Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 151


__ADS_3

dengan kecepatan diatas standar dari kendaraan yang dikemudikan Abadi, membuat jarak dan waktu sedikitnya teratasi. Kenzie tiba di Hotel Trans Luxury itu pada pukul 02.10 Pagi. kecepatan yang melampui batas itu justru digunakan oleh Kenzie untuk istirahat dan terasa nyaman ia karena merasa seperti dibuaian semasa bayi. untung saja selama melintas, Abadi tahu jalur-jalur bayangan sehingga mereka tak kepergok Petugas Polisi Lalu Lintas yang sementara patroli.


Abadi mematikan mesin mobilnya dan menatap kebelakang. ia terkejut ketika menyadari penumpangnya malah asyik mendengkur dengan nikmatnya. mungkin beliau ini terlalu lelah sehingga tanpa sadar tertidur... ya namanya juga pengusaha...


Abadi tak berniat membangunkan Kenzie. ia justru keluar dan menghubungi OB lainnya bahwa jangan mengganggu penumpang yang lagi tertidur dalam mobil travelnya.


Kenzie terbangun ketika arloji pada pergelangan tanganhya menunjukkan pukul 04.15 subuh. lelaki itu mendecap-decap dan menyeka sisa iler yang numpang disudut bibirnya, kemudian mengucek matanya. lelaki itu bangun dan memperbaiki pakaiannya.


dengan lesu karena tubuh pegal, Kenzie membuka pintu mobil dan berdiri merenggangkan tubuhnya. Kenzie meraba saku celana belakangnya. dompetnya aman. lelaki itu menatap bagasi belakang mobil yang tertutup. kopernya mungkin masih didalam sana karena ia belum check in.


langkah Kenzie terayun masuk. ia memang hanya mengenakan pakaian kasual saja sehingga tak nampak dalam dirinya penampilan seorang pengusaha. Kenzie kemudian menemui resepsionis hotel.


"Mau check in, mbak." kata Kenzie.


petugas resepsionis itu menatapi penampilan Kenzie. wajah tampan itu sedikitnya mengurangi tatapan resepsionis tersebut. Kenzie menatap resepsionis itu.


"Saya salah satu undangan kegiatan Temu Pengusaha Indonesia." ujar Kenzie.


wanita itu tersenyum, "Silahkan dilihat listnya pak." ujarnya namun senyum itu terkesan meremehkan. Kenzie menggelengkan kepala. ia meraih dompetnya lalu mengeluarkan KTP dan menyerahkannya ke resepsionis.


"Cari saja namaku dalam daftar itu." ujar Kenzie menahan rasa kesalnya.


resepsionis itu melihat nama pada KTP dan memeriksanya. tak lama wajahnya memerah. mungkin ia malu telah berani meremehkan seorang pengunjung. wajah kuatirnya nampak, takut jika Kenzie melaporkannya ke manajer.


"Sudah dilihat?" tanya Kenzie.


Resepsionis itu mengangguk dan dengan tanggap mengakses nama Kenzie kedalam daftar undangan yang sudah hadir. wanita itu mengambil kartu dan menyerahkan kartu tersebut berikut KTP kepada Kenzie.


"Selamat datang di Hotel Trans Luxury pak." ucap resepsionis itu dengan keramahan yang dibuat-buat. Kenzie yang terlanjur ilfil hanya mengangguk saja.


"Kalian kenal sopir travel bernama Abadi Tayeb?" tanya Kenzie. resepsionis itu mengangguk. Kenzie balas mengangguk. "Suruh dia datang ke kamarku. koperku ada dibagasi mobilnya dan orang itu menghilang entah kemana."


"Akan saya hubungi pihak personalia pak. silahkan beristirahat." jawab resepsionis itu.


Kenzie melangkah dengan santai memasuki lorong yang luas dan lebar dari. bangunan itu. ia kemudian masuk kedalam lift dan menekan tombol naik. benda itu berhenti dilantai lima dan Kenzie keluar dari sana. langkahnya kembali terayun dan bola matanya melirik kesana-sini mencari nomor kamarnya.


ia menemukannya. lelaki itu menggesek kartu dan terbukalah pintu itu. Kenzie masuk lalu mengunci pintu dan menyisipkan kartu pada stecker lampu. ruanganpun menjadi terang. dengan sisa-sisa kantuk yang ada, Kenzie memilih menyegarkan dirinya menuju kamar mandi. dilepaskannya pakaian dan dilemparkannya ke ranjang. lelaki itu meraih handuk dan masuk kedalam kamar mandi yang berdinding transparan.


