Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 68


__ADS_3

semua penghuni ruang keluarga itu terdiam. Kenzie duduk bersila dan melipat tangannya ke dada. sementara Chiyome duduk bersimpuh disisinya. Aisyah duduk disofa pendek sedang Adnan dan Mariana duduk disofa panjang.


"Aku mengakui keberanian Trias, mengungkap status pernikahannya. aku sendiri tak menyangka. ia seberani itu." ungkap Adnan sambil terkekeh.


"Kalau saja Budi tidak melanggar pagar ayu itu, Trias nggak akan senekad itu." balas Kenzie. "Apalagi Trias sekarang masih diselimuti rasa bersalah atas kematian istrinya."


Tiba-tiba Kenzie menggebrak lantai dengan telapak tangannya. "Aaaaa.... semua ini gara-gara Burhan!" omelnya dengan jengkel.


Adnan tahu maksud perkataan putranya. ia mengangguk. "Aku akan terus memantau ayahnya. kamu nggak usah dikuatirkan itu. kau pikirkan saja istrimu. dia sudah hamil tuh. kok kamu nggak bisa nahan sih Ken?" tegur Adnan.


"Nahan apanya. yang minta dihamili Wiffy kok, Hubby nurut aja... karena benaran asyik." Kenzie memelankan suaranya pada kalimat kedua sambil melirik Chiyome yang tersipu pula.


"Oooo.... jadi semua ini ulah adek?" tanya Adnan. "Kan Papa sudah wanti-wanti jangan hamil dulu. kenapa Adek pengen hamil?"


"Adek nggak mau ditinggali Hubby. entar kalau Adek belum hamil, Hubby pasti cari perempuan lain karena dikiranya Adek nggak subur!" tandas Chiyome dengan bibir yang dimanyun-manyunkan."


Adnan dan Mariana tertawa dengan jawaban polos itu. "Ya sudahlah kalau jawabannya seperti itu. Papa dan Mama nggak mampu mendebat alasan Adek. tapi ini kandungannya dijaga ya? Papa dan Mama nggak mau ada apa-apa dengan calon cucu lho."


"Kesetiaan itu bukan diukur oleh adanya buah hati Chiyo, tapi oleh pengertian antar hati kedua pasangan." tegur Aisyah.


"Alaaaa.... macam kakak yang sudah nikah saja." sindir Kenzie. "Gini saja. kakak boleh ceramahi kami... kalau kakak sudah ada yang punya!" kata Kenzie dengan senyum licik.


wajah Aisyah memerah mendengar kalimat yang keluar dari bibir Kenzie. dia mengakui memang bahwa dirinya belum mengenal perasaan itu terlalu dalam. namun Aisyah juga tidak ingin terburu-buru menyimpulkan perasaannya pada seseorang.


"Pa, bagaimana kabarnya Kak Bakri? dia sudah kerja, kan?" tanya Aisyah mengalihkan pembicaraan.


Adnan mengangguk. "Papa sudah tempatkan dia di HRD. dari pandangan Papa, dia punya kompetensi penilaian psikologi yang kuat pada seseorang. memang ijazahnya sih jurusan pendidikan." kata Adnan.


"Nanti setelah lulus, atau kalau perlu sekarang juga. Kenzie mau kerja di kantor Papa. bolehkan? itung-itung kalau gajian kan hasil kerja sendiri, lebih afdol dikasih ke anak istri." kata Kenzie.


Adnan tertawa lagi. "Kamu itu Ken... ngapain kerja? itu kan milikmu sendiri?" goda Adnan.


"Ah, nggak mau Pa. nanti kelak cucunya papa nggak menghormati ayahnya. Papa mau, anak papa jadi pemalas padahal ada keluarga yang harus dipertanggung jawabkannya?" pancing Kenzie.


"Benar juga. nanti Papa pikirkan dimana menempatkan kamu." kata Adnan.


"Jadi OB juga nggak apa-apa, Pa. itung-itung menggalang karir. asal jangan terlalu banyak bebannya ya. saya paling nggak bisa jauh-jauh dari Wiffy seharian." timpal Kenzie.


"Ken, kok ke OB sih? masa anaknya Papa kerja paling hina begitu?" tukas Mariana dengan kesal.


"Siapa bilang OB tuh hina Ma. kalau nggak ada mereka, nggak akan rapi kantor kita. Mama mau suruh pegawai berdasi turun langsung ngepel lantai dan bersihkan kaca jendela?" pancing Kenzie membuat Mariana terdiam.




"Adek mau, Hubby kerja jadi OB?" todong Aisyah.


