
Mobil yang dikendarai Chiyome melaju dijalanan membawa suami tercintanya menuju tempat kerja. Kenzie mengenakan stelan jas membuat perawakannya terlihat dewasa dan berwibawa. Chiyome tersenyum-senyum saat menyetir mobil.
ibu muda itu sendiri mengenakan kemeja yang dibalut jas. sedang bawahannya ia mengenakan rok panjang dengan sepatu bersol sedang. ia tak mau membuat Kenzie malu dengan penampilannya.
mobil yang mereka kendarai tiba di kantor PT. Buana Asparaga. Tbk. mobil itu menuju ke tempat parkir khusus pejabat perusahaan. kedua suami istri itu keluar dari mobil dan melangkah menyusuri halaman kantor.
seorang sekurity yang pernah dipecundangi Chiyome nampak berdiri disisi pintu utama. melihat wanita itu muncul bersama suaminya membuat lelaki itu tiba-tiba saja gemetar dan sikapnya menjadi canggung.
Chiyome yang melihat itu langsung berinisiatif menyapa sekurity. "Bagaimana kabarnya Pak?"
"Ba-baik b-bu." jawab sekurity dengan canggung.
"Kenapa? apa kamu yang dihajar istriku? jawab jujur!" todong Kenzie.
sekurity itu hanya mengangguk-angguk dengan cepat. Chiyome mencengkeram lengan suaminya sejenak. lalu melangkah kehadapan sekurity itu.
"Saya mohon maaf pak ya? habisnya bapak langsung buru-buru nyeret saya. gak pake nanya." kata Chiyome dengan wajah memelas. "Tapi sudah baikan to pak?"
"Sudah.. Sudah bu.. sudah sehat saya." jawab sekurity itu dengan cepat.
"Alhamdulillah.. kerja yang semangat pak ya?" kata Chiyome sambil melambai lalu membuka pintu mempersilahkan Kenzie masuk. sejenak pemuda itu mengamati sekurity itu lalu melangkah kedalam diikuti oleh Chiyome.
sekurity itu mendesah lega dan mengelus dada. dia sudah merasai bogem dan tendangan wanita itu. dan makin gamang dia ketika Bakri membongkar jati diri perempuan itu. ketika berjumpa dengan Chiyome tadi, ia sudah pasrah dipecat. tapi diluar dugaannya, justru wanita itu mendekat dan meminta maaf. lega ia dan malu rasanya.
"Ah. ibu yang hebat. semoga anda diberkahi Allah." gumamnya dengan tulus.
...*******...
Kenzie meletakkan tasnya lalu memutar meja kerjanya dan duduk di kursi bersandaran punggung yang tinggi itu. Chiyome duduk di sofa dan membuka tas kerja Kenzie, mengeluarkan beberapa dokumen yang harus dipelajari karena dibutuhkan oleh ayahnya saat ini.
wanita itu membawa dokumen itu dan meletakkannya di meja suaminya.
"Arigatoyooo.... Chiyo-Chan." kata Kenzie sambil mengedipkan sebelah matanya. Chiyome tersenyum lebar memamerkan seringai gingsulnya.
"Sama-sama Kenzie-Kun." jawab Chiyome.
"Aaa... ada beberapa personil yang harus kita berdayakan kali ini?" ujar Kenzie meraih dokumen itu dan membacanya, mengamati trak record setiap pegawai yang masuk filenya ke meja kerjanya.
Kenzie menatap Chiyome sejenak sedang ibu muda itu tak memperhatikannya karena sibuk membuka beberapa aplikasi pada gawainya. Kenzie mengambil gagang telepon dan menekan salah satu tombol.
📞 "Panggilkan Bakri Muchsin. saya butuhkan beliau." setelah itu Kenzie meletakkan kembali gagang telpon itu.
tak lama kemudian terdengar ketukan dipintu.
"Masuk!" sahut Kenzie.
Pintu membuka dan masuklah Bakri menngenakan stelan jas melangkah mendekati Kenzie. sejenak ia menyapa Chiyome. ibu muda itu membalas sapaannya.
"Ada apa Pak." tanya Bakri.
Kenzie tertawa. "Pak pak... sudah, nggak usah pake etiket Kak. biasa saja."
Bakri tersenyum. Chiyome berdiri. "Hubby, Wiffy ke Pantry dulu ya? Hubby mau masakin apa?" tanya ibu muda itu.
