
Kameie berdiri dengan khidmat menghadap ke arah rak-rak lemari yang dipasangi kaca. salah satu rak terdapat 3 buah guci yang dilabeli kertas dengan tulisan kanji dan 2 buah potret bergambar seorang lelaki parobaya mengenakan pakaian formal dan sebuah syal sutra warna biru nila melingkar dilehernya.
potret pertama menampilkan seorang lelaki bernama Genkuro Mamoru, kakek dari Kameie sendiri. sang kakek adalah pemimpin Yamaguchi cabang Kanto. ia berkawan akrab dengan Fujiwara Tadahira.
saat ini Yamaguchi cabang Kanto dipegang oleh Hidehira, putra dari Tadahira.
saat ini terjadi intrik persaingan antara Kameie, Masakado dan Jun dalam upaya memperebutkan posisi pimpinan Yamaguchi anak cabang Kanto yang saat ini masih diduduki oleh Kunika.
pada potret kedua menampilkan 2 orang pemuda yang tersenyum saling menggandengkan tangannya dileher partnernya tersebut. satunya berkepala plontos. keduanya mengenakan seragam sekolah menengah atas. kedua pemuda adalah putra Tasuku dari istri sahnya. mereka adalah Genkuro Tomomori dan Genkuro Momoshiki.
seorang pria tua yang memegang tongkat, datang mendekati Kameie. ia dikawal oleh 10 lelaki bersenjata.
"Disini rupanya..." kata lelaki parobaya tersebut.
"Ayah..." balas Kameie.
Tasuku berduri disisi Kameie. ia meraih sebuah hio lalu memasangnya kemudian mendapatkan lidi sembahyang itu dekat kewajahnya. Tasuku berdoa sejenak lalu meletakkan lidi sembahyang ke tempat dupa. setelah itu ia menatapi putranya.
"Bagaimana kabarmu, nak?" Tasuku bersapa.
"Aku baik-baik saja.." jawab lelaki itu enteng.
"Kabarnya, cucuku hendak sekolah di Indonesia?" pancing Tasuku.
"Itu memang benar..." jawab Kameie lagi.
"Kau sudah mengurus semuanya?" tanya Tasuku lagi.
"Sementara ku urus..." jawab Kameie.
"Aku ingin Chiyome menyelesaikan apa yang ia mulai. karena dia akan menggantikanku memimpin perusahaan." ujar Tasuku.
"Dia tidak mau menjadi pimpinan perusahaan." potong Kameie sambil menatapi Tasuku.
sejenak Tasuku terkejut. ia membela prinsipnya. "Putraku hanya tersisa kau saja. dua kakak kakakmu telah pergi ke Nirwana, atas alasan yang tak pernah mereka akui. tinggal kau seorang yang harus memenuhi keinginanku. "
Kameie mengenang peristiwa itu. kedua kakaknya terbunuh dalam sebuah insiden di Shinjuku ketika bentrok dengan Taisu Kai yang dipimpin oleh Tachibana Noburo, berawal dari keributan antar anggota biasa.
waktu itu, posisi Noburo adalah wakil ketua Taisu Kai cabang Shimosa dan menjadi salah satu yang penting dalam dewan utama. Noburo dihasut oleh Masakado untuk mengganggu wilayah kekuasaan Tasuku. anak-anak bentukan Tasuku yang tak terima dengan penghinaan melancarkan serangan ke wilayah kekuasaan Noburo di Shinjuku.
Fujiwara Tadahira mendapat tekanan dari sesama kawannya di Yamaguchi yang memaksa Tasuku meminta maaf. permintaan itu ditolak oleh Tasuku, namun atas bujukan Yoshikane yang merupakan menantunya, akhirnya Tasuku meminta maaf ke direktur utama, Shinobu Tsukasa.
kedua putra Tasuku ngotot membela ayahnya dihadapan Shinobu Tsukasa dan puncaknya mereka berdua melakukan seppuku sebagai bentuk protes atas hal yang menimpa ayah mereka.
