Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 133


__ADS_3

Kenzie mengencangkan rahangnya dan tetap mengarahkan moncong revolver Smith & Wesson 617 miliknya ke wajah Puspita yang juga sudah memasang wajah kencang. sementara beberapa lelaki bersenjata G2 Combat yang menodong Kenzie mulai terlihat cemas. pertarungan emosi ini berlangsung alot karena lelaki itu memang bukan orang yang gampang menyerah begitu saja meski berada dalam kondisi seperti saat ini. jiwa pendekarnya berontak enggan untuk berlutut dihadapan wanita tersebut.


"Ken, kubilang turunkan moncong pistolmu! kau tak sayang nyawamu rupanya?!" hardik Puspita.


"Budi... kau sudah kenal aku sejak kita masih berstatus siswa... apa kau pernah melihat aku menyerah?!" balas Kenzie dengan pelan namun sangat jelas terasa aura kegarangan.


Puspita tersenyum sinis. "Ken, Ken... kau tak ingat Chiyome?"


"Jangan sebut nama istriku dengan mulut kotormu itu!" hardik Kenzie.


"Kau memilih jalan ini? kau tak berpikir, Chiyome akan menjadi janda dengan kematianmu?!" hardik Puspita.


"Dia akan menjadi janda yang terhormat. bukan sepertimu!" balas Kenzie.


tiba-tiba salah satu pria dibelakang Kenzie maju dan menghantam tengkuknya dengan popor pistol G2 Combatnya tanpa sempat diantisipasi oleh Kenzie yang terfokus perhatiannya pada Puspita. akibat pukulan itu, Kenzie menggeloyor jatuh dan pingsan.


Puspita tersenyum lagi dan membungkuk meraih pistol milik Kenzie yang tergeletak dilantai. ditatapnya beberapa pria itu. "Bawa orang ini ke tempat yang sudah ditentukan." pintanya.


para lelaki bersenjata itu mengangguk dan langsung membekuk Kenzie, membawanya menjauh dari Puspita yang tengah duduk kembali disofa sambil memegang revolver Smith & Wesson 617 milik Kenzie. wanita itu mendekatkan moncong pistol itu ke wajahnya dan menyentuh ujung laras panjang revolver itu. sekali lagi senyum terukir diwajahnya.


...******...


Kediaman Lasantu, pukul 07.30 p.m.


Kecemasan sudah menjalari seluruh anggota penghuni kediaman tersebut. terlebih Chiyome yang sejak tadi mondar-mandir dengan wajah ditekuk dan air mukanya begitu tegang. insting purbanya sebagai seorang istri sekaligus sebagai seorang yakuza penyiksa lawan memberitahu sesuatu yang gawat sedang menimpa suaminya.


tapi Chiyome tak tahu harus berbuat apa karena tak ada petunjuk yang diberikan suaminya. rasa cemas bercampur panik membuat kedua matanya berkaca-kaca meski bulir tetes mata itu tak jatuh membasahi kedua netra sipitnya itu.


sementara Adnan dan Mariana sudah kelimpungan. Kenzie tak biasanya lembur tak memberi kabar. apalagi hanya sebatas memberitahu Bakri bahwa ia akan telat pulang. Bakri dan Aisyah hanya bisa saling menenangkan dan menguatkan hati, meyakini bahwa Kenzie mampu mengatasi masalah yang menimpanya meskipun rasio harapan keduanya kecil bahkan nyaris tidak mau berharap karena hal yang aneh ketika Kenzie meninggalkan tempat tanpa memberi pesan.


"Dia hanya bilang ingin memantau seseorang yang hendak menghancurkan kehidupannya. itu saja jawabannya ketika kutanyakan alasan kepergiannya." jawab Bakri ketika Adnan menginterogasinya sedetail mungkin.


Bakri sendiri merasa bersalah tidak mengikuti Kenzie saat itu. namun memang pekerjaannya pada hari itu juga menumpuk dan harus segera diselesaikan untuk dilaporkan kepada Kenzie sebagai presdirnya. tapi Bakri tak menyangka itu adalah akhir pertemuannya dengan adik ipar sekaligus mantan murid silatnya itu.


"Aku akan menghubungi pihak kepolisian, sekalian akan kuhubungi Endi." kata Adnan melepaskan pelukan Mariana yang sementara menangis.


langkah lelaki itu tegap terayun cepat menyusuri lantai menuju pintu dan sesaat kemudian ia telah meninggalkan kediaman.


...******...


BYURRRR..... HUAHHHHH....


