
Ekoriyadi memimpin tim Pasopati menjelajah hutan. berbekal senapan M240 milik para pengedar narkoba yang disita, ia menjelajahi rimba tanpa takut tersesat. bagaimanapun, Ekoriyadi Siregar adalah mantan Brigade Mobil Kepolisian yang khusus memiliki kecakapan militer. ia pindah ke divisi reskrim setelah sepuluh tahun malang melintang sebagai penempur digaris depan melawan para *******.
kini kecakapan itu kembali berguna ketika ia harus merambah hutan mencari anak buah yang paling dikagumi tersebut. Trias lebih cocok disebut badboy mirip tokoh yang diperankan Will Smith dan Martin Clawrence yang bertemakan kehidupan kaum penegak hukum dijalanan.
pasangan Trias-Bambang itu memang mirip dengan dua karakter itu. Bambang terlalu perhitungan sedangkan Trias langsung melabrak apa saja demi tercapainya tujuan. Ekoriyadi merasa dirinya seperti Condrad yang diperankan Joe Pantoliano.
dan kini lelaki itu entah berada dimana dibelantara hutan itu. ia harus mencarinya. Ekoriyadi tidak meragukan kecakapan beladiri Trias. anak itu sudah memperlihatkan taringnya saat di SPN Batudaa dulu. yang dikuatirkan Ekoriyadi adalah anak buahnya tersesat dan tak mampu menemukan jalan pulang.
terdengar konyol memang, namun begitulah Ekoriyadi. dia bagaikan bapak bagi anak-anak tim-tim reskrim yang berada dalam penanggungan jawabnya. Eko sudah memerintahkan tim Macan untuk mengamankan barang bukti. sekarang inilah saatnya ia beraksi, keluar dari ruangan dan terjun ke medan lapangan untuk memastikan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Sudah berapa jam, Trias menghilang?" tanya Ekoriyadi.
"Sudah dua jam, Pak. lihat, tanah sudah terang. kelihatannya ini pukul enam pagi." jawab Bambang.
"Kenapa tak kau kawal anak bengal itu?!" omel Ekoriyadi.
"Mana mau dia bos? ini kan termasuk urusan pribadinya." kilah Bambang.
"Apakah dia tak bisa membedakan urusan pribadi dan tugas?" omel Ekoriyadi lagi.
lama mereka menyusuri hutan hingga mendengar suara beradu. Ekoriyadi mengangkat tangannya dan menatap Aldi dan Andy. ia memberi isyarat dua jari ke mata, menyuruh keduanya melakukan pengamatan.
Aldi dan Andy mengangguk lalu berangkat meninggalkan tempat. mereka menghilang dibalik semak dan pepohonan yang berhias akar-akar gantung. Ekoriyadi mengajak yang lainnya menyusul kedua pengamat itu.
akhirnya mereka menemukan tempat pertempuran tersebut. nampak kedua petarung sudah benar-benar kelelahan, namun masih memaksakan pertarungan untuk menentukan pemenang dari pertandingan itu.
hingga akhirnya Trias maupun Bubu hanya bisa jatuh berlutut dan berupaya mengatur napas yang sudah memburu. detak jantung sudah tak beraturan dan detak nadi begitu menggedor halkum. Trias terbatuk-batuk hingga akhirnya memuntahkan lendir pahit.
Bubu bicara dalam bahasa isyarat yang lemah. "Kelihatannya, meskipun kita memaksakan pertandingan... kelihatannya tak kan ada yang menjadi pemenangnya."
"Kau.... tak... perlu... kuatir..." ujar Trias kemudian muntah lagi. lelaki itu mengelap bibirnya yang belepotan lendir pahit. "Aku... akan memenang... kan.... pertaru... ngan ini."
selesai berkata begitu, Trias limbung terbaring ditanah. sedang Bubu, meskipun tubuhnya bergetar hebat disebabkan energi yang telah terkuras, ia menyeret dirinya menjauhi Trias.
