
Permintaan Chiyome kepada Adnan adalah merubah halaman belakang yang tak terpakai menjadi ruang gym sekaligus dojo pribadi. alasan ibu muda itu, ia ingin mencari kesibukan disela lowong waktunya mengurus putranya yang makin lama makin terlihat menggemaskan. Adnan menyanggupinya karena iru adalah hal yang baik. jika waktu lowong, ia akan berlatih bersama Kenzie, atau mengundang Trias latihan bersama. dan Chiyome bisa kembali melemaskan otot-ototnya yang sempat tak aktif karena masa nifas dan penyusuan itu.
Adnan mengerahkan tukang terbaik dan Chiyome ditunjuk menjadi arsiteknya, karena lelaki itu yakin, putri menantunya bisa menangani hal semacam itu. Chiyome sempat menelepon adiknya untuk mengarahkan 2 orang pakar arsitek Jepang untuk menata dojo pribadinya agar memiliki seni campuran antara kebudayaan jepang dengan kebudayaan lokal gorontalo.
dalam waktu yang tak lama proyek pembuatan dojo sekaligus gym itu mulai terlaksana. Adnan sendiri tak segan menggelontorkan dana besar demi ambisi menantu yang paling sayanginya. Chiyome sendiri yang meminta Adnan agar pembayaran para tukang diserahkan. Adnan hanya menyiapkan dana pembangunan saja.
Kenzie sendiri surprise dengan keinginan istrinya. pemuda itu langsung setuju. mengapa ia tak memikirnya sejak lama? mereka keluarga pendekar. ayahnya, dirinya, istrinya, bahkan Bapunya. Kenzie bahkan curiga, sang mama sebenarnya punya beladiri, tapi tak pernah ditampilkannya dan lebih memilih menjadi wanita feminin yang anggun.
suatu saat, keturunan mereka pasti akan memilih jalan beladiri. pemuda itu sangat yakin. buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya.
pembuatan dojo itu berlangsung selama 2 bulan karena selain mengunakan bahan lokal, Chiyome bahkan mengontak suplier bahan baku bangunan di jepang untuk menyediakan kayu khusus untuk bangunan kuil.
Chiyome memang tak pernah setengah-setengah dalam membangun ambisinya. kepada perancang jepang ia meminta mereka membuat kombinasi bangunan gaya kuil yasukuni Jinja. sedangkan tirai yang menghalangi pintu masuk, di lukis dengan kamon keluarga Mochizuki.
Akhirnya, pembangunan dojo eksentrik itu selesai. Adnan dan Mariana terpana menyaksikan keanggunan bangunan yang begitu menyimpan aura misterius bagi siapapun yang memandangnya. tak terkecuali bagi Adnan dan Kenzie. bahkan Trias lebih terpaku karena kagum menyaksikan bangunan yang merupakan perpaduan seni lokal gorontalo dan seni budaya jepang.
rancangan dalam bangunan dibuat seperti gaya estetik gorontalo tanpa menghilangkan kultur jepangnya. bagian kamiza adalah tempat duduk khusus guru. disana ada sebuah lukisan besar pemandangan kota Gorontalo yang dipotret lewat gunung bagian selatan dimana Kantor Gubernur Propinsi Gorontalo berdiam.
disisi lukisan ada sebuah katanakake dengan sepasang pedang daisho, yaitu katana (pedang panjang) dan wakizashi (pedang pendek) terletak diatas benda tersebut. berseberangan dengan itu terletak sebuah replika yoroi (baju jirah jepang) gaya tosei gusoku, yang disusun mirip sebuah boneka. disisi baju jirah itu terdapat sebuah wadah mirip papan tulis. disana kemudian terukir sebuah organigram mirip garis silsilah. wadah iru disebut mufudakake, berisi nama-nama mahaguru yang mendirikan seni yang dipelajari oleh Chiyome. Ienaga Heinaizaemon sendiri menduduki posisi grandmaster ke 8, di papan galur silsilah perguruan itu. berarti secara silsilah, Chiyome menduduki peringkat grandmaster ke 9 karena Iechika masih berada ditingkat 6.
sebenarnya dalam aturan asli dojo, mengikuti gaya dalam kuil shinto maupun buddha. yang mana di kamiza diletakkan replika baju jirah ditengah sedang papan mufudakake diletakkan disebelah kanan dan katanakake diletakkan disebelah kiri. namun karena Chiyome menganut agama islam, maka posisi baju jirah yang berada ditengah kamiza dianggap sesuatu yang syirik karena siapapun yang melaksanakan reishiki (upacara pembuka latihan dalam dojo juga menjadi upacara penutup setelah selesai latihan dalam dojo) harus menyalahkan lidi dupa lalu membungkukkan tubuhnya kepada baju jirah dan papan mufudakake. Chiyome memang tidak menyingkirkan kendi dupa beserta lidi dupa. tapi ia tak berdoa didepan benda itu. ia hanya meletakkannya sebagai syarat saja.
