Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 113


__ADS_3

Chiyome mengenakan pakaian ringkas serba hitam. sejenak tatapannya terarah ke boks dimana Saburo tergeletak tidur dengan lelapnya. wanita itu tersenyum.


"Anakku... tidurlah nyenyak kau disana. Mama akan keluar sebentar menyelamatkan bibimu. Mama nggak lama kekuar sayang... " ujar Chiyome dengan lirih menatapi sang putra yang tidur lelap.


wanita itu kemudian melangkah menuju lemari dan membukanya. disana nampak sebilah pedang model gunto warisan sang buyut, Mamoru Minamoto. itulah Si Penebas Angin. pedang itu diambilnya dan disampirkannya dipinggang. setelah itu dengan gesit, Chiyome menyelinap keluar lewat jendela kamar dan menghilang dalam kegelapan malam.


...*****...


Sekali lagi Aisyah mendapatkan siksaan. Stefan begitu brutal memukulinya. tendangan dan tamparan memenuhi tubuh gadis itu. bilur-bilur kebiruan dan memar memenuhi lapisan kulitnya. lelaki itu tertawa.


"Hari ini menyenangkan benar! kau memang perempuan hina yang patut direndahkan. rasa-rasanya aku ingin membunuhmu saat ini." dengus Stefan dengan napas yang memburu.


"Van... apa salahku?... jika kau memang tak suka... kau tinggal ceraikan aku.... mengapa kau siksa aku?... mengapa?" ujar Aisyah dengan lirih karena seluruh tubuhnya terasa remuk oleh pukulan dan tendangan lelaki itu.


Stefan menjambak rambut wanita itu, "Aku masih ingin bersenang-senang denganmu, brengsek!! akan kulepaskan kau jika tak bernyawa lagi!"


"Van... aku ... sudah relakan kamu... dengan perempuan itu... hentikan kelakuanmu ini.... nikahilah dia... ceraikan aku... aku.... sudah ikhlasss...." desis Aisyah dengan lirih.


"Nggak semudah itu, bangsaaat!!!" teriak Stefan membenturkan kepala Aisyah ke lantai. lantai marmer itu menampakkan lukisan bunga darah yang memancar. dahi wanita itu penuh dengan darah yang keluar dari luka akibat hantaman itu.


Aisyah sudah tak mampu bicara. ia pasrah. inilah resikonya ketika meminta pertanggung jawaban lelaki itu. bukan bahagia yang diraihnya, namun malang yang tak mampu ditolak. berharap mengecap cinta, sengsara yang ditelan.


Stefan bangkit dan menginjak leher Aisyah yang tertelungkup. "Kamu mati sajalah!" ujarnya hendak menekan telapak kakinya, meremukkan batang tulang leher wanita itu.


PRANGGGGG!!!!


kaca jendela kamar itu pecah, Stefan terkejut tapi tak sempat menghindar ketika sesosok tubuh menyeruak dari jendela yanf dilabur kegelapan malam. tendangan menghantam rusuk lelaki itu.


Stefan meringis kesakitan dan berupaya bangkit ketika dirasakannya bilahan pedang menempel dibatang lehernya.


"Siapa kau?!" serunya.


"Larilah.... sebelum pedangku mengoyak batang tenggorokmu...." ujar orang itu sedikit menekan hingga Stefan merasakan rasa keram dilehernya. orang itu sedikit menyayat kulit leher lelaki itu dan meneteskan darahnya sedikit ke lantai.


dengan ketakutan, Stefan langsung bangkit dan berlari meninggalkan kamar itu. orang berpakaian hitam dan bermasker itu menatap tubuh Aisyah yang tertelungkup. ia membangkitkannya dan menggendongnya.


"Aku akan membawamu keluar dari neraka ini.... tenanglah kakak..." ujarnya lirih.


orang itu menyelinap keluar jendela membawa tubuh Aisyah yang pingsan dalam gendongannya, menghilang di kegelapan malam.


...******...


Mariana menjerit histeris dan langsung menghambur ke ranjang dimana Aisyah sementara terbaring lemah ditemani selang-selang infus dan kabel-kabel elektroda untuk mendeteksi detak jantung dan perkembangan fisik pasien.


