
liburan semester kali ini agak beda dari sebelumnya. kemarin-kemarin libur cuti idul Fitri yang seyogyanya dinikmati, dengan segala pertimbangan dialihkan oleh pemerintah ke akhir bulan Desember yang diselaraskan dengan cuti natal dan tahun baru. namun nyatanya kegembiraan itu harus kandas dengan terbitnya Surat Keputusan Bersama 3 Kementerian Nomor 744 tahun 2020, Nomor 5 tahun 2020 dan Nomor 6 tahun 2020 yang diterbitkan tanggal 1 Desember kemarin.
Kenzie yang kini bekerja sebagai salah satu pejabat di perusahaan PT. Buana Asparaga. Tbk juga merasakan imbas itu. keinginan untuk memanfaatkan waktu berkualitas dengan istrinya harus kandas. namun Chiyome selalu berhasil menghiburnya agar tidak mengeluhkan hal itu.
"Maunya Hubby kan kita bisa jalan-jalan ke Tokyo atau ke Shiga, jenguk Otoosan sama Okaasan. ah kenapa sih harus dibikin begini?" keluh Kenzie sambil meremas tisu dan membuangnya ke lantai dengan lesu.
"Kan kita bisa liburan di rumah. lagi pula liburan pada masa pandemi begini nggak enak. banyak protokolernya. Wiffy nggak mau kalau liburan kayak begitu." balas Chiyome.
"Wiffy dengar berita baru nggak?" pancing Kenzie.
"Apanya?" tanya Chiyome.
"Sekarang ini pemerintah lagi mengkaji sejauh mana cara lockdown kita terhadap Corona. kalau masih banyak yang tewas gara-gara virus keparat itu. ya, terpaksa sekolah daring lagi. ngantor ya WFH lagi. Hubby capek rumahan terus, kayak kita narapidana saja." gerutu Kenzie.
"Jadi maunya Hubby gimana?" tanya Chiyome dengan sabar.
"Hubby pingin bawa-bawa Wiffy sama Saburo keluar. refreshing.... Hubby nggak mau terperangkap dirumah terus. Hubby mau kita sama-sama menikmati suasana liburan." ungkap Kenzie.
Chiyome tersenyum. "Hubby... kita kemping saja ke Suwawa. disana kan ada Bapu Ridhwan. kita bisa nginap dan istirahat dimana. atau kalau Hubby mau, kita bikin tenda saja."
"Saburo?" tanya Kenzie.
"Kita bawa. kan Bapu Ridhwan bisa sesekali melepaskan rasa rindunya pada cicitnya." kata Chiyome.
perlahan senyum Kenzie merekah. "Oke deh. kita ajak Trias dan Ipah, boleh nggak?"
"Boleh saja. kalau mereka mau." jawab Chiyome.
Kenzie langsung sumringah dan menghubungi sahabatnya. tak lama kemudian, terdengar nada sambung.
📲 "Hallo assalamualaikum..." sapa Trias.
📲 "Wa alaikum salam. ini aku, bro." jawab Kenzie.
📲 "Iya, sudah tahu." balas Trias dengan jengkel. "Kenapa Ken?"
📲 "Aku mau kemping ke rumah Bapu Ridhwan. kau mau ikut nggal?" pancing Kenzie.
📲 "Boleh tuh. aku bosan dirumah. aku boleh ngajak Ipah?" tanya Trias.
📲 "Bpleh saja. tapi ingat bro. jangan nakal. belum halal kamu." olok Kenzie.
📲 " Tinggolopumu..." umpat Trias sambil tertawa dan memutuskan sambungan selulernya.
Kenzie mengangguk-angguk lalu tersenyum-senyum sendiri. Chiyome mendekat.
"Bagaimana?" tanya wanita itu.
"Trias mau. ia hendak memberitahukannya pada Ipah." jawab Kenzie.
Chiyome tersenyum lagi. "Kapan kita kempingnya?" tanya sang istri.
"Besok laaaaa....." jawab Kenzie dengan sumringah. "Nanti aku chat dia untuk bersiap-siap."
...******...
mobil yang ditumpangi empat sekawan itu melaju membelah jalan protokoler yang memanjang ke timur. Trias duduk didepan disamping Kenzie yang mengemudikan mobil, sementara Chiyome dan Syarifah duduk dibelakang. Chiyome sementara melatih putranya supaya berdiri dipangkuannya. sementara Syarifah menatapi sang bayi dengan wajah berbinar, seakan ia ingin juga memilik bayi. sesekali jemari lentiknya mencubit lembut pipi tembem bayi Saburo membuat sang bayi kembali berjingkrak-jingkrak gembira.
"Aktif sekali anak ini." tanggap Syarifah.
