
"Silahkan duduk." kata Mariana mempersilahkan gadis itu untuk duduk. Chiyome duduk disisi Mariana sedangkan Kenzie dan Aisyah duduk diseberang meja.
"Kenzie bilang kamu suka masakan pilitode. sungguh luar biasa orang asing seperti kamu mau menikmati menu rumahan kami." kata Mariana sambil membuka penutup-penutup loyang prasmana dari bahan stainless steel. "Sebagai bentuk rasa terima kasih kami, ini persembahan hidangan kesukaan anda bersama penganan tradisional Gorontalo. jangan sungkan ya."
Chiyome menatapi hidangan yang tersaji dalam loyang-loyang prasmanan itu. ada masakan pilitode pesanannya, ada ikan bilendango, ayam iloni yang dipesan Mariana dari warung lalapan dan seafood. juga beberapa penganan seperti popolulu dan keripik ubi pahangga.
Mariana berinisiatif mengambil sesendok nasi dan menaruhnya dipiring untuk Chiyome.
"Tambah nak?" tanya Mariana lembut.
"Makasih Tante, cukup." jawab Chiyome dengan malu.
Mariana menyendok bagiannya kemudian giliran Aisyah dan setelah itu Kenzie.
"Silahkan cicipi ikan bilendango ini." kata Mariana mengambil belahan daging ikan dan menaruhnya disisi piring milik Chiyome.
"Mama.... biar dia makan sendiri... Mama ini.." tegur Kenzie dengan wajah merona.
"Lho? Mama kan hanya berusaha melayani tamu..." kilah Mariana sambil memelototi Kenzie. kemudian wanita itu menatapi Chiyome dengan tatapan manis. "Siapa tau dia nanti jadi mantunya Mama."
seketika Chiyome tersedak ludahnya sendiri bersamaan dengan Aisyah. kedua gadis itu tersedak bersamaan. Mariana langsung mengusap-usap punggung Chiyome sedang Kenzie menepuk-nepuk lembut tengkuk Aisyah.
"Mama ini apaan sih?" tegur Kenzie lagi dengan jengah.
"Kakak kesedak kenapa?" tanya Mariana.
"Nggak apa-apa Ma...nggak tau kenapa kesedak juga." jawab Aisyah menyeka bibirnya.
sedang Chiyome semakin menampakkan wajahnya yang merah bagai kepiting rebus. Mariana menatapinya.
"Sudah nggak apa-apa sayang?" tanya Mariana pada Chiyome yang sementara meneguk air digelasnya.
"Sudah Tante, makasih." jawab Chiyome.
"Kalau begitu mari kita makan." ajak Mariana.
mereka kemudian makan bersama. Mariana kemudian menjelaskan bahwa sayur pilitode yang dia sukai, dibuat oleh Aisyah. gadis jepang itu menatapi Aisyah dengan mata yang entah kenapa mulai berkaca-kaca. Aisyah mengangkat wajah dan tatapan kedua gadis itu kembali bertemu. Chiyome langsung memalingkan wajahnya ke piring. sebisanya ia menahan air matanya agar tak merembes keluar.
wahai air mata, tahanlah... jangan jatuh disini....
Aisyah menatapi Chiyome yang makan seperti ditahan-tahan. ia menegurnya. "Dik, masakan kakak nggak enak? maafkan kakak ya?"
Chiyome buru-buru menggeleng lalu kembali menikmati hidangannya.
masakan kakak, sangat enak... mirip sekali dengan masakan ibu... bumbunya... rasanya.... tidak ada yang beda.... sangat identik....
setelah menyelesaikan acara makan, Mariana mempersilahkan Chiyome ke ruang keluarga ditemani oleh Kenzie. sedangkan Mariana dengan semangatnya memasukkan segala macam penganan ke tuperware kemudian membalutnya dengan tas kresek tebal.
Mariana membawa bingkisan itu ke ruang keluarga dan menyerahkannya pada Chiyome.
"Untuk dihabiskan dirumah." kata Mariana sambil membelai pipi Chiyome.
gadis itu membungkuk mengucapkan terima kasih lalu memohon pamit. Mariana menyuruh Kenzie mengantar Chiyome sampai ke rumahnya.
sepeda motor yang mereka berdua kendarai kini melaju menyusuri jalanan dan Chiyome menempelkan tubuhnya dipunggung Kenzie membuat pemuda itu sedikit dilanda rasa gugup.
"Siapa nama kakak kamu Ken?" tanya Chiyome agak keras.
"Aisyah... Aisyah Fatriana Lasantu. " jawab Kenzie dengan lengkap tak lupa bersuara agak keras karena angin kencang yang menerpa mereka.
