
Kenzie terbangun setelah sekian lama hibernasi dalam kepayahan fisiknya. seharian ia melayani nafsu bejat Puspita yang sudah kelewat ambang batas. wanita itu, sejak merasai keperkasaan Kenzie menjadi ketagihan, bahkan keranjingan ingin terus dilayani.
Kenzie tak bisa berbuat apa-apa. harga dirinya sebagai lelaki normal tercabik oleh pelecehan itu. ia tak mampu memberontak karena dalam setiap perbuatannya, Puspita selalu mengandalkan zat perangsang itu. tentu saja jika dalam keadaan normal, Kenzie pasti memilih mati ketimbang melayani nafsu bejat banci kalengan itu.
in sudah hari ketiga Kenzie disekap. ia selalu diberikan makan namun selalu ditolaknya dengan berbagai tindakan hingga akhirnya Puspita memutuskan memberinya makan melalui infus vitamin tingkat tinggi yang membuat Kenzie masih mampu mempertahankan dirinya dari ancaman maut.
"Ken... aku tidak mau kamu mati konyol..." ujar Puspita setelah menerima seluruh tumpahan air amerta milik Kenzie dalam persetubuhannya tadi. "Jadi mulai hari ini, sentuhlah setiap makanan yang ku beri."
Kenzie hanya menatapnya dengan tatapan muak. semuak ia melihat kalumba ataupun wangubi dihadapannya. namun tubuhnya tak bisa menolak efek dari obat yang diinjeksikan Puspita. hanya sisa-sisa pemberontakan terlihat dari tatapan matanya saja.
Puspita tersenyum, "Kamu semakin dilihat, semakin tampan Ken. ahhhh.... seluruh impianku benar-benar dimudahkan Tuhan kali ini."
Kenzie tersenyum sinis, "Atau bahkan dia hanya memberimu sedikit kelonggaran untuk sebuah azab yang tak terperikan."
"Apa maksudmu bicara begitu Ken?" tanya Puspita dengan senyum dipaksakan. wanita itu mengenakan kembali pakaiannya.
"Kamu tentu masih ingat pelajaran agama yang diberikan Pak Saleh Tambipi?" pancing Kenzie.
"Tentang apa sih?" tanya Puspita dengan manja. "Tentang... ahhh... ya hukum jima' .... senggama... iya, kan?" mata wanita itu membesar dengan tatapan makin nakal.
"Tentang istidraj..." ucap Kenzie.
"Istidraj?... kayaknya aku lupa deh... apa itu membahas hubungan suami-istri semacam kita?" tanya Puspita dengan senyum manja.
Kenzie mendesah. "Percuma juga kukatakan padamu. kamu nggak akan ngerti. otakmu hanya dipenuhi fantasi tentang **** saja."
"Karena itu sekarang yang terasa nikmat. Ken." jawab Puspita kemudian menduduki paha Kenzie. "Kamu tahu? sepanjang hubunganku dengan beberapa pria... aku tak pernah merasakan yang seperti kamu, Ken. luar biasa! kamu luar biasa dalam urusan ini ternyata." ujar wanita itu sembari membelai pipi Kenzie lalu menyisiri rambut lelaki itu.
"Kamu semakin seksi dengan cambang dan kumis yang mulai menumbuhi dagu dan bawah hidungmu ini." sambung Puspita seraya meraba anak-anak rambut yang mulai melebat didagu dan rahang Kenzie.
"Budi.... jika kau masih mengingat tentang hukum karma dan dosa... sebaiknya kau bebaskan aku, serahkan dirimu secara baik-baik kepada pihak yang berwajib. aku janji... aku janji tak akan membongkar perbuatanmu padaku." pinta Kenzie dengan lembut.
Puspita justru tertawa dengan penawaran itu. ia bangkit lagi dan bercakak pinggang.
"Enak benar kau bicara seperti itu ya? setelah apa yang kau lakukan padaku? merenggut masa depanku! membuatku terkatung-katung ditengah depresi akibat perbuatan sialmu itu?!" hardik Puspita.
"Kau pikir, aku tak akan mengingat hari dimana kau merubah diriku? kau menciptakan tubuh ini Ken! maka rasailah... gimana? nikmat kan? aku nggak kalah dari Chiyome dalam memberimu kenikmatan Ken, akuilah!" seru Puspita dengan bangganya mengembangkan tangan.
"Perbedaan Chiyome denganmu.... dia tidak memaksakan kehendaknya... ia menghormati kehendakku." balas Kenzie.
PLAKKK.... UHHHH...
kembali temparan dilayangkan Puspita ke wajah Kenzie. lelaki itu merasai ada setitik rasa asin disisi bibirnya akibat tamparan itu. setetes darah keluar dari segaris luka dari bibir yang ditampar sekuat tenaga oleh Puspita.
Kenzie kembali menoleh menatapi Puspita yang menatapnya dengan tatapan garang. lelaki itu tersenyum dan menggeleng.
"Apa lagi yang ada dipikiranmu?! Hah?! katakan! ayo katakan!" tantang Puspita.
"Budi... aku kasihan denganmu..." kata Kenzie.
BUKK.... BRAKKK...
Puspita maju menghantamkan ujung kakinya ke dada Kenzie menyebabkan lelaki itu terdorong ke belakang bersama kursinya dan terjungkir jatuh. dengan kemarahan menggelegak Puspita menendang Kenzie yang hanya bisa pasrah menerima hujaman high heels yang menyucuk perutnya. setelah puas menendang beberapa kali, Puspita tanpa kasihan berbalik meninggalkan Kenzie sendirian diruangan itu.
Kenzie, bersyukur ia mempelajari silat dan langga dari Bapu Ridhwan. lelaki itu menerapkan pola pernapasan unik yang diajarkan Bapu Ridhwan sehingga seluruh aliran tenaga, baik tenaganya sendiri maupun tenaga misterius yang muncul akibat efek obat rangsangan itu, menyebar diseluruh tubuh dan melindunginya dari rasa sakit ketika merasai siksaan fisik yang barusan dilakukan Puspita kepadanya.
lelaki itu masih mencari cara untuk bisa meloloskan ikatan tali yang melilit sekujur tubuhnya, menyatukannya dengan kursi tersebut.
Kenzie mendesah, Ya Allah.... aku terima musibah ini sebagai ganjaran kesalahanku yang mungkin tak sengaja kulakukan... namun kali ini aku memohon kepada-Mu.... berikan aku kekuatan untuk melepaskan diri dari kebejatan perempuan iblis itu... hanya Engkau yang bisa menolongku, ya Allah... hanyalah Engkau....
__ADS_1
...******...
sejak pertemuan itu, Saripah beralih profesi menjadi pengawal pribadi Chiyome. ia terus memdempeti dan mengawasi setiap orang yang melakukan kontak sosial dengan wanita bermata sipit itu.
Bakri sendiri melaporkan roda operasional Buana Asparaga.Tbk mengalami peningkatan yang signifikan. Chiyome mengapresiasinya. sebagai seorang wanita yang memiliki aset tekiya dikawasan Shibuya, Tokyo dan Ichinoseki di Tohoku, Chiyome sedikit banyak mempelajari seni manajemen dari berbagai buku, terutama buku favoritnya, Kitab Lima Unsur karangan Musashi Miyamoto, dan Kitab Perjalanan Ke Barat karya Wu Cengen.
"Kak, jika ada masalah, langsung tangani. karena sebenarnya Kakak dijadikan sebagai pimpinan bayangan mendampingi Kenzie." ujar Chiyome.
Bakri tertawa, "Memangnya aku ninja sepertimu, yang suka bergerak dalam bayangan?" olok lelaki itu membuat Chiyome akhirnya tersenyum dengan candaan garing kakak iparnya.
Bakri mengangguk-angguk. "Jangan terlalu bersedih... ingat Saburo... kita juga masih sementara mengembangkan penyelidikan mencari keberadaan Kenzie. kuharap... Adek tidak putus harapan."
"Terima kasih atas dukungan Kakak... aku juga sementara mengembangkan penyelidikanku..." ujar Chiyome melangkah menuju dinding kaca dan menatap lanskap kota Gorontalo dari sana. "Aku tak akan memberi ampun... kepada mereka yang berani menculik suamiku... aku pastikan, mereka akan merasai dulu neraka... sebelum benar-benar memasuki neraka yang sesungguhnya."
Bakri bergidik mendengar ucapan adik iparnya. dari Aisyah, ia sedikit banyak mengetahui perihal adik serahim istrinya itu. darah yakuza sangat kental mengalir dalam nadi wanita bermata sipit tersebut. jika ia mengatakan sesuatu, ia akan melaksanakannya tanpa mempertimbangkan kedua kalinya. meskipun Kenzie tak menceritakan segala perbuatan istrinya yang telah menyiksa dan membunuh Nobuo digang bangunan waktu itu, namun sang kakak sudah menonton berita tentang kekejaman Chiyome menghabisi para yakuza Tohoku sendirian lewat laporan reporter NHK yang ditayangkan lewat youtube.
