
Kenzie duduk menyandarkan punggungnya pada sofa. disisinya duduk Chiyome yang sesekali membelai dada suaminya.
"Wiffy mau dengar berita terupdate?" pancing Kenzie.
Chiyome menatap wajah suaminya yang sudah dihiasi cambang. waktu telah merubah segalanya. Kenzie yang semasa sekolah begitu memperhatikan perawatan wajahnya, kini membiarkan wajah tampan setengah cantik itu dirambati cambang merubah penampilannya menjadi maskulin metroseksual. Chiyome sendiri memang merasakan semakin lama waktu merubah kehidupan manusia.
"Wiffy mau dengar berita terupdate, nggak?" tanya Kenzie sekali lagi dan membuyarkan lamunan Chiyome. gelagapan wanita itu merubah sikapnya dan kembali menatap Kenzie.
"Hm?" gumam Chiyome mengangkat alisnya yang tebal.
"Wiffy kenapa sih? kok sekarang susah konsennya? lagi mikir apa?" omel Kenzie.
Chiyome tersenyum lalu membelai lagi dada suaminya. "Segitu saja marah... Wiffy minta maaf deh... soalnya Wiffy akhir-akhir ini banyak pikiran."
"Tentang apa? bilang sama Hubby." pinta Kenzie.
"Nggak penting juga..." jawab Chiyome. "Tadi Hubby ngomongin apa? berita terupdate? apanya yang update?"
"Stefan dibonyoki Trias sampai pingsan diruang interogasi. lelaki itu sekarang ada dirumah sakit." jawab Kenzie membeberkan beritanya.
"Terus? apakah Trias nanti dihukum berat? bukankah penganiayaan itu sudah melanggar batas?" ujar Chiyome.
"Itu yang Hubby nggak tahu... tapi, Trias nggak mungkin memukuli penjahat itu sampai segitunya jika tidak memiliki alasan." jawab Kenzie. "Sepanjang pengetahuanku, Trias adalah orang yang paling bisa menahan amarah... kecuali peristiwa yang berhubungan dengan orang yang terpenting dalam hidupnya, lelaki itu akan melakukan perlawanan." Kenzie menatap langit ruangannya. "Hubby ingat sekali sewaktu Budi melecehkan dirinya melalui ungkapan cintanya kepada Iyun, Trias benar-benar memperlihatkan kelelakiannya. dia bersamaku, memporak-porandakan seluruh kelas 11A." Kenzie lalu menatap Chiyome. "Bisa jadi, Stefan mengucapkan entah kalimat apa... yang pasti... itu berhubungan dengan seseorang yang paling penting dalam hidupnya... dan penjahat kelamin itu merasai akibatnya."
"Kemungkinannya... mungkin Om Endi atau Ipah yang dikatai Stefan sehingga Trias mengamuk." tebak Chiyome.
"Kemungkinan Om Endi... rasanya kecil sekali." tolak Kenzie.
"Berarti lelaki bejat itu pasti mengucapkan seperti ini : 'Bagaimana jika kutiduri juga istrimu?' kelihatannya, begitu Stefan mengucapkannya." ujar Chiyome menatapi Kenzie.
"Begitukah?" ujar Kenzie sambil tertawa.
Chiyome mengangguk-angguk.
"Jika Stefan benar melaksanakan niatnya itu... bisa kupastikan... seperti Wiffy, dia akan menguliti penjahat kelamin itu hidup-hidup." jawab Kenzie lalu tertawa.
...******...
Trias duduk dengan tenang dihadapan orang nomor satu diwilayah resort kota Gorontalo. dihadapannya, lelaki berpangkat Asisten Komisaris Besar itu berdiri menyandarkan pinggulnya pada sisi meja kerjanya.
"Briptu Trias Ali..." panggil Desmont, sang Kapolres. "Aku sudah menerima laporan dari pimpinan divisi propam. aku paham jika kau tersinggung karena dia telah menyinggungmu. namun, kau tak perlu seberingas hingga membuatnya terkapar di rumah sakit itu!" tegur Desmont Harjento dengan nada meninggi.
Trias menunduk dan tersenyum saja. lelaki itu mengangguk-angguk saja. Desmont menghela napas dan membuangnya dengan keras. lelaki itu kemudian berjalan mondar-mandir dibelakang Trias yang duduk saja dengan tenang.
"Kami baru saja dituntut oleh pihak keluarga Waworondou.. mereka menuntut agar kau dikeluarkan dari kasus tersebut. bagaimana menurutmu?" pancing Desmont.
