
Aisyah menghempaskan tubuh lelahnya ke kasur. butiran keringat yang membasahi wajahnya dibersihkan menggunakan tisu basah. ia menyalakan kipas angin besar disudut ruangan, kemudian kembali menyandarkan tubuhnya dengan nikmat di kasur
tak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Aisyah memasang headset ke telinganya dan menyambungnya dengan ponsel lalu menekan tombol.
📲 "Assalamualaikum, nak." terdengar suara Hasnia diseberang.
📲 "Wa alaikum salam, kenapa bi?" tanya Aisyah.
📲 "Kau sudah terima kiriman uang dari Mamamu?" tanya Hasnia.
📲 "Nanti saya cek di rekening." kata Aisyah.
📲 "Mamamu tadi menghubungi bibi. dia bilang, dia baru saja mentransfer uang ke rekening mu, setelah dia mentransfer uang ke rekening kami. keberadaanmu bersama Papamu sudah Bibi kabari padanya sejak dulu. tadi dia meminta fotomu lewat telegram, jadi Bibi mengirimkannya." kata Hasnia.
📲 "Bilang sama Mama juga, saya minta fotonya. Bibi kirim lewat Whatsapp saja ya?" pinta Aisyah.
📲 "Nanti Bibi sampaikan.." jawab Hasnia.
📲 "Makasih Bi, saya tutup dulu ya, soalnya Aisyah capek, baru pulang dari kampus..." kata Aisyah.
📲 "Ya sudah... Assalamualaikum. "
hubungan seluler itu terputus . Aisyah kemudian merebahkan diri di kasur. sapuan angin yang dihembuskan oleh baling-baling kipas membuai kesadaran Aisyah hingga membuatnya terlelap karena kelelahan.
...*********...
ponsel disaku Kenzie bergetar. pemuda itu mengeluarkan gadgetnya dan membaca pesan singkat yang masuk. kemudian benda itu dimasukkannya kembali ke saku. Kenzie merobek sebagian kertas dibukunya lalu menulis kalimat-kalimat dengan menggunakan sandi yang hanya diketahui oleh dia dan Trias. kertas berisi pesan itu dilipatnya kemudian Kenzie menyenggol Ramli.
"Sampaikan pada Trias." bisiknya menyerahkan kertas itu pada Ramli.
Ramli menyeberang meja memberikan kertas pemberian Kenzie kepada Trias setelah itu kembali ke tempatnya. dengan rasa ingin tahu, Trias membuka lipatan-lipatan kertas itu dan membaca isinya.
kegiatan itu tak luput dari perhatian Chiyome, namun gadis itu tak bergerak dari tempatnya, melainkan pura-pura konsentrasi dengan pelajaran yang sementara diajarkan seorang guru.
"Sudah ku sampaikan..." kata lelaki itu kepada Kenzie. pemuda itu mengangguk kepada Ramli dan Ramli kemudian mengangguk kepada salah Trias lagi.
Kenzie mengangguk lagi menanggapi anggukan penuh arti oleh Trias. sementara Chiyome tetap mengawasi keduanya dwngan jangkauan pandangan perimetal (memandang melalui sisi kornea tanpa menggerakkan mata).
jam berdentang disusul bel listrik berbunyi menandakan waktu istirahat siang yang diisi dengan sholat dhuhur berjamaah bagi kalangan siswa-siswi muslim, sedang yang non muslim menggunakan waktu istirahat dengan belanja dikantin atau sekedar bermain dilapangan basket yang terlindung oleh naungan rindang cabang yang berdaun lebat.
mushola sekolah itu memang berukuran agak besar dan sering difungsikan untuk sholat jum'at berjamaah karena dalam ruangan mihrab ada sebuah mimbar model podium yang digunakan oleh khotib untuk menyampaikan khutbah. kegiatan jum'at berjamaah menjadi salah satu kegiatan dari rohis SMUN 3 Kota Gorontalo.
salah satu siswa mengaktifkan mikropon dan mulai melantunkan Adzan dhuhur bersamaan dengan beberapa siswi yang mengenakan mukena dan para siswa yang mengenakan peci memasuki bangunan ibadah tersebut.
Kenzie yang sudah selesai berwudhu kemudian masuk dan langsung mengerjakan sholat sunnat tahyatul masjid. Trias menyusul. ia mengerjakan sholat yang sama dengan Kenzie, tepat dibelakang shaf.