"Chiyo... jangan pelihara dendam. nggak baik." tegur Bakri.
Chiyome menoleh menatap Bakri, tampilan lelaki itu memang beda dari para karyawan kantor. alih-alih mengenakan kemeja berdasi, Bakri malah mengenakan pakaian koko putih yang mencerminkan kesehariannya sebagai pemuda masjid. jauh sebelum ia menjalani profesi sebagai direktur operasional Buana Asparaga.Tbk, Bakri adalah seorang aktifis mahasiswa yang bergerak dibidang keagamaan dan dakwah kampus.
Chiyome tersenyum, "Kakak nggak jauh beda dengan Kak Ais... selalu mengingatkan aku tentang itu." olok wanita bermata sipit tersebut, "Itulah sebab mengapa kalian disatukan.... sebab kalian berdua memiliki visi yang sama."
Bakri tersipu mendengar pujian adik iparnya itu. tangannya mengibas-ngibas. "Jangan keseringan memuji Kakakmu. nanti malah jadi riya dan ujub. sudahlah... sebaiknya Kakak pergi. kalau kelamaan disini.... bisa mabok Kakak dipuji kamu terus."
Saripah menahan tawa mendengar kata Bakri sedang lelaki itu berbalik meninggalkan ruangan direktur. Chiyome tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ada-ada saja." gumam Chiyome kembali melangkah dan duduk dikursi kerjanya.
"Kak Bakri lebih nampak seperti mubaligh ditengah karyawan. tapi aku salut dengan dia. kuharap Trias akan lebih nampak seperti itu." ujar Saripah menatap pintu.
"Jangan bandingkan Trias dengan guru silatnya sendiri, Ipah. sangat beda. terlampau beda malah. Trias lebih mirip Hubby dalam tingkah laku." kata Chiyome.
"Iya. memang kenapa?" tanya Chiyome.
"Aku saja yang kenal mereka sejak kelas sepuluh nggak terlalu akrab, apalagi kamu yang masuk dipertengahan semester ganjil kelas sebelas." kata Saripah.
"Aku memiliki kelebihan yang tak kamu miliki, Ipah... itu membedakan kita setingkat lebih tinggi." ungkap Chiyome dengan senyum.
"Kelebihan apa? alaahhh... paling kelebihan karena memacari Kenzie yang terkenal paling dingin di sekolah." ujar Saripah dengan senyum mencibir.
"Memangnya Hubby siswa paling dingin disekolah? kok aku nggak tahu ya? dihadapanku dia selalu hangat dan menggemaskan." bantah Chiyome.
"Tentu saja dia hangat. kamu kan kekasihnya." jawab Saripah. "Kamu tahu nggak? Kenzie itu primadona sekolah. sebagian cewek sekolah naksir berat sama dia. keberadaan kamu membuat banyak cewek patah hati." ujar Saripah lalu tertawa.
"Termasuk kamu?" pancing Chiyome.
"Nggak... Kenzie terlalu tinggi buatku... ibaratnya dia itu dewa. aku lebih memilih naksir Trias... kelebihan Trias daripada Kenzie, dia mampu membumi. Kenzie terlihat sedikit arogan dari Trias... maklum, anaknya pengusaha memang kebanyakan begitu, kan?" ujar Saripah.
"Kenapa kamu waktu nggak mengutarakan isi hatimu padanya?" tanya Chiyome.
"Gila kamu! memang aku berani? bisa dicakar Iyun aku kalau begitu." jawab Saripah kemudian tertawa lagi.
Chiyome manggut-manggut. "Uhm... jadi kamu mengalah demi Iyun, begitu?"
Saripah mengangguk. "Sebenarnya, Trias sangat condong kepada Iyun..."
"Sekarang dia kekasihmu, Ipah.... jangan minder begitu kamu. sebentar lagi kamu akan bersanding dengan seorang opsir polisi. jaga sikapmu." tegur Chiyome.
"Tentu Chiyo... tentu..." kata Saripah.
__ADS_1
tak lama kemudian gawai milik Chiyome yang terletak di meja bergetar. wanita itu sejenak menatap benda itu dan meraihnya kemudian memastikan siapa penghubungnya. kedua mata sipitnya semakin memicing melihat nomor baru tanpa nama. Chiyome menekan tombol terima pada layar sentuhnya.
