
bagai mendapat curahan energi darimana, Aisyah yang biasanya pendiam, adem dan saat ini lagi dalam keadaan kurang sehat, langsung bereaksi memaksa turun dari ranjang dan meminta diantarkan ke rumah sakit hanya untuk menjenguk Bakri yang sementara terbaring disana akibat tabrakan.
"Sabar Ais, Bakri nggak kenapa-kenapa. dia cuma dipenuhi lebam dan lecet saja." kata Mariana berupaya menenangkan putri sambungnya itu.
"Tapi Maaa...." Ais merengek dengan wajah memelas.
"Iya, Ais boleh ikut. kita berangkat sebentar lagi." kata Mariana membelai-belai rambut Aisyah.
barulah setelah ditenangkan begitu rupa, Aisyah baru bisa tenang. wanita itu menunggu ibu sambungnya itu berdandan, sementara iapun berdandan meskipun tipis-ripis saja dan mengenakan jilbab pasminanya, Aisyah melangkah keluar dari kamarnya.
disana Mariana juga keluar dari kamarnya. ia tersenyum melihat putrinya yang telah berdandan segitu cantiknya.
"Nou, kita mau jenguk orang sakit, bukan mau ke kondangan." olok Mariana membuat Aisyah memberenggut. Mariana tertawa lalu mendekat dan memeluk putrinya. "Ya sudah, ayuk kita pergi." ajak Mariana.
dengan ceria, Aisyah langsung mengangguk dan kedua perempuan itu melangkah santai meninggalkan ruangan. diberanda mereka bertemu dengan Kenzie dan Chiyome yang baru saja pulang dan menaiki tangga beranda.
"Weh? Mama?" sapa Kenzie dengan heran, apalagi melihat Aisyah, "Kakak sudah sehat?"
"Iya. kita berdua mau ke rumah sakit. kalian jaga rumah ya?" pinta Mariana.
"Lho? siapa yang sakit?" tanya Kenzie.
"Bakri kecelakaan." jawab Mariana membuat kedua pasangan suami-istri itu begitu terkejut. wanita itu menyambung, "Selesai menjagai Kakak, ia pamit pulang. Beberapa langkah dari sini, tiba-tiba seorang pengendara motor menabraknya lalu melarikan diri."
"Mama lihat siapa orangnya?" tanya Kenzie.
"Warga yang bilang. Bakri langsung dilarikan ke Aloei Saboe. mereka menemukan kartu perusahaan kita didompetnya makanya menghubungi Papa." jawab Mariana.
"Berarti, Papa sekarang ada dirumah sakit?" tebak Kenzie.
Mariana mengangguk. Chiyome tersenyum. "Nggak apa kita jaga rumah. mumpung OnΔsan sudah sembuh, juga bisa sekalian menghirup ketenangan disana."
Mariana tersenyum lalu pamit sambil menggandeng Aisyah menuruni beranda dan melangkah meninggalkan kediaman. sepasang pasutri itu memasuki rumah. Chiyome bergegas memasuki kamar. disana ia langsung menuju boks dan menemukan Saburo baru saja bangun.
melihat Chiyome muncul, seakan paham, Saburo langsung mengulurkan kedua tangan dan menyebut, "Mamama..."
Chiyome tertawa dan langsung menyambut uluran tangan putranya dan memeluknya keluar dari boks kemudian menggendong putranya.
"Watashi no musuko wa dodesu ka?" sapa wanita itu kepada Saburo. (Anakku apa kabarnya?)
Saburo tertawa-tawa dalam pelukan ibunya. Kenzie tertawa lalu berkata, "Kalau sudah besar, jadilah kuat boy. supaya papa bisa mengandalkanmu nanti."
Chiyome tersenyum, "Otosan ga miemasu ka?" ujarnya pada Saburo, "Kare wa hontoni anata ga hayaku seicho suru koto o nozonde imasu..." sambungnya sambil mencubit gemas pipi putranya. (lihatlah ayahmu, dia berharap kamu cepat dewasa).
