Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 186


__ADS_3

Kaneko tidak membiarkan Fitri memprotes. wanita itu langsung mengangkat kopor dan menggeser pintu shoji lalu masuk ke dalam. wanita parobaya itu meletakkan kopor disisi tokonoma dan langsung menggeser pintu lemari, mengeluarkan futon kemudian menghamparkannya. setelah itu dengan duduk gaya seiza, Kaneko mempersilahkan Fitri masuk kedalam ruangan.


"Silahkan beristirahat Nona." ujar Kaneko.


Fitri melangkah masuk dan duduk dengan gaya seiza berhadapan dengan Kaneko. ia membungkuk takzim.


"Terima kasih." jawab jilbaber itu.


Kaneko tersenyum. wanita yang sopan. pantas majikan muda tertarik dan hendak menjadikannya istri... tapi, mengapa harus muslim?


Kaneko membungkuk sejenak untuk pamit. dan Fitri mempersilahkannya. sepeninggal wanita itu, Fitri mendesah. "Bagus sekali. sekarang aku dijebak menjalani peran sebagai calon istri majikan restoranku sendiri."


Fitri akhirnya membaringkan dirinya dihamparan futon tersebut. ia menatap langit-langit ruangan itu. "Ya Allah... aku nggak tahu, apa maksud Engkau. namun, aku yakin, Kau selalu memberikan aku jalan terbaik dalam kehidupanku."


...******...


seperti biasa, Fitri melaksanakan aktifitas paginya dengan sholat subuh lalu berolahraga raga sejenak di genkan samping rumah yang berhadapan dengan taman. ia merenggangkan tubuhnya dan memeras keringatnya agar pagi itu bisa menjalani kehidupannya dalam keadaan bugar.


tanpa disadarinya, Kameie memperhatikan aktifitas jilbaber tersebut hingga ia kembali ke kamarnya. tak lama Fitri keluar membawa peralatan mandi menuju tempat mandi. disana ia tersenyum menatap sebuah gentong kayu besar nan lebar yang terisi dengan air hangat yang uapnya mengepul.


"Alhamdulillah... kayaknya mandi segar nih... kebetulan pagi ini sangat sejuk." gumam Fitri meletakkan peralatan mandinya disisi bak kayu itu dan membuka pakaiannya lalu turun kedalam bak kayu itu dan berendam dengan nikmat.


"Subhnanallah... nikmat sekali... hangat." puji Fitri dengan lirih. "Dipenginapan, mana ada aku mandi air hangat seperti ini?"


Fitri kembali menikmati berendam air hangat hingga tiba-tiba fusuma (pintu geser dari kayu) bergeser dan sontak Fitri menengok.


"Astaghfirullah!!!!" pekik Fitri dengan kaget dan langsung berbalik.


dipintu itu, Kameie berdiri mengenakan yukata tipis untuk mandi. sepir-sepir tubuhnya nampak tercetak.


"Kenapa kamu kemari?! kau tak lihat aku sementara mandi?!" teriak Fitri dengan panik, memeluk dadanya dan masih mempertontonkan punggung putihnya.


Kameie tersenyum. "Kenapa? ini kan kamar mandi. aku juga mau mandi." ujar pemuda itu melangkah masuk tanpa perduli.


"Tapi bisakah kita bergiliran?! aku kan lagi mandi. nanti setelah aku mandi, lalu kau yang mandi!!" omel Fitri masih tetap berbalik. ia sangat malu.


"Kalau bergiliran, yang ada kita terlambat, non." ujar Kameie dengan tenang sambil membuka pakaiannya. Fitri menengok hendak mengajukan protesnya lagi.


"Tapi... Masya Allah!!!" pekik Fitri sekali lagi.


wanita itu kembali membalik dan memejamkan matanya yang dirasakannya telah bernoda. Kameie memang telah telanjang dan melangkah lalu duduk disisi bak kayu, menjuntaikan kakinya kedalam air hangat di bak. Fitri semakin tidak nyaman dan gemetara. baginya, ini merupakan momen pelecehan paling aktual dalam hidupnya.


"Nggak usah teriak-teriak menyebut mantra-mantra itu." ujar Kameie dengan datar. "Biasakanlah dirimu. bukankah kau itu calon istriku? biasakanlah matamu menatap tubuh calon suamimu."


"Itu pernyataan sepihak dan penganiayaan verbal!" seru Fitri kembali beristighfar sekali lagi. "Aku nggak pernah menerima pernyataan itu. kau saja yang terlalu percaya diri dan memaksakan kehendakmu!"


