
wanita itu baru saja menyelesaikan ritual sholat Dhuhurnya, ketika menyadari kehadiran putranya, Iechika yang duduk bersimpuh gaya zazen dibelakangnya saat Fitri menengok ke kanan dan ke kiri ketika mengucapkan salam. wanita itu tetap mengenakan mukena lalu membalik tubuh, duduk menghadap kedua putranya.
"Okaa-san (ibu), apakah Okaa-san sedang memikirkan sesuatu?" tanya Iechika.
"Ibu hanya memikirkan kakakmu." jawab Fitri sambil tersenyum datar. "Dimana ayahmu? kenapa kalian tidak pulang bersama?"
"Otoo-san masih di kantor. aku pulang sejenak untuk menengok Okaa-san. kelihatannya Okaa-san kesepian sejak Chiyo-hime meninggalkan rumah. apakah aku harus mencari asisten rumah tangga untuk menemani Okaa-san?" kata Iechika.
"Tidak usah, ibu nggak apa-apa. bekerjalah dengan giat." balas Fitri.
"Okaa-san, bahagiakah engkau dengan pencapaianku sekarang?" pancing Iechika.
"Sebaiknya jangan terlalu akrab dengan kaum yakuza. jujur, ibu selalu cemas Iechika." jawab Fitri kemudian maju mengusap bahu putranya. "Ingat, kau putra tunggal keluarga ini. meskipun ayahmu memerintahkan putra-putra Ienaga untuk melindungimu, namun sebagai seorang ibu, aku tak sanggup melihatmu terbuka. ibu tak ingin hidup jika sesuatu terjadi padamu." tandas wanita itu.
"Okaa-san jangan khawatir yang bukan-bukan. percayalah pada Tuhan, dan yakinlah bahwa putra ini mampu menyelesaikan urusannya." kata Iechika berupaya meredakan kegelisahan ibunya.
"Ibu selalu mendoakanmu senantiasa dalam ibadahku, nak." jawab wanita itu kembali mengusap pipi putranya. sebutir air mata jatuh dari pelupuk matanya.
Iechika mengulurkan jemarinya dan menghapus air mata ibunya. "Besok, aku akan mendirikan perusahaanku. sedangkan ayah berhasil menyingkirkan Paman Masakado."
"Hati-hati saja." jawab Fitri, "Semakin tinggi dan besar sebatang pohon, akan semakin dahsyat angin yang akan merubuhkannya." pesan wanita itu.
"Aku akan mengingat pesanmu selalu." tandas Iechika sambil tersenyum.
pemuda itu bangkit dan membalik langkah meninggalkan kamar yang dihuni sang ibu. Fitri hanya bisa menghela napas sambil melepaskan mukena.
sudah 6 bulan berlalu. Chiyome intens selalu mengirim kabar terbaru tentang aktifitas kesehariannya dengan kepada ibunya. hanya kepada ibunya ia mau membuka hati dan menceritakan segalanya. bahkan gadis itu sudah berani membicarakan tentang hubungannya dengan Kenzie, putra dari Adnan.
"Jangan terlalu masuk dalam keluarga mereka. ingat, kamu itu dalam keadaan on mission. tugas belajar itu hanya kedok. sebenarnya Otoo-san sudah mengaturnya disini. jadi lakukan saja peranmu dengan baik." pesan Fitri.
hanya itu kata yang keluar dari bibir wanita itu ketika Chiyome menghubunginya kemarin. Fitri lagi-lagi menghela nafasnya.
aku mungkin agak keras pada anak itu. bagaimanapun, dia adalah putri keluarga Mochizuki. namun sebagai sesama wanita, aku memahami perasaannya. bagaimanapun ia juga membutuhkan belaian dan perlindungan seorang laki-laki.
bagaimana bisa Chiyome tertarik dengan putra dari Mariana? apa kelebihan anak itu. kalau hanya karena ia memiliki keterampilan beladiri, putriku bahkan bisa menjatuhkannya hanya dengan sekali serangan.
apakah Chiyome mulai melupakan tekadnya semula? ataukah dia hanya fokus pada anak itu? bukankah ia harus menjaga kakaknya, apa ia tak melalukannya?
nggak mungkin... Chiyome bukan anak seperti itu.
anak itu mungkin merasakan kekosongan jiwa. bagaimanapun sebagai wanita, dia membutuhkan seorang pasangan hidup. anak itu menemukannya dalam jatidiri Kenzie, putranya Mariana.
apa kelebihan anak itu? aku harus bisa mencari tahu.
Fitri bangkit lalu mondar-mandir diruangan tersebut. tak lama kemudian terdengar langkah kaki. Fitri keluar dari kamarnya dan mendapati Kameie yang baru saja mendekati kamarnya.
"Oh, halo sayang... aku baru saja hendak menemuimu." kata Kameie.
