
suasana di ruang makan tak seperti biasanya. canggung dan kaku. Adnan sendiri menatap Kenzie dan mengangguk kepala juga dibalas oleh Kenzie dengan anggukan yang sama. pencipta suasana canggung itu hanya makan seadanya seakan memaksakan diri. Chiyome dan Mariana hanya berpandangan saja.
Aisyah, sangat kentara dalam aktifitasnya, menandakan ada suatu permasalahan yang terjadi. diruangan itu tak terdengar suara kecuali dentingan alat makan logam yang beradu dengan piring porselen.
selesai makan pun gadis itu langsung beranjak meninggalkan ruangan tanpa suara dan kembali mengunci diri di kamarnya. keempat orang itu saling berpandangan.
"Kakak kenapa ya? kok sejak pulang dari Poso, banyak diamnya?" tanya Mariana kepada Adnan yang masih mengunyah makanannya.
"Ya, mana Papa tau, Ma... perasaan wanita kan, Mama dan Adek yang tahu. kita laki-laki sendiri sering bingung dengan kelakuan kalian. ya, nggak Ken?" jawab Adnan mencari pembenaran lewat persetujuan putranya.
"Iya juga Ma... kayaknya Kakak ada masalah dan agaknya berat ia sampaikan." sambung Kenzie kemudian menatap Chiyome.
Mariana menatap Chiyome, "Adek bisa cari tahu? kalau begini terus, Papa sama Mama malah makin bingung. gimana kalau Ibumu tahu Kakakmu punya masalah? Mama lagi kan yang disalahkan?" ujar wanita itu memelas.
"Jangan dulu Ma. biar Adek cari waktu yang pas. kalau dia tiba-tiba muncul dan nanyain masalahnya. Aisyah sudah pasti langsung menutup rapat dan tak akan bicara sedikitpun." kata Adnan seraya meletakkan sendok dan garpunya diatas piring yang sudah kosong.
Chiyome mengangguk, "Nanti Adek cari waktu yang tepat. Mama jangan kuatir ya?" kata Chiyome kemudian menatap suaminya.
Kenzie menggenggam tangannya. "Jangan terlalu memaksakan Kakak untuk menjawab. Hubby tau Wiffy punya cara yang paling jitu untuk membuatnya bicara. tapi seperti kata Papa. cari waktu yang tepat."
Chiyome mengangguk lagi lalu kemudian membereskan meja bersama Mariana ketika kaum bapak dikeluarga mereka selesai makan dan bersiap melakukan kewajibannya, mencari penghidupan ditengah pandemi yang masih mengamuk.
"Ken, ikut dengan Papa saja ke kantor. sekalian saja kamu kerjakan tugas sekolah disana." kata Adnan. "Nanti kalau siang, biar Bakri yang handle job kamu."
Kenzie sejenak menatap Chiyome kemudian ia mengangguk. "Saya siang freejob ya Pah... nemanin Saburo... lama nggak main sama dia."
Adnan tertawa, "Oke deh. Papa ijinin."
"Mantap..." jawab Kenzie mengacungkan jempolnya.
...*********...
seharian ini, Aisyah tidak fokus dalam kegiatan perkuliahan online nya. beberapa kali ia mendapat teguran oleh dosen dalam pemberian materi kuliah lewat zoom meeting. gadis itu juga menjelajahi beberapa layar mini yang muncul dan hanya beberapa mahasiswa saja yang aktif termasuk dirinya meskipun gadis itu tidak dalam keadaan fokus karena terjegal oleh pikirannya sendiri tentang Stefan.
sejak sehari kepulangannya dari Poso, Stefan sudah tak menghubunginya hingga saat ini. apakah ia sengaja menghindar? atau mungkin sedang bernegosiasi dengan pihak keluarganya sendiri? Aisyah tidak tahu dan itulah yang membuatnya tertekan sama sekali hingga kehilangan minat untuk membina komunikasi dengan lingkungan sekitarnya, termasuk anggota keluarganya sendiri.
Aisyah tahu ia salah ketika mendiamkan mereka tanpa alasan yang jelas. tapi Aisyah tidak tahu harus bagaimana lagi untuk bersikap. ia telah lacur membiarkan komunikasi itu vakum dengan sendirinya.
gadis itu menjambak sendiri yang rambutnya yang ikal dan matanya mulai berkaca-kaca.
Van... kamu kemana sih saat ini. kamu nggak tahu kalau aku sekarang tertekan gara-gara kelakuan kita di Saluopa ... aku nggak tahu harus ngomong apa ke Papa... harus ngadu sama siapa??? aku takut Vaan...
