Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 39


__ADS_3

Chiyome memicingkan mata. ia berupaya melepaskan diri namun Kenzie benar-benar melingkarkan kedua lengannya bagai ular yang saling mengait melingkari tubuh gadis itu.


gadis itu menarik napas lalu menghembuskan napasnya dengan pelan. "Apa yang harus kujelaskan?" tantang Chiyome.


"Kenapa Wiffy marah? apa ada kata-kata Hubby yang membuat Wiffy tersinggung tadi?" tanya Kenzie dengan lembut.


"Ken, kita nggak usah lagi pake..." ucapan Chiyome tertahan karena Kenzie menyilangkan telunjuknya dibibir sensual gadis itu.


"Sssssshhhh.... aku tak perduli dengan Kak Ais. aku akan tetap memanggilmu Wiffy... paham?" tandas Kenzie.


Chiyome menunduk dan senyumnya muncul, tapi lekas disembunyikannya kemudian mengangkat wajahnya dan memasang wajah datar.


"Kau... istriku!" tandas Kenzie setengah berbisik.


"Oke, oke. Hubby... please lepaskan pelukanmu." pinta Chiyome dengan datar


"Uhmf... nggak mesra. Hubby nggak lepasin." kata Kenzie ngeyel. Chiyome kembali menunduk dan tersenyum. kemudian ia mengangkat wajah kembali dan tersenyum.


"Hubby, Ude o hanashite kudasai...." pinta Chiyome dengan lembut. (tolong lepaskan pelukanmu)


Kenzie tersenyum dan mengangkat tangannya melepaskan pelukannya. Chiyome menarik napas membebaskan tubuhnya yang sempat tergencet oleh pelukan pemuda itu.


Kenzie ganti meraih jemari lentik gadis itu dan menggenggamnya dengan erat. dengan isyarat, ia meminta agar Chiyome duduk lagi. gadis itu menghela napas untuk menguasai emosinya. kemudian ia melangkah ke kursi dan duduk sementara Kenzie duduk dihadapannya masih dengan menyusupkan jemari kekarnya ke sela jemari lentik milik Chiyome.


aku sudah terlanjur membuka diriku padanya.... aku terpaksa harus jujur.... tapi... haruskah kujujur kalau aku yang membunuh Burhan?...


sementara menimbang-nimbang, Chiyome mendengar Kenzie melanjutkan bicaranya.


"Dengan peristiwa barusan, Hubby menyadari, banyak sekali kepribadian Wiffy yang belum Hubby ketahui... tapi Hubby tak mau memaksa Wiffy.... Hubby mencintai Wiffy tulus... kita saling menjajaki kepribadian kita, agar nanti kita bisa saling melengkapi...untuk bisa menjadi sebuah kesempurnaan..." kata Kenzie.


Chiyome masih belum bisa bicara karena tak tahu harus berkata apa, dan Kenzie benar-benar tahu bahwa gadis itu dalam posisi stuck sehingga tak tahu lagi merangkai kata.


"Papa sama Mama ingin kedua orang tua kita bertemu. aku nggak tahu dalam urusan apa, yang jelas, bisa jadi berhubungan dengan kita berdua." kata Kenzie.


Chiyome memalingkan tatapannya ke dinding dan langit-langit ruangan. kedua matanya berkaca-kaca.


"Wiffy..." panggil Kenzie sambil membelai pipi Chiyome, perlahan menarik wajah itu hingga kembali menatapi Kenzie. "Hubby minta maaf kalau membuat Wiffy marah. tapi, Hubby nggak punya maksud apa-apa. Hubby mengira, jawaban datar Wiffy mengisyaratkan rasa keengganan."


"Mengapa Hubby segampang itu mengambil kesimpulan?" sindir Chiyome. setitik air yang sejak lama mengambang dimata kirinya jatuh membentuk alur sungai kecil yang membasahi pipi.