"Masak apa saja, Hubby suka." jawab Kenzie.
"Oke deh..." kata Chiyome tersenyum lalu melangkah meninggalkan ruangan itu untuk memberi kebebasan bagi dua orang itu membahas permasalahanya.
Chiyome melangkah santai menyusuri lorong-lorong kantor. beberapa pegawai yang berpapasan dengannya langsung membungkuk. Chiyome ikut membungkuk membalas penghormatan yang dianggapnya agak sedikit keterlaluan.
wanita itu tiba di Pantry. disana ada beberapa pegawai yang beristirahat di Lounge. menyadari keberadaan Chiyome, mereka langsung berdiri dan memperbaiki sikap.
"Nggak usah begitu. istirahatlah. kalian pasti lelah." kata Chiyome.
para karyawan dan karyawati yang sementara beristirahat di Lounge kemudian duduk dan melanjutkan kegiatan istirahatnya. Chiyome melangkah ke Pantry.
tak lama kemudian dari ruang Pantry yang tertutup, mulai terdengar bunyi suara kompor dinyalakan berikut bunyi dentam logam antara penggorengan dan sendoknya. kelihatannya Ibu Muda itu sedang memasak nasi goreng. aromanya nikmat menembus ventilasi Pantry dan menyerbu kedalam lubang hidung karyawan dan karyawati itu.
mereka menegak saliva menyadari aroma itu memancing gairah lapar mereka. tak lama kemudian Chiyome muncul membawa baki yang diletakkan seporsi besar nasi goreng dan sebotol air mineral.
sebelum meninggalkan lounge, wanita itu menatapi para pegawai itu. "Kalau kalian mau makan, saya masih menyisakan banyak dipenggorengan...."
sepeninggal Chiyome, para karyawan itu berebutan masuk kedalam Pantry dan memeriksa penggorengan. ibu muda itu begitu dermawan hingga menyisakan banyak dalam penggorangan. mereka menyendoknya dan mencicipinya.
"Enak ya? macam masakan restoran." puji salah satu karyawan.
__ADS_1
...********...
Stefan mengantar Aisyah ke rumahnya menggunakan mobil. sesampainya disana, keduanya hanya disambut oleh Mariana.
sang ibu tersenyum lebar melihat Aisyah muncul bersama swprang laki-laki yang menyapanya dari belakang punggung Aisyah ketika Marinana menyapa nya.
"Siapa ni Kak? " tanya Mariana dengan antusias.
Stefan maju dan mengulurkan tangannya Stefan Warondou, Tante." jawab Stefan.
Mariana menjabat tangan pemuda itu dan menatapi Aisyah. "Teman sekelas kamu?"
"Kakak tingkat, Ma. tapi jurusan kami sama." jawab Aisyah sambil tersenyum.
Mariana mengangguk. "Mari masuk." ajaknya.
Mariana membawa pemuda itu ke ruang tamu. "Disini dulu ya? tante ke belakang sebentar." Mariana menatapi Aisyah.
"Kakak temani ya? Mama mau ke belakang." kata Mariana.
Aisyah mengangguk lalu meletakkan tasnya dan duduk disisi agak berjauhan dari pemuda itu. Stefan sejenak menatap sekeliling ruangan itu kemudian menatap Aisyah.
"Bersalinlah pakaian. aku menunggumu." kata Stefan.
Aisyah mengangguk lalu bangkit dan meninggalkan ruangan tamu. tak lama kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman. diluaran terdengar suara candaan laki-laki dam perempuan.
pintu terbuka dan masuklah Adnan. lelaki itu sempat terkejut melihat seorang pemuda duduk di sofa ruang tamu.
"Ooo ada tamu ya?" gumam Adnan.
tak lama muncul Kenzie dan Chiyome berdiri di belakang Adnan. Chiyome menatap tajam kearah Stefan dan pemuda itu terkejut menatap wanita itu.
inikah adik serahim Aisyah... tatapannya... kenapa aku tak mampu bergerak?... apa perempuan ini punya sihir???
" Kore wa daredesuka?" tanya Chiyome dengan nada yang datar. (Siapa ini?)
tak lama muncul Aisyah. ia sedikit terkejut melihat ayah dan dua adiknya berdiri menatapi Stefan yang kelihatan canggung duduk si sofa.
