
Kenzie menatap kumpulan orang itu. lelaki itu mengenakan setelan pakaian serba hitam. ia menggenggam sepucuk pistol revolver magnum mengkilap yang telah diisi lengkap peluru berkaliber besar. pistol itu disematkan pada sarungnya dibagian pinggulnya. dibelakangnya, Chiyome telah mengenakan pakaian serba hitam dengan celana zubon yang agak lebar dengan hiasan bunga krisan putih pada bagian bawah celana tersebut. obi warna hitam dipadu dengan ikat pinggang kulit yang diikat dengan gesper berbentuk kepala setan. sementara si Penebas Angin yang bergaya gunto tersampir pada bagian kiri sabuk kulit itu. rambutnya dikuncir ke atas.
dihadapan keduanya berdiri kumpulan preman yang pernah bersumpah setia kepadanya paska insiden penculikan Trias. mereka berkumpul menyandang senjata sebilah tongkat yang ujungnya dipasangi paku-paku. Kenzie mengangguk-angguk.
"Hari ini kita ada kerjaan besar. kita akan menghancurkan basis logistik musuh yang telah berani mengganggu kehidupan keluargaku. kita akan meratakan segalanya dengan tanah. jangan ada yang tersisa!" seru Kenzie mengangkat tangannya keatas disambut sorak-sorai para pengikutnya.
Kenzie menatap Chiyome yang juga mengangguk kepadanya.
"Sudah nggak sabar untuk beraksi, Wiffy?" goda Kenzie.
Chiyome tersenyum, "Jadi ingat waktu dulu, Hubby."
"Sekali ini saja ya?" pinta Kenzie.
Chiyome mengangguk. Kenzie kembali menatap kumpulan preman itu. "Kita berangkat!!!" serunya!
...****...
sementara Adnan ditemani Yanto Lapananda menatap sebuah rumah gaya lama, model panggung. mata lelaki itu memicing menatap pintu rumah yang tertutup.
"Kau tidak sedang membohongiku, Yanto?" ujar Adnan dengan pelan.
Yanto menatapnya dengan wajah keruh, "Kau pikir aku orang seperti itu?"
Adnan tersenyum, "Jangan marah sobat. aku hanya mengolokmu." jawab lelaki itu mengisyaratkan Yanto maju menapaki tangga dan mengetok pintu.
Yanto dengan wajah keruh kembali maju menapaki tangga dan menyusuri beranda itu. sejenak lelaki itu menarik napas lalu berdiri didepan pintu hendak mengetok.
baru saja tangannya terulur hendak mengetok pintu, mendadak pintu terbuka dan muncullah seorang lelaki tua yang ceking dengan rambut gondrong agak bergelombang.
Yanto langsung surut dan mundur selangkah kemudian membungkuk datar. lelaki ceking gondrong itu menganggukkan kepala kepada Adnan yang berdiri tegak dihalaman rumah.
"Oooo... itu teman saya." jawab Yanto dengan hormat, "Namanya Adnan."
lelaki gondrong yang ceking itu mengangguk lalu menatap Adnan dan melambaikannya mengisyaratkan Adnan untuk masuk.
Adnan melangkah menaiki tangga. didepan beranda akhor tangga, Adnan menyapa, "Assalamualaikum..."
Yanto membalas salam sedang lelaki itu hanya membalas dengan menunduk sangat takzim setelah itu dengan isyarat mempersilahkan Adnan untuk duduk.
keduanya saling menatap, agak lama. Yanto sendiri heran dengan perilaku kedua lelaki ini. ternyata lelaki gondrong itu sedang mengerahkan tenaga dalamnya melalui tatapan mata untuk menundukkan Adnan. lelaki itu tak mau kalah. ia pun mengarahkan tenaga dalamnya mengantisipasi serangan tanpa wujud itu kemudian balik menyerang dengan pameran tenaga dalam pula. lelaki itu perlahan senyum dan mengangguk pelan dengan takzim.
Adnan mengangsurkan tangannya kedepan. lelaki itu menyambutnya. keduanya salaman dan saling menggoncangkan tangan dengan erat. setelah itu Adnan kembali menyapa.
"Bubu???" tanya Adnan.
lelaki gondrong itu mengangguk dengan penuh semangat. Adnan langsung menatap lagi kearah Bubu.
Kenapa anda tidak datang pada saat kuundang bersama Yanto untuk mempertanggung jawabkan sebagian kesalahan anda? tanya Adnan dengan mengerahkan telepati.
Bubu menarik napas panjang lalu mengangguk dan menatap Adnan lagi, Maafkan saya... ini memang murni kesalahan saya. makanya saya malu menghadap anda kemarin. apakah anda masih ingin menagihnya?
