
Chiyome memperhatikan perkembangan Sandiaga dalam mempelajari teknik-teknik silat yang diajarkan Bakri di dojo. selain itu ia mengirimkan video latihan Sandiaga ke e-mail pribadi suaminya sehingga Kenzie tersenyum-senyum senang nan bangga melihat putranya mampu menguasai dasar-dasar silat tersebut.
tak percuma dia mewarisi darah Lasantu dan Mochizuki... memang tipe petarung sejati...
Kenzie menyudahi menonton tayangan video itu dan menutup e-mailnya. lelaki bercambang halus itu bangkit dan melangkah menuju jendela memandang lanskap Kota Gorontalo dari ruangan itu.
tak lama kemudian, pintu kaca membuka. Dewinta Basumbul masuk membawa berkas. ia meletakkan berkas itu di meja kerja lelaki tersebut.
"Pak, laporan berkala untuk kita kirimkan ke pemerintah propinsi ada dimeja bapak." kata Dewinta.
"Terima kasih." jawab Kenzie.
"Oh ya Pak.... tadi Pak Romin dari Atmajaya menghubungi saya. kayaknya sebentar lagi dia akan datang." ujar Dewinta.
"Baiklah... saya tunggu." kata Kenzie.
"Ada lagi yang perlu pak?" tanya Dewinta.
"Nggak. kamu tunggu saja Romin." jawab Kenzie.
"Baik pak." jawab Dewinta kemudian berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan.
Kenzie kembali ke meja kerjanya dan duduk dikursinya lalu mengambil berkas itu, membukanya dan mempelajari lagi isi laporan sebelum benar-benar dibubuhkan tanda tangan dan segel perusahaan. tak lama kemudian terdengar deringan telpon. Kenzie menekan salah satu tombolnya.
📞 "Ya, Dewi?" tanya Kenzie.
📞 "Pak Romin dari Atmajaya sudah tiba dilobi, melapor kepada resepsionis." jawab Dewinta.
📞 "Suruh masuk saja ke ruanganku." timpal Kenzie.
📞 "Baik pak." tanggap Dewi kemudian memutuskan pembicaraan.
Kenzie kembali mempelajari isi laporan. laporan ini harus kredibel agar pemerintah berani memberi Buana Asparaga.Tbk proyek-proyek yang lebih menjanjikan lagi kedepannya.
pintu kaca membuka, Kenzie menegakkan kepalanya. disana Romin mengenakan pakaian kasual memegang berkas. Kenzie menatapnya.
"Silahkan duduk." ujarnya kemudian menutup berkas laporan itu dan bangkit melangkah memutari meja dan duduk disofa sejarak dengan Romin.
"Ada yang perlu dibantu?" tanya Kenzie dengan santun.
Romin meletakkan berkas kesepakatan itu dimeja. ia menatap Kenzie dengan datar. "Aku mau mengaddidum beberapa pasal MOU disini."
Kenzie meraih berkas itu. "Pasal mana?" tanya lelaki itu.
"Pasal 6, 7 dan 8, berkaitan dengan job dan fee royalti perusahaan." jawab Romin lagi dengan datar.
Kenzie membuka berkas itu dan mengamati pasal yang dimaksudkan oleh Romin. tak lama ia kemudian mengangkat wajahnya.
"Wah... aku nggak bisa membantumu... itu sudah kesepakatan Buana Asparaga.Tbk dengan pihak PUPR Propinsi Gorontalo. nggak ada yang bisa di adiddum disitu." jawab Kenzie.
"Tapi..." protes Romin.
"Min... aku saja bela-belain promosikan perusahaanmu ke mereka untuk menangani proyek itu. dan itu yang paling tinggi fee royaltinya, kalau kau mampu memanajemen semuanya dengan baik dan benar. bermain cantiklah... jangan kecewakan aku." ujar Kenzie.
"Aku cuma nggak sreg dengan isi pasal itu. kayaknya berat sebelah..." kilah Romin.
"Min... apanya yang berat sebelah? pajaknya? itukan sesuai aturan bahwa setiap penganggaran diatas 50 juta akan dikenai pajak. Min... semestinya kamu bersyukur. banyak yang ngincar tender itu. aku saja sampai mengesampingkan moral dan memilih kamu atas dasar kita masih kerabat. kamu mau aku menambah dosa lagi dengan ketidak adilan yang berikutnya?" ujar Kenzie memelas.