Kameie yang merupakan putra dari istri Tasuku yang lain kemudian diminta oleh Shinobu Tsukasa untuk menggantikan posisi Momoshiki. namun ia menolaknya dan menawarkan jabatan itu kepada saudara iparnya, Yoshikane dan Sadamori.
Meskipun kini Kameie hanya seorang anggota biasa namun ia sangat disegani oleh semua anggota Yamaguchi cabang Kanto.
"Aku berharap ayah memenuhi permintaanku." kata Kameie.
"Apa permintaan itu?" tanya Tasuku.
"Singkirkan Masakado." pinta Kameie
Sejenak mata Tasuku melebar. "Kau yakin?" tanya lelaki tua itu untuk memastikan.
Kameie mengangguk. Tasuku menghela napas. "Apakah ini tidak akan menimbulkan konflik baru antara ayah, Yoshikane dan Sadamori? Masakado kan anggota keluarga mereka."
"Hal itu tidak aku ragukan." jawab Kameie. "Jika ayah berkenan, aku akan memulai rencanaku."
"Bagaimana caraku untuk menyingkirkan Masakado?" pancing Tasuku.
"Nanti ku kabari." jawab Kameie. "Jika rencana ini berhasil, Presdir Tadahira pasti akan memerintahkan anggotanya untuk membunuh Masakado." ujarnya dengan senyum liciknya.
"Asal jangan membawa-bawa namaku." kata Tasuku.
"Hal ini akan tetap menyeretmu. tapi tak usah khawatir. ayah berada dalam posisi yang sangat menguntungkan." kata Kameie..
...*********...
sambil memandang Iechika yang sedang asyik merayu cewek-cewek di pusat kebugaran itu, Chiyome sedang membangun ketahanan tubuhnya melalui alat-alat kebugaran di pusat kebugaran langganannya. pusat kebugaran itu adalah satu dari terkenal elit. hanya orang-orang tertentu yang menjadi anggotanya termasuk keluarga Mochizuki.
selesai menggombali beberapa gadis disana, Iechika meninggalkan mereka mendekati Chiyome yang melatih otot-otor perutnya.
"Jangan membangun obsesi yang berlebihan." sindir Iechika.
"Tahu apa kau tentang obsesiku?" tanya Chiyome dengan datar sambil terus mengangkat barbel.
__ADS_1
"Kulihat saban hari kau tenggelam dalam aktifitas di dojo maupun dipusat kebugaran ini. apalagi namanya kalau bukan obsesi?" sindir Iechika lagi.
"Nggak usah banyak bicara. kembali sana kau. rayu saja cewek-cewek itu." bentak Chiyome sambil terus berlatih. keringatnya membanjir membasahi kaus yang sudah basah mencetak lekuk-lekuk tubuhnya.
Iechika berpaling dan melangkah pergi.
"Mau kemana kau?!" tanya Chiyome dengan ketus.
"Lebih baik bicara dengan Yasuyori. ia lebih dewasa darimu." ledek pemuda itu dan langsung lari ketika melihat kakaknya meletakkan barbel dan berlari mengejarnya untuk menjitak kepala pemuda itu.
...*******...
Ienaga didampingi oleh dua putranya, Yasuyori dan Yasunori beserta beberapa anggota Yamaguchi mengunjungi Shinagawa. tempat itu merupakan basis dari mafia Korea yang dipimpin Tae yoon Jin. kedatangan mereka mulanya disambut dingin dan waspada. ditengah hingar-bingarnya musik disco, Ienaga menghubungi salah satu anggota mafia itu, minta dipertemukan dengan Tae Joon Jin.
lelaki itu mengangguk lalu menghilang dikerumunan orang-orang yang mabuk sambil mengoyang tubuhnya mengikuti alur musik yang mengebu-gebu.
seorang lelaki yang duduk agak jauh dari kerumunan sedang dibisiki oleh orang yang dimintai tolong oleh Ienaga.
lelaki disudut itu kemudian bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan yang pekak dengan suara musik itu. ia menuju kesebuah ruangan yang hening. disana duduk seorang lelaki mengenakan kemeja yang terbuka kerahnya hingga ke dada, dilapisi oleh jas safari dan celana kain berwarna gelap. pria itu didampingi oleh para wanita penghibur yang berpakaian nyaris telanjang.