Yanto yang menatap keduanya yang hanya diam saling menatap menjadi heran. seakan dia hanya dianggap obat nyamuk saja oleh kedua lelaki ini.
Adnan menghela napas sejenak lalu menunduk. ia kemudian menarik tubuh menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi lalu menatap kembali Bubu.
Itu sudah berlalu, bukan berarti anda lepas tanggung jawab. anda tahu? wanita yang terbunuh itu adalah anggota keluarga Gobel. untungnya Trias tidak menyinggung nama Yanto dihadapan polisi karena aku yang memintanya. apa anda pikir bisa menghadapi kemarahan keluarga Gobel? tuntut lelaki itu.
Yanto sudah mengatakannya padaku, balas Bubu sejenak menatap Yanto yang menatapnya dengan sorot keheranan. lelaki gondrong itu kemudian kembali menatap Adnan, Sekarang apa yang kau inginkan?
Adnan tersenyum, Kemarin di Isimu, aku baru saja menghajar anak buahmu. kau keberatan?
Jika alasannya benar, aku tak keberatan. balas Bubu dengan datar menatap Adnan.
Adnan mengangguk-angguk, Bagus. silahkan kau korek saja keterangan dari pihak kepolisian resort Kabupaten Gorontalo. kedua orang itu mungkin sementara di permak disana. Atau kau mau aku membebaskan mereka? pancing lelaki itu.
__ADS_1
biarkan mereka menerima akibat perbuatannya. jawab Bubu dengab datar.
Adnan kembali mengangguk-angguk. Baik. aku salut padamu. tak salah kalau anak-anak menjadikanmu pemimpin kalangan bawah tanah setelah kematian Ateni.... apakah Ateni, kau juga yang membunuhnya? pancing Adnan.
Aku nggak sebejat itu. Ateni pantas menerima karma karena berbuat semena-mena terhadap orang-orang penambang. mereka bersekongkol untuk membalas perbuatannya. mereka menemukan kelemahan lelaki itu. dan mereka menjebaknya pada saat memasukkan pelacur itu kedalam biliknya. ujar Bubu mengakhiri telepatinya.
Adnan mengangguk-angguk lalu mengulurkan tangannya, "Aku harap setelah ini, kita akan menjadi sahabat yang sesungguhnya, bukan sekedar nama dan formalitas belaka." ujar lelaki itu.
Bubu tersenyum dan menjulurkan tangannya pula. keduanya bersalaman. Adnan kemudian bangkit.
"Maaf, aku tak bisa lama-lama. aku permisi." kata Adnan membungkuk agak datar lalu menatap Yanto. "Kalau kau masih ingin bercakap-cakap dengan Bubu, silahkan."
"Ah, nggak. aku ikut kau saja." kata Yanto langsung berdiri dan membungkuk dalam kearah Bubu lalu melangkah mengekori Adnan yang menuruni tangga.
setelah agak jauh dari rumah itu, Yanto menjajari langkah Adnan. ia menatap lelaki itu.
"Tadi kulihat kalian hanya saling menatap saja. apakah yang sedang kalian berdua lakukan?" tanya Yanto dengan penasaran.
"Menyelami pikiran masing-masing. kami saling memahami melalui pemusatan pikiran." jawab Adnan. "Ternyata, Bubu merupakan praktisi langga beraliran linula Tapa."
"Maksudnya? aku nggak ngerti." ujar Yanto.
keduanya tiba di mobil. Adnan menyuruh Yanto masuk. lelaki itu kemudian memutar dan membuka pintu, lalu duduk dikursi kemudi. setelah menjalankan mesin dan melajukan kendaraan, Adnan menyambung lagi.
"Aku nggak pernah paham bahasa isyarat yang dipraktekkan di sekolah-sekolah luar biasa itu. jadi, aku mengajaknya berbicara secara telepati. menyelami kedalam dasar pikiran lelaki itu dan bicara tanpa harus mengeluarkan suara." ujar Adnan lagi.
"Aaahhh... pembicaraan gaya pendekar macam kalian benar-benar nggak dipahami. aku tadi merasa seperti penjaga nyamuk saja. celengak-celinguk menatap kalian berdua seperti sepasang kekasih yang saling menatap penuj gairah..." ujar Yanto mengolok Adnan lalu tertawa.
Adnan ikut tertawa lalu menatap Yanto sekilas, "Rupanya bacot brengsekmu itu masih bisa tertawa juga rupanya. kau mau kupermak disini?"
Yanto terdiam seketika mendengar kata-kata Adnan. kini justru Adnan yang tertawa. sambil menyetir ia kembali mengolok.
"Santai bro. baru dikatai begitu saja kau langsung kehilangan tawa seperti orang yang melihat kalumba lewat saja." olok Adnan kembali tertawa.