Kenzie memutar keran dan menekan tombol untuk air hangat. tak lama shower menyemburkan rintik deras air hangat yang menyirami tubuhnya. kehangatan air itu menyegarkan kembali tubuhnya yang pegal dan ngilu. dirak kaca ada sabun cair. ia memakainya, membalurkan cairan pembersih yang wangi itu ke sekujur tubuh, menyingkirkan debu dan daki yang menempel dipermukaan kulitnya.


usai mandi menyegarkan diri, Kenzie mengenakan lagi pakaiannya dan memutuskan untuk melakukan sholat subuh karena jam dinding telah menunjukkan pukul 04.45 pagi.


Kenzie baru saja menyelesaikan ritual salam, saat pintu terdengar diketok dari luar. lelaki itu bangkit dan melangkaj menuju pintu dan membukanya.


"Ooo... kamu..." ujar Kenzie melihat Abadi yang cengar-cengir sambil membawa koper milik Kenzie.


"Silahkan pak." kata Abadi dengan santun.


"Makasih ya?" ujar Kenzie meraih koper dalam genggaman Abadi. Kenzie hendak berbalik namun ia heran karena melihat Abadi masih berada disana. cengirannya makin jelas.


"Kamu kenapa lagi?" tanya Kenzie.


"Nunggu hadiah dari bapak. kan bapak bilang akan kasih saya bonus kalau saya bisa memgantarkan bapak lebih cepat kesini." jawab Abadi dengan polos.


Kenzie tersenyum. "Kamu punya nomor rekening kan? ada aplikasi...." Kenzie menyebut nama aplikasi tersebut.


"Ooo ada pak." jawab Abadi dengan penuh antusisas.


"Kemarikan norek*) mu." pinta Kenzie. norek\=nomor rekening.


Abadi menyebut noreknya dan Kenzie mencantumkannya pada aplikasi kemudian dia menuliskan jumlah uang yang ditransfernya dan menekan tombol 'send'.


terdengar suara notifikasi di gawai milik Abadi. lelaki itu memeriksanya dan ia terkejut. "Lho Pak? nggak salah kirim tuh? kan kita deal lima juta. kok dikirimnya delapan juta?"


"Tiga jutanya bonus karena kamu sukses membuatku mendengkur keenakan saat kau melajukan mobilnya." jawab Kenzie dengan tenang.


Abadi dengan senang mengucap terima kasih sambil membungkuk-bungkuk mirip orang yang sementara merenggangkan pinggang dan lututnya. Kenzie mengangguk dan menutup pintu lalu menenteng kopernya ke ranjang. ia membukanya dan mengeluarkan beberapa isinya terkecuali pakaian.


adapun beberapa stelan jas yang dipersiapkan istrinya, digantungkannya pada gantungan pakaian. waktu telah menunjukkan pukul 05.30. Kenzie memutuskan untuk jalan-jalan pagi, menikmati kesejukan udara Bandung.

__ADS_1


Kenzie hanya menjelajahi sekitaran dengan radius seratus meter saja. bukan karena takut tersesat tapi lebih ke arah menjaga waktu. sementara jalan-jalan, ia meraih gawai dan menghubungi Chiyome.


terdengar nada sambung sejenak lalu disusul suara seorang wanita yang amat dirindukannya.


📱"Assalamualaikum, Wiffy..." sapa Kenzie dengan lembut.


📱"Wa alaikum salam Hubby... issyyy... kenapa sih calling nanti jam segini sih? tau nggak semalam Wiffy nggak bisa tidur gara-gara mikirin Hubby.... isyy Hubby keterlaluan." sapa Chiyome sekaligus merajuk.


📱"Sori, Wiffy... semalam Hubby ketiduran di mobil, jadi tak sempat menghubungi Wiffy... Wiffy sehat-sehat saja kan? gimana kabarnya Saburo?" ujar Kenzie dengan lembut lagi.


📱"Wiffy nggak sehat." jawab Chiyome.


📱"Lho? sakit? sudah minum obat?" tanya Kenzie dengan cemas.


📱"Nggak.... kalau sakit rindu nggak ada obatnya!" jawab Chiyome dengan suara kesal.


Kenzie tertawa.


📱"Sudah, ditahan dulu rindunya. nanti Hubby pulang, dikasih dobel deh..." ujar Kenzie dengan senyum dikulum


📱"Benar nih?" tanya Chiyome dengan ceria.


📱"Iya.. masa sih Hubby bohong?" jawab Kenzie. "Okey, Hubby sudahi dulu ya. sudah waktu sarapan nih. jam tujuh acaranya."


