Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 31


__ADS_3

Kenzie dan Chiyome menatap tak percaya. keduanya bahkan mendempetkan pipi mereka berdua hanya untuk memastikan pemandangan didepan mereka bukan sebuah fatamorgana.


Trias yang biasanya selalu semangat bagai mesin yang tak pernah berhenti beroperasi, kini nampak begitu tak bertenaga bagai mesin yang tak dipasok bahan bakar sama sekali. wajahnya sedikit pucat dan samar warna hitam menggantung dibawah matanya. rambutnya awut-awutan. dan parahnya, ia tertidur dikelas.


untung saja teman-teman sekelas tak perduli dan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. tak ada yang berubah disana, terkecuali riak kecil. sang orator yang tertidur.


Kenzie dan Chiyome menarik wajahnya dan memandang dengan wajah prihatin. Kenzie menatap Chiyome dan mengisyaratkan kepadanya agar jangan mengganggu singa yang sedang tidur itu.


Chiyome mengangguk dan keduanya kembali ke tempat duduknya tepat disaat bel masuk berbunyi. anak-anak berebutan dan berlarian ke tempat duduknya ketika wali kelas mereka, Pak Risno muncul dan melangkah ke dalam kelas dengan langkah yang santai.


"Assalamualaikum, selamat pagi dan salam sejahtera anak-anak..." sapa wali kelas tersebut dengan senyum yang terkembang.


"Wa alaikum salam." koor terdengar suara kompak anak-anak kelas XI F membalas sapaan wali kelas mereka.


Pak Risno duduk ditempatnya dan menatapi anak-anak binaannya. "Ada yang tidak hadir pada hari ini?" tanya lelaki itu.


"Seperti biasa pak. Daming ikut kelas lari gawang tanpa mendaftar. " jawab Fendi Modanggu dengan santai.


anak-anak tertawa mendengar kalimat satir yang keluar dari bibir ketua kelas mereka. Daming bolos lagi.


Pak Risno mengangguk lalu membuka buku presensi dan menandai Daming yang tidak hadir saat itu. wajah lelaki itu kembali mendongak.


"Chiyome Mochizuki..." panggilnya.


"Hadir pak." jawab Chiyome sambil bangkit.


"Kamu kerasan disini?" tanya Pak Risno.


"Sangat kerasan, pak. terima kasih." jawab Chiyome sambil tersenyum.


"Bagus. Bapak kira kamu nggak kerasan." kata Pak Risno yang tiba-tiba melihat pemandangan yang sangat ganjil.


Siapa itu? Trias? ah nggak mungkin...


Pak Risno menunjuk dan bertanya dengan bahasa isyarat yang sudah umum diketahui oleh anak-anak binaannya. ia menatap Fendi, sang ketua untuk meminta penjelasan.


Fendi membalas dengan bahasa isyarat bahwa ia tidak tahu mengapa Trias tertidur dan menyarankan wali kelasnya untuk bertanya kepada Kenzie karena pemuda itu partnernya.


sementara Chiyome menahan tawanya melihat para siswa berkomunikasi dengan bahasa isyarat yang mirip dengan percakapan antar sesama penyandang tuna wicara.


Pak Risno menatapi Kenzie dan bertanya kenapa Trias tertidur dikelas. Kenzie jadi bingung untuk menjelaskannya. dia tahu besok, Trias akan menikah siri dan hal itu tidak boleh diketahui pihak sekolah karena akan mengancam keberlangsungan pendidikan sepasang calon pengantin itu.


terpakgsa Kenzie berbohong dan menjawab bahwa Trias terlalu sibuk mendatangi polsek untuk memberikan keterangan sebagai saksi berhubungan dengan kematian Burhan.


jawaban itu terdengar sangat masuk akal bagi Pak Risno untuk bersimpati atas kelelahan Trias. ia kagum, meskipun lelah, pemuda itu tetap datang ke sekolah meskipun dengan resiko ketiduran dikelas seperti saat ini.


akhirnya Pak Risno memutuskan pembelajaran dalam mata pelajarannya menggunakan bahasa isyarat untuk menghormati kawan mereka yang ketiduran dikelas. anak-anak setuju saja. selama pembelajaran begitu hening dan sesekali terdengar ketukan mistar dari Pak Risno untuk meminta perhatian dari anak didiknya.


