
Aisyah duduk santai diberanda samping, asyik memotong batang-batang kangkung yang akan dimasak hari ini. sedangkan Mariana tidak berada dirumah. ia sibuk pula dengan kegiatan sosialitanya bersama istri-istri tetangga yang sekasta dengannya.
sebagaimana orang yang dilahirkan dari kalangan orang berada ditambah lagi status sosialnya sebagai anggota salah satu keluarga terpandang di Gorontalo, Mariana tentu lebih nyaman berada dalam komunitas sosial yang sama derajatnya.
selebihnya ia menjaga jarak dengan orang-orang sebaya yang berada diluar golongannya, meskipun ia tetap menjaga etika dan perilaku dalam pergaulan umum.
keluarga Mariana adalah Mantulangi, termasuk dalam salah satu keluarga terpandang yang masih merupakan kerabat dekat raja-raja Suwawa. ia menikahi Adnan Lasantu yang keluarganya merupakan anak cicit warga bugis pertama yang tinggal di Gorontalo.
adapun marga Lasantu, bersama marga Balu, Soleman merupakan cabang keluarga Laiya yang menurut sejarah dulunya bertempat tinggal di Siendeng, pada abad ke 14. kata 'Siendeng' itu merupakan translasi bengkok dari nama salah satu kota di Sulawesi Selatan, bernama Sidenreng.
seperti dijelaskan didepan bahwa keluarga Mantulangi merupakan keluarga terpandang di Suwawa yang ikut serta dalam peristiwa penyatuan kerajaan yang disebut duluwo limo lo pohalaa ( 2 kerajaan besar yang terdiri atas 5 kerajaan kecil) yang menjadi dasar berdirinya Kesultanan Gorontalo pada awal abad ke 14.
Pohalaa sendiri sebenarnya hanya sebuah kerajaan yang didasarkan pada sistim kabilah (suku) yang kemudian dipersatukan oleh Raja Humalangi menjadi sebuah federasi kerajaan yang terbagi atas dua kerajaan besar yaitu Limutu (Limboto) dan Hulondalangi (Gorontalo) yang terus dijaga pada akhir kekuasaan Raja Detu.
Kerajaan Limboto dan Gorontalo terjebak dalam perang saudara ketika panglima kerajaan Gorontalo bernama Naha ingin menguasai wilayah utara milik kerajaan Limboto yang waktu itu dikuasai.oleh Hemuto.
perundingan diadakan dan mencapai kesepakatan oleh Banthayo Poboide (MPR dijaman dulu) bahwa wilayah selatan dalam hal ini Batuda'a dikuasai oleh Raja Amai yang kemudian menikahi putri dari Palasa sehingga mendapati gelar Olongia yo Tilaya.
sedangkan kerajaan utara dikuasai oleh Raja Podungge yang bergelar Olongia to Hulilayo.
hingga akhir masa kesultanan hingga pemerintahan kerajaan beralih ke republik, kedua wilayah ini tetap tidak lepas dari kutukan peperangan jaman lampau. sebagaimana yang tercatat dalam piagam kuno, bahwa perdamaian antara Limutu (Limboto) dan Batuda'a (Gorontalo) hanya bisa bertahan (damai) selama danau yang memisahkan kedua kerajaan ini belum kering.
dengan menyusutnya air danau Limboto, maka dimulailah perang gaya baru antara dua kerajaan tersebut. perang fisik berganti menjadi perang propaganda.
Ketika Bupati Gorontalo, Hi. Ahmad Hoesa Pakaya mendirikan menara keagungan yang arsitekturnya sedikit meniru menara eiffel di Paris, sebagai bentuk tantangan propaganda pada masa itu, maka untuk menjawab tantangan tersebut, Gubernur Gorontalo, Prof, Dr. Ir. Fadel Mohammad al-Haddar kemudian membangun istana gubernur diatas pegunungan selatan, meniru konsep Pantheon yunani yang mengisyaratkan bahwa para dewa (penguasa) bertempat tinggal diatas dataran tinggi.
saat ini, seluruh fam (nama keluarga/marga) di Gorontalo tercatat rapi dalam dokumen resmi di Universitas Leiden, Belanda.
sistim kasta itu akan sangat nampak ketika terjadi sebuah peristiwa, contohnya dalam acara lamaran. biasanya keluarga perempuan akan menyelidiki status sosial dari keluarga yang melamar. namun itu hanya menjadi kebiasaan lama. generasi baru sudah tak mengidahkan hal-hal semacam itu.
Aisyah tetap tekun dalam kesibukannya, ketika terdengar bunyi klakson kendaraan yang membuyarkan kesibukannya. seorang pria mengenakan seragam putih dengan logo PT. Pos Persero, dan bercelana hitam kelabu duduk santai disadel sepeda motor Cub bercat jingga. dua buah keranjang kain tergantung dibelakang sadel itu.
Ketika melihat Aisyah yang muncul dari halaman samping, pria berseragam itu meninggalkan sepeda motornya dan melangