
kedua mata Kameie melebar, "Kenapa harus ke Indonesia?"
kening Chiyome berkerut dan pipinya menggembung. "Ayah, kau mengijinkanku menjalani ritual musho shugyo. disini, perguruan mana yang tidak ku taklukkan? aku sudah menduduki peringkat 1 umum dalam Zennihon Kendo Senshuken Taikai sampai saat ini. aku juga menjuarai Pride FC, kelas umum wanita. sekarang apalagi yang ayah ragukan dariku?" ujar gadis itu kembali bercakak pinggang.
"Sejak kapan kau jadi begini?" sindir Kameie dengan wajah mencemooh.
"Sejak paman Ienaga melatihku, dan ayah terus mengujiku." jawab Chiyome dengan lugas.
"Lalu?" pancing Kameie lagi.
"Aku mau mencari lawan diluar sana." kata Chiyome dengan semangat. "Aku belum menjajal muaythai, juga silat. kalau cuma tinju dan gulat, semua sudah kuladeni." jawab Chiyome lagi dengan sengit.
"Tapi, mengapa harus Indonesia?" pancing Kameie lagi.
"Kan kubilang, aku ingin menjajal silat. " jawab Chiyome lagi, "Ayah nggak mau, aku jadi putri yang bisa kau andalkan dan banggakan?" pancing Chiyome.
"Tentu saja. itu modal dasar dalam sebuah kepemimpinan. ditakuti dan disegani oleh kawan maupun lawan." jawab Kameie.
"Baik. aku serahkan semuanya ke ayah. bantu aku ya, untuk mencapai tujuanku." rengek Chiyome dengan wajah memelas.
Kameie sejenak menggeleng-geleng lalu memutar bola matanya. "Akan kupikirkan." ujarnya.
"Jangan hanya dipikirkan, ayah. tapi dilaksanakan!" pinta Chiyome setengah memaksa.
gadis itu membungkukkan tubuhnya dengan takzim dihadapan ayahnya lalu bangkit dan meninggalkan ruangan itu. tinggallah Kameie duduk bersila sambil menyangga tangannya pada sisi meja. Fitri muncul dari dapur lalu menyusul putrinya yang masuk ke kamarnya.
Chiyome menoleh melihat siapa yang membuka pintu kamarnya. gadis itu baru saja memasukkan laptop ke tas. rencananya ia akan ke perpustakaan kali ini, hendak mempelajari hal-hal tentang silat melalui internet.
Chiyome tidak pernah nyaman menggunakan fasilitas internet dalam rumah. adiknya, Iechika akan selalu mengganggunya. apalagi kalau berurusan dengan game online, bisa semalaman ia tak bisa tidur karena mendengar suara berisik dari kamar Iechika yang memang sengaja mengeraskan volume audio hanya untuk mengganggu ketenangan Chiyome.
Fitri duduk disisi ranjang. "Nou, pikirkan apa yang baru saja kau katakan."
"Yang mana ibu?" tanya Chiyome pura-pura bodoh.
"Pembicaraanmu dengan ayahmu, sudah ibu dengar dari dapur." ujar Fitri dengan jujur, "Jangan meminta sesuatu yang berat dari ayahmu. ibu yakin, ayahmu tentu enggan mengabulkannya."
Chiyome menggantung tas berisi laptop ke pundaknya. "Ibu jangan khawatir ya? aku yakin ayah akan mengabulkan ide itu. lagipula, jika tidak, aku tak layak sebagai putrinya. kalau sudah begitu, aku akan melakukan jigai untuk menepis rasa maluku bersama ayah." tandas Chiyome dengan tegas.
Fitri terkejut mendengar ucapan putrinya. dia tahu, keluarga suaminya adalah keturunan pejuang-pejuang dan pasti lekat dengan adat istiadat kuno yang menekankan keberanian. Jigai adalah salah satu kewajiban yang dilaksanakan ketika rasa malu menyelimuti hati seorang pejuang.
Jigai seperti halnya seppuku, adalah ritual bunuh diri yang dilakukan seseorang apabila ia tidak mampu menahan rasa malu akibat kegagalannya dalam suatu hal. apakah itu pekerjaan, percintaan maupun hal yang lain. bedanya, jigai dilakukan oleh wanita, sedangkan seppuku dilakukan oleh lelaki. istilah kasarnya disebut hara-kiri.
Fitri tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi, jika putrinya menemui kegagalan. ia tak siap kehilangan putrinya sampai kapanpun.
