
Kenzie sedang berbaring diberanda menjadikan paha Chiyome sebagai bantalnya. gadis itu sendiri hanya duduk dan membiarkan kepala pemuda itu bermanja dipahanya. jari-jemari lentiknya terlalu betah untuk membelai rambut pemuda tersebut.
pemuda itu menentang tatapan gadis yang juga terhujam kedalam tatapannya. keduanya sesekali senyum dan sesekali tertawa. entah apa yang ada dalam pikiran keduanya yang sedang dilanda euforia kasmaran itu.
Kenzie, setelah mendapat dukungan moril dari ayahnya semakin memantapkan hatinya untuk menetapkan nama gadis jepang itu dalam relung hatinya. dia telah menggemboknya dengan nyawanya sendiri.
"Chiyo..." panggil Kenzie.
gadis itu menatapi Kenzie sambil menaikkan alisnya.
"Anata no tanjoubi wa itsu desuka?" tanya Kenzie kembali dengan senyuman khasnya. Chiyome membulatkan matanya, takjub dengan kemampuan berbahasa pemuda itu. gadis itu kembali tertawa.
(kapan ulang tahunmu?)
"Kenapa? lucu ya?" tanya Kenzie ikut tertawa pula.
"Doko de nihon go o naraimashitaka?" tanya Chiyome sambil membelai rambut kekasihnya.
(dimΓ na kamu belajar bahasa jepang?)
"Aku sering liat kamus online..." jawab Kenzie dengan polos. "Sudah, jangan keterusan pake bahasa itu. aku belum bisa. tadi saja cuma coba-coba." ujar Kenzie buru-buru sebelum Chiyome mencecarnya dengan percakapan bahasa jepang.
Chiyome kembali tertawa pelan dan mencubit hidung bangir pemuda itu dengan gemas.
"Tapi ucapanmu sudah mirip dengan bicara orang jepang. kamu punya bakat." puji Chiyome.
"Ohya? Arigatooo..." balas Kenzie sambil membelai pipi Chiyome dan kembali meletakkan tangannya bersedekap didada.
"Kau belum jawab pertanyaanku Chiyome." kata Kenzie.
"Nani...?" (apa?) tanya Chiyome.
"Ulang tahunmu..." jawab Kenzie.
gadis itu tersenyum. "20 Mei..." jawabnya. pikiran jahil muncul dibenak gadis itu. dia ingin menggoda kekasihnya.
"Memang kalau aku ulang tahun, kamu mau kasih hadiah apa?" tantang Chiyome.
lama Kenzie menatapi mata gadis itu, kemudian tersenyum. "Cincin pernikahan..." jawab Kenzie dengan lembut.
jawaban pemuda itu langsung membuat wajah gadis itu jadi panas. hormonnya langsung meningkat.
"Aku serius, Ken-ken..." kata Chiyome berupaya mengusir sensasi aneh dalam benaknya, nyatanya tidak bisa.
"Kamu melupakan lagi satu kata yang mesti kau sematkan padaku setiap kita memulai percakapan..." kata Kenzie.
"Apa itu?" tanya Chiyome.
"Hubby..." jawab Kenzie sambil tersenyum lagi.
jawaban kedua Kenzie makin membuat Chiyome tak mampu lagi mengusir sensasi itu. wajahnya memerah dan desahan keluar dari bibirnya.
"Kenzie...." desah gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca. pemuda itu menatapinya dan tersenyum.
"Sudah kubilang... sematanku apa? sebut dong." rajuk pemuda itu membuat gadis itu semakin gemas.
"Hubby...." ucap Chiyome pada akhirnya meskipun dengan rasa malu dan jengah luar biasa. Kenzie kembali tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa Jauzi?" tanya Kenzie, semakin melambungkan rasa gadis itu.
"Kau yakin dengan hubungan kita ini?" tanya Chiyome.
Kenzie menarik kepalanya dari paha gadis itu. kini ia duduk menatapi Chiyome. "Maksud Jauzi apa?"
Chiyome menunduk lama. Kenzie menyentuh dagu gadis itu dan mengangkatnya. "Tatap aku..." pinta Kenzie.
Chiyome menatapinya. Kenzie mendesah. "Apa yang kau ragukan?" tanya Kenzie.
Chiyome justru memalingkan wajah dan nampak matanya mulai lagi berkaca-kaca. bibirnya bergetar, sangat kentara ia berupaya menyembunyikan tangisnya yang mau keluar.