Yanto hanya tersenyum tipis meladeni canda lelaki itu.
Kenzie memimpin konvoi tiga mobil. ia mengendarai mobil didepan bersama istrinya. Chiyome sendiri menatap jalanan sambil menggenggam Si Penebas Angin.
Konvoi itu berarak keluar wilayah Gorontalo, menuju timur pulau Sulawesi. tujuan mereka adalah menghancurkan semua aset fisik milik Stefan.
berdasarkan data yang diberikan Kartono yang didapatkan melalui rekam data penduduk yang dibongkar oleh Adrian, nyata mereka menemukan bahwa Stefan memiliki aset fisik yang berada diluar propinsi Gorontalo.
Stefan memiliki sebuah perusahaan yang bergerak dibidang produksi kelapa sawit. jadi Kenzie menghubungi pihak Tangan Ketiga dan memerintahkannya untuk membongkar data keluarga Stefan.
Kenzie menyuruh Tangan Ketiga untuk membobol sistim keamanan lalu mengobrak-abrik data. setelah itu mencuri poin saham membuat semua saham dalam perusahan mengalami penurunan tajam yang sangat ekstrim, kemudian mengambil alih saham tersebut melalui pembelian fiktif.
Tentu saja imbalannya adalah setengah kepemilikan saham menjadi milik si Tangan Ketiga setelah Kenzie memperoleh poin pertama kepemilikan umum saham terbesar dalam perusahaan itu.
benar saja! keluarga Wawarondou kelimpungan dan panik. mereka tak menyangka mendapat serangan siber seperti ini. untungnya jaringan keamanan dan pihak Tangan Ketiga milik perusahaan yang dikelola keluarga Waworondou tidak secakap Tangan Ketiga yang dimiliki Kenzie.
...********...
perjalanan menuju timur memakan waktu sehari. mereka tiba di Amurang, ibukota Kabupaten Minahasa Selatan. konvoi itu membelok ke selatan menuju arah pegunungan. disana ada perbukitan yang ditumbuhi tanaman-tanaman kelapa sawit.
Kenzie berniat membumi hanguskan pabrik pengolahan minyak kelapa sawit milik perusahaan yang dikelola keluarga Waworondou.
mereka menemukannya. begitu malam merayap datang, semua personil yang dipimpin Kenzie dan Chiyome bergerak memasuki kompleks pabrik yang dijaga satuan keamanan bersenjata.
Chiyome bergerak duluan menyusup dan mempingsankan dua orang penjaga pintu. setelah menjatuhkan dua penjaga, Chiyome membuka gerbang masuk dan menyeruaklah sepasukan preman bersenjata gada berduri yang dipimpin Kenzie.
mereka semuanya mengenakan topeng ninja. Kenzie mengenakan topeng ninja dengan motif wajah tengkorak, sedang istrinya mengenakan menpo dengan bentuk hidung dan bibir setan yang menyeringai memamerkan taringnya.
"Bakar gudang-gudang dan pabrik itu." ujar Kenzie.
kelompok itu berpencar menjadi dua kelompok besar. Kenzie memimpin kelompok yang akan menghancurkan pabrik, sedang Chiyome memimpin kelompok yang akan menghancurkan gudang-gudang penyimpanan.
__ADS_1
"Siapa disana?!" seru salah satu penjaga yang langsung sigap mengarahkan moncong pistol.
Chiyome dengan cekatan maju melemparkan sebatang paku.
JLEB!!! AAAAKKKHHH
paku itu menancap tepat dipunggung tangan penjaga yang memegang pistol membuatnya berteriak keras dan melepaskan senjata itu. dengan gerak cepat Chiyome menghambur menghunus Si Penebas Angin dan mengayunkannya.
SRET...SRETTTTT....
dua kali tebasan Si Penebas Angin yang diayunkan Chiyome berhasil membuat pakaian penjaga itu robek dan akhirnya ia telanjang bulat disana menyisakan cawat yang membungkus area selangkangannya. dengan pekik nyaring penjaga itu hendak lari namun tendangan yang diarahkan Chiyome pada ulu hatinya membuat penjaga itu sempoyongan dan ambruk tak sadarkan diri.
Chiyome memang diperintahkan Kenzie untuk tak menjatuhkan tangan jahat kecuali dalam posisi yang sangat darurat. ia tak mau sisi kelam Kembang Kematian menguasai lagi jati diri istrinya.
dengan sekali isyarat, Chiyome memerintahkan kelompoknya menghambur kedalam gudang. mereka mengobrak-abrik barang-barang jadi yang siap untuk dipasarkan lalu kemudian membakarnya. setelah itu Chiyome menyuruh kelompoknya untuk segera melarikan diri.
wanita itu bergegas menuju arah pabrik. langkahnya sempat terhenti ketika mendengar beberapa kali bunyi tembakan. dengan menggeram, Chiyome berlari memasuki pabrik.
disana ia mendapati dua orang anggota kelompok telah menjadi mayat. pandangannya menghampar mencari-cari sosok suami kecintaannya.
