Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 59


__ADS_3

Kenzie terpaksa berdiri tegak dan melepaskan Trias berbaring dihalaman gudang itu. pemuda itu tahu kalau para pengawal ini bersenjata api. tapi tak ada cara lain kecuali menghadapi gerombolan bersenjata api ilegal ini.


Kenzie memasang knuckle pada kedua tangannya lalu mengangkat kedua tangannya ke dada seperti orang yang hendak bertinju.


"Kemarilah..." ujar Kenzie dengan pasrah dan memantapkan keberanian .


gerombolan itu tertawa-tawa saling memandang dan nyata mereka benar-benar meremehkan pemuda itu. salah satunya maju langsung mengarahkan pistol G2 Premium itu kearah Kenzie.


DEG !!!


waduuuh... kok langsung nodong pistol? nggak keren nih..


tapi kegalauan Kenzie terjawab sudah. ia mendengar bunyi desir halus yang seakan melewati dirinya, bersamaan dengan itu beberapa pengawal berteriak kesakitan memegang leher dan wajah mereka kemudian satu persatu rubuh ke tanah sampai akhirnya sekarat.


Kenzie langsung tahu, siapa yang melakukan hal itu. dia berbalik menghadap hamparan kegelapan dan mengembangkan tangannya dengan kesal.


"Ayolah! kasih Hubby kesempatan memukul juga dong." teriak Kenzie.


tak ada jawaban, pemuda itu berbalik menatapi beberapa pengawal yang memegangi tangannya yang kesakitan, entah karena apa.


dengan geram, Kenzie berlari dan menerjang para pengawal tersebut. pemuda itu dengan ganas memukul seakan mendapatkan pelampiasan kekesalannya. dan pasti sudah bisa ditebak.


para pengawal itu hanya orang-orang sewaan yang hanya tahu menggunakan senjata api saja. selebihnya, mereka benar-benar buta tentang teknik pertahanan diri. Kenzie berkali-kali menyarangkan tinju dan tendangannya untuk membuat para penyerang berpikir dua kali untuk membekuk pemuda itu.


mereka benar-benar kewalahan dengan kecakapan beladiri Kenzie. hasil pendidikan yang didapatkannya dari Bakri benar-benar diaplikasikannya malam itu.


setelah menjatuhkan pengawal terakhir kemudian merusak rakitan pistol para pengawal yang berserakan dihalaman tersebut. Kenzie melihat Trias yang sementara terbaring lemah. pemuda itu kembali menatapi kegelapan.


"Jangan pergi dulu Wiffy, kamu masih punya hutang satu penjelasan sama Hubby."


namun tak ada jawaban disana. suasananya begitu hening. Kenzie mengumpat-umpat.


Wiffy, awas ya kalau dirumah.... Hubby obok-obok nih sampe Wiffy mabok pejuh...


...*********...


pertarungan alot antara Endrawan dengan lelaki bertubuh tinggi itu lumayan lama. ternyata lelaki itu menggunakan dua tongkat besar plus kelincahan membuat Endrawan sedikit syok mencari gaya-gaya pertarungan baru.


namun akhirnya, beberapa saat kemudian, alur pertarungan mulai memihak Endrawan. berkali-kali ia mengayunkan golok dan hanya menghindar jika tidak ingin disabet oleh pukulan.


golok aliyawo ditangan Endrawan meliuk-liuk dan menyambar ke arah lelaki bertubuh tangga. selain itu si lelaki juga mulai tersudut. ia melihat kelemahan terpenting lelaki bule dihadapannya.


lawan bertubuh tinggi itu mulai kelelahan hingga serangannya tak lagi berdampak buruk. senjata milik lelaki itu menggores dada sang penantang.


Setelah menaklukkan sang lelaki tinggi dengan percaya diri, Endrawan berlari menuju halaman gudang dan menemukan tubuh Trias yang terbaring dihalaman. dia menatapi Kenzie yang baru saja muncul.


"Kamu kemana saja?" tegur Endi.


"Sory, Om... saya juga dikeroyok jadi saya memilih mencari tempat bagus untuk berlatih." jawab Kenzie sambil tertawa.


"Sudahlah.... yang penting Trias selamat. aku harus menemaninya ke rumah sakit. tapi nggak ada kendaraan." omel Endrawan.


"Pakai saja punyaku, Om. saya bisa pulang sendiri." jawab Kenzie sambil menyerahkan kunci sepeda motornya.


"Lalu kamu gimana?" tanya Endi


"Jangan pikir saya dulu, Om. selamatin Iyas dulu. saya bisa menyusul. nanti saya ambil motornya dirumah Om. ayo Om cepetan ..." desak Kenzie.


