Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 180


__ADS_3

Stefan Waworondou mengencangkan rahangnya. Trias tersenyum mengejek. "Aahhh... Stefan... mengapa kamu begitu bodoh memimpikan Kak Ais? mengapa kau membencinya? Apakah Kak Ais memiliki cacat fisik atau non fisik? setahuku nggak."


"Sudah cukup bacotmu bicara?" tantang Stefan. "Aisyah nggak punya cacat apapun. tapi... aku memang membencinya... ayahnya memaksaku menikahinya... padahal, aku tak melakukan pemaksaan padanya. kami melakukan hal itu diatas dasar suka sama suka... mengapa aku harus dipaksa? jadi untuk melampiaskan kekesalanku? ku siksa saja dia. gampang kan?" jawabnya kemudian terkekeh senang.


Trias mengangguk-angguk sambil terus menekan tuts-tuts mesin ketik. terdengar bunyi dekak-dekuk seiringan dengan lelaki itu mengetikkan setiap keterangan yang keluar dari mulut Stefan.


"Tapi... bukankah Kak Ais sudah kau ceraikan?" selidik Trias mengerutkan alis namun tatapannya tertuju ke mesin ketik yang sementara dimainkannya.


"Siapa bilang aku menceraikan Aisyah? aku dipaksa menceraikannya!" ujar Stefan dengan suara tinggi.


Trias tersenyum bersikap acuh kepada Stefan dan tetap memusatkan perhatiannya pada mesin ketik yang dimainkannya.


"Bukankah kau melakukan tindakan kekerasan kepadanya? tentu saja pengadilan langsung mengabulkan karena melihat bukti kekerasan fisik pada tubuh Kak Ais. satu lagi... apakah kau yang menabrak Kak Bakri sewaktu pulang dari Kediaman Lasantu?" tanya Trias.


"Heh, buat apa mengotori tanganku untuk perampas bini orang itu?" umpat Stefan. "Orang lain sudah cukup melakukannya."


Trias kembali mengangguk dan tetap memainkan jemarinya pada tuts-tuts mesin ketik.


"Apakah penculikan dan pembunuhan itu didasari motif balas dendam karena Bakri menikahi Aisyah?" tanya Trias lagi.


Stefan tertawa keras. Trias masih tak perduli. ia tetap memainkan mesin ketik itu, mengotentikkan semua keterangan pelaku dihadapannya.


"Hei, kelihatannya... kau terlalu banyak ingin tahu... bagaimana jika kuperawani juga istrimu?!" tantang Stefan.


TIK!!!!.....


jemari kekar Trias berhenti mengetik. lelaki itu tersenyum lalu tertawa. makin lama makin keras. Stefan juga ikut tertawa untuk mengejek Trias.


"Heissssyyy... memang kau ini..." gumam Trias dengan geram namun tetap senyum. akhirnya Trias mengangkat bahu dan mengangkat mesin ketik lalu meletakkan benda itu disudut ruangan. "Maaf... aku harus mengamankan benda ini dulu. mesin tik ini... lebih berharga dari nyawa brengsekmu itu."


lencana kepolisiannya yang terkalung dileher dikeluarkannya dan diletakkan diatas mesin tik itu. wajah lelaki itu mengencang namun ia kembali menegakkan tubuhnya.


Trias dengan tenang melangkah santai mendekati Stefan yang duduk. ia kemudian melepaskan borgol yang mengalungi kedua pergelangan tangan lelaki itu.


"Kenapa? kau sudah mulai takut?!" ejek Stefan.


"Ya... aku takut, sisi lainku menguasaiku untuk melakukan ini PADAMU!!!" tiba-tiba Trias meraih tengkuk lelaki itu, mengangkatnya dan membantingnya ke meja interogas.


Stefan benar-benar merasa semua isi udara keluar dari paru-parunya. dari sisi ruangan yang lain, Adnan dan Kenzie terkejut. Bambang yang sudah sejak tadi juga berada dalam ruangan itu menemani kedua ayah-anak itu juga telah terkejut. refleks ia bangkit berlari keluar dan menuju ruangan dimana Trias mempermainkan Stefan.


BUK BUK BUK!!!!


"Yas! buka!!!" seru Bambang sambil terus menggedor-gedor pintu. ternyata, Trias memang telah mengunci pintu itu dengan sengaja supaya ia bebas melakukan apapun terhadap lelaki itu.


Trias tidak akan terprovokasi kalau saja Stefan tidak mengejeknya untuk meniduri istri sang opsir. Stefan salah besar. ia salah mengira. Trias seorang atlit. serangannya terarah dengan baik dan Stefan merasakan akibat ucapannya itu.


