
Fitri tersenyum. "Kau cukup mengawasi dan menjaganya semampumu. jangan memaksakan diri."
Chiyome mengangguk. tak lama kemudian Kameie dan Iechika muncul dikamar itu.
"Sudah siap?" tanya Kameie.
"Siap!" seru Chiyome dengan semangat.
"Ini Paspormu. jaga dirimu baik-baik." kata Kameie sambil menyerahkan sebuah buku kecil dan beberapa helai dokumen penting.
"Aku sudah menghubungi Kedutaan Jepang di Jakarta. mereka bersedia membantu dengan senang hati. Tidak banyak dari kita yang tertarik dengan tempat destinasimu. lebih banyak, mereka memilih Jakarta atau Bali." komentar Kameie.
"Karena tujuan mereka bukan untuk sekolah, tapi berwisata. " ujar Chiyome dengan sebal.
"Mengapa kau tidak melanjutkan sekolah saja di Jakarta, atau dimana, mengapa harus Gorontalo?" pancing Iechika dengan serius. "
"Karena disana adalah tempat kenangan..." Chiyome tak sempat menyelesaikannya....
"Chiyome..." tegur Fitri dengan wajah memerah. Kameie memamdang Fitri dengan tatapan penuh makna.
"Ingat Chiyome. prinsip Mugei Numei. jangan pernah bongkar identitasmu kapada orang lain." pesan Kameie. " Meskipun itu, orang paling dekat dengan kamu. pastikan, mereka hanya mengenalmu sebagai seorang siswa yang terjaring program pertukaran pelajar. selebihnya tidak boleh sama sekali. karena jika kecurigaan sudah muncul, maka kau tak akan bebas berkeliaran semaumu."
"Berikan saja dia serombongan pengawal." tambah Iechika.
"Akan lebih kentara lagi." jawab Chiyome dengan ketus. "Kamu nggak ngerti seni perang ya?"
dimarahi seperti itu, Iechika hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang terasa gatal. pemuda itu tersenyum. "Aku paham, Chiyo-hime..." goda Iechika.
"Terima kasih Ie-Dono." balas Chiyome sambil membungkuk takzim. setelah itu keduanya tertawa bersama.
Kameie tertawa, "Cukup saling ledeknya. kita berangkat."
lelaki itu memgangkat kopor milik Chiyome dan membawanya. Fitri mengikuti dari belakang digayut oleh Iechika. terdengar isakan kecil dari perempuan itu. mereka sudah berada didepan gerbang. disana telah menanti mobil dan Kameie memasukkan kopor ke dalam bagasi mobil.
"Baik-baik disana ya nak. ingat pesan ibu." kata Fitri.
Chiyome memeluk Fitri, semakin menambah sedu sedan wanita itu. setelah menenangkan sang ibu, gadis itu melepas pelukannya kemudian membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. didepan, Kameie yang menyetir mobil melongokkan kepalanya.
"Aku berangkat." ujar lelaki itu.
Fitri mengangguk-angguk semantara digayut oleh Iechika. mobil itu melaju meninggalkan rumah kediaman Mochizuki, menuju bandara internasional Haneda untuk melepas Chiyome pergi menuju tempat pendidikannya yang baru.
...*********...
seorang siswa bertubuh gendut berlari-lari menyusuri lorong sekolah yang sunyi dan tak lama ia tiba dikelas. dalam ruangan itu keriuhan terdengar karena guru yang semestinya masuk untuk mengajar, tidak hadir karena alasan melakukan perjalanan dinas mengurus keperluannya.
"Kalian mau dengar berita terbaru nggak?" teriak pemuda gendut itu dengan gaya femininnya. sontak seluruh siswa terdiam dan mengarahkan tatapannya kepada pemuda gendut yang berdiri didepan pintu masuk kelas.
"Ada apa sih Riswan? sepagi ini kau sudah teriak-teriak macam induk ayam mau bertelur saja!" ujar Kenzie.
"Ada apa sih??" bisik-bisik yang lainnya terdengar
"Kita akan kedatangan tamu penting!" pekik Riswan sambil menangkupkan kedua tangannya di pipinya. kemudian dengan langkah santai gaya khuntsa, ia bergabung dengan kerumunan siswa.
"Tamu penting bagaimana?" tanya Susan dengan penasaran.