Chiyome menciptakan gaya reishiki baru yang disesuaikan dengan ajaran agamanya. dan dia memantapkan gaya upacara baru itu untuk siapapun yang berlatih di dojonya.
...******...
hubungan antara Chiyome dengan Lola langsung membaik karena wanita itu datang secara langsung ke rumah keluarga Lasantu. Chiyome hanya tertawa mendengar pengakuan permintaan maaf wanita tersebut. Chiyome meminta suaminya untuk memindahkan posisi Lola ke pemasaran karena wanita itu menjawab bahwa ia lulusan manajemen.
...*******...
Kenzie sementara sarapan dan dibuatkan minuman penambah energi dari bahan khusus yang dikirimkan dari Shiga. Chiyome menghubungi ayahnya meminta tonik yang membuat orang yang mengkonsumsinya akan merasa terpompa staminanya dan memperkuat imunnya.
Chiyome sedang bersenandung pelan ketika Kenzie selesai menyantap dua lembar pancake yang dilumuri madu, dan kini mulai menyeruput dengan pelan tonik tersebut. rasanya keras tapi enak. Chiyome meminta suaminya meneguknya pelan-pelan.
sementara Kenzie menyeruput tonik itu, ia seperti mengenali lirik yang disenandungkan istrinya. ia mendengarnya dengan saksama.
🎶 kisah seorang putri.... yang patah hati......
"Wiffy, kayaknya lagu ini Hubby kenal deh. tapi lupa." celetuk Kenzie menatapi istrinya yang duduk sambil menyeruput tonik yang sama.
"Oooo.... itu lagunya band Koes plus, Hubby.." jawab Chiyome dengan enteng.
"Ohya? kebetulan Hubby dulu suka juga lagu-lagu Koes plus. lanjutin deh, Hubby mau dengar.." pinta Kenzie sambil kembali meminum tonik tersebut.
🎶 kisah seorang putri... yang telah patah hati.... laluuuu..
bunuh diri..... 🎶
CEPROOOTTTT... UHUK UHUK...
IIIIHHHH.... HUBBYYYYY
__ADS_1
Kenzie langsung tersedak menyemburkan sisa tonik dalam mulutnya membasahi wajah sang istri. Chiyome langsung mencak-mencak. sementara Kenzie sibuk membersihkan sebagian pakaiannya yang basah terkena sebagian pancaran sedakan itu. Chiyome dengan cemberut berdiri membersihkan bibir Kenzie dan pakaian suaminya.
"Kenapa sih Hubby keselek?" tanya Chiyome yang tak menyadari sebab tersedaknya sang suami.
gimana nggak keselek sayang... kamu nyanyinya lagu macam begitu... kok Koes plus punya lagu macam begitu ya???
"Nggak kok. kebetulan saja tersedak. Wiffy." kata Kenzie sambil bangkit.
"Tapi seragamnya kotor. ganti ya. sebentar saja." pinta Chiyome memaksa membuka seragam suaminya. ibu belia itu membawa seragam yang kotor itu ke keranjang. kemudian Chiyome ke kamar mengambil seragam baru dan memakainya kepada Kenzie.
"Tuh, mukanya dibersihkan... penuh tonik, Wiffy." tegur Kenzie.
tanpa duga sang istri menjawab enteng, "Biarin saja Hubby. anggap aja tuh creamface..." ujarnya sambil tersenyum lebar memamerkan seringai gingsulnya.
Kenzie mendekat dan mendaratkan ciumannya ke bibir istrinya lalu menarik bibirnya dan berdecap-decap sejenak. "Weh... cream face rasa tonik nih. sini deh.."
sontak Kenzie menjilati seluruh permukaan wajah Chiyome agar tonik itu bisa terserap oleh lidahnya. Chiyome hanya bisa memejamkan mata dan mengernyitkan bibir, hidung dan alisnya.
Aisyah yang muncul dari kamar langsung kaget melihat kelakuan dua suami istri itu.