Kenzie gelagapan bangun dan menyadari dirinya terikat dikursi disebuah ruangan yang gelap dan hanya diterangi cahaya artifisial lampu yang menyorot kearahnya. Kenzie menyipitkan mata mengurangi frekuensi silau yang mengganggu pandangannya. setelah membiasakan diri, ia mulai membuka mata dan mengamati keadaan sekitar.


aduh, dimanakah ini.... rupanya aku tertangkap... ahhh... sial benar aku bisa dipecundangi banci kalengan itu.


Kenzie meronta-ronta sedikit untuk melonggarkan tali yang mengikat kedua tangan dan tubuhnya. namun rupanya orang yang mengikatnya, tahu juga cara mengencangkan ikatan sehingga Kenzie sulit melepaskan diri dari jerat tali pengikat itu.


brengsek.... sombong benar juga aku... mengapa aku tak memberitahu Kak Bakri atau menghubungi Wiffy.... setidaknya dia bisa mengendus keberadaanku dengan kemampuan ninjutsunya itu.... ahhh... sial benar...


baru saja Kenzie merutuki kebodohannya, terdengar suara tawa nyaring. dari kegelapan ruangan itu muncul sosok paling dikenal Kenzie.


Puspita Kusmaratih....


"Halo Ken... ketemu lagi..." sapa Puspita dengan lembut dan menggoda.


Kenzie menengadah menatap Puspita. ia tersenyum mengejek. "Halo Budi.... apa kabarmu baik?" balasnya.


"Budi sudah lama mati, Ken..." ujar Puspita, "Sekarang dihadapanmu adalah Puspita Kusmaratih, S.T"


"Bagiku, kamu tetap Budi..." ujar Kenzie, "Pertama kali kita berjumpa.... aku sudah mencurigai tatapanmu... hanya saja kebenarannya baru kuketahui saat ini.... terima kasih, Budi."


PLAKKKK.....

__ADS_1


Wajah Kenzie terhempas ke kiri ketika Puspita dengan gemas menampar pipi lelaki itu. Puspita membungkuk mencengkeram kerah kemeja Kenzie.


"Kau paling bertanggung jawab untuk hal ini Ken. kalau saja kau tak merubah genderku, aku tak akan sedendam ini padamu. aku tak akan bersekutu dengan Stefan untuk menghancurkanmu..." ujar Puspita dengan geram.


"Waaahhh.... rupanya Stefan dibelakang semua ini? kau bekerja sama juga dengannya? hebat kau Budi..." puji Kenzie namun nadanya mengejek.


"Stefan hanya melihat potensiku dalam menghancurkan kamu. tidak lebih..." ujar Puspita melepaskan cengkeraman.


"Dan bagaimana sekarang? akankah kalian masih sekutu?" pancing Kenzie.


"Nggak! kami jalan sendiri sekarang." jawab Puspita dengan jujur. Kenzie mengangguk-angguk.


"Sekarang katakan padaku Budi... ke.." ujar Kenzie


PLAKKK...


lagi-lagi tamparan Puspita menempel lagi dipipi Kenzie membuat lelaki itu tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Puspita menggeram.


"Puspita! itu namaku sekarang! panggil namaku! Puspita!" jerit Puspita dengan geram.


"Wah Budi.... rupanya kamu ingin diakui sepenuhnya sebagai wanita..." ejek Kenzie.


Puspita menarik napas panjang meredakan kemarahannya dan tak lama ia tersenyum kembali. wajahnya maju hingga beberapa senti nyaris menyentuh wajah Kenzie.


"Ahhh... aku juga lupa... kamu sekarang terikat... berada dalam kekuasaanku saat ini..." ujar Puspita dengan senyum kemenangan.


Kenzie hanya bisa mengencangkan rahangnya mendengar ungkapan kemenangan wanita itu. sejenak Puspita menelusuri wajah, bibir, leher, dada dan bagian selangkang Kenzie kemudian beralih ke wajah lelaki itu dengan tatapan nakal.


"Bagaimana pendapatmu.... jika kunikmati tubuhmu sekarang?" desah Puspita membuat wajah Kenzie menampakkan rasa enggan bercampur jijik.


"Sejak aku berganti kelamin, aku banyak lho menerima milik lelaki... aku bisa memprediksi seberapa kuat mereka dan seberapa lama aku menikmatinya." kata Puspita.


"Hentikan Budi... kau tak jijik ya? kamu itu perempuan palsu!" hardik Kenzie dengan geram.


"Brengsek kau Budi.... aku tak sudi melayani nafsu bejatmu itu. tak sedikitpun bagian tubuhmu membuatku bergairah!" hardik Kenzie kembali meronta.


"Ya, aku mengakuinya. itu karena kamu berada dalam keadaan sadar." ujar Puspita dengan senyum nakal dan Kenzie sudah bisa menebak sambungan kalimatnya, "Bagaimana jika dalam keadaan pengaruh obat perangsang?" pancing Puspita kembali tertawa kecil.


