Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 67


__ADS_3

ucapan Trias bagai petir yang menyambar pendengaran semua guru yang berada diruangan itu. terlebih kepala sekolah. lelaki itu berdiri dan melangkah mendekati pemuda itu. Kenzie yang melihatnya hanya bisa menatapi Trias dan kedua orang tua itu bergantian. ia memang tak senekad Trias. tapi jika sebuah kebenaran terpaksa dikuakkan, apa boleh buat.


"Pak... sebenarnya..." kata Kenzie. namun ucapan pemuda itu tak terlanjut ketika kepala sekolah mengangkat telunjuknya menyuruh Kwnzie diam.


kepala sekolah menatapi Trias begitu lama. yang ditatap pun juga tak pernah menundukkan wajahnya. ia menantang wajah pemimpin sekolah itu dengan tenang. sementara Adnan dan Endrawan menunggu reaksi yang terjadi.


"Benarkah yang kau katakan itu?" tanya kepala sekolah.


"Benar Pak! itulah sebab saya tidak terima Budi menghina saya lewat Iyun. dia berani melanggar pagar ayu saya!" jawab Trias dan mengarahkan tatapan paling mencorong kepada Ibu Kartin. wanita gendut itu langsung salah tingkah dan menciut nyalinya ditatap pemuda itu.


"Tapi...." kata kepala sekolah itu.


"Kami menikah siri di Pesantren Hubulo atas permintaan keluarga besar Iyun. kedua pihak sepakat agar kami berdua tidak terjerumus kepada zina. dan kami berdua juga sudah siap dengan resiko itu. makanya kami melakukannya dengan menggunakan pengaman agar istri saya tidak hamil sebelum kami berdua lulus dari sekolah." jawab Trias lagi kali Ini tatapannya lebih tegas dengan dagu yang terangkat.


"Dokumen pernikahannya..." tanya kepala sekolah.


"Kami tak memerlukan dokumen. nikah siri dilakukan atas kesepakatan dua keluarga besar." jawab Trias tanpa ragu.


semakin besar keyakinan kepala sekolah itu karena Trias terus menjawab dan wajahnya begitu tenang dalam memaparkan kisah pernikahannya.


"Saya sudah bilang sama Budi .jika dia sentimen kepada saya. silahkan. asal jangan bawa-bawa nama Iyun. dan anda berdua tahu apa yang dia proklamirkan dihadapan saya sehingga saya menggasak lobang mulutnya dengan bogem saya?!" pancing Trias dengan tatapan yang sama dan semakin tajam ditujukan kepada Ibu Kartin.


karrna tak ada jawaban dari kepala sekolah dan perwalian kelas 11A, Trias langsung menyambung, "Gagah berani dan tanpa permisi dia menyatakan cinta kepada istri saya. pak kepala sekolah, apakah anda rela ada seorang lelaki yang langsung mengatakan rasa cinta kepada istri anda dihadapan anda? anda bisa mentoleririnya?! saya mau lihat sejauh mana kejantanan anda diuji." sindir pemuda itu.


kepala sekolah itu menelan ludahnya. ia melangkah mundur dan bersandar pada sisi mejanya. Trias menatapi perwalian kelas 11A.


"Itukah keteladanan yang harus kita ikuti dari anak-anak 11A yang katanya waaaaaaw... the amaziiing.. Puih!" dengan emosi memuncak bahkan Trias meludah dihadapan kedua orang itu. "Jadi mana yang sebenarnya hebat dalam mendidik kami pak? pak Risno? atau Ibu Kartin?" pancing Trias.


tatapan Ibu Kartin membesar. siswa itu bahkan berani mempermalukannya dihadapan kepala sekolah. kejadian 2 tahun lalu terulang lagi. dan Ibu Kartin kini yang menjadi pesakitannya.


"Bapak tahu kehebatannya perwalian kelas saya? dia bisa mentolerir sekaligus bisa menekan kenakalan kami. saya tertidur dikelas karena lelah mengurus proses pernikahan kami. apa yang Pak Risno buat? mengusir saya? tidak pak..dia justru brilian, mengajak teman-teman belajar pake bahasa isyarat supaya saya puas tidur tak terganggu. kalau saya jadi Bapak. saya akan rekomendasikan dia untuk menggantikan bapak jadi kepala sekolah disini!" tandas Trias.


deg.


kepala sekolah sendiri terkejut dengan ucapan siswa itu. "Kamu sudah melanggar batasmu sebagai siswa, Trias." tegur Pak Risno.