Kenzie telah selesai bersalin pakaian, lalu meminta Saburo ke pelukannya agar sang istri dapat bersalin pakaian pula. Chiyome memberikan Saburo kepada Chiyome, lelaki itu menbawa putranya ke beranda dan keduanya bermain disana.
Chiyome yang selesai berpakaian keluar menuju dapur dan membuka kulkas mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat penganan. wanita itu mengeluarkan sebaskom tahu rendam, sebatang wortel dan sebutir telur dari lemari pendingin itu. kemudian Chiyome membawanya ke dapur dan membuka lemari dinding mengeluarkan sekantung tepung bumbu.
wanita mengeluarkan serutan dari peralatan-peralatan di meja panjang itu dan mulai menyerut wortel. dengan cekatan Chiyome mengerjakannya. ia memasakkan penganan sore itu karena keduanya tak sempat makan siang gara-gara Kenzie minta dilayani melulu hingga tiba waktu pulang kantor.
Chiyome senyam-senyum sendiri saat menggoreng tahu nugget itu. entah apa yang merasuki diri suaminya sampai-sampai begitu ganasnya menempuri dirinya. mungkin benar jika dirumah waktunya terkonsentrasi bercengkerama dengan Saburo, dan malamnya kembali memeriksa jadwal dan mengoreksi beberapa pekerjaan. lelaki itu mulai kekurangan waktu melayani istrinya. maka pasti pelampiasannya adalah tempat kerja. untungnya mereka berdua bekerja dalam perusahaan yang sama, sehingga penyaluran hasrat bisa menemukan tempat dan waktu yang semestinya.
tahu nugget itu sudah matang dan diangkat dan ditiriskan hingga minyaknya keluar semua. setelah ia mengangkat tirisan berisi tahu nugget itu dan memindahkan hidangan itu ke piring.
Chiyome kemudian membuatkan minuman penambah energi dengan mencelupkan tablet booster kedalam gelas tinggi milik Kenzie kemudian membawa nampan berisi hidangan dan dua gelas air dingin segar ke beranda.
"Oh, kebetulan sayang, Hubby benar-benar lapar. Wiffy tahu sendiri kan?" sahut Kenzie ketika melihat istrinya muncul membawa hidangan. Chiyome meletakkan gelas berisi minuman penambah energi dan sepiring tahu nugget ke hadapan suaminya sementara gelas berisi air bening diletakkan dihadapannya lalu ia memandangi suaminya.
__ADS_1
"Makanlah Hubby." pinta Chiyome, "Seharian Hubby bertempur terus. nggak pekerjaan kantor, nggak ngerjai istri. tapi Hubby is the best deh.." sambung Chiyome setengah mengolok, memuji dan menggoda. "Watashi no Otto wa kakkoidesu.." (Laki aku keren.)
Kenzie tertawa, "Sudah tahu mengolok-olok suami ya?" sahut lelaki itu membuat Chiyome tertawa.
"Kenyataan kok." balas Chiyome.
"Hmmmm.... untung saja ada Saburo. coba kalau nggak..." ujar Kenzie dengan senyuman nakal.
"Kalau nggak kenapa?!" tantang Chiyome dengan lagak membusungkan dada dan bercakak pinggang.
dengan tatapan nakal nan binal, Kenzie menjawab, "Hubby telanjangi Wiffy disini dan kita main di beranda."
Chiyome langsung beringsut menjauh dan menyilangkan tangannya didada. "Ih, Hubby sejak kapan jadi begini. mau eksibionisi permainan kita?!"
Kenzie tertawa, "Habisnya Wiffy makin lama malah makin gemesin dan bikin konak Hubby saja."
"Isy, nggak begitu juga kali. Wiffy rela aja Hubby mainin Wiffy sehari semalam tanpa jeda. asal jangan diluar. Hubby kira kita manusia purba kah?" omel Chiyome.
"Sekali-kali..." goda Kenzie.
"Sekalipun nggak boleh!" tandas Chiyome, "Kalau Hubby maksa Wiffy main begituan, awas... Wiffy puntungin pake Penebas Angin, baru tahu rasa."
