Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 41


__ADS_3

Aisyah duduk diberanda asrama putra. ia membawa tas kresek berisi penganan yang dibelinya di pasar Sentral. beberapa mahasiswa yang lewat menyapanya dan jilbaber itu membalas sapaan mereka.


tak lama kemudian Bakri muncul bersama 2 orang mahasiswa. melihat Aisyah yang duduk diberanda asrama membuatnya meninggalkan 2 temannya dan langsung menyamperi gadis iru.


"Sudah lama?" tanya Bakri yang duduk beberapa jarak dari Aisyah.


"Baru juga 20 menit." jawab Aisyah kemudian memberikan tas kresek berisi penganan itu kepada Bakri.


"Apa ini?" tanya Bakri menerima tas itu kemudian mengintip isinya, setelah itu ia menatapi Aisyah. "Kamu beli sendiri?" tanya pemuda itu sambil tersenyum.


Aisyah mengangguk lalu tersenyum. pemuda itu balas tersenyum. "Makasih ya?"


gadis itu kembali mengangguk masih tetap dengan senyumnya. tak lama kemudian muncul seorang mahasiswa langsung menampar bahu Bakri.


"Weeeeits... enak benar kamu ya? disamperin calon bini." ujar mahasiswa itu sambil tertawa. ucapan itu sempat membuat Aisyah merasa wajahnya hangat.


"Hush... hati-hati kalau bicara. ini saudara sepupu ku. mulutnya itu dijaga sedikit." tegur Bakri.


mahasiswa itu melihat tas dalam genggaman Bakri. "Apa tuh? makanan ya? bagi doooong..."


tanpa permisi gagah berani mahasiswa itu merampas tas kresek itu dan mengintip isinya. senyumnya merekah dan tangannya langsung terulur kedalam mengambil sebuah penganan kemudian melahapnya tanpa mengunyah.


"Dasar proletar miskin!" umpat Bakri.


umpatannya justru dibalas tertawa oleh mahasiswa itu. "Sesekali boleh dong rasai kamu punya." ujar mahasiswa itu sambil melirik Aisyah. "Eh Nona, sering-sering saja kirimi Bakri makanan. kan bagus untuk bagi-bagi satu asrama.: habis itu pemuda itu tertawa ngakak.


"Boleh, asalkan kalian memperlakukannya dengan baik." jawab Aisyah dengan tenang.


"Beeeh.... mantap sepupumu ini ya. eh kalau begitu boleh aku jadi pacarnya saja?" ujar mahasiswa itu tanpa etika.


Aisyah menggelengkan kepalanya melihat ketidak sopanan pemuda itu. sementara mahasiswa itu langsung melangkah pergi sambil membawa tas kresek milik Bakri.


"Biar saja... mereka mungkin lebih butuh dari aku." kata Bakri sambil tersenyum melihat Aisyah menatapi mahasiswa itu dengan tatapan tak suka.


"Kamu sendiri, ada apa kemari?" tanya Bakri.


"Oooo. hm... ini.... Mama minta sama saya untuk mengundang kamu ke rumah. katanya ada yang mau dibicarakan." jawab Aisyah.


"Tunggu sebentar..." Bakri berdiri dan masuk ke kamarnya. tak lama kemudian ia muncul membawa 2 lembar seratusan ribu.


"Ini... utang aku sama Ibu kamu. aku kembalikan tunai." jawab Bakri sambil menyodorkan lembaran uang itu ke Aisyah.


"Seingatku, Mama nggak ngasih utang sama kamu?" kata Aisyah sambil memicingkan mata.


"Ais, kamu kan tahu, aku paling takut dihutangi jasa. kok kamu nggak larang ibu kamu ngasih uang waktu di pasar Mo'odu? aku kan malu, Ais. macam aku nggak punya penghasilan saja." kata Bakri sedikit mengeluh.


"Aki, karena aku tau Mama tulus ngasih uang itu untuk kamu. sudahlah... kesampingkan dulu idealismemu itu.... nggak ada hutang disini." kata Aisyah menatapinya dengan kening berkerut.


Bakri menimbang-nimbang kemudian kembali memasukkan lembaran uang itu ke saku celananya.


"Okelah... terserah kamu. aku sudah kembalikan tapi kamu tolak..." kata pemuda itu kembali fokus pada pembicaraan semula.


"Baik.... kira-kira kamu tau nggak, alasan ibu kamu ngundang aku? bukannya aku curiga, tapi kan semuanya ini terhubung dengan hukum sebab-akibat, bukan?" kata Bakri dengan tegas.


