
Aisyah tersentuh mendengar kejujuran lelaki itu ditengah isakannya. namun keperempuanannya memaksanya untuk tetap menunduk menahan hati. wanita itu merasa dirinya menjadi kerdil dihadapan bakri. kekerdilan perasaan karena merasa tak pantas menerima cinta lelaki itu.
Aisyah tersenyum hambar. "Terima kasih atas cintamu, tapi untuk saat ini, aku tak memikirkan hal itu lagi. aku sudah cukup sakit untuk yang pertama. aku nggak mau mengulangi rasa sakit itu untuk yang kedua kalinya."
Bakri menunduk dan menarik isakannya. entah mengapa ia menjadi secengeng ini. lelaki itu telah berhasil mengikhlaskan cintanya ketika Aisyah memilih melangkah disisi Stefan. itulah sebab ia lebih memilih karir dan pendidikannya, berupaya melupakan rasa sakit itu dan melapisinya dengan salep kesabaran. ia yakin kehidupan cintanya akan berjalan baik meski tanpa Aisyah disisinya.
namun itu hanyalah ilusi hati. sanubarinya tak menerima rasa itu dan memaksa untuk tetap mengenang Aisyah dalam detik kehidupannya. menjadikan nama wanita itu bagai obat stimulan penggembor semangat untuk berkarir lebih baik.
atas nama cinta terlarang yang dipendamnya dalam hati, Bakri terus melangkah meski pelan namun pasti menjalani hidup hambar namun terasa manis jika sang gadis muncul menyapa dalam mimpi.
rasa sakit itu menguak ketika ia menyadari kehidupan Aisyah yang tak berjalan baik bersama lelaki itu. namun ia tak bertindak apapun, selain itu bukan ranah yang harus diurusnya, lelaki itu tak memiliki kewajiban apapun terhadap gadis itu, melainkan cinta yang selalu ia jaga dalam hatinya.
kini wanita itu telah lepas dan kembali melangkah tanpa pendamping. saatnya ia jujur dan ia telah membicarakannya. namun trauma atas cinta memang membuat orang takut melangkah membuat lembaran batu karena takut akan menemui kegagalan kembali.
Aisyah bangkit hendak beranjak ketika pergelangan tangannya digenggam lelaki itu. wanita itu tertahan dan menatap Bakri.
"Apakah kau tak mau memberi kesempatan kepadaku untuk membahagiakanmu?" tanya Bakri dalam tekur wajahnya, "Aku memang tak sepintar dia yang mampu meluluhkan hatimu. tapi bisakah kau adil pula terhadapku yang sejak dulu mencintaimu?"
Aisyah masih berdiri menatap Bakri yang menunduk. merasa tak mendapat respon, lelaki itu melepaskan genggamannya, membiarkan Aisyah membereskan piring itu dan meninggalkannya sendirian diruang tamu itu.
didapur ketika mencuci piring, Aisyah menumpahkan perasaannya yang sedari tadi ditahannya sekuat tenaga. terdengar lirih suaranya bercampur sesenggukan dan isakan yang silih berganti membentuk sebuah orkestra melankolis menyapu kekeringan hatinya. wanita itu gembira dan bersyukur bahwa ternyata masih ada yang mencintainya dan memintanya mempertimbangkan hati.
setelah menenangkan hati dan mendiamkan gemuruh hati yang menggoncang kesedihannya, Aisyah kembali ke ruang tamu hendak menemui Bakri. namun langkahnya terhenti melihat kesunyian disana. tak ada lagi Bakri disana. lelaki itu telah pergi.
tak lama kemudian terdengar suara nada notifikasi dari ponselnya yang tersimpan disakunya. wanita itu merogoh, mengeluarkan gawainya dan menatapi layar sentuhnya. ada sebuah pesan disana. ia membuka pesan itu.
📂 Maafkan aku telah membuka kembali kepedihanmu tentang cinta. dunia memang tak adil bagi kita berdua. aku mencintaimu lebih dulu dari dia. namun kamu memilih menjalani cinta disisinya yang akhirnya justru nyaris membinasakan kehidupanmu. ketika aku jujur akan perasaanku, kau menjadi bimbang dan terjebak didalamnya. aku tak memaksakan cinta ini jika kau memang tak menginginkannya.... mungkin sebaiknya aku terbangkan saja harapanku bersama angin dan berharap untuk tak kembali lagi...
Aisyah menggenggam ponsel itu dan menggenggam dengan erat, membawanya ke dadanya. wanita itu menunduk dan kembali menumpahkan tangisnya. dengan langkah lemah, wanita itu kembali ke kamarnya.