"Ada yang mau disampaikan?" tanya Fitri.
"Masuklah ke kamar." pinta Kameie.
Fitri mengikuti permintaan suaminya. keduanya kemudian memasuki kamar. Fitri melepaskan jas dan kemeja dan akhirnya menelanjangi suaminya hingga Kameie tinggal mengenakan cawat fundoshi saja. celana khusus yang dikenakan kaum adam digolongan Yakuza.
setelah itu Fitri memberikan yukata untuk dikenakan oleh suaminya. lelaki itu mengenakannya berikut sabuknya yang kemudian mengikatnya dibelakang.
"Iechika bilang kau menempatkannya dikantor cabang." kata Fitri sambil tersenyum membelai dada Kameie.
"Waah curang anak itu. kenapa mulutnya begitu gampang bicara jika dihadapan ibunya?" gerutu Kameie.
"Iechika masih sekolah. kenapa kau sibukkan dia dengan urusan itu? bisakah menunggu dia lulus saja?" pinta Fitri.
"Jangan kuatir. dia akan didampingi oleh Yasuyori dan Yasunori. keduanya akan mengajarkannya dengan baik. Ienaga sudah kutempatkan dibiro khusus untuk dokumen dan arsip perusahaan. aku akan lebih mudah mengontrol mereka jika Ienaga berada disana." jawab Kameie.
lelaki itu duduk bersila dihadapan istrinya yang juga kemudian duduk bersimpuh.
"Ada yang ingin ku diskusikan denganmu." kata Fitri.
"Katakan saja." ujar Kameie.
"Kau sudah tahu tugas apa yang kuberikan padanya ketika mengirimnya kesana, kan?" pancing Fitri.
"Mengawasi dan melindungi kakak serahimnya. aku paham. kurasa itu hal yang sangat baik untuk menempa dirinya. aku senang dengan apa yang kau lakukan." puji Kameie sambil tertawa.
"Tapi ada perkembangan yang tak terduga." kata Fitri dengan serius.
"Oh ya? perkembangan apa itu?" tanggap Kameie sambil tertawa melihat keseriusan diwajah istrinya. menurutnya, Fitri nggak cocok berwajah seperti itu. sangat lucu dan menggemaskan.
__ADS_1
"Dia.... jatuh cinta.." jawab Fitri.
Kameie tertawa, "Oh ya? luar biasa! ternyata seorang perawan besi ada juga yang meminatinya."
"Otoo-sama, aku serius." tegur Fitri kali ini dengan nada yang agak meninggi.
"Baiklah...baiklah.... siapa pemuda yang berhasil melelehkan hati besi putriku?" tanya Kameie.
"Putra dari bekas suamiku." jawab Fitri.
Kameie terdiam mendengar jawaban Fitri. lelaki itu menatap lekat-lekat wajah istrinya.
"Kamu serius?" tanya Kameie dengan sangsi.
"Apa sejak tadi, aku terlihat tidak serius?!" suara Fitri mulai meninggi lagi. kali ini ia jengkel dengan ketidaktanggapan suaminya.
Kameie menutup mata sambil mengangguk berkali-kali. ia mengangkat tangannya. "Oke, oke, ini terlihat sangat serius dari keadaan yang sebenarnya."
"Bagaimana tanggapanmu?" tanya Fitri meminta saran suaminya.
"Bagaimana kau tahu? kau punya buktinya?" Kameie balik bertanya.
Fitri bangkit mengambil ponselnya lalu memperlihatkan segala foto yang dikirimkan Chiyome. lelaki itu menatapi berbagai macam gambar yang ditampilkan pada layar ponsel itu. Kameie mengangguk-angguk lagi.
"Baik, aku percaya." ujar Kameie lalu menatapi istrinya.
"Bagaimana menurutmu?" Fitri kembali mengulangi pertanyaannya.
"Lelaki itu harus diuji apakah ia pantas menerima cinta putriku. bagaimanapun, aku tak mau setengah-setengah dalam urusan ini. hal ini menyangkut masa depan putriku dan nasib keluarga Mochizuki." jawab Kameie.
"Kau tak keberatan dengan status anak itu yang merupakan putra bekas suamiku?" tanya Fitri.
"Menurutku itu tidak penting. keduanya kan tidak memiliki hubungan keluarga. jika Chiyome mencintai pemuda itu, aku akan merestuinya. tapi, sebagaimana tradisi dikalangan Genyosha, pemuda itu harus diuji!" tandas Kameie.
Fitri mengangguk-angguk. "Baiklah, jika itu menurutmu yang terbaik."
"Apakah pemuda itu sudah mengetahui segala hal tentang Chiyome?" tanya Kameie.
"Seperti perintahmu. pemuda itu benar-benar tidak mengetahui anak kita kecuali kulitnya saja. Chiyome benar-benar menerapkan perintahmu dengan baik." jawab Fitri.