Chiyome sendiri hanya berdiri dipintu sesekali menarik ingus dan sesenggukannya, bersandar masih mengenakan shozuku hitam miliknya. Si Penebas Angin disimpannya didalam mobil. Aisyah langsung diboyongnya ke rumah sakit dan segera ditangani tim medis saat itu mengingat kondisi tubuh Aisyah yang sangat mengkhawatirkan.


Adnan hanya diam menggembungkan rahangnya sambil memeluk Saburo yang entah kenapa juga menangis. mungkin anak itu terbawa suasana dalam ruangan itu. Chiyome meminta Saburo dalam pelukan mertuanya dan kedua ibu-anak itu kemudian menangis pelan disisi pintu.


Adnan dengan menahan emosi. matanya memerah dan berair. ia menatap menantunya.


"Adek yang membawa Kakak kemari?" tanya Adnan dengan pelan. Chiyome hanya mengangguk pelan lalu kembali menatapi sang kakak yang terbaring lemah diranjang itu. sementara Mariana masih terus menangis meratapi nasib malang putri tirinya.


"No'u... bangun... Mama disini nak... bangun nak... Mama rindu sama kau... kenapa kau nya bilang kalau barangasa itu menyiksamu... lebih baik kau nya kaweng nak daripada dibikin begini..." sedu Mariana seraya memukul-mukul dadanya membuat Chiyome kembali menangis.

__ADS_1


Adnan menggigit bibirnya dan menarik isakannya. lelaki itu menunduk lalu memijiti keningnya dan tak lama Adnan menumpahkan tangisnya tanpa suara. Chiyome memeluk mertuanya.


"Papa...." ujarnya lirih.


Adnan menggelengkan kepala berkali-kali. lelaki itu beristighfar berupaya meredakan emosinya yang nyaris tak mampu dikuasainya. dengan gemetar Adnan melangkah pelan dan duduk disofa panjang dan duduk sambil terus melantunkan kalimat istighfar.


Mariana menatapi Adnan. "Papa! cari orang itu! cari Papa... Mama nggak rela! nggak rela!.... duh, Aisyaaah..." ratap Mariana kembali menyapu pelan kepala Aisyah.


wanita itu menderita syok akibat siksaan. itu menurut keterangan tim medis ketika Adnan mengkonfirmasi kondisi putrinya. Aisyah mengalami apa yang disebut Rape Trauma Syndrome yang merupakan bentuk turunan dari gejala paska trauma. dokter hanya meminta Adnan sekeluarga untuk bersikap tenang dan menyikapi hal ini dengan bijak.


Aisyah membutuhkan dukungan moril dari keluarganya. sementara itu juga Chiyome sudah menghubungi Endrawan agar mengerahkan orang-orangnya untuk menemukan Stefan. malam itu, ingin sekali Chiyome menggorok batang leher lelaki itu jika saja perhatiannya tak tertuju kepada Aisyah yang sudah diam tertelungkup bagai orang mati saja. Chiyome hanya menyuruhnya lari. prioritasnya memang hanya untuk menyelamatkan Aisyah. bukan untuk menghilangkan nyawa seseorang, meskipun ia sangat mampu melakukannya. siapa yang tak kenal Si Kembang Maut? bahkan Tokyo saja akan merinding mendengar namanya.


Aisyah menjalani perawatan penuh dari tim dokter. Adnan melakukan apapun demi kesembuhan putrinya. harta bisa dicari, tapi nyawa tak memiliki ganti.


...****...


Kenzie memeluk Saburo, menatapi kakak perempuannya yang masih terbujur lemah dipembaringan. rahangnya mengeras. ia baru sadar ketika menghubungi sang istri, Chiyome dalam misi penyelamatan kakaknya sehingga sang istri tak mengaktifkan gawainya sama sekali. ponsel itu baru diaktifkan kemudian setelah berada dirumah sakit ketika Chiyome menghubungi Adnan dan Kenzie yang masih dalam perjalanan.


mobil sudah menyusuri jalanan trans Pulubala ketika panggilan dari Chiyome menyadarkan Kenzie dari kantuknya. dan pemuda itu langsung menguap kantuknya mendengar berita tentang Aisyah langsung dari mulut istrinya.


