Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 33


__ADS_3

sekali ini Chiyome melihat dengan mata kepalanya prosesi sebuah pernikahan islami. di jepang, dia tak menyaksikan hal semacam ini. meskipun sama syahdunya, namun kali ini berbeda. dia sering mengunjungi acara pernikahan, bersama kedua orang tuanya. bedanya, kali ini ia menyaksikan temannya melepaskan masa lajangnya.


dalam khayalnya, ia membayangkan dirinya dan Kenzie yang berada didepan itu. lamunannya langsung buyar ketika merasakan lengannya disentuh, Chiyome menatapi Aisyah yang tersenyum padanya.


"Kakak tau apa yang ada dipikiran kamu itu. emang sudah siap kamu seperti mereka?" goda Aisyah.


kembali wajah Chiyome memerah dan ia menunduk sambil menyembunyikan senyumnya. Aisyah menahan tawa melihat gadis itu terjebak dalam permainan pikirannya sendiri.


sementara Kenzie melihat Chiyome dengan senyum dan ketika Chiyome mengangkat wajahnya, kembali tatapan keduanya bertemu. Kenzie tersenyum lagi, gadis itupun membalasnya.


rasa malu tertangkap tatapan Aisyah dan mamanya membuat Kenzie menunduk, sedang Chiyome memalingkan wajahnya kearah lain tapi tetap saja menyembunyikan senyumnya.


prosesi akad nikah itu selesai ketika Endi maju menyerahkan mahar yang telah disebutkan dalam ijab qabul itu. pria botak itu meletakkannya di meja pendek. setelah itu, Trias memasangkan cincin ke jari Iyun, begitu juga sebaliknya, Iyun memasangkan cincin ke jari Trias.


setelah itu dilanjutkan dengan foto bersama. ketika tiba saatnya bagi keempat sahabat itu berfoto. dengan santainya mereka langsung mengekspresikan diri mereka membuat orang-orang tua yang menonton itu hanya bisa menggeleng-geleng kepala.


dasar pengantin dini....


...*******...


Kenzie memberikan sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas pelangi. Trias menerimanya.


"Apa ini?" tanya pemuda itu dengan lirih.


Kenzie membisikkan sesuatu kepada Trias membuat pemuda itu langsung mendongak dan tertawa keras diikuti Kenzie yang menampar-nampar punggungnya.


"Huange'emu... jangan bikin malu aku dong." ujar Trias masih tertawa.


"Nggak. aku serius. kamu mau Iyun bunting pas kalian masih sekolah?" sogol Kenzie.


"Benar juga kamu." jawab Trias sambil mengangguk-angguk. "Oke, aku terima saranmu."


"Siiip..." balas Kenzie.


...*********...


malam itu sepasang pengantin baru itu berada diperaduan. keduanya saling menatap. tatapan Trias yang begitu bermakna membuat Iyun tersipu.


"Apa sih... Bi?" ucap Iyun menunduk dan tersipu.


" Aku nggak menyangka.... secepat ini kita menikah." kata Trias menyangga kepalanya dengan telapak tangannya sambil baring menyamping menghadap ke arah istrinya.


"Aku nggak nyangka juga, orang tua kita keder dengan semangat kita." balas Iyun juga tersenyum.


"Tapi kamu sempat takut juga toh?" goda Trias sambil membelai dagu istrinya. "Kalau nggak kupamerin kecupan kita yang ketiga, nggak bakal mereka menikahkan kita. yang ada kita dipisahin, aku merana sendiri, tak punya gairah hidup lagi."


"Sudah jangan ngegombal." kata Iyun sambil menjawil kening Trias. "Aku sudah jadi milikmu. sudah basi, tau nggak?" ujar Iyun sambil terkekeh dan membalik diri.


Trias memeluk Iyun dari belakang. "Aku lega. kita sudah halal." pemuda itu mencium tengkuk pemudinya. Iyun mendesis. gairahnya timbul.


"Bi..." panggil Iyun ditengah desisannya karena menahan sensasi yang muncul akibat ciuman-ciuman yang didaratkan Trias ditengkuknya.


"Hmmm..." jawab Trias sambil terus menciumi tengkuk istrinya.


"Gimana nanti pergaulan kita disekolah?" desah Iyun yang mulai naik voltasenya.


"Dibikin biasa aja. seperti masih pacaran..." jawab Trias sambil menyelusupkan tangannya ke dalam pakaian Iyun dan mulai mempermainkan sepasang bukit disana.


"Kalau ketahuan kita sudah nikah, gimana?" desah Iyun lagi kali ini justru menggenggam tangan Trias dan menuntunnya kebagian bawah pusarnya.