Stefan tak menyangka kekuatan lelaki dihadapannya begitu kuat. mengapa tidak? saban tiga kali seminggu, Trias menghabiskan waktu senggangnya di gym hingga massa ototnya berkembang lebih baik ketimbang Kenzie yang sudah kurang berolahraga.


tubuh Stefan terbanting-banting diseruduk tinju dan hempasan lelaki itu. suara gedoran pintu yang kuat tak menghentikan kebuasannya. bahkan Bos Eki turun tangan langsung menggedor.


"Ambilkan bor!!!" seru Bos Eki.


Trias sudah berniat melumpuhkan Stefan selumpuh-lumpuhnya sehingga keadaannya hanya tinggal seonggok daging tak berdaya. beberapa teknik bantingan yang ditontonnya di acara gulat WWE dipraktikkannya kepada Stefan.


Aldi dan Tiko serta Koko datang berlari menghambur membawa bor listrik agar Bos Eki bisa mengebor bagian penguncinya agar pintu itu bisa dibuka. mereka berpacu dengan waktu, kuatir sang tersangka duluan tewas ditangan sang penyidik.


melihat Stefan yang sudah tak berdaya, Trias menarik tubuh lelaki itu dan membaringkannya di meja interogasi. setelah itu, Trias ikut naik ke meja dan membangunkan Stefan dari baringnya.


akhirnya tubuh Stefan dipiting Trias, meniru teknik Rock Bottoms milik pegulat terkenal Dwayne Johnson. dan bersama dirinya, menghempaskan tubuh Stefan ke permukaan meja.


BROLLLLLL...... UGHHH...


meja interogasi itu jebol dan roboh dihantam tubuh Stefan yang menghempas bersama tubuh Trias. lelaki itu pingsan. Trias bangkit dan dengan santai melangkah menuju sudut ruangan, mengambil lencana kepolisiannya lalu menuju pintu dan membuka daun pintu tersebut.


Bos Eki melongo ketika pintu terbuka dengan sekali ayun dan ambrol pintunya sebab bor mesin sudah terlanjur mengeluarkan beberapa baut. daun pintu itu roboh kedalam ruangan ditatapi oleh Bos Eki, Bambang, Aldi, Koko dan Tiko.


opsir berambut cepak itu tak perduli dan dengan santai Trias menatap Tiko. "Kopiku, mana?" tanya Trias.

__ADS_1


Tiko langsung menyodorkan segelas kopi yang dibawanya kepada Trias. dengan tenang lelaki itu mengambil gelas tersebut dan melangkah pergi sambil menyeruput minumannya.


Bos Eki dan ketiga anak buahnya merangsek masuk dan terperangah melihat keadaan ruangan yang seperti kapal pecah. lebih terkejut mereka melihat meja interogasi yang panjang terbuat dari kayu pilihan itu patah dan Stefan disana teronggok dalam keadaan pingsan.


"Hubungi rumah sakit! ada tersangka sekarat!" seru Bos Eki dengan kalap. suaranya bergema dalam lorong yang nyaris sunyi.


...*****...


Kenzie menatap sahabatnya. keduanya duduk dengan tenang di kantin kantor. Adnan sudah pulang kembali ke Suwawa sebab Kenzie memberitahu, Chiyome sudah pulang ke Kabila, ke Kediaman Lasantu.


"Yas...." panggil Kenzie dengan sabar.


Trias belum menjawab karena sibuk menghabiskan sepiring nasi dengan lauk paha ayam geprek, sambal mentah dan beberapa helai daun sayuran.


"Yas..." panggil Kenzie lagi.


"Hemm..." jawab Trias masih tetap konsentrasi pada makanannya.


"Aku nggak nyangka, kamu sesadis itu." komentar Kenzid mengaduk nasi uduk. seleranya sedikit hilang.


"Sesadis mana, Aku... atau Chiyome?" pancing Trias.


"Kenapa menyeret Chiyome dalam pembicaraan ini? jangan samakan istriku dengan kamu." tegur Kenzie.


"Aku nggak menyinggung. aku hanya bertanya saja... kita berdua sudah tahu kalau dia seorang petarung yang gemar menyiksa lawan.... jika dibandingkan denganku... siapa yang lebih sadis?" jawab Trias dengan datar.


"Aku nggak mau komen hal itu." jawab Kenzie dengan wajah keruh. Trias tersenyum dan kembali pada kegiatannya menikmati hidangan. Kenzie menatapi lagi sahabatnya tersebut.