📱"Oke deh Hubby, muuuuuaaaachhhh..." jawab Chiyome memberikan ciuman jauh lewat seluler. Kenzie tertawa dan memutuskan sambungan seluler itu.


lelaki itu mengayun langkah kembali ke arah hotel. sesampainya didalam, ia langsung menuju lounge memcari sarapan. nampak ada beberapa pengunjung yang sedang menikmati sarapan. Kenzie melangkah menuju meja prasmanan mengonfirmasi jenis sarapan apa yang disajikan pada hari itu.


Kenzie mengambil piring dan menyendok batagor yang dilumuri saus kacang dan memghiasinya dengan kerupuk membuatnya mirip dengan gado-gado. Kenzie membawa piring itu ke salah satu tempat dan duduk disana. perlahan tangannya menyuap belahan-belahan bakso-tahu yang digoreng krispi dan dilumuri kuah kacang mirip pecel itu kedalam mulutnya.


sedang asyik menikmati sarapan, Kenzie mendengar sahutan orang memanggilnya. lelaki itu menegakkan tubuh dan kepalanya mengedar mencari sosok pemanggil itu.


Kevin Williams datang membawa piring berisi lontong karo sapi, mendekati meja Kenzie lalu duduk disisi lelaki itu.


"Bagaimana kabarmu? lama kau tak ke Padang lagi." sapa Kevin Williams seraya mengaduk-aduk kuah kari itu.


"Banyak urusan." kilah Kenzie, "Tapi perkembangannya bagus kan?" ujarnya.


"Sudah resign..." jawab Kenzie singkat.


"Kau memang selalu dikelilingi wanita cantik ya? sekretarisku saja kalah." ujar Kevin kemudian mencicipi hidangan itu dan mengangguk-angguk. "Hmmm... lumayan... bagi orang yabg ingin menambah berat badan..."


Kenzie menyuap lagi batagor ke mulutnya dan menatap Kevin. "Kalau kamu memang nggak suka berat badanmu naik, ya jangan makan hidangan itu."


Kevin tertawa. "Jawaban bagus." pujinya. "Tapi kamu hadus tahu, bahwa kebanyakan orang sumatera barat itu menyukai makanan berminyak. tapi, meskipun makanan berminyak, kami orang-orang sumatera barat, jarang ada yang gemuk."


"Tergantung faktor hereditas juga, Vin." timpal Kenzie.


"Aku suka kau memanggilku Vin. aku serasa menjadi Vin Diesel..." ujar Kevin sambil tertawa dan menikmati lagi lontong kari itu.


"Vin Diesel... berambut tebal..." gumam Kenzie. "Kamu nggak cocok menyandang nama itu." protes Kenzie. "Nama Kevin lebih cocok untukmu karena wajahmu lebih mirip orang Irlandia Utara ketimbang orang Padang."


Kevin tertawa, "Ironi memang. padahal aku nggak lahir di Dublin atau dimanapun kota di Irlandia. aku asli kelahiran Padang. hanya saja ayahku memang orang inggris yang dinaturalisasi."


"Kupikir kau kelahiran eropa." ujar Kenzie.


"Dan jika begitu, aku akan memanggilmu Zie saja?" ujar Kevin. Kenzie tersenyum hambar.


"Memang orang kalau memberi nama sembarangan ya?" gumam Kenzie, "Sial amat hidupku."


Kevin tertawa. ia mulai senang mengolok Kenzie. lelaki gorontalo itu mendehem sejenak lalu menatap lelaki dihadapannya. "Dipolo tapu lo ta'apo ti ammm..." gumamnya lagi. (Belum ngerasai tinju juga nih orang).


"Sengaja kamu ya, pakai bahasa daerah untuk mengungkap kekesalanmu?" ujar Kevin.


"Nggak bisa pakai nama lain? Ken misalnya... itu panggilan akrabku disana." ujar Kenzie kembali mengunyah batagor yang tinggal sedikit.


"Lho? enak panggilan Zie itu." timpal Kevin.


"Apa yang enaknya? nggak sanggupan... modelnya itu lho... kayak nama perempuan... memangnya aku ladyboy hah?" omel Kenzie membuat Kevin tertawa. "Tuh macam sekretarisku yang kau puja dan kagumi itu."

__ADS_1


Kevin ternganga. "What?! seriously?... dia ladyboy?"


"Kenapa? kaget kamu ya?" timpal Kenzie. "Kasihan Nyonya Fira, itu suaminya mata keranjang." olok Kenzie.


"Nggak juga kok. sekedar suka saja." kilah Kevin.