"Budi... sebegitu rendahkah kamu?!" hardik Kenzie lagi.


BREKKK.... KREKKK....


Puspita tiba-tiba menarik kemeja Kenzie dan merobeknya dengan paksa menampilkan tubuh yang diselimuti lekukan sepir bulky **yang mampu menggoncangkan gairah wanita manapun, termasuk Puspita yang tanpa sadar menganga kagum melihat ukiran otot-otot yang membalut tubuh Kenzie.


"Apa yang kau lakukan Budi? hentikan kekotoranmu itu!!" bentak Kenzie yang mulai dihinggapi cemas bercampur muak, takut mengalami pelecehan seksual.


"Selama ini, aku tak menyangka bahwa tubuhmu seatletis ini Ken. aku nggak nyesal** dijadikan perempuan olehmu." ujar Puspita mengeluarkan sebatang alat injeksi yang dimasukkan Metilendioksimetamfetamina.


"Jangan macam-macam, Budi..." ancam Kenzie dengan geram.


"Sayang.... Budi sudah mati beberapa tahun lalu... yang dihadapanmu sekarang adalah sosok yang baru... Puspita Kusmaratih..." ujar Puspita.


JLEB.... UGHHHHH....


Puspita menancapkan jarum injeksi ke paha Kenzie membuat lelaki itu tersentak dan Kenzie merasakan cairan MDMA memasuki pembuluh darahnya. Puspita tersenyum penuh kemenangan ketika mencabut jarum injeksi dan membuahg benda itu entah kemana.


perlahan sebuah sensasi aneh mulai merasai dirinya. mulai menjalar dari dada dan mulai merasakan rasa hangat daro perut dan menuju ke bagian selangkangannya. alat reproduksinya mulai bereaksi, mulai mengacung dan akhirnya menegang dengan keras dan kencang sehingga celananya serasa sempit.


"Brengsek Budi... apa yang kau masukkan dalam tubuhku?!" jerit Kenzie dengan panik. ia merasa jantungnya berdetak cepat dan seakan aliran darahnya mengalir cepat. peluh mulai membanjir dan akhirnya membasahi kemejanya yang mulai mencetak lekukan tubuh bersepir itu.


"Jangan menolak, Ken. nikmati saja...." ujar Puspita dengan senyum lagi. "Anggaplah aku.... Chiyome..."


"Tinggolopumu... Hulelilamu!!! Kamu nggak sama dengan dia! perempuan palsu!!!" seru Kenzie dan sesekali kepalanya menggeleng mengusir pengaruh zat perangsang tersebut.

__ADS_1


"Kenzie... Kenzie... kamu ini sok jual mahal... padahal lihat saja... barang milikmu itu sudah mengacung benar..." ejek Puspita sambil tertawa senang. "Katakan padaku Kenzie... bolehkah aku membantu melepaskan hasratmu?"


"Budi! jangan mimpi kamu! kau pikir aku akan terangsang melihatmu? aku jijik! kau hanya bisa memanfaatkan obat perangsang untuk menguasaiku!" ejek Kenzie lagi sambil terus menggeleng.


Puspita terkekeh. jemarinya terulur menyentuh bagian itu membuat Kenzie menyumpah-nyumpahinya. tapi Puspita tak perduli. ia menyentuh retsluiting celana Kenzie dan menurunkannya. nampak benda itu menyembul dari balik celana boxer. sekali lagi Puspita dengan senyum membuka pengait celana itu dan menurunkan celana boxer membuat benda itu menampakkan dirinya dengan menjulang begitu tegak. Puspita terperangah. lagi-lagi kagum dengan benda milik Kenzie.


"Waw... Ken..." gumam Puspita sambil menelan ludahnya. "Pantas ya Chiyome betah disisimu... hmmm..."


"Brengsek kau Budi! kusumpahi mati semua anggota keluargamu jika berani menyentuhku!!" ancam Kenzie dengan panik.


dengan lembut Puspita menggenggam benda itu dan memijatnya dengan pelan sehingga tanpa sadar, Kenzie yang berada dibawah pengaruh zat metilemdioksimetamfetamina tersebut mendesis merespon pijatan itu namun ia menengadahkan wajahnya ke atas dan memejamkan matanya.


"Banci kaleng!!! berani kau menyentuhku?!" bentak Kenzie yang berupaya berontak ditengah pengaruh zat pembuai itu dengan susah payah.


Puspita tertawa sambil terus memijat benda milik Kenzie makin lama makin cepat hingga Kenzie tersentak-sentak merasai aliran sensasi yang menghantam otak belakangnya. matanya maram melek dengan rahang yang mengencang berupaya bertarung dengan birahi dirinya yang memuncak. hingga akhirnya birahi yang dipacu oleh adrenalin akibat rangsangan zat metilemdioksimetamfetamina itu mengambil alih dirinya. benda miliknya menyemburkan hasrat terdalam yang membuat Kenzie tersengal-sengal pada akhirnya.