"Adek nggak mikir model kerjanya Kak, Adek ingin liat bagaimana Hubby menikmati pekerjaannya. jika untuk OB saja dia menikmatinya, tentu pekerjaan lain yang menantang, pasti Hubby akan sangat menikmatinya." jawab Chiyome.


"Baiklah... biar kucoba." kata Adnan yang kemudian menahan tawanya. "Tapi, aku nggak yakin bisa berhasil terhadap anak pemalas ini" seketika Adnan tertawa lagi membayangkan Kenzie yang anak seorang direktur mengenakan seragam OB menenteng ember dan tongkat pel.


Kenzie langsung memasang tampang serius. "Oke, kita taruhan, Pa!" tantangnya.


"Oke, taruhan apa?" balas Adnan.


"Kalau dalam 3 bulan, Kenzie bisa bertahan dan menikmati pekerjaan jadi OB, papa harus belikan Kenzie mobil." kata Kenzie.


"Memang buat apa mobil? kamu masih muda, Ken." kata Mariana.


"Ya untuk antar jemput Wiffy ke sekolah Ma. Wiffy udah nggak boleh lagi mbonceng disepeda motor. rahimnya pastu terguncang dan Mama sudah tahu apa akibatnya?" pancing Kenzie.


"Okey. Papa setuju. jadi sementara ini Papa yang antar jemput Adek ke sekolah. kau naik motor, setiap sabtu, kau ke kantor, bersihkan apa yang diperintahkan! bisa!" tantang Adnan.


"Deal!" jawab Kenzie dengan gerai tawa yang semangat.


...*********...


esoknya drama morning sick terjadi lagi. tapi Chiyome sudah tanggap. ia langsung mengambilkan air jahe yang memang sudah dijerang Aisyah sejak subuh dan meminumkannya segelas kepada Kenzie. berkat air ramuan leluhur jaman dulu, Kenzie langsung bergerak menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.


kedua pengantin itu berangkat pada jam yang berbeda. Kenzie berangkat duluan mengendarai sepeda motornya dan Chiyome menyusul diantar oleh Adnan menggunakan mobilnya.

__ADS_1


Kenzie tiba disekolah pada pukul 06.35 sehingga mendapati halaman masih lengang oleh jumlah siswa yang berseliweran ditaman maupun halaman sekolah.


langkah kaki Kenzie terayun santai dan tak lama ia melewati kelas 11A. ia hanya melihat dengan sudut matanya, beberapa siswa yang sedang bercengkerama sempat melihatnya dan langsung berbisik-bisik.


Kenzie tak perduli apa yang mereka pergunjingkan tentang dirinya. pemuda itu terus melangkah melewati kelas demi kelas hingga tibalah ia di kelas 11F.


pemuda itu membuka pintu dan memasuki ruangannya. ia langsung duduk dibangkunya dan memasukkan ransel kedalam laci meja kemudian menyandarkan punggungnya. dengan santai dirogohnya saku dan mengeluarkan pengharum Stela beraroma jeruk dan mengendus-endusnya.


sekarang pemuda itu memiliki kesibukan yang baru. sejak Chiyome hamil dan dia terkena sindrom Couvade, Kenzie yang merasakan indranya begitu peka, langsung mencari pengharum bearoma jeruk untuk meredakan rasa mualnya.


tak lama kemudian beberapa siswa masuk. beberapa diantara mereka memperhatikan Kenzie yang mengendus-endus pengharum Stela beraroma jeruk. mereka cekikikan merasa lucu, siswa terganteng dikelas itu mengendus-endus pengharum seprti kucing yang mempermainkan catnip.


Kenzie tetap tak perduli. baginya asal jangan mengganggu, itu sudah merupakan rasa terima kasih yang tak terhingga. Tirta Mahipe menatap Kenzie yang terlihat cuek dan seakan tak memperdulikan sekitarnya.


"Ken, tumben kamu ngendus-ngendus pengharum. lagi ngidam kamu?" olok Tirta yang langsung disambung tawa sama teman-teman wanitanya yang lain.


Kenzie tersadar dari rasa asyiknya yang mencandu itu. benar! ia benar-benar tak menyadari bahwa perilakunya sudah menarik perhatian orang-orang disekitarnya. pemuda itu langsung menyimpan pengharum stela dikantungnya dan berdiri dan dengan wajah angkuh yang cuek ia menatapi Tirta dan gengnya.


"Kalau nggak ada urusan yang lebih penting, nggak usah ngurusi saya." kata Kenzie lalu melangkah dengan santai keluar ruangan.