"Sama saja Vin..." tandas Kenzie meletakkan sendok dan garpu dipiring yang sudah tandas itu. "Mau sekedar suka atau nggak, ingat.... setan itu canggih, man... sedikit kau meleng, habislah kau."


"Lalu kemana perempuan imitasi itu sekarang?" tanya Kevin.


"Mana aku tahu? memang aku hugelnya?" bantah Kenzie.


"Hugel?" gumam Kevin kurang paham.


"Hugel.... Hubungan Gelap.... selingkuhan..." jawab Kenzie. "Kalau kau berminat, cari tahu sana."


"Sialan... masa barang berkualitas milikku mau diserahkan ke perempuan kalengan itu? najis deh!" tolak Kevin lalu menghabiskan sisa hidangannya.


"Makanya nggak usah cari tahu. Ketahuan Nyonya Fira... baru tobatlah kau." ujar Kenzie.


"Fira nggak disini... aku nggak mengajaknya." jawab Kevin, "Dia menggantikan posisiku sementara di MLt. Group selama dua hari saat aku mengikuti pertemuan ini."


"Pantasan ditinggal.... takut dipergoki lagi menggoda cewek nih." olok Kenzie.


Kevin tertawa lagi, "Terserah apa tanggapanmu. yang penting kenyataannya nggak seperti itu." ujar lelaki itu kemudian menatap arloji.


"Kelihatannya kita harus bergegas. setengah jam lagi, acara perdana akan dimulai." kata Kevin langsung bangkit. Kenzie mengikuti.


"Ayo, kalau begitu." jawab Kenzie dan keduanya melangkah bersamaan keluar dari lounge tersebut, menyusuri koridor utama dan bertemu dengan lift.


"Kamu dilantai berapa?" tanya Kevin.


"Lantai tiga..." jawab Kenzie.


"Masih punya waktu." timpal Kevin.


lift itu terbuka dan keduanya masuk. baru saja pintu lift hendak mengatup, nampak sebuah sepatu lancip menysup ditengah menghalangi berkatupnya pintu tersebut dan akhirnya pintu lift kembali menguak.


seorang lelaki berpakaian formal dengan rambut yang tersisir rapi masuk. wajahnya datar dan terkesan eksklusif. Kevin dan Kenzie juga tak memiliki minat menyapa lelaki itu.


"Setelah dua hari ini, kamu langsung balik ke Gorontalo?" tanya Kevin.


"Ya, begitulah.... aku nggak bisa membiarkan pekerjaanku menumpuk." jawab Kenzie.


"Ah sayang sekali." desah Kevin. "Tadinya aku hendak mengajakmu menikmati sejenak kebersamaan kita dosebuah resto atau kafe disini."


"Nanti saja, sekalian kalau aku pesiar ke Padang... kalau ada waktu." tolak Kenzie dengan senyum.


"Ah, kau sudah berjanji." ujar Kevin.


"Iya, kalau ada waktu." jawab Kenzie lagi.


"Kalau ada waktu? memangnya waktumu habis untuk apa?" tanya Kevin dengan heran.


"Banyaklah... aku punya kesibukan sendiri." jawab Kenzie sekenanya.


terdengar bunyi mendenting. pintu lift terbuka. Kenzie terkekeh. "Sudah sampai di lantai tiga. oke sampai ketemu lagi ya?"


"Oke... kita ketemuan di acara saja." jawab Kevin.


Kenzie melangkah keluar dan tanpa disangka lelaki yang bersama mereka tadi ikut juga keluar dan melangkah dengan cepat. Kenzie mengekorinya dari belakang.


busyet penampilan lelaki ini, mirip k-pop korea. apakah lelaki ini juga peserta rapat???


Kenzie terus mengekorinya dan akhirnya lelaki itu berhenti disebuah ruangan bersebelahan dengan ruangan yang ditempati Kenzie.


"Hei, aku tak sangka kita tetanggaan..." sapa Kenzie mendatangi lelaki itu. lelaki itu berhenti menggesek kartu lalu menatapi Kenzie.


"Kupikir akan lebih akrab jika kita saling mengetahui identitas." ujar Kenzie kemudian mengulurkan tangannya. "Aku, Kenzie Ardiansyah Lasantu, Direktur Utama Buana Asparaga.Tbk.... senang berkenalan denganmu."

__ADS_1


lelaki itu menatap Kenzie dengan lama dan akhirnya ia mengulurkan tangannya juga, "Muhammad Adnan Fauzi, Direktur Utama PT. Wijaya Land." jawabnya dengan datar. []


__ADS_2