"Kau takut karena kita terpisah oleh lautan? kau takut karena kuatir tak mendapat restu orang tua? kau takut aku tak serius?" tanya Kenzie dengan lembut.
Chiyome kembali menunduk tapi nampak sekali butir-butir air jatuh. dan jelas itu dari kedua matanya yang basah. tubuh gadis itu gemetar.
"Chiyo....aku mencintaimu seumur hidupku. aku akan perjuangkan cintaku pada ayahmu. aku takkan melepaskan kamu. kau tahu kenapa?" pancing Kenzie.
Chiyome tetap menunduk. kali ini ia berkali-kali menyusutkan air mata dengan punggung tangannya.
"Tidak ada lagi yang bisa memenuhi hatiku. semuanya telah kau hinggapi." jawab Kenzie kemudian menangkup wajah Chiyome dengan kedua tangannya.
"Malam ini kembali akan kutegaskan padamu. dan jangan pernah lagi meragukanku!" tandas Kenzie. setelah itu pemuda itu berdiri dan melangkah kehalaman.
sesampainya dihalaman, Kenzie berbalik. pemuda itu tersenyum dan menarik napas lalu mengeluarkan energinya.
"CHIYOME MOCHIZUKI! AKU MENCINTAIMU DARI HATIKU. KAU RACUNKU, AKU PENAWARMU. KAU MALAMKU, AKU SIANGMU. MAUKAH KAU MENJADI BELAHAN NYAWAKU???"
Kenzie mengembangkan tangannya dengan wajah yang teduh dan senyuman yang menerbangkan khayalan.
Chiyome bergegas bangkit dan berlari menyongsong pemuda itu. sekali lagi tubuh Kenzie terdorong kebelakang akibat pelukan gadis itu. perlahan gaya tarik gravitasi bumi menarik kedua insan yang berpelukan itu kehamparan halaman itu. Chiyome menindih tubuh Kenzie, namun tak sedikitpun pemuda itu merasakan sakit. cinta memang menjadi obat mujarab penghilang rasa sakit.
Kenzie menatapi wajah gadis yang merona itu. matanya basah dan kedua telunjuk pemuda itu maju menyusut sisa sungai kecil yang membasahi pipi gadis tersebut.
Chiyome menyandarkan kepalanya ke dada pemuda itu Kenzie sendiri merebahkan kepalanya membiarkan tanah menjadi bantalnya, Chiyome menjadi selimut hangatnya dan langit menjadi saksi pernyataannya. kedua tangan pemuda itu membelai rambut dan punggung gadis itu.
dan Chiyome kini tidak perlu lagi meragukan cinta pemuda itu. dia hanya perlu waktu membuka dirinya kepada Kenzie karena masih banyak misteri dirinya yang belum diketahui pemuda itu.
dan rembulan semakin malu melihat sepasang kekasih yang berbaring dipunggung bumi itu. ia sembunyi diawan seakan cemburu dan menantikan mentari datang memeluknya, sang rembulan rela, meskipun kedatangan sang mentari akan menyebabkan gerhana yang akan mengoncang ekosistem yang selama ini tertata baik.
...*******...
Trias dirumahnya berbaring diranjang namun kantuk tak kunjung datang walaupun sekedar menyapa saja. bayangan wajah Iyun menari-nari menciptakan sebuah bioskop khayal yang terpampang didinding kamarnya.
lusa adalah hari pernikahan mereka, meskipun dilaksanakan secara siri dan hanya mengundang satu-dua orang anggota keluarga. namun itu adalah hari yang sakral dan mendebarkan.
sedang apakah Iyun dirumahnya? apakah ia baik-baik saja? apakah dia juga sulit tidur sepertiku?
berbagai macam pertanyaan menggelayut dibenak pemuda itu. jengkel dengan kedua matanya yang masih nyalang seperti baterai Dura 2X, Trias kemudian bangkit keluar dari kamarnya. tak ada siapa-siapa diruangan. pemuda itu kemudian menuju dapur dan mulai meracik kopi hangat yang dia campur dengan serbuk jahe. setelah itu ia membawa gelas tinggi dan ponsel menuju beranda kemudian duduk disana sendirian.
angin malam yang dingin tak mengusik dirinya karena kantuk benar-benar menghindar darinya sejak tadi. pemuda itu meletakkan gelas tinggi berisi cairan kopi di meja lalu duduk dan membuka fitur ponselnya.
iseng-iseng ia membuka whatsapp dan menulis sesuatu ke Iyun. tak lama terdengar bunyi bip. pemuda itu melihat layar ponsel.
pesan dari Iyun. kedua mata Trias tambah melebar.
