Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # EPILOG


__ADS_3

Tiga tahun berlalu. telah banyak perubahan yang terjadi. namun bagi Kenzie semua terasa lambat karena kehampaan hati yang dirasakannya. dalam kesendirian, hanya Sandiaga yang dapat menghibur dan menguatkan hati Kenzie.


namun kegembiraan itu akhirnya datang juga. ia mendapat laporan bahwa istrinya akan dibebaskan sebulan lagi. Chiyome Mochizuki mendapat remisi disebabkan berkelakuan baik dalam masa penahanan itu. ia merupakan napi teladan sebab ia selalu berpartisipasi dengan segala program yang dijalankan pihak lapas. dan perkembangan itu sangat menggembirakan. semula pihak lapas pesimis sebab melihat kasus yang mendera napi nomor 110 itu. siapa yang berpikir bahwa ternyata sang pembunuh sadis itu sebenarnya hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang membela diri sebab suaminya hendak ditembak oleh gembong narkotika itu. kepala lapas bahkan sampai menghubungi Ekoriyadi untuk mendengar kisah itu sendiri darinya.


ketika kepala lapas memberitahu berita gembira ini, Chiyome hanya menyambutinya dengan senyum saja, tak seperti para napi lainnya yang akan berjingkrak gembira memdengar sebuah kebebasan.


"Apa kau tak senang dengan kebebasan ini?" pancing kepala lapas. "Kulihat kau hanya tersenyum saja."


"Kegembiraan tidak harus dirayakan dengan joget-joget, Bu." jawab Chiyome dengan diplomatis, "Cukuplah nanti kurayakan kebebasan ini bersama suamiku nanti... Ibu, terima kasih telah menyampaikan berita ini." sambung Chiyome sambil membungkuk hormat.


Kepala lapas itu tersenyum dan mengangguk-angguk. "Kalau begitu, biar diberitahukan saja berita ini pada Pak Kenzie Lasantu... biar dia saja yang melonjak gembira mendengar kebebasanmu." ujar Kepala Lapas setengah menggoda.


Chiyome kembali tersenyum menanggapi olokan itu.


...******...


Kenzie berdandan begitu rupa membuat Trias dan Saripah mengoloknya.


"Kamu kayak mau nikahan saja, dandanannya menor begitu. puber ketiga ya?" olok Trias.


"Diam kau!" hardik Kenzie, "Ini hari istimewa, tahu nggak kamu? hari ini aku akan menjemput pengantinku."


"Ya... ya... jemput pengantin... pengantin expired..." sambut Trias membuat tengkuk lelaki itu ditampar Kenzie.


"Eh, ayo cepat." desak Kenzie, "Wiffy mau bebas pukul 9 pagi ini. cepat dong! nanti terlambat!"


"Ya sabar, bro." jawab Trias yang sedang mengemudikan maung hitamnya dengan pelan dijalanan. "Ini kalau laju-lajuan, ntar kita dikira lagi balapan sama patwal."


"Alaah... nggak perduli aku." ujar Kenzie.


"Iya... ini sebentar lagi sampai." ujar Trias.


Maung hitam itu sudah menyusuri jalan Jendral Katamso dan berbelok ke kanan, berhenti didepan Lapas kelas III Perempuan. ketiga orang itu turun dari mobil dan menatap bangunan tahanan itu.


tak lama kemudian, pintu terbuka. keluarlah wanita bermata sipit dengan rambut panjang yang dikuncir ke belakang. Kenzie yang sudah tak mampu menahan perasaannya langsung lari menghambur.


"Wiffy!!!" seru Kenzie.


Chiyome tersentak ketika Kenzie memeluknya dengan erat. dan seketika jebol pertahanan dirinya. wanita itu menangis dalam kegembiraannya. kedua lengannya melingkar kuat seakan takut melepaskan dekapan itu.


"Hubby..." ujarnya ditengah sedu-sedan.


"Aku disini, sayangku... penantianku tak sia-sia." sahut Kenzie.


Trias dan Saripah berdiri saja disisi Maung hitam mereka menonton kemesraan itu. tanpa malu, Kenzie langsung memagut bibir istrinya dan mengulumnya begitu rupa disebabkan kerinduannya yang membuncah. Trias justru reseh dengan kelakuan sahabatnya.


"Isyyy... kawan, kenapa harus disini sih?" umpat Trias memalingkan wajah karena risih. Saripah tersenyum. Trias menatapnya.


"Umma kenapa liatin mereka?" todong Trias, "Pengen juga ya?!" tanya Trias dengan cemberut.


