Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 114


__ADS_3

pengawalan terhadap Aisyah diperketat. Adnan mengerahkan pengawal-pengawal terbaiknya untuk memastikan tak ada gangguan sedikitpun yang dapat mengancam keselamatan putri tertuanya, bahkan jika itu seekor lalat!


Endrawan ditengah sibuknya mengurus bisnis dagingnya yang mulai berkembang, terus mengontak anak buahnya untuk menyebar dan mencari dengan cara apapun untuk dapat menemukan biang kerok, si Stefan, suami penganiaya istri itu dan sesekali menghubungi koleganya di kepolisian untuk mengonfirmasi perkembangan pencarian tersebut.


namun Stefan bagai raib ditelan bumi. semua teman-teman kuliahnya, tak sedikitpun mengetahui dimana keberadaan lelaki itu, bahkan Mirna sudah diinterogasi bahkan diancam untuk memberitahukan keberadaan kekasihnya itu. perempuan itu bicara yang sejujurnya bahwa sampai saat ini ia tak lagi dihubungi oleh Stefan. orang-orangnya Endrawan mulai putus asa.


sementara Kenzie juga menyebarkan beberapa anggota tangan ketiga perusahaan untuk melacak keberadaan pemuda itu lewat jejak digital. mungkin lelaki itu pernah menginap dihotel mana, makan direstoran mana, atau apalah. kecuali ia memiliki data yang tercatat dalam pencatatan sipil kota maupun propinsi Gorontalo, maka anggota tangan ketiga yang kesemuanya hacker handal pasti akan menemukan lelaki itu.


Chiyome juga mengembangkan penyelidikan tersendiri. ia tak memberitahukannya kepada suami. wanita itu melacak satu persatu siapa perempuan yang pernah dihubungi lelaki tersebut. dalam kesimpulan Chiyome, lelaki ini memang termasuk dalam jajaran lelaki fuckboy kawakan. sekali berucap seakan lidahnya memiliki pemikat, pasti gadis manapun akan bersedia memberikan miliknya yang paling berharga itu kepadanya. Stefan adalah pemuda perusak kaum perempuan.


sementara Aisyah mulai membaik dan mulai membuka diri. dokter menyatakan bahwa wanita itu telah keluar dari fase traumanya. Adnan beberapa kali terlihat menangis ketika berbincang dengan putrinya. Aisyah hanya tersenyum dan membelai lengan kekar ayahnya.


"Papa nggak salah. Papa nggak bersalah..." tandas Aisyah. "Itu memang tugas Papa dan saya bersyukur, Papa berhasil memaksanya menikahi saya. hanya kadang rasa syukur kita selalu berlawanan dengan perasaan orang lain. Ais nggak nyangka kalau Evan tidak punya niat menikah."


gadis itu kemudian menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan. ditatapinya wajah ayahnya tersebut.


"Papa jangan mempersalahkan diri Papa. itu semua adalah karma yang telah saya buat. saya yang menciptakan sendiri garis itu dan saya berkewajiban memutus pula garis itu jika kedepannya berakibat tidak baik bagi saya." ujar Aisyah kembali tersenyum.


"Papa akan membantumu melewati semua ini nak. jangan takut, jangan khawatir. Papa dan Mama, Kenzie dan Adek, akan ada untuk Ais." kata Adnan dengan mantap kemudian menarik ingusnya.


...***...


Kenzie melangkah menyusuri koridor rumah sakit. ia membawa penganan untuk kakaknya. tak lama ia melewati sebuah ruangan, sempat mendengar percakapan seorang perawat dengan pasien lelaki berusia lanjut.


"Suster... kase akang obat tidor jo pakita...susah skali mo tatidor eeeh..." keluh sang pasien tua yang ternyata lelaki dari suku Minahasa. ia menggunakan logat manado yang juga sering digunakan oleh sebagian besar masyarakat Gorontalo.


suster itu kemudian memberikan pasien itu tiga butir obat sambil menerangkan fungsinya menurut perspektif si pasien tersebut, "Napa ni Opa, ta kase obat tiga butir dulu nee? ni butir pertama, na minum Opa mo ba mimpi baku dapa dengan Bunga Citra Lestari..." papar sang suster tersebut.


