
sebagaimana tujuan sebuah beladiri, seni Langga memiliki tujuan untuk mempertajam naluri manusia dalam menanggulangi berbagai ancaman dan bahaya yang mengancam hidupnya. gerakan-gerakan dalam seni Langga sendiri merupakan tiruan dari hewan atau gerakan kegiatan masyarakat sehari-hari.
beberapa gerakan dalam seni Langga meliputi duduta'o (postur/kuda-kuda), hunggo (pukulan), tetedu'o (tendangan), totame (tangkisan), Bolubu'o (langkah), popoli (kembangan), moluludu (sapuan), dan punggu (kuncian) yang kesemuanya diramu dalam gerakan yang mirip sebuah tarian sehingga menambah keindahan gerak dalam seni Langga.
sedangkan dalam pembinaan mental dan spiritual, pembelajaran seni Langga akan mengantarkan seseorang kepada sikap Mo'odelo, yaitu pribadi yang low profile, patuh pada hukum masyarakat maupun hukum negara. seorang praktisi Langga pada puncaknya menjadi seorang sufi ditengah rusaknya moral generasi muda saat ini.
setelah menjalani upacara pitodu kedua, kini Kenzie dan Trias diminta mempraktekkan beberapa gerakan yang telah di bayango oleh Bapu Ridhwan sebelumnya. kedua pemuda itu kemudian mempraktekkan beberapa gerakan dasar tersebut membuat Bapu Ridhwan mengembangkan senyum lebarnya.
"Bagus. sekarang saatnya kalian mempraktekkan gerakan tersebut pada mohudu wawa mohemeto." kata Bapu Ridhwan.
mohudu wawa mohemeto, artinya adalah menantang dan menyambut. jika dalam seni karate-do ada sesi yang disebut kumite, mungkin agak sama seperti itu pengertiannya. jadi dalam sesi itu kedua petarung akan berhadapan dan mulai mempersiapkan jurusnya mulai dari kembangan. selanjutnya kedua praktisi mulai maju menyerang, siapa duluan menyerang maka yang lain akan menangkis dan berulang lagi yang menangkis akan menyerang dan terus berlanjut. biasanya keduanya akan terhanyut dalam permainan kuncian, layaknya seni Aikido yang digagas pertama sekali oleh Morihei Ueshiba, diambil dari kurikulum koryu bujutsu, Yawara, menjadi aikido dan judo yang digagas oleh Jigoro Kano.
kembali ke seni Langga. ketika kedua petarung terjebak dalam teknik kuncian, maka disini pentingnya walama (meloloskan diri dari kuncian) untuk bisa menetralisir serangan pengunci tadi.
dan memang Kenzie dan Trias terjebak dalam posisi itu. namun karena keduanya sebelumnya telah mempelajari silat, jadi seringkali mencampur adukkan gerakan tersebut membuat Bapu Ridhwan berkali-kali menggelengkan kepala.
meskipun bukan lagi murni, namun kolaborasi gerak langga dan silat membuat keduanya begitu lincah dan bisa diperhitungkan sepak terjang mereka kedepan. ah... rupanya aku sudah terlalu tua Mamoru.... kita berdua berdiri dijaman yang bukan lagi milik kita. memalukan sekali bukan?
Kenzie dan Trias kembali hanyut dalam pertarungan tanding mohudu wawa mohemeto. kadang mereka saling menyerang secara frontal, kadang saling mengunci dam bergumul. tenaga keduanya, sejak di pitodu tak pernah kelihatan berkurang, justru makin berkobar dan liar.
malam sudah semakin larut. untung saja Trias dan Bapu Ridhwan berhasil menangkap ponggo semalam yang membuat kerusuhan dikediaman Mantulangi. setelah menyandera kepala ponggo itu dibatang pisang, keduanya menunggu hingga fajar. akhirnya kepala ponggo itu tewas karena tidak menyatu dengan tubuhnya tepat disaat terakhirnya disubuh itu.
setelah subuh, Bapu Ridhwan langsung berkeliling desa mengamati kalau ada keributan semisal kedukaan. namun nyatanya tak ada sama sekali, sehingga kakek itu menarik kesimpulan bahwa praktisi ponggo itu berasal dari linula lain. bukan diwilayah Suwawa atau bone bolango pada umumnya.
kepala ponggo yang mati akhirnya dikubur dihutan pinggir pegunungan, tanpa paita dengan tujuan agar jangan sampai ditemukan oleh orang yang usil dan menggunakan kepala makhluk itu untuk tujuan mistis lainnya.
pelajaran berhenti ketika terdengar kokok ayam jantan pada pagi buta itu. Chiyome dan Ipah sudah permisi duluan sejak jam 10 malam tadi. keduanya tidur dalam satu kamar menjagai Saburo. Bapu Ridhwan meminjamkan tombak kepala alo kepada Chiyome untuk mencegah makhluk gaib lain yang datang untuk mengganggu mereka.