Saripah menatap suaminya. "Iya sih..." bisiknya.


"Ih, dirumah saja gih." ujar Trias, "Nanti aku kasih lebih dari itu."


Saripah tersipu dan memukul lengan suaminya dengan pelan. Trias menatap Kenzie. "Woy... sudah dulu mesra-mesraannya. nanti disambung dirumah saja. ayo! sudah telat ini." seru Trias menunjukkan arlojinya.


Kenzie tersipu, begitu juga dengan Chiyome. keduanya mendekati Trias dan Saripah. "Maaf..." ujar Kenzie dengan pelan.


"Nih, begini nih kalau lama tak bersama. dikira trotoar ini beranda rumahmu?" tegur Trias. "Ayo masuk. kita pulang."


keduanya menyusul Trias dan Saripah masuk kedalam kendaraan. Maung hitam itu kemudian melaju meninggalkan gedung lapas tersebut. dalam perjalanan, tak ada percakapan. yang ada hanyalah ungkapan perasaan antara Kenzie yang begitu erat menggenggam jemari istrinya. sesekali Trias yang melihat dari kaca spion, mencibir saja melihat kemesraan suami-istri itu.


kendaraan taktis itu tiba di Kediaman Lasantu. keempatnya turun dari mobil dan melangkah memasuki ruangan. Kenzie menarik jemari istrinya.


"Mari Wiffy, kita masuk kedalam." ajak Kenzie.


keduanya membuka pintu dan nampaklah diruang keluarga, berdiri Adnan dan Mariana, Endi yang sedang menggendong bayi berusia dua tahun, dan Fahruriza serta Sandiaga yang menggenggam sebuket bunga.


Adnan tersenyum. "Selamat datang, anakku." sambut lelaki itu.


Chiyome seketika luruh lagi hatinya. wanita itu terisak-isak. Mariana langsung menghambur memeluk Chiyome. "Ooohhh... anakku... anakku yang kurindukan... Mama benar-benar merindukanmu, nak." sedu nenek itu tersedu-sedan.


Trias sendiri kehilangan pertahanan diri. ia menangis sejadi-jadinya dipelukan istrinya membuat Kenzie jadi heran.


"Kamu kenapa? yang bahagia istriku, kok kamu mewek? lebay kamu." olok Kenzie dengan lirih.


"Pilotepa lo pombolumu... apa kau pikir ini bukan sebuah kebahagiaan? aku menangisi kebahagiaan kita. akhirnya kita berkumpul kembali setelah sekian lama kamu terpisah dari istrimu. kau pikir aku tak menghayati bagaimana kau tidur sendirian tanpa belaian selama tiga tahun lima bulan itu?" ujar Trias ditengah sedu-sedannya.


"Iya, aku paham. makasih sudah ikut berempati. tapi jangan begini dong. kamu itu aparat. jangan lebay begitulah..." tegur Kenzie.


"Biarin.. airmata, airmataku sendiri kok. apa urusanmu?" tangkis Trias kembali menangis dipelukan istrinya.

__ADS_1


Kenzie menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menatap Chiyome yang masih dipeluk Mariana seakan enggan dilepaskannya. lelaki bercambang itu mendekat.


"Mama... sudahlah... kita sekarang bahagia sudah berkumpul bersama." ujar Kenzie menyapu punggung ibunya.


Mariana mengangguk dan tersenyum. "Kau benar nak. sekarang kita bahagia dan tak boleh ada yang mengganggu kebahagiaan kita lagi. aku hanya ingin menikmati kebersamaan bersama menantuku ini." ujar Mariana dengan refleks mencubit hidung Chiyome.


"Aaauuugghhh... sakit maaa!!!" teriak Chiyome langsung memegangi hidungnya. semuanya tertawa.


Sandiaga maju. "Mama... selamat datang kembali." ujarnya menyerahkan buket bunga itu.


Chiyome terharu dan memeluk putranya. "Anakku..."


setelah puas memeluk Sandiaga, Chiyome menatap bayi perempuan berusia dua tahun dalam gendongan Endi. ia menatap kakek botak itu.


"Om... anak siapakah itu? cantik sekali." puji Chiyome.


"Tentu saja itu putriku." sela Trias yang mendekat dengan bangga. "Perkenalkan namanya, Inayah Amaliah Ali." ujar Trias dengan senyum dan meraih bayi dalam pelukan Endi.


"Namanya kok mirip dengan Iyun?" tanya Chiyome dengan heran.


"Itu idenya Ipah. di bersikeras menamai bayi kami dengan nama Iyun. itupun ia meminta restu Abah Murad. dan inilah Iyun kita, cucu dari Endrawan, Fahruriza dan Murad Gobel." jawab Trias.