Chiyome tidak pernah memberitahu siapapun bahwa ia menganut agama islam, dan siswa-siswa lain juga tak mempertanyakannya. mereka berpikir bahwa Chiyome beragama buddha atau shinto. dan pemikiran mereka memang tidak salah, sesuai dengan pakem umum yang berlaku didunia inetrnasional. Chiyome juga membiarkannya. ia lebih memilih duduk dibangku panjang dekat mushala bersama dengan siswi-siswi non muslim lainnya.
setelah melaksanakan sholat, Kenzie beringsut mundur hingga duduk disamping Trias.
"Aku sudah membaca pesannya. " kata Trias dengan pelan.
"Bagaimana selanjutnya?" tanya Kenzie.
"Temui dia. aku akan memantaumu dari jauh." jawab Trias. "Dia minta bertemu dimana?"
"Dalam auka tertutup depan jalan." jawab Kenzie sambil membuang anggukannya keluar.
"Sehabis dhuhur ini?" tanya Trias. Kenzie mengangguk.
Trias balas mengangguk kemudian kembali larut dalam symphoni dzikir yang mengalun melalui mulutnya. sementara menunggu waktu sholat, beberapa guru kemudian masuk. tak berapa lama sang muadzin bangkit dan mengumandangkan iqamah. salah satu guru menjadi imam dan ritual sholat dhuhur itu berlangsung dengan khidmat.
selesai sholat, para siswa menggerombol keluar dari mushala. Trias dan Kenzie menunggu ruangan itu sepi. setelah memastikan tak ada satupun dalam ruangan itu, Trias menoleh kearah Kenzie.
"Kau punya nomornya Oom Ahmad ?" tanya Trias.
"Papa memberikannya tadi pagi." jawab Kenzie sambil mengutak-atik ponselnya.
"Aku yakin Burhan memata-matai kita. kau duluan saja. nanti aku belakangan." kata Trias sambil berbaring dilantai mushala.
tak lama Chiyome muncul dan membuka sepatu kemudian masuk kedalam mushola. ia duduk bersimpuh didepan Trias yang sementara berbaring.
"Biasanya kalian selalu berdua. kenapa Kenzie pergi?" tanya Chiyome melihat-lihat suasana luar. "Apakah kalian bertengkar?!"
Trias langsung bangun dan duduk mendengar suara Chiyome. "Nggak... aku hanya suka baring-baring saja. jam masuk masih lama. mungkin Ken ke toilet."
"Dia tidak ketoilet." jawab Chiyome. "Keluar dari gerbang, Menyeberangi jalan dan masuk ke bangunan sana." ujarnya menunjuk aula tertutup.
mulut Trias membulat meski ia tak beranjak dari tempatnya. Chiyome tiba-tiba mencondongkan tubuhnya hampir menindih Trias. tatapannya mengarah ke bangunan olahraga.
"Apa yang ia perbuat disana?" tanya Chiyome penuh penasaran.
__ADS_1
"Lagakmu itu..." ujar Trias sambil mendorong pelan tubuh Chiyome agar tegak kembali.
gadis itu menatapi Trias."Bukankah aku sahabat kalian? apa aku nggak boleh tahu?"
Trias menatapi Chiyome dengan tajam dan dibalas juga oleh Chiyome dengan tatapan yang sama. Trias terhenyak lalu membuang pandangannya ke mimbar.
Chiyome menarik napas kecewa. "Kau tak mau mengatakannya, itu hakmu." ujar gadis itu hendak bangkit. namun kali ini cekalan tangan Trias pada lengannya mengurungkan gerakan gadis itu.
"Kamu bisa jaga rahasia?" tanya Trias dengan pelan. Chiyome menatap lama kemudian mengangguk.
Trias menghela napas sejenak. lalu menatapi bangunan gelanggang dari kaca jendela mushola.
"Kami sedang melakukan penyelidikan terhadap teman kami." kata Trias. Chiyome terus mencerna perkataan sahabatnya. Trias kembali melanjutkan, "Kemarin Kenzie dijebak oleh Burhan sampe makai narkoba."
mendengar iru, mata Chiyome langsung membulat. Trias melanjutkan ceritanya. "Kenzie sempat sakau. untung saja aku mencegahnya."
"Jadi?" pancing Chiyome.
"Kami akan menjebak Burhan agar ia tanpa sadar membongkar sindikatnya." jawab Trias.
"Sangat mendebarkan." sahut Chiyome.
lama kemudian mereka diam dalam hening hingga Chiyome kemudian berkata, "Sebaiknya kau segera kesana. mungkin mereka sementara bertransaksi."
Trias mengangguk dan langsung bangkit keluar dari mushola dan setengah berlari menuju gerbang. ia menyeberang dan tiba didepan bangunan gelanggang. Trias mengendap-endap masuk dan bersembunyi didinding mencuri dengar pembicaraan Kenzie dengan Burhan.
"Deal?" tanya Burhan.