"Papa... ini Stefan, temannya Aisyah." kata Aisyah memperkenalkan diri pemuda itu. Stefan bagai terlepas dari sihir tatapan Chiyome, gelagapan bangkit dan mengulurkan tangan.
"Stefan Waworondou, Pak. Sastra, semester 5." kata Stefan. "Tapi panggilah saya Evan."
Chiyome menggeleng. "Tangan itu milik Kakak. bukan milikku. tanganku milik Hubby. takkan dibiarkan tanganku disentuh orang lain kecuali keluargaku."
Stefan langsung tertohok dengan ucapan perempuan itu. Kenzie batuk-batuk sejenak. "Maafkan istriku. dia memang seperti itu. harap pengertiannya. biar ku gantikan."
Kenzie maju menjabat tangan Stefan. "Saya Kenzie, dan ini Istriku, Mochizuki Chiyome dari Tokyo."
"Kakak maaf ya? adek nggak mau Kakak cemburu. Hubby juga cemburu." kata Chiyome dengan senyum kepada Aisyah.
jilbaber itu tertawa. "Oke deh. Adek memang pengertian banget." Aisyah menatap Stefan. "Adek nggak mau Kakaknya cemburu. dia juga tidak mau membuat suaminya cemburu. jadi wajar kalau Adek menolak jabatan tangan kamu. jangan tersinggung ya?"
tak lama kemudian muncul Mariana membawa baki berisi gelas minuman dan sepiring penganan. melihat semuanya berkumpul diruang tamu.
"Lho? papa? Kenzie? Adek?..." kata Mariana.
"Biar Adek ma." kata Chiyome mendekati Mariana dan mengambil baki itu lalu bersimpuh dipinggir meja kemudian meletakkan baki itu dan meletakkan gelas minuman dan sepiring penganan dihadapan Stefan.
"Maafkan saya." kata Chiyome menatap Stefan.
wanita itu bangkit lagi dan berdiri disisi Mariana. "Aduh Adeh kok lama banget pulangnya. Mama sampe rindu niih." tiba-tiba Mariana langsung mencubit hidung Chiyome dengan gemas.
"Auuughh.... sakit Maaaa..." ringis Chiyome lagi memegang hidungnya lalu tersenyum dan bergelayut dengan manja disisi Mariana. Kenzie menatap ibunya.
"Saburo mana Ma?" tanya Kenzie.
"Tidur... lelah seharian main sama Oma nya. " jawab Mariana sambil terkekeh.
"Ma... Adek mau kekamar lihat Saburo." kata Chiyome. Mariana mengangguk ĺalu menyapu pundak Chiyome. wanita itu lalu melangkah meninggalkan ruang tamu.
"Kalau begitu, saya juga permisi. maaf sudah mengganggu ya." kata Kenzie.
pemuda itu meninggalkan ruang tamu Adnan memggamit lengan Mariana. "Ayo ah Ma... kita nggak boleh mengganggu mereka."
Stefan langsung berdiri. "Maaf Pak. jika tidak mengganggu. bolehkah saya minta ijin membawa Aisyah keluar?"
Adnan sejenak menatap Aisyah. kemudian lelaki itu menatap Stefan. "Silahkan.. tapi habiskan dulu sajian yang diberikan Mamanya padamu. mubazir itu Setan lho." kata Adnan menunjuk gelas minuman dan sepiring penganan yang belum disentuh pemuda itu.
"Oh ya. Makasih Om, Tante. pasti saya habiskan." kata Stefan.
__ADS_1
Adnan mengangguk. "Bagus..."
kedua suami istri itu meninggalkan ruang tamu membiarkan Aisyah bersama pemuda itu diruangan tersebut.
...********...
Chiyome menatap Saburo yang tidur dengan nyenyak di boks tidur itu. ibu muda itu tersenyum dan tangannya terulur menyentuh hidung sang bayi berusia 5 bulan itu. Kenzie muncul dan menyapu pundak istrinya dari belakang.
"Tampannya..." puji Kenzie.
Chiyome menatap suaminya lalu memamerkan senyum lebar seringai gingsulnya. "Anak kita Hubby..."
"Tambah yuk." ajak Kenzie dengan senyum nakal.
Chiyome tersipu lalu berbalik dan memeluk Kenzie. wanita itu kemudian mengecup pipi suaminya. "Tunggu Saburo bisa jalan ya?"