Kameie mengangguk lalu tersenyum. "Berarti, ujian pertama sudah akan dimulai. pada saatnya nanti pemuda itu harus tahu siapa sebenarnya orang yang dicintainya. jika pemuda itu memang benar mencintai anakku. dia tak akan mempermasalahkannya. bukankah ajaran agama kita menyebutkan seperti itu?"
"Aku akan mendiskusikannya juga dengan ustad Taki Takazawa." kata Fitri.
"Ah, kau benar. mengapa kita tak meminta sarannya?" timpal Kameie sambil tertawa.
...**********...
Hari itu adalah terakhir ujian semester ganjil dilaksanakan. seluruh siswa-siswi SMUN 3 Kota Gorontalo melaksanakan kegiatan itu dengan sungguh-sungguh.
bel berdering menandakan waktu ujian telah selesai. seluruh siswa berhamburan dari kelasnya menyeruak ke halaman untuk kembali ke kediaman mereka masing-masing karena telah memenuhi tanggung jawab yang dibebani oleh pihak sekolah.
"Bro, sori. aku duluan ya.?" kata Trias sambil menggandeng Iyun. mereka saat itu berada diparkiran.
"Iya, sudah tau. silahkan dilanjutkan pergulatannya." jawab Kenzie dengan jengkel.
"Siapa yang mau main gulat siang-siang, entar dikira Papa, kita saling berantem." kata Trias sementara Iyun dan Chiyome tertawa menyaksikan perdebatan kedua pemuda itu.
"Sudah.... kami juga nggak mau mengganggu waktu berkualitas milik kamu dan Chiyome." goda Iyun sambil tertawa. Chiyome sendiri hanya tersipu mendengar godaan Iyun.
"Sudah, kami cabut dulu ya? ingat, jangan kebablasan, belum halal tau." kata Trias yang sudah berada dipunggung sepeda motornya kemudian Iyun naik membonceng. sepeda motor yang dikendarai Trias dan Iyun kemudian bergerak meninggalkan Kenzie dan Chiyome yang masih berada diparkiran.
"Yuk ah Wiffi." panggil Kenzie sambil menaiki motor dan menyalakan mesin. Chiyome langsung mendaratkan pantatnya disadel motor itu.
mereka melaju meninggalkan sekolah. rencana Kenzie, mereka masih mutar-mutar dulu. mereka melaju menyusuri jalan yang menuju ke perlimaan Telaga.
"Hubby, kita mau kemana sih?" tanya Chiyome agak keras untuk melawan arus udara yang menampar mereka.
"Aku akan membawamu ke suatu tempat. kau akan menyukainya." jawab Kenzie juga agak keras. kendaraan yang mereka naiki sekarang telah tiba di jalan perlimaan Telaga. Kenzie membelok ke jalan yang mengarah keluar kota.
"Bukankah ini jalan yang menuju luar kota?" tanya Chiyome agak keras.
"Iya..." jawab Kenzie lagi agak keras.
"Hubby... kita mau kemana sih?" tanya Chiyome lagi.
"Pokoknya... kamu akan menikmatinya. aku nggak mau kamu selama disini tak menikmati apapun." jawab Kenzie lagi.
__ADS_1
"Iya, Wiffy paham kalau Hubby mau nyenangin Wiffy. tapi kita mau kemana sih?" tanya Chiyome lagi.
"Ada aja. Pokoknya ada deh. nanti juga tau." jawab Kenzie.
"Hubby mau nyulik Wiffy ya? nggak keren nih cara nyuliknya." kata Chiyome.
"Memang terlihat mau nyulik? memang tampang Hubby ada gaya penculik?" tanya Kenzie lagi.
"Hubby, kalau Hubby mau main cinta nggak usah pake nyulik deh. di kontrakan juga Wiffy kasih semuanya." kata Chiyome sambil menahan tawa.
tiba-tiba Kenzie menepikan motornya setelah itu melepas helmnya. pemuda itu menoleh.
"Wiffy, kan kita sudah sepakat nggak bicara-bicara yang begituan lagi. Wiffy mau bagiannya Hubby berontak-berontak mau begituan. kan Hubby jadi melanggar janji." kata Kenzie dengan sabar.
"Habisnya Hubby nggak mau kasih tau kemana kita pergi. ini kan jadi kayak mau menculik Wiffy." kata Chiyome dengan manja.
"Mana mungkin Hubby mau nyulik Wiffy. biar nggak diculik juga nempel sendiri. sudah, nggak usah komen dulu. Hubby mau menyenangkan Wiffy hari ini supaya ada yang berkesan bisa diceritain sama keluarganya Wiffy di jepang." kata Kenzie.
duh perhatiannya Hubby padaku... sampai-sampai harus seperti ini.... rasanya aku ingin terus ada disisimu, my perfect Hubby....
melihat Chiyome tersenyum, Kenzie ikut tersenyum. "Sudah ya. ikut saja. nggak usah lagi bahas begituan. awas nanti Hubby jadi nafsu, mau Hubby remasin payudara Wiffy disini, terang-terangan?!"