Pak Risno tetap aktif memberikan penjelasan materi belajarnya menggunakan bahasa isyarat. ketika pertemuan pertama dengan guru hebat itu, Pak Risno sudah menekankan kepada anak-anak didiknya untuk mempelajari bahasa isyarat untuk digunakan pada saat yang tidak dapt diuga. pengajarannya berhasil diterapkan saat ini. Trias benar-benar beruntung mendapatkan perwalian yang dapat mengerti posisi dan keadaan siswa binaannya .


pelajaran berakhir bersamaan dengan bunyi bel istirahat. Pak Risno meninggalkan ruangan disusul siswa-siswi yang berhamburan menuju kantin. tinggallah disana Kenzie dan Chiyome.


pemuda itu meminta Chiyome ke kantin untuk memesan makanan untuk dibawa ke kelas. gadis itu mengangguk lalu pergi meninggalkan kelas. kini tinggallah Kenzie yang menonton Trias yang masih asyik berselancar dialam khayalnya sampai-sampai liurnya keluar membasahi membentuk pulau air.


mungkin merasa ada yang memperhatikan, pemuda itu perlahan membuka mata dan menatapi keadaan sekitar dengan matanya yang masih merah. sejenak ia terkejut melihat bercak liur yang membasahi mejanya membentuk pola pulau. dengan cepat dihapusnya cairan itu menggunakan tas sekolahnya. pemuda itu sibuk membersihkan bibirnya ketika sadar Kenzie duduk menatapnya sambil melipat tangannya didada.


"Oo...kamu... aku kira siapa..." gumam Trias dengan malas dan dia merenggangkan tubuhnya lalu menguap lebar.


"Sudah puas tidurnya?" tanya Kenzie.


Trias menggelengkan kepalanya berulang kali mengusir rasa pusing lalu memutar kepalanya dengan pelan untuk mengusir pegal. setelah itu ia menatap Kenzie.


"Nggak juga. cuma perasaan saja, mungkin sudah mengganggu kelas." jawab Trias dengan pelan.

__ADS_1


"Memang.... kamu tau nggak? Pak Risno sampe ngajar pake bahasa isyarat supaya kamu tidur enak." kata Kenzie sambil memperbaiki duduknya.


tak lama Chiyome muncul membawa baki yang ditatani 3 buah mangkuk besar berisi mie ayam. "Aaa... sudah bangun sekarang?.. ayo makan." ujar gadis itu meletakkan baki berisi hidangan itu dimeja depan Trias.


"Udah. aku traktir kamu. itung-itung kado nikah." kata Kenzie.


Chiyome yang mendengar kata itu mulanya menganggap hanya sebuah candaan seperti biasanya. namun ia jadi curiga ketika melihat Trias tersenyum lalu mengambil sendok dan mulai menikmati hidangannya.


Chiyome menatapi Kenzie dan bertanya dengan bahasa isyarat. Kenzie mendekat dan membisikkan sebuah kalimat yang membuat Chiyome tersedak dan buru-buru meletakkan mangkuk di meja lalu menatapi Trias dengan nanar kemudian kearah Kenzie. pemuda itu mengangguk sambil tersenyum.


Chiyome mendekatkan wajahnya menyelidik air muka sahabatnya itu. Trias jadi jengah juga.


"Kamu nggak menghamilinya, kan?" tanya Chiyome dengan lirih setengah berbisik.


mendengar pertanyaan itu Trias mendongak dan tertawa sepuas hatinya membuat Chiyome yang kaget langsung menarik tubuhnya dan segera duduk didekat Kenzie sambil mencengkeram lengan kekasihnya.


puas tertawa, Trias menatapi Chiyome. "Nyonya Lasantu, aku nggak sebejat itu akhlaknya." jawab Trias sambil tertawa lagi.


lagi-lagi Chiyome memerah wajahnya diledek secara satir oleh Trias. gadis itu tersipu lalu meninju pelan dada Kenzie dan menyembunyikan senyumnya.


"Kami kepergok sedang ciuman. bapaknya mencak-mencak, aku balik mencak-mencak dan menggertak mereka. akhirnya seperti yang kalian bayangkan." kata Trias terkekeh senang.


"Kenapa Iyun tidak hadir?" tanya Chiyome.


"Dia dipingit sampai hari pernikahan. dalam adat umum orang Indonesia, sebelum nikah, kedua calon mempelai akan dipingit selama 3 hari. tujuannya supaya tambah mesra ketika bertemu dan saling intropeksi diri untuk menata kehidupan baru yang saling berbagi." jawab Kenzie.


"Berarti...." gumam Chiyome.


"Kita akan dipingit kalau mau nikahan nanti." jawab Kenzie sambil menggoda gadis itu.