"Gaya papanya mungkin..." jawab Chiyome sambil menatap wajah suaminya lewat kaca spion besar dengan tatapan mengolok. Kenzie sekali lagi hanya tersenyum.
"Atau mungkin gaya ibunya nih." ledek Ipah.
"Apaan? aku semasa bayi nggak gini lho." balas Chiyome dengan sengit. " Okaa-San bilang aku adem. kayak Lady Shizuka di jaman Heian."
Trias menoleh ke belakang. "Mungkin kayak pamannya. Iechika."
"Iechika? ganteng nggak?" tanya Syarifah dengan tatapan mengolok kepada Trias, berupaya membuatnya cemburu.
"Nggak ganteng. jelek banget, macam wangubi." jawab Trias dengan spontan.
"Enak saja samakan adiÄ·ku dengan keukegen!" sembur Chiyome dengan sengit. "Bilang saja kamu cemburu karena Ipah pengen tahu gimana wajah tampan adikku."
"Lagian kenapa kamu promosikan adikmu? kalau Ipah benar-benar kecantol sama dia, gimana aku dong?" balas Trias menyembur.
__ADS_1
"Perempuan kan bukan cuma Ipah seorang. masih banyak diluaran sana!" balas Chiyome dengan sengit. sementara Saburo kecil makin berjingkrakan melihat ibunya dan abahnya bertengkar.
"Sudah, jangan bertengkar. nggak liat itu Saburo malah kelihatan senang kalian adu mulut." ujar Kenzie masih tetap mengemudi dengan tenang.
Ipah sendiri tertawa senang merasakan dirinya seperti rebutan antara dua orang itu. satunya hendak menyandingkannya dengan adiknya yang katanya rupawan, sedang satunya mempertahankan dirinya layaknya harta paling berharganya. sang gadis tersanjung.
"Sudah.... nggak usah bertengkar. hatiku hanya untukmu." kata Ipah menatapi Trias membuat pemuda itu tersenyum penuh kemenangan sedang Chiyome hanya memandangnya dengan tatapan mengejek.
"Alaaaaa.... kalau bukan pembelaan Ipah. mana ada cewek suka sama kamu?" olok Chiyome.
"Biar saja. aku nggak butuh perempuan. karena dihatiku sekarang hanya ada satu yang tak tergantikan.... dialah Syarifah Hamid... belahan jiwaku." balas Trias dengan kata-kata puitis langsung membuat Chiyome baper.
"Hubby!.... kau mencintaiku bukan?!" seru Chiyome.
"Tanpa syarat, Wiffy Lovely Dovely..." jawab Kenzie.
"Hah! suamiku mencintaiku tanpa syarat! bagaimana dengan cintamu sama Ipah?!" olok Chiyome setengah menantang.
"Cintaku tak terbatas untuknya!" jawab Trias dengan sengit. "Eh, cintanya padamu tak bersyarat, karena takut kau gebuki. kamu kan mons..."
BLETAKH!!!! AOGH...
Trias kaget sambil mengelus pipinya dengan cepat. ditatapinya Kenzie yang sementara mengemudi sambil sesekali menatapnya dengan pandangan sinis.
"Kenapa looo???" lolong Trias kesakitan.
"Kamu mau kusumpalin pelungku supaya gigimu yang berderet rapi di pematang gusimu itu ambrol?" ancam Kenzie.
Trias mengernyit. lelaki disampingnya mendadak terlihat bagai raksasa yang mau menelannya.
"Nggak... aku cuma mau bilang kalau Chiyo itu mons..."
PLAKKK.... UFFF...
sekali lagi Trias tak menyelesaikan kalimatnya karena bibirnya keburu ditampar oleh Kenzie.
"Masih mau jadi besanku, heh?" ujar Kenzie dengan lirih.
Kenzie menatapnya lalu membuang napas dan menggelengkan kepalanya berkali-kali kemudian kembali menatapi jalanan. Trias menatapi Chiyome.
"Kemarikan Saburo padaku. aku merindukannya. silahkan kalian berdua melanjutkan rapat paripurna sekehendak kalian." pinta Trias.
dengan kesal, Chiyome menyerahkan Saburo kedalam kedua genggamam Trias. pemuda itu dengan gembira menerima sang bayi yang kemudian didudukkannya dipangkuannya.
"Naaa.... Saburo, bersamalah denganku seharian ini. temani abah sampai tidur ya?" kata Trias sambil mengangkat-angkat tubuh Saburo.
tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi memasuki desa Tulabolo. pasar Suwawa sudah mereka lewati tadi.
makin kedalam. suasana terasa sejuk karena Suwawa merupakan daerah hijau. banyak pepohonan rimbun terhampar disamping hutan. mobil itu menyusuri jalanan tak beraspal. akhirnya mereka menemukan sebuah rumah gaya belanda.
rumah gaya belanda memang paling umum ditemukan di Gorontalo. bahkan sebagian arsitektur kota lama, di kecamatan Biawao terdiri dari gedung-gedung peninggalan belanda. tentu itu akan menjadi aset pariwisata yang unik selain s3bagai warisan budaya yang mesti dijaga dan dipelihara.