"Coba kalau berani!" tantang Chiyome balik justru lebih membusungkan dadanya membuat Kenzie menggelengkan kepala.
"Astaghfirullah...." ucap pemuda itu akhirnya.
sebenarnya Kenzie hanya mengancam karena setahunya jika seorang wanita hendak dilecehkan ia akan takut dan diam menurut. tapi ternyata Chiyome adalah kebalikannya. namun entah kenapa, hatinya sulit lepas dari gadis itu. Chiyome benar-benar telah memenuhi rongga dadanya. tak tersisa siapapun disitu. semua telah dirampas gadis itu.
Chiyome cekikikan melihat Kenzie salah tingkah dan langsung memakai helmnya kembali dan melajukan lagi sepeda motornya.
mereka memasuki kota Limboto. tak berapa lama merwka tiba diperempatan yang berada tepat dibawah menara keagungan yang didirikan mendiang Bapak Ahmad Hoesa Pakaya.
Kenzie menunjuk bangunan itu. "Kamu mau naik kesitu?" tanya pemuda itu.
"Nggak. nggak seru." jawab Chiyome dengan santai.
"Kenapa?" tanya Kenzie heran.
"Hubby... kalau menara begini, ditokyo juga ada. Wiffy sudah beberapa kali naik. udah bosan." kata Chiyome.
"Jadi?" pancing Kenzie.
"Katanya mau nyenangin Wiffy. mana? carikan dong yang berkesan, yang nggak ada di jepang gitu." tantang Chiyome dengan senyum nakal.
"Okey... kita lanjut." kata Kenzie kembali melajukan motornya. mereka menyusuri jalanan dua arah hingga tiba di perempatan.
Kenzie ingin mempersingkat jalan hingga ia menyusuri jalan ke barat, terus hingga akhirnya mereka tiba dijalan tembusan yang berada diwilayah Pone.
kembali Kenzie melajukan kendaraannya menyusuri jalanan dua arah yang luas menuju Isimu. Kenzie kemudian membelok ke kanan menyusuri jalan yang menuju ke Gorontalo Utara.
"Kita mau kemana Hubby?" tanya Chiyome kembali. namun kali ini, Kenzie tak menjawab pertanyaanya. keduanya terus melaju menyusuri jalanan yang berliku.
keduanya tiba di Kwandang dan Kenzie terus melaju. mentari semakin condong ke barat karena waktu mulai menunjukkan pukul 2 siang.
kendaraan yang mereka naiki sudah melewati Molu'o, yerus berbelok ke kanan lagi menyusuri Tomilito. Kenzie membawa kendaraannya dengan kecepatan sedang agar Chiyome bisa leluasa memandangi lautan yang dipisahkan dengan hutan mangrove disepanjang jalan Trans Sulawesi yang membujuri perbukitan itu.
mereka meninggalkan Tomilito dan memasuki Gentuma. Chiyome menyaksikan sebuah bangunan yang dibangun ditepian laut. gadis itu menunjuk.
"Itu bangunan apa Hubby?" tanya Chiyome.
"Itu Pembangkit Listrik Tenaga Uap." jawab Kenzie. mereka terus meluncuri jalan yang menurun dan akhirnya memasuki pemukiman. Kenzie terus melajukan motornya.
tak lama kemudian mereka memasuki Atinggola. Kenzie melambatkan laju kendaraan ketika melihat sebuah gerbang. disana bertuliskan 'Kota Jin - Kawasan Wisata Pantai Minanga'
Kenzie membelok memasuki pemukiman warga Kota Jin dan menyusuri jalanan kecil. tiba-tiba Chiyome melihat sesuatu dan menunjuk lagi.
"Hubby, indah ya?" kata Chiyome.
Kenzie menghentikan sejenak kendaraannya lalu menatapi gunung batu itu. terlihat sangat unik. keduanya menatapi gunung tersebut. Chiyome turun dari boncengan.
"Hubby, ambil pose disitu yuk?" pinta Chiyome dengan berbinar.
Kenzie turun dan membiarkan Chiyome berlari ke gunung itu. disana Kenzie memotret Chiyome dengan berbagai pose. setelah itu keduanya kembali dan kendaraan itu melaju lagi.
__ADS_1
mereka akhirnya tiba dipantai Minanga. disepanjang jalan itu berdiri gazebo. Kenzie menghentikan kendaraannya dan memarkirnya.
"Kita sampai sayang." kata Kenzie sambil mengembangkan tangannya. Chiyome menatapi pantai dengan senang. []