Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA #184


__ADS_3

Chiyome hanya bisa berdiri terpaku menatap gundukan tanah yang masih basah. ia sudah kelelahan, baik fisik dan mental. dinisan batu terpahat dalam aksara romanji, nama sang ibu.


......FITRI LASABANG......


...Lahir ; Gorontalo 28 Juli 1998...


...Wafat ; Shiga, 30 Juli 2028...


sang ayah tak kelihatan disitu. seharian Kameie mengurung diri dikamarnya dan tak ingin ditemui siapapun, oleh anak-anaknya sekalipun.


Chiyome paham apa yang membuat ayahnya berlaku demikian. kehilangan orang yang kita cintai seperti menjalani kehidupan tanpa semangat hidup. menjadi rerumputan terlihat lebih baik. di injak ataupun dimakan hewan, sudah menjadi suatu anugerah karena telah menjalani tujuan hidupnya sebagai makanan para herbivora.


Kenzie berdiri dibelakang sang istri, tak tahu harus berbuat apa. ia yang bahkan bisa meluluhkan sifat monster istrinya kali ini kebingungan dalam sikapnya. Kenzie takut salah berlaku justru malah memperkeruh suasana hati Chiyome. ia diam saja.


entah berapa jam dilalui mereka bertiga hingga panggilan Iechika menyadarkan Chiyome dari keheningan pikirannya. wanita itu menoleh.


"Masuklah... nyaris seharian kau disana. apa kau mau masuk angin?" panggil Iechika setengah menegur.


Chiyome mendesah lalu menarik napas panjang. ia menyeka butiran airmata yang sempat membasahi pipi putihnya itu lalu berbalik menatap Kenzie dan Sandiaga. wanita itu mengayun kaki selangkah hingga tiba dihadapan suaminya.


"Hubby..." suara serak Chiyome menggugah keharuannya.


serentak Kenzie maju merengkuh tubuh sang istri dan memeluknya dengan erat. "Jangan tahan Wiffy... tumpahkan... ada dadaku disini..." bisik Kenzie dengan lirih.


motivasi batiniyah sang suami menggugah perasaan rindu yang memuncak kepada sang ibu. Chiyome tak memikirkan apalagi, mencurahkan kepiluan hatinya, membanjiri pakaian suaminya dengan airmatanya yang seketika luruh. merobek keheningan tanah ditepi danau Biwa yang dihampiri sabana dengan tangisan memilukan. Kenzie sendiri menangis, namun tanpa suara. rahangnya mengencang berupaya jangan mengeluarkan suara entah itu ratapan ataupun keluhan. berupaya terlihat lebih tegar agar sang istri tidak merasa bahwa ia kehilangan pijakan.


pedang itu sedang mendesingkan suara bilahnya. kau sarungnya, nak... jangan biarkan ia terhunus....


"Sudah puaskah Wiffy?" tanya Kenzie dengan lirih.


Chiyome sesenggukan bersama isakannya, membenamkan wajah dalam dada suaminya ditengah tubuh kecilnya yang terbenam dalam pelukan lelaki itu. Iechika sendiri sejak tadi sudah memanggil Sandiaga.


"Biarkan ibumu mencurahkan kedukaannya. mari ikut paman." ajak Iechika dengan bahasa indonesia yang patah-patah.


"Ojisan... dozo.." jawab Sandiaga kemudian melangkah meninggalkan Iechika. lelaki itu terperangah sejenak, tak menyangka sang ponakan bisa bicara bahasa jepang dengan lancar. tapi, bukankah itu wajar? ibunya kan orang jepang.


kedua sejoli itu masih betah berlama-lama disana. Kenzie meraih dan menangkup wajah istrinya. "Wiffy... ada aku disini. kau tak sendirian dimuka bumi. jangan terlalu larut dalam kedukaan. jika kita sabar, Allah akan memberikan kita sesuatu yang lebih baik sebagai penawar hati."


Chiyome menatap wajah suaminya dengan dalam. "Hubby... tak akan meninggalkan Wiffy, kan?"


Kenzie tersenyum lalu mengecup lembut bibir istrinya. dengan serak suaranya, ia menjawab. "Bagaimana bisa kulepaskan kamu, sayang?... tubuhku... dan jiwaku sudah teracuni oleh cintamu... aku nggak bisa hidup tanpa kamu."


kembali Chiyome menangis, namun kali ini ia terhibur. setidaknya, kalimat yang diucapkan Kenzie barusan menjadi obat pelapur sedih.


"Sebelum pergi.... mari kita doakan Okaa-San. semoga, ibu sebaik dia, Allah tempatkan ditempat yang terbaik." kata Kenzie menyemangati.