"Perusahaan kamu kan penalang utama proyek propinsi. ini nggak ada basah-basahnya." protes Romin.
"Justru karena itu aku melanggar moralku sendiri dan menempatkanmu sebagai pemegang tender nomor satu di kota gorontalo. ingat Min.. nomor satu pemilik tender di kota gorontalo. belum puaskah kau? kasihanilah mereka yang lain. Gorontalo bukan hanya dibangun oleh Atmajaya dan Buana Asparaga saja. banyak perusahaan lain yang menopang laju pembangunan propinsi ini." tandas Kenzie meletakkan berkas itu di meja. "Makan kue itu ya, nggak usah rakus. jangan ambil hak perusahaan lain. kamu sudah cukup menangani tender-tender dikota. biarkan yang lain mengurusi kabupaten lain. nggak usah maksa."
"Tapi Ken..." protes Romin lagi.
"Jangan paksa aku merombak lagi laporan ke pemerintah propinsi. aku paling nggak suka merombak sesuatu yang sudah mapan, kecuali kau mengundurkan diri dari proyek ini. apakah itu yang kau inginkan?" gertak Kenzie.
__ADS_1
Romin terdiam. Kenzie mendesah. "Sudahlah Min... jatah kue kamu paling banyak. percaya padaku. kamu pikir aku nggak punya beban melaksanakan tugas sebagai penalang utama tender propinsi? apa kau hanya melihat banyaknya uang yang mengalir ke kas Buana Asparaga.Tbk karena hal itu? besaran keuntungan menuntut pertanggung jawaban moral, Min... aku paling terbebani disini!"
"Ah, tak ada gunanya aku mendatangimu. kau tak punya solusi atas permasalahanku." gerutu Romin sambil mwraih berkas itu lagi.
"Begini saja Min." usul Kenzie. "Laksanakan saja dulu proyek itu. hasilkan yang terbaik. dan aku akan mempromosikan kamu menangani seluruh tender-tender dalam kota tahun depan. aku janji, asal kinerjamu bagus, kota dalam pengawasanmu."
Romin mendengus lalu berbalik melangkah meninggalkan ruangan itu. Kenzie menyandarkan punggungnya disofa dan menyeka dahinya yang berkeringat. setelah menarik napas kesekian kalinya, Kenzie menarik sedikit dasinya, melonggarkan kerah kemeja yang dirasakannya menyempit dan menjepit lehernya. lelaki itu bangkit dan melangkah kembali ke meja kerja, memeriksa kembali isi laporan yang diantarkan Dewinta barusan.
...****...
Saripah adalah seorang pekerja yang ulet meski tidak menggondol ijazah sarjana. gadis itu seperti halnya Chiyome, selalu bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas.
Fahruriza baru-baru ini memberikan kejutan untuk putri semata wayangnya itu. petani sukses pemilik lahan perkebunan terbesar dan terluas di Gorontalo itu menghadiahi sebuah sepeda motor BMW R18 seharga nyaris satu milyar perak. gadis itu mengunggah gambar moge miliknya ke akun WA Trias.
Saripah langsung mengendarainya melintasi jalanan menuju kantor Samsat Kota Gorontalo untuk mendaftarkan kendaraannya. nyaris sehari ia melakukan regis dan pendaftaran nomor polisi. setelah menyelesaikannya, Saripah menuju toko yang menjual helm. untuk menyeimbangkan gaya motor itu, Saripah membeli helm jenis retro klasik gaya nazi warna hitam, lengkap dengan kaca mata pelindung.
maka melanglanglah gadis itu memuaskan dirinya melintasi jalanan dengan kuda besinya yang berat itu. bahkan ketika ia singgah dikediaman Lasantu sempat menimbulkan hiruk pikuk akibat suara deruman knalpot yang mirip bunyi dentuman halus meriam yang dipasangi peredam.
"Bagaimana? baguskan?" ujar Saripah memamerkan mogenya kepada Chiyome.
wanita sipit berambut pendek shaggy itu mengamati motor gede itu lalu mengangguk-angguk.
"Bagus... serasi benar dengan penampilanmu yang tomboy itu." jawab Chiyome membuat Saripah tertawa.
"Kamu juga tomboy..." olok Saripah.