"Hyungnim, ada kunjungan dari Ienaga." kata lelaki itu.
Tae Joon Jin mengerutkan keningnya. "Ienaga? Yamaguchi?" desisnya memastikan. lelaki itu mengangguk.
"Undang dia kemari." pinta Tae Joon Jin.
lelaki itu mengangguk lalu meninggalkan ruangan kembali ke ruangan dansa. disana, Ienaga dan kedua putranya sedang menunggu.
"Hanya anda yang dipersilahkan masuk." kata lelaki itu.
Yasuyori menatapi ayahnya dengan enggan. Ienaga menenangkannya dengan isyarat. Ienaga kemudian melangkah ditemani lelaki itu menuju kamar dimana Yae Joon Jin asyik bermain-main dengan perempuan-perempuan tersebut.
Ienaga mendapati Tae Joon Jin asyik mencumbu salah satu perempuan dan memasukkan jemarinya kedalam pakaian perempuan itu mengobok-obok payudara perempuan itu dengan gemas.
"Silahkan duduk Tuan Ienaga. " kata Tae Joon Jing.
Ienaga duduk dan Tae Joon Jing menyuruh semua wanita itu keluar dari ruangan tersebut. setelah memastikan tak ada diruangan itu sambil merokok, Tae Joon Jin menatapi Ienaga.
"Suatu hal yang kebetulan, namun menimbulkan pertanyaan. " sindir Tae Joon Jin berbicara dalam bahasa jepang.
"Bicara saja pakai bahasa negaramu. tak usah sungkan." balas Ienaga dengan menggunakan bahasa korea.
"Aku meminta kesediaanmu memimpin orang-orangmu untuk menyerang wilayah kekuasaan Yamaguchi." kata Ienaga dengan datar.
kedua mata Tae Joon Jin membelalak." Aku nggak salah mendengarnya? anda menyuruhku menyerang wilayah tuan Tasuku?"
Ienaga mengangguk. "Tugas anda hanya membuat gangguan dan mengaku sebagai orang-orangnya Masakado."
"Imbas dari itu?" tanya Tae Joon Jin yang mulai berminat dengan tawaran tersebut.
"Majikan Tua akan balik menyerang wilayah kekuasaan Masakado." jawab Ienaga. "Bagaimana menurutmu?"
"Lalu.... apa imbalannya?" todong Tae Joon Jin dengan senyum licik.
"Kaloan boleh menguasai seluruh wilayah ini tanpa gangguan Chung Tong. mereka akan kami pindahkan dari Shinagawa." jawab Ienaga.
"Pegang janjimu!" tukas Tae Joon Jin.
"Kurasa kita sudah sepakat. waktu dan tanggalnya nanti ku kabari." kata Ienaga sambil bangkit diikuti oleh Tae Joon Jin. Ienaga tiba ditempat Yasuyori dan Yasunori menunggu.
sebelum masuk ke mobilnya, Ienaga menulis sesuatu kepada Kameie lewat chat Whatsapp. setelah itu ia membuka pintu mobil. tak berapa lama mobil itu melaju meninggalkan tampat kediaman kelompok mafia korea.
...*********...
Hari itu adalah hari terpenting bagi Aisyah. hari itu adalah hari pelaksanaan UMPTN.