"Jangan sampe ketahuan dong." jawab Trias langsung menyergap bibir sensual milik istrinya.


keduanya langsung melibatkan diri dalam pergumulan yang makin memancing gairah untuk menuntut pelampiasan. desahan, lenguhan, gumam dan pekikan kecil silih berganti memenuhi ruang perpaduan itu.


hingga akhirnya Iyun menggigit bibirnya dan kedua tangannya mencakar punggung Trias ketika pemuda itu berhasil melesakkan lingga miliknya kedalam yoni sang istri lewat perjuangan yang begitu keras dan memayahkan.


keduanya kembali berpacu, semakin berpacu dan dalam waktu yang terpampang didalam laju pergulatan itu, keduanya melepaskan hasrat termurni, menyatukan dua titik air kehidupan mereka kedalam cawan pernikahan. mereka berdua telah melaksanakan kewajibannya.


hanya satu yang membuat Trias belakangan menyesal... dia lupa memasang pengaman pada miliknya. Iyun sendiri hanya tersenyum, membiarkan suaminya gelisah sendiri.


...********...


dikamar Chiyome.....


gadis itu melepas tusuk sanggulnya satu persatu. ia memandang melalui pantulan cermin meja riasnya melihat Kenzie muncul masih dengan pakaian yang dipakainya pada perhelatan nikah itu.


"Kamu lelah?" tanya Kenzie mendekat lalu memegang kedua bahu Chiyome dari belakang. pemuda itu kemudian menyandarkan dagunya kepundak gadis itu.


"Kalau kamu?" pancing Chiyome mengurai kembali rambutnya.


Kenzie memegang dagu Chiyome dan menuntun wajah gadis itu ke samping hingga akhirnya kedua wajah mereka bertemu dan bibir mereka menyatu. lama Kenzie menikmati belahan bibir itu seperti Chiyome yang juga menikmatinya.


masih dalam sikap berciuman itu, Kenzie memeluk pinggang Chiyome, dan membalikkan tubuhnya hingga keduanya berhadapan masih dalam posisi melakukan percakapan tanpa suara, dari bibir ke bibir. setelah puas menyatukan spiritualitas cinta melalui penyatuan bibir itu, Kenzie melepaskan pagutannya.

__ADS_1


Chiyome perlahan membuka jas, berikut kemeja pemuda itu. Kenzie pun membuka obi yang melingkari Homongi milik gadis itu. kimono itu membuka ketika Kenzie melepaskan sabuk besar dan mencampakkannya ke lantai.


"Kamu mencintaiku, kan?" ucap Chiyome kembali bagai gadis yang ketakutan bila ditinggalkan.


"Bagiku, kaulah nyawaku..." ujar Kenzie lirih. ia mulai melebarkan kimono itu hingga akhirnya membuka memperlihatkan sepasang bukit yang menantang dengan stupa yang coklat muda bertengger dipuncaknya.


"Anata mushi dewa ikite ikenai...." desah Chiyome dengan lirih, membelai dada bidang pemuda itu.


(Aku nggak bisa hidup tanpamu...)


perlahan Chiyome mendorong Kenzie ke ranjang. gadis itu menaiki tubuh pemuda itu kemudian dengan intens memberikan kecupan dan ciuman yang membangkitkan gairah.


Kenzie membalikkan posisi mereka. Chiyome terlentang membiarkan kimono yang terbuka. dengan ganas pemuda itu menerkam kedua benda bulat milik Chiyome dan mempermainkannya untuk melampiaskan hasrat yang semestinya harus dituntaskan.


sementara Kenzie menikmati tubuhnya, Chiyome membuka dan menurunkan celana panjang pemuda itu dan menyentuh milik pribadi Kenzie yang ia tuntun langsung mengarah ke bagian terdalam dari dirinya.


Kenzie perlahan mendorongnya diiringi desahan Chiyome, makin lama ia makin mendorong kemudian menariknya kembali, lalu kembali mendorong, menarik hingga aktifitas yang lambat itu mulai melaju ritmenya, berdentam bagai alu yang menghantam antan.


Kenzie menggerilyakan kedua tangannya mempermainkan kedua payudara Chiyome dan memagut bibirnya ditengah aktivitasnya menghantam dengan lembut bagian pribadi gadis itu.


Chiyome melingkarkan kedua tungkai kakinya ke pinggang Kenzie membuat pemuda itu makin mempercepat tempo serangannya.


dan akhirnya ia mendongak, memejamkan mata menikmati detik demi detik pelepasan yang memurnikan kembali nafsu mereka. kepala Kenzie perlahan jatuh ke dada Chiyome. gadis itu membelainya dengan penuh kasih.