Chiyome tersenyum menatapi Kenzie. "So sweet Hubby... oke deh... aku mau dipingit.. asal nikahnya sama kamu.." ujar gadis itu dengan tatapan mesra.


Trias lebih terkejut mendengar Chiyome memanggil Kenzie dengan sebutan keramat itu. Kenzie langsung tahu isi pikiran sahabatnya.


"Jangan negatif kamu. kami belum pernah ngapa-ngapain. enak saja menuduh." tegur Kenzie sambil menatapi pintu kelas.


"Tau... aku sudah melamarnya jadi calon istriku. orang tuaku sudah merestui. aku tinggal mencari restu calon mertua. " jawab Kenzie.


giliran Chiyome yang terkejut mendengar pernyataan pemuda itu. kedua matanya berbinar.


"Beneran? nggak bohong kan?" tanya Chiyome.


"Silahkan ke rumah, cari buktinya. jangan salahkan aku kalau nanti mereka memperlakukan kamu seperti anak mantu mereka..." tantang Kenzie.


kedua mata Chiyome kembali berkaca-kaca. Trias langsung memotong. "Hentikan drama kalian itu. aku yang nikah kok kalian yang baper? ada-ada saja." gerutu Trias sambil melempar secarik kertas kepada Chiyome.


Chiyome menatapi sahabatnya dan menjulurkan tangannya. "Selamat ya... dimana lokasinya?" tanya Chiyome.


"Nggak tau. bisa dirumah, bisa juga di pesantren." kata Trias dengan santai.


"Pesantren?" tanya Chiyome?


"Om Murad, papanya Iyun itu kan anggota keluarga besar Gobel yang mendirikan pesantren Hubulo. kemungkinan acaranya akan dilangsungkan disana. kalian hadir ya? please..." pinta Trias.


"Tentu... Insya Allah..." jawab Kenzie. "Lalu, mahar apa yang kau berikan padanya?"


Trias tak sempat menjawab karena bel masuk sudah berbunyi. Chiyome langsung mengangkat baki dari meja dan membawanya keluar. tak lama kemudian anak-anak kelas XI F. berhamburan masuk kedalam kelas dan menempati tempat duduk masing-masing.


tak lama kemudian muncul seorang guru yang mengajarkan mata pelajaran bahasa inggris. hari itu siswa kelas XI F benar-benar sibuk. dalam mata pelajaran ini guru lebih banyak menekankan conversation. Chiyome sebagai siswa pertukaran pelajar menjadi tutor sebaya bagi teman-temannya karena menurut guru itu anak tersebut pasti mampu berbahasa inggris dengan baik.


untung saja bagi Chiyome karena disekolahnya yang lama, ia memang sedikit mengusai percakapan dalam bahasa inggris. sebenarnya gadis itu tidak terlalu menyukai bahasa asing. gadis itu hanya tergila-gila dengan beladiri. itulah sebab ia banyak menjuarai turnamen disekolahnya bahkan hingga ke tingkat nasional.


kesibukan yang menggairahkan siswa -siswi itu tanpa terasa berakhir seiring dengan bunyi bel Ishoma. kelas bubar dan anak-anak didik kembali sibuk dengan kegiatan spiritual mereka.

__ADS_1


Chiyome sendiri menunggu Trias dan Kenzie yang melaksanakan ritual sholat dhuhur di mushola sekolah. seperti biasa, paradigma umum tentang agama di jepang membuatnya selalu tersingkir sendiri. tapi Chiyome tak mempermasalahkannya. agama adalah keyakinan yang tak perlu digembar-gemborkan didepan umum. apalagi keislamannya memang tidak diketahui Kenzie.


setelah waktu ishoma selesai, para siswa kembali ke dalam kelas melanjutkan waktu pembelajaran yang sedikit lagi habis karena waktu berlalu begitu cepat dalam kesibukan mereka menyerap ilmu yang diajarkan oleh pendidik.


jam 3 sore, bel pulang berbunyi. para siswa kembali menghambur pulang. Chiyome menatapi Kenzie.


"Hubby, Wiffy pulang duluan ya?" tanya Chiyome.


"Mau kemana?" tanya Kenzie.


"Aku ada janji ketemuan dengan Kak Ais siang ini. boleh kan?" tanya Chiyome.


Kenzie mengangguk dan tersenyum. Chiyome memeluknya membuat Trias terperangah. "Makasih, Hubby. kamu is the best deh." ucap Chiyome langsung mengecup bibir Kenzie dan mengulumnya sedikit lama.