"Jangan lakukan itu! bukankah agama kita melarangnya?!" omel Fitri.
"Itu memang benar, bu. tapi aku melaksanakan sesuatu sehubungan dengan prinsip. aku hidup karena kehidupan itu kuanggap benar. dan aku siap mati jika memang kematian itu kuanggap benar." kata Chiyome dengan datar.
"Baiklah, ibu akan membujuk ayahmu supaya ia mengabulkannya. jangan pernah mengatakan hal itu.lagi." omel Fitri sambil bangkit dan membuka pintu kamar dan meninggalkan ruang itu.
...*********...
kelihatannya kita harus hati-hati dengan Masakado. dia menjalin hubungan dengan Jun yang menguasai Shibuya." kata Ienaga Heinaizaemon yang sedang santai duduk di dek kapal. "Lagipula sekarang kelompok orang Korea yang dipimpin Tae Yoo Jin juga sementara melakukan pendekatan dengan Persdir Tadahira agar bisa menekan kelompok Chung Tong yang mulai mengganggu mata pencaharian warganya." ujar lelaki itu sambil membuang tali kail ke air.
Kameie sendiri hanya berdiri disamping tiang kapal,masoh dalam diamnya. lelaki itu kemudian menarik napas lalu mengangguk.
"Kau ganggu hubungan Jun, bagaimanapun caranya. ada saat yang tepat, ketika aku hujamkan ujung belatiku ke jantungnya. "
Ienaga mengangguk, "Bagaimana dengan Masakado?"
"Aku akan memghasut ponakannya, Sadamori dan saudaranya Kunika. aku akan mencari cara bagaimana merenggangkan mereka." kata Kameie.
lelaki itu kembali membuang napas dengan kasar. Ienaga menatapinya dengan heran. "Ada yang mengganggu pikiranmu? aku sudah hafal gayamu jika ada masalah."
"Kau benar." aku Kameie dengan jujur.
Ienaga menaruh tongkat pancing pada tempatnya. kali ini ia duduk dengan serius. "Apakah ini sehubungan dengan Chiyome?" selidik Ienaga.
Kameie mengangguk. Ienaga menyandarkan punggungnya dikursi. "Katakan..." pintanya sambil merogoh saku, mengeluarkan sebungkus rokok dan mengangsurkannya kearah Kameie.
__ADS_1
Kameie mengambilnya sebatang lalu mengambil korek gas dari saku celananya.
"Chiyome ingin bersekolah di Indonesia." kata Kameie sambil menyalakan rokoknya.
"Lalu?" pancing Ienaga
"Haruskah aku menolaknya?" gumam Kameie dengan ragu.
Ienaga tersenyum. "Aku mengenal watak muridku dengan baik. dia akan teguh dengan pendiriannya. " jawab Ienaga sambil berkekeh.
"Pasti...bagaimana kalau kau yang membujuknya?"
Ienaga tertawa mendengarnya, "Apalagi aku. dia tak akan mendengarkan aku jika bukan hal-hal yang berhubungan dengan seni beladiri."
Kameie menyesap lagi asap rokok dan menghembuskan asap kelabu dari bibirnya. "Bagaimana kalau Koreyuki yang menemaninya?"
Ienaga menggeleng menolak saran Kamaeie."Anakmu itu memiliki jiwa petualang. ia orang yang tak suka dikungkung, mirip dirimu."
"Kau mengejekku?" tanya Kameie dengan kesal.
"Bukan...itu fakta. semakin aku intens melatihnya, justru wataknya lebih mirip ke Majikan Tua." kata Ienaga menyinggung ayahnya Kameie, Tasuku.
Kameie menghela napas lagi. "Mau bagaimana lagi?"
"Penuhi saja impiannya. aku yakin ia takkan mempermalukan nama keluarga." saran Ienaga dengan tenang kemudian mengambil lagi tongkat pancing dan mulai memancing lagi.
Kameie mengangguk. "Terima kasih atas saranmu."
Kameie melempar batang rokok ke laut lalu melangkah menuju dermaga. "Aku serahkan urusan Jun untukmu."
"Sesuai permintaanmu." jawab Ienaga.
Kameie tiba di dermaga lalu melangkah ke sebuah mobil yang dijaga beberapa pengawal. lelaki itu membuka pintu mobil dan memasukinya.
sesaat kemudian, mobil hitam itu meluncur meninggalkan dermaga dikawal oleh beberapa mobil yang ditumpangi para pengawal.