"Oke, Hubby salah... Watashi o yurushite kudasai..." pinta Kenzie membawa punggung tangan Chiyome ke bibirnya dan mengecup punggung tangan dan jemari lentik gadis itu. (maafkanlah aku)


Chiyome menghapus air matanya dengan sebelah tangannya. gadis itu mengangguk perlahan.


"Yurushimasu....kurikaedanaide kudasai..." jawab Chiyome pelan. Kenzie mengangguk. (sudah kumaafkan, jangan ulangi lagi)


"Okoranaide kudasai..." balas Kenzie sambil senyum. (aku takkan mengulanginya)


Chiyome akhirnya tersenyum. Kenzie benar-benar lega melihat sisi Chiyome yang dikenalnya.


"I love you..." kata Kenzie dengan lirih.


"Aku juga..." balas Chiyome. suasana hatinya sudah kembali tenang.


"Jadi gimana? boleh nggak hubungi mereka supaya bisa datang ke Indonesia?" pancing Kenzie.


Chiyome mengangguk. "Akan kucoba...."


Kenzie mengangguk lalu tersenyum. "Kita ke kantin yuk." ajaknya. Chiyome mengangguk lagi.


keduanya bangkit dan melangkah dengan bergandengan tangan kaluar dari kelas. langkah keduanya terayun bersamaan menimbulkan ritme langkah yang harmonis ditengah bisingnya suara-suara siswa yang ribut dihalaman dan yang bersorak-sorai menonton teman-temannya larut dalam permainan ketangkasan.


keduanya tiba dikantin yang masih sepi. satu-satunya pengunjung hanyalah Trias dan Iyun yang duduk bersama menikmati hidangan dan sesekali saling menyuapi.


melihat kedatangan sepasang kekasih itu, Trias melambaikan tangannya menyuruh keduanya bergabung ditempat duduk mereka.


Kenzie melangkah diikuti Chiyome yang seolah ditarik karena jemarinya digenggam Kenzie. keduanya tiba dan mengambil tempat duduk. Kenzie disamping Trias dan Chiyome disamping Iyun.


"Pesanlah makanan." pinta Trias.


Kenzie menatapi Chiyome. "Wiffy mau pesan apa?"

__ADS_1


"Apa saja yang Hubby pesan, akan Wiffy makan." jawab Chiyome sambil tersenyum membuat hati Kenzie semakin teduh.


Kenzie bangkit dan melangkah meninggalkan mereka bertiga menuju tempat pemesanan. Trias menatapi punggung Kenzie, kemudian memandang Chiyome.


"Waaaah... aku iri dengan kalian berdua.... belum sah, sudah mesra sekali, apalagi kalau sudah sah ya?" sindir Trias sambil tertawa.


"Pipi.... nggak usah ngganggu mereka. mending pikirkan kita berdua..." tegur Iyun merasa cemburu.


Chiyome tertawa, "Rasain kamu..."


Trias hanya mendengus membuat Iyun memelototinya kembali menbuat Trias menunduk. membuat Chiyome kembali tertawa.


"Itu akibatnya nggak menjaga perasaan istri. didepan Iyun, seenaknya nyindir aku. kedengeran Hubby baru tau rasa." ujar Chiyome, "Atau aku adukan Hubby, mau?!"


"Sialan lo!" umpat Trias membuat Chiyome tertawa dan membuat Iyun cemberut.


"Nooo... tu jaga bini kamu." kata Chiyome.


tak lama Kenzie muncul membawa 2 piring pisang goreng yang dilengkapi sambal terasi. ia meletakkan sepiring dihadapan Chiyome dan sepiring lagi dihadapannya. Kenzie mengambil sepenggal pisang goreng dan membelahnya dan mencocol belahan gorengan itu ke sambel dan mengarahkan ke bibir Chiyome, menyuapi kekasihnya.


dengan mesra Chiyome membuka mulutnya dan melahap pisang goreng yang disuapkan Kenzie kepadanya. keduanya kemudian saling menatap dan tersenyum.


