itu berbalik. makin terkejut dia melihat sosok yang memperisai dirinya.
Kenzie berdiri dengan gemetar. lubang berdiameter 22 kaliber muncul didada kanannya. beberapa jarak disana, Puspita berdiri sempoyongan mengarahkan laras revolver Smith & Wesson 617 kearah lelaki itu.
sebenarnya sasaran proyektil itu adalah Chiyome. entah darimana Kenzie muncul dan memperisai istrinya sendiri yang lengah. perlahan tubuh Kenzie kembali menggelosor ke lantai dengan luka tembak didada.
"kishamaaaaa....!!!! " seru Chiyome dengan marah dan kembali melesat menerjang Puspita yang dengan kaget kembali membidik.
DORRR.... TRANGGG...
SRETTT...SRETTTT.... SREETTTT.... SREETTT... CRIIINGGGGG....
tembakan yang diarahkan Puspita dengan sigap ditangkis Chiyome menggunakan sarung dari Si Penebas Angin. dan tanpa sempat lagi waria itu membidik, Chiyome telah meloloskan Si Penebas Angin dari warangkanya dan menebas kesana-kemari dengan sasaran tubuh Puspita.
wadam itu tersentak dan begitu Chiyome berbalik dengan posisi berlutut kemudian menyarungkan kembali Si Penebas Angin, tubuh Puspita jatuh satu-persatu dalam keadaan termutilasi dengan sempurna disetiap potongan tubuhnya menjadi onggokan yang dipenuhi cairan merah tua.
Chiyome berlari mendapat Kenzie yang terbaring sekarat. diangkatnya tubuh suaminya. dengan gemetar, Kenzie memamerkan senyum layunya. tangannya terulur menyentuh pipi sang istri yang sangat dirindukannya.
__ADS_1
"Untunglah... bukan Wiffy yang... kena..." ujarnya dengan lemah dan kemudian tubuh itu terkulai tak bergerak lagi dalam pangkuan Chiyome yang kemudian menangis histeris.
"Hubbyyyyyyy......" []