Kenzie memberenggut. "Uuuu... "
Chiyome tersenyum lebar lagi. "Tapi kalau mau rasai enak-enaknya boleh kok. kebetulan kan sudah lewat masa subur tuh." goda wanita itu.
"Boleh nih?" ujar Kenzie dengan wajah jenaka.
Chiyome mengangguk-angguk. Kenzie langsung menuntun sang istri ke ranjang dan mereka bergumul dengan penuh kemesraan.
...********...
Kenzie menatap istrinya yang tidur dengan nyenyak setelah pergumulan itu. wajahnya polos begitu cantik tanpa riasan apapun. tubuhnya terbalut lingerie semakin menambah kemolekan tubuh wanita itu. pemuda itu tersenyum dan membelai rambut pendek istrinya.
"Makasih sayang...." jawab Kenzie dengan lirih.
Chiyome menggeliat pelan lalu kembali membenamkan wajahnya ke dalam pelukan suaminya melanjutkan dengkuran halusnya. Kenzie mencium kening istrinya dengan lembut.
"Aku makin mencintaimu." gumam Kenzie dengan lirih.
"Aku juga Hubby." jawab Chiyome juga dengan lirih. mata Kenzie membulat.
"Sudah bangun?" kata Kenzie.
perlahan mata Chiyome membuka. "Hmmm???"
Kenzie tersenyum. "Oooo... ngelantur rupanya tadi." ujar Pemuda itu kembali mencium kening istrinya.
Chiyome menggeliat lalu menguap. tiba-tiba Kenzie maju lagi mengecup bibir Chiyome membuat wanita itu sempat kaget dan menjauhkan wajahnya.
"Uhmmm Hubby... doyan banget cium aroma mulut Wiffy... nggak jijik?" gumam wanita itu dengan suara serak.
"Kan istri sendiri. bibir bawahnya saja Hubby jilati apalagi bibir atasnya." ujar Kenzie sambil tersenyum. "Asal jangan disuruh ciumi bibir belakangnya."
Chiyome senyum lalu mencium lagi bibir Kenzie. "Nggak bakalan Hubby. Wiffy juga tau batas kok."
Kenzie kembali tersenyum kemudian merengkuh istrinya. Chiyome kembali membenamkan tubuhnya dalam pelukan suaminya itu.
"Kelak, aku akan menduduki kursi direktur itu. aku ingin menyatukan sedikit sahammu ke perusahaan. aku ingin Wiffy juga memilki aset disana. kita akan memerintah bersama." kata Kenzie.
"Wiffy nggak mau mencampuri urusan perusahaan Hubby. saat ini Iechika mungkin membutuhkan Wiffy untuk mengamankan wilayah Tohoku." kata Chiyome.
"Ada apa dengan Tohoku? apakah orang-orangnya Nobuo belum jera?" tanya Kenzie.
"Entah, kelihatannya mereka menjalin karja sama dengan lawan dari Yamaguchi. jadi mungkin Wiffy minta ijin sama Hubby mau ke Osaka." kata Chiyome.
"Hubby ikut dong." pinta Kenzie.
"Lalu yang jaga Saburo siapa?" tanya Chiyome.
"Saburo kita bawa. Hubby yakin Otoo-Sama akan menjaga Saburo sementara kita berdua mengunjungi Tohoku. Hubby pikir Iechika perlu juga menemani." kata Kenzie.
Chiyome menatapi suaminya lama. "Saburo belum terbiasa dengan udara dingin. apalagi ini dalam masa pandemi. Wiffy nggak mau ambil resiko. kasihan anakku."
"Yaaa.... baiklah... sebenarnya Hubby kecewa sebenarnya. Hubby pengin Saburo mengenal kakek neneknya. mengenal tanah ibunya. Hubby nggak mau anakku menjadi orang yang lupa kacang akan kulitnya. itulah sebab mengapa Hubby ngotot. tapi kalau Wiffy berkeras meninggalkannya disini. ya, Hubby nggak bisa melarang."
Chiyome tersenyum lebar. "Oke deh, alasan Hubby masuk akal. jadi kita akan bawa Saburo ke Jepang."
"Kapan kita pergi?" tanya Kenzie.
"Setelah pengumuman lulusan Hubby dong." kata Chiyome sambil menjulurkan lidah dan kembali membenamkan tubuhnya memeluk tubuh suaminya. Kenzie hanya bisa tersenyum. []
__ADS_1