"Boleh ku gendong?" tanya Chiyome.


Trias langsung menyerahkan bayi itu ke pelukan Chiyome. wanita itu tersenyum dan mencium pipi Inayah. "Halo anakku... ini aku, ibu mertuamu." bisik Chiyome sengaja agar Sandiaga tak mendengarnya. bayi itu merespon dengan melonjak-lonjak gembira.


"Kelihatannya dia tahu." goda Saripah.


Chiyome tersenyum sedang yang lainnya tertawa terkecuali Sandiaga yang berdiri bingung menatap mereka.


...******...


setahun kemudian.


terlihat perut Chiyome membuncit besar. usia kandungannya sudah memasuki trimester akhir. Kenzie benar-benar menjaga istrinya bagai menjaga harta karun yang menjadi incaran para lanun. segala kebutuhan istrinya selalu dipenuhi, bahkan Adnan sendiri sudah menghubungi salah satu rumah bersalin untuk membooking satu ruangan sebagai penjagaan apabila Chiyome mengalami pecah ketuban.


"Hubby..." panggil Chiyome.


Kenzie buru-buru muncul. lelaki itu telah berada disisi istrinya. "Kenapa Wiffy?"


"Kelihatannya, kita harus segera ke rumah sakit." ujar Chiyome. "Aku nggak mau mengalami pecah ketuban disini."


Kenzie tercenung. "Masuk akal juga. kalau begitu, bersiap-siaplah."


"Oke, sekarang berangkat." ujar Kenzie.


kendaraan itu perlahan meninggalkan Kediaman Lasantu dan menyusuri jalanan dengan kecepatan rata-rata. Kenzie tidak ingin hanya karena ingin cepat tiba menyebabkan dirinya tidak mengindahkan aturan kecepatan yang tentunya akan dapat berimbas pada bayi dalam kandungan istrinya.


mereka menuju klinik bersalin yang memang telah di booking sebelumnya oleh Adnan. keduanya sudah disambut oleh dokter dan perawat.


"Istri saya hanya ingin mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan. makanya kami langsung datang." jawab Kenzie.


"Keputusan yang bijak." komentar dokter tersebut. "Mari, biar kutunjukkan kamar anda." ajaknya.


tiba-tiba Chiyome memegangi perutnya. "Ahhh... sshhhh..." wanita itu meringis.


Kenzie mendapati bahwa darah telah mengalir. ditatapnya dokter.


"Ketubannya sudah pecah. ayo." ajak dokter.


perawat dengan tanggap langsung membawakan kursi roda. Chiyome didudukkan diatasnya dan didorong segera menuju kamar bersalin.


"Apakah ini persalinan pertama?" tanya dokter.


"Nggak, ini kelahiran kedua." jawab Kenzie.


"Semestinya tidak akan ada masalah. mari." ajak sang dokter.


Kenzie menghubungi ayah dan ibunya. Adnan langsung merespon akan segera ke klinik tersebut. setengah jam akhirnya, Adnan dan Mariana muncul.


"Bagaimana?" tanya Adnan.


Kenzie melihat ke pintu. "Masih menunggu bukaan-bukaan itu... katanya sih sudah bukaan lima." jawab Kenzie.


"Hmm... sedikit lagi." gumam Mariana.


ketiga orang itu kemudian duduk di bangku pada sisi dinding klinik itu. namun ketiganya tak tenang dan Adnan sering berdiri dan melangkah mondar-mandir. Kenzie hanya menatapi perilaku ayahnya saja.


"Pa... jangan keliaran begitu. Mama jadi panik nih." tegur Mariana.


Adnan akhirnya diam dan duduk kembali menggoyangkan salah satu tungkai kakinya. sementara kedua tangannya berpangku pada lututnya. wajah lelaki itu menunduk. Kenzie bangkit dan melangkah.

__ADS_1


"Mau kemana kau?" tanya Adnan.


"Beli air mineral... lama-lama gugup juga merasai lama waktu bersalinnya." jawab Kenzie sekenanya dan langsung melangkah lagi meninggalkan tempat itu.


lama juga Kenzie pergi dan beberapa jam kemudian terdengar suara orok menangis. Adnan langsung berdiri. tak lama kemudian keluarlah perawat.


"Keluarga Lasantu?" tanya perawat.


"Kami..." jawab Adnan.


"Alhamdulillah, pak. persalinan berjalan lancar. bayinya perempuan dan sehat. ibunya juga sehat." jawab perawat itu dengan senyum.