"Kamu jangan curigaan terus. biar dia itu mama sambung aku, tapi aku diperlakukan seperti anak kandungnya. tuh Kenzie saja tak dilarangnya berguru sama kamu." jawab Aisyah dengan kesal.


keduanya diam. Aisyah tertunduk, sedang Bakri gelisah karena merasa sudah menyinggung perasaan gadis itu. akhirnya Aisyah mengangkat wajahnya.


"Ya sudah, kalau kamu nggak bersedia, biar kubilang sama Mama. oke?" kata Aisyah langsung bangkit dan hendak pergi.


Bakri langsung berdiri dan menghalangi langkah gadis itu. ia mengangkat tangan.


"Okey, fine, you get it. aku akan ke rumahmu besok. jam 5 sehabis kuliah." jawab Bakri akhirnya.


"Okey. I'am count you..." balas Aisyah sambil tersenyum.


...********...


Mariana menemani suaminya bercengkerama. Adnan menatapi istrinya dengan mesra.


"Ma..." panggilnya.


Mariana menatapinya sambil mengangkat alisnya. Adnan mendehem sejenak. "Tadi Kenzie ke kantor. sama-sama Chiyome."


"Oh ya? terus?" tanya Mariana dengan penuh minat.


"Kenzie tanya kapan ia mau belajar langga sama kakekmu. aku jawab, aku sudah menghubungi Bapu dan Bapu setuju untuk menurunkan ilmunya kepada Kenzie." kata Adnan.


"Terus?" desak Mariana.


"Begitu libur awal semester ganjil, kita bawa mereka ke rumah besar di Suwawa." jawab Adnan.


"Tunggu dulu. Mereka?" desis Mariana.


"Iya, Kenzie akan ditemani Aisyah dan Chiyome. anak itu bersedia ikut. lagian kasian dia disini, kan sendirian." kata Adnan


"Ide bagus itu Pa!" ujar Mariana sambil tersenyum lebar. "Aduh, ini perasaan apa ya? kok Mama kayak gembira dengar Kenzie jalan sama Chiyome?"

__ADS_1


"Ma, aku jadi kepikiran mereka berdua. Mereka begitu intim. bayangkan, dihadapanku saja, mereka pamer kemesraan, duduk berdempetan, sampai-sampai karena tak tahan, aku sindir mereka.... dasar anak-anak jaman sekarang... Papa kok jadi takut ya?" ujar Adnan sambil menerawang.


"Ah, gampang sebenarnya Pa, gampang sekali mengendalikan hal semacam itu." kata Mariana dengan tenang sambil senyam-senyum.


"Gampangnya bagaimana?" tanya Adnan.


"Kita nikahi saja mereka." jawab Mariana.


"Mama sudah gila ya? dua anak itu masih sekolah Ma, masa sudah dikenalkan dengan dunia pernikahan? Papa nggak setuju Ma." kata Adnan.


"Ah, tu Trias anaknya Endi sama Iyun anaknya Ustad Murad juga bisa." bantah Mariana. "Pa, kita jangan sepelekan hal ini... Kenzie, anak kita Pa... Mama hanya nggak mau mereka kebablasan dan nantinya malah mempermalukan keluarga." kata Mariana.


"Itu juga yang jadi pikiranku sekarang. makanya aku tadi sedikit mendesak anak itu untuk mengundang kedua orang tuanya supaya kita bisa berembuk untuk kebaikan mereka berdua." timpal Adnan sambil mengacak rambutnya sendiri.


"Kita bisa buat sistimnya seperti anak-anaknya Endi dan Ustad Murad. yang penting sekarang adalah meyakinkan orang tua Chiyome agar mau mengikuti keinginan kita." kata Mariana.


"Mudah-mudahan segalanya akan berjalan sesuai rencana." kata Adnan sambil menghela napas panjang.


tak lama kemudian keduanya melihat Aisyah menysuri halaman dan tiba diberanda.


"Assalamualaikum..." sapa Aisyah.


"Wa alaikum salam..." jawab keduanya berbarengan.


Aisyah mencium tangan keduanya. ketika Aisyah hendak melangkah, terdengar panggilan ayahnya. gadis itu menghentikan langkah dan menatapi Adnan.


"Iya Pa...." jawab Aisyah.


"Kamu sudah bertemu Bakri?" tanya Adnan.


"Aaaa... sudah Pa.... tadi saya ketemu dia. dia bilang besok sore jam 5, dia akan datang ke sini." jawab Aisyah.


"Bagus... " gumam Adnan sambil mengangguk-angguk.


"Ais kedalam dulu Pa..." kata Aisyah.


Adnan mengangguk dan gadis itu melangkah kedalam dengan langkah ringan.


...************...