Aisyah kembali terisak pelan berupaya agar suaranya tak keluar. tanpa disadarinya, dibalik pintu, Chiyome menguping tanpa mendekatkan dirinya ke pintu itu. kemampuan ninjutsu miliknya begitu tinggi hingga indranya begitu tajam tanpa harus mendekati sumber suara. wanita itu termenung.
apa yang sudah Kakak lakukan hingga segitunya bersikap tertutup. kalau begini terus, kakak bisa depresi. jangan-jangan kakak sudah....
Chiyome spontan menutup mulutnya. pikiran yang gila menyusup ke otaknya. apakah mereka sudah melakukan hubungan sebadan? jika itu masalahnya, maka jelas akan sangat murka sang Papa jika mendengar hal itu.
aku harus memastikan dulu. aku nggak mau teka-teki brengsek ini terpendam.
Chiyome beranjak meninggalkan tempat itu. ia menuju ke kamarnya. wanita itu meraih ponsel di meja kecil dekat boks bayi tempat Saburo bermain-main.
...*********...
Kenzie mengerutkan alis. tak biasanya pihak personalia berlaku seceroboh ini. namun jika harus menarik lagi putusan yang ada justru malah lebih nampak tidak kredibel lagi. pemuda itu membaca dokumen pegawai baru itu.
nama wanita itu adalah Puspita Kusmaratih, S.T. asal Subang, kelahiran 1998. sarjana teknik pertambangan konsentrasi pertambangan eksplorasi. memang akhir-akhir ini perusahaan membutuhkan orang-orang semacam ini untuk mengurusi pekerjaan eksplorasi emas di Pohuwato, namun Kenzie tak menyangka bahwa pelamarnya seorang perempuan. Kenzie menatap lagi foto pelamar tersebut.
sepertinya tatapan ini familiar benar.... dimana aku pernah melihat tatapan ini ya????
pikiran Kenzie yang mumet sedikit teralihkan oleh suara panggilan dari ponselnya. ia meletakkan dossier itu dimeja dan meraih gawai dalam kantong celananya dan melihat layar ponsel itu.
"Wiffy?" gumam Kenzie dengan bingung lalu menekan tombol aktif. terdengar suara sang istri.
📲 "Assalamualaikum Hubby..." sapa Chiyome
seperti biasa, suara sang istri mendinginkan otak Kenzie yang panas. pemuda itu tersenyum.
📲 "Wa alaikum salam... ada apa Wiffy? tumben masih pagi sudah main telponan saja. sudah rindu ya? ah suara Wiffy bikin hati Hubby makin ngaceng nih." goda Kenzie.
__ADS_1
📲 "Isssyyy... yang begituan jangan dibahas dikantor dong." balas Chiyome membuat Kenzie tertawa. wanita itu menyambung lagi, "Hubby.... bisa minta bantuan, nggak?"
📲 "Apapun demi Wiffy, selalu Hubby okein deh..." jawab Kenzie spontan.
Kenzie sejenak mendengarkan penuturan Chiyome. perlahan senyum dibibir pemuda itu memudar berganti dengan kerutan. lama pemuda itu terdiam.
📲 "Wiffy yakin dengan dugaan Wiffy?" tanya Kenzie sambil menarik dasinya, melonggarkan jepitan kerah kemejanya yang menjepit leher.
📲 "Makanya Wiffy minta bantuan Hubby supaya ini bukan lagi sekedar dugaan." jawab Chiyome.
📲 "Okey, bantuan jenis apa yang bisa Hubby berikan?" tanya Kenzie.
📲 "Cari tahu alamat orang itu. bagaimanapun caranya." ujar Chiyome.
📲 "Okey. akan Hubby lakukan. tapi ingat! Wiffy jangan melakukan tindakan apapun. tugas Wiffy adalah memberi penguatan moril. Kakak sementara tertekan sendiri dengan perbuatannya. bisa, Wiffy?" pinta Kenzie.
📲 "Oke Hubby, akan Wiffy lakukan. Wiffy juga mau mengorek semuanya dari Kakak secara pribadi. satu lagi Hubby. jangan ceritakan ini sama Papa dan Mama! wakarimasu ka? " pinta Chiyome
📲 " As your wish, baby...." jawab Kenzie kemudian menyimpan kembali gawainya ketika sang istri memutuskan sambungan seluler.
Kenzie merebahkan punggungnya disandaran kursi kerjanya yang tinggi. pemuda itu mendesah sejenak.
Kak Ais... kenapa kau seceroboh itu???
pemuda itu kemudian menggelengkan kepalanya dan memajukan tubuhnya. tangannya terulur menekan tombol setelah mengangkat gagang telpon. terdengar bunyi panggilan diterima.
📞 "Panggilkan Nona Puspita ke ruanganku!" ujar Kenzie kemudian meletakkan gagang telpon kembali ke tempatnya.
tak lama terdengar ketukan dipintu. Kenzie menengok sejenak kemudian kembali asyik membaca data dalam dossier itu.
"Masuk!" panggil Kenzie.
pintu membuka dan masuklah seorang wanita berkulit putih mirip perempuan kaukakus. kulitnya putih kemerahan. tatapan matanya jeli. hidungnya bangir dan bibirnya sensual.
"Selamat Pagi Pak. apa Bapak memanggil saya?" tanya perempuan itu.
Kenzie sejenak mencuri pandang kearah wanita itu kemudian menatap lagi dossier tersebut.
wanita itu duduk dengan santun sementara Kenzie meletakkan dossier itu di mejanya. ia kemudian melipat tangannya di meja dan menatap perempuan itu.
hmmm.... cantik juga... astaghfirullah... apa ini... Ya Allah... ampunilah daku...
Kenzie menghela napas. "Apa yang membuat anda tertarik bergabung dengan kami?" tanya Kenzie kemudian berdiri lalu melangkah menuju dinding, mengamati pemandangan diluar gedung melalui jendela yang terbuka. "Maaf jika aku terkesan mempersulit dirimu. namun sebagai penanggung jawab bagian HRD, aku harus bersikap seperti ini.
Puspita menunduk sejenak ketika Kenzie mempertanyakan motifnya bergabung dengan perusahaan tersebut. ia mengangkat wajahnya dan memasang senyum confident. "Saya meyakini karir saya akan cemerlang jika berada di perusahaan yang tepat." jawab Puspita.
"Jadi kau menganggap bahwa perusahaannku, adalah tempat yang tepat untukmu?" pancing Kenzie.
"Itu menurut perspektif saya sendiri." jawab Puspita dengan mantap.
Kenzie mengangguk-angguk. ia kemudian mengangkat alis dan bahunya kemudian menatap Puspita.
"Baik. ku ucapkan selamat bergabung diperusahaan ini. aku harap kau bisa memberikan prestasi yang terbaik." kata Kenzie sambil mengulurkan tangan.
Puspita kemudian tersenyum dan mengulurkan tangannya menjabat tangan sang pimpinan HRD tersebut. Kenzie mempersilahkannya untuk meninggalkan ruangan. sepeninggal perempuan itu, Kenzie mengerutkan alisnya.
ya aku yakin... tatapan itu pernah kulihat sebelumnya... tapi, aku lupa.. dimana... issyyyy.... kenapa otakku jadi blank begini ya???
tak lama kemudian pemuda itu kembali terperanjat.
wadduuuhhhh.... aku kan disuruh Wiffy untuk melacak orang itu?... issyyyy ... dasar pikun!
Kenzie mengumpat -umpat karena tahu kesalahannya. segera ia meraih ponsel dan mengaktifkan pemanggi. tak lama kemudian ia menyetel suaranya agar tidak terdengar.
📲 "Assalamualaikum, Om Endi..." sapa Kenzie
📲 "Wa alaikum salam. kenapa nak? kau mau bincang-bincang dengan Trias?" tanya Endi.
📲 "Oh, Trias bantu-bantu Om di pasar ya? nantilah aku bicara dengan dia. saat ini aku perlunya sama Om." kata Kenzie.
📲 "Oh begitu? okelah nak. apa yang kau perlukan dari Om?" tanya Endi.
__ADS_1
📲 "Om punya koneksi orang di UNG nggak?" tanya Kenzie.
📲 "Ada, dia kerja di administrasi. memangnya kenapa?" balas Endi.
📲 "Sangat kebetulan. boleh nggak minta temannya Om untuk cari data tentang Stefan?" Kenzie memberitahu nama dan alasannya tanpa membeberkan perbuatan lelaki itu pada Aisyah.
📲 "Oke deh, nanti Om coba. semoga saja berhasil." jawab Endi.
📲 "Triasnya mana Om? saya mau bicara." pinta Kenzie.
tak lama kemudian terdengar suara duda muda itu.
📲 " Kenapa Ken?" tanya Trias.
📲 "Kamu masih mengasah kemampuan hackingmu, kan?" tanya Kenzie.
📲 "Tentulah.... aku kan punya laptop baru. semua aplikasi hacking sudah kusumpal dalam memory laptop tersebut. memangnya kenapa?" balas Trias.
📲 "Bagus. aku ingin kau mencari data lain tentang perempuan bernama Puspita Kusmaratih, S.T. sama kamu. nanti ku kirim file nya. soalnya aku curiga." kata Kenzie.
📲 "Kamu curiga? memangnya ada apa dengan perempuan bernama Puspita Kusmaratih itu?"