"Oke, deal!" jawab Kenzie dengan mantap.
Burhan mengangguk lalu berbalik meninggalkan bangunan. Trias menunggu suasana kondusif, dia kemudian mendekati Kenzie.
"Bagaimana? apanya yang deal?" tanya Trias.
"Aku menyanggupi harga yang dia minta." jawab Kenzie sambil berjalan kepintu dan mengintip memastikan Burhan tak berada disana.
"Berapa?" tanya Trias.
"Lima juta perbungkus." jawab Kenzie.
"Gila..." desis Trias. "Bagaimana caramu mengumpulkan uang?"
"Itu urusanku.." kata Kenzie. "Tapi kita harus bergerak cepat."
Kenzie mengeluarkan ponsel dan memencet nomor. sedangkan Trias mengawasi lewat celah pintu memperhatikan kondisi. tak lama kemudian terdengar suara dari seberang.
📞"Assalamualaikum?"
📞"Ini Kenzie Oom. kami sudah menjalin hubungan dengan pengedarnya. selanjutnya bagaimana?"
📞"Desak dia untuk mempertemukan kalian dengan teman-temannya." kata Oom Ahmad.
📞"Akan kami laksanakan Oom. kami tutup dulu." kata Kenzie sambil mematikan ponsel dan menaruhnya dalam saku.
"Ayo kita ke kelas. sudah jam belajar tuh." kata Trias sambil membuka pintu. tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang mengamati apa yang mereka lakukan.
...********...
"Sudah selesai transaksinya?" pancing Chiyome dihadapan mereka ketika para siswa sudah pulang.
Kenzie terkejut lalu menatapi Trias. pemuda itu mengangkat bahu.
"Kau cerita sama dia?" todong Kenzie.
sambil menghela napas, Trias mengangguk. tiba-tiba tinju Kenzie melayang dilengannya.
"Kamu gimana sih? nggak bisa pegang rahasia. kalau kebongkar gimana?" sembur Kenzie dengan nada tinggi.
"Kamu kenapa sih? cuma sekedar tahu saja nggak boleh?!" todong Chiyome. "Kamu nggak usah kuatir. aku bisa jaga rahasia kok."
"Kamu sadar kan konsekuensinya gimana?" tanya Kenzie pada Chiyome. gadis itu hanya melengos, malas ditodong seperti itu. kalau bukan menerapkan prinsip mugei numei, sudah dari tadi pemuda itu dilabraknya.
Chiyome hendak berbalik namun kembali Kenzie menahan lengannya.
"Chiyoooo...." panggil Kenzie menyingkat nama gadis itu.
"Apaan sih?" tanya Chiyome mulai jengkel.
"Kau belum jawab pertanyaanku." kata Kenzie.
Trias menatapi keduanya langsung beringsut mundur meninggalkan kelas yang sudah sepi.
__ADS_1
sebaiknya aku menyingkir. aku nggak mau jadi tumbal perang dunia ketiga....
sementara dikelas, kedua muda-mudi itu masih terlibat pertengkaran.
"Pertanyaan yang mana?" tantang Chiyome. gadis itu mulai berani unjuk gigi. namun Kenzie justru diam dengan rahang yang mengencang.
"Malas aku jawab itu." kata Chiyome kembali membalik badan. tiba-tiba Kenzie yang jengkel langsung menarik tangan Chiyome.
gadis itu tertarik dengan keras dan tanpa sadar tangan Kenzie terkembang. ia jatuh dalam pelukan pemuda itu. tatapan keduanya bertemu.
deg deg deg deg....
"Aku nggak mau kamu terluka." tandas Kenzie.
kening Chiyome mengerut. "Maksudmu?"
"Kamu teman aku. sahabat aku. aku nggak mau membiarkanmu menanggung konsekuensi yang tidak harus kau pikul." jawab Kenzie dengan lembut.
Chiyome meronta sedikit hingga Kenzie melepaskan pelukannya.
"Kau pikir aku nggak bisa jaga rahasia?" tantang Chiyome.
"Aku percaya kau bisa jaga rahasia. tapi aku tak menjamin bahaya akan mengintaimu karena rahasia itu." kata Kenzie sambil maju selangkah dan memegang pundak gadis itu. "Sebagai sahabatmu, aku berkewajiban menjagamu. melindungi kamu. bagaimana tanggapan orang tuamu nanti kalau ada apa-apa terjadi padamu? aku tak ingin dibilang orang tak bertanggung jawab."
wajah Chiyome memerah mendengar ucapan pemuda itu. baru sehari kenalan, pemuda itu sudah bersikap protektif. kata-katanya penuh makna membuat Chiyome merasa mengambang diantara dua pemikiran.
apakah ia melindungiku sebagai teman atau sebagai kekasih? aduh... kok jadi rumit begini? kalimat-kalimatnya selalu ambigu....