Aisyah memasuki ruangan dan duduk bersama para peserta calon mahasiswa yang masuk melalui jenjang UMPT. ia mencari kursi yang sudah dilabeli nomor kartu sesuai dengan nomor pada kartu ujiannya.
tak berapa lama terdengar bel listrik. para peserta ujian sudah duduk ditempatnya masing-masing. beberapa saat kemudian muncul Rektor Universitas Negeri Gorontalo, Prof. Dr. H. Syamsu Qamar Badu, M.Pd ditemani para dekan fakultas dan kepala-kepala jurusan.
Rektor mengucapkan beberapa patah kata pengantar dan ucapan selamat kepada para peserta calon mahasiswa yang akan melaksanakan ujian. setelah itu, panitia maju membacakan etiket ujian secara umum.
tibalah kemudian ujian. para mahasiswa mulai mengerjakan tes dengan sistim Computer Assisted Test. cukup menegangkan karena ini merupakan hal yang baru. Aisyah berupaya mengisi jawaban sesuai kemampuannya meskipun ada beberapa soal yang sulit dia pecahkan. apalagi berhubungan dengan psikotest dan kepribadian.
ujian berlangsung selama 3 jam. setelah menyelesaikan soal dan memeriksa kembali jawaban mereka, Aisyah kemudian menekan papan info Log Out. gadis itu melangkah keluar dan mendesah lega meskipun kurang yakin dengan jawaban yang dibuatnya.
"Semoga hasilnya akan menggembirakan." harap gadis itu.
__ADS_1
Aisyah melangkah menyusuri halaman, melewati beberapa orang calon mahasiswa yang sedang memperdebatkan hasil jawaban mereka. gadis itu tak perduli dan terus melangkah menuju jalanan utama.
ditrotoar depan kampus berjejer kendaraan bentor, yaitu kendaraan motor beroda tiga yang didesain khusus menjadi angkutan umum. kendaraan ini menjadi ikon Gorontalo lainnya. Aisyah mendekati salah satu bentor yang mana pengendaranya sementara duduk menunggu.
"Ke Pasar Sentral, bang." pintanya.
pengemudi bentor itu mengangguk dan Aisyah menaiki bentor. tak lama kendaraan beroda tiga itu bergerak meninggalkan kampus UNG menuju ke selatan melalui jalan utana dengan tujuan Pasar Sentral Kota Gorontalo.
......*********......
Chiyome sedang tekun mengajari Iechika beberapa teknik pukulan yang ia pelajari, ketika Kameie muncul diruangan itu dan memanggilnya. Chiyome menyuruh Iechika untuk terus berlatih sementara ia melangkah mendekati ayahnya.
"Ada apa ayah?" tanya Chiyome sambil bercakak pinggang.
Kameie merogoh sebuah amplop besar dari dalam kantung mantelnya. ia menyerahkan amplop itu ketangan Chiyome. gadis itu membuka amplop tersebut dan mengeluarkan sebuah surat. oa merentangkan kertas surat itu dan membaca isinya, seketika ia langsung menjerit senang.
"Terima kasih ayah..." pekik Chiyome dengan senang dan langsung memeluk Kameie. pria itu sempat kaget dan tak sempat menghindar.
"Hei, mana etika seorang senior?" tegur Kameie dengan berbisik.
gadis itu tersadar ketika melihat wajah-wajah bengong yang diperlihatkan Iechika dan beberapa yudansha tingkat lima, yang heran dengan perilaku Chiyome saat itu. gadis itu memperbaiki pakaiannya lalu membungkuk dengan takzim dan berbalik langkah kembali ke kerumunan para peserta.
"Ada apa sih?" tanya Iechika.
"Nanti kukabari." kata Chiyome.
setelah itu Chiyome kembali serius memberikan instruksi-instruksi kepada adik-adik binaannya.
sementara itu Kameie yang sudah berada diluar bangunan, telah ditunggui oleh Ienaga. keduanya masuk kedalam mobil. Ienaga yang menyupir.
"Bagaimana selanjutnya?" tanya Ienaga.
"Besok, serangan dimulai. kabari Tae Joon Jin." kata Kameie. "Dan kau punya tugas khusus."
"Sebutkan." pinta Ienaga.