📲 "Pokoknya kalau kau melihatnya, kau akan paham sendiri mengapa aku jadi langsung mencurigainya. kalau kau bisa stalking dia, syukur sih. asal jangan kesambet sama dia. nanti Ipah putusin kamu." kata Kenzie.
📲 "Kamu nggak usah kuatir. aku juga pasti diskusikan hal ini dengan dia. supaya dia nggak salah paham." jawab Trias.
📲 "Aku lega kalau begitu. aku minta tolong ya?" pinta Kenzie.
pemuda itu kemudian memutus sambungan seluler. ia kemudian membuka laptop dan mengakses data pegawai perusahaannya. di ketiknya nama 'Puspita Kusmaratih' pada papan search. portofolio wanita itu muncul. Kenzie dengan cekatan mengirimkan file wanita itu ke Trias melalui jaringan internet.
akhirnya pemuda itu kembali menyandarkan punggungnya disandaran punggung kursi kerja. ia mendesah kemudian mengangkat tangan melihat waktu pada arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Aaaa.... sudah siang. sebentar lagi waktu dhuhur tiba. aku harus bergegas pulang. aku sudah tak sabar bertemu istriku yang menggemaskan." gumam Kenzie sambil melipat laptop dan memasukkannya ke tas lalu bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan.
pemuda itu melangkah menyusuri koridor dan sesekali menyapa karyawan yang berpapasan dengannya. ketika tiba di lobby, ia melihat Puspita sedang bicara dengan pihak resepsionis.
"Pak Kenzie... " panggil wanita itu.
Kenzie terpaksa berhenti dan membalik menatap Puspita yang sementara berlari kecil mendapati dirinya.
"Ada apa Kak Pita? boleh aku memanggil anda begitu? soalnya anda lebih tua dari saya." tukas Kenzie dengan santai meskipun ia merutuk karena sempat dihentikan langkahnya oleh perempuan itu.
"Boleh saja." jawab Puspita dengan senyum manisnya membuat Kenzie langsung memalingkan wajah pura-pura menatapi arloji di pergelangan tangannya.
"Bapak sibuk ya?" tanya Puspita.
Kenzie mengangkat wajah dan menggeleng. "Nggak juga. tapi iya.. sedikit." ujarnya. Kenzie sendiri bingung kenapa ia menjadi gagap begini.
"Soalnya saya baru saja ditugaskan menjadi sekretaris anda. itu yang hendak saya kabarkan saat ini kepada anda." kata Puspita.
mata Kenzie melebar. "Kata siapa?!" tanyanya dengan nada meninggi.
Puspita sejenak kaget lalu menjelaskan, "Saya baru terima SK dari presdir, Pak Adnan."
Kenzie tak jadi melangkah justru langsung berbalik kembali melangkah menuju lift khusus pejabat perusahaan. ia masuk setelah menekan tombolnya.
Kenzie merasa lift itu bergerak lambat sedangkan ia ingin segera menemui ayahnya untuk meminta penjelasan. tak lama lift membuka dan Kenzie melangkah dengan cepat menyusuri koridor yang menuju ke ruang kerja presdir.
Kenzie menemukan pintu kaca dengan dengan papan nama dari fiberglass tertulis 'PRESIDEN DIREKTUR (Chief Executive Officer)' nampak disana Adnan sementara menelpon entah siapa.
bergegas pemuda itu berdiri didepan pintu kaca yang kemudian membuka secara otomatis. Adnan melihat kedepan ketika Kenzie masuk.
"Pa... jelaskan dengan lugas, apa maksud Papa menempatkan perempuan yang entah darimana tiba-tiba muncul dan diterima tanpa sepengetahuan saya, dan sekarang Papa menjadikan dia sekretarisku?" tanya Kenzie dengan suara meninggi.
"Kamu tenang dulu, Ken. perempuan itu punya skill yang baik. lagi pula dia paham tentang perusahaan kita. lagipula kan Bakri sudah jadi sekretaris Papa, ya kamu perlu sekretaris juga, kan? sementara terima dulu keputusan Papa..." kata Adnan.
"Pa... kalau cuma tau begitu, mending istriku saja yang jadi sekretarisku, Pa." timpal Kenzie.
"Yang ada kalian malah main-main dalam kantor." goda Adnan sambil mengisyaratkan jari-jari berpola mesum membuat Kenzie membuang napas kasar.
"Tenang saja. nggak akan terjadi apa-apa. nanti Papa yang bilang sama Adek, kalau kau takut membuatnya tersinggung." kata Adnan dengan santai.
__ADS_1
"Sudahlah... biar Ken yang diskusi dengan Wiffy. semoga saja dia mengerti dengan jalan pikiran Papa." omel pemuda itu sambil berbalik melangkah meninggalkan ruangan kerja. []