"Tamu penting." kata Riswan. "Program pertukaran pelajar. tadi aku lihat di dewan guru, ada seorang pejabat dari dinas pendidikan sedang bicara sama kepala sekolah. kemudian kepala sekolah mengajak pejabat itu masuk ke ruangannya. lama mereka bicara disana. aku masuk mau kepo, alasannya mencari Pak Juned dan berhasil menguping pembicaraan mereka."
"Kau tahu, nama dan asal siswa itu?" tanya Kenzie.
"Mana aku tahu? aku sekadar mendengarnya. kalau kelamaan disana, bisa-bisa aku diusir dengan tidak hormat karena kepoin urusan orang." kata Riswan sambil mengangkat bahu dan melangkah menuju bangkunya.
"Siswa luar negeri, weh." ujar Trias dengan heboh.
"Darimana ya?" bisik-bisik siswa yang lain
"Dari Amerika mungkin." jawab yang lainnya.
"Ah.. pasti dari London..." balas yang lainnya.
"Oke oke, sudah cukup tebak-tebakannya." seru ketua kelas sambil mengangkat tangannya. semua siswa kembali sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
__ADS_1
Trias mendekati Kenzie yang sengaja menjauh ke sudut kelas. ia duduk disamping Kenzie.
"Bagaimana dengan yang kemarin?" tanya Trias dengan suara pelan.
"Mantap, coy!" jawab Kenzie sambil tersenyum lebar. "Oom Ahmad setuju bertemu dengan kita berdua sebentar malam.
Trias langsung mengangkat dua jempolnya. "Saddaaaap.."
"Seterusnya bagaimana? kau yang ke rumahku, atau aku yang menjemputmu?" tanya Kenzie.
"Aaaaa.... bang Kenzie... aku malu deh.." kata Trias meniru gaya wanita yang tersipu-sipu karena digombali.
"Ini serius huakedemu ti...." ujar Kenzie gemas sambil menampar tengkuk Trias. "Entar dikirain kita berdua homo, tau rasa loo.."
pemuda itu tertawa sejenak lalu kemudian wajahnya langsung berubah serius. "Kita bertemu di Bakia, depan bekas pabrik ASTRA. bagaimana?"
"Oke." jawab Kenzie.
Trias bangkit dan berjalan menjauhi tempat yang diduduki Kenzie. pemuda itu justru bangkit keluar kelas menuju perpustakaan. begitu memasuki ruangan itu, langkahnya tertahan ketika mendapati seorang pemuda sedang asyik membaca. pemuda itu menutup buku dan menatapinya.
"Kenapa kamu? macam melihat kalumba lewat saja." sindir pemuda itu sambil meletakkan buku ke rak.
Kenzie tersenyum dan menggeleng. ia melangkah mendekati pemuda itu lalu melihat-lihat buku. Kenzie kemudian mengambil novel karya HAMKA yang berjudul 'Di jempoet Mamaknja.' kemudian duduk dan mulai membaca.
pemuda tadi adalah Burhan, siswa seangkatan namun berbeda kelas. Burhan menempati kelas XI C, sedangkan kelas yang ditempati Kenzie adalah XI F.
Burhan adalah pemuda yang sama memberikan bubuk sabu-sabu kepada Trias. hal ini menimbulkan ide gila dikepala Trias untuk menyelidiki dan mengungkap jaringan sindikat narkoba.
bisa saja Burhan adalah anggotanya, atau pengedarnya, atau hanya seorang pemakai yang sedang mencari teman. entahlah, biarlah pemuda itu sendiri yang mengungkap identitas sebenarnya.
sedang tenggelam dalam pikirannya, Kenzie tidak menyadari Burhan memperhatikannya. pemuda itu menjawil lengan Kenzie yang langsung tersadar dan gelagapan.
"A-ada apa?" tanya Kenzie dengan gugup.
"Kau gugup. ada apa?" tanya Burhan dengan curiga.
Kenzie menggeleng cepat. "Mungkin gara-gara ujian matematika..." jawabnya cepat namun terdengar gemetar, takut ketahuan.
Burhan tersenyum kemudian celingak-celinguk untuk meyakinkan tiada satupun orang diruangan tersebut. kemudian ia beringsut mendekati Kenzie.
Kenzie tambah gelagapan mendengar pertanyaan itu.
eleeeh...tambah ketahuan kalau begini....
dengan cepat pemuda itu menganggukkan kepalanya. Burhan mengangguk lalu merogoh sesuatu dari saku celananya. ia memperlihatkan sebuah bungkusan kecil berisi bubuk putih kepada Kenzie.