"Astaghfirullahal Adziiiiimmm... KENZIEEEE !!!!" teriak Aisyah.
sontak Kenzie yang kaget langsung berhenti melakukan kegiatannya dan menoleh kearah suara, begitu juga dengan Adnan dan Mariana yang langsung keluar dari kamar mendengar suara teriakan Aisyah.
"Kenapa?! apa Sandiaga Jatuh??" tanya Adnan dengan panik. Mariana apa lagi. nenek muda itu mencari kesegala arah keberadaan sang cucu.
"Itu Paaaa.... ih, Kenzie dan Adek melakui hal jorok." kata Aisyah sambil menunjuk-nunjuk Kenzie lalu bercakak pinggang.
"Hal jorok apa sih?" tanya Adnan dengan bingung dan menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu menatapi Mariana.
"Nggak jorok kok." bantah Kenzie. "Aku hanya ciumi sekujur wajah istriku."
suara tangisan bayi membuyarkan suasana tegang diruang makan itu. dengan cemberut Chiyome meninggalkan ruangan menuju ke kamarnya untuk menenangkan putranya. Kenzie menatap jengkel kearah Aisyah.
"Alaaaa... kakak masih pagi sudah bikin keributan saja. tuh, Saburo bangun,kan?"
"Tapi kenapa kamu jilati wajahnya Adek sih?" tegur Aisyah dengan wajah kesal. "Kan kakak jadi jijik melihatnya."
"Sudah kubilang aku nggak jilati Chiyome." tandas Kenzie. "Kalaupun iya, dia kan istriku. mau aku bikin apa kek terserah aku dong!"
tak lama kemudian Chiyome sudah bangun memondong Saburo yang sudah bergerak aktif dalam pondongan ibunya. wajah ibu belia itu sudah bersih. mungkin dia sudah membersihkan wajahnya tadi dikamar. Kenzie mendekat lalu mencium istrinya.
"Hubby berangkat dulu Wiffy." kata Kenzie ijin pamit.
Chiyome tersenyum lebar memamerkan seringai gingsulnya lalu mengangguk pelan. "Hati-hati dijalan, Hubby..."
Kenzie mengangguk. pemuda itu menatap putranya. "Saburo, Papa pamit dulu ya?" kata Kenzie dengan gaya lucu. bayi berusia 3 bulan itu tertawa bereaksi atas kelakuan ayahnya.
Kenzie menegakkan tubuh lalu memandang kedua orang tuanya. "Pa, Ma.... ken berangkat dulu. besok, Ken ngantor lagi ba'da dhuhur."
"Lho.... Ken... ini kan bukan hari Kamis." kata Adnan mengingatkan.
"Tanggung jawabku besar Pa. aku nggak mau main-main." jawab Kenzie membuat Adnan terpana dan menatapi Mariana.
Kenzie tak memperdulikan lagi mereka. ia melangkah santai meninggalkan ruangan. tak lama kemudian terdengar suara derum motor gede milik Kenzie yang terdengar menjauh pertanda siswa itu sudah berangkat ke sekolah.
Adnan menatapi Mariana. "Kayaknya Papa akan segera pensiun dan hanya bertindak sebagai penasihat saja, Ma. ucapannya tadi membuatku berpikir untuk segera menyerahkan posisi presiden direktur kepadanya. aku terkesan dengan ucapannya tadi Ma. anak iru nggak main-main."
Mariana menatap Chiyome. "Adek doktrinin apa sih sama Ken-ken? nggak biasanya dia begitu lho." selidik Mariana.
__ADS_1
"Nggak kok Ma.... Adek nggak pernah tuh kasih doktrin apapun sama Hubby. mungkin karena merasa bahwa ia sudah memiliki anak, makanya jiwa kebapakannya muncul dan rasa tanggung jawab itu memaksanya untuk meninggalkan kelakuan gaya remajanya." kata Chiyome.
Mariana mengangguk-angguk. wanita itu menatap suaminya. "Anak lelaki kita kayaknya sudah sangat dewasa pemikirannya." tatapannya kemudian beralih ke Aisyah. "Kayaknya Kakak kalah nih..." Goda Mariana.
"Ih, Mama apaan sih? mau bandingin Kakak sama Adek? nggak level ya..." ujar Aisyah dengan cuek melangkah ke dapur.
Chiyome sejenak menatap Aisyah lalu Mariana. "Mama... jangan gitu dong. tuh Kakak kesinggung... " tegur Chiyome.