Chiyome akhirnya mengangguk. masih dalam pelukan suaminya. sang wanita menatap pusara ibunya.


*Alhamdulillah... Okaa-San sekarang sudah terlepas dari urusan dunia. tenanglah Okaa-San. selama aku ada, doaku akan terus terlantun untukmu... inna lillahi wa inna ilaihi rooji'un... segala sesuatunya akan kembali menjadi tiada.


Allahummaghfirlaha... warhamha... wa aafihaa... wa' fu'anha...


Ya Allah... ampuni ibuku... kasihilah ibuku... mudahkanlah perjalanan ibuku... dan senangkanlah ibuku*...


setelah melantunkan doa secara syir dalam hatinya, Chiyome mengajak Kenzie meninggalkan tempat itu. keduanya melangkah masih dalam posisi berpelukan, meninggalkan area sabana ditepian danau Biwa tersebut.


...******...


ini adalah hari perkabungan yang kedua. dalam adat orang indonesia, perkabungan dirayakan selama tujuh hari berturut-turut. biasanya dilakukan selamatan seperti kenduri. orang Gorontalo menyebutnya mongaruwa.


namun karena penduduk sekitaran bukan beragama islam dan terkesan individualis maka acara itu hanya diadakan dalam rumah saja.


malam itu, Sandiaga menunjukkan keterampilannya mendaras kitab suci Al-Qur'an pada QS. Al-Mulk. Ienaga terheran-heran menyaksikan anak sekecil itu sudah mampu membaca kitab suci dengan lancarnya. Keitaro Yasuyori dan Keitaro Yasinori menggelengkan kepala dengan takjub.


"Kau memasukkan anak ini di kuil mana hingga ia secakap ini membacakan kitab?" tanya Yasuyori kepada Chiyome.


Chiyome hanya tersenyum datar. Kenzie menjawab dengan bahasa inggris, "Kami memasukkannya ke pesantren Al-khairaat."


"Pesantren?...." gumam Yasuyori, "Al-khairaat?..." ujarnya dengan lirih.


"Katakanlah itu semacam kuil shorinji, atau kuil-kuil budha lainnya, namun untuk kasus ini, fungsi pesantren seperti itu." jawab Kenzie.

__ADS_1


Yasuyori mengangguk-angguk. "Apakah di Indonesia, ada kuil untuk orang islam? luar biasa... anak sekecil ini..." pujinya, tak lagi meneruskan kalimatnya.


Kenzie hanya tersenyum.


sementara dibiliknya, Kameie mendengar sayup-sayup suara sang cucu melantunkan bacaan Al-Qur'an. tanpa sadar, air matanya membanjir kembali. kenangan itu terlintas lagi.


...*****...


Kameie merasa penasaran dengan seorang wanita yang melayani keperluan konsumsi mereka saat pertemuan. ia tak banyak bicara, entah karena belum terlalu paham bahasa jepang atau memang seorang introvert.


Kameie menatap arloji dipergelangan tangannya. waktu menunjukkan pukul 3.15 petang. kelihatannya wanita berseragam putih itu buru-buru masuk ke sebuah ruangan. lelaki itu menatap sebagian kawan-kawannya dan kolega mereka yang hanyut dalam makan-minum itu. ia sendiri tak berselera dan memilih bangkit.


"Eh, mau kemana kau?" tanya Hitoshi.


"Buang air." jawab Kameie dengan singkat lalu berbalik meninggalkan ruangan itu.


ia mengikuti jejak wanita tersebut dan menemukan ruangan yang dimasuki, namun seorang pegawai wanita mencegatnya.


"Tuanku mau kemana?" tanya pegawai itu dengan santun.


"Perempuan berseragam biru itu... apa yang dilakukannya diruangan ini?" tanya Kameie dengan pelan.


pegawai itu tersenyum, "Oohhh... ruangan disebelah ini adalah ruang khusus untuk beribadah bagi para pengunjung muslim." jawabnya. "Jam segini, dia memang hendak melaksanakan ibadahnya."


"Muslim?" tanya Kameie dengan lirih.


pegawai itu mengangguk. "Dia seorang TKW dari Indonesia."


"Tapi, setahuku... perempuan muslim pasti mengenakan baju kurung yang sampai ke dada itu bukan?" tanya Kameie. "Seperti yang kulihat sama orang-orang Turki di Masiid Camee Tokyo."


"Jilbab?" tebak pegawai itu.