Trias menegakkan wajah dan membuang napasnya. "Sebagaimana bapak, jika memerintahkan saya dikeluarkan dari kasus itu, saya sami'na wa atho'na saja." jawab Trias.
Desmont mengangguk. "Baiklah, kamu saya keluarkan dari penanganan kasus ini."
Trias mengangguk. "Baik, pak." ujarnya menyanggupi. "Dengan itu, saya tidak lagi mengemban tanggung jawab, apabila tersangka dikemudian hari mendapatkan serangan dari pihak keluarga korban yang tidak puas dengan gaya penanganan kita."
"Lho? kenapa begitu? kenapa kau melepaskan tanggung jawab? bukankah kalian yang menangkapnya?" omel Desmont tidak terima.
"Bukankah proses investigasinya, saya tidak lagi berada di tim, bukan? jadi... untuk apa saya menjadi tumbal tentang sesuatu yang tak saya tangani? bapak mau menjadikan saya martir disini?!" tegas Trias.
"Perkara saya memukuli Stefan, itu karena dia berani mengancam hendak meniduri istri saya. jelas saya tak terima! dia sudah cukup melakukan kekejaman seksual kepada kakak dari sahabat saya hingga meninggal, dia juga telah membunuh guru silat saya. sebagai manusia, saya berhak membalaskan dendam! lelaki itu adalah salah satu al-mufsiduuna fil ardh yang telah dihalalkan dalam syariat darahnya untuk ditumpahkan! namun saya, mengorbankan perasaan sahabat saya dengan menempuh jalur hukum dan norma kepolisian dimana kami menangkapnya dan memperlakukannya sebagaimana hukum yang berlaku." sambung Trias lagi.
__ADS_1
"Tahu darimana kamu kalau dia termasuk al-mufsidunaa fil ardh??" pancing Desmont sambil melipat tangannya di dada.
"Pak, mohon maaf jika saya bicara, kemungkinan akan banyak menyinggung bapak." kata Trias sebelumnya memintakan maaf dirinya kepada pimpinannya tersebut. "Pak, salah satu dosa besar adalah membunuh jiwa tanpa alasan. dan pelakunya disebut sebagai orang yang berbuat kerusakan dimuka bumi... Al-Mufsiduuna fil Ardh... dan secara syariat, saya nggak akan bersalah membunuhi mereka. namun, sebagaimana saya sebagai petugas hukum yang mendasarkan tindakan pada norma kepolisian, maka saya melakukan tugas saya. menginterogasinya tanpa menyinggung apapun. tapi dia menghasut saya dengan mengatakan hendak meniduri istri saya." Trias tertawa, "Wahhh... kalau yang ini nggak bisa dibiarkan, pak. mulut bejatnya harus dibungkam. dan saya melakukannya."
"Lalu, bukankah kau bertanggung jawab untuk itu?" pancing Desmont.
"Saya, bapak skors sekarang juga, hanya untuk membela orang itu, saya terima kok pak. saya orang yang taat hukum. hanya, jangan suruh saya bertanggung jawab untuk itu." Trias berdiri dan menatap komandannya. "Patut bapak tahu... ayah tiri Kak Aisyah adalah Kameie Saburo Mochizuki, seorang pentolan Yamaguchi shatei Kanto, sedang adik tirinya adalah pimpinan Yamaguchi wakachu Tokyo. beliau sudah mengancam saya. jika kita, para opsir ini tak menangani kasus putri tirinya dengan baik, maka dia kaan menerapkan hukum yakuza kepada lelaki itu. anda tahu, bagaimana hukum mereka? mereka akan mengulitinya hidup-hidup." jawab Trias panjang lebar.
"Tahu benar kamu tentang mereka?" tantang Desmont.
"Begini saja deh pak." ucap Trias. "Bapak tanyai saja ayah saya, Pak Endrawan Sulingo Ali, perihal sahabatnya itu. mungkin bapak nggak percaya, menganggap saya bicara berlebihan, silahkan saja."
Desmont memicingkan mata. "Kau membuatku penasaran tentang keluarga Lasantu, Trias."
"Bukan keluarga itu yang bapak perlu kuatirkan. melainkan keluarga tirinya. ibunya, Fitri Lasabang adalah bekas istri Pak Adnan Lasantu. ibu Fitri kemudian menikahi Pak Kameie dan itu yang membuat mereka terkoneksi. bapak tak melihat celah itu?" ungkap Trias. "Sekarang bapak hendak mengeluarkan saya dari kasus Stefan, saya terima. tapi saya nggak bisa berbohong jika mereka menanyakan kasus ini. saya tidak ingin dinilai sebagai orang yang tak menjaga amanah."