Kameie tersenyum lalu turun. ia mendekati Fitri dan memegang pundak wanita itu.


"Allah Akbar!!" seru Fitri langsung melonjak dan berusaha keluar dari bak kayu.


namun cekalan Kameie sangat mengunci pergerakan Fitri. ia meronta-ronta dan sesekali memekik. hingga akhirnya Kameie menghardik.


"Diam! tenangkan dirimu!" hardik Kameie membuat Fitri terdiam dengan tubuh gemetaran.


Kameie menghadapkan tubuh Fitri kehadapannya. wanita itu menundukkan wajah sedemikian dalam dan memeluk dadanya sendiri dengan tubuh yang gemetaran hebat. Kameie menekan tubuh Fitri kebawah membuat wanita itu sedikit panik membayangkan Kameie hendak melecehkan dirinya lagi.


namun ternyata tidak. setelah Fitri didudukkannya menenggelamkan diri sebatas leher, Kameie mundur dan ikut menenggelamkan diri sebatas leher lalu menatap Fitri.


"Sudahlah... berapa lama kau menutupi payudaramu itu? aku nggak melakukan apapun terhadapmu. tenangkan diri dan pikiranmu Fitri-chan." tegur Kameie dengan alis berkerut.


"Aku... aku takut..." ujar Fitri dengan lirih.


"Takut apa? aku akan memperkosamu?" pancing Kameie. "Kalau iya, tentu sudah kulakukan dari tadi!"


Fitri masih menunduk. Kameie mendesah. "Aku tahu... di negaramu, di kampungmu, hal ini merupakan sesuatu yang tabu."


"Bukan cuma itu..." sela Fitri. "Hal ini juga tabu... menurut ajaran agamaku."


"Ohya? coba dijabarkan... mana yang tabu itu?" tantang Kameie.


"Seperti keadaan kita saat ini. duduk berdua dengan seorang yang bukan muhrim, terlebih mengumbar aurat, sangat tercela dalam ajaran agamaku." jawab Fitri.

__ADS_1


Kameie tersenyum. "Berarti kau sudah berdosa, Fitri." olok pemuda itu.


"Kau yang mulai!" balas Fitri menatap Kameie dengan wajah penuh kemarahan.


"Bagus! tegakkan wajahmu!" puji Kameie. "Jika kemarahan yang membuatmu berani menegakkan wajahmu, biar kubuat kau marah terus sepanjang hidupmu."


Fitri ternganga mendengar kalimat yang terlontar dari bibir pemuda itu. matanya terkesiap menatap hamparan rajah irezumi yang menghiasi dada dan lengan kekar pemuda itu. itu belum seberapa. paling banyak hamparan tato itu menyelimuti punggung seorang lelaki genyosha. Kameie menatap Fitri.


"Apa yang kau herankan? bukankah kau setiap kali selalu melihat rajahan seperti ini ditubuh-tubuh para pemuda kami?" ujar Kameie kemudian tersenyum. "Atau kau mulai terpesona padaku?"


"Sembarangan bicara!" omel Fitri kembali membuang wajah dan hendak berbalik, namun urung mendengar bentakan lelaki itu.


"Berani kau berbalik, apa yang kau kuatirkan akan terjadi!" bentak Kameie mengancam, membuat Fitri diam dan kembali menghadapkan tubuhnya kearah lelaki yakuza itu.


"Nah, begitu dong." puji Kameie. "Calon istri memang harus seperti itu."


"Aku nggak mau jadi istrimu." jawab Fitri dengan lemah.


Kameie diam sejenak. lalu ia bertanya, "Mengapa? berikan aku alasan yang tepat. jika itu benar, aku tak akan mengganggumu lagi, dan kita berpisah disini."


Fitri menatap Kameie dengan dalam. akhirnya ia mengangguk.


"Baiklah... yang pertama, aku akan menikahi orang bergama islam. dan kau bukan penganut agama itu." jawab Fitri. Kameie mengangguk.


"Aku siap masuk islam karena kamu." ujarnya dengan mantap.


"Yang kedua, aku nggak mau mempunyai suami yang nggak bisa mengimami aku." ujar Fitri dengan mantap.


Kameie mengerutkan alis. "Mengimami? maksudnya apa?"


"Menjadi pemimpin disegala aspek. memimpin agamaku, memimpin ibadahku, memimpin rumah tanggaku." ujar Fitri.


Kameie mengangguk-angguk. "Bagaimana cara aku bisa seperti itu?" tanya lelaki itu. Fitri menengadahkan wajahnya setengah miring ke atas.