"Alhamdulillah..." seru Adnan dengan lega. ditatapinya perawat itu. "Boleh kami masuk?"


"Silahkan pak, bu." jawab perawat tersebut.


Adnan dan Mariana buru-buru menghambur kedalam kamar itu. nampak Chiyome yang terlihat agak gemuk karena habis melahirkan. sesosok bayi nampak sedang terbaring disisinya.


melihat kemunculan Adnan dan Mariana, wanita itu tersenyum. "Mama... Papa..." sambutnya dengan lemah.


"Istirahatlah... jangan pikirkan kami." kata Adnan.


"Hubby..." ujar Chiyome.


"Kenzie masih keluar membeli air mineral. dia gugup sekali." jawab Mariana.


Adnan menatap bayi yang tidur disisi Chiyome.


"Cantik sekali... kau sudah memberinya nama?" tanya Adnan.


Chiyome menggeleng lemah. "Hubby yang akan menamainya."


Adnan dan Mariana mengangguk-angguk. "Baiklah. kalau begitu kita tunggu Kenzie."


tak lama pintu terbuka. Kenzie muncul menghambur. "Wiffy... bagaimana?"


pertanyaan itu tak terjawab lagi sebab Kenzie melihat sosok bayi yang tidur disisi istrinya. perlahan tangan Kenzie meraih orok itu. air matanya berlinangan. didekapnya dengan pelan bayi itu dan mulai diazaninya kemudian diqamatinya. setelah menyelesaikan ritual itu ditatapinya sang istri.


"Namai putri kita, Hubby..." pinta Chiyome.


Kenzie menatap bayi dalam pelukannya dengan penuh kasih sayang. "Permataku... atas rahmat Allah... kunamai engkau... Airina Yuki Lasantu."


Adnan tersenyum puas begitupun dengan Mariana. pintu kembali terbuka. Trias, Saripah dan Endi muncul.


"Hai Bro." panggil Trias, "Aku mau lihat anakku."


Saripah langsung berdiri disisi Chiyome. ia menyapu rambut dan kening wanita itu. "Selamat ya..."


"Makasih..." jawab Chiyome.


"Sudah diberi nama?" tanya Saripah.


"Sudah..." jawab Chiyome.


"Berarti... kita tinggal tunggu aqiqahnya..." goda Saripah.


"Iya...." jawab Chiyome tersenyum.


Kenzie menyerahkan sejenak bayi itu ke pelukan Trias. entah kenapa Trias jadi berlinangan air mata. Kenzie jadi heran.


"Kenapa kau?" tanya lelaki itu.


"Nggak tahu..." sedu Trias, "Melihat bayi ini aku jadi terkenang waktu Ipah melahirkan Iyun.... aku terharu..."


"Ya... aku paham. tapi jangan begini dong." tegur Kenzie. "Kamu itu opsir, masa mewek begitu?"


"Biarin... aku mewek senang lihat anakku..." jawab Trias dengan enteng dan suasana dalam ruangan itu begitu terasa membahagiakan.



...****...


Pengadilan Negeri Kota Gorontalo.


Chiyome kembali berdiri dihadapan para hakim. namun kali ini bukan membahas tentang kasus pembunuhannya. wanita itu telah menyelesaikan berbagai macam persyaratan dan kini ia telah siap melakukan proses naturalisasi. Adnan sudah mengatur semuanya.


dihadapan para hakim dan memegang ujung bendera Merah Putih serta diangkat kitab Al-Qur'an oleh Qadi, Chiyome mengucapkan janji dan sumpah setia sebagai warga negara indonesia.


sementara dibarisan penonton nampak Kenzie yang menggendong Airina, Trias yang menggendong Iyun, Saripah, Endi, Adnan dan Mariana serta beberapa anggota keluarga Lasantu dan Mantulagi. wajah mereka begitu sumringah dan semakin bahagia ketika hakim memutuskan mengabulkan permintaan naturalisasi dari wanita tersebut.


Chiyome mencium bendera Merah Putih, lalu menyalami para hakim. setelah itu, ia kemudian meminta perubahan nama kepada para hakim. semua hakim berdiskusi dan mereka setuju.

__ADS_1


sidang kembali digelar dan sempat membuat keluarga Lasantu bingung. namun setelah hakim mengutarakan alasannya, mereka paham dan mengangguk puas. setelah menimbang dan mengingat berbagai pasal sehubungan dengan itu, hakim memutuskan bahwa mereka mengabulkan penggantian nama Chiyome Mochizuki menjadi Azkiya Fatriyanti Lasantu.


...《TAMAT》...


__ADS_2