Kameie mengangguk. pegawai itu tersenyum lagi. "Nanti saja Tuanku tanyakan sama dia. saya juga nggak begitu paham."


pegawai itu kemudian memintanya dengan sopan untuk meninggalkan ruangan itu. Kameie meninggalkan ruangan itu masih dengan penasaran. lelaki itu kembali ke ruangan dimana pertemuan dilangsungkan.


"Kamu darimana saja, Saburo?" tanya Tasuku menyebut nama tengah dari lelaki itu. sang ayah memang lebih senang menyebut putranya dengan nama itu.


Tasuku menautkan alis. "Buang air? kamu nggak sedang mempermainkan ayah, kan?"


Kameie tersenyum lagi. sementara sahabatnya, Ienaga tak lama kemudian muncul lalu duduk dibelakang Kameie.


"Aman Bro. semua sudah sesuai yang kau inginkan." ujar Ienaga dengan lirih.


Kameie menoleh sedikit. "Bagus."


Tasuku mengangguk. "Kalau begitu, aku pergi dulu. kurasa Tuanku Hidesato sedang menunggu dimarkas." lelaki itu bangkit lalu mengajak asistennya Hitoshi. lelaki itu membungkuk sejenak lalu ikut bangkit dan mengikuti langkah majikannya.


Kameie membiarkan semua kawan-kawannya bersenang-senang, sedang dia sendiri bangkit kembali keluar ruangan. Ienaga bangkit mengikutinya. keduanya berjalan dilorong.


"Sejauhmana kau melihat Heita Masakado menjalin hubungan dengan Iwashu Kai?" tanya Kameie.


"Kau akan menemukannya sendiri. aku sudah menempatkan beberapa orang kita di kawasan utara. kurasa, itu sudah lebih dari cukup untuk bisa memantau gerakan orang-orangnya Masakado." jawab Ienaga.


keduanya terus menyusuri lorong. "Oh ya. aku ingin kau menyelidiki sesuatu." pinta Kameie.


"Tentang apa?" tanya Ienaga.


"Di tempat ini, ada seorang TKW asal indonesia. aku ingin kau mencari tahu tentang dirinya. laporkan hal itu padaku besok." pinta Kameie.


"Baiklah..." ujar Ienaga kemudian berhenti dan berbalik langkah meninggalkan Kameie.


lelaki itu sendiri melangkah meninggalkan tempat itu.


...******...


Kameie mengangguk-angguk saat Ienaga menyerahkan sebuah amplop besar berisi data tentang wanita tersebut. lelaki itu membiarkan tubuh kekarnya yang terselimuti rajahan irezumi itu dibalut kemeja lengan panjang tipis dari sutra yang menyamarkan rajahan itu. dua kenopnya terbuka membiarkan kemeja itu membuka.


"Ada lagi yang harus kulakukan untukmu?" tanya Ienaga.


"Nggak ada untuk hari ini." ujar Kameie. "Tapi kau harus tetap berkoordinasi dengan kawananmu itu. kita harus tetap mengamati tidak-tanduk orang-orang Iwashu Kai."

__ADS_1


Ienaga sejenak melirik amplop dalam genggaman Kameie. "Apakah wanita itu adalah informannya Iwashu Kai?" tanya Ienaga.


Kameie diam menatap amplop besar dalam genggaman tangannya. "Aku sendiri yang akan menyelidikinya."


Ienaga mengangguk. "Baiklah... kalau begitu, aku pergi dulu." ujarnya kemudian bangkit meninggalkan ruangan.


Kameie membuka amplop itu dan mengeluarkan selembar data diri beserta foto ukuran 12 R milik wanita tersebut. ia membaca dirinya.


"Nama yang unik.... Fitri Dg. Mitana Lasabang..." gumam Kameie. matanya terus membaca semua data diri wanita tersebut.


...******...


Fitri tertegun mendengar kalimat yang keluar dari mulut manajernya. dipecat? ini tak mungkin. wanita itu merasa tak melakukan apapun kesalahan selama bekerja disana. bahkan bagian kepegawaian mengakuinya. namun manajer restoran itu bahkan menjatuhkan keputusan yang zalim kepadanya.


wanita itu menggigiti bibir bawahnya. bagaimana ia bisa menyambung hidup dinegeri ini. kontraknya masih lama. masih empat tahun lagi dan selama itu, setiap tahun ia harus membayar uang jasa kepada agennya. kini ia dipecat. bagaimana ia harus menunaikan kewajiban tahunan itu? bagaimana ia harus menghidupi putrinya yang ditinggalkannya di Poso? haruskah dia merendahkan harga dirinya sebagai wanita muslim?