"Kakak kandung?" tanya Chiyome lagi.
"Kakak sambung. dia saudari tiriku. asalnya dari Poso, Sulawesi Tengah, sekarang sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Gorontalo." jawab Kenzie sambil menarik serang motor untuk menaikkan tempo gasnya. sepeda motornya makin melaju.
"Apakah...." tanya Chiyome, namun ia tak meneruskan kalimatnya.
untungnya, Kenzie juga tak mendengarnya karena konsentrasi melajukan kendaraannya dijalan yang mulai sunyi. jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. tak lama mereka tiba ditempat tinggal Chiyome.
"Ini rumahmu?" tanya Kenzie menatapi bangunan itu.
"Rumah sewa...." jawab Chiyome sambil turun dari boncengan dan berdiri depan pagar.
"Boleh aku masuk?" tanya Kenzie sambil menyerahkan bingkisan kepada Chiyome.
"Boleh saja. tapi bukan saat ini." kata Chiyome sambil tersenyum. "Aku nggak mau masyarakat sini memganggap kita pasangan mesum. aku kan tinggal sendiri."
__ADS_1
"Ucapanmu itu, mencabai-cabaikan hatiku." seloroh Kenzie sambil meremas jaket bagian dada kirinya.
Chiyome hanya membalasnya dengan senyuman hingga akhirnya pemuda itu pamit dan melajukan kendaraannya meninggalkan tempat itu.
Chiyome membuka pagar dan melangkah dengan lesu menuju rumah. ia membuka pintu dan masuk lalu meletakkan bingkisan dimeja dan ia menghempaskan dirinya ke sofa.
wajah itu... mirip dengan ibu...
kemiripan wajah sempat membuat Chiyome terkejut dan sedikit kehilangan kendali. untunglah ia menempa mentalnya melalui pelatihan yang keras dan mampu memanipulasi perilakunya hingga mampu dengan cepat menguasai diri.
Chiyome mengeluarkan gadgetnya lalu mengaktifkan layar sentuhnya menekan aplikasi whatsapp dan kembali mengamati wajah Aisyah yang terpampang disana. tak lama, air mata yang sejak tadi dibendungnya dengan sekuat tenaga langsung membanjir keluar bagai bandang yang menerjang dan membasahi pipinya yang kemerahan.
"Kakak..." sedu Chiyome disela-sela tangisnya.
...*******...
Fitri hanya diam ketika Chiyome melaporkan kejadian itu dan menyusun hipotesa yang benar-benar akurat tentang hubungan Fitri dengan Aisyah.
"Ibu.. jujurlah padaku. benarkah dugaanku?" todong Chiyome ditengah suaranya yang serak karena banyak menangis. terdengar deheman diseberang sana. Chiyome menunggu jawaban ibunya. nampak dalam video call itu Fitri mengangguk.
📲 "Memang benar... dia kakakmu. dia adalah putri ibu dari lelaki lain, jauh sebelum ibumu bertemu ayahmu." terlihat bibir Fitri begitu gemetar. wanita itu kembali menangis.
Chiyome mendesah lega seakan seluruh bebannya benar-benar hilang. namun ia ingin memastikan status kakak tirinya itu.
📲 "Tapi, saat ibu berjumpa dan menikahi ayah, hubungan ibu dengan lelaki itu sudah tidak ada lagi, bukan?" selidik Chiyome.
📲 "Tidak. ibu dengan ayahnya Aisyah sudah bercerai 10 tahun yang lalu." jawab Fitri sekenanya.
Chiyome mengangguk-angguk lalu menyeka air mata dan ingusnya yang berleleran karena mewek-mewek sedari tadi. terdengar suara di video call memanggilnya.
📲 "Ya, ibu.." jawab Chiyome.
📲 "Kau nggak akan membenci ibu, kan?" tanya Fitri dengan menghiba.
Chiyome sejenak menangis lagi. kemudian mengatur lagi nafasnya. ia menjawab.
📲 "Aku nggak pernah sedikitpun membenci Ibu. aku hanya kaget, tak menyangka bahwa disini aku memiliki seorang kakak yang kebenarannya... kuketahui saat ini..." jawab Chiyome.
terlihat Fitri menangis dalam tampilan video call itu. Chiyome melanjutkan kalimatnya.
Fitri sejenak menangis lagi. kemudian ia menyeka dan berbalik. wanita itu terkejut menatapi Kameie yang telah berdiri didepan pintu dengan tatapan yang tajam. Fitri tersenyum untuk mencairkan kecanggungan suasana lalu bangkit menyambut suaminya.