"Nggak kayak kamu." balas Chiyome. "Gayamu itu mirip rider jalanan itu... hell angels.."
"Sialan, memang aku ada tampang preman kah?" umpat Saripah dengan wajah cemberut sambil melepaskan helmnya dan meletakkannya ditiang kaca spion.
"Lihat saja, gaya pakaianmu... jaket kulit, kaus oblong, celana jins, sepatu lars.... apa namanya kalau bukan bergaya mirip Hell Angels?" kata Chiyome.
"Ahhh... jadi malas ngomong sama kamu." ujar Saripah langsung menaiki beranda dan duduk di Sofa. Chiyome mengikuti Saripah. baru saja wanita itu hendak duduk, Saripah menyeletuk. "Minumnya mana nih?"
Saripah tertawa, "Sori... habisnya aku haus sekali. kepikiran langsung singgah dirumahmu..."
Chiyome mendengus sesaat lalu menegakkan tubuh dan melangkah memasuki ruangan. Saripah sejenak mendesah penat dan menyandarkan tubuhnya pada sofa. mungkin karena terlalu lelah atau mungkin permukaan sofa yang terlalu empuk membuat Saripah justru malah tertidur dengan nyenyak.
Chiyome muncul kembali diberanda membawa segelas besar air dingin dan sepiring bakwan buatannya. wanita bermata sipit itu terkejut melihat Saripah yang asyik ngorok disofa itu.
astaga! bisa-bisanya ngorok pulas disini...
Chiyome berniat membangunkannya. namun dengkuran halus gadis itu menahan uluran tangan Chiyome hendak menjamah pundaknya. akhirnya, Chiyome bergerak membaringkan Saripah disofa itu, melepaskan kedua sepatu larsnya dan menselonjorkan kedua kakinya diujung sofa yang lain. wanita itu mengembalikan kembali penganan dan membiarkan gelas besar berisi air dingin dimeja dan menutupinya dengan penutup logam. Chiyome muncul lagi membawa selimut dan menghamparkan selimut itu menutup tubuh Saripah.
wanita bermata sipit itu tersenyum sekali lagi. dasar calon besanku... ngorok nggak lihat tempat... aahhh... mudah-mudahan anakmu nggak ngikut ngorokmu itu... mirip dengkuran sapi.... Chiyome kembali tersenyum sendiri dan berbalik masuk kedalam. ia menghubungi Trias.
📱"Kenapa Chiyo?" tanya Trias.
📱"Posisimu dimana?" tanya Chiyome.
📱"Aku lagi tugas jaga kantor. aplos (shift) nanti jam 3 sore. kenapa?"
Chiyome menceritakan perihal Saripah yang tertidur kelelahan disofa beranda kediaman Lasantu. Trias terperangah.
📱"Ya sudah. aku akan menjemputnya sekarang." kata Trias.
📱"Nggak usah! kerjakan saja tugasmu. nanti aku hubungi lagi jam 3, pas kau selesai aplos." ujar Chiyome.
📱"Oke deh... jaga Ipah baik-baik ya?" pinta Trias.
📱"Tentu aku akan menjaga calon besanku dengan sebaik-baiknya." jawab Chiyome membuat Trias serta-merta tersenyum lagi.
Chiyome mengakhiri pembicaraan seluler itu dan keluar kembali menatap Saripah yang masih asyik berselancar dengan nikmat dialam khayalinya. Chiyome hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali.
__ADS_1
...*******...
Trias melajukan sepeda motornya CBR Honda yang antik nan klasik itu dengan tak sabar. ia ingin segera tiba di kediaman Lasantu. berkali-kali ia menyalip beberapa kendaraan yag dirasainya mengganggu perjalanannya. beberapa kali pula ia menekan klakson untuk memaksa kendaraan lain menyingkir.
pakaiannya yang mirip rider jalanan sedikit banyak menyamarkan identitasnya sebagai penegak hukum. dan resikonya, tak ada yang menaruh respek padanya ketika melintas dengan cara tadi. umpatan dan cacian silih berganti diterimanya dari para pengendara yang merasa terganggu dengan ulahnya itu.
namun Trias tak perduli. baginya, tiba di kediaman Lasantu merupakan target utama setelah shiftnya berakhir tadi. sekali lagi lelaki itu menarik setang kemudinya memutar gas lebih kuat agar mau mendorong motor klasiknya melaju dijalanan.