"Ke Aloe Saboe, Yas! Kak Aisyah dirawat disana!" teriak Kenzie dengan kalap.


"Oke Bro!! meluncur!!" balas Trias langsung menekan penuh pedal gas mobil. kendaraan itu melaju kesetanan membelah jalanan malam.


mereka tiba di rumah sakit pada pukul 5 pagi. setelah singgah sholat di mushola rumah sakit, Kenzie dan Trias bergegas mencari ruangan dimana Aisyah dirawat.


kasus kekerasan ini juga sudah dilaporkan Adnan ke pihak kepolisian untuk segera diusut. mungkin sebentar lagi tim forensik akan menanyakan beberapa hal jika pasien itu telah siuman.


"Hubby bersyukur... Wiffy yang menyelamatkannya... Hubby juga bersyukur... Wiffy tidak mengoyak leher brengsek itu dengan Si Penebas Angin. Hubby hanya menyesal... tak menyangka kondisi pernikahan Kak Ais seperti ini." ujar Kenzie dengan sendu.


"Apa menurut Wiffy... Kak Ais bisa bangun?" tanya Kenzie.


"Wiffy nggak tahu, Hubby.... siksaan yang diderita Kak Ais sungguh diluar batas kemanusiaan... lelaki itu benar-benar membuat kakak ....." Chiyome tak mampu lagi meneruskan kata-kata.


Kenzie melangkah mendekati istrinya dan menyapu pundaknya. Chiyome menyentuh tangan suaminya yang menyapu pundak.


"Hubby sudah putuskan.... kita akan membuat lelaki itu menderita.... untuk sementara, kita fokus dulu sama kesehatan Kak Ais...." ujar Kenzie dengan pelan.


"Bagaimana dengan pekerjaan disana?" tanya Chiyome.


"Aman Wiffy.... aman." jawab Kenzie. "Wiffy pulanglah dahulu. bersalin pakaian dan kembalilah. kita berdua yang akan menjagai Kak Ais."


Chiyome mengangguk lalu bangkit. sebelum meninggalkan ruangan, wanita itu mencium lembut bibir suaminya, setelah itu dengan langkah pasti ia meninggalkan ruangan itu.


...*****...


Bakri meremas tangannya sendiri, menahan emosi yang memanjati ubun-ubunnya. Adnan menceritakan kondisi putrinya saat keduanya berada diruangan kerja.


"Lalu... bagaimana tindakan Bapak?" tanya Bakri dengan suara gemetar.


"Aku sudah melimpahkan kasus ini ke polisi. selain itu Endrawan sudah menyebar orang-orangnya untuk mencari keberadaan Stefan." jawab Adnan seraya menghela napas panjang. lelaki itu duduk dikursinya dan menatap langit-langit ruangan.


"Aku tak menyangka kehidupannya setelah pernikahan berjalan tragis seperti itu... aku pikir dengan memaksakan sebuah pernikahan akan membuat keduanya bahagia. bukankah lelaki itu yang dicintai Aisyah hingga ia rela menyerahkan segalanya? dan putriku benar-benar rela. kalau saja Chiyome tidak datang menyelamatkannya, Aisyah sudah tewas diinjak Stefan." ujarnya pelan.

__ADS_1


airmata Bakri menetes tanpa sadar dari kelopak matanya. pemuda itu menunduk dalam namun tetap saja airmata itu menetes bagai tetesan air keran. Adnan mengamati perilaku pemuda itu.


"jangan menangisinya Bakri." kata Adnan dengan senyum getir.


perkataan lelaki itu justru malah makin menambah deras airmata pemuda itu. merasa tak tahan, Bakri bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan.


"Bakri... mau kemana?" tanya Adnan.


"Ijinkan saya menenangkan diri saya Pak." jawab Bakri sejenak kemudian pemuda itu melangkah kembali meninggalkan ruangan tersebut.


sementara Adnan hanya menghembuskan napas panjangnya dan mengusap wajahnya dengan kasar dan berdiri lalu melangkah menuju jendela, memandangi lanskap kota Gorontalo dari kaca jendela itu.


...******...