Ekoriyadi memutuskan menampakkan diri. ia menyeruak dari semak-semak sambil menenteng senapan M240, diikuti tim Pasopati lainnya.
"Menyerahlah Bubu..." ujar Ekoriyadi dengan tatapan arogan. Bubu menatapnya lalu tersenyum lemah. ia bicara dalam bahasa isyarat.
"Untung kalian datang..." ujarnya lalu jatuh terbaring menelungkup ditanah. kakek itu pingsan.
Ekoriyadi menatap raja preman tersebut lalu menatap Trias yang juga sudah pingsan. lelaki batak itu tersenyum.
"Ah... jadi ingat masa muda dulu..." gumamnya.
setelah itu ia melihat Bambang. "Kau temani partnermu. kami akan mencari Pak Kenzie dan Stefan. jika kami menemukannya, kami akan memberi tanda ini." ujar Ekoriyadi memperlihatkan benda silinder kecil yang jika dinyalakan akan memancarkan kembang api.
Bambang mengangguk. "Siap!" jawabnya.
Ekoriyadi menatap Stephen. "Kau jaga kakek ini. tapi ingat, waspada. setua ini, kekuatannya masih setara herkules." ujar Ekoriyadi.
Stephen mengangguk. setelah itu, ditemani Aldi dan Andy, Ekoriyadi kembali menjelajah memasuki hutan.
...******...
Chiyome telah selesai mengatur ritme aliran Ki dalam tubuhnya. namun itu tak bisa menjamin bahwa ia bisa berperan aktif kembali dalam pertarungan. luka tembaknya, meski tak mengenai salah satu titik kematian, tetap saja merepotkannya, sebab darah masih mengalir deras disana. ia harus menghentikan dulu aliran darah itu.
Chiyome menarik dan merobek bagian lengan pakaiannya. kedua-duanya, lalu membebatkan luka itu dengan lingkaran kain robekan pada bagian pinggang dan perutnya. wajah sesekali meringis menahan sakit yang menyengat ketika luka bersentuhan dengan kain itu.
pekerjaannya rampung dan Chiyome menarik napas lega menyeka keringat deras yang membasahi wajah akibat menahan sakit yang begitu menderitakan. dengan tatapan sayu, ia menatap kearah pertarungan dua lelaki tersebut.
Hubby... aku mengandalkanmu... buat dia terdesak sementara aku memulihkan diri... nanti, kita berdua yang akan melenyapkannya dari dataran bumi ini...
...****...
Kenzie sedapat mungkin memberikan perlawanan dalam menghadapi serbuan Stefan. bagaimanapun ini adalah bagian dari harga diri. bakti seorang adik kepada kakaknya, bakti seorang menantu kepada kedua mertuanya. jika dia kalah, tentu Kenzie tak tahu lagi, kehormatan macam apa yang dia pertaruhkan lagi.
Stefan menyerang dengan pukulan dan tendangan yang boleh dikata sedikit teratur. itulah sebab Kenzie terpaksa hanya bisa melakukan pertahanan. namun, semakin pukulannya meleset, semakin bernafsu ia mengejar lawan dengan pukulan lain.
Stefan menggunakan gaya bertinju mirip muaythai. lelaki itu kadang memaksa Kenzie menangkis setiap serangannya yang juga mengandalkan bagian sendi sikut dan lutut itu.
__ADS_1
Kenzie adalah seorang pakar silat dan langga, sama seperti Trias. namun, kesibukannya sebagai pengusaha membuatnya tak lagi memperdalam seni yang dipelajarinya sejak muda itu. akibatnya, teknik-teknik serangannya terlihat mentah dan dapat diantisipasi dengan mudah oleh Stefan.
