Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 146


__ADS_3

Kediaman Mantulangi yang arsitektur bangunannya bergaya belanda jaman penjajahan itu ramai dikunjungi warga sedesa, bahkan ada warga yang berasal dari desa tetangga, kecamatan tetangga bahkan dari ibukota propinsi sendiri. marga Mantulangi adalah salah satu marga besar, jadi sebuah kewajaran jika banyak anggota keluarganya yang tersebar bahkan hingga ke luar daerah dan luar negara.


Ridhwan Mantulangi sendiri merupakan keturunan jogugu Suwawa dari garis ibu. itulah sebab kegiatan molalunga dilakukan oleh para warga dan sarada'a menjurus pada upacara adat untuk para raja dan keturunannya.


para ulama mempersiapkan perbekalan untuk mayit seperti kain kafan yang telah diukur panjangnya. rempah-rempah yang digunakan untuk membedaki mayit agar harum. sementara itu jenazah Bapu Ridhwan dimandikan. warga lainnya bergotong royong membangun tenda dan sebagiannya mengambil usungan dari masjid. usungan itu kemudian dihiasi dengan kain renda dan sebagiannya dihias gaya karawo. dibeberapa tempat hiasan terdapat kain yabg disulam dengan tulisan arab kalimat syahadat.


sementara Mariana, Chiyome dan Saripah melakukan tilawah, membaca Qur'an dan menghabiskan semua juz yang ada bersama kaum perempuan lainnya, Kenzie, Trias dan Adnan bersama para ulama lainnya duduk diruangan depan mengelilingi hamparan kain putih yang diatasnya diletakkan hidangan bersama syarat-syarat adat seperti Nasi kuning dan tiliaya, nasi bilindi, garam merica dalam piring kecil. mereka melaksanakan tahlilan pertama untuk melepas kepergian jenazah. orang gorontalo lebih akrab menyebut istilah tahlilan dengan sebutan mongaruwa.


setelah mongaruwa selesai, acara dilanjutkan santap bersama. Kenzie yang kehilangan selera makan hanya menyantap nasi kuning dan tiliaya. itupun hanya sekedup, sekedar menghormati hadirin yang sedang santap bersama. Trias bersikap biasa dan menyantap hidangan dihadapannya, begitu juga dengan Adnan.


setelah santap bersama selesai, kaum lelaki kembali ke halaman dan duduk dideretan kursi yang disediakan. sementara jenazah Bapu Ridhwan mulai dikafani. salah satu mubaligh tampil memberikan nasihat-nasihat takziyah bagi keluarga Mantulangi, menghibur mereka sesuai pesan Rasulullah dalam adab-adab takziyah.


para pejabat di instansi pemerintahan daerah kabupaten Bonebolango sebagiannya hadir. sayang, bupati sedang ada tugas keluar daerah entah sebab urusan apa sehingga tidak menghadiri pelayatan. tugasnya digantikan wakil bupati dan asisten III pemerintahan.


tiba kemudian acara pensholatan jenazah. para warga dan pejabat yang hendak mensholati mayit pergi menuju sumur untuk berwudhu. setelah itu kaum bapak berbaris membentuk shaf. jenazah Bapu Ridhwan yang terbujur di kotak ranjang itu diletakkan didepan imam. sholat jenazah dimulai.


setelah sholat jenazah rampung. mayit dimasukkan dalam keranda dan diusung menuju pekuburan keluarga Mantulangi. terdengar lagi ratapan-ratapan jahiliyah kaum ibu yang ditinggalkan. Mariana sempat meratap melihat jenazah itu dibawa menuju liang kubur. Chiyome sendiri sempat kelepasan emosi menerobos masuk ke liang kubur dan meratap kembali memeluk bagian kaki jenazah itu.


"Ojichan... watashi o oite ikanaide... Ojichaan... hoka ni dokoni monku o itte iru no?... Ojichaaan..." ratap Chiyome memeluk pocongan itu, menumpahkan tangisnya. (Kakek... jangan tinggalkan aku... Kakek, kemana lagi aku harus mengadu? kakek...)