β¨ hai Pi...Mimi kangen. nggak bisa tidur.."
Trias tersenyum lalu mengambil gelas dan menyeruput isinya. kemudian ia mengetik lagi.
β¨ "Pipi juga nggak bisa tidur... nggak tahu kenapaπ " jawab Trias.
__ADS_1
tak lama kemudian muncul lagi sebuah chat dari Iyun.
β¨ "Kok sama ya? jangan-jangan kita connect nih... Pipi lagi pikirin apa sih?"
Trias mengetik lagi.
β¨ "Lagi mikirin kamu... Papa bilang, lusa kita nikah..."
tak lama muncul lagi chat dari Iyun:
β¨ "Pipi gugup ya? sama..Mimi juga gugup ... deg-degan nih..."
Trias tertawa sejenak, lalu mengetik lagi:
β¨ "Pipi gugup karena 2 hari lagi kita akan tidur barengan diranjang yang sama..."
tak lama muncul lagi chat namun bukan tulisan, melainkan emonji
β¨ " π€ͺπ€ͺπ₯° "
Trias kembali menyeruput kopi dan kembali mengetik.
β¨ "Tidurlah Mimi... nanti kalau ke sekolah nanti nggak konsen karena ngantuk.."
tak lama muncul lagi chat dari Iyun.
β¨ "Kayaknya Iyun nggak diijinkan Abah ke sekolah... katanya sekarang Iyun dipingit, sampe selesai nikah..."
Trias geleng-geleng kepala lalu mengetik lagi.
β¨ "Ya sudah... Pipi mau tidur...Mimi juga ya? bye..πππ"
setelah mengirim pesan itu Trias menutup aplikasi whatsapp lalu kembali larut dalam kesendiriannya menyeruput kopi dan membiarkan angin malam menyapu tubuhnya.
tak lama Endi keluar karena melihat pintu terbuka. ketika ia melangkah diberanda ia melihat Trias duduk disana sambil menikmati minuman kopi buatannya.
"Hem mongola yi'o teye?" tanya Endi dengan heran.
(ngapain kamu disini?)
Trias menatapi ayahnya sejenak lalu kembali mengarahkan tatapannya ke jalan yang sunyi.
"Trias nggak bisa tidur Pa..." jawab pemuda itu.
Endi akhirnya masuk lagi. agak lama hingga akhirnya muncul diberanda juga membawa gelas tinggi yang berisi cairan kopi. lelaki itu duduk disisi yang agak berjauhan. Endi mengeluarkan bungkus rokok, membukanya dan mengambil sebatang dan menyelipkannya di belahan bibirnya. lelaki itu menyalakannya lalu menghisap asap yang keluar dari gabus filter rokok tersebut.
"Kau memikirkan apa?" tanya Endi sambil menghembuskan asap dari mulutnya.
Trias lama dalam diamnya. tak lama pemuda itu menghela napas.
"Sepeda motor Trias mana Pa?" tanya pemuda itu tanpa menatap ayahnya.
Endi memasukkan lagi rokoknya ke mulut dan menyesap asap rokok. "Sudah, kemarin ayah sudah beli. tinggal dibawa kemari."
"Itu sekalian sudah dimodif apa belum?" tanya Trias.
"Itu ayah nggak tau. tapi ayah sudah bilang kalau disuruh modif. gambarnya sudah Papa kirim. tambah ongkos sedikit, tapi biarlah. yang penting jadi bagus dilihatnya." jawab Endi ditengah mulutnya yang nyerocos mengepulkan asap demi asap membuatnya lebih nampak seperti lokomotif saja.
"Baguslah... kendaraan itu akan kugunakan bersama-sama Iyun jalan-jalan menikmati pemandangan setelah kami nikah nanti. " jawab Trias dengan senyum meskipun datar.
"Iya... nanti Papa kasih tau sama orangnya supaya motormu diantar pas jam 6. puas?" ujar Endi sambil menghabiskan sebatang rokok dan membuang puntungnya di tangga rumah.
__ADS_1
Trias menguap, "Kayaknya sudah ngantuk nih." ujarnya sambil bangkit melangkah meninggalkan ayahnya sendirian diberanda.
giliran Endi yang tak bisa tidur lagi, terpaksa berkawan dingin dan menghabiskan sebungkus rokok tanpa henti. lelaki itu baru masuk ketika Ayam berkokok sebanyak 3 kali. []