Trias tiba dikediaman itu ditunggui oleh Bakri dan Aisyah. lelaki itu memarkir kendaraan bututnya disamping moge BMW R18 yang mirip tampilan saingannya, Harley Davidson Classic.
"Sudah selesai tugasmu?" tanya Bakri.
"Sudah kak.." jawab Trias meletakkan helmnya di jok motornya lalu melangkah menaiki beranda.
Bakri menganggukkan kepala ke arah Saripah yang masih nyenyak tidur. "Noh... urus bini kamu sana. kasian sejak tadi dia nyenyak, kayak putri tidur saja."
"Ahhh.... mungkin akan bangun kalau dihadiahi ciuman kali ya?" timpal Aisyah.
Trias tertawa, "Nih, Kak Ais yang nggak-nggak aja." oloknya. "Nyium itu nanti setelah nikah."
"Munafik sangat kau ini." sindir Aisyah. "Apa kamu nggak pernah nyolot sekalipun sama dia?"
"Seingatku nggak." jawab Trias dengan senyum. "Sudah, Kak Ais sama Kak Bakri gantian saja nyolot dikamar. kalau perlu nancap steker saja sekalian." olok Trias.
Aisyah seketika tersipu dan menatap Bakri yang terkekeh.
"Ya sudah... kami masuk dulu ya?" kata Bakri pamit menggamit lengan Aisyah masuk kedalam ruangan.
tinggallah Trias yang kemudian duduk disofa samping sofa panjang yang ditiduri Saripah. tak lama Chiyome muncul membawa nampan berisi segelas air kopi dan sepiring bakwan. kudapan itu diletakkannya di meja.
"Nih, makan. temani Ipah, kayaknya kelelahan dia. nggak tahu kelelahan kenapa." kata Chiyome memeluk nampan itu.
"Makasih ya?" ujar Trias.
Chiyome mengangguk lalu pergi lagi meninggalkan kedua sejoli itu sendirian. Trias bangkit dari duduknya dan duduk disisi sofa panjang itu. tangannya terulur menyentuh dahi gadis itu.
*dia seperti putri tidur...
tunggu dulu.... puteri tidur?
jangan-jangan.....
ASTAGA*!!!!
Trias langsung memperbaiki duduknya lalu memejamkan mata dan membaca wirid-wirid. sudah lama kegiatan ini tak dilakukannya, sejak ia tak mampu lagi menjangkau Iyun dialam barzakh.
sekarang ia harus melakukannya lagi untuk menyeret paksa ruh Saripah yang gentayangan agar kembali ke tubuhnya. gadis itu tanpa sadar mengalami OBE (Out of Bodies Experience) atau peristiwa keluarnya ruh dari jasad tanpa proses kematian. ini merupakan salah satu kejadian langka, mirip dengan Near Death Experience yang lebih dikenal dengan peristiwa mati suri.
seperti diketahui dalam ilmu hakikat bahwa ruh terdiri atas tujuh bagian. ketika manusia tidur, lima ruh dilepaskan sehingga manusia mengalami mimpi. sedangkan dua ruh lainnya tetap berada didalam tubuh. satunya menjaga detakan jantung dan kerja otak, sedang satunya bertugas memanggil kembali lima ruh yang dilepaskan.
hal ini senada dengan dengan ayat 42 dalam Surah Az-Zumar : Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati diwaktu tidurnya. maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang telah ditetapkan. sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.
dia nggak boleh tersesat. aku sudah sejauh ini mencintainya. ya Allah... kembalikan Saripah kepadaku...
dan Trias melakukan olah ritual meraga sukma yang biasa dilakukannya saat depresi dan mengunjungi Iyun dialamnya.
...******...
Saripah merasa asing dengan pemandangan dihadapannya. sebuah sabana luas dengan lambaian ilalang mirip batang-batang jewawut yang siap dipanen. tangannya terulur menjamah rerumputan yang tingginya sekitar pinggang itu. hijau semerbak menimbulkan rasa damai.
ah... dimana ini??? asing tapi kok perasaanku damai ya???
"Hai Ipah..." sapa seseorang. suaranya amat dikenalnya.
seketika Saripah membalik tubuh menatap pemilik suara merdu yang begitu mendayu di telinganya.
__ADS_1
"Kau...." ujar Saripah dengan pelan. []