Aisyah menangis sambil menggendong Saburo yang ikutan menangis. ratapan kaum ibu semakin banyak terdengar. ratapan kehilangan karena ditinggal lelaki yang begitu sangat dihormati dilingkungan keluarga. kaum bapak hanya bisa menunda peletakan jenazah Bapu Ridhwan dan meminta Kenzie menarik istrinya keluar dari liang lahat itu. keduanya berpelukan menumpahkan tangis melihat jenazah yang telah diletakkan dalam lekukan bagian dalam liang lahat, kemudian ditutupi dengan papan dan daun kelapa yang disulam sedemikian rupa.


Trias hanya berdiri menumpahkan tangisnya. sang guru telah pergi. ilmu yang dipetik telah diwariskan kepadanya. rasa kehilangan seorang murid atas kematian gurunya nampak begitu jelas tergambar diwajah siswa bintara polri itu. Saripah sendiri hanya bisa memeluk kekasihnya dan menumpahkan tangis dipunggung bidang Trias.


Adnan dengan tabah menggerakkan tangannya yang memegang sekop, menjatuhkan bulir-bulir tanah kedalam liang lahat dibantu oleh warga lainnya. hingga akhirnya terbentuklah gundukan tanah yang kemudian ditancapi nisan kayu. lalu semua anggota keluarga, termasuk Chiyome, Trias dan Saripah menaburkan bunga-bunga ke gundukan tanah itu sementara Mariana menyirami gundukan tanah dengan air dari poci.


para ulama kembali duduk melingkari makam Bapu Ridhwan sambil bersila dan membacakan surah Yaasiin. dibelakang mereka duduk Adnan, Kenzie dan Trias. sedang dibagian kaum ibu duduk didepan Mariana, Chiyome dan Saripah.


acara pembacaan doa itu selesai dan satu persatu pelayat meninggalkan makam tersebut. tinggal Chiyome yang kembali duduk memeluk nisan kayu itu dan menumpahkan tangisnya lagi.


"Bapu... kau sudah tiada kini... tiada lagi yang bermain-main dengan Saburo... tiada lagi kudengar tawa nyaringmu... tiada lagi kulihat kekar ototmu saat melatih suamiku... tiada lagi kaum tua panutanku..." sedu Chiyome.


Kenzie menyentuh pundak istrinya. "Wiffy... sudahlah... jangan siksa Bapu dengan ratap sedumu." pinta Kenzie. "Bapu sudah tenang. tidakkah kau dengar dia menyebut, kakekmu mengulurkan tangan mengajaknya? bukankah dia telah bertemu dengan sahabat karibnya?"


Chiyome menyeka air matanya yang membasahi wajah. matanya yang sipit telah balut sebab banyak memeras airmata. Kenzie tersenyum datar ditengah wajah dukanya.


"Mari kita berdoa untuk ketenangan beliau. Wiffy mau kan?" pinta Kenzie.


Chiyome mengangguk pelan. Trias kemudian membaca doa dengan khusyuk.


"Allahumma inni Abii Ridhwan Mantulangi... fi zmmatika, wa habli ziwarika... faqihi fitnatil qabri wa adzabi naar... wa Anta ahlal wafa'i wal haq... wagfirlahu... warhamhu... Innaka Anta al ghofuru rrahiim..."


(Ya Allah sesungguhnya Bapak Kami... Ridhwan Mantulangi dalam pemeliharaan-Mu, dan dalam kepengasihan-Mu... bebaskan beliau dari azab kubur dan neraka... karena Engkaulah yang mengampuni dan menyaksikan kebaikannya... ampunilah beliau, kasihanilah beliau, Engkaulah... Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.)


...*******...

__ADS_1


suasana duka menggelayuti keluarga Mantulangi. selama hari-hari pertama hingga hari ketujuh, keluarga Mantulangi mengadakan perhelatan mongaruwa untuk mendoakan keselamatan mendiang kepala keluarga Mantulangi yang begitu dihormati bukan saja dikalangan keluarga, tapi juga para warga desa. banyak warga yang mengikuti kegiatan mongaruwa itu membawa berbagai macam hasil bumi mulai dari beras, lauk ikan dan daging serta sayur mayur sebagai bentuk kesetiakawanan sosial bertakziyah.


Endrawan sendiri menyumbangkan lima kilo daging ayam dan sapi kepada keluarga sahabat karibnya itu.


"Bro... ini berlebihan." tegur Adnan.