"Kau sudah pulang." sambut Fitri seraya menciumi punggung tangan lelaki itu kemudian melepaskan jas dan meletakkannya digantungan. Kameie membiarkan Fitri menyelesaikan tanggung jawabnya, kemudian mereka duduk lagi di tatami.
"Sejak kapan kau punya anak selain dariku?" tanya Kameie sambil melipat lengan baju.
"Jauh sebelum pertemuan kita. 20 tahun yang lalu, aku pernah menikah muda dan melahirkan seorang putri. pernikahan kami tak berjalan dengan baik. akhirnya kami bercerai pada saat anak itu berusia 10 tahun. aku memutuskan merantau ke jepang untuk memenuhi biaya putriku. ketika aku bekerja dikedai makan, kita bertemu." tutur Fitri panjang lebar.
Kameie menarik napas. "Lalu, bagaimana nasib anak itu sekarang?"
"Ia sedang menempuh pendidikan tinggi di Gorontalo. tinggal dengan ayah kandungnya dan ibu sambungnya." jawab Fitri.
"Tempat dimana Chiyome juga sementara menempuh studinya." gumam Kameie sambil mengurut dagunya kemudian memandang Fitri. "Apakah Chiyome sudah mengetahui kebenarannya ?"
"Ia baru tahu dengan tidak sengaja." jawab Fitri.
"Dan kau membeberkan semuanya." sambung Kameie.
Fitri kemudian bersujud menyentuh paha suaminya. "Aku bersalah telah menyembunyikan kebenaran ini darimu." sedu Fitri, "Jika kau menginginkan kita berpisah, aku pasrah menerimanya." wanita itu menumpahkan air matanya dipaha lelaki itu.
Kameie tercekat, namun sebisanya ia menahan diri. dibelainya punggung istrinya yang masih berguncang karena tangis.
"Aku tidak menyalahkanmu..." jawab Kameie dengan terbata-bata menahan rasa harunya.
Fitri perlahan menegakkan duduknya. Kameie mengulurkan tangan membelai wajah istrinya. Kameie kemudian menarik tubuh Fitri kepelukannya membuat tangis yang semula reda kembali tercurah lagi.
sementara Iechika yang baru saja tiba merasa kelakuan kedua orang tuanya begitu aneh dan tak biasanya.
"Ada apa ibu? ayah? apakah Chiyo-hime kena masalah?"
...*******...
Chiyome menghabiskan seluruh penganan dalam tupperware itu. perasaan mengharu-biru menyatu dengan kegiatannya mengunyah habis bingkisan pemberian Mariana. sesekali ia menangis lalu mengusap lagi air matanya yang berjatuhan. setelah menghabiskan seluruh penganan itu, ia keluar menuju beranda depan, membiarkan angin malam menyejukkan tubuh dan hatinya.
Chiyome menegakkan tubuh, membuka kaki dan memejamkan mata. gadis itu berkonsentrasi. ditengah dinginnya udara pagi buta, gadis itu mempraktekkan salah satu jurus dalam karate-do. kakinya menendang dengan lincah dan lurus. sapuan-sapuan tangannya membelah udara dingin. Chiyomw menyelesaikan gerakannya ketika jam telah menunjukkan pukul 3 pagi.
__ADS_1
...******...
dalam mimpinya, Aisyah melewati sebuah jalur yang seakan tak berujung. disisinya tumbuh membentang batang-batang bambu. ia terus melangkah menemukan sebuah bangunan mirip kuil. dua orang wanita, satunya berjilbab, berdiri membelakanginya. Aisyah terus mendekat hingga jarak diantara keduanya hanya tinggal selangkah. kedua perempuan itu membalik. Aisyah menatapi wanita berjilbab yang ternyata adalah ibunya.
"Bagaimana kabarmu, nak?" sapa Fitri.
"Aku baik-baik Ma..." jawab Aisyah yang ingin sekali memeluk sang ibu.
"Mengapa kau meninggalkanku?" sedu Aisyah.
"Demi hidupmu nak." jawab Fitri singkat saja.
Aisyah menoleh menatapi gadis yang berdiri disisi ibunya. gadis itu berambut panjang mengenakan kimono. namun anehnya wajahnya sangat kabur, sulit dikenali.
"Siapa kau?" tanya Aisyah melihat gadis itu dengan manja menggandeng tangan ibunya.
"Kakak...." panggil gadis berwajah kabur itu...
...******...
Aisyah tersadar dari tidurnya dan berupaya memahami hakikat mimpi yang baru saja dialaminya. gadis itu duduk ditepi ranjang menatapi jam dinding yang jarumnya menunjukkan pukul 3 pagi.