Tirta langsung lari mengejar Kenzie dan menjajarinya. "Ken, sori Ken. aku nggak punya maksud apa-apa."


tiba-tiba Kenzie langsung menutup hidungnya dan gelagapan mengeluarkan pengharum stela dari sakunya dan langsung menempelkan pengharum tersebut dilubang hidungnya dan mengenduskan dengan keras.


"Kamu kenapa sih Ken? aneh sekali.." omel Tirta.


"Kamu jauh sana... aku nggak kuat!" balas Kenzie dengan wajah keruh.


"Nggak kuat apa sih.. hei Ken, ada yang mau ku tanyain." kata Tirta yang langsung mencekal lengan Kenzie.


"Aku nggak kuat bau tubuhmu!!" seru Kenzie langsung lari ke halaman. sementara Tirta yang tersinggung langsung mencium ketiaknya bergantian beserta bajunya.


HOEEEEEEKKKK..... HOEEKKKK...


sontak Kenzie langsung muntah-muntah. tubuhnya terbungkuk-bungkuk. Tirta baru saja hendak mendekat untuk menolong, namun Kenzie langsung menudingkan jarinya dan menggoyang-goyangkannya pertanda ia tak ingin dibantu.


setelah puas memuntahkan udara dalam lambungnya karena Kenzie memang belum sarapan apapun kecuali air jahe yang diminumkan Chiyome untuknya. pemuda itu menegakkan tubuhnya dengan susah payah lalu menatapi Tirta.


"Apa benaran Trias nikah dengan Iyun?" tanya Tirta.


"Menurutmu?" pancing Kenzie mengelap liur dari sisi bibirnya dan kembali mengendus pengharum stela ke hidungnya.


"Aku sih nggak percaya. tapi pembicaraan anak-anak 11A itu mengusik rasa penasaranku. kamu kan tau kalau aku punya perasaan sama Trias.." ujar Tirta.


"Kalau kamu punya tekad seperti itu, segera laksanakan. jangan tunggu lama, entar disambar orang lain, tau rasa kamu." jawab Kenzie


"Kenapa kamu muntah, Ken? aku nggak bau kok." kata Tirta dengan kesal.


untunglah pada saat itu Chiyome muncul dan melihat Kenzie dan Tirta sedang berdebat dilapangan. Chiyome langsung timbul cemburunya dan melangkah cepat kearah Tirta.


"Eh eh eh... kenapa kamu pegang-pegang tangannya? lepaskan!" kata Chiyome sambil menuding-nuding Tirta.


gadis itu langsung melepaskan tangannya melihat wajah Chiyome yang menegang dan seakan ingin memakannya bulat-bulat.


"Ini ada apa sih?!" tanya. Chiyome dengan nada tinggi dan bercakak pinggang.


"Nggak nih Chiyome. Kenzie tiba-tiba muntah, jadi saya mau tolongin dianya nggak mau." kata Tirta dengan takut.


"Badannya bau..." jawab Kenzie dengan lirih kembali menyumpal pengharum stela beraroma jeruk ke hidungnya.


Chiyome langsung mendekat dan mengendus-ngendus tubuh Tirta yang langsung merasa canggung dengan melakukan keduanya.


Chiyome tersenyum dan langsung digendongnya Tirta menjauh. "Sori, aku cemburu. kamu nggak marah kan?"


Tirta langsung menggeleng. ia tahu bahwa keduanya pacaran. Chiyome langsung tersenyum tapi tak lebar dan memamerkan seringai gingsulnya karena senyum itu hanya khusus dipersembahkannya untuk suaminya. tak ada seorang pun yang berhak atas senyum manisnya kecuali Kenzie seorang saja.


"Sudah, jangan hiraukan dia. mungkin dia lagi sakit. kita ke kantin yuk? aku yang traktir sebagai permintaan maafku." kata Chiyome langsung menarik tangan Tirta yang masih kebingungan.


sedangkan Kenzie langsung mendesah lega dan kembali ke kelas. ia tak jadi ke kantin karena pasti akan lebih menarik perhatian.


Aaaaaa.... kehamilan simpatik ini sungguh sangat menyiksa.... tapi nggak apa-apa deh... demi kamu, boy... Papa siap menderita...

__ADS_1


...********...


Aisyah keluar dari mobil yang dikendarai Adnan. lelaki itu melongokkan sedikit kepalanya.


"Kamu nggak dijemput pulang?" tanya Adnan.


"Nggak usah Papa. Ais pulang sendiri, Adek saja yang dijemput." jawab Aisyah sambil tersenyum dan menutup pintu.


"Oke deh. Papa pergi dulu ya?" kata Adnan.


mobil itu melaju lagi meninggalkan area kampus. Aisyah berbalik melangkah memasuki pekarangan kampus. beberapa saat kemudian seseorang kembali menjajari langkahnya .