"Lenyapkan Kunika...usahakan bersamaan dengan insiden serangan Tae Joon Jin. kau tulis pesan dengan darahnya bahwa Masakado adalah biang keladi insiden tersebut. dengan itu, ayah akan membalas dan hal ini akan menyulut rasa tidak senang Sadamori dan Yoshikane pada Masakado." intruksi Kameie.
Ienaga mengangguk. "Sesuai permintaanmu."
Ienaga meninggalkan Kameie yang langsung menyetir sendiri mobilnya ke tempat kerjanya.
...********...
Fujiwara Tadahira menatapi jendela memandangi hamparan belantara pencakar langit yang menghiasi kota Tokyo. beberapa saat kemudian Tasuku muncul. lelaki itu menunduk dan membungkukkan tubuhnya dengan takzim.
"Ada apa tuan Tadahira memanggil saya?" tanya Tasuku dengan sopan.
"Akhir-akhir ini aku memantau perkembangan anak-anak cabang. kelihatannya mulai menunjukkan gelagat tidak mematuhi aturan kuno yang telah ditetapkan oleh leluhur." kata Tadahira.
Tasuku diam menanggapi sindiran itu. Tadahira sendiri tetap melanjutkan ucapannya. "Hidesato akhir-akhir ini mendesak aku untuk memintamu mundur. ia menginginkan Kameie berada dalam jabatan itu."
Tasuku tersenyum. "Saya bisa saja menyerahkan jabatan ini kepada Kameie, melalui perintah anda ataupun keinginan sendiri." lelaki tua itu kemudian menarik napas getir. "Masalahnya.... dia sendiri menolak anugerah itu..."
"Apa maunya dia?" tanya Tadahira dengan jengkel.
"Ia mau mendirikan anak cabang sendiri." jawab Tasuku.
"Selama tidak menggerogoti Yamaguchi, aku tidak keberatan." tandas Tadahira.
Tasuku kembali tersenyum datar. "Tuan. jangan terlalu memikirkan dia. aku selalu mengawasinya. jika anda melihatnya sulit diatur, dia hanya bisa mendengar perkataan sahabatnya, Chigaji Ienaga.
"Ienaga Heinaizaemon?" tebak Tadahira.
Tasuku mengangguk. "Ienaga yang bekerja dibidang pemasaran, direkomendasikan oleh Kameie kepada anda."
Tadahira mengangguk-angguk. kini ia punya rencana memaksa Kameie untuk menggantikan Tasuku. sementara itu Tasuku membungkuk dalam.
"Saya permisi tuan. nanti saya akan terus mengabari anda. " kata Tasuku kemudian bangkit dan meninggalkan ruangan.
sepeninggal Tasuku, Tadahira mendehem. dari pintu lainnya, keluarlah Heita Masakado.
"Kau sudah mendengarnya, bukan?" sindir Tadahira.
Masakado mengangguk. "Tasuku kemungkinannya tak berdusta. namun entah mengapa naluriku selalu mengisyaratkan adanya pemberontakan. aku sudah menyebarkan mata-mata. mereka belum menemukan buktinya."
"Silahkan jika kau masih tetap curiga kepadanya. itu hakmu. yang jelas, sebagai atasanmu, aku menyarankan kau perbaiki hubungan kalian berdua." kata Tadahira menekankan. "Ingat! kau itu saudara iparnya. mendiang mertuamu tentu tak akan rela jika mengetahui ikatan persaudaraan diantara kalian retak."
__ADS_1
Masakado hanya diam dan kemudian menghela napasnya. "Akan dipertimbangkan saran anda." jawab Masakado sambil membungkuk takzim setelah itu ia meninggalkan ruangan.
Tadahira ditinggal pergi sendiri dalam kantornya. lelaki tua itu menggeleng-geleng kepala atas masalah yang baru sajantiba dimejanya. setelah itu Tadahira kembali memandang pemandangan kota Tokyo dari jendela besarnya.[]