Kenzie yang merasa tertarik berhenti sejenak mendengarkan pemaparan yang dirasanya sangat menggelikan. Kenzie menyandarkan punggungnya ke dinding, terus menyimak pembicaraan itu.


sang pasien terpukau, perawat itu melanjutkan, "Trus ni yang kadua ni Opa minum sabantar pagi neh? nanti mo ba mimpi mo baku dapa dengan Krisdayanti...kong yang ini nanti mominum siang beso... supaya Opa ba mimpi baku dapa dengan Dewi Persik." papar perawat itu membeberkan fungsi obat tersebut.


Kenzie tersenyum lagi. ada-ada saja....


pasien tua itu terpukau dan bertepuk tangan. ia berkomentar, "Mantap dang ni obat kote.... na kalau Opa minum jo tiga-tiga jo ini obat, bagimana dang? nya apa-apa to?" pancing pasien itu.


Suster menolak dan menjawab, "jangan le Opa... kalau Opa minum samua le tu obat, Opa langsung mo baku dapa deng Marlyn Monroe dengan Yesus Kristus!!!"


Kenzie tertawa dan melangkah meninggalkan ruangan itu sambil terkekeh geli. ia tiba diruangan tempat menginap kakaknya. pintu dibukanya.


"Assalam alaikum, Kakakku sayang..." sapa Kenzie.


Adnan dan Aisyah menoleh, "Wa Alaikum Salam..." jawab mereka koor. Kenzie melangkah masuk dan meletakkan tas kresek berisi penganan di nakas. ia menatap Aisyah.


"Bagaimana kabar Kakakku sayang?" tanya Kenzie membuat Aisyah tertawa.


"Kakak baik, alhamdulillah... bagaimana pekerjaan kantor?" tanya Aisyah balik.


"Lancar-lancar saja Alhamdulillah." balas Kenzie.


Aisyah menatapi tas kresek itu. "Ini apa Ken?" tanya wanita itu. Kenzie tersenyum.


"Kesukaan Kakak. makan ya? Kakak harus sembuh lho." kata Kenzie. wanita itu mengangguk-angguk.


"Adek mana? kok nggak dibawa?" tanya Aisyah.


"Oooo... Wiffy lagi sibuk sedikit mengolah berbagai berkas perusahaan dirumah sekalian jaga Sandiaga. Mama sebentar lagi nyusul." jawab Kenzie kemudian menatap Adnan. "Papa disuruh nunggu sedikit sama Mama. sebentar Mama mau nyusul kesini sekalian bawa makan malam untuk Papa dan Kak Ais."


"Oke deh, kamu sendiri habis ini mau kemana?" tanya Adnan.


"Ya mau pulang laaa... mau kemana lagi, Hansip sudah menunggu dirumah, berani pulang telat, palang pintu bertindak." kata Kenzie sambil tertawa.

__ADS_1


"Apa adek sudah segalak itu sama kamu, Ken?" tanya Aisyah yang terkejut.


Kenzie tertawa, "Nggak, itu guyonan saya saja. Wiffy masih mesra seperti dulu." jawab Kenzie kemudian mendekat dan berbisik ditelinga Aisyah, "Bahkan lebih bergairah..."


Aisyah tertawa. Kenzie tersenyum, "Sudah ya? Ken cabut dulu. see you next time..." ujar pemuda itu melambai sejenak dan berbalik membuka pintu kemudian pergi.


Aisyah dan Adnan saling berpandangan dan kembali tertawa. "Apa yang dibisikkannya pada Kakak?" tanya lelaki itu.


Aisyah tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Nggak... hanya guyonannya saja."


sementara Kenzie terus menyusuri koridor. ia kembali mendapati seorang nenek yang berjalan tersedat-sedat bertelekan tongkat. sejenak pemuda itu mengedarkan pandangan. anak-anak mana yang tega membiarkan orang tuanya berjalan sendirian?


Kenzie tergerak membantu. dihampirinya nenek itu.


"Nek, bisa saya bantu nenek?" tanya Kenzie dengan sopan. nenek itu menoleh.


" Adodoeeee... Puji Tuhan le ada anak bae da ba tolong pa kita ini eee..." ujar nenek itu. Kenzie tersenyum.


"Nenek mau kemana? biar saya antar." kata Kenzie.


" Pegang saja Oma nak... nya lama itu tampa mo pigi akang... " jawab nenek itu.


Kenzie menggamit lengan nenek itu hingga ia agak mudah melangkah menyusuri koridor. Kenzie menatapi nenek itu.