Kenzie dan Trias melangkah berjajar menyusuri jalan setapak yang menuju ke kediaman Lasantu. sesekali mereka bercanda dan saling meninju lengan. keduanya tiba di depan pintu rumah kediaman Lasantu.
Kenzie mengeluarkan kunci dan memasukkannya ke lubang kunci pintu dan memutarnya. terdengar bunyi ceklek dan pintu itu terbuka.
"Sono, jemput maitua kamu." kata Kenzie sambil menuju ke kamarnya.
dikamar itu nampak Chiyome dan Ipah tidur mengapit Saburo ditengah-tengah karena khawatir ia akan diculik oleh makhluk gaib. Trias mendekati Ipah dan menyentuh kaki pacarnya.
Ipah pelan-pelan bangun dan melihat Trias yang berdiri disisi ranjang. pemuda itu mengisyaratkan gadis itu untuk bangkit dan menyingkir dari ranjang tersebut.
Ipah dengan gerak malas kemudian bangkit dan melangkah dituntun Trias keluar dari kamar menuju kamar depan. sementara Kenzie sudah masuk dan menutup pintu. pemuda itu mengeluarkan pakaian yang telah basah oleh keringat dan meletakkannya disampiran. dengan telanjang dan hanya dibalut oleh celana boxer, pria itu menaiki ranjang lalu tidur disisi Saburo berhadapan dengan Chiyome yang masih terlelap.
senyumnya terkembang. dasar Wiffy, biar tidurpun, ileran tapi kok tetap kelihatan cantik ya? ah apakah ini karena aku yang memang sudah teracuni oleh cintanya atau memang kegilaanku saja karena mencintainya? duh duh duh... Chiyo, my lovely dovely... aku benar-benar mencintaimu.... makasih telah menghadirkan Saburo diantara kita. dialah yang makin mempererat cinta kita wahai cintaku... aku mencintaimu....
setelah membatin, perlahan pria itu mengantuk dan dua matanya terkatup. ia menyusul istri dan putranya memasuki alam subscobsius... menuju mimpi.
...*********...
lain halnya dengan Ipah. setelah dibangunkan Trias, mendadak kantuknya lenyap. gadis itu jadi tak bisa tidur dan justru kini ikut membuat Trias kehilangan nafsu kantuknya. keduanya memilih duduk diberanda depan. Ipah menyeduh kopi dua gelas. sengaja dibuatnya pahit agar bisa membuat mata mereka melek sepanjang malam. Ipah meletakkan kedua gelas minuman itu dipagar beranda. Trias membawa selimut tebal yang kemudian mereka gunakan sebagai selimut bersama.
Pemuda itu sudah mengganti kausnya dengan sweater dari wol untuk menahan panas tubuh agar tidak tersedot oleh hawa dingin. kini keduanya duduk dibangku panjang dan menselonjorkan kaki mereka pada pagar beton beranda tersebut. kedua muda mudi itu menatapi langit malam yang penuh ditaburi bintang gemintang membentuk susunan konstelasi-konstelasi yang menakjubkan pandangan mata. jika benar-benar direnungkan, betapa Tuhan begitu Maha Hebat dalam menciptakan semesta-semesta yang berhampar di ruang hampa udara tersebut.
"Ipah... katakan sejujurnya. aku ingin mendengar langsung darimu..." kata Trias.
Ipah menoleh menatapi pemuda itu. ia memperbaiki letak selimut yang membalut tubuh mereka berdua.
"Bagaimana pendapatmu jika aku akan mengembangkan karirku didunia militer atau sejenisnya?" tanya Trias memancing reaksi kekasihnya.
"Itu adalah hak kamu. aku tak punya hak untuk mengintervensi apapun yang menjadi kemauanmu. selama itu adalah sebuah kebaikan, maka aku tak akan melakukan apapun dan menyerahkan semua kepada hatimu sendiri." jawab Ipah.
Trias diam mendengar jawaban itu. Ipah kemudian memperbaiki duduknya. kali ini ia menarik kedua kakinya dari pagar beton dan duduk bersila dikursi panjang itu.
__ADS_1
"Sudah mantapkah hatimu?" tanya Ipah.
sejenak Trias memandang Ipah, kemudian ia memajukan tubuhnya meraih gelas kopi yang tadinya terletak dipagar beton. pemuda itu menyeruput isinya sejenak lalu meletakkan kembali minuman itu dipagar beton. ia menyandarkan lagi punggungnya disandaran kursi.