...*****...
sejak saat itu, Aisyah mendadak sakit. Adnan sangat cemas dan langsung menghubungi dokter. wanita itu nampak bagai putri tidur saja. jantungnya berdetak sangat lemah, nyaris tak berdegup seakan tak semangat lagi memompa darah ke sekujur ujung pembuluh darah ditubuhnya. kulitnya pucat namun wajahnya terlihat begitu tenang.
Mariana sendiri sejak tadi tersedu-sedu. dokter mengangkat tangan. ia hanya menjelaskan jenis penyakit Aisyah masuk dalam kategori depresi.
"Kapan anak ini mengalami hal ini?" tanya dokter.
"Sejak ia mengalami tindakan kekerasan dalam rumah tangganya." jawab Adnan, "Tapi hal itu sudah berlalu karena anakku sudah menjalani terapi penyembuhan. tapi entah kenapa ia down lagi."
dokter mengangguk-angguk, "Tiada cara lain. ia harus kembali menjalani terapi." jawab dokter tersebut. "Lakukan dulu terapi fisik, lalu dilanjutkan dengan terapi psikis."
dokter itu kemudian keluar dari kamar Aisyah diantar oleh Adnan dan Mariana. diruang keluarga telah menanti Kenzie dan Chiyome yang sementara memondong Saburo.
"Bagaimana dokter?" tanya Kenzie.
dokter itu menggeleng dan menghela napas. "Tak ada yang bisa kita lakukan saat ini. wanita itu mengalami depresi berat. saya sendiri tak percaya jika wanita itu telah menjalani terapi penyembuhan trauma paska kekerasan dalam rumah tangga." jawab dokter sambil menatap Adnan yang mengeruhkan wajahnya karena keterangannya diragukan oleh dokter tersebut. "Bukan bermaksud meragukan bapak. tapi biasanya orang yang menjalani terapi kemungkinan kambuh itu sangat kecil. kecuali wanita itu kembali mendapatkan goncangan baru yang membuatnya kembali down."
Kenzie langsung masuk ke kamar Aisyah sementara Adnan dan Mariana mengantar dokter menuju beranda. pemuda itu menatapi sang kakak yang terbaring lemah, tidur bagai tak memiliki nyawa. Chiyome menyusulnya dari belakang.
merasa tak puas, Kenzie menatap nakas, melihat ponsel disana. pemuda itu mendekati nakas dan meraih benda itu kemudian membuka password gawai itu mengaktifkan layar sentuhnya.
Kenzie membuka semua fitur dan jemarinya terhenti pada sebuah pesan dari Bakri. lelaki itu membukanya dan membaca isinya. tak lama kemudian bibirnya tersungging senyuman.
"Ada apa Hubby?" tanya Chiyome.
"Hubby tahu penyebabnya Wiffy! Hubby sudah tahu!" kata Kenzie memperlihatkan ponsel milik Aisyah. ada sebuah pesan yang terbaca disana.
"Ayo kita temui Papa." ajak Kenzie.
keduanya keluar dari kamar dan menemukan Adnan dan Mariana yang duduk dengan lesu disofa keluarga. lelaki itu menatapi pasutri muda itu.
"Kenapa dengan kalian?" tanya Adnan dengan wajah herannya.
"Ken sudah tahu alasannya Kakak tumbang lagi." jawab Kenzie dengan senyum yang sumringah.
Adnan berdiri dan alisnya bertaut. Kenzie maju menyerahkan ponsel milik Aisyah ke tangan lelaki kekar itu. Adnan membaca pesan dari Bakri. lelaki itu membulatkan matanya dan senyum kaku muncul dibibirnya. ditatapinya kembali sang putra.
"Kau brilian! kau brilian!" puji Adnan dengan keras.
Adnan langsung mengambil ponsel dan menghubungi anak buahnya.
__ADS_1
📲 "Bawa Bakri ke hadapanku sekarang juga!!" seru Adnan dengan tegas dan mengintimidasi.
setelah itu ia langsung mematikan sambungan seluler dan menampar pundak Kenzie.
"Papa mandi dan bersiap-siap menerima Bakri. kamu dan Adek, gantikan Papa di kantor. SEKARANG!" seru Adnan dengan wajah kaku.
Kenzie dan Chiyome sejenak saling pandang. tak lama mereka sama-sama mengangkat bahu. Mariana menatap Chiyome.
"Sini, Sandiaga mama yang pegang." kata Mariana.