Endrawan mengangguk lalu meraih kunci sepeda motor pemuda itu. lelaki botak itu mengangkat sepeda motor Kenzie yang tergeletak miring menyentuh tanah. Trias kemudian disandarkan oleh Kenzie dibelakang Endrawan, diikat oleh tali yang kebetulan ditemukannya disisi kotak-kotak kayu yang tersusun.


motor gede itu menderum lalu melaju membawa Endrawan yang sedang menggendong putranya dalam boncengan meninggalkan tempat itu.


sepeninggal Endi, kembali Kenzie mengedarkan pandangan ke seluruh tempat.


"Halo? Wiffy? keluar dong. sudah nggak ada orang nih." kata Kenzie.

__ADS_1


masih hening suasananya membuat Kenzie kecewa. dengan membuang nafas kasar ia berbalik hendak beranjak dari tempat itu.


tiba-tiba tengkuknya meremang. ada sebentuk energi kasat mata yang menyentuh dirinya. cepat Kenzie berbalik dan sebuah bogem meluncur dengan cepat mengacam wajahnya.


segera Kenzie menghindar hingga tinju itu mengenai tempat kosong. Kenzie menoleh, namun sekali lagi ia harus membuang tubuhnya ke belakang ketika penyerang itu menyapukan tendangannya membuat sebuah angin yang memedihkan kulit pemuda itu.


kedua sosok itu berdiri berhadapan dengan sikap siaga. Kenzie menatapi sosok berpakaian hitam dan bertudung dihadapannya. sosok itu kemudian berdiri santai dan menyibak tudungnya kebelakang. sebuah topeng barong yang menyeringai menutupi wajah sosok itu.


"Sudah, tanggalkan topeng itu. Hubby mau mesra-mesraan nih. kalau nggak mau buka topengnya, Hubby pulang." ancam Kenzie.



ancaman cemen suaminya langsung membuat sosok itu melepaskan topengnya, menampilkan wajah cantik yang selama ini dirindukan olehnya.


"Gomen, Hubby... Wiffy cuma mastikan tak ada seorangpun terkecuali kita saja." jawab Chiyome dengan senyum merekah menampakkan gigi gingsulnya.


Kenzie melangkah lalu melingkarkan lengan kekarnya dileher istrinya. keduanya melangkah menyusuri garis pantai.


Chiyome menatapi mata Kenzie yang lebam dan bibir bawahnya yang luka akibat tonjokan salah satu pengawal yang berhasil dijatuhkannya.


"Hubby..." kata Chiyome hendak menyentuh wajah suaminya yang bonyok itu. buru-buru Kenzie menangkap tangan istrinya.


"Masih sakit... nanti kalau sudah mendingan, boleh Wiffy obati, okey?" kata Kenzie menatapi wajah kecintaannya itu. "Sory, Hubby kayaknya belum bisa ******* bibir seksi istriku ini... perih nih bibir bawahku dihantam pelungku si biayawao satu itu."


Chiyome tersenyum dan tangan kirinya makin melingkar erat dipinggang suaminya. keduanya terus menyusuri garis pantai.


"Wiffy kok bandel sih? kan Hubby bilang nggak usah ikut campur urusan ini, cukup dirumah, mata-matai Papa sama Mama..." kata Kenzie sambil mencubit pipi Chiyome dengan gemas.


Chiyome meringis lalu mengelus pipinya yang dicubiti suaminya itu.


"Kalau untuk yang ini, sory deh, Wiffy nggak mau Hubby kenapa-kenapa. mikirin Hubby setengah jam saja nggak disamping Wiffy bisa bikin Wiffy gila, apalagi ini, melaksanakan misi menyelamatkan sahabat sendiri." jawab Chiyome dengan manja.


Kenzie tertawa, "Oh ya? aduh.. so sweet banget Wiffy. makasih yaaa..." ujar Kenzie menyandarkan kepalanya ke sisi kepala istrinya.


"Hubby cuma menjaga, jangan sampai sisi lain dari kepribadian Wiffy kembali merasuki diri Wiffy. Hubby nggak mau bayangin itu." kata Kenzie, "Jujur aja. waktu Wiffy menyiksa Nobuo itu sampe tewas, Hubby hampir muntah tuh, cuma Hubby tahan, nggak mau melihat Wiffy lebih tambah ganas dan melampiaskannya kembali kepada jasad orang itu."


kedua mata Chiyome membulat. berarti selama ia mempecundangi dan menewaskan lelaki itu, sebenarnya posisi suaminya sudah berada disana sejak lama. berarti Kenzie benar-benar menyaksikan sisi lain dari dirinya yang seorang penyiksa musuh.