"Ya... aku sudah mantapkan hatiku untuk memenuhi panggilan negara." jawab Trias pada akhirnya. "Makanya aku meminta pendapatmu. namun, jika kau keberatan dan itu dapat mengganggu hubungan cinta kita, aku akan memilih profesi lain yang setidaknya tetap berhubungan dengan kompetensiku sebagai seorang petarung."
Ipah menggeleng lalu tersenyum. "Nggak. jangan meminta pendapatku, jika apa yang kau inginkan dapat bermanfaat untukmu. perkara cinta, itu tidak bisa kita paksakan. kita mengalir saja bagai air. jika memang Allah menetapkan kita berdua adalah jodoh, maka pasti kita akan bersua kembali dalam hubungan yang lebih mesra."
"Aku berharap kau adalah jodohku, Ipah. aku nggak yakin dengan perempuan lain lagi karena aku telah merasa nyaman disisimu." kata Trias dengan napas berat.
Ipah tersenyum lagi. "Kan sudah kubilang, bahwa jodoh itu urusan Allah. kita nggak bisa mengintervensi keputusan-Nya.... kita hanya bisa berdoa, semoga kita tetap dipertemukan sebagai jodoh."
Trias membuang napas lagi. "Kurasa kisah kita tidak akan seperti Yo Ko dan Shiauw Liong Nu... tapi akan lebih mirip Jack dan Renesmee di Twilight."
Ipah tertawa. " hutodumu... berarti aku vampir dong..."
"Aku serigalanya..." tambah Trias sambil tersenyum. keduanya kemudian saling berpandangan dan saling melempar senyuman.
tak lama kemudian keduanya menyandarkan kepala masing-masing. Ipah menyandarkan kepalanya dibahu kekar Trias, dan pemuda itu menyandarkan kepalanya diatas kepala gadis yang menyandarkan kepalanya dibahunya. keduanya menyatu dan menatap alam. namun lama kelamaan akhirnya kantuk datang mengawini kedua mata pasangan tersebut. kedua mata mereka perlahan terkatup. akhirnya keduanya tertidur lelap justru ketika menikmati taburan bintang yang tersaji dijelaga angkasa malam.
...*******...
selama masa liburan itu, Aisyah dan Stefan benar-benar memanfaatkan hari libur mereka. sehari setelah beristirahat di kediaman Nanu'e, di Lawangan, bagaikan backpacker, mereka melanjutkan petualangan mereka. dari Umanasoli mereka membelok ke selatan menyusuri jalan kecil menuju sebuah bukit disebut bukit bambu. ternyata disana ada sebuah kafe.
dari bukit itu nampak pemandangan kota Poso sebagian. setelah berpuas-puas dibukit memandangi kota Poso, mereka memasuki kafe itu dan memesan minuman ringan. setelah mengistirahatkan diri, keduanya langsung melanjutkan perjalanan menuju Pantai Imbo di Tegalrejo, Poso.
"Bagaimana? kamu surprise dengan pemandangan disini? jangan melongo dulu. ini belum seberapa." kata Aisyah sambil mengembangkan tangan ketika mereka berdua menyusuri trestel yang menjorok ke Teluk Tomini.
"Aku akui, pemandangan disini indah. sama dengan pemandangan Pantai Pasir Putih di Leato selatan." tanggap Stefan sambil menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan pelan.
"Kamu senang?" tanya Aisyah.
"Tentu. aku lebih bahagia ketika aku bersama kamu disini." jawab Stefan kemudian memeluk Aisyah dari belakang.
mulanya jilbaber itu kaget dan kembali celigukan memastikan tak ada siapapun disana, membuat Stefan tertawa.
"Sudah, nggak usah seperti itu. malah makin curiga orang-orang sama kita. dikira kita pasangan mesum." kata Stefan.
mendengar hal itu membuat Aisyah menjadi jinak. "Tapi jangan peluk-pelukan disini dong. aku kan jadi malu." rajuk jilbaber itu.
"Lho? memangnya kenapa? kamu kan pacar aku." kata Stefan sambil mengembangkan tangan dengan alis yang mengangkat.
"Pacar... tapi belum jadi istri... belum sah pelukannya..." balas Aisyah dengan bibir yang dimanyunkan.
"Oooo.... jadi pengin dihalalin? ayo kita ke KUA. dimana kantor KUA disini?" tantang Stefan.
Aisyah akhirnya hanya tersenyum dan memukul dada Stefan dengan pelan kemudian memeluk kembali pemuda itu dan membenamkan wajahnya ditubuh Stefan.
"Kan aku bilang aku mau lulus dulu, baru mikirin hidup aku." kata Aisyah dengan manja.