Chiyome sudah bersalin pakaian. ia juga membawa cadangan pakaian untuk dirinya dan suaminya. wanita itu kembali ke Aloe Saboe, menemani suaminya yang menjagai kakaknya.


sementara menunggui suaminya yang mandi dan membersihkan diri, Chiyome menyusui Saburo disofa. wanita itu sesekali menatapi Aisyah yang masih pingsan.


Kenzie muncul mengenakan handuk yang melingkari pinggangnya. tubuh kekar bulky style nya terpampang membuat Chiyome kembali berdesir. Kenzie menatapnya dan tersenyum.


"Sabar Wiffy.... jangan nafsu dulu...." tegur Kenzie setengah mengolok lalu terkekeh.


wajah Chiyome cemberut. Kenzie tertawa lalu meraih pakaian dalam tas ransel dan mengenakannya kemudian duduk disisi Chiyome.


"Bagaimana Saburo? apa lebih sering netek?" goda Kenzie lalu mencium pipi istrinya.


Saburo kelihatannya ingin menjaili ayahnya. sesekali bayi itu melepas mulutnya seakan nggak mau menyusu lagi membuat Chiyome menegurnya.


"Ayo Saburo... menyusulah..." tegurnya, "Atau Mama kasih ke Papa nih teteknya..." ancam ibu muda itu. Saburo kembali menyusu sejenak kemudian melepaskan ****** susu ibunya kembali.


"Saburo... mulai nakal ya kamu... Mama kasih ke Papa nih.. beneran lho..." ancam Chiyome. Saburo kembali menyusu, namun kembali lagi melepaskannya seakan mengejek sang ibu dan ayahnya.


"Saburo.... benar nih... Mama kasih ke Papa saja ah.." kata Chiyome.


"Ayo... kalau begitu... pastikan saja... lama sekali Hubby nunggu nih mau netek." balas Kenzie membuat Chiyome tersipu akan gombalan suaminya. seakan tahu percakapan suami istri itu, Saburo tertawa lalu menyusu kembali, kali ini seakan memonopoli kedua payudara ibunya agar tak direbut saingannya yang tak lain ayahnya sendiri.


"Wiffy lihat? bahkan Saburo sudah tahu kedua bongkah dada Mamanya adalah miliknya." ujar Kenzie kembali tertawa.


tanpa sengaja Kenzie melirik Aisyah dan pemuda itu terkejut melihat kedua mata wanita itu membuka. Kenzie berdiri dan mendekati Aisyah.


"Kakak? alhamdulillah.... kakak akhirnya bangun." seru Kenzie seraya mengusap wajah dengan telapak tangannya. Aisyah menatapi pemuda itu dan menghela napas.


"Ini dimana Ken?" tanya Aisyah dengan lemah. sementara Chiyome telah bangkit mendekati Aisyah dalam posisi menyusui putranya.


"Onesan...ishiki o torimodoshite kurete arigato..." ujar Chiyome yang kemudian menangis. Saburo yang seakan merasakan aura itu pula melepaskan mulutnya dari ****** susu ibunya dan menangis sehingga Chiyome buru-buru menenangkannya. (kakak, syukurlah kau sudah siuman)


"Rumah sakit kak... kakak mengalami kekerasan dalam rumah tangga... beruntung Wiffy datang menyelamatkan Kakak." jawab Kenzie yang kemudian menelungkup ditangan Aisyah dan menangis.


"Maafin saya Kak.... seharusnya kita membiarkan saja dia berlaku sesukanya. seharusnya kami tak menikahkannya dengan kakak... aku... aku... " Kenzie tak mampu menyelesaikan kalimatnya dan kembali menangis.


Aisyah menghela napas panjang. "Itu karma, Ken.... kakak yang menciptakan garis karma itu... dan... syukurlah... Adek memutuskannya..." wanita itu kemudian meraih tangan Kenzie dan meremasnya.


"Kakak senang... kalian disini... kakak nggak sendiri lagi." ujar Aisyah dengan senyum tabah.

__ADS_1


"Aku janji akan menjaga kakak." kata Kenzie sambil menyapu tangan Aisyah yang meremas tangannya. Chiyome mengangguk-angguk.[]


__ADS_2