"Ya Allah, kok diseriusi? kan becanda doang. kayak nggak tahu modelnya Hubby saja." ujar Kenzie memelas sementara Saburo yang seakan paham percakapan kedua laki-istri itu hanya tertawa-tawa.
"Siapa tahu saja bener dilakuin." kilah Chiyome, "Jangan sampe kepikiran deh."
Kenzie tertawa lagi lalu bermain-main dengan Saburo. tak lama ia mencomot tahu nugget itu dan mencicipinya. lelaki itu mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Enak..." puji Kenzie kemudian menyodorkan sepenggal tahu nugget kepada Saburo, "Nikmati hasil karya Mama, Boy."
"Sebenarnya tentang Puspita, Hubby curiga dengan tatapan matanya." kata Kenzie kembali mencomot satu lagi tahu nugget.
"Tatapan? Ada apa dengan tatapan matanya? awas Hubby." tegur Chiyome yang mulai dirasuk cemburu.
"Sabar... jangan langsung menuduh." kata Kenzie. "Hubby curiga dengan gaya tatapannya. mirip dengan tatapan seseorang yang rasa-rasanya pernah Hubby kenal."
Chiyome memicingkan mata, "Benar...???" selidiknya.
"Iya... apalagi Wiffy bilang dia ada di acara perpisahan. Hubby curiga, ia ada hubungannya dengan seseorang yang Hubby kenal." jawab Kenzie.
lelaki itu tanpa sadar menghabiskan tahu nugget dalam piring itu dan menyadarinya ketika ia hendak mencomot namun tak menemukan satupun ditemukannya dipiring itu. Kenzie meraih gelas dan menghabiskan isinya dengan tandas.
"Kita akan ke sekolah, memeriksa dan meyakinkan kecurigaan kita berdua." kata Kenzie. Chiyome mengangguk.
"Oke deh, asal jangan tatap-tatap muka si Puspita itu lagi. apalagi dia pernah telanjang didepan Hubby." wanita itu cemburu lagi dan kembali memajukan tubuhnya kedepan menatap Kenzie dengan tatapan yang dirasuki teknik Karasu Tengu no Shisen. tatapan penuh pancaran Ki yang berfungsi menurunkan semangat juang lawan.
Kenzie tersenyum, ia merasakan dorongan Ki dari tatapan istrinya. lelaki itu menggeleng.
"Nggak usah pake tenaga dalam juga kalau mau interogasi Hubby... Hubby kan nggak ada salah." sindir Kenzie sambil kembali mengangkat-angkat tubuh Saburo dan kembali bermain dengan bayi usia setahun itu.
Chiyome merasa bersalah dan mengendurkan tenaga dalamnya lalu beringsut mendekat dan memeluk Kenzie.
"Wiffy hanya cemburu.... Hubby nggak marah kan?" ujar Chiyome dengan lirih.
Kenzie tersenyum lagi.
...****...
__ADS_1
Adnan berdiri sambil melipat tangannya kedada. tatapannya tajam terhujam kepada lelaki yang sekarang sedang duduk menselonjorkan kedua kakinya dan sebelah lengannya dipasangi peralatan infus. kepalanya dililit perban begitu juga dengan tubuh kekarnya yang dilingkari perban menutup lebam pada pinggangnya.
"Kau tak sempat melihat wajahnya?" tanya Adnan.
"Pengendara itu mengenakan helm balap. saya tak mampu melihatnya karena terhalang kaca fiberglass." jawab Bakri.
Adnan mengangguk-angguk, "Kalau plat nomornya?"
Bakri kembali menggelengkan kepala membuat Adnan mendesah. lelaki itu melangkah mondar-mandir.
"Hidup kalian berdua berada dalam bahaya sekarang. bapak tak bisa melakukan apapun kecuali memaksakan pernikahan kalian segera. setelah itu, Bapak akan pikirkan bagaimana cara untuk mengamankan kalian." ujar Adnan menatapi Bakri.
"Jangan Pak. kasihan Aisyah." tolak Bakri, "Dia belum sembuh benar." lelaki itu memperbaiki letak duduknya. "Saya nggak apa-apa. tubuh saya masih kuat untuk menghadapi gempuran apapun."