"Nenek hebat ya? setua ini masih bisa aktif jalan-jalan... umurnya berapa sih Nek?" tanya Kenzie sekedar berbasa-basi.


" Oma ini so umur 85 bagini masih kuat... masi jaga pigi dokter ba cek up kesehatan..." jawab nenek itu dengan bangga juga membuat Kenzie takjub.


"Wah, hebat dong..." puji Kenzie lagi. "Kalau menurut Nenek nih, kira-kira bagaimana perkembangan dunia kedokteran si Indonesia pada umumnya?"


dengan semangat si nenek langsung berkomentar, " Adododoeee.... ni dokter skarang so lebe pintar deng lebe hebat. dulu Oma masi inga, waktu Oma umur 20 taon, dokter dulu tu pe teliti skali mba pariksa. masih mo suru buka samua baju kong pariksa atas sampe bawah, tamba pici sini pici sana sampe 1 jam tu ba pariksa bulum klar-klar... nanti abis itu baru tulis tu resep.."


Kenzie bertambah minatnya. ia memancing lagi, "Terus Nek?"


Kenzie tersenyum geli. dasar dokter porno.....


"Terus Nek?" pancing Kenzie lagi. mereka sudah tiba ditempat yang dituju. betapa takjubnya Kenzie menyadari bahwa tempat tujuan si nenek adalah kamar pasien tua yang tadinya berdiskusi dengan perawat itu. ternyata si pasien tua adalah suami nenek tersebut.


sebelum masuk, nenek itu berkomentar lagi, " Sekarang umur so 85 to? bulum lagi dudu... tu dokter langsung tulis resep obat kong bataria... PASIEN BERIKUTNYA!!!"


Kenzie tertawa dan mempersilahkan nenek itu masuk lalu menutup pintu ruangan itu. pemuda itu kembali melangkah menyusuri koridor sambil terus tertawa karena mendapati dua kejadian lucu dalam satu malam.


...****...


Chiyome sedang asyik meneteki Saburo hingga bayi berusia setahun itu sudah tidur. tak lama kemudian wanita itu mendengar suara deru mobil mendekat.


"Kamu dengar Saburo? Papa pulang..." bisik Chiyome mencium batok kepala putranya dan membelainya sementara sang bayi masih senang ******* dipayudara ibunya dan tak melepasnya meskipun kedua matanya sudah terkatup rapat.


pintu membuka dan masuklah Kenzie yang melangkah dan menyeberangi dua ruangan mendapati sang istri yang menyusui putra mereka sedang duduk disofa keluarga.



"Assalam alaikum lovely Wiffy..." sapa Kenzie sambil duduk di sisi Chiyome kemudian mencium pipi istrinya.


Chiyome tersenyum, "Wa alaikum salam..." jawabnya.


Kenzie menatapi Saburo yang tertidur dengan nikmat dalam pelukan ibunya.


"Anak kita nggak rewel kan?" tanya Kenzie.


Chiyome tersenyum dan menggeleng. Kenzie mengangguk dan tersenyum lagi. ""Syukurlah kalau begitu...." ujarnya.

__ADS_1


"Kakak, bagaimana keadaannya?" tanya Chiyome.


"Sudah membaik. tinggal sedikit lagi, dia akan pulang ke sini." jawab Kenzie lalu menyandarkan punggungnya kesandaran sofa. "Aku akan menjual kembali rumah itu, agak rendah. sementara ini aku memerintahkan sebagian orang-orangnya Om Endrawan untuk menjagai rumah tersebut."


Kenzie kemudian menatapi Chiyome. "Wiffy nggak usah mengadakan pelacakan lagi. biarkan para pengawal itu mengerjakan tugasnya. Wiffy cukup disampingku memantau perkembangan Kak Ais."


Chiyome tersenyum dan mengangguk. Kenzie tersenyum.


"Aku tunggu Wiffy dikamar." ujar Kenzie sembari bangkit dan melangkah menuju kamar.



Chiyome paham kalimat itu. kata menunggu dikamar adalah password khas Kenzie untuk meminta jatahnya sebagai suami. Chiyome tersenyum lalu bangkit sambil memeluk putranya dan membawanya ke dalam kamar.


disana, Kenzie sudah berbaring diranjang hanya mengenakan celana bokser pendek mempertontonkan tubuh bulky muscle style yang menghiasi tubuhnya. pria itu mengenakan kacamata dan sedang membaca buku.