"Maaf pak. ini bukan pelanggaran. ini aspirasi. dan aspirasi nggak dilarang disini selama tidak ada unsur kudeta. apakah saya mengkudeta kepala sekolah disini? tidak! saya menyatakan aspirasi dihadapan bapak ibu. kalau saya menyatakan aspirasi dihadapan pam kepa dinas, itu baru bisa dikatakan kudeta karena posisi pak kepala dinas lebih tinggi dari posisi kepala sekolah yang dengan itu dia bisa saja melengserkan pak kepala sekolah dan menggantinya dengan pejabat kepala sekolah yang baru." jawab Trias panjang lebar.


Adnan dan Endrawan terperangah dengan kecakapan bicara Trias. anak itu begitu jenius. Pak Risno dalam hatinya begitu bangga dengan Trias. Kepala Sekolah tak menyangka bahwa anak itu jenius melebihi usianya sendiri.


kepala sekolah itu menatapi Ibu Kartin. "Bagaimana gaya pendidikan ibu kepada anak-anak kelas 11A?" selidik kepala sekolah.


"Berkicau tidak pada tempatnya, menghasut, dan melegalkan bullying, menciptakan diferensiasi sosial dilingkungan sekolah!" beber Trias semakin membuat wajah ibu guru itu memucat dan menunduk.


Adnan menatap Trias. "NAK, JANGAN BICARA SEBELUM DIPERINTAHKAN!!!" tegur lelaki itu dengan suara mengintimidasi. Trias langsung menunduk.


"Maaf, Om..." jawab Trias.


Adnan mendehem. "Saya pikir untuk masalah internal sekolah, kami tidak mau ikut campur. saya sendiri akan menghadap kepada kepala dinas, akan meminta solusi bagaimana bisa menempatkan permasalahan ini pada tempatnya yang benar, tanpa mengorbankan masa pendidikan anak-anak kami." lelaki itu berdiri diikuti oleh Endrawan. Adnan pamit dan diikuti oleh Endi dibelakang.


sebelum keluar, Endi masih sempat memberi isyarat 2 jempol degan kedua tangannya dan melangkah kwliar menyusun Adnan.


Trias menatapi suasana yang tegang dalam ruangan itu. ia mendehem.


"Perkenankan kami keluar agar permasalah interen perwalian kelas dan kepala sekolah tidak akan terganggu." kata Trias.


kepala sekolah mengangguk dan menyuruh kedua anak itu meninggalkan ruang kepala sekolah. dengan santai kedua sekawan melangkah keluar dari ruangan tersebut dan langsung menuju halaman sekolah.


"Yas, apakah aku juga harus jujur tentang status kami berdua?" tanya Kenzie dengan lirih.


"Ken, ingat pesan Papamu. jangan bicara sebelum diperintahkan. intinya kau diam saja. jangan over akting. apalagi bawa-bawa buaya segala. kalau ketahuan, jangan membantah." jawab Trias.

__ADS_1


keduanya kembali melangkah menyusuri lorong sekolah menuju kelas 11F.


sesampainya disana, mereka melihat semua siswa kelas 11F, berdiri menatapi mereka. kedua anak lelaki itu saling berpandangan sejenak. Trias menatapi mereka satu persatu.


"Ada apa ini? kenapa kalian memandangi kami seperti itu?" tantang Trias.


Fendi Modanggu, ketua kelas 11F maju. keduanya kini berhadapan. lelaki kekar dengan rambut cepak itu menatapi mata Trias.


"Apakah semua masalah harus diselesaikan dengan perkelahian?" tanya Fendi sambil melipat tangannya.


se'eh... pertanyaan ini lagi. nggak ada pertanyaan lainkah?


Trias mendongak menatapi langit-langit ruangan lalu membuang napasnya. setelah itu pemuda itu menantang lagi tatapan ketua kelasnya.


"Fen, apa yang kulakukan memiliki alasan tertentu. aku nggak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan. kau tahu itu, kan?" jawab Trias.


"Tapi tindakanmu itu... aku sendiri heran melihat kondisi kelas 11A. kamu nggak sedang terobsesi menjadi Kratos si Dewa Perang itu, kan?" selidik Fendi.


Trias sejenak menatapi Kenzie yang masih diam. pemuda itu kembali menatapi Fendi. "Kamu rela, jika mereka menghujatmu menggunakan nama orang yang kau sayangi?" tanya Trias.


"Nggak sesederhana itu, Trias." jawab Fendi.


"Jawab saja pertanyaanku!" potong Trias.


"Aku tak rela." jawab Fendi. Trias langsung menampar bahu ketua kelasnya.