Kenzie menatapi istrinya yang hanyut dalam kebisuannya. Kenzie berhenti lalu memegang pundak kedua istrinya.


"Wiffy.... jika Wiffy bertarung.... sebisanya jangan menista jasad mereka.... Hubby sayang dan cinta sama Wiffy. Hubby nggak mau Wiffy kenapa-kenapa." ujar Kenzie kemudian perlahan menarik Chiyome kedalam pelukannya.


"Wiffy paham Hubby... maafin Wiffy ya?"


Kenzie menatapi wajah polos istrinya. jangan salah sangka. dibalik kepolosan wajah wanita itu, penampilan seorang yakuza yang mirip yaksha atau ashura bisa sewaktu-waktu muncul dan mengagetkan lawan-lawannya.


"Pingin banget ******* bibir ini, seleknya.... Heisssshhh..." umpat Kenzie dengan kesal mengingat bibirnya yang luka terkena bogem lawannya.



Chiyome tertawa kecil lalu maju dan ******* bibir bagian atas Kenzie dengan lembut. kedua mata pemuda itu memejam sesaat menikmati pelayanan tulus istrinya. lama Chiyome mengulum bibir atas suaminya hingga akhirnya ia kemudian melepaskan pagutannya. kedua mata pemuda itu membuka dan ia tersenyum lebar.


"Lumayan... menghilangkan sedikit kerinduan... nggak apa-apa deh, biar hanya bibir atasnya... Hubby cukup puas." jawab Kenzie dengan senyum jenaka.


keduanya kembali saling memeluk dan menyusuri garis pantai menuju timur.


"Kelihatannya, kita harus mencari penginapan... kondisi kita berdua nggak mungkin mengijinkan kita istirahat dirumah. Papa, Mama sama Kak Ais, bisa-bisa menginterogasi kita lebih lama dari para reserse itu..." kata Kenzie.


dan keduanya kembali menyusuri garis pantai ditengah deburan ombak Teluk Tomini yang menyesapi bulir-bulir pasir pantai dimalam itu. rembukan sudah lama berlari disela-sela gundukan mega malam, menuju langit barat.


...************...


02 Januari 2020, pukul 02.15 WITA


Adnan dan Mariana yang langsung mendapat kabar dari Endrawan tantang kondisi Trias yang ditemukannya. mereka berdua bergegas menuju puskesmas pembantu di kelurahan Ipilo dekat komplek pasar kamis, tepatnya di jalan Banjar.

__ADS_1


selain itu, Endrawan kembali menghubungi pihak kepolisian sehubungan dengan kasus yang sempat ditunda karena raibnya Trias. dengan tanggap pihak berwenang langsung meresponnya.


"Apakah Kenzie dan Chiyome ikut bersamamu?" selidik Adnan.


"Nggak... aku nggak tahu. mereka nggak datang padaku. seharian ini aku nggak melihat mereka berdua. temui aku di puskes. nanti kujelaskan disana." kata Endrawan kemudian menutup panggilan seluler.


...*********...


Adnan dan Mariana menatapi tubuh Trias yang terbujur diam. tubuhnya bilur lebam pertanda mengalami penyiksaan. hanya ketahanan fisik dan stamina saja yang membuatnya mampu bertahan dari siksaan itu. pemuda itu masih pingsan, tapi para perawat tanggap, memakaikan peralatan infus untuk mengisi nutrisi pemuda itu sebab lewat pemeriksaan dokter, Trias tidak diberi asupan gizi selama sehari masa penyekapan dan penyiksaan.


Mariana terus menangis sambil membelai bahu telanjang pemuda itu. bagaimanapun, pemuda ini adalah satu-satunya sahabat karib putranya. keduanya bagai kembaran. kemanapun selalu berdua. jadi Mariana mengenal pula watak dan kepribadian pemuda itu.


sementara Adnan berdiri memeluk dadanya dengan wajah yang keruh. semalam saja tiba-tiba anak dan mantunya tidak berada dirumah dan tiba-tiba saja memberi tahu kalau mereka saat itu berada di bekas kost Chiyome sedang membersihkan rumah itu. memang, jangka waktu penggunaan rumah itu belum expired, jadi terasa masuk akal jika keduanya mungkin masih ingin menikmati masa pengantin mereka dirumah itu.


berarti... ada seseorang yang berperan dan mengetahui segala aktifitas putraku, Trias dan kemungkinannya kami sekeluarga....


pikiran itu mengganggu otak Adnan yang sejak tadi mumet. lelaki itu mondar-mandir diruang perawatan itu. tak lama kemudian muncul seorang wanita berkaca mata mengenakan jas putih. lehernya dikalungi stetoskop.