Kenzie bersembunyi disalah satu drum besar dan sesekali membalas tembakan. sementara anggota yang lain bersembunyi dibeberapa tempat, tak mampu membalas serangan karena mereka tak memiliki senjata api.
"Kishamaaaaa....." teriak Chiyome dengan gusar.
Kenzie terkejut dan menoleh melihat istrinya yang menggenggam Si Penebas Angin maju menghambur tanpa takut. kelihatannya sisi Kembang Kematian sudah merasuk kedalam dirinya. hal yang paling ditakutkan Kenzie terjadi.
Chiyome berpesta darah, membantai siapapun penjaga bersenjata yang dilewatinya. Si Penebas Angin berpesta darah menikmati setiap tetes darah para penjaga yang merasai bilah tajamnya. Chiyome bagaikan kerasukan dewa perang Hachiman terus menari meraup nyawa para penjaga yang ditewaskannya.
Kenzie hanya bisa bengong sambil menyarungkan lagi revolver magnumnya kesarungnya dan berdiri menatapi Chiyome menghabisi penjaga terakhir.
Kenzie langsung memerintahkan kelompoknya melarikan diri menggunakan dua mobil.
"Bos! bagaimana dengan diri Bos?!" tanya salah satu anggota kelompok itu.
"Jangan pikirkan aku! segera kalian pergi!!!" seru Kenzie dengan tegas. "Aku menunggu kalian di tempat biasanya, lusa hari kemudian! pergilah!"
dengan enggan penuh rasa hormat, orang itu memimpin kelompok meninggalkan tempat itu. mereka sesuai perintah Kenzie, melarikan diri menggunakan dua mobil.
Kenzie mendekati Chiyome yang telah menyarungkan Si Penebas Angin. wanita itu menghela napas dan berbalik menatap Kenzie.
"Gomen Hubby... Wiffy nggak bisa menahan diri, habisnya Wiffy melihat Hubby didesak dan tak mampu meloloskan diri." kata Chiyome dengan suara serak. ia takut Kenzie akan memarahinya, sebab keduanya sudah sepakat agar Chiyome tak menumpahkan darah.
Kenzie hanya memeluk wanita itu. Chiyome sendiri akhirnya menangis sesenggukan. Kenzie menyapu punggung istrinya.
"Hubby bersyukur Wiffy nggak kenapa-kenapa. Hubby nggak bisa membayangkan jika peluru senjata api para penjaga itu mengenai Wiffy...." kata Kenzie.
"Gomen Hubby..." ujar Chiyome sekali lagi.
Kenzie melepaskan pelukan wanita itu dan wajahnya mendekat lalu keduanya menyatukan bibir mereka dalam pergumulan. setelah puas, Kenzie menatap istrinya.
"Ayo kita tinggalkan tempat ini." ajak Kenzie.
keduanya kemudian meledakkan pabrik tersebut lalu berlari meninggalkan tempat yang telah dipenuhi gejolak lautan api. Kenzie dan Chiyome melarikan diri ke hutan. namun sebelumnya Kenzie telah mengontak relasinya untuk menyiapkan helikopter.
sejam kemudian, capung besi itu tiba dan mencari keberadaan Kenzie berdasarkan sinyal elektronik yang dipancarkan lelaki itu melalui perangkat khusus pada gawainya. kendaraan udara itu berhasil menemukan pososi kedua laki-istri itu dan membawa mereka meninggalkan tempat tersebut. malam kini merangkak jauh menuju pagi.
...****...
sementara persembunyiannya, Stefan meraung marah dan melemparkan apa saja yang disentuhnya. perusahan keluarganya kolaps dalam semalam. terpaksa perusahaanya menjual sebagian besar saham kepada kompetitor bisnisnya. dan lelaki itu shok.
pasalnya, 98% saham perusahaannya dibeli oleh Buana Asparaga.Tbk yang notabene merupakan perusahaan milik keluarga Aisyah. dan perusahaan itu memaksa PT. Muara Jaya milik keluarga Waworondou merger menjadi anak cabang perusahaan dari Buana Asparaga.Tbk.
Stefan telah bangkrut. ia jatuh miskin dalam semalam. uratnya mengencang. matanya memerah.
"AISYAAAAAAH..... AKU AKAN MEMBUNUHMU! KITA LIHAT SAJA, SIAPA YANG TERAKHIR TERTAWA!!! AAAAAAAKHHHHH!!!!"
__ADS_1
suara lelaki itu bergema dalam ruangan yang nyaris kosong. []