"Ini solusinya." jawab Burhan dengan senyum sumringah.
oke..orang ini sudah menampakkan identitasnya... bagaimana caranya supaya tidak ketahuan ya?
tiba-tiba Kenzie menggebrak meja.
BRAKKKKK...
"Kau jangan bercanda kawan!!" bentak Kenzie dengan marah.
Burhan merasa jantungnya hampir jatuh. ia curiga, pemuda itu menyadarinya
"Kenapa?" tanya Burhan, berjudi untuk memastikan Kenzie mengetahuinya atau tidak. ditatapinya wajah Kenzie yang menegang.
"Masa kau menawariku bubuk tawas untuk menghilangkan kegugupanku?! kamu masih waras nggak?!" bentak Kenzie berakting sambil menowel kening Burhan.
seketika Burhan tertawa lepas dan untungnya hanya mereka berdua berada di ruang perpustakaan itu.
bagus! dia tertipu....
"Aku suka leluconmu.." kata Burhan sambil menampar-nampar bahu Kenzie membuat pemuda itu terbatuk-batuk.
"Ini bukan tawas, kawan. ini bubuk kesenangan." ujarnya dengan mata yang berbinar gembira.
bagus... merayulah... berikan aku bukti...
"Maksudmu?" tanya Kenzie dengan tatapan bingung.
__ADS_1
"Akan kuajarkan kepadamu." kata Burhan.
dengan suara pelan Burhan menjelaskan tentang narkoba yang ia berikan kepada Kenzie serta tata caranya. tak lama kemudian Kenzie mengangguk dan mengambil bungkusan yang disodorkan Burhan. setelah itu Burhan melangkah meninggalkan ruangan.
tanpa disadari Kenzie, tindak-tanduknya diawasi oleh Trias dari jauh. ia curiga dengan keberadaan Burhan dalam ruang perpustakaan bersama Kenzie.
Kenzie keluar dari gedung perpustakaan dan melangkah cepat menuju arah kantin. dikantin, Kenzie meminjam sendok, korek gas dan sedotan minuman kepada pemilik kantin. setelah iru Kenzie melangkah menuju kamar mandi.
Kenzie masuk ke udianditaruhnya beberapa miligram bubuk haram itu ke sendok dan memanggangnya memakai korek gas. Kenzie melihat bubuk itu mulai menggumpal. dengan segera ia mematikan korek dan mengambil sedotan, mendekatkan benda itu ke bubuk dan mulai menghirupnya.
sesaat kemudian ia merasakan efek euforia yang meluap. tubuhnya bersandar didinding karena oleng.
BRAKKKK!!!
pintu tiba-tiba membuka dan masuklah Trias dengan tatapan nanar nan panik.
"KENZIE !!!!"
dengan menggeram pemuda itu merampas bubuk sabu-sabu dalam genggaman Kenzie dan menyimpannya disaku celananya. Trias menampar-nampar pipi pemuda itu dengan harapan ia sadar dari sakaunya. ternyata upaya itu tak membuahkan hasil.
kembali menggeram, Trias menggayung air dan mengguyur basah Kenzie sekalian pakaiannya. tindakannya berhasil memancing kesadaran Kenzie. pemuda itu gelagapan dan berteriak-teriak sambil mengumpat-umpat. Trias tidak perduli. setelah itu ia mengguyur dirinya pula hingga basah kuyup.
teriakan-teriakan Kenzie terdengar dikelas yang terdekat dengan lokasi kamar mandi. guru dan para siswa berhamburan menuju lokasi tersebut dan mendobrak pintunya. mereka terkejut melihat kedua pemuda itu yang sangat mirip dengan kucing kehujanan. Kenzie sedang jongkok sedang Trias berdiri dengan kaki kanannya menekan pundak Kenzie dan sebelah tangannya mengangkat gayung. keduanya langsung digiring menuju dewan guru.
...*********...
"Terima kasih ding, sudah menyelamatkanku." kata Kenzie dengan pelan.
"Nggak apa-apa cess, itu gunanya aku. selalu mengawal dan mengawasimu." balas Trias.
karena aksi membasahi diri itu, mereka berdua diseret ke dewan guru dan diinterogasi. Kenzie dan Trias membuat dalih bahwa mereka hanya iseng membasahi diri saja. dengan menahan kegusarannya, kepala sekolah menghukum mereka berdiri ditengah lapangan dijemur ditengah sengatan panasnya cahaya matahari yang mencapai puncak peredarannya.
keduanya menjalani hukuman dipandangi oleh seluruh siswa dengan tatapan heran bercampur geli, terutama teman-teman mereka dikelas XI F.
semua siswa menertawai mereka, terkecuali satu orang saja. seorang gadis berjilbab syar'i menatapi dari depan kelasnya dengan wajah yang merah menahan malu.
gadis itu adalah Iyun Gobel, yang sudah menjalin hubungan kasih sayang dengan Trias hampir setahun setengah, sejak mereka menjadi siswa SMUN 3 Kota Gorontalo, dikelas X, mereka duduk bersama dalam satu kelas.
Iyun menatapi Trias dengan mata berkaca-kaca. dan Trias kehilangan keberanian menantang mata yang membuatnya tak mampu mengeluarkan sedikitpun pembelaan. Iyun memang memiliki kelebihan dibidang pedagogik. ia peraih nilai tertinggi, juara umum selama 4 semester berturut-turut. tak ada yang bisa menyamai kemampuan IQ gadis itu. dia siswa terpintar disekolahnya.
namun, meskipun gadis itu menjadi dambaan dan idola setiap laki-laki berintelejensia, namun Iyun tidak gengsi menjalani hubungan cintanya dengan Trias yang intelejensianya tak sebanding, bahkan menjadi bahan pergunjingan. bagai bumi dan langit. dihati Iyun, ia memuja kedewasaan lelaki itu. dan itulah yang membuat hubungan keduanya tetap akur.
kebodohan apa yang kau lakukan Trias? aku nggak mengerti....
Trias sempat beradu pandang dengan Iyun, namun segera dipalingkannya. dia merutuki dirinya sendiri. ini pengalaman paling memalukan seumur hidupnya. baru sekali ini ia menjalani hukuman yang menggelikan, dihukum jemur karena basah kuyup. untung saja kedua orang tua mereka tidak dipanggil oleh pihak sekolah. kepala sekolah juga berpikir bahwa yang dilakukan oleh kedua pemuda itu hanyalah sebuah kenakalan pada lazimnya dilakukan oleh siswa.
tak berapa lama, kepala sekolah muncul dari arah dewan guru dan melangkah ke halaman dan menatapi kedua siswa yang dihukum jemur itu. kepala sekolah menggeleng menahan kegusarannya.
"Tahu kesalahan apa yang kalian perbuat?" pancing kepala sekolah.
"Ya paaak..." jawab Trias dan Kenzie berbarengan.
"Mengapa kalian berdua melakukan perbuatan itu? bukankah perbuatan kalian tidak bermanfaa" kata kepala sekolah.
Trias baru saja hendak menjawab ketika kepala sekolah langsung berujar, "Jangan dijawab, itu bukan pertanyaan!"
Trias kemudian diam lagi dengan wajah manyun.
"Seharusnya kalian melakukan hal-hal yang bermanfaat. selama ini saya selalu memperhatikan kalian. prestasi kalian itu membanggakan sekolah. kalian menjuarai silat di O2SN, kini bersiap maju ke PORDA di Bengkulu sana." sembur kepala sekolah sambil menatapi mereka dan menggelengkan kepala.
kepala sekolah menarik napas dan memperhatikan Kenzie dan Trias bergantian. "Mengapa kalian saling guyur-guyuran macam anak kecil?"
kedua pemuda itu diam. kepala sekolah menjadi berang.
"Jawab! ini pertanyaan!!" bentaknya.
"Maaf pak. kami hanya main-main saja." jawab Trias dengan pelan.
"Dan kau Kenzie," ujar kepala sekolah, menatapi Kenzie yang menunduk. "Bagaimana kalau kedua orang tua kamu tahu perbuatan kalian hari ini? tentu mereka sangat malu." tandas kepala sekolah.
Kenzie dan Trias tetap menunduk. kepala sekolah kemudian menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. ia memeriksa pakaian kedua siswa itu. sudah kering meskipun celana masih lembab.
"Ya sudah. masuk kelas sana!" bentaknya.
__ADS_1
bergegas kedua pemuda itu meninggalkan halaman dan mereka langsung masuk sambil disoraki oleh siswa. suara tawa makin keras terdengar dari kelas XI F. []