Chiyome meletakkan bayinya pada boks lalu melangkah menuju lemari, membukanya dan bersalin pakaian mengenakan lingerie menerawang dan menutup lemari lalu melangkah dan menaiki ranjang kemudian duduk disisi Kenzie.


pria itu tersenyum menatapi dandanan istrinya. "Wiffy sengaja membuatku bergairah..." ujarnya dengan senyum nakal dan meletakkan buku bacaan pada nakas berikut kacamatanya.


Chiyome tersenyum lalu menaiki tubuh suaminya. "Hubby memang selalu memimpikan ini, kan?"


"Tentu saja... kenapa harus mencari jika sesuatu didepan mata lebih menarik dan memabukkan? aku mencintaimu, Wiffy..." desah pria itu.


Chiyome membungkuk menjelajahi seluruh tubuh Kenzie yang bersepir dengan bibirnya. desahan dan lenguhan kembali terdengar dari mulut Kenzie.


"Wiffy...." desahnya.


Chiyome tersenyum dan mulai menyebadani suaminya, memberikan haknya sekaligus memuaskan birahinya. keduanya berpacu makin lama makin buas hingga akhirnya menuju puncak pergulatan dan melepaskan hasrat terliar dalam sanubari kedua pasutri itu.


"Hubby... puas?" tanya Chiyome ditengah napasnya yang masih memburu.


"Nggak, Hubby belum puas. sekarang giliran Hubby!" ujar Kenzie tersenyum nakal dan membalikkan posisi istrinya dan kembali Pria itu menggarap kebun birahi sang istri, menanamkan benihnya, bersama hujan-hujan protein yang membantu penyuburan. dalam 6 kali persetubuhan itu, keduanya akhirnya terkapar kelelahan dan puas dalam permainan.


...****...


Dimanakah sebenarnya Stefan berada?


disebuah kediaman kosong tanpa diketahui pemiliknya, lelaki itu tengah memberikan kenikmatan kepada tubuh dibawahnya hingga akhirnya ia menuntaskan hasrat hewani dalam dirinya.


masih dalam ketelanjangan, Stefan duduk disisi ranjang. wanita itu berselimutkan kain menutup sebagian tubuh telanjangnya juga ikut bangkit.


"Aku tak menyangka. mereka begitu ketat menjaga Aisyah. ahhh... aku jadi kehilangan kesenanganku untuk menyiksanya." gerutu Stefan dengan wajah keruh.


wanita itu kemudian memeluk Stefan dari belakang. "Kamu jangan khawatir. suatu saat kau akan bisa membalaskan dendammu kepada perempuan itu."


"Bagaimana? kamu sudah bisa melakukan sabotase pada Buana Asparaga?" tanya Stefan.


""Sedikit lagi sayangku.... sedikit lagi... bersabarlah..." pinta gadis itu membelai pundak kekar Stefan. "Aku sekarang senang memasukkan virus yang bisa mengkopi segala data perusahaan dengan memanfaatkan akun Dewinta Basumbul. jadi jika pihak perusahaan mengendus dan mengetahuinya. mereka hanya bisa menangkap umpan yang kita buang."


"Jadi perempuan itu akan kau jadikan tumbal. idemu bagus juga." puji Stefan sambil tertawa.


"Nggak ada yang dapat menjejak kita. bahkan Tangan Ketiga perusahaan. dan setelah kita menghancurkan Buana Asparaga, maka giliran keluarga Lasantu akan menerima akibatnya." kata wanita itu kemudian tertawa senang.


Stefan ikut tertawa mengamini rencana jahat sang gadis.


"Kau hebat juga Puspita. nggak percuma aku menempatkan kamu disana. kita berdua harus menghancurkan mereka hingga sehancur-hancurnya." ujar Stefan dengan penuh geram.


"Aku juga memiliki dendam kepada Kenzie. dia telah mempermalukan aku berkali-kali." balas Puspita juga dengan geram.


"Bagus... dua hati yang memiliki visi yang seragam akan mampu melaksanakan sebuah tujuan yang sama." ujar Stefan kemudian mencolek dagu Puspita.

__ADS_1


kedua insan telanjang itu kemudian tertawa bersama-sama mendeklarasikan niat jahat mereka. []


__ADS_2