"Enak?" tanya Kenzie.


Chiyome mengangguk.


"Alaaaa... pamer kemesraan kamu berdua." sembur Trias dengan kesal, "Nggak dimuka bini, ku sirami air teko muka kalian berdua."


"Eh, combro! siapa yang pamer mesra. santuy coy... kamu saja pamer mesra dengan Iyun, kami nggak protes." sogol Kenzie membuat bibir Trias gemetar persis lagi komat-kamit entah merapal apa.


"Sudah, jangan ribut! ayo makan." pinta Iyun.


karena teguran jilbaber itu, kedua lelaki itu akhirnya tak berdebat lagi. keempatnya duduk santai menikmati hidangan yang mereka pesan.


"Bro.... kurasa kita harus mulai berhati-hati. pimpinan pengedar itu hingga sekarang belum bisa ditemukan." kata Trias lirih.


"Terus, hubungannya dengan kita berempat?" pancing Kenzie.


"Bukankah kita bertiga yang mengacaukan pola peredaran mereka?" Trias membalas. " Dengan tewasnya Burhan ditangan kelompok misterius, akan makin menambah beban pemerintah kedepan."


"Aku bisa menduga... pertama kamu, lalu aku yang ketiga adalah Chiyome. tapi aku nggak terlalu kuatir dengan Chiyome, karena dia...Auch!!"


kalimat Kenzie terhenti dan dia tersentak karena tiba-tiba Chiyome menginjak kakinya dan menatapi pemuda itu dengan tatapan datar namun tajam menusuk. Kenzie tidak jadi meneruskan kalimatnya dan hanya tersenyum sambil menunduk saja. kontan saja Trias yang dilanda penasaran.


"Karena apa woy? kasih tau dong! kok diam?" desak Trias.


"Karena..... sebentar lagi orang tuanya mau berkunjung. bisa jadi Chiyome lagi berlibur sejenak dikampungnya." jawab Kenzie sambil menatapi Chiyome.


Trias memandangi gadis jepang itu. "Benaran?"


Chiyome terpaksa memandang Trias dan menyunggingkan senyumnya, setelah itu kembali menatapi Kenzie dengan tatapan datar yang membuat pemuda itu menjadi kikuk.


pemuda itu berdiri membiarkan dua buah pisang goreng tergeletak dipiring. "Aku mau cabut dulu, silahkan kalian berdua lanjutkan kemesraan kalian."


Kenzie mengulurkan tangannya kearah Chiyome. terpaksa gadis itu menyambut uluran tangan pemuda itu dan berdiri. keduanya lalu melangkah meninggalkan pasangan yang sementara bengong sendirian.


"Kenapa Hubby langsung ngajak pulang? masih tanggung nih.." omel Chiyome dengan lirih.


"Hubby nggak mau Trias banyak tanya. orangnya curigaan. Wiffy mau diinterogasi?" balas Kenzie.


"Iya, tapi rugi lho. itu pisang gorengnya masih belum dihabiskan. Wiffy punya saja belum tersentuh. " omel Chiyome lagi.


"Sudah nanti Hubby pesan lagi." kata Kenzie langsung lari ke tempat pemesanan. si penjaga kantin masih bengong melihat Kenzie memesan lagi kali ini agak banyak. padahal dua piring pisang goreng yang baru dipesannya belum habis, tergeletak begitu saja dimeja tempat Iyun dan Trias bercengkrama.


"Wooy... ini punya looo...." panggil Trias sambil mengangkat piring berisi pisang goreng milik Kenzie, dengan setengah teriak.


"Buat kamu berdua saja!" balas Kenzie sambil nyengir kearah Trias dengan nada yang sama.


tak lama datang penjaga kantin membawa sebuah tas berisi 25 buah pisang goreng lengkap sambal terasinya. Kenzie langsung mengangsurkan uang 3 lembaran 10 ribuan dan meraih tas kresek itu lalu setengah berlari menuju Chiyome yang sementara berdiri menunggunya.