Stefan menangkupi wajah jilbaber itu hingga menengadah menatap pemuda itu. "Kamu itu gimana sih? dipeluk, katanya belum sah. kutantang nikah, takut... aaahhh.... dasar nene nggosa!!!" olok Stefan sambil tertawa lalu kembali membenamkan wajah Aisyah didadanya.
__ADS_1
Aisyah tertawa pelan. keduanya berpelukan ditengah semilir angin laut Teluk Tomini. saling menyatu.
🎶 aku tak bisa hidup tanpa twitter, dan dirimu....
aku tak bisa hidup tanpa handphone, dan dirimu...
🎶 Kau hidup dan matiku... kau hidup dan matiku
kau separuh nafasku... kau belahan jiwaku
🎶 aku tak bisa hidup tanpa handphone, hidup tanpa twitter... dan dirimu...
🎶 kau hidup dan matiku... kau hidup dan matiku
kau separuh nafasku....kau belahan jiwaku
🎶 tahukah kamu aku bermimpi, bermimpi tentang kamu
mungkin karena diriku terlalu kangen kamu.....
...******...
Nenek Juno memandang kedua sejoli yang asyik ngorok dikursi panjang saling menyatukan kepala mereka dengan selimut yang sudah melorot setengahnya. wanita itu heran bukan main melihat pemandangan tersebut.
"Wuih... bo utiye olo mo po tilandahu eee? herani wa'u yilongola timongoliyo dulota ti ma hem tuluhu teye? tantu ja tapu tambati waw ilo u'undi le Kenzie staw..." gumam nenek itu dengan iba.
(wuih... ternyata begini anak-anak jaman sekarang pacaran ya? heran aku, mengapa mereka berdua tidur disini? tentunya tak mendapat tempat layak dan sempat dikunci Kenzie dari dalam rumah, kah?)
Nenek Juno mendekatkan wajahnya ke wajah Trias. "Uhm... ja mohulo timongoliyo uamu..." (Kelihatannya mereka tak merasa kedinginan)
ketika Nenek Juno memeriksa wajah pemuda itu, pada saat itu kedua mata Trias melek dan...
ASTAGHFIRULLAAAAHHH AL ADZHIIIIIIMMMM.....!!!!
serta merta Trias berseru keras dan sempat mendorong kakinya kedepan membuat kursi itu oleng ke belakang dan keduanya terjungkal. Ipah yang kaget, gelagapan tapi tak sempat melakukan apa-apa karena ikut terjungkal membuat posisi keduanya bertindihan. Ipah berada diatas tubuh Trias. keduanya yang panik langsung tiba-tiba berdiri dan memperbaiki sikap.
"A-ada apa nek?!" tanya Trias dengan suara melengking karena gugup ditatapi Nenek Juno sedemikian cermat.
Ipah sendiri hanya tersenyum canggung, sambil menggaruk kepalanya yang sakit terantuk lantai ubin akibat terjungkal tadi.
"Kenapa kamu berdua tidur-tiduran disini? lagi berbuat mesum ya?!" tuduh Nenek Juno.
"Ih... enak aja Nenek nuduh kami begituan..." bantah Trias dengan wajah keruh. "Kami cuma nggak bisa tidur gara-gara latihan sampai jam 1 dini hari. jadi menghabiskan malam, ya kami ketiduran Nek, itu aja."
nenek juno tetap menatapi kedua pasangan itu dengan tatapan sangsi membuat Ipah jadi salah tingkah dan menggamit lengan Trias.
"Yaaassss.... " gumam Ipah dengan cemas.
tak lama kemudian Kenzie muncul. ia heran melihat kursi panjang terjungkal dan kedua sejoli itu ditatapi oleh neneknya dengan pandangan menginterogasi.
"Kenapa Nek?" tanya Kenzie mengerutkan alisnya.
Nenek Juno menatapi Kenzie. " Ti mongoliyo dulota ti o tapu'u motuluhu teye hem ipi-ipita lunggongo liyo.... yilongola ja po masualo ti mongoliyo Kenzie?" tegur nenek itu. (Mereka berdua kudapati tidur saling mendempetkan kepalanya. mengapa mereka tak kau suruh masuk?)
Kenzie tersenyum, "Sengaja nek. Mereka berdua katanya mau ronda. jagai rumah mencegah kejadian buruk kemarin terulang lagi."
nenek Juno mengangguk-angguk paham kemudian meninggalkan kedua sejoli itu. sejenak Kenzie menatap Trias lalu terkekeh dan mengedipkan matanya sebelah lalu berbalik kembali masuk ke dalam.
Trias dan Ipah langsung mendesah lega terlepas dari tuduhan tanpa alasan itu. segera mereka mengatur posisi bangku panjang lalu masuk kedalam rumah. Ipah tak lupa membawa dua gelas kopi yang isinya masih penuh karena tak sempat mereka habiskan. []
__ADS_1