📱"Dengan Chiyome Mochizuki, Buana Asparaga.Tbk. " ujar Chiyome dengan nada datar.
📱"Halo Chiyome... " sapa suara wanita.
📱"Ini siapa ya?" tanya Chiyome dengan kening bertaut.
📱"Aku yang menculik suamimu." jawab suara wanita itu.
Chiyome langsung berdiri mendengar jawaban tersebut. Saripah pun berdiri merespon gerak alamiah atasannya.
📱"Puspita...." gumam Chiyome.
📱"Tepat sekali, darling... bagaimana rasanya kehilangan suami, Chiyome? hampa?" ejek Puspita.
📱"Jika kau berani, hadapi aku!" tantang Chiyome.
📱"Ngapain aku susah-susah datang nantangin kamu? mubazir waktu tahu nggak?" jawab Puspita kemudian tertawa renyah, "Yang penting... aku sekarang bersama suamimu.... wawa Chiyo... aku nggak nyangka, dia begitu perkasa..."
📱"KAU!!!!...." seru Chiyome dengan marah. rahangnya mengencang.
📱"Aku nggak nyangka Chiyo... kamu nggak marah, kan? aku ngetes kejantanannya lho... ummmm.... sedddaaaapppp... sekali... " ujar Puspita memprovokasi Chiyome.
Chiyome hanya bisa mengencangkan rahangnya dan memicingkan matanya mendengar hasutan-hasutan wanita itu.
📱"Pantas kamu betah ya?... tahu nggak Chiyo? kami melakukannya berkali-kali... wuihhh.... semburan air spermanya... memenuhi liang rahimku... hmmm... aku rasa kau harus siap-siap memiliki madu, Chiyo..." olok Puspita.
📱"Aku nggak sudi memiliki selir semacam kamu!" tandas Chiyome dengan muak.
Puspita tertawa.
📱"Lalu bagaimana Kenzie mempertanggung jawabkan apa yang telah ia tanam dalam perutku Chiyo?" olok Puspita lagi.
📱"Kamu pasti memaksanya! Hubby tak akan pernah melakukan perselingkuhan.... aku sudah mengujinya. mustahil dia memenuhi keinginan kamu jika tanpa sebuah paksaan." ujar Chiyome dengan senyum mengejek. "Kau pasti menggunakan obat perangsang!"
Puspita kembali tertawa.
📱"Percuma juga membahas itu sekarang. dipaksa atau tak dipaksa, Aku dan Kenzie sekarang sudah melakukan persenggamaan... berapa kali ya? uhm kayaknya tak terhitung deh.... banyak sekali cairan yang ia tumpahkan dalam liang rahimku itu...." ujar Puspita lagi-lagi menghasut Chiyome.
Chiyome memperbaiki sikapnya dan berupaya mengendalikan dirinya yang tengah dihasut dan dipermainkan oleh Puspita.
📱"Puspita Kusmaratih.... kamu boleh saja mengklaim keseluruhan tubuh Hubby.... kamu hanya perlu kuingatkan satu hal.... persiapkan dirimu baik-baik... kita pasti akan bertemu, dan.... aku akan menagih nyawamu!"
📱"Terserahmu nenek sipit! aku tunggu kedatangan kamu!" balas Puspita.
hubungan seluler terputus dan Chiyome memaki-maki dalam bahasa jepang. Saripah menatap bosnya yang sedang meradang itu. wajah Chiyome yang putih bersih bagai warna beras menjadi merah menahan kemarahannya.
KRAKKKK....
tanpa sadar dalam kemarahannya yang hampir membuncah ke ubun-ubun, Chiyome tanpa sengaja meremukkan gawai yang ada dalam genggamannya hingga pecah berhamburan. tubuh wanita itu gemetar.
"Choyo...." tegur Saripah.
perlahan Chiyome membalik menatap Saripah. gadis itu dapat dengan jelas menatap kedua netra milik wanita itu memerah bagai bara.
"Chiyo...." tegur Saripah.
"Aku sumpah demi Tuhanku... demi ibu bapakku, demi kuburan moyangku... Puspita tidak akan mengalami kematian yang mengenakkan baginya.... dia harus mengalami penyiksaanku sehingga dia berharap tak pernah dilahirkan ke dunia...." ujar Chiyome dengan geram, rahang yang mengencang dan jemari yang terkepal menyatu pada tubuh yang gemetar.
__ADS_1
Saripah bergidik mendengar sumpah mengerikan wanita bermata sipit itu.. []