Puspita lagi-lagi tertawa keras melihat Kenzie yang kalah total dalam pemberontakannya. benda dalam genggamannya masih tegak menjulang bagai pasak yang siap menghujam apapun. senyum nakal Puspita terbit lagi.


"Aku penasaran Ken.... apakah Chiyome masih mau menerima kamu jika sekarang kau ku kangkangi?" gumam Puspita sejenak melepaskan benda itu dan akhirnya menelanjangi dirinya sendiri.


Kenzie langsung menutup mata membuat Puspita cekikikan senang. "Ken.... jangan malu begitu dong... ayo... kita main lagi... jangan cuma sekali.... kalau perlu berkali-kali"


Puspita langsung duduk diatas paha Kenzie dan tanpa perlu menggenggam benda itu, ia telah masuk sendiri kedalam diri Puspita membuat wanita itu menggeram senang merasai setiap senti dari milik lelaki itu didalam dirinya. Puspita mulai memainkannya.


"Wahhhh.... Ken... kok nikmat banget ya?..." desah Puspita yang akhirnya mulai melakukan permainan cepat, memperbudak Kenzie yang masih berada dalam pengaruh zat MDMA tersebut.


ditengah pergumulan penuh nafsu, setitik kesadaran muncul dibenak Kenzie.


Wiffy.... Hubby minta maaf..... Hubby sudah ternodai oleh banci kaleng ini.... maafkan Hubby.... Wiffy....


setitik air mata kesadaran jatuh bersama dengan raungan Kenzie yang melepaskan hasrat purba dirinya kedalam diri Puspita ketika mereka berada dipuncak permainan itu.


...********...


Chiyome menelpon Dewinta Basumbul untuk mencari tahu jejak terakhir Kenzie. wanita itu menjelaskan kronologinya.


📲 "Tadi siang, Pak Kenzie minta dibawakan file tentang Puspita Kusmaratih. setelah membaca file itu, Pak Kenzie nitip pesan ke saya bahwa dia hendak keluar. itu saja bu.... tapi, saya yakin.... Pak Kenzie mencari keberadaan Puspita disebabkan ketidak aktifannya dikantor akibat akunnya dibekukan Pak Kenzie.... ternyata yang mengguncang sistem keamanan Buana Asparaga.Tbk kemarin-kemarin itu adalah Puspita bu." jawab Dewinta.


Chiyome menggeram, "Sudah kuduga.... aku pribadi memang sudah curiga padanya, tapi aku tak punya bukti..." 📲


📲 "Saya yakinnya... Pak Kenzie melacak keberadaan Puspita, bu..." tambah Dewinta.


📲 "Baik... Dewi...aku ingin kamu memberikan alamat terakhir Puspita kepadaku... biar aku akan mengembangkan penyelidikan awal dari sana." kata Chiyome.


📲 "Baik Bu. sesaat lagi saya kirimkan alamat terakhirnya." jawab Dewi.


Chiyome memutuskan diskusi seluler itu dan kembali mondar-mandir. tak lama kemudian SMS masuk dan Chiyome mengamati alamat terakhir Puspita yang dikirimkan Dewinta. ia mengangguk-angguk kemudian kembali menghubungi seseorang.


📲 "Selamat malam, Bu... ada yang bisa dibantu?" tanya seseorang dari seberang.


📲 "Kerahkan anak buahmu ke alamat ini.... amati dan laporkan keadaan disana... aku kirimkan padamu alamatnya."


📲 "Siap bu...." jawab orang itu.


Chiyome memutuskan sambungan seluler dan mengirimkan alamat Puspita Kusmaratih kepada orang itu. setelahnya wanita itu menatap boks yang didiami putranya yang sementara tidur itu.


"Saburo.... Mama akan mencari Papamu.... kamu... tenang-tenang disini, ya Nak?... jangan bangunkan orang-orang rumah..." gumam Chiyome.


setelah itu, wanita tersebut melangkah menuju lemari. ia membukanya lalu menyibak pakaian-pakaian yang bergelantungan disana. Chiyome mengeluarkan sebilah gunto warisan Kakeknya, Mamoru Minamoto.


"Penebas Angin.... kita punya tugas lagi... kau akan menyerap darah seseorang lagi... darah seorang wanita yang berani mengganggu ketenangan majikanmu...." gumam Chiyome sambil menghunus pedang itu dari sarungnya.


bilahan mengkilap Si Penebas Angin seakan menjawab kegundahan hati wanita itu. []

__ADS_1


__ADS_2