"Kita sudah sampai." kata Kenzie sambil membelokkan mobil ke halaman luas itu. sejenak mobil menderum dan Kenzie kemudian mematikan mesinnya. "Ayo turun." ajaknya.
bersamaan dengan itu, pintu rumah membuka dan seorang wanita parobaya muncul. melihat Kenzie yang muncul setelah membuka pintu mobil, wanita itu langsung berseru.
"Subhanallah... bo wala'u londo kota utiye... yi longola ja lo hindu mai? wonu mo na'o mai boyito bolo po hinduma'o asali ma po sambuti mai...." sambut ibu parobaya itu juga setengah menegur karena Kenzie datang tak memberi tahu.
(Subhanallah... hanya putraku dari kota yang datang... kenapa nggak kasih tahu? kalau ngasih tahu sebelumnya kan kami bisa menyambutmu.)
"Maaf Nek. sengaja. supaya nenek surprise." jawab Kenzie sambil memeluk dan mencium kedua pipi neneknya.
tak lama kemudian pintu mobil membuka dan keluarlah Chiyome, Syarifah dan Trias yang sedang memeluk Saburo. wanita parobaya itu menatapi ketiga orang itu.
" Tonu hialumu? wala'umu?" tanya wanita itu.
(Mana istrimu? anakmu?)
Chiyome maju memperkenalkan diri. bergaul banyak dengan keluarga suaminya membuatnya sedikit banyak memahami percakapan bahasa Gorontalo, meskipun lidah jepangnya sangat sulit mengejanya.
__ADS_1
" watiya.... hiariyo... tangguratiya... Chiyome." kata Chiyome mencoba memperkenalkan statusnya sebagai istri Kenzie. dibelakangnya Trias manahan tawa meskipun dicubiti oleh Ipah dilengannya menjaga Chiyome jangan sampai tersinggung.
lama juga wanita parobaya itu mencerna kalimat perkenalan dari wanita jepang itu hingga akhirnya ia memaklumi bahwa lidah 'r' milik Chiyome selalu mengacaukan percakapan bahasa gorontalo. wanita itu tersenyum.
"Adduuuuuhhh.... cantik sekali ya?" seru wanita itu dengan gemas dan menjulurkan jemarinya mencubit hidung Chiyome.
"Auugh.... sakit Neek..." jerit Chiyome langsung memegang hidungnya dengan kedua tangan dan meringis kesakitan. kini ia maklum bahwa gerakan itu ternyata merupakan tradisi keluarga.
Kenzie tertawa sambil memeluk Chiyome. pasalnya cubitan neneknya begitu keras membuat istrinya akhirnya menangis. pemuda itu membenamkan wajah istrinya didadanya.
"Sudah... Nenek cuma becanda. habisnya kan kamu cute. kayak manga gitu lho." hibur Kenzie.
wanita parobaya itu terkekeh langsung menyapu punggung wanita itu. " Aaaa.... katanya istrinya Kenzie orang jago. masa begini saja nangis?" ledek wanita parobaya itu.
" Anata no sobodenakereba... watashi wa kono on'nanoko o nagurimashita...." sedu Chiyome terisak-isak.
(kalau bukan nenekmu... sudah pasti kusakiti.)
"Ada nantinya berbuat hal macam itu. berhentilah menangis. nggak malu dilihat Saburo?" goda Kenzie.
Chiyome langsung menghapus air matanya. wanita itu menatap Kenzie. " Jikai wa kare o taosu koto ga deiimasu yone.... " ujar Chiyome dengan nada merengek.
(berarti dia bisa kuhajar lain kali.)
Kenzie tertawa lagi mendengar kalimat itu. wanita parobaya itu menatap Kenzie. " Wolo polele liyo?"
(Apa katanya?)
"Hahahaha.... hanya minta nenek jangan cubit lagi hidungnya. istriku selalu jadi sasaran cubitan Mama dihidungnya." jawab Kenzie.
wanita parobaya itu tertawa. " Nde ndali... masuklah..." ajak wanita itu. Kenzie mengajak ketiganya masuk.
memang selama ini Chiyome belum pernah diajak Kenzie mengunjungi kediaman Bapu Ridhwan. dan kedatangannya kesini langsung disambut cubitan hidung. Chiyome benar-benar tak menyangka. si wanita parobaya itu terus mempersilahkan mereka duduk diruang tamu sementara si wanita masuk ke ruangan berikutnya.