"Maksudmu kamu menolak tawaranku?!" selidik Adnan.
Bakri tersenyum, "Bukan begitu, Pak. Bapak tadi bilang kalau kehidupan kami berada dalam bahaya sekarang. nah jika pernikahan itu dipaksakan, maka akan lebih besar bahaya itu. ada baiknya diredakan dulu."
"Nggak. Bapak nggak mau lagi membiarkan Aisyah sendirian tanpa penjaga. tanpa persetujuan kamu pun, Bapak akan tetap melangsungkan pernikahan kalian." tandas Adnan. "Bapak yakin benar, orang itu Stefan atau mungkin suruhannya." lelaki itu kemudian melipat tangannya lahi didada, jemari kirinya mengurut dagu. "Berarti selama ini dia melakukan pengamatan terhadap kediaman Lasantu."
tak lama kemudian, pintu terbuka dan masuklah Mariana dengan Aisyah.
begitu melihat keadaan Bakri yang terbalut perban, Aisyah tanpa sadar langsung menghambur dan memeluki lelaki itu.
"Bakri, kamu nggak apa-apa? mana bagian yang sakit?" tanya Aisyah bertubi-tubi.
Bakri justru jadi canggung diperlakukan begitu dihadapan Adnan. sedang lelaki itu sendiri kaget dan langsung menatap istrinya. Mariana hanya mengangkat bahu.
"Ais kenapa kesini? dia kan belum sepenuhnya sehat." tegur Adnan dengan lirih kepada Mariana.
"Apanya yang sakit? mendengar Bakri kecelakaan dia entah mengapa mendadak sembuh dan memaksa Mama untuk menjenguk Bakri." jawab Mariana dengan lirih.
Adnan menarik Mariana keluar dari ruangan itu seakan memberi kesempatan bagi Aisyah agar lebih intim dengan lelaki itu. keduanya duduk dibangku panjang yang membentang di koridor depan kamar rawat itu.
"Kayaknya Papa harus segera menikahkan mereka, Ma." kata Adnan kemudian menatapi Mariana. "Supaya Ais ada yang menjaga kehormatannya. dan Papa curiga, Stefan punya niat yang nggak benar tentang anak perempuan kita."
"Mama setuju-setuju saja." jawab Mariana, "Tapi bagaimana? hidup mereka terancam disini. untuk sementara, begitu mereka selesai menikah, kita ungsikan mereka sementara dirumah kerabat."
"Papa setuju Ma." sahut Adnan.
"Dimana kira-kira mereka diamankan?" tanya Mariana.
"Ke Marisa saja. disana kan ada kerabat jauhku. kita amankan mereka dikediaman itu sambil menunggu gangguan terhadap mereka mereda." usul Adnan.
"Apa dia akan menyanggupi?" tanya Mariana.
"Ku hubungi dulu." kata Adnan kemudian menekan nomor kerabatnya tersebut. tak lama kemudian panggilan itu tersambung.
π² "Wey Assalam alaikum. wololo habarimu, totonu posisiku ti buayi?" sapa Adnan sekalian menanyakan kabarnya. (bagaimana kabarmu. dimana sekarang posisimu?)
π² "Wa alaikum salam. piyo-piyohu uty. wa'u to kota uti oluwo acara. yilongola?" tanya lelaki itu. (Kabarku baik. aku sementara di kota Gorontalo sekarang, mengikuti sebuah acara. ada apa?)
π² "Oh, pasi-pasi wonu odito. oluwo wakutu yi'o mo nao to bele'u? oluwo hale po bisala'u olemu." jawab Adnan dengan serius. (Kebetulan kalau begitu. apa kau punya waktu bertandang ke rumahku? ada hal yang hendak ku diskusikan denganmu.)
π² "De lapata'o magaribu jo. mowali?" usul lelaki itu. (Ba'da Maghrib saja, bagaimana?)
π² "Nde oke." jawab Adnan kemudian memutuskan sambungan selulernya dan menatap Mariana.
"Kita tunggu dia lepas maghrib. katanya mau ke rumah." kata Adnan seraya menyimpan gawai ke sakunya. []
__ADS_1