"Nih... puaskan keinginan Wiffy ngabisin pisang goreng." kata Kenzie sambil menyerahkan tas itu ke tangan Chiyome dan langsung menarik tangan gadis itu agar mengikutinya menjauhi kantin.

__ADS_1


mereka tiba di kelas. Kenzie menyuruh Chiyome mengambil ranselnya yang masih tergeletak dilantai. gadis itu memungutnya lalu memasukkan tas berisi pisang goreng itu kedalam ranselnya.


"Ayo..." ajak Kenzie.


"Kita mau kemana Hubby?" tanya Chiyome dengan malas.


"Yang jelas, keluar dari sini. Wiffy masih punya utang satu penjelasan." jawab Kenzie kembali mengulurkan tangan.


dengan kesal Chiyome terpaksa kembali menyambut uluran tangan pemuda itu. keduanya berjalan bergandengan tapi kali ini langkah keduanya agak cepat. dihalaman, Kenzie meminta Chiyome menunggu ditepi jalan sementara ia menuju parkiran untuk mengeluarkan sepeda motornya.


Kenzie menyalakan mesin dan memakai helmnya kemudian mengendarai motor keluar dari parkiran menuju tempat Chiyome berdiri.


"Naik...." perintah Kenzie.


Chiyome nggak mau membantah perintah pemuda itu. gadis itu langsung naik diboncengan dan Kenzie melajukan kendaraannya meninggalkan SMUN 3 Kota Gorontalo.


Mereka menyusuri jalan HB. Jassin terus ke timur hingga melewati tugu Saronde terus ke timur menyusuri lagi jalan Cendrawasih, terus jalan Taman Bunga yang akhirnya tembus ke jalan Aloe Saboe.


"Kita mau ke rumah Hubby?!" tanya Chiyome agak keras melawan tamparan angin.


"Nggak. ada aja." jawab Kenzie sambil terus melajukan kendaraannya menuju kawasan Wongkaditi. beberapa blok dari rumah Kenzie ada sebuah pertigaan. Kenzie membelok ke jalan itu, terus ke timur hingga tembus ke jalan Tapa-Kabila.


Kenzie membelok ke kiri dan terus melaju lagi. pemuda itu merasa pelukan dipinggangnya makin erat.


"Hubby mau nyulik Wiffy lagi? mau disekap dimana?" tanya Chiyome sambil senyum.


"Masa penculik mau kasih tahu tempat penyekapannya? sudah pokoknya Wiffy diam. kalau banyak tanya, Hubby berentikan kendaraan ini dan nggak segan Hubby remasin payudara Wiffy ditempat umum. mau?!" ancam Kenzie.


Chiyome menahan tawa. sifat jahilnya muncul. "Ah, nggak usah pake ngancam deh. Hubby nggak berani." balas Chiyome.


Kenzie merutuki dirinya. nggak ada gunanya juga mengancam gadis itu. selain sekedar ancaman saja tanpa tindakan, Kenzie makin yakin jika ancamannya diseriusi, Chiyome nggak bakal diam saja barang pribadinya dijamah begitu saja. paling banter Kenzie harus merelakan tangannya bengkak terpuntir karena berani menjamah bongkahan dada milik gadis itu.


sementara memasuki kawasan blok plan kantoran Kabupaten Bone Bolango, Kenzie masih diliputi pikiran tentang rahasia yang ditutupi Chiyome baginya.


sekarang nampak benar bahwa gadis itu penuh dengan rahasia. Kenzie baru melihat luarnya saja. selebihnya adalah misteri. Mereka harus menyusuri jalan demi jalan dalam kawasan blokplan kantoran itu.


Kenzie melihat lokasi wisata Benteng Ulanta yang berdekatan beberapa blok dengan kantor Bappeda Kabupaten Bone Bolango. ia membelokkan kendaraanya ke kanan memasuki komplek wisata Benteng Ulanta.