Keduanya berada dihalaman belakang rumah sewaan Chiyome. Kenzie terkesima benar melihat Chiyome yang mahir memainkan pedang dalam seni chambara.


senjata itu meliuk-liuk bagai terbang bersama gesitnya tubuh gadis itu mengayunkan katana ke segala penjuru. hingga akhirnya Chiyome mengakhiri tarian pedang itu dan menyarungkannya.


Kenzie bertepuk tangan mengagumi keli--ncahan dan kegesitan Chiyome.


Chiyome menegakkan tubuh lalu melangkah mendekati Kenzie. pemuda itu menyerahkan sebotol air yang diambilnya dari kulkas didapur milik Chiyome.


gadis itu menyerahkan pedang yang tersarung kepada Kenzie kemudian ia meraih botol air mineral tersebut, membuka penutupnya dan meminum isinya seteguk.


"Kau hebat sekali." puji Kenzie sekali lagi.


"Makasih...." jawab Chiyome.


Kenzie meletakkan pedang itu di meja. sementara Chiyome mengatur napasnya. Kenzie menatapi Chiyome lagi.


"Wiffy...." panggil Kenzie.


Chiyome menoleh menatapi Kenzie yang -juga sementara menatapinya.


"Rahasia apalagi dari Wiffy yang belum Hubby ketahui?" tanya Kenzie.-


"Haruskah semua rahasia Wiffy nyatakan disini?" tanya Chiyome. Kenzie diam mencerna kata-kata gadis itu.


"Apakah dengan terkuaknya seluruh rahasia, tatapan Hubby masih akan sama? pandangan Hubby masih tetap sama? apakah cinta hubby masih tetap sama?" tanya gadis itu bertubi-tubi.


Kenzie menelan ludah lalu menunduk. tak lama ia mendengar suara isakan. pemuda itu mengangkat wajahnya. gadis itu menatapinya dengan mata yang basah dan bibir yang gemetar. terlihat rapuh namun makin menegaskan kecantikannya.


Kenzie bangkit hendak mendekati gadis itu, namun Chiyome dengan gesit meraih pedang yang tergeletak di meja dan menghunuskannya, mengacungkan pedang itu hingga bilahannya nyaris menyentuh leher Kenzie.


Kenzie tertahan, kedua tangannya mengangkat. dihadapannya Chiyome tetap mengacungkan pedang dengan mata yang masih basah.


"Wiffy...." panggil Kenzie.


"Kurasa untuk beberapa hari ini.... kita belum boleh bertemu.... kita berdua harus instropeksi diri.... pantaskah hubungan penuh rahasia ini dilanjutkan?.... atau biarlah rahasia itu tetap menjadi sesuatu yang indah, dan kita berdua menjalani kehidupan masing-masing?" ujar Chiyome memberikan pilihan.


"Jangan paksa Hubby begini.... Hubby nggak sanggup..." kata Kenzie.


"Manakah dari diri Wiffy yang menarik? kepribadian dan perilaku Wiffy kepada Hubby? atau rahasia kehidupan yang selama ini menimbulkan rasa penasaran Hubby kepada Wiffy?" tanya Chiyome.


"Wiffy..... Hubby mencintai Wiffy tulus. tapi Hubby ingin diantara kita tidak ada kebohongan. tidak ada kepura-puraan...." jawab Kenzie.


"Bagaimana jika kebohongan itu yang dapat menyelamatkan hubungan kita berdua? apakah Hubby bisa menerima?" tanya Chiyome semakin menajamkan tatapannya.


"Kenapa Wiffy terus menodongkan pedang ini?" tanya Kenzie.


"Untuk menjaga kebohongan yang bisa menyelamatkan hubungan kita." jawab Chiyome.

__ADS_1


"Kebohongan apa?" tanya Kenzie masih penasaran.


"Pergilah Hubby.... untuk sementara ini... intropeksilah dirimu sendiri.... akupun akan melakukan hal yang sama.... kita akan sama-sama berpikir dengan jernih tentang hubungan kita...." pinta Chiyome.


"Aku tidak mau!" tandas Kenzie.


kedua mata Chiyome memicing. "Apa maksudmu?"


"Bagaimanapun, aku sudah tak bisa berpikir jernih! semua gara-gara kamu! bagaimana aku bisa berpikir jernih jika kau sendiri mengusirku? bagaimana aku bisa menjernihkan pikiranku jika aku tak bisa mengetahui siapa kamu? jangan buat aku begini, Wiffy..... aku tak sanggup..." kata Kenzie. tanpa sadar pemuda menangis.


Chiyome menurunkan pedangnya dan menyarungkannya. gadis itu kemudian meletakkan senjata itu di meja. dengan lesu, Chiyome mengusap air matanya lalu berbalik meninggalkan Kenzie yang masih berdiri disana.


dengan lesu, pemuda itu juga menyusut air matanya lalu melangkah meninggalkan tempat itu. Kenzie mengendarai motornya dan melaju meninggalkan rumah itu.