"Di masjid Camee, ada seorang sepertimu. beliau seorang mualaf. namanya Taki Takazawa. silahkan saja, kau menemuinya."


...*****...


dipelataran beranda masjid Camee terjadi kericuhan. para jamaah yang kebanyakan orang Turki, kaget dan tersinggung ketika melihat seorang lelaki menaiki beranda mesjid tanpa melepaskan sepatu.


para imigran Turki itu batu diam dan memandang dengan takut-takut ketika Kameie langsung mencabut pistol dan menodongkannya kepada kumpulan jamaah itu. dengan wajah membesi dan mata melotot, ia bertanya.


"Dimana Taki Takazawa?!" hardik Kameie. "Aku hendak bertemu dengannya!!!"


"Mengapa kau menodongkan senjata kepada orang-orang itu? ini adalah tempat untuk memuliakan Allah... tak sepatutnya kau mengumbar hal tak bermoral tersebut disini." tegur seseorang dibelakang jamaah tersebut.


para jamaah itu menyingsingkan barisan memperlihatkan seorang berwajah lokal dengan tampilan gamis dan surban putih. Kameie mengerutkan alis.


"Taki ?!" gumam Kameie dengan tatapan tak percaya.


lelaki bersurban itu tersenyum. "Ya, bagaimana kabarmu, Kame-Yuujin?" sambut lelaki itu.


"Aku baik-baik saja." ujar Kameie dengan senyum, menyembunyikan pistolnya dibalik celana dan hendak melangkah. namun lelaki itu terhenti saat diseru oleh Taki Takazawa.


"Tanggalkan sepatumu dulu, Kame-Yuujin..." tegur Taki. "Ini tempat ibadat. tempat suci. jangan kotorkan tempat ini dengan telapak sepatumu."


"Ahhh... Fitri tak mengatakanku tentang hal ini sebelumnya." gumam Kameie.


"Apa? Fitri? kau mengenal Fitri?" tanya Taki saat Kameie keluar dari beranda dan meletakkan sepatu disisi beranda tersebut.


"Ya... dia pegawaiku direstoran kami." jawab Kameie.


"Masa?" respon Taki dengan senyum tak percaya. "Setahuku, ia kerja di..." Taki menyebut salah satu restoran di Tokyo. Kameie mengangguk.


"Aku memaksa manajer restoran itu untuk memecatnya dan aku yang menawarkan pekerjaan itu direstoranku." jawab Kameie dengan datar.


"Dasar Yakuza..." umpat Taki dengan senyum, menyindir gaya memerintah seorang yakuza.


"Terserah padamu." kata Kameie, "Bisakah kau membubarkan mereka? aku bisa gugup dikepung seperti ini."


Taki tersenyum dan mengangguk sambil membelai janggutnya. ia kemudian berbicara dalam bahasa arab kepada para jamaah Turki, meminta mereka membubarkan diri dan menjelaskan bahwa kesalahan Kameie patut dimaafkan sebab ia tak tahu sebelumnya. para jamaah mengangguk-angguk lalu menatap Kameie dengan ramah. salah satunya, yang bertubuh besar mirip beruang maju.

__ADS_1


"Maafkan kami, Tuan... kami tak tahu. selamat datang ditempat ini, saudaraku." kata pria Turki itu dengan bahasa jepang yang patah-patah.


"Nggak masalah. lupakan saja." jawab Kameie dengan enteng. pria itu maju dan langsung membekap Kameie membuat lelaki itu gelagapan. ia menatapi Taki yang menahan tawa lalu mengisyaratkan kepadanya untuk membalas pelukan pria Turki tersebut.


"Aaahhahahaha..." Kameie tertawa lalu balas memeluk dan menepuk pelan punggung lelaki bertubuh bak beruang tersebut.


setelah memeluk Kameie, lelaki Turki itu pamit dan mengajak jamaah masuk kembali ke masjid. Taki terkekeh pelan.


"Ketawa saja kerjamu." umpat Kameie. "Bagaimana kalau lelaki itu memelukku tanpa melepaskannya? aku bisa mati kehabisan napas."


"Mari masuk." ajak Taki menunjuk salah satu dinding di bangunan masjid tersebut.


keduanya melangkah dan duduk menyandar di dinding tersebut. Taki duduk bersila sedang Kameie duduk bersimpuh. Taki tersenyum menatap mantan pelanggannya.


