
Kenzie sementara duduk disofa bertelanjang dada, sibuk merangkai kata dan kalimat yang akan dikirimkannya kepada ayahnya melalui chat di whatsapp. lama benar ia menyusun kalimat-kalimat yang intinya memberitahu belum bisa pulang dan bermalam dirumah teman untuk mengerjakan tugas yang belum usai.
Chiyome muncul membawa baki kecil berisi air hangat dan sehelai handuk basah yang terendam dalam air itu. gadis itu duduk bersimpuh didepan Kenzie yang telah menyandarkan punggungnya di sofa. Chiyome mengambil handuk basah dan meremasnya dengan lembut kemudian mengarahkan handuk itu ke wajah Kenzie.
"Semestinya kamu nggak usah perliatkan kemampuan itu. kamu dan Trias cukup mengintai dan menunggu saja kawanan polisi yang sudah dihubungi paman wartawan. kau tak perlu menjadikan wajahmu bengkak-bengkok seperti ini." omel Chiyome dengan pelan sambil menekan memar dan bengkak diwajah Kenzie dengan handuk basah iru.
Kenzie mengaduh dan meringis ketika Chiyome menyeka sisa-sisa darah yang menempel disudut bibirnya yang separuh jontor menerima bogem dari pertarungan tadi.
"Kamu sangat mirip dengan Mama. selalu mengkuatirkan aku. bagaimana aku bisa dewasa jika terus diproteksi seperti ini?" Kenzie tersenyum lalu menggenggam tangan Chiyome.
"Aku telah meminta Om Ahmad untuk mengijinkan Trias mengamankan diri dirumahnya. jika tidak, penampilannya akan sangat mencurigakan buat papanya. " 'kata Kenzie sambil memandang Chiyome.
"Apakah sebaiknya kita bertiga jangan muncul di sekolah?" tanya Kenzie.
Chiyome menggeleng, "Justru akan menambah kecurigaan. " kata Chiyome sambil membelai pipi Kenzie.
gadis itu berdiri. " Biar aku yang ke sekolah sekalian mengamati situasi. kamu tidur disini dulu. nanti aku kabari dari sekolah."
Chiyome berbalik hendak membawa baki berisi handuk dan loyang itu namun lengannya dicekal oleh Kenzie. Gadis itu menoleh kearah Kenzie.
"Menurutmu... siapa yang membunuh Burhan?" tanya Kenzie.
"Aku nggak tau... yang ku tau, kita bertiga selamat dari sana berkat paman wartawan." jawab Chiyome sambil tersenyum lalu pamit membawa baki itu ke belakang.
Kenzie perlahan merebahkan tubuhnya ke sofa panjang itu. tak lama kemudian Chiyome muncul membawakan selimut dan menyelimuti tubuh Kenzie.
"Makasih sayang." kata Kenzie.
Chiyome tersenyum. "Nyamankan dirimu." kata gadis itu mendekatkan bibirnya ke bibir Kenzie. keduanya menyatukan bibir iru dan saling mengulum, saling ******* dan memasukkan lidah mereka dan membelit disana.
Chiyome melepaskan ciumannya. itu ciuman pertamanya dan ia mempersembahkannya pada Kenzie di malam itu. Kenzie sendiri benar-benar melayang dibuatnya. Chiyome menatap mata pemuda iru dan membelai rambutnya perlahan. perlakuan Chiyome membuat Kenzie cepat terbuai dan tertidur. gadis iru mengecup pelan kening pemuda itu lalu bangkit dan melangkah menuju kw kamarnya.
...*********...
suasana duka menyelimuti rumah kediaman keluarga Lapananda. orang tua Burhan begitu terkejut mendengar berita tewasnya Burhan yang disampaikan oleh pihak kepolisian. mamanya Burhan berteriak histeris dan langsung pingsan hingga harus dipapah oleh suaminya ke dalam kamar. setelah membaringkan istrinya, Yanto Lapananda menanyakan kronologis peristiwanya.
"Hingga saat ini, kami belum mengetahui siapa pelakunya. kami masih menyelidiki hal itu berdasarkan keterangan para saksi." jawab polisi tersebut
"Upayakan segera dicari pelakunya pak. bagaimanapun caranya." tandas Yanto.