"Sini, Sandiaga biar Neneknya yang peluk." pinta Mariana. Chiyome mengulurkan bayinya kepada Mama mertuanya.
Mariana kemudian tersenyum. "Sandi sama Nenek saja ya? Mamamu lagi sibuk tuh. lihat..." tiba-tiba tangan Mariana terulur dengan cepat mencubit hidung Chiyome.
"Aauuughhh... sakit Ma!!!" jerit Chiyome sambil memegang hidungnya yang dicubit dengan kedua tangannya dan menatapi ibu mertuanya dengan kesal. anehnya sang bayi tertawa riang melihat ibunya dicubit. Chiyome hanya tersenyum masam.
tak lama Aisyah muncul mengenakan pakaian mandi. Chiyome menjajarinya.
"Kakak mau kuliah? Adek antar ya?" rayu Chiyome.
"Nggak. nggak usah... urus saja mama..." jawab Aisyah dengan wajah keruh. Mariana hanya tersenyum geli sambil memondong cucunya. Adnan hanya menggelengkan kepala.
Aisyah membanting pintu, membuat Chiyome kaget dan perlahan menatapi Mariana dan Adnan yang menggelengkan kepala. dengan lesu ibu muda itu kembali mendekati Mariana dan hendak mengambil bayinya namun Mariana menolak.
"Sandiaga sama Mama saja dulu. tuh Adek antarin Kakak sekalian mencairkan suasana canggung tadi." kata Mariana.
"Laaa... Mama yang bikin kok..." sambung Adnan.
Mariana menatapi Adnan dengan tatapan kesal membuat Adnan hanya menarik napas panjang lalu mengangguk.
"Papa mandi dulu dah. sudah telat ke kantor tuh." ujar Adnan bangkit melangkah ke dapur.
"Ma... titip Saburo ya?" pinta Chiyome.
Mariana mengangguk lalu mengisyaratkan Chiyome untuk bersalin pakaian agar bisa mengantar Aisyah ke kampus. segera ibu muda itu bangkit setengah berlari ke kamarnya. tak lama kemudian ia muncul mengenakan kaos hitam merk Fila dan celana kain lebar mirip hakama. sepasang kakinya terselip sandal pesiar.
bersamaan dengan itu, Aisyah muncul mengenakan gamis panjang dengan khimar sepanjang lutut berwarna hijau gelap. ia melangkah mendekati Mariana.
"Ma... Ais pamit..." kata Aisyah kemudian mencium tangan Mariana lalu mencium pipi ponakan kecilnya.
"San... Bibi kuliah dulu ya...." kata Aisyah sambil tersenyum lucu. sang bayi membalasnya dengan tertawa aktif.
Aisyah tertawa dan sejenak kemudian memasang wajah keruh ketika menatap Mariana. ia langsung berpaling dan melangkah cepat meninggalkan ruang keluarga. Mariana hanya menahan tawanya, menahannya sekuat mungkin agar Aisyah tidak tersinggung.
wanita itu mengisyaratkan Chiyome untuk mengejar kakaknya. dengan sigap, ibu muda itu melakukannya. ia mendapatinya menuju gerbang. Chiyome langsung memintasnya.
"Kakak, Adek antar ya?" pinta Chiyome.
"Nggak usah. Kakak harus segera pergi. bisa terlambat kuliahnya." kilah Aisyah.
"Tapi Adek antar ya?" rengek Chiyome dengan memelas.
"Nggak usah.. deeek" jawab Aisyah dengan pelototan mata.
Chiyome tak kurang akal. ia menggunakan cara terakhir. intimidasi.
ibu muda itu langsung mencabut salah satu jeruji pintu gerbang dengan mudah dan menatapi Aisyah dengan senyum manja.
"Adek antar Kakak ya??" pinta Chiyome langsung mematahkan sebatang jeruji itu dengan gampang.
dengan terpaksa karena melihat sang adik serahimnya memamerkan kekuatan fisiknya, Aisyah mengangguk. Chiyome menjerit senang lalu berlari kearah mobilnya diikuti oleh Aisyah.
taklama kemudian mobil itu menderum lalu menuju jalan raya. Dengan tangkas Chiyome mengemudikan mobil tersebut, mengantar Aisyah menuju kampus UNG.
__ADS_1
setelah Aisyah pergi, barulah Mariana tertawa lepas dan menatapi cucunya yang juga tertawa.
"Uyong... Bibimu lagi dilanda cemburu, merasa nenek mengesampingkannya karena ibumu..." setelah itu, Mariana kembali tertawa lepas. []