"Sudah sampai... ayo turun." kata Kenzie memarkir motornya lalu mengajak Chiyome memasuki kawasan wisata Benteng Ulanta.



keduanya meniti tangga memasuki sebuah bangunan. sementara menyusuri ruangan dalam bangunan itu, Chiyome ngoceh lagi.



"Hmmm... tempat introgasinya nggak keren." kata Chiyome membuat Kenzie menghentikan langkahnya dan menatapi Chiyome.


"Maksud Wiffy nggak keren, gimana?" tanya Kenzie nggak paham.


"Nggak keren saja. nggak nampak horornya. masa mau nyulik Wiffy, nyekapnya disini?" cibir Chiyome.


"Kayaknya Wiffy keseringan nonton film aksi nih. mau lihat Hubby ngancam nih?" tantang Kenzie yang melangkah pelan ke depan membuat Chiyome secara naluriah mundur ke belakang hingga akhirnya gerakannya tertahan oleh tembok.


"Tuh sudah tersudut. mau lanjuti ancamannya?" tanya Kenzie dengan senyum nakal. Chiyome sempat gugup. sebenarnya ia ingin menggertak Kenzie supaya pemuda itu mundur namun gadis itu tak mau menyakiti Kenzie. peristiwa pertengkaran mereka dalam kelas telah berhasil membuat Chiyome melanggar kode etik mugei numei yang selama ini diterapkannya.


dengan kesal ia menggertak Kenzie dengan suaranya. "Alaaa... nggak usah main gertak dan ngancam. sampai sekarang juga Hubby nggak berani buktikan ancamannya." tantang Chiyome dengan membusungkan dada ketika wajah dan tubuh keduanya sudah sangat dekat nyaris berhimpitan.


"Wiffy yang minta ya..." ujar Kenzie lirih.


Chiyome kembali gugup. entah kenapa dihadapan pemuda ini ia tak berani mengeluarkan kemampuan beladirinya. tubuhnya melawan keinginan otaknya sendiri.


"Wiffy yang minta ya..." ujar Kenzie kembali sementara tangannya sudah memegang pinggang gadis itu kemudian mulai bergerak ke atas dengan pelan. Chiyome diam menanti apakah pemuda ini benar-benar menyatakan ancamannya.


dan jantung gadis itu semakin berdebar kencang merasakan sensasi aneh antara bahagia dan gelisah ketika kedua tangan Kenzie benar-benar hinggap dikedua payudaranya. dan kesepuluh jemari kekar itu mulai meremasi bongkahan dada gadis itu dengan lembut tanpa membuka seragam sekolah.


tiba-tiba Chiyome langsung memeluk Kenzie dan terisak-isak didada pemuda itu. sontak Kenzie kaget dan kedua lengannya melingkari pinggang gadis itu lagi. perasaan bersalahnya muncul telah melanggar kode etiknya sendiri dan sekarang dia telah melecehkan gadis itu.


"Wiffy, iyagarase o suru tsumori wa nakattanode gomen nasai." kata Kenzie dengan gelisah. ia berpikir gadis itu marah karena ia berani menyentuh payudaranya. (maafkan aku, nggak bermaksud melecehkanmu)


Chiyome menggeleng dan mengangkat wajahnya, masih dengan mata basah gadis itu tersenyum, " Ie.... Watashi wa hokori ni omoimasu .... anata wa okubyomonode wa arimasen..." jawab gadis itu, justru mengagetkan Kenzie. (nggak, aku bangga, kamu bukan lelaki penakut.)

__ADS_1


Kenzie sendiri terkesima. "Maksud Wiffy, Hubby boleh mainin Payudara Wiffy?"


"Bukan... bukan ke perkara boleh dan tidaknya Hubby melakukannya... lebih kearah berani atau tidak menyatakan tindakannya. dan.. Hubby berhasil membuktikan, Hubby bukan penakut..." jawab Chiyome. []


__ADS_2