"Sementara kami lakukan." jawab polisi itu. "Kalau begitu, kami permisi."
polisi itu meninggalkan kediaman tersebut yang kini dipenuhi raungan pilu dan isak tangis.
...********...
Ahmad mengintari kamar mayat. disana berdiri 2 orang petugas forensik. salah satunya sedang memeriksa mayat Burhan sedang yang satunya mencatat segala yang diberitahukan petugas pertama.
"Kelihatannya, pemuda ini tewas karena tercekik, tapi tidak dicekik. " ujar petugas forensik menguraikan analisanya.
"Bagaimana?" tanya Ahmad kurang paham.
"Perhatikan ini." ujarnya memperlihatkan batok kepala Burhan. pada batok kepala itu terlihat 5 titik yang menjorok kedalam. "Menurut saya, lubang ini diakibatkan oleh tekanan ujung jari manusia. pelaku mencengkeram kepala korban, kemungkinannya agak keras hingga batok kepala remuk."
petugas kembali menunjuk batang leher yang memar. " Tenggorokan korban membengkak. kelihatannya bagian ini dihantam dengan sesuatu yang menyebabkan saluran tenggorokan hancur dan menyumbat jalan napas sehingga korban kehilangan udara dalam waktu cepat. itu sebab utama tewasnya. korban.
"Jadi bagaimana?" tanya Ahmad lagi.
"Pelaku mungkin adalah orang yang sangat terlatih dalam seni beladiri. pukulannya terlihat terarah dan mematikan." kata petugas iru menyimpulkan.
"Lalu, bagaimana dengan anak-anak junkies yang terluka dengan paku panjang iru?"
__ADS_1
"Mengenai hal itu, saya nggak tau pasti. kemungkinan penyerang itu juga si pelaku tersebut. kurasa ia menguasai seni melempar pisau." jawab petugas itu.
Ahmad terangguk-angguk mendengar keterangan petugas tersebut. ia meninggalkan kamar mayat dan pikirannya dipenuhi teka-teki. ia mencoba mereka-reka dengan daya khayalnya.
nggak mungkin Kenzie yang melemparkan benda itu. meskipun gelap, aku masih bisa membedakan mana Kenzie dan mana penyerangnya.... dia nggak melempar atau mengambil sesuatu... dia hanya menangkis dan menyerang dengan kepalan dan tendangan .....
apa mungkin Trias? bukankah dia muncul sesaat setelah beberapa orang itu terkena paku? bisa jadi Trias membunuh dulu targetnya lalu bergabung dengan Kenzie melumpuhkan para jungkies itu..... ahhh... kok bisa begini ya?....
...*********...
Pagi itu, Chiyome benar-benar merasakan suasana yang mencekam disekolah. siswa-siswi terlihat sibuk bercerita tentang peristiwa terbunuhnya Burhan oleh pelaku tak dikenal. tak kalah juga para guru menceritakan hal itu diikuti oleh analisa dan hipotesa yang mereka susun sendiri untuk memecahkan kasus tersebut. mereka bermain-main menjadi detektif diranah yang tak mereka pahami.
gadis itu mengatur napasnya dan bersikap tenang, melanjutkan langkah menyusuri koridor hingga tiba di kelas XI F. disana juga telah heboh tentang berita kematian Burhan. tukang-tukang karlota itu tak henti-henti saling menyahut membuat kisah menjadi dramatis.
Chiyome menaruh ranselnya di laci lalu duduk menghadap ke rombongan siswi-siswi yang sibuk ber karlota ria.
salah satu siswi melihat Chiyome lalu memanggilnya. gadis itu menaikkan alisnya.
"Ada apa?" tanya Chiyome sambil bergabung dengan mereka.
"Kau nggak tau apa yang terjadi semalam?" pancing siswi tersebut.
Chiyome menggeleng menampakkan wajah bodohnya. Susan menarik napas panjang. "Kemarin, Burhan Lapananda, anak kelas XI C, tewas dibunuh. " ujarnya.
gadis itu mengangguk lalu menatapi mereka. "Terus bagaimana?" gadis itu mendekat pura-pura kepo.
"Sekarang, polisi sementara menyelidiki kasus itu." jawab Susan dengan melipat tangannya ke dada.