"Anata ni muchuu da..." desah gadis itu.


(Kamu selalu ada dalam mimpiku.)


...********...


Kenzie serentak terbangun dengan wajah yang pias dan peluh dingin yang membasahi wajah dan tubuhnya. ia mandi keringat pada malam itu. diedarkannya pandangan selama beberapa menit, mengenali ruangannya sendiri dan ia lega.


kelegaannya terganggu ketika merasa sesuatu yang basah dicelananya. tangannya menyelusup kebalik celana dan merasakan sesuatu yang mirip lendir dibagian paling pribadinya.


Kenzie langsung menguak selimut dan memperhatikan bagian bawah pusarnya yang dibalut celana. ada bercak basah disana .


dia ngompol....


bukan! ini bukan ngompol...


ini.... mimpi basah...


seketika Kenzie merutuki dirinya sendiri. ia mendesah penuh rasa malu yang menyengat sanubarinya.


pemuda itu kembali membenamkan wajahnya dilantai dan meninju bantalnya sendiri.


...*********...


Kenzie berjalan dengan lesu menyusuri koridor. langkahnya sedikit gemetar gara-gara semalam mengalami suatu peristiwa yang manusiawi dan alami menurut ilmu alam, namun baginya itu adalah momen paling memalukan.


bagaimana tidak? mimpi itu terasa begitu nyata. bahkan bisa jadi nyata. namun Kenzie tak mau mengingat itu. ia begitu malu. bagaimana jika nanti dia ketemu Chiyome? mau ditaruh dimana mukanya?


sesampainya didepan kelas, tatapannya mengedar mencari keberadaan Chiyome diantara siswa-siswi kelas itu.


dia belum datang...untunglah...


Kenzie melangkah masuk lalu duduk ditempatnya, memasukkan tas ke dalam laci meja lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. pemuda itu mendesah.


Fendi datang menghampirinya. "Ken..." panggilnya.


Kenzie menatapi ketua kelas itu dan mengangkat alisnya. Fendi Modanggu mengamati wajah sahabatnya. "Kamu kenapa? loyo sekali... nggak biasanya kamu begini."


"Aaaaa... entahlah... kurang stamina mungkin." jawab Kenzie pura-pura menguap. ia nggak mau ketahuan sedang mengalami pelepasan energi tenaga dalam yang membahagiakan semalam sekaligus menyengsarakannya dipagi hari.


"Ngapain semalam kamu? mancing lagi? Trias kemana? tumben dia nggak masuk." kata Fendi.


"Mungkin sibuk ke polsek lagi." jawab Kenzie sekenanya.


"Masa sudah segini, masih juga dimintai keterangan?" tanya Fendi dengan sangsi bercampur curiga.


"Ding, aku ini nggak tinggal sama-sama dengan Trias, nggak tidur dengan dia, nggak ngapa-ngapain dengan dia, ya jelas aku nggak tahu dia lagi ngapain... nanti tanya saja padanya kalau dia sudah masuk." ujar Kenzie dengan jengkel.


"Ajib lo..." dengus Fendi sambil menjauh.


tak lama kemudian nampak Chiyome masuk. gadis itu nampak berjalan dengan tertahan-tahan. jemari kirinya menekan bagian perutnya dan sesekali gadis itu meringis.


Kenzie menundukkan wajah berupaya menghindari agar jangan sampai lagi menabrak tatapan gadis itu. Chiyome tiba ditempat duduknya lalu duduk. sejenak ia memijiti keningnya. Susan, teman duduknya mendekati.


"Kamu kenapa? lagi PMS?" tanya Susan dengan lirih.


gadis itu menatapi teman sebangkunya lalu mengangguk perlahan. Susan tersenyum. "Udah beli pembalut?"


lagi-lagi Chiyome hanya mengangguk. kelihatannya kram perut yang dialaminya sedikit lebih reaktif.

__ADS_1


Chiyome memalingkan wajah menatapi Kenzie. pemuda itu juga menatapnya. keduanya bertatapan dan wajah keduanya kembali memanas. Chiyome memalingkan wajah lalu meraba wajahnya yang berkeringat. begitu juga Kenzie.


untung saja kecanggungan iru berlalu dengan masuknya Pak Risno. ia menatapi seantero kelas dan merasakan ada sesuatu yang janggal.


"Kayaknya ada yang janggal nih... tapi apa ya?" tanya Pak Risno dengan kening berkerut dan menyuruh dagunya.


"Trias Ali nggak hadir pak." jawab Fendi.