"Tapi, jika kau katakan hal itu pada mereka, justru akan menambah kerumitan masalah." kata Desmont dengan nada tinggi.
"Tapi Bapak juga membuat posisi saya terjepit. saya jatuh ditengah-tengah permasalahan ini. secara manusia, saya juga nggak ingin jadi martir yang sia-sia pak!" tandas Trias. "Hari ini, saya letakkan lencana saya, sebagai bentuk ketaatan perintah Bapak kepada saya."
"Tapi, Yas! aku belum mengotentikkannya!" protes Desmont.
"Jika tidak ada yang hendak dibicarakan, saya permisi pulang ke rumah, Pak. kasihan, istri saya menunggu dengan cemas dirumah." ujar Trias kemudian berdiri tegak dan bersikap menghormat lalu berbalik melangkah meninggalkan ruangan tersebut.
Desmont termangu-mangu dalam ruangan itu mendengar keputusan berani bawahannya.
...*****...
Trias membereskan segala peralatan dalam pelukan kardus kecil. disebelahnya Bambang menggerutu.
"Kamu yakin, nggak akan mengurus kasus ini?" tanya Bambang.
"Tapi..." protes Bambang.
"Bang.... teruskan penanganan ini meski tanpa aku. tetap bekerja seprofesional mungkin. sepeninggalku, beban kalian akan lebih berat sebab keluarga korban, bukan keluarga sembarangan. ini pesanku, tolong diindahkan. jangan sampai Tuan Kameie mendengar hal ini, aku nggak bisa menjamin... aku mohon Bang. tolonglah aku." pesan Trias.
Bambang mendengus lalu mengangguk. "Baiklah... tapi kuharap kau mencabut skorsmu itu. nggak lucu, tahu nggak? kamu itu kayak merajuk."
"Merajuk untuk kebaikan nggak ada salahnya, Bang. aku saja jika lihat Abang dizolimi, aku pasti akan berbuat hal yang sama." jawab Trias dengan lembut.
Bambang terdiam dan matanya mulai berkaca-kaca. "Ah, kau... jangan bicara sembarangan." tegurnya.
Trias tersenyum dan menggendong kardusnya. "Oke bang, aku pulang dulu ya?" ujar Trias pamit.
lelaki itu meninggalkan tempat itu, melangkah santai menggendong kardusnya hingga tiba diselasar. disana, Maung hitamnya sementara terparkir. Trias meletakkan kardusnya di bemper depan lalu membuka pintu. lelaki itu meletakkan kardus dikursi sebelah kemudinya kemudian masuk ke mobil.
dalam beberapa menit, Maung hitam itu memperdengarkan suara mesinnya lalu perlahan kendaraan itu bergerak meninggalkan kantor resort kota Gorontalo.
Trias menjalankan kendaraannya dengan santai memasuki wilayah kampung Bugis lalu menyusuri jembatan Talumolo, membelok ke kiri kearah kawasan Botupingge. Maung itu berjalan dengan kecepatan 40Km/jam saja dan terlihat tidak terburu-buru.
kendaraan bergaya militer itu tiba didepan pekarangan kediamannya. Trias membuka pintu mobil dan turun ke halaman yang sudah dibersihkan. ia melangkah dengan santai menggendong kardus dan menaiki beranda.
"Assalamualaikum..." sapa Trias.
"Wa alaikum salam..." jawab Saripah dari dalam.
Trias melangkah masuk dan bertemu Saripah yang sudah tiba diruang tamu. "Abah kok sudah pulang? ini belum waktunya lho." tanya Saripah sekaligus menegor suaminya. tatapannya beralih ke kardus dalam gendongan Trias. "Lha? ini apa?" tanya Saripah.
__ADS_1
"Kardus..." jawab Trias debgan mantap tenang mengangjat benda itu lebih tinggi.
"Ya, Ipah tahu kalau itu kardus... ini kenapa bawa-bawa kardus sekarang." ujarnya langsung menyunggingkan senyuman. Trias terkekeh.
"Umma nggak marah, kan?" tanya Trias.
"Ya, kalau nggak salah, ya nggak akan marah." jawab Saripah sambil bercakak pinggang. "Kenapa Abah?"
"Umma... Abah skorsing sendiri." ujar Trias dengan senyum terkembang.
Saripah terkejut, "What? seriously??? why???" tanya Saripah mengembangkan tangannya.
Trias menaruh kardus dilantai lalu melangkah dan duduk di sofa. ia menatap istrinya yang perut buncitnya tinggal sebulan lagi harus mengeluarkan jabang bayi.