...**********...
pemuda itu mengenakan stelan jas coklat dan celana berwarna sama. sebuah dasi hitam menggantung dikemeja krem pemuda tersebut. ia terus memperhatikan Chiyome yang sedang sibuk memeras keringat.
EIYAAAAHH.... TRAK....BROOOOLLL.....
dengan sebuah teriakan kakegoe, Chiyome mengayunkan pedang bambunya dengan pola serong kekanan dari atas ke bawah membuat sansak itu robek dan pedang bambu itu patah.
Chiyome memandang pedang bambu yang patah dalam genggamannya. ia membuangnya lalu mendengus.
"Aku bosan dengan stagnasi ini." keluhnya.
Chiyome memang menyadari keberadaan pemuda itu. namun ia tak perduli dan justru melangkah menuju serambi dojo, mengambil handuk dan menyeka keringat yang membasahi wajah dan lehernya.
pemuda itu tersenyum sambil memperbaiki letak kacamata lalu melangkah pula ke serambi dan duduk disisi Chiyome.
"Setidaknya paman Saburo mendidikmu dengan sangat baik." ujarnya.
Saburo adalah nama lain Kameie. dalam pergaulannya dengan dunia genyosha, ia memang lebih dikenal dengan nama itu.
Chiyome memandang pemuda disampingnya yang sementara memandang kolam disamping dojo.
"Kenapa kau kemari, Koreyuki?" tanya Chiyome.
pria itu, Heitaro Koreyuki adalah putra tertua Ienaga. usianya 10 tahun lebih tua dari Chiyome. selain lulusan magister dibidang manajemen, Koreyuki juga adalah salah satu enterpreneur dibidang kuliner. kemampuan manajerialnya melampui kemampuan dosen pengajar ilmu manajemen disetiap universitas.
"Aku disuruh ayah untuk mengunjungimu." jawab pemuda dengan senyum datarnya yang khas, "Kita sudah seperti saudara. apa salahnya aku mengunjungi saudariku?"
Chiyome tersenyum mengejek. "Baiklah kakakku." ujar gadis itu sambil menggoda Koreyuki. "Aku yakin kau datang bukan hanya untuk melihatku."
tiba-tiba Koreyuki melesatkan tangannya menampar Chiyome. dengan sigap Chiyome menghindar dan berguling kesamping lalu lari melintasi serambi dojo, dikejar oleh Koreyuki.
gadis itu melompat ke halaman dan berbalik menghadapi Koreyuki. pemuda itu sudah berada dihalaman dan maju menyerang Chiyome. meski mengenakan stelan jas formal, pemuda itu nampaknya tidak terganggu.
__ADS_1
Heitaro Koreyuki lebih banyak menyerang Chiyome dengan teknik ashi harai dan geri waza. gadis itu sempat terkejut dengan teknik serangan itu, namun lama kelamaan ia mulai bisa membaca ritme serangan lawannya dan mampu menyelaraskan permainannya.
Heitaro melesat dan mencengkeram pakaian gadis itu dan dengan cepat merenggut tali pengikat pakaiannya dan melompat menjauh. Chiyome sendiri bersikap waspada dengan pakaian atasnya yang membuka menampakkan tanktop yang menutupi payudaranya. Heitaro Koreyuki menahan tawanya melihat pemandangan tersebut. dengan malu Chiyome menutup bukaan baju dengan tangan kirinya.
"Gaya permainanmu sedikitpun tak berubah." cemooh Koreyuki dengan angkuh dan memperlihatkan tali pengikat baju milik Chiyome yang direnggutnya.
Chiyome mendengus dan mengangkat tangan kanannya yang sedang menggenggam dasi milik Koreyuki. pemuda itu terkejut bukan main. pemuda itu mendengus kesal.
"Baiklah. aku mengakuinya. sekarang kembalikan dasiku." pinta Koreyuki.
sambil tertawa, Chiyome menyerahkan dasi kepada Koreyuki. dengan bersungut-sungut. masalahnya ia tak pandai memasang dasi. urusan itu lebih sering ia serahkan pada istrinya, Hinata.
"Biar kupasangkan." kata Chiyome.
gadis itu kemudian melingkarkan dasi ke leher pemuda itu kemudian mulai mengikatnya.
"Kau mengujiku, karena perintah paman Hanzo?" tanya Chiyome sambil terus mengikat dasi pemuda itu.