"Terima kasih atas dukungannya." jawab Trias sambil kembali ke bangkunya dan duduk disana.


Fendi mendekati Kenzie. "Apa seperti itu yang dia lakukan?" tanya Fendi dengan lirih.


Kenzie mengangguk. Fendi menarik napas dalam. "Tapi gara-gara itu, perwalian kelas kita terlibat adu mulut dengan perwalian kelas mereka. aku sempat mendengarnya." kata Fendi dengan lirih.


"Setelah ini, ibu Kartin tak akan berani lagi mengangkat wajahnya dihadapan kelas 11F." tandas Kenzie lalu kembali ke bangkunya. sebelum ia duduk, ditatapinya seluruh anak-anak kelas 11F.


...*******...


Chiyome habis saja memeriksakan kandungannya dibagian kebidanan. gadis itu melangkah dan menggelayut manja dilengan Mariana.


wanita itu sendiri melangkah dengan anggun melintasi koridor rumah sakit tu. ada beberapa pengunjung yang memperhatikan kedua wanita itu, lebih ke arah Chiyome yang memang sangat kentara. mereka sering menduga bahwa anak perempuan itu kecelakaan sehingga sedang diperiksakan ke spesialis kandungan tentang jangka kehamilannya.


Mariana tak perduli apa omongan orang disekitarnya. ia saat ini gembira dan tak mau kegembiraannya tercemar dengan opini yang sering tak masuk akal.


"Habis ini kita kemana Ma?" tanya Chiyome.


"Habis ini mau adek apa?" Mariana balik bertanya.


"Aaaa... terserah Mama deh. Adek ikut saja." jawab Chiyome dengan manja.


"Ihhh... kok persis Kaka sih? kemana aja maunya Mama." kata Mariana sambil mencubit hidung Chiyome yang kecil.


"Augh Maa.." Chiyome meringis "Sakiiiit... Adek nggak tanggung jawab kalau Hubby marah lhooo..."


"Alah... nggak berani Hubby marah sama Mama..." olok Mariana. "Udah ah, kemana kita? makan dulu yauk?" ajak wanita itu.


dengan wajah jenaka, memamerkan seringai gingsulnya, Chiyome mengangguk. keduanya kemudian keluar dari RSIA Siti Khadijah lalu mencegat bentor yang diminta Mariana menuju Rumah Makan Joglo Ijo di jalan Medi Botutihe.


kendaraan roda tiga itu kemudian melaju sedang menuju tempat yang disebut oleh Mariana. Rumah Makan Joglo Ijo seperti namanya. sebuah bangunan semi permanen dengan atap bentuk joglo. halaman nya luas dan terlihat beberapa kendaraan roda dua dan roda empat terparkir.



Mariana turun dari bentor lalu membantu Chiyome turun. setelah membayar ongkos jalan, bentor itu melaju meninggalkan keduanya di depan gapura besi sederhana bercat hijau.

__ADS_1


"Ayo masuk." ajak Mariana.


Chiyome mengangguk dengan gembira. keduanya melangkah menyusuri halaman rumah makan itu hingga mereka tiba didalamnya.



Chiyome melihat gaya penataan bangunan itu mirip dengan gaya restoran Sakura-Nabe-Nakae di Tokyo dengan penggunaan sekat alih-alih membiarkannya menjadi ruangan luas. kemudian didepan sekat-sekat itu terhampar kolam.


Mariana dan Chiyome sepakat menggunakan sekat diujung agar lebih bebas dan tidak berupaya mengganggu pengunjung lain dengan obrolan mereka.



"Sekarang hak Adek mau pesan apa. Mama adakan semua. kalau perlu semua makanan disini Adek borongin semua, Mama iyakan deh." kata Mariana dengan semangat lalu tertawa.


"Ih, Mama lebay. mana bisa Adek habisin semua? yang ada Adek kesesakan karena perut penuh isi." jawab Chiyome sambil terkikik. "Tapi, Mama is the best deh. Watashi no Okasan wa kakkoi." ujar Chiyome sambil mengangkat 2 jempol kepada Mariana.


Mariana tertawa. "Sudah, jangan banyak muji. ayo ambil lembar menu itu, Adek pesan aja ya? Mama mau telpon Papa."


Mariana merogoh tas dan mengeluarkan ponsel kemudian menekan nomor Adnan. tak lama kemudian terdengar nada sambung.


📲 "Assalamualaikum, Pa.." sapa Mariana. tak lama terdengar suara disana. Mariana mengangguk.