Chiyome menatapi Kenzie dari jendela. ketika pemuda itu meninggalkan rumah. kembali pipi gadis basah dengan air mata. ia melangkah ke tepi ranjang lalu menelungkupkan tubuhnya disana.


Tuhan...apa yang harus kulakukan?... aku sangat mencintainya.... aku takut kehilangan dia.... tapi disisi lain, aku memiliki rahasia yang dapat menjauhkannya dariku...


Tuhan.... aku seorang pembunuh.... tindakanku telah menyebabkan dia menjadi incaran seseorang.... tindakanku menyebabkan kami menjadi incaran.... haruskah aku jujur?


Tuhan.... mengapa harus ada rahasia diantara kami? mengapa harus ada dinding dalam hubungan ini? mengapa harus ku tanggung semua ini?


Chiyome masih terus menangisi segala kekurangannya.... hingga gadis itu tertidur kelelahan karena beban yang dirasakan berat menghimpit hatinya.


...*************...


pagi buta itu, pukul 3 pagi, entah kenapa Kenzie dirasuki sesuatu yang menggerakkan dirinya untuk ke kamar mandi dan mengambil wudhu. entah apa yang merasukinya hingga kemudian pemuda itu melaksanakan seluruh rangkaian ritual Qiyamul lail hingga salam terakhir dari rangkaian sholat Witir.


dalam duduk silanya, pemuda itu menatapi langit ruangan dan tangannya terkembang. ia berdoa.


segala puji bagi-Mu yang masih memberikan aku kesempatan menghadap-Mu di malam yang larut ini.... segala puji bagi-Mu yang masih memperkenankan aku menjalani marathon hidup yang penuh lika-liku ini. perkenankan aku mengadukan kesusahanku ini...


Tuhanku.... Engkau tahu aku dalam pencarian menemukan belahan jiwaku.... Engkau tahu bahwa aku berupaya menjaga diri dan nafsuku agar aku bisa menerima hadiah-Mu yang menurut-Mu terbaik bagiku...


tapi, Tuhan... bolehkah aku meminta sedikit?.... bolehkah aku meminta sedikit untuk kebahagiaanku?


Tuhan.... Kau hadirkan diantara kami perasaan... apakah perasaan ini murni dari-Mu? atau hanya pelampasan nafsu yang tak tersalur?


Tuhan... begitu banyak kebenaran yang tersembunyi diantara kami.... haruskah kebenaran itu ku ungkap dengan resiko aku kehilangan dia? atau haruskah kupendam rasa penasaran ini, memilih dia tanpa memikirkan rahasia itu?... atau bolehkah aku memiliki keduanya?


Tuhan.... memang benar banyak perempuan tersebar dimuka bumi-Mu.... jika memang begitu, mengapa kau ciptakan perasaanku untuknya? mengapa kau bukakan pintu hatiku untuknya? mengapa kau biarkan perasaan ini bersemi untuknya?


Tuhan.... aku terlanjur mencintainya.... bolehkah aku memiliki keduanya?.....


...**********...


sebuah pesan masuk. dengan malas Chiyome menekan gadgetnya mencari pesan yang masuk. sebuah Chat whatsapp. gadis itu menatapi jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 4 pagi.


matanya sedikit memicing. pesan dari Kenzie?


gadis itu melihat pesan model audio yang masuk ke fitur whatsappnya. dari Kenzie. gadis itu menekan fitur itu dan sesaat kemudian mengalirlah sebuah senandung lagu...


aku ingin menjadi mimpi indah... dalam tidurmu


aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu...


karena langkah manapun tanpa dirimu.....


karena hati t'lah letih....


aku ingin menjadi sesuatu yang s'lalu bisa kau sentuh...


aku ingin kau tahu bahwa 'ku selalu memujamu....


tanpamu, sepinya waktu merantai hati....


bayangmu seakan-akan......


kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu.... seperti udara yang ku hela, kau selalu ada...


tanpa terasa air mata gadis itu jatuh kembali. ia menangis, namun entah kenapa hatinya sejuk. alunan senandung itu terus mengalun....


hanya dirimu yang bisa membuatku tenang....


tanpa dirimu, aku merasa hilang.... dan sepi.... dan sepi....


kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu.... seperti udara yang ku hela, kau selalu ada...


kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu.... seperti udara yang ku hela...


kau salalu ada....


selalu ada.... kau selalu ada....


Chiyome membenamkan wajahnya yang basah pada guling itu.


"Hubby.... Watashi wa anata o aishiteimasu..." []

__ADS_1


__ADS_2