Chiyome menatapi ruangan itu. kental dengan arsitektur Gorontalo. ternyata Bapu Ridhwan merupakan keturunan mayulu, yaitu pasukan berseragam hitam yang menjadi pasukan inti kerajaan Gorontalo di abad 14. sebilah sumala tersampir di dinding ruangan itu.
tak berapa lama wanita parobaya itu membawa dua toples berisi biskuit curuti dan wafer belekoa. ia meletakkannya di meja dan menatapi 4 anak muda itu.
"Dinikmati dulu ya, penganannya. Bapu masih sementara dipanggil." kata wanita parobaya.
Kenzie menatap Trias dan Ipah. "Silahkan." ujarn Kenzie sambil menyandarkan punggung dikursi kayu.
sebenarnya menilik dari kehidupan keluarga Mantulangi, mampu-mampu saja membeli meubel yang bagus. namun kelihatannya pemilik bangunan ini mempertahankan orisinilitas semua dalam bangunannya termasuk pajangan dinding, ranjang, dan kursi-kursi yang sekarang diduduki Kenzie, istrinya dan 2 kawannya.
Chiyome mengambil Saburo dari pelukan Trias supaya pemuda itu leluasa mencicipi penganan yang disuguhkan oleh wanita parobaya itu. begitu juga dengan Ipah.
Trias menatapi Kenzie dan Chiyome. "Kenapa kalian nggak ikut makan?"
"Lho? kami termasuk tuan rumah ojjjjjjaaaaaanggg..." ledek Kenzie diiringi tawa Chiyome.
tak lama kemudian muncul Bapu Ridhwan. melihat Kenzie dan Chiyome, langsung ia berseru.
"Dua cicit kesayanganku! hahahaha bagaimana kabar kalian?" seru Bapu Ridhwan sambil mengembangkan tangan mendekati dua laki istri itu.
Bapu Ridhwan melihat Saburo dalam pelukan Chiyome. "Halo Raja Kecil? bagaimana kabarmu hah?" sapa Bapu Ridhwan.
sontak Chiyome menyerahkan Saburo kepelukan kakek itu. setelah mencium pipi Saburo, Bapu Ridhwan mendongak ke atas.
"Hei Mamoru!! lihat keturunan kita! dia dalam pelukanku sekarang! hahahaha... salahmu sendiri pergi tak bilang-bilang. kau tak bisa mengemong dia." setelah berkata begitu Bapu Ridhwan lagi-lagi menangis menyandarkan kepalanya ke kepala bayi itu. "Brengsek kau Mamoru.... seandainya kau masih ada.... tentu kita berdua yang akan melatihnya...." ujar kakek itu tersedu-sedu.
Chiyome kembali memeluk Bapu Ridhwan dan ikut menangis. " Ojiichaan... o nakanaide kudasai.... kanashikatta..." sedu ibu muda itu.
(jangan menangis kakek... kami jadi sedih..)
seakan memahami ucapan Chiyome, Bapu Ridhwan balas memeluk wanita itu. "Bapu sedih... anak ini sebenarnya akan jadi penguasa.... Bapu bisa mengintip sedikit nasibnya.... dia akan menjadi seorang jogugu... tapi... bagaimana bisa mempersiapkannya? Bapu bingung..." sedu kakek itu.
Kenzie mendatangi dan ikut memeluk Bapu Ridhwan. "Bapu nggak usah kuatir. kami berdua akan mempersiapkan anak ini. jika memang dia ditakdirkan sebagai raja kedepannya, maka kami akan siap melatihnya dan mendidiknya sebaik mungkin."
Bapu Ridhwan melepaskan pelukan Chiyome dan Kenzie lalu memperhatikan Saburo yang kelihatannya senang menyapu-nyapu rahang sang kakek.
"Boleh kupinjam Saburo sebentar? aku mau membanggakannya ke tetangga..." pinta Bapu Ridhwan dengan wajah jenaka.
"Tentu saja. tapi Bapu belum kenalan dengan dua temanku." kata Kenzie sambil menatap Trias dan Ipah.
Bapu Ridhwan menoleh. tatapannya menajam. "Hmmm.... sepasang pendekar.... apa maksud kedatangan sepasang pendekar ini? mengawal kalian?" tanya kakek itu kemudian menatapi Kenzie.
__ADS_1
"Kami datang mau berlibur. sekalian mau minta pengajaran kakek tentang Langga." jawab Kenzie.
Bapu Ridhwan tertawa keras tanpa sadar mengerahkan tenaga dalamnya. Kenzie dan Chiyome langsung mengerahkan prana mereka disekitar kepala dan dada. sedangkan Trias dan Ipah yang tak sempat menyiapkan diri terpaksa harus kelimpungan mengatur kekuatan tenaga dalamnya disekitar telinga dan dada. []