📲 "Baru selesai check up. usia kehamilan Adek masih 2 minggu. Mama akui, Kenzie tokcer juga ya.." Mariana tertawa lagi. beberapa saat kemudian senyumnya memudar dan itu tak lepas dari perhatian Chiyome yang menggunakan tatapan peripheralnya.


📲 "Ah, masa sih? kok segitu bobroknya? lalu gimana tanggapannya Bang Endi?... kalau perwaliannya, itu Pak Risno bagaimana?..... tapi Kenzie nggak ketahuan,kan?.... alhamdulillah, Mama kira Kenzie juga ketahuan... ya sudah. biarkan saja dulu. selama Kenzie tidak gatal mulut memberitahukan status pernikahannya, kita masih bisa mengaturnya..... iyalah... nanti Papa diskusikan iru dengan Pak Husin Ali di Kanwil Diknas. iyalah.... oke... uhm... ya. Assalamualaikum."


Mariana memutuskan sambungan seluler. lalu menyimpan kembali ponselnya dan menatap Chiyome.


"Sudah dipesan?" tanya Mariana.


Chiyome mengangguk. Mariana mengambil buku notes dan pulpen yang tersedia disisi meja. ia menuliskan semua pesanan Chiyome beserta pesanannya sendiri kemudian memanggil pelayan.


tak berapa lama pelayanpun datang. Mariana menyerahkan kertas pesanan itu. "Sementara ini tolong hidangkan jus alpukat ya," Mariana menatapi Chiyome. "Adek nggak mual-mual?"


Chiyome menggeleng. Mariana meminta jus alpukat dua gelas. pelayan itu mengangguk lalu pergi meninggalkan kedua perempuan itu.


"Ada apa Ma? tadi Adek liat kok Mama seriusan telponan dengan Papa." tanya Chiyome.


"Trias dan Kenzie buat keributan disekolah. ada anak kelas 11A yang menghina Trias dan terjadilah keributan itu. keduanya memang membuat anak-anak laki-laki dikelas 11A kesakitan." kata Mariana.


tak lama kemudian datang pelayan membawa baki berisi dua gelas jus alpukat. pelayan itu meletakkan gelas itu dimeja lalu meninggalkan mereka.


Mariana melanjutkan keterangannya. "Keduanya lalu digiring ke ruang Konseling lalu dipanggil Kepala Sekolah untuk menjelaskan lebih detil alasan terjadinya keributan itu."


Chiyome mengambil gelas itu dan meletakkan sedotan ke bibirnya lalu mulai menyeruput minuman tersebut. "Trus Ma?"


"Ketika terjadi adu mulut dengan perwalian kelas 11A, dengan jujur, Trias membuka status pernikahannya dengan Iyun. kepala sekolah dan kedua perwalian itu benar-benar terkejut dengan berita itu." kata Mariana.


"Tadi Mama singgung-singgung tentang Om Endi. ada apa dengan Om Endi, Ma?" tanya Chiyome.


"Bang Endi mulanya terkejut dengan keberanian Trias mengungkap status pernikahannya. tapi memang semuanya harus diungkap karena menyangkut harga diri dan pagar ayu." jawab Mariana.


"Pagar ayu?" tanya Chiyome.


"Iya, pagar ayu. maksudnya pagar ayu adalah kehidupan pribadi suami istri. masalahnya ada satu anak yang terang-terangan mengungkap cinta kepada istrinya Trias. itu latar belakang terjadinya keributan itu." jawab Mariana.


"Anak itu sudah gila rupanya." timpal Chiyome. "Adek saja nggak rela ada ngedeketin Hubby. belum nikah saja Adek secemburu itu, apalagi sudah nikah begini." tanpa sadar Chiyome jujur dengan hatinya.


Mariana menahan tawa, "Oh ya? hm...Adek yakin banyak yang naksir Kenzie?"


"Banyak Ma. Adek bisa liat mata-mata mereka. tatapan mereka ke Hubby. tapi Adek bersyukur.... Hubby tak pernah lari dari Adek." kata Chiyome kembali menundukkan wajah yang sudah memerah.

__ADS_1


Mariana tertawa. "Sudah ah. nanti kita ngomong-ngomong itu dirumah saja ya?"


tak lama pesanan datang. dua orang pelayan datang membawa baki berisi hidangan. meja itu penuh dengan jenis hidangan, membuat Mariana sempat takjub. tapi ia mengerti bahwa nafsu makan wanita hamil memang cenderung meningkat. Mariana sendiri sering menegur Chiyome agar makan pelan-pelan, kuatir tersedak. anak perempuan itu, mentang-mentang hamil, gaya makannya seperti orang kesurupan. lahap dan tak berjeda. []


__ADS_2