"Astaghfirullah..." seru Trias sambil menampar keningnya.


Chiyome melepaskan pelukannya dan berbalik meninggalkan keduanya sebelumnya tak lupa melambai kearah Kenzie. pemuda itu membalas lambaian tangan kekasihnya. sepeninggal Chiyome, Kenzie menatapi Trias yang memandangnya dengan bibir yang membuka dan mata yang nanar menatap.


"Kenapa kamu, kesambet ponggo, baru tau rasa." ujar Kenzie mengambil buku dan menimpuk wajah Trias.


"Ken, mata aku masih normal kan?" tanya Trias.


"Hmmm.." jawab Kenzie sambil bangkit mengambil ranselnya.


"Itu tadi bukan ilusi optik, kan?" tanya Trias ikut berdiri dan menggandeng ranselnya.


"Hmmm..." jawab Kenzie.


"bionguma ti... mailongola ti mongoli dulota ti? ey.. elehiya.." (dasar gila lo ya? ada apa lagi dengan kalian berdua? sadarlah!) umpat Trias sambil menampar punggung Kenzie yang dilindungi ransel.


"Alaaaaa... sok suci kamu. pake istighfar segala padahal cipoki Iyun sampe jontor tuh kong dipergoki segitu rupa. ngaku aja lo... " balas Kenzie.


keduanya kini menyusuri lorong sekolah. Trias membantah.


"Tapi aku besok sudah halal sama Iyun, la kamu? lamaran resmi aja belum... itu Chiyome juga kegatalan..." ujar Trias mencak-mencak dan pemuda itu langsung terdiam ketika bibirnya ditampar Kenzie.


"Sekali lagi bilang dia kegatalan, kububarkan gigimu, mau?!" ancam Kenzie dengan murka.


Trias terkejut dan langsung meralat ucapannya. "Sori, sori, maksud aku bukan begitu tapi..."


"Asal bibir kamu saja yang nyonyor ya? seenaknya bilang dia begitu. memang kamu pernah liat dia dengan aku main cinta? kamu aja tuh sudah nggak tahan sampe samain orang kayak dipikiran kamu. sialan lo!" umpat Kenzie benar-benar tidak terima.


"Sori, sori oke aku salah. aku salah." ujar Trias langsung menghadang Kenzie. "Aku salah.... oke? aku salah.. do you forgive me?"


"Tu pikiran di netralkan sedikit bisa sih. aku nggak pernah melanggar garis itu Trias, Please! jangan samakan kami dengan orang lain yang segitu bebas. kami bebas karena didepanmu. didepan teman-teman kami nggak akan berani macam begitu, swear!" ujar Kenzie yang giliran mencak-mencak. "Tega lo ya.."


"Aku sudah minta maaf Ken, sori. aku janji nggak akan keluarkan kata begitu lagi. bener sumpah lillahi ta'ala.." kata Trias sambil mengangkat tangannya keatas meniru sumpah para pejabat.


Kenzie meredakan gemuruh dalam hatinya. napas pemuda itu berupaya dinormalkan kembali. setelah itu Kenzie menatap Trias.


"Yas, ... kita sahabatan... kita sudah sama-sama berkomitmen menjaga diri dan nafsu kita dan kau tahu, aku juga sepertimu, menjaga diri. jadi kau harus percaya padaku. jangan pernah mengatakan hal keji itu lagi. paham?" tandas Kenzie.


"Aku paham... kita baikan lagi kan?" tanya Trias.


Kenzie kemudian senyum dan mengangguk. Trias mendesah lega. dan memang tak ada yang bisa menyamai persahabatan mereka bagai sebuah keluarga yang terikat meski bukan dilahirkan dari liang rahim yang sama.


"Ken. temani aku mau lihat sepeda motorku dibengkel." pinta Trias.


"Kamu sudah beli motor? jengkel aku nggak boncengi lagi." sogol Kenzie membuat Trias terkekeh.


"Eh, bilang sama Om Endi. kita barengan. kamu dan Om Endi ikut kita naik mobil, kalau acaranya diadakan di pesantren. sekalian nanti kayaknya Papa mau jadi wakil anggota keluarga mempelai laki-laki." kata Kenzie.


"Iya? okey kalau begitu. nanti kubilang Papa." sambut Trias.

__ADS_1


kedua sahabat itu kemudian menyusuri lorong sekolah dengan riang. kadang mereka saling tendang dipantat dan kembali tertawa lagi.


benar-benar persahabatan yang ideal... []


__ADS_2