"Tidak lebih... masih lebih banyak kebaikan yang keluargamu lakukan padaku... dan pemberian ini, masih belum bisa melunasi kebaikan itu." jawab Endrawan sekenanya.


lelaki plontos nan kekar itu memang telah merasa menjadi bagian dari keluarga. apapun ia akan melakukannya sebagai bentuk baktinya atas kebaikan Adnan terhadapnya dimasa-masa silam.


"Makasih bro." jawab Adnan pada akhirnya.


"Jangan dipikirkan." timpal Endrawan.


Trias dan Saripah sendiri tak pernah absen dalam kegiatan kekeluargaan itu. dan memang mereka berdua sudah dikenal oleh sebagian besar anggota keluarga Mantulangi saat keduanya bersama Kenzie dan Chiyome berkunjung ke Suwawa dan menimba ilmu kepada Bapu Ridhwan beberapa tahun lalu.


Endrawan menarik napas panjang. "Oke bro. aku pamit dulu. insya Allah, hari atau malam ketujuh, aku kemari lagi."


Adnan mengangguk. "Aku tunggu, bro."


Endrawan mengangguk balik dan melangkah pergi menuju mobil pick up New Suzuki Carry putih. kendaraan itu kemudian bergerak meninggalkan kediaman Mantulangi.


...*****...


senja hari ketujuh, pukul 4 sore.


lelaki itu mengenakan kain kurung hitam lengan panjang juga celana panjang sebetis. dipinggangnya melingkar kain bate bercorak geringsing. destarnya merah hati.


mata Kenzie perlahan menutup dan ia memperbaiki postur sikap berdirinya. kedua tangan kemudian mengembang dan menyatu dalam tangkupan didada. setelah melakukan penghormatan gaya silat, Kenzie memulai gerakan, mempraktekkan semua gerakan langga yang mirip tarian itu. ayunan kaki yang menendang begitu kuat seperti hujaman dan ayunan cakarnya yang terlihat tangkas dan mematikan.


Chiyome awalnya mencari keberadaan Kenzie. namun ia kemudian ingat suatu tempat dan memutuskan kesana. sambil menggendong Saburo, wanita itu melangkah menuju tempat dimana mendiang Bapu Ridhwan pernah mengajari suaminya dan Trias dengan seni langga.


tebakannya tak salah. nampaklah ia melihat Kenzie yang sedang tekun mempraktekkan seni langga dalam sebuah peragaan jurus yang dipadukan dengan silat. wanita itu berdiri dalam diam menyaksikan suaminya tenggelam dalam kesyahduan menarikan jurus tersebut.


tak lama, Trias bersama Saripah muncul juga disana. Trias mengenakan baju koko putih, lengkap dengan kopiah dan celana cingkring warna khaki. sarung bate pola wajik warna biru melingkar dipinggangnya.


siswa bintara polri itu melangkah ke tengah sambil menatapi Kenzie yang masih terus menarikan jurus hingga gerakan terakhir. setelah kembali melakukan penghormatan, Kenzie berdiri tegap dan menatap gubuk itu lagi.


"Sudah sangat lama, ya???" ujar Trias.


Kenzie menoleh menatap Trias yang juga sedang menatap gubuk itu. lelaki berdestar itu kembali menatap gubuk.


"Disini, Bapu melatih kita. kau masih ingat?" pancing Kenzie.


"Tentu... masa aku lupa candradimuka kita berdua?" pancing Trias sambil senyum.

__ADS_1


Kenzie menatap sahabatnya dengan tatapan dalam. Trias paham arti tatapan itu. dia sejenak mendehem lalu melakukan kembangan dan membentuk pola tempur. tatapannya menjadi tajam ke arah Kenzie.


"Untuk mengenang jasa Almarhum Bapu Ridhwan kepada kita. mari Kenzie, hibur beliau dengan permainan kita!" seru Trias.


Kenzie menarik napas panjang lalu ikut melakukan kembangan setelah itu membentuk pola tempur. tatapannya juga menajam kearah Trias.


"Mari... keluarkan semua teknik terbaikmu!" jawab Kenzie pula.


dan keduanya maju saling menerjang dengan suara ruangan yang keras dan seragam, disaksikan oleh Chiyome yang sementara menggendong Saburo dan Saripah yang berdiri diam disisi wanita bermata sipit itu.