Chiyome menyerahkan putranya kepada neneknya kemudian wanita itu beranjak menyusul suaminya masuk ke kamar.
...****...
Kenzie masuk kantor langsung menuju ruang kerja ayahnya. ia lalu duduk dikursi kerja dan melaksanakan segala rutinitas yang dilakukan ayahnya. lelaki itu sudah terbiasa menjadi wakil ayahnya dalam melaksanakan segala urusan perusahaan. sebagai pewaris tunggal, ia diwajibkan mengetahui segala sesuatunya tentang Buana Asparaga. Tbk yang suatu saat akan dikendalikannya.
sementara Chiyome menggantikan posisi Kenzie sebagai pimpinan HRD perusahaan. wanita itu kemudian menghubungi bagian kepegawaian dan bagian marketing.
tak lama kemudian orang yang ditugasi bertanggung jawab untuk itu menghadap pada Chiyome.
"Duduk." perintah wanita itu dengan datar.
kedua orang itu kemudian duduk dengan pertanyaan yang berkecamuk dalam hati. Chiyome mengeluarkan berkas dan membukanya lalu menyodorkannya kepada orang yang bertanggung jawab dibidang pemasaran.
"Jelaskan padaku, kenapa kurva kita begini nampaknya?" tanya Chiyome.
orang itu meraih berkas dan membacanya. beberapa kali Chiyome mengamati wajah orang itu menampakkan keterkejutan. ia langsung bisa menduga, ada permasalahan pelik dalam pelaporan itu.
"Bu, ini nggak mungkin." bantah wanita itu. "Selama ini kurva penjualan kita stabil bu, bahkan cenderung surplus karena permintaan banyak hanya bahan mentah kita kurang. selain itu saya punya catatan pribadi untuk itu."
Chiyome mengerutkan dahi. "Catatan pribadi? apa maksudmu?" tanya wanita itu kurang paham.
Dewinta Basumbul, manajer pemasaran itu mengeluarkan gawainya membuka fitur buku kas online dan menyerahkannya kepada Chiyome.
"Saya mendaftarkan segala pengeluaran, pemasukan, hutang piutang perusahaan kedalam buku kas ini. segalanya ada disitu, silahkan ibu memeriksa.
"Sementara aku menyita ponselmu. kamu nggak keberatan kan?" tanya Chiyome.
"Silahkan bu. saya juga nggak mau ini berlarut. ini tentang akuntabilitas dan kredibilitas saya selaku manajer pemasaran." jawab Dewinta Basumbul.
Chiyome memerintahkan kedua orang itu untuk meninggalkan ruangannya. wanita itu kemudian menghubungi suaminya.
📞 "Hubby, Wiffy ke atas sekarang. ada yang ingin Wiffy bahas dengan Hubby." kata Chiyome.
📞 "Ya sudah. Hubby tunggu." jawab Kenzie.
Chiyome meletakkan gagang telepon pada tempatnya dan membawa berkas serta gawai milik Dewinta Basumbul meninggalkan ruangan. wanita itu menaiki lift khusus pejabat perusahaan yang membawanya dilantai puncak.
setibanya disana Chiyome melangkah menyusuri lorong yang membawanya ke ruangan khusus Pejabat Eksekutif Utama. terlihat dipintu kaca, Kenzie sedang sibuk mengetik sesuatu pada laptop, mungkin memeriksa jadwal ayahnya.
pintu membuka otomatis ketika Chiyome melangkah ke dekat pintu tersebut. Kenzie menatapnya lalu tersenyum.
"Hubby... lagi sibuk?" tanya Chiyome.
"Kalau untuk Wiffy, aku nggak pernah sibuk." jawab Kenzie dengan senyum nakal.
"Gombal.." balas Chiyome tersenyum, "Wiffy serius lho, Hubby."
Kenzie tertawa sejenak, menutup laptop dan bangkit dari kursi kerja melangkah menuju sofa.
"Ada apa Wiffy?" tanya Kenzie duduk menyandarkan punggungnya dan menyilangkan kaki.
Chiyome menyerahkan berkas dan ponsel milik Dewinta Basumbul. Kenzie menerima berkas itu dengan alis bertaut.
"Apa nih?" tanya Kenzie.
"Lihat saja. ada beberapa kejanggalan. silahkan diperiksa sendiri." jawab Chiyome.
Kenzie membuka-buka berkas tersebut lalu membuka ponsel. ditatapinya sang istri. "Ponsel ini?"