Tak lama kemudian, muncul Riswan. "Kawan-kawan, kita diminta oleh Pak Risno untuk mengumpulkan uang santunan, juga ikut melayat."
kalimat Riswan tadi langsung disambut Fendi Modanggu, si Ketua kelas yang segera memerintahkan Rini Bokings, sanh bendahara untuk mengedarkan kotak sumbangan ke seluruh penghuni kelas. Chiyome ikut merogoh sakunya dan mengeluarkan uang 100 ribu-satu~satunya uang dengan nominal tertinggi-dan memasukkan uang itu ke kotak sumbangan. setelah mengumpulkan uang tersebut. Riswan yang ditemani Fendi Modanggu keluar menuju ruang OSIS untuk menyerahkan uang santunan tersebut.
"Kapan kita melayat." tanya Daming Humolungo.
"Kok Kenzie dan Trias nggak hadir ya?" tanya siswa itu.
sebagian siswa menatapi Chiyome seakan menanyakan keberadaan kedua pemuda tersebut.
"Nggak tau.... mungkin janjian mancing dilaut?" jawab Chiyome mengalihkan arah pertanyaan kedua siswi tersebut.
Daming langsung menggebrak meja membuat Chiyome kaget setengah mati. pemuda ceking ini menggeram.
"Mereka nggak mengajakku?! sungguh keterlaluan." gwram pemuda itu.
tak lama kemudian Fendi Modanggu dan Riswan muncul dan menatapi teman sekelasnya.
"Bersiaplah...sebentar lagi kita akan melayat kerumah duka. pihak sekolah sementara menghubungi mobil carteran yang akan membawa kita ke rumah duka."
...*********...
Adnan dan Mariana mengenakan pakaian berkabung. ia mengenakan pakaian putih yang dipadu dengan sarung yang dililit sedemikian rupa menandakan Adnan termasuk dalam jajaran golongan bangsawan. ia mengenakan destar putih. sedangkan Mariana hanya mengenakan gamis putih yang dipadu dengan jilbab yang menjulur panjang hingga ke lutut.
hari ini ia akan menghadiri upacara persemayaman dan pemakaman dari putra sahabatnya. sebagai kawan, ia berkewajiban menjenguknya dan memberi dukungan moral terhadap Yanto dan istrinya.
Aisyah sendiri tidak ikut melayat karena sedang mengikuti masa orientasi mahasiswa baru yang akan berakhir 2 hari lagi. gadis itu sudah berangkat sejak jam 6 pagi.
Adnan menerima chat whatsapp dari Kenzie yang memberi tahu tak bisa pulang ke rumah karena sibuk mengerjakan proyek ilmiah. pria itu percaya saja karena selama ini putranya selalu jujur terhadap mereka.
suami-istri itu mengendarai mobil dan melaju menuju kelurahan Padebuolo. nampak dijalan banyak orang berkerumun dan barisan mobil berjejer parkir ditepi jalan. tenda telah didirikan dan didepan tangga serambi telah dibuat tolitihu (tangga) dari jalinan bambu kuning. pegangan tangga itu dibuat sedemikian rupa dan ujungnya dibelah membuka kemudian diukir membentuk huango lo huayo (mulut buaya). janur kuning nampak memggantung disekitar serambi.
__ADS_1
beberapa pejabat kota dan propinsi datang mengenakan seragam bate, lengkap dengan destar dan sarung bermorif yang dilingkarkan dipinggang. para pemandu adat akan melaksanakan molalunga (upacara persemayaman dan penguburan), karena Yanto masih merupakan keturunan bangsawan Gorontalo.
Adnan dan Mariana turun dari mobil dan berbaur dengan kerumunan undangan yang telah duduk dikursi. adapun Adnan dipersilahkan masuk kedalam karena ia secara adat masih masuk dalam golongan bangsawan.
sesekali terdengar isak tangis dan lolongan serta ratapan dari anggota keluarga yang belum merelakan kematian Burhan.
Adnan duduk disisi Yanto dan menyapu punggung pria itu. "Aku turut berduka... sabarkan hatimu." ujarnya dengan pelan. Yanto sendiri kembali menangis dan menyandarkan kepalanya ke bahu Adnan.
"Sampai kapanpun aku nggak rela dengan pembunuh itu." sedu Yanto. "Aku akan mencarinya."
"Aku tahu..." sahut Adnan. "Tapi sebagai umat islam, dan sebagai kaum yang beradat pula, sepatutnya kita tidak mendahulukan dendam pribadi." nasihat pria itu sambil terus menyapu punggung pria itu.