...********...


malam ketujuh, keluarga Mantulangi mengadakan helatan besar mongaruwa yang dilanjutkan dengan acara takjizah mengundang warga sekampung serta mendatangkan mubaligh terkenal untuk mengisi penyampaian nasihat kedukaan.


esoknya, pagi sebelum acara tinilo pa'ita, seluruh kaum keluarga Mantulangi menyelenggarakan ritual mutimuwalo. ritual itu adalah mandi bersama disebuah aliran sungai. dipimpin oleh seorang hulango, didalam rumah kediaman, seluruh anggota keluarga inti, termasuk Kenzie dan Chiyome mengikuti prosesi bontho. sang hulango melumuri telunjuknya dengan baluran buah pinang dan kapur sirih yang dihaluskan.


hulango atau dukun (bukan dukun santet. lebih kearah paranormal atau sepsialisasi upacara adat) menotok bagian-bagian tertentu pada tubuh anggota keluarga seperti dahi, kedua pundak, lengan dan lutut.


setelah prosesi bontho, seluruh anggota keluarga inti bergerak keluar dari pintu depan. Nenek Juma yang paling tua dari semua anggota keluarga inti, dipakaikan pakaian serba putih dan mengepit bangku kecil pemarut kelapa.


rombongan keluarga itu tiba ditepian sungai Bone. hulango kemudian menyuruh Nenek Juma duduk dipemarut kelapa dan hulango itu kemudian memecahkan buah kelapa itu tepat diatas kepala Nenek Juma.


air kelapa itu turun membasahi kepala nenek itu. hulango kemudian memerintahkan Nenek Juma memarut daging buah kelapa tersebut. setelah itu, parutan daging buah kelapa itu dicampur air dan diambil oleh hulango.


hulango itu kemudian meremas-remas parutan kelapa tersebut menghasilkan air santan kasar. remasan pertama disiramkan kepada Nenek Juma. kemudian berturut-turut ke setiap anggota keluarga inti menurut tingkatan usia.


setelah itu, Hulango memberikan pelepah pinang kepada Nenek Juma. wanita renta itu kemudian memecahkannya. Hulango kemudian menghanyutkan pelepah pinang itu ke sungai.


selanjutnya proses mandi sebagaimana biasanya sambil hulango memercikkan air menggunakan daun pinang kepada anggota keluarga inti yang sedang mandi.


Kenzie mengguyuri kepala Chiyome dengan air yang diambilnya sekedup dari aliran sungai. Chiyome menatap suaminya dengan tatapan kasih.


"Arigatoyooo... Shin'ainaru..." ucap Chiyome dengan lirih. (Terima kasih sayang)


Kenzie mengangguk. "Wiffy pingin tahu falsafah dari kegiatan ini?" pancing Kenzie.


Chiyome menatapnya dengan dalam. Kenzie melanjutkan katanya, "Untuk mengikhlaskan kepergian Bapu Ridhwan menuju alamnya. aliran sungai menandakan perjalanan menuju akhir. air santan yang putih menandakan pembersihan hati. parutan kelapa itu emosi dan kegiatan kita sementara mandi ini melambangkan upaya untuk mencuci kedukaan dan memulai kehidupan baru dengan saling mengikhlaskan."


Chiyome mencermati dan menghayati setiap kata yang keluar dari mulut suaminya. setelah itu wanita bermata sipit itu mengangguk dan tersenyum.


"Baiklah, Hubby... Wiffy akan lebih tegar kedepan." jawab Chiyome dengan lirih.


Kenzie mengangguk. "Ayo kita pulang. selepas ini kita akan melaksanakan adat tinilo pa'ita." ajak Kenzie sambil berdiri. salah satu anggota keluarga memberikan piyama mandi kepada Kenzie yang ia berikan kepada istrinya.


Chiyome mengenakan pakaian itu dan keduanya menepi ke sisi sungai dan keduanya melangkah mengikuti rombongan lain yang lebih dulu meninggalkan sungai. rombongan keluarga Mantulangi kembali menuju rumah kediaman. namun kali ini, mereka masuk lewat pintu belakang.

__ADS_1



setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian. semua anggota keluarga Mantulangi kemudian melaksanakan adat tinilo pa'ita. sebuah tempat nisan dibuat dengan kertas biru. rencananya tempat itu akan diletakkan di makam sampai tiba empat puluh hari dan diadakan adat serupa untuk mengganti nisan kayu dengan nisan batu.[]


__ADS_2