"Kamu nggak usah kuatir, Fitri." ujar manajer itu. "Meskipun kau tak lagi bekerja disini, aku akan memberikan biaya pesangonmu tiga kali lipat. dan aku merekomendasikan kau untuk bekerja disini."


manajer itu memberikan sebuah kartu. Fitri menerimanya dan membaca apa yang tertera dalam kartu tersebut.


"Lelaki ini bernama Kameie Saburo Mochizuki. ia pemilik restoran kecil itu. kurasa, nasib baik akan menemuimu jika kau bekerja padanya." ujar manajer itu kemudian menyerahkan sebuah amplop tebal. itu biaya pesangonnya seperti yang dijanjikan. tiga kali lipat.


...******...


Kameie menatap wajah yang tak mampu dilupakannya sejak pertemuan tak sengaja itu. dan kali ini, wanita tersebut mengenakan jilbab yang membuat penampilannya semakin menawan pandangan lelaki genyosha tersebut.


Fitri sendiri tidak pernah menatap secara langsung wajah Kameie melainkan sesedikit melirik saja sebab heran, lelaki itu tak menyentuh sama sekali map berisi surat lamaran kerja itu.


"Tuan... ada yang salah dengan saya?" tanya Fitri dengan lembut.


pertanyaan itu berhasil membuat Kameie terlempar kembali ke realitas dan ia tergagap. "Ti-tidak... aku hanya sedikit kaget."


Fitri mengangkat alis dan wajah polosnya kembali membuat Kameie benar-benar dilanda paralysis berpikir. lelaki itu berupaya mencari-cari alasan yang bisa dijadikan sandaran agar ia tak merasa ditelanjangi jilbaber itu tanpa disadarinya.


"Kau seorang muslim, Fitri?" tanya Kameie dengan wajah yang dibuat serius.


"Ada yang salah dengan agama saya, tuan?" tanya Fitri.


Kameie menggeleng lagi. "Nggak... tapi, kurasa kau akan kesulitan beradaptasi dengan gaya kerja kami disini. apalagi aku tahu, kau sangat tekun beribadah."


Fitri tersenyum, "Tuanku tak perlu kuatir... saya bisa membagi waktu kerja dan ibadah saya, semampu yang saya bisa." ujarnya dengan mantap.


"Kulihat kau ditempat kerja lamamu tak mengenakan jilbab. mengapa?" selidik Kameie.


Fitri tersenyum dan menunduk sejenak lalu mengangkat wajahnya kembali. "Manajer tak mengijinkanku mengenakan jilbab. lagipula, jilbab itu hanya sebuah pakaian. jika anda berpikir, bahwa jilbab adalah sebuah simbol maka anda salah besar."


"Terangkan padaku." pinta Kameie dengan penuh minat.


"Jilbab adalah salah satu cara yang diperintahkan Nabi Muhammad untuk melindungi kaum wanita dari tindakan pelecehan kaum lelaki, termasuk pandangan yang nakal dan tak beretika." jawab Fitri, "Tapi apakah dengan mengenakan jilbab, semua wanita akan baik? nyatanya tidak. para pelacur di Arab sana mengenakan jilbab, bahkan khimar."


"Jadi?" pancing Kameie.


"Semua tergantung hati. menurut saya, hijab hati lebih penting daripada hanya sekedar hijab pakaian. penampilan mungkin akan bisa menipu, seperti halnya make-up. namun hati, tidak akan pernah menipu. karena semua manusia pada dasarnya melakukan segala hal berdasarkan panggilan hati." jawab Fitri mengakhiri pemaparannya.


Kameie tersenyum. "Selamat." ujar Lelaki itu.


"Maksud tuan?" tanya Fitri dengan polos.


"Kuterima kau jadi istriku." jawab Kameie tanpa sadar membuat alis Fitri kembali terangkat. lelaki itu buru-buru meralat kalimatnya. "Maksudku, kuterima kau jadi pegawaiku." ujar Kameie kemudian berdehem sedikit. "Besok, kau sudah bisa bekerja disini."


"Terima kasih Tuan... anda telah menolong saya." jawab Fitri dengan tulus dan membungkuk datar.


"Dan satu lagi..." pesan Kameie.


Fitri menatap majikan barunya. Kameie sejenak meredakan degup jantungnya yang menggedor dada tak berirama. setelah menenangkan diri dan hatinya, lelaki itu menyambung lagi.


"Jangan pernah kau lepaskan jilbabmu." pinta Kameie. "Aku akan lebih nyaman jika kau mengenakan pakaian itu.


Fitri tersenyum dan mengangguk. "Sesuai perintah anda, Tuan." jawabnya dengan lembut.


dan Kameie kembali tersihir.[]

__ADS_1


__ADS_2