"Kenzie...." kata Chiyome seraya melepaskan tangan Kenzie yang memegang pundaknya. gadis itu kemudian melipat tangannya didada. pandangannya menyipit, mencari kejujuran dalam tatapan pemuda itu.
Kenzie berdiri menatapi gadis itu. Chiyome menarik napas sejenak. lalu menatapi kembali Kenzie.
"Jawab dengan jujur, Kenzie." pinta Chiyome.
kini Kenzie yang giliran melipat tangannya didada. "Ada apa? apa yang mau kau katakan?"
"Apakah semua teman-teman perempuan Di sekolah ini, kau perlakukan seperti aku?" todong Chiyome.
Kenzie tertawa lalu menggeleng. "Ada-ada saja. tentu tidak lah... aku nggak sepeduli itu dengan mereka."
Chiyome memiringkan kepalanya. "Lalu, perlakuanmu tadi... protektif sekali... maksudmu apa?"
DEG. DEG. DEG
Kenzie langsung terdiam. lidahnya sejenak kelu. tatapan Chiyome seperti memaksanya untuk menjawab.
"Aku hanya ingin menciptakan kesan baik padamu sebagai teman yang ingin melindungi temannya. kau sendiri baru sehari disini. kau belum mengenal iklim dan kondisi disini." jawab Kenzie.
"Kita baru sehari kenalan dan jadi sahabat, Kenzie. aku heran kau seprotektif ini padaku. jangan bilang karena aku orang asing dan aku tak mampu menjaga diriku, dan kau ingin menjadi pelindungku. aku tak selemah itu, Kenzie." bantah Chiyome sambil membalik lagi.
Kenzie mengejar langkah gadis itu. "Okey. aku percaya kamu kuat dan bisa jaga rahasia. tapi seenggaknya biarkan aku mewakili teman-temanku untuk menjagamu disini. kau tidak sendiri Chiyo."
Chiyome berhenti mendadak lalu menghadapkan tubuhnya kearah Kenzie.
"Satu hal yang harus kau tahu, Kenzie. namaku Chiyome, bukan Chiyo. tekankan dalam kepalamu. yang kedua, bersikaplah biasa padaku, Kenzie. perlakuanmu akan menimbulkan efek yang tidak baik dalam hubungan persahabatan kita. dan yang ketiga, tolong...aku minta tolong padamu.... jangan buai aku dengan kalimat-kalimat ambigu yang keluar dari bibirmu itu." tandas Chiyome kemudian kembali melangkah menyusuri koridor.
"Chiyooo... aku belum selesai bicara." kejar Kenzie.
Chiyome kembali membalikkan wajahnya dengan kesal memandang Kenzie. tapi pemuda itu tidak peduli dan kembali menjajari langkah gadis itu.
"Chiyo, dengar dulu.." kata Kenzie.
"Sudah kubilang namaku bukan Chiyo, Kenzie!" bentak Chiyome dengan kesal.
"Namamu terlalu panjang. jadi kusingkat saja. kau boleh memanggilku Ken, aku santai saja." kata Kenzie sambil memutar-mutar tangannya memberikan pengertian.
keduanya kini sudah berada dihalaman menuju gerbang. tiba-tiba Kenzie langsung menghalang langkah gadis itu dan mengangkat tangannya.
"Okey. aku nggak akan berlaku seperti itu lagi. aku janji." kata Kenzie.
Chiyome memandangnya lalu membuang napasnya. keduanya kini saling bertatapan.
"Maafkan aku." kata Kenzie.
"Iya... nggak apa-apa..." jawab Chiyome dengan pelan dan menunduk.
"Aku sayang kamu.." kata Kenzie dengan refleks membuat Chiyome langsung menengadahkan wajah menatapi Kenzie.
pemuda itu gelagapan. "Maksudku, aku sayang kamu karena kau sahabatku."
uuuhhh... padahal aku sudah senang dia bilang begitu... ternyata.....
__ADS_1
Chiyome mengangguk sambil menunduk. "Aku pulang dulu." kata gadis itu langsung menghentikan sebuah bentor yang lewat kemudian duduk anteng dijoknya.
Kenzie tak mampu mengejarnya. kakinya terasa berat. perasaannya bimbang. bentor itu melaju meninggalkan sekolah. dengan lesu, Kenzie berbalik langkah menuju tempat parkir dan mengeluarkan motornya dari garasi sekolah. ia memutar kunci dan menyalakan mesin kemudian melajukan motornya meninggalkan sekolah. hati telah beranjak senja. []