"Nggak." jawab Koreyuki. "Aku hanya ingin menjajalmu."
Chiyome sudah mengikat dasi dan merapikannya dan menepuk dada pemuda itu.
"Kau juga maju pesat. bagaimana dengan ritual musho shugyo mu?"
"Itu latihan yang nggak ada kata akhir." jawab Koreyuki sambil memperbaiki jasnya. "Aku sudah capek. bisnis kuliner lebih menggiurkan daripada memukuli wajah orang."
"Tapi...."
"Sebagai keturunan kaum genyosha, kita memang harus memegang tradisi." potong Koreyuki sambil mengajak Chiyome masuk lagi dan berjalan ke serambi. Chiyome mengikutinya. keduanya kembali duduk ditempatnya semula.
"Aku sudah malas turun tangan sendiri mengurusi para debitur. biarkan saja Yasuyori dan Yasunori yang mengurus hal itu." kata Koreyuki.
Chiyome membiarkan uwagi yang tak lagi memiliki tali pengait itu meskipun tidak melepaskannya, membiarkan tubuh atasnya yang hanya dilapisi tanktop hitam itu dihembus angin. gadis itu kemudian membuka gulungan rambutnya dan membiarkannya terurai.
"Kau pasti sudah mendengar kalau aku hendak sekolah di Indonesia." ujar Gadis itu sambil menatapi kolam.
Koreyuki mengangguk lalu memandangi Chiyome. "Kenapa harus ke Indonesia?"
"Pertanyaanmu sama dengan ayah. aku sudah menjelaskannya ke dia. tanya saja sama dia kalau kalian ketemu dalam temu resmi anggota Yamaguchi." kata Chiyome dengan kesal.
"Apakah sekolah disini sudah membuatmu bosan?" tanya Koreyuki lagi.
"Aku hanya ingin meluaskan cakrawala kehidupanku." jawab Chiyome dengan tatapan serius. "Dan meraih kebijaksanaan tertinggi dalam dunia berdiri." tambahnya.
"Ingin menjajal kemampuan beladiri orang-orang indonesia?" tanya Koreyuki dengan senyumnya. "Sebelum kesini, aku sempat cari-cari informasi. orang Indonesia memiliki beragam jenis beladiri lho. mulai dari Silek, starlak, silat, kontao...."
"Kau meragukan kemampuanku?" tanya Chiyome dengan tatapan sengit.
"Nggak.... lebih ke arah merendahkanmu.." jawab Koreyuki yang langsung menghindar ketika Chiyome mengayunkan cakarnya hendak merobek seragam yang dikenakan pemuda itu. buru-buru pemuda itu melangkah meninggalkan Chiyome yang hanya bisa menghantam lantai serambi dengan tinjunya saking kesal.
...**********...
Mariana memperkenalkan Aisyah kepada seluruh kenalannya di pertemuan tersebut. Aisyah semula canggung namun berupaya membawakan dirinya dengan pantas agar kedua orang tuanya tidak merasa malu.
"Cantiknya....mirip Marsha Aruan" puji salah satu ibu sambil mengelus pipi Aisyah kemudian dia menatapi Mariana. "Kau tak pernah bilang punya anak perempuan. yang kami tahu, kau hanya punya 1 orang putra."
"Ya..ini memang putri sambungku." jawab Mariana sambil senyum.
ibu itu menatapi Aisyah, "Sekolah dimana nak?"
"Baru juga mendaftar kuliah, bu. di UNG, saya ngambil Fakultas ekonomi." jawab Aisyah sambil tersenyum.
"Ibu juga punya anak laki-laki." kata ibu tersebut. "Dia juga kuliah di UNG jurusan pendidikan jasmani. sudah semester 6."
"Promosi niiih..." sahut ibu-ibu yang lainnya.
sejenak terdengar gelak tawa. ibu yang digoda tadi langsung membalas. "Nggak apa-apa, kan. siapa tau anakku Norman akan suka sama dia." jawabnya enteng.
"Halo? sudah dulu becandanya ya?" potong Mariana sambil tertawa. "Mari kita mulai saja acaranya."
__ADS_1
ibu-ibu sosialita itu kemudian mengangguk. Aisyah ikut membaur bersama mereka. ia lebih banyak tersipu ketika beberapa ibu-ibu iseng menjodohkan putranya dengan putri sambung Mariana itu.[]