"Assalamualaikum, Apakah Bapak dan Ibu adalah orangtua dari anak ini?" tanya wanita itu.


"Tidak dok. kami keluarganya. orang tuanya belum datang. mungkin sementara dalam perjalanan kemari." jawab Adnan.


"Bagaimana keadaan ponakan kami, dok?" tanya Mariana menyebut Trias sebagai ponakannya.


ponakan darimana? nggak ada kaitan galur silsilahnya...


Adnan tersenyum mendengar ucapan istrinya. kebiasaan lama yang tak hilang.


"Anak ini mengalami trauma fisik dan psikis. kemungkinan ia mengalami siksaan." kata wanita itu mendekat lalu memeriksa wajah korban.


"Lihat ini...." kata wanita itu menyibak selimut yang menutupi tubuh telanjang pemuda itu kemudian menunjuk lebam-lebam merah yang menghiasi tubuh kekar Trias yang terbujur diam diranjang itu.


"Kurasa abdomennya robek. anak ini pasti akan muntah darah, atau berak darah akibat peritonitis yang disebabkan oleh perforasi saluran cerna." jawab wanita itu kemudian memicingkan matanya ke arah Adnan.


"Apakah anak ini korban penganiayaan?" tanya wanita itu.


"Iya. mungkin beritanya sudah anda lihat di GoTV. anak ini berhubungan dengan kasus pengeroyokan dan penculikan yang menyebabkan tewasnya siswi SMU 3 kota Gorontalo." jawab Adnan sambil tersenyum getir.


mata sang dokter itu membesar. "Oh... jadi ini anak yang diculik itu? siapa yang membebaskannya? bagaimana ia bisa meloloskan diri?"


"Nanti pihak kepolisian akan mengidentifikasi hal itu. kita menunggu saja sampai ponakanku siuman." jawab Adnan dengan rahang yang mengeras. lelaki itu geram.


berani mengganggu anak sahabatku? akan kuhancurkan siapapun yang mencoba-coba mengganggu keluargaku.


Mariana bangkit lalu mendekati dokter tersebut. "Lakukan yang terbaik dok. kami mau dia sembuh secepatnya."


"Kita hanya berusaha sekuat dan sebaik upaya kita, Bu. selanjutnya hanya mengharapkan keajaiban dari Allah saja." jawab dokter itu tersenyum lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan perawatan tersebut.


sepeninggal dokter itu, Adnan mengusap rambut dan menjambaknya dengan lembut. lelaki itu kembali membuang napasnya dengan kasar.


"Lama benar Endrawan, lagi ngapain si botak itu? lagi ngelumasin kepalanya supaya tambah mengkilap?" omel Adrian sambil bercakak pinggang menatapi Mariana. emosi lelaki itu naik lagi.


baru saja Adnan selesai mengomel, pintu ruangan itu membuka kembali dan Endrawan muncul dengan kemeja kotak dan celana jins.


"Bang! lama banget sampenya? lagi ngapain dirumah? anak begini bonyoknya, sempat-sempatnya santai." omel Adnan sambil bercakak pinggang.


"Sory, Bro.. bukan maksud lama-lama. tapi kan aku lagi buang hajat dan sebagainya. masa mau nyetor golden old disini?" balas Endi.


Mariana menatapi Endi. "Bang, kenapa Trias bisa begini?" tanya wanita itu dengan gemetar.


"Aku nggak tahu. ini bisa jadi takdir atau semacamnya. ketika aku kalut dengan hilangnya tendelenga kecil ini, tiba-tiba aku mendapat panggilan yang memberitahu aku untuk bergerak menuju Jembatan Potanga untuk mengorek keterangan tentang keberadaan anakku."


"Kau menemukannya?" tanya Adnan dengan penasaran.


"Aku kesana dan memukuli berandalan disana. mereka memberiku alamat yang merujuk ke sebuah gudang di wilayah Leato. aku kesana dan menemukan Trias terbujur dengan memar. aku bergegas membawanya kemari." jawab Endi.

__ADS_1


"Tapi, yakin, kalau kedua anakku tidak bersamamu seharian ini?" selidik Adnan menatapi manik mata lelaki botak itu, menerobos paksa jendela jiwanya untuk mencari kebenaran disana. []


__ADS_2