"Mengapa kau memukulinya sebegitu parahnya. aku tahu, kau tak seberingas itu, Yas!" ujar Kenzie mengingatkannya.


Trias tersenyum namun tetap sibuk mencampur sambal dengan nasi dan menyuapkannya ke mulutnya lalu mengambil cabikan daging ayam geprek dan menggigitnya.


"Yas..." panggil Kenzie.


Trias mengacungkan telunjuknya meminta Kenzie sabar sebab ia belum ingin membahas hal itu karena masih sibuk menikmati hidangan dihadapannya.


akhirnya, Trias menghabiskan makanannya. dicucinya jemarinya dalam air dimangkuk kebokan dan mengambil tisu kertas beberapa lembar untuk membersihkan tangannya. tangannya meraih gelas berisi air dan meneguknya dengan pelan lalu mendesah kenyang.


"Kenapa?" tanya Trias pada akhirnya dengan suara lembut.


"Apa yang membuatmu seberingas itu?" tanya Kenzie.


Trias meraih gelas berisi minuman kopi pemberian Tiko yang dinikmatinya sejak tadi dan meneguknya habis. gelas itu diletakkannya di meja. ditatapinya Kenzie dengan tajam.


"Kau lihat aku sebelumnya senyam-senyum saja, kan?" ujar Trias. Kenzie mengangguk.


"Stefan memprovokasi aku dengan berbagai kalimat-kalimat yang melecehkan Kak Ais dan untungnya aku tak terhasut... hingga... dia berani bicara hendak meniduri Ipah..." Trias terkekeh pelan, "Wohohohohoh... itu nggak boleh dibiarkan. mulutnya yang mesum itu harus disumpal dan Stefan sepertinya... harus istirahat sejenak, supaya mulut comberannya itu masih bisa beristirahat..." setelah itu, Trias meraih teko dan menuangkan isinya ke gelas.


Kenzie terkejut mendengar penjelasan itu dan akhirnya ia tersenyum. "Kalau hal itu... aku dengan senang hati mendukungmu!"


"Tentulaaaa...." sambut Trias dan kembali mereka melakukan toss gaya mereka berdua.


"Kupikir...." Trias meneguk air dalam gelas dan mengerutkan alisnya menatap piring sisa hidangannya. "Wajar jika Om Kameie bisa berpikir seperti itu.... mendengar nama istriku diungkitnya dalam kalimat-kalimat mesum itu... langsung membuat darahku mendidih..."


Kenzie tertawa pelan. Trias menatapnya. "Kau puas?"


"Cukup puas." jawab Kenzie.


"Ya, dan sehabis ini aku pasti langsung digelandang ke kantor Propam dengan tuduhan penganiayaan yang menyebabkan pelaku kejahatan menjadi korban." sahut Trias lalu terkekeh pula.


"Kau takut?" tantang Kenzie.


"Aku bisa menjelaskan kepada provost... jika aku punya alasan tersendiri sehingga menjatuhkan tangan jahat itu kepadanya." jawab Trias, "Toh yang lain juga pasti akan mengatakan hal yang sama."


"Bagaimana dengan Bos Eki? ia pasti akan dimaki-maki pimpinannya gara-gara kamu." kata Kenzie.


"Beliau bisa menghadapinya. baginya, itu adalah makanan sehari-hari." jawab Trias.

__ADS_1


keduanya tertawa lagi. Trias menghela napas. "Katakan pada Chiyo... nggak usah terlalu menseriusi perintah Om Kameie. terlalu riskan."


"Aku juga akan bicara padanya." Kenzie bangkit dan mengeluarkan dompetnya, merogoh selembaran uang kertas nominal IDR. 50K.


"Hei, biar aku yang traktir." ujar Trias.


"Nggak usah... ini untuk dua makanan ini... aku cabut dulu." ujar Kenzie.


"Ke Buana Asparaga?" tanya Trias.


Kenzie menggeleng. "Chiyome sendirian di Kediaman Lasantu. aku mau pulang. urusan Buana Asparaga, bisa dipercayakan pada Dewinta Basumbul."


"Oke, hati-hatilah dijalanan, kawan." ujar Trias.


Kenzie tersenyum dan mengangguk lalu berbalik meninggalkan kantin. dihalaman kantor resort kota itu, nampak Mac Laren kuning miliknya terparkir.


tak berapa lama, Bambang muncul dikantin. "Wah... Bro... gara-gara kau, Bos Eki dimarahi habis-habisan oleh Pak Kapolres."


"Kalian membelanya, kan?" tanya Trias dengan tatapan tajam.