"Aha! itu yang kucari tadi.... dimana anak iru?!" gerutu Pak Risno.


perwalian kelas itu menatapi Kenzie dengan tatapan tajam. Kenzie menghela napas. "Mana saya tahu pak. saya kan tidur dengan dia. ini saja saya penasaran." jawab pemuda itu asal-asalan.


Pak Risno tak lagi bertanya. ia kembali menatapi anak-anak didiknya. ia tersenyum.


"Anak-anak, besok sekolah libur.." ujarnya yang langsung memancing kegaduhan karena para siswa langsung bersorak.


Pak Risno mengangkat tangannya meminta para siswa tenang. akhirnya kelas menjadi hening kembali.


"Anak-anak, sekolah besok libur karena hari minggu." kata Pak Risno, yang pernyataannya kembali memancing kegaduhan dan suara koor siswa.


"Huuuuuuuu....."


Pak Risno tertawa senang melihat siswa-siswinya jengkel. lelaki itu berdiri didepan kelas. "Besok, ada kegiatan kerja bakti di sekolah. semuanya harap bawa peralatan ya?" pintanya.


namun betapa terkejutnya ia mendengar suara koor siswa.


"Ogaaaaaahhhh....."


mendengar suara penolakan, wajah nyentrik Pak Risno langsung terpampang wajah galak. "Siapa tadi yang bilang ogah?!" tatapannya mencorong.


semua siswa diam tak menjawab. Pak Risno kembali diam mengatur napasnya. kemudian dengan suara datar dan dingin ia mengulangi lagi perintahnya.


"Pokoknya besok kalian semua, tak terkecuali, wajib membawa peralatan kerja! mengerti!" tandas Pak Risno.


"Oooogaaaaaahhhh...." lagi-lagi terdengar suara koor siswa menolak perintah perwaliannya sendiri.


Pak Risno menggeram marah sambil bercakak pinggang ia memandang siswa-siswa didiknya. "Sudah kurang ajar kalian ya?! kalian mengerti apa yang saya bilang?!"


"Mengerti paaaaaaakkk..." jawab koor siswa lagi.


"Coba katakan sama saya, apa yang kalian mengerti?!" tantang Pak Risno.


dengan kompak semua siswa XI F menjawab koor, "Besok libuuuurrr..."


sontak Pak Risno langsung menampar keningnya lalu pergi begitu saja membuat para siswa sejenak melongo lalu akhirnya tertawa meributkan ruangan.


...*******...


"Hubby... kok dari tadi diam? lagi sakit?" tanya Chiyome dengan desah yang manja membuat tensi dibagian bawah pusar pemuda itu mulai memberontak.


aduuuhhh... kenapa baru suaranya membuatku jadi bagini... kemarin-kemarin nggak, kok sekarang lain ya?


Kenzie langsung menggeleng dan kembali menikmati mie ayamnya. Chiyome akhirnya diam juga dan menenggelamkan dirinya dalam kesibukan mengunyah nasi kuning. Kenzie memperhatikan wajah Chiyome yang agak pucat.


"Wiffy kenapa? sakit? wajahnya Wiffy pucat lho.." kata Kenzie agak lirih.


"Wiffy lagi PMS..." jawab Chiyome sekenanya.


"sakit ya? tadi Hubby perhatikan waktu masuk Wiffy megang-megang perut. " kata Kenzie.


"Itu biasa Hubby... cuma ada yang nggak biasa." jawab Chiyome kemudian menunduk dan wajahnya mulai memerah.


"Apanya yang nggak biasa?" tanya Kenzie disela ia memakan hidangannya.


"Semalam, Wiffy mimpi.... agak erotis sih..." kata Chiyome dengan pelan.


Kenzie tersenyum. mimpi erotis. semalam juga dia mengalami mimpi erotis.


"Kok Hubby senyum-senyum sih?... ih, otaknya mulai mesum nih.." ledek Chiyome.


"Mimpi erotis seperti apa?" tanya Kenzie lagi.


"Wiffy malu bilangnya..." kata Chiyome.


"Bilang saja. nggak ada orang disekitaran kita." desak Kenzie.


lama Chiyome menimbang-nimbang hingga akhirnya gadis itu menarik napas panjang.


"Wiffy mimpi kita berdua bersenggama." jawab Chiyome yang berhasil membuat Kenzie tersedak dan terbatuk-batuk.


"Hubby? nggak apa-apa? kenapa kesedak sih? itu kan hanya mimpi?" kata Chiyome.


Kenzie cepat-cepat meminum air untuk menenangkan hatinya yang bergejolak.

__ADS_1


berarti.... kami berdua memimpikan hal yang sama.... aduuhh...gimana nih Ya Allah... []


__ADS_2