"Abah memukuli Stefan sampai pingsan." jawab Trias.
"Wahh... kenapa dipingsankan? apa karena dia membasahi celana Abah dengan spermanya?" tebak Saripah.
"Ah, kalau itu sih, Abah sudah nggak perduli." jawab Trias kemudian mengeluarkan sepatunya. "Penjahat kelamin itu menghasut Abah, ia hendak meniduri Umma. ya, Abah naik darah lah... ya, Abah smackdown... pingsan dia. tulang rusuk lima patah, belikat retak, tulang bahu bergeser. sekarang orang itu dirumah sakit, instalasi gawat darurat."
Saripah terperangah dan menutup mulutnya. berani juga Stefan membangkitkan jiwa petarung suaminya. setahunya, Trias lebih kuat menahan emosi ketimbang Kenzie. namun, alasan itu, sungguh membuatnya tersanjung.
Saripah terisak. Trias jadi bengong. "Umma? kok nangis?"
"Gimana nggak nangis, Abah." ujar Saripah. "Abah belain kehormatan Ipah... duh so sweet banget deh.." wanita hamil itu mendekat dan duduk disisi Trias dan memeluknya.
"So? aku harus bilang wow gitu?" olok Trias.
"Ihhhh.... si Abah..." rengek Saripah lalu mencubit pengan Trias membuat sang suami tertawa.
"Ya, memang tugas aku menjaga kehormatanmu. kalau nggak, apa gunanya aku jadi suami?!" ujar Trias dengan nada tinggi dan menepuk dadanya.
Saripah tersenyum manis. "Iya deh Abah, Duda gantengku." puji Saripah dengan manja. "Lalu gimana? kalau Abah berhenti, tanggapan Om Adnan sama Kenzie gimana?"
"Mereka belum tahu..." jawab Trias. "Namun harus segera kuberitahu... aku nggak mau dibilang mereka, nggak amanah. segala keputusan Pak Kapolres akan kusampaikan kepada Om Adnan, Kenzie sama Chiyome."
"Kapan?" tanya Saripah.
"Ba'da ashar, kayaknya bagus untuk membincangkan hal tersebut." jawab Trias. "Bagaimanapun, aku tetap meminta Bambang sama yang lainnya untuk tetap menangani kasus tersebut."
keduanya lalu diam dalam duduknya memikirkan apa yang harus dijawab kepada keluarga Lasantu perihal skors dan penarikannya dari kasus Stefan tersebut.
...*****...
Ekoriyadi Siregar, lelaki berpangkat Ajun Komisaris Polisi itu menatap pimpinannya dengan emosi yang ditahan. tangannya gemetar. dihadapannya, Desmont Harijanto, Sang Kepala Polisi resort Kota Gorontalo itu duduk menyangga dagunya dengan kedua pergelangan tangannya yang tersangga pada siku di pelataran meja kerja.
"Aku hanya menyampaikan hal ini padamu, agar kau tahu bahwa Briptu Trias telah dibebas tugaskan dari tim investigasi kasus Stefan Waworondouw. ini merupakan permintaan dari keluarga Korban, mengingat korban merasa sangat menderita.
Ekoriyadi, lebih dikenal dengan panggilan Bos Eki tetap tak mengumandangkan suara. malas dan jengkel dengan keputusan yang dibuat lelaki itu.
"Bagaimana pendapatmu?" pancing Desmont. lelaki yang berdiri dihadapannya tetap diam, membuat Desmont sedikit emosi. "Jawablah Pak! saya butuh jawabannya!" desak lelaki itu.
"Bapak minta saya bicara benar, atau bicara jujur." ujar Bos Eki tanpa ekspresi sebab susah payah menormalkan getaran yang melingkupi kepalannya yang membulat.
"Ya, yang jujur." pinta Desmont.
"Jawabannya adalah... anda melepaskan peluang baik, yang mana Trias dipercaya oleh keluarga Lasantu untuk menangani masalah Stefan. sekarang anda mengeluarkannya dari kasus hanya karena perbuatan lancang Stefan sendiri yang menghasut keberingasan Trias hingga dia pingsan, berakhir di rumah sakit." jawab Ekoriyadi. "Saya pikir anda terlalu berlebihan."
__ADS_1
"Tapi, semua sudah kupikirkan." kilah Desmont.
"Anda melewatkan satu kesempatan... apa anda pikir, keluarga Lasantu tidak akan menuntut darah Pak Bakri dan Nyonya Bakri kepada Stefan?" ujar Ekoriyadi dengan wajah gusar. []