__ADS_1
"Dewinta mengaku membuat pencatatan pribadi di buku kas online. bagaimana caranya Hubby membandingkan kedua-duanya." jawab Chiyome.
Kenzie membuka fitur tersebut, membaca dan memeriksa lalu membandingkan dengan berkas yang ada. ia mengangguk pelan.
"Ada beberapa kejanggalan... coba kuhubungi tangan ketiga." kata Kenzie kemudian.
lelaki itu menekan nomor dan mendekatkan gawainya ke telinga.
📲 "Ada tugas untukmu. coba kau periksa berkas ini. aku akan mengirimkan filenya padamu. jika kau bisa membuktikannya, hadiah menantimu." kata Kenzie.
pemuda itu kemudian melakukan screenshot beberapa berkas dan catatan dalam buku kas online kemudian mengirimkan ke nomornya. setelah itu Kenzie menatap Chiyome.
"Tenanglah... insya Allah bisa ditangani." kata Kenzie.
Chiyome tersenyum dan mengangguk. Kenzie terkekeh.
"Nah, sekarang tugas Wiffy, layani Hubby di suite. ayo masuk." ajak Kenzie dengan senyum nakal.
Chiyome tersenyum tersipu. Kenzie bangkit lalu menarik tubuh Chiyome mendekat ke tubuhnya. wanita itu bersemu merah.
"Hubby... biar Hubby nggak nuntut, Wiffy kasih kok." jawab Chiyome malu-malu, "jangan disini dong. Wiffy.... malu." kata terakhir diucapkan dengan lirih.
Kenzie tertawa dan langsung menarik Chiyome ke suite pribadi yang ruangannya bersebelahan dengan ruangan kerja.
"Hubby udah nggak nahan. Saburo sering gangguin. kalau disini kan bebas. ayo..." ujar Kenzie membuat Chiyome kembali tersenyum malu-malu.
...*****...
Bakri duduk menundukkan wajah di sofa tamu. Adnan dan Mariana menatapinya seakan Bakri merasa dialah sang tersangka.
"Bakri... jawab dengan jujur, apa maksudmu dalam pesan ini?" tuntut Adnan memperlihatkan pesan singkat dalam layar gawai tersebut.
Bakri melirik sejenak ke ponsel milik Aisyah, lalu menekurkan wajahnya lagi. Adnan mendekatkan wajahnya.
"Kau serius, Bakri?!" tanya Adnan.
Bakri mengangkat wajah menatap lelaki itu, "Bapak mau saya harus bagaimana?"
"Nikahi Aisyah." kata Adnan.
"Dia sudah menolak saya." kata Bakri dengan datar.
"Kapan?" tantang Adnan.
"Semalam." jawab Bakri.
"Bapak nggak percaya." bantah Adnan dengan tandas.
"Mengapa bapak tak percaya? saya sudah jujur dengan semuanya." kata Bakri.
"Jika memang seperti itu, kenapa putriku bisa jadi begitu?!" tanya Adnan dengan suara tinggi.
Bakri terkejut, "Maksud bapak?"
"Sekarang Aisyah terbaring dikamarnya. kau ingin melihatnya?" tantang Adnan.
Bakri berdiri diikuti Adnan, lelaki itu maju duluan menuju kamar Aisyah dan membuka pintu itu selebar-lebarnya. Bakri dengan jelas melihat Aisyah yang terbaring tak berdaya.
Bakri menatap Adnan sejenak. seakan tahu isi hati lelaki itu, Adnan mengisyaratkan Bakri masuk kedalam kamar. dengan langkah cepat Bakri masuk dan duduk disisi ranjang sementara Adnan dan Mariana berdiri dipintu.
Bakri menatapi wajah Aisyah yang pucat. pemuda itu menoleh sejenak kearah Adnan dan Mariana, kemudian menatap lagi Aisyah yang terbujur diranjang.
"Ais...." panggil Bakri.
entah karena kekuatan apa, perlahan mata Aisyah membuka. bola mata itu sejenak jelalatan layu mengedar pandangan hingga tatapannya tiba ke wajah Bakri disisinya. wajah datar itu perlahan berubah ketika airmata keluar membobol kelopak matanya.
"Ais...." panggil Bakri.
"Bakri..... jangan tinggalkan aku.... jangan tinggalkan aku...." sedu Aisyah mengulurkan tangannya memeluk leher pemuda itu.
maka yakinlah bagi Adnan tentang kelakuan putrinya. kedua suami istri itu mengangguk.
"Kalian berdua akan menikah.... segera!!!" tandas Adnan dengan senyum. []
__ADS_1