Kenzie menggertakkan gigi. tubuhnya terasa remuk redam akibat banyak menerima pukulan dan tendangan yang diayunkan Stefan kearahnya, saat lelaki bercambang itu menangkis semua serangan itu. Stefan bagai berada diatas angin meski sampai saat ini ia belum berhasil menumbangkan Kenzie. disisi lain, Kenzie menjadi malu. ia malu terhadap Chiyome. bagaimana tanggapan sang istri, jika ia kalah dari lelaki minahasa itu. hal tersebut, nggak boleh terjadi! pertama yang dilakukan adalah menemukan kelemahan serangan yang dibuat oleh Stefan.
muaythai adalah seni yang mengerahkan 4 persendian tubuh. praktisinya akan dipaksa melakukan serangan yang membuatnya harus memforsir tenaga sehingga jika tak memiliki stamina kuat, akan cepat kelelahan.
Kenzie memancing Stefan untuk tetap menyerang. serangan sikut dan lutut serta tinju dan tendangan selalu diterimanya dengan tangkisan. namun Kenzie selalu menjaga, jangan sampai Stefan bisa memeluknya. itu bahaya!
pertarungan tetap berlanjut dan Kenzie terus mempelajari pola bertarung lawannya. sementara beberapa jarak dari pertarungan itu, Chiyome mengerutkan alis menatap sang suami yang hanya doyan menangkis setiap serangan lawannya.
aih, mengapa Hubby hanya bisa menangkis serangan saja? apakah memang Stefan sekuat itu?
Kenzie seakan mendengar pembicaraan batin sang istri. ia tersenyum sambil terus menangkis.
belum saatnya, sayang....
sementara Stefan, sekuat-kuatnya stamina orang minahasa, tetap saja energi itu akan terkuras sedikit demi sedikit. Stefan mulai terlihat kelelahan. Chiyome mengerutkan lagi alisnya.
dia sudah kelelahan Hubby... tumbangkan dia!
Kenzie masih tetap menangkis. kelihatannya ia hanya ingin bermain-main, meniru gaya permainan sang istri dalam menghadapi lawannya. Kenzie tersenyum.
belum saatnya, sayang.... lihat nanti....
Stefan membelalakkan matanya. lelaki bercambang dihadapannya itu seakan bagai tugu batu yang tak ingin tumbang. Kenzie menampakkan senyum sinisnya dan menggeramlah Stefan melihat Kenzie mengibaskan tangannya sekali lagi, mengundang Stefan untuk terus menyerang.
lelaki minahasa itu mengencangkan rahang. dan sekali lagi, dengan tenaga yang tersisa ia menyerang dengan lebih dahsyat lagi. Kenzie berhasil menghasutnya. Stefan termakan umpan telak. serangan-serangannya mengayun dan menghantam lebih keras. tapi, itu hanya seperti sebuah serangan mirip seekor celeng yang luka. Kenzie masih tetap menangkis dan terus menangkis.
"Ah, cuma segini kemampuan tarungmu, Stefan?!" hasut Kenzie ditengah napasnya yang memburu. "Ah... sangat... tak terasa!!!"
"Enyah kau!!!" teriak Stefan sembari mengayunkan tendangan yang telah diisi tenaga penuh.
Kenzie mengangkat kaki, menangkis tendangan itu dengan tungkai kakinya yang ditekuk.
BUAGH!!!!
UHM!!!
sejenak Kenzie meringis lalu menghentak-hentakkan kakinya untuk mengusir rasa nyeri di kaki tersebut. ia menatap Stefan yang sudah berdiri tanpa gaya, napasnya tak lagi beraturan, dan tatapan matanya mulai sayu. lelaki itu sudah kehilangan kekuatan.
"Wah, Stefan... sudah tak bisa menyerang?" ejek Kenzie sedikit terkekeh. lelaki bercambang itu kemudian langsung memasang sikap tempur dalam silat. "Sekarang, giliranku... Boyi..."
"Bermimpi!!!" seru Stefan sambil maju lagi menyerang.