Aisyah mengusap wajahnya lalu mengambil jilbab dan mengenakannya kemudian keluar dari kamar, melintasi ruang keluarga hingga tiba didapur. ia membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol air dingin kemudian menuangkannya digelas. gadis itu duduk dikursi ditemani sebotol air yang terus ditegurnya bagai orang kehausan.
Mariana keluar dari kamar dan melangkah menuju dapur. langkahnya sempat tertahan ketika menyadari ada orang disana. perasaannya heran melihat Aisyah duduk sendirian disana, ia mendekatinya.
"Mama...." sapa Aisyah dengan senyum datar.
"Sejak kapan kau disini?" tanya Mariana.
"Baru saja Ma..." jawab Aisyah.
Mariana ikut duduk namun berseberangan dengan Aisyah. ia meraih pula gelas pendek lalu menuangkan air dingin dari botol kedalam gelas.
"Apa yang kau pikirkan, nak?" tanya Mariana.
Aisyah menggeleng dan tersenyum datar. "Kepikiran kegiatan orientasi mahasiswa baru."
kali ini Aisyah benar-benar berbohong. Mariana tahu gadis itu takkan berani mengungkapkan apa yang dipikirkannya. Mariana juga tak mau memaksanya. wanita itu mengangguk lalu menghabiskan air dingin dalam gelasnya.
"Mama kenapa ke dapur?" tanya Aisyah.
"Penyakit insomnia Mama kambuh." jawab Mariana juga sekenanya.
Mariana melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 4.37 pagi langsung bangkit.
"Sebentar lagi mau subuh." kata Mariana.
selesai wanita itu berkata, terdengar adzan subuh dari corong TOA masjid membuat Mariana tersenyum jenaka dan dibalas oleh Aisyah dengan senyum yang sama. gadis itu bangkit menuju kamar mandi dibelakang dapur. disisi kamar mandi itu ada keran khusus untuk berwudhu. mereka mengambil wudhu bergantian.
"Sholat barengan yuk?" ajak Mariana.
Aisyah mengangguk senang lalu melangkah cepat menuju kamarnya. tak lama kemudian gadis itu muncul mengenakan mukena. Mariana telah menunggunya di ruang keluarga juga telah mengenakan mukena. keduanya melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan Mariana sebagai imam.
kegiatan sholat itu berlangsung khidmat dan syahdu hingga kegerakan yang terakhir yaitu salam. setelah itu Aisyah beringsut menjajari Mariana, mengulurkan tangan dan dijabat oleh wanita itu. Aisyah membawa punggung tangan wanita itu ke dahinya sebagai tanda baktinya kepada ibu sambungnya.
Mariana memeluk putri sambungnya itu dengan hangat. Aisyah kembali bersimpuh dan berbaring menyandarkan kepalanya ke paha Mariana. wanita itu membelai kepala Aisyah yang masoh berbalut mukena.
"Mama..." panggil Aisyah. "Marahkah mama ketika aku menolak pemberian Papa?"
Mariana tersenyum. "Mama tidak punya hak memarahimu. keputusan ada ditanganmu." jawab waniya itu dengan pelan.
Aisyah merasai setitik air bening jatuh dipipinya. ia menoleh dan menyadari bahwa tetesan air bening itu berasal dari air mata yang membasahi pipi ibu sambungnya.
"Mama? kau menangis?" tanya Aisyah, "Apakah kau menangis karena membelaiku yang bukan berasal dari rahimmu?"
Mariana hanya menjawabnya dengan isakan. Aisyah menegakkan duduknya menatapi mata ibu sambungnya yang basah.
"Mama, meskipun engkau bukan wanita yang melahirkanku, aku akan tetap berbakti padamu. bagaimanapun aku bersyukur, kau menerimaku menjadi bagian dari keluarga kecilmu." gadis itu menyeka air mata ibunya yang mengalir terus bagai tak henti.
"Maukah engkau menganggapku anakmu? ketika salah ku bersimpuh kau memaafkanku, ketika gembira ku menyerumu kai mendukungku?" pinta Aisyah
Mariana mengangguk-angguk dan langsung menghambur kembali memeluk putrinya, kali ini lebih erat bagai tak ingin lepas. keduanya puas menumpahkan tangisnya pada subuh itu.
sementara Adnan keluar dari kamar, terkejur melihat adegan mengharukan itu. ia menjadi cemas.
__ADS_1
"Kenapa sayang? apa Aisyah tidak lulus UMPT?" []