"Bagaimana kabarmu, Kame-Yuujin?" tanya Taki sambil menyelai jenggotnya yang memanjang kedada.


"Baik..." jawab Kameie. "Bagaimana kau bisa mengenal Fitri?"


"Dia salah satu jamaah yang aktif dalam pengajian di masjid ini. kami saling berbagi pengetahuan tentang kearifan lokal yang bernafaskan agama di masing-masing kampung halamannya." jawab Taki dengan senyum sambil menyelai -nyelai jenggotnya.


"Kau sendiri, mengapa bisa masuk islam?" tanya Kameie.


"Itu hidayah, bro." jawab Taki sambil terkekeh.


"Apa itu hidayah?" tanya Kameie dengan penuh minat.


"Kamu sendiri, mengapa datang kemari Kame-Yuujin?" selidik Taki dengan senyum.


Kameie terdiam sejenak. ia menghela napas. "Aku mau mencari tahu tentang bagaimana menjadi seorang imam..."


"Imam?" tanya Taki kemudian terkekeh. "Apa Fitri sedang menjelaskan sesuatu yang membingungkanmu?"


Kameie mengangkat bahu. "Terus terang, iya." jawabnya dengan jujur. "Kau bisa menjelaskannya padaku?"


"Tunggu..." sela Taki, "Fitri tak sembarangan menjelaskan hal semacam ini jika tak ada motif." lelaki itu menatap Kameie dengan tajam. "Apa motifmu, Kame-Yuujin?"


"Baiklah... aku jujur saja kepadamu." ujar Kameie kemudoan menarik napas panjang. "Aku jatuh cinta kepada Fitri pada perjumpaan pertama." ujarnya dengan polos.


Taki terpana sejenak lalu tersenyum kembali dan mengangguk-angguk sambil menyelai jenggotnya.


"Terus?" desak lelaki bersurban itu.


"Fitri nggak mau kawin denganku jika aku nggak masuk islam." jawab Kameie.


"Kawin?" sela Taki dengan senyum. "Nikah, bro... kalau kawin itu namanya binatang." ujarnya.


Kameie diam mencermati kalimat dari Taki. lelaki bersurban tersebut lalu menjelaskan. "Nikah itu artinya berkumpul atau menyatu. bisa juga disebut Ijab Qabul. sebenarnya nggak jauh beda dengan ajaran agama lain. hanya saja, kenapa Fitri memberikan syarat begitu, karena memang bagi kami, menikah itu harus dengan orang yang seagama. itu menunjukkan tanggung jawab. kedua, harus memiliki akhlak terpuji..."


"Apa itu akhlak?" tanya Kameie.


"Perilaku, sikap dan tindak-tanduk keseharian kita." jawab Taki dengan tenang.


"Menurutmu, aku bisa memiliki akhlak seperti itu?" tanya Kameie dengan serius.


"Kau sebenarnya memiliki akhlak baik, Kame-Yuujin. hanya saja perilakumu tak memiliki panduan dan dasar." jawab Taki dengan lembut membuat Kameie merenungkan perkataan lelaki bersurban tersebut.


"Sangat sering kita melihat perkawinan sedarah di jepang. itu sangat melanggar norma, apalagi dalam agama islam. ajaran islam sangat melarang pernikahan dengan wanita sekandung sebab seketurunan, serta sekandung sebab sepersusuan, dan sekandung sebab semendaan (permenantuan atau permertuaan)." ujar Taki menatap Kameie dengan tajam.


"Aku dan keluargaku, bukan model semacam itu." tangkis Kameie dengan ketus. "Ayahku memang doyan kawin, tapi dia tak suka melakukan perkawinan sedarah."


"Aku tahu..." jawab Taki dengan sanyum.


"Kau mengejarku dengan ungkapan itu mengira aku sebejat itu?" tukas Kameie, "Nggak!!! aku nggak melakukan hal bejat semacam itu."


"Bagus." kata Taki. "Berarti syarat pertama, harus kau penuh."" jawab."


"Apa itu?" tanya Kameie.


"Masuklah agama islam." jawab Taki dengan tenang.


"Baiklah aku bersedia masuk islam." jawab Kameie dengan mantap.

__ADS_1


"Mari ikut aku ke dalam." ajak Taki.


Kameie mengikuti Taki ke dalam. dalam waktu sejam, dibimbing oleh Qadi masjid Camee Tokyo, Kameie Saburo Mochizuki, pentolan wakachu Tokyo, menanggalkan keyakinan lamanya menuju keyakinan barunya yang monoteistik.[]


__ADS_2