Kenzie sudah siap kali ini. ia menyongsong ayunan lutut yang mengincar dada dan perutnya. lelaki bercambang itu dengan sigap mengayunkan tangan, menebas bagian ats lutut dengan pinggiran tangannya itu.
BUGH!!!
UKH!
Stefan kaget sekaligus meringis. tebasan tangan Kenzie telah membuat sumbu lututnya bergeser. Stefan tak mampu meluruskan kakinya lagi. sekali lagi Kenzie mengayunkan bogem kiri mengincar paha yang tertekuk itu. Stefan langsung mendorongkan tangannya, menghantam pergelangan tangan Kenzie. namun, tetap saja pukulan iyu hinggap, meski bukan dipaha, melainkan betis.
Stefan mengaduh dan mundur terpincang-pincang ke belakang. Kenzie mengejar dari samping dan tiba-tiba melompat lalu mengayunkan tinju menghantam rahang Stefan membuat lelaki minahasa itu langsung oleng, nyaris tumbang.
Stefan berhasil memperbaiki sikap berdirinya setelah ebberaa langkah terjejer ke samping akibat daya hantam tinju Kenzie pada rahangnya. Stefan merasakan tatapannya berkunang-kunang. Kenzie dengan leluasa menyarangkan berpuluh teknik pukulan ke tubuh lelaki itu.
Kenzie tanpa sadar mengakui bahwa kemampuan tubuh Stefan begitu alot. meskipun ia kelelahan, dan tubuhnya menerima banyak tinju dengan berbagai teknik, tetap saja Stefan belum menampakkan kekalahan.
Kenzie tak ingin terhasut. ia membiarkan Stefan bernapas untuk bisa dihajar lagi. lelaki itu menarik napas panjang dan tiba-tiba perutnya mual. Stefan muntah.
HUEKKKK!!!! HUEKKK!!!
dari mulutnya keluar darah bergumpal-gumpal. Stefan terluka dalam. mungkin diafragma dan rusuknya sudah retak hingga menyebabkan pembuluh darah robek dan menembusi saluran pencernaannya. lambungnya terluka.
"Ayo, Stefan! masa cuma segini gayamu?! memalukan saja!" ejek Kenzie.
"Aku belum kalah!" teriak Stefan.
lelaki minahasa itu meski sempoyongan, hendak maju mengayunkan tinju. Kenzie hanya diam menantikan serangan itu. ia menangkap kepalan Stefan dan memuntirnya.
__ADS_1
Stefan meringis dan sekali tendangan yang diayunkan Kenzie ke dada lelaki minahasa tersebut, membuat Stefan terjungkal dan tak mampu bangkit lagi sebab telah diinjak dadanya oleh Kenzie.
"Stefan... hari ini, kau tak akan bisa lari dari maut." geram Kenzie.
Stefan terkekeh. "Heh, sanggupkah kau mencabut nyawa orang, Kenzie?... setahuku... tak pernah..."
Kenzie menggeram dan mengangkat tangannya hendak mengeksekusi Stefan dan tiba-tiba terdengar suara.
"Jangan bertindak melanggar hukum, Pak Kenzie! biar keadilan yang akan menanganinya!" seru seseorang.
Kenzie menoleh. nampak Ekoriyadi, Aldi dan Andy yang menyandang senapan rampasan M240. ketiga opsir itu maju mendekati Kenzie yang melangkah mundur dua tindak. Ekoriyadi menatap Aldy dan mengangguk.
dengan sigap, Aldy maju dan mencengkeram pakaian Stefan, memaksanya berdiri. lelaki minahasa itu terkekeh.
"Kau lihat Kenzie? aku sekali lagi lolos dari maut." ejek Stefan.
BUAGH!!!! OOOKHHH!!!
popor senapan M240 dilayangkan Aldi ke mulut Stefan membuatnya memuntahkan gigi-gigi yang ambrol. ia meludah.