"Tentu saja." jawab Bambang, "Tapi nampaknya kasus ini akan berjalan lama. masalahnya, Stefan sekarang dirawat dirumah sakit akibat kekerasan kita."


Trias langsung bangkit. "Kenapa dibawa ke rumah sakit? ide bodoh siapa itu?!" hardik Trias dengan marah.


"Hei, lima tulang rusuknya patah saat kau banting di meja. tulang pinggulnya bergeser dan dia mengalami luka dalam pada bagian diafragma dan limpanya." ujar Bambang. "Pukulanmu tertuju tepat pada titik-titik vital ditubuhnya." lelaki itu maju menyangga kedua tangannya pada sisi meja. "Kau menginterogasinya, atau mau membunuhnya?"


Trias mengacuhkan partner kerjanya itu. lelaki itu langsung pergi meninggalkan kantin dan melangkah menuju kantor sementara Bambang hanya bisa mengencangkan rahangnya lalu menumbuk keras permukaan meja dengan kepalannya.


...*****...


Bos Eki mondar-mandir dikoridor rumah sakit. di sisi kanannya adalah ruangan yang khusus diperuntukkan bagi Stefan yang mengalami kekerasan fisik akibat banyak melakukan pelecehan terhadap institusi penyelidikan. lelaki itu mengalami luka dalam dan beberapa tulang rusuk yang patah akibat dibanting Trias diatas meja.


Bos Eki tak sepenuhnya menyalahkan Trias yang melampiaskan emosinya kepada laki-laki itu. barusan di kantor Propam, Trias ditanyai macam-macam oleh Provost terkait kekerasannya kepada Stefan. Trias menjawab dengan tenang menyertakan juga bukti rekaman CCTV.


beberapa pakar lipsreading mengamati percakapan keduanya dan akhirnya membenarkan keterangan Trias perihal Stefan yang melecehkan istri sang opsir tersebut. atas bukti yang dibeberkan Trias, pihak Propam melepaskan reserse itu.


Trias mengendarai Maung hitamnya menuju rumah sakit Otanaha di jalan Rambutan Desa Buladu, disebelah barat kota Gorontalo. kaca mata hitamnya memantulkan pemandangan jalanan yang diseliweri berbagai jenis kendaraan baik roda dua, tiga dan empat.


kendaraan tersebut tiba di Rumah Sakit Otanaha dan memarkir Maung hitamnya disamping SUV Toyota Fortuner milik Unit Reaksi Cepat Kepolisian yang membawa Stefan ke rumah sakit itu. lelaki berambut cepak itu membuka pintu kendaraannya dan keluar sejenak menatapi kendaraan dinas kepolisian itu lalu menutup pintu dan melangkah santai memasuki bangunan rumah sakit.


langkahnya terayun santai namun mantap menyusuri lorong-lorong rumah sakit hingga menemukan sebuah ruangan yang dijaga oleh beberapa petugas berseragam polisi dan bersenjata senapan SV1 khas pengawal. disana juga ada Bos Eki.


lelaki parobaya berpangkat Ajun Komisaris Polisi itu menatap Trias yang melangkah mendekatinya. lelaki itu mendahului menyambutnya.


"Mba apa ngana disini?" tanya Bos Eki.


"Menjenguknya." jawab Trias dengan singkat.


"Mo kase pasti tu orang sekarat atau.." selidik Bos Eki.


"Mo kase pastiu depe hidop..." jawab Trias dengan nada menekan meniru aksen manado.


Bos Eki tertawa. "Kamu mau mendaftar jadi pegulat?"


"Maksudnya?" tanya Trias tak paham.


"Kau mempraktekkan teknik dari salah satu pegulat terkenal... kalau tak salah..." ujar Bos Eki berupaya mengingat-ngingat.


"Bagaimana keadaan penjahat kelamin itu?!" tanya Trias membuyarkan konsentrasi Bos Eki. lelaki itu sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Paling parah patah tulang rusuk, belikat retak dan limpa luka." jawab Bos Eki. "Gara-gara kamu, aku didamprat habis-habisan oleh Pak Kapolres."


"Bos, takut?" tanya Trias setengah mengolok.


"Aku nggak takut jika itu hanya menyangkut tentang kepemimpinanku. aku hanya takut, kau ditarik dari kasus itu dan tak bisa lagi menjalankan amanat yang diminta keluarga Lasantu kepadamu." jawab Bos Eki.


"Jadi Bos..." sela Trias.

__ADS_1


"Ya... aku sudah tahu semuanya. Adnan yang memberitahukannya." sela Bos Eki dengan wajah penuh kekuatiran.[]


__ADS_2