Yanto mengangguk lalu menegakkan tubuhnya meski wajahnya tetap menekur menyembunyikan tangisnya. "Saat ini polisi tengah mengumpulkan bukti."
Adnan mengangguk-angguk sambil terus menguatkan hati sahabatnya tersebut.
sementara Mariana masih tetap ditempatnya, berbagi gosip dan berita terbaru. Mereka sibuk membicarakan kematian Burhan yang misterius itu.
Adnan meminta ijin untuk pamit keluar. pria itu beranjak meninggalkan beranda membiarkan para pejabat dan golongan adat memulai prosesi upacara molalunga.
Adnan sendiri melihat Ahmad sedang berdiri dijalanan menonton prosesi adat tersebut. lelaki iru melangkah ke jalan dan menemui wartawan itu.
pada saat yang sama, mobil carteran SMUN 3 tiba. siswa-siswi khususnya teman sekelas Burhan menghambur keluar dan langsung menangis mewek-mewek menuju rumah duka dan disambut lagi oleh anggota keluarga juga dengan pola tangisan yang sama.
maka riuhlah suasana kembali dengan tangisan dan ratapan disela-sela pelaksanaan adat pohutu molalungo tersebut.
Adnan mencari-cari sosok Kenzie diantara kerumunan siswa SMUN 3 iru. ia tak menemukannya, malah menemukan Chiyome diantara kerumunan itu.
Adnan melambai memanggil gadis itu. Chiyome menyeberangi kerumunan siswa dan riba dihadapan Adnan.
"Kenzie dimana Chiyome? dia bilang nggak bisa pulang karena mengerjakan proyek ilmiah sekolah. apa benar?" selidik Adnan dengan tatapan memicing.
Chiyome sendiri terjebak dalam situasi itu. lidahnya kelu. gadis itu menatapi Ahmad meminta pertolongan. Adnan sendiri menjadi bingung dengan bisunya Chiyome hari ini. Ahmad langsung menarik tangan Adnan dan menyuruh Chiyome kembali berbaur dengan para siswa.
Kedua lelaki itu melangkah agak jauh dari kerumunan orang. mereka berhenti dideretan mobil yang parkir memanjang ditepi jalan.
"Mad... coba jelaskan padaku.. ada apa ini sebenarnya?" pinta Adnan dengan bingung campur penasaran.
"Nggak ada gunanya kau tanyai anak itu. Kenzie nggak mengerjakan apapun." kata Ahmad.
Adnan mengerutkan keningnya. baru sekali ini ia mengetahui dari sahabatnya kalau putranya mulai bermain kata dengannya. Adnan melipat tangannya ke dada.
"Dimana putraku sekarang?" tanya Adnan 'dengan nada rendah namun menekan.
"Aku nggak tau." jawab Ahmad. "Dengarkan aku. ada hal yang lebih penting akan kusampaikan padamu. tapi kuharap kau jangan menanggapinya dengan emosi." kata Ahmad dengan sangat pelan agar tak terdengar orang lain.
"Kau membuatku semakin penasaran." kata Adnan dengan hidup
"Saat ini, Kenzie dan Trias sementara memenuhi panggilan polisi untuk dimintai keterangannya sebagai saksi." kata Ahmad.
kening Adnan kembali berkerut. "Bagaimana bisa?"
Ahmad menutup mata sejenak lalu membuka matanya. "Sebenarnya.... kejadian dimana Burhan terbunuh, kami berempat berada ditempat kejadian."
kalimat-kalimat yang keluar dari mulut wartawan itu berhasil menghantam relung dada pria itu.
"Sebenarnya.... Kenzie dan Trias sedang menyelidiki Burhan yang dicurigai terlibat dalam sindikat perdagangan narkoba disekolah." sambung Ahmad.
"Kamu jangan main-main, Mad!" bentak Adnan mulai emosi.
"Tenang... dengar dulu." kata Ahmad sambil memperhatikan suasana disekitarnya. ia kembali menatapi Adnan.
__ADS_1
"Beberapa hari yang lalu, mereka berdua menemuiku. Trias menyodorkan bungkusan berisi sabu-sabu. menurut keterangannya. sabu-sabu itu diberikan oleh Burhan. berdasar itu, keduanya sepakat melakukan penyelidikan mandiri." papar Ahmad. []