"Kamu diam saja boyi... banyak lagak kau." gerutu Aldi.
"Saya serahkan dia kembali kepada anda." ujar Kenzie, "Saya harap kali ini... jangan lepaskan dia dari jerat hukum."
Chiyome yang mendengar ucapan Kenzie kepada Ekoriyadi memperlihatkan wajah tak puas. sementara Ekoriyadi mengangguk. "Kami jamin... undang-undang narkoba akan membuatnya tak bisa mengelak lagi. biawak ini kali ini berada dalam jalan buntu!"
Kenzie mengangguk lalu melangkah mendekati Chiyome. lelaki bercambang itu kemudian duduk berjongkok dihadapan istrinya.
"Wiffy... lukanya nggak apa-apa?" tanya Kenzie dengan lembut.
Chiyome menggeleng keras dan menatap Kenzie. "Hubby kenapa serahkan orang itu pada polisi?" bisiknya.
Kenzie tersenyum hambar. "Aku nggak ingin Wiffy membunuhnya." lelaki itu kemudian memeriksa luka istrinya. "Aku nggak akan tahan melihat Wiffy dipenjara."
"Tapi..." protes Chiyome.
Kenzie menggeleng menyuruh Chiyome diam. akhirnya, memang hanya Kenzie yang mampu menyarungkan pedang sang Kembang kematian. Chiyome menghela napas dan mengangguk.
"Baiklah, Hubby..." jawab Chiyome dengan pasrah.
"Aku mencintaimu..." ujar Kenzie dengan suara lembut.
Chiyome akhirnya tersenyum. "Akupun mencintaimu."
sementara Stefan yang digiring oleh Aldi, tiba-tiba berontak dan berhasil melepaskan diri serta merebut pistol yang tersemat diholster opsir tersebut.
DOR! DOR! DOR!
Stefan menembaki Aldi, Andy dan Ekoriyadi yang tak menyangka lelaki itu licin seperti belut. dengan tertawa ia menatap Kenzie yang menoleh terkejut.
"Kau pikir mereka bisa menahanku?! bermimpilah dineraka!" ejek Stefan memandangi ketiga opsir yang menggeletak diam disitu. ia lalu mengarahkan moncong pistol kearah Kenzie dan Chiyome.
"Sekarang giliran kalian menghadap Tuhan untuk mengeluhkan kegagalan kalian!" seru Stefan hendak menarik picu.
SWING! SWING! SWING!!!
JLEB! JLEB! JLEB!
AAAAAAKKKKHHHH.....
tanpa disangka, tiga buah shuriken melesat. satu menancap dimata Stefan sedang dua buahnya menancap dipergelangan tangan lelaki itu. pistol terlepas dari genggamannya dan teriakan kesakitan menggema diseantero rimba raya tersebut.
Kenzie terkejut dan menoleh kearah istrinya. Chiyome sudah tak berada disitu lagi. Kenzie menatap ke udara melihat sang istri telah melesat dengan pedang terhunus.
"Wiffy!!! jangaaaannn!!!!" teriak Kenzie.
tapi, sekali Si Penebas Angin tergenggam, ia harus mereguk darah. dan Chiyome maju menukik mengayunkan pedangnya.
TRAK! TRAK! TRAK! TRAK!.... SSSIIIIIIINGGGGG....TLAK!!
__ADS_1
tebasan demi tebasan diayunkan Chiyome ketubuh Stefan. lelaki itu tersentak-sentak ketika bilah tajam pedang itu membabat tubuhnya dan akhirnya Chiyome berbalik sambil berlutut lalu menyarungkan Si Penebas Angin dengan pelan hingga tersarung kembali.
tubuh Stefan menggelosor jatuh dengan bagian tangan, dada dan kepala termutilasi. Chiyome menatap wajah Stefan yang mengisyaratkan kesakitan luar biasa. sedang Kenzie hanya bisa menatap lemas ke tempat dimana Chiyome berpijak.[]