"Stefan..." gumam Aisyah tanpa menoleh.


pemuda itu tersenyum. "Wah, kau ada bakat detektif juga ya? tanpa menoleh sudah bisa menerka bahwa itu aku." puji Stefan.


"Nggak usah lebay memuji seperti itu. aku hanya menhafal detakan langkah sepatumu. setiap orang memiliki gaya langkah yang berbeda. meskipun sepintas sama tapi tidak identik. makanya aku bisa memahami jenis detukan langkah kakimu dan memastikan tanpa harus mencari dan menoleh bahwa itu kamu." jawab Aisyah panjang lebar.


"Wah, hebat ya analisamu ini. aku kasih hadiah deh."


CUP!!!


Aisyah tersentak kaget mendapatkan blitskrieg dari Stefan. wajah jilbaber itu memerah dan matanya membulat. sejenak kemudian jilbaber itu celingak-clinguk mengamati para mahasiswa. kelihatannya mereka tidak perduli atau memang kehidupan kaum pelajar perguruan tinggi seperti itu?


Aisyah menenangkan debaran jantungnya sementara Stefan hanya diam berdiri dengan pameran senyum yang menawan hati.


jilbaber itu menggeleng-geleng menyadari kekurang ajaran Stefan yang tanpa permisi mendaratkan kecupan dipipi gadis itu. Aisyah dengan pelan kembali melangkah dan tetap dijajari oleh pemuda tersebut.


"Sebentar ada waktu yang lowong?" tanya Stefan.


"Nggak. aku sibuk selama beberapa ini. menyetor tugas dan paper kepada para dosen." jawab Aisyah.


kembali gadis itu berhenti kemudian menatapi Stefan. "Kuharap kau tak akan mengulanginya lagi."


"Mengulangi apa?" tanya Stefan kembali memamerkan senyumnya.


"Mengulangi hal yang tadi. itu nggak boleh." jawab Aisyah.


"Ais, kamu itu polos atau bodoh sih? tadi itu bukan apa-apa. masih banyak yang lainnya bahkan lebih ganas dari kita. kehidupan kampus itu bebas Ais." tukas Stefan sambil terkekeh.


"Jadi kau mau bebas denganku?" todong Aisyah.


"Bukan begitu juga. aku hanya membandingkan tindakanku tadi dengan tindakan-tindakan mahasiswa yang lain. dan kembali kutekankan bahwa kehidupan kampus itu memang bebas." jawab Stefan.


Aisyah mengerutkan keningnya dan kembali melangkahkan kakinya menyusuri jalanan dan tetap saja dijajari oleh Stefan. pemuda itu mencuri pandang kepada jilbaber tersebut.


"Hari apa lagi kamu lowong, Ais?" tanya Stefan.


"Kalau aku lowong, aku nggak akan memberitahumu." tukas Aisyahn


"Lho? kenapa begitu?" tanya Stefan.


"Aku takut kau akan menciumku lagi." jawab Aisyah dengan polos.


Stefan tertawa sambil melihat-lihat suasana. riba-tiba pemuda itu langsung menarik tangan Aisyah tanpa bisa dicegah oleh gadis itu. keduanya kini berada didalam sebuah kelas yang tak terpakai.


tubuh Aisyah tersandar ditembok dan dikepung oleh kedua tangan Stefan. jilbaber itu kaget sekaligus gugup.


"Stefan..." desah Aisyah.


"Ais.... aku mencintaimu.." ungkap Stefan dengan lirih dan perlahan mendekatkan wajahnya.


makin lama makin dekat wajah mereka menyatu. Aisyah memejamkan mata dengan gugup dan Stefan mendaratkan ciuman dibibir jilbaber tersebut.


mulanya Aisyah tersentak dan hendak meronta ketika bibir Stefan mengulum bibirnya dan menguakkannya dengan melesakkan lidah kedalam rongga mulutnya. mata Aisyah melebar sesaat dan kemudian perlahan memejam rapat dengan pipi yang merona merah bagai tomat rebus.


tanpa sadar ia membiarkan bibirnya dipermainkan begitu rupa oleh Stefan. dan semakin tersentak ia ketika menyadari tangan kanan pemuda itu menyelusup dibalik khimarnya dan meraba ke atas, kebongkahan payudaranya lalu mengemasnya dengan lembut.


lama Aisyah terbuai hingga akhirnya Stefan mengakhirinya. napas gadis itu memburu ketika Stefan menarik bibirnya.


"Aku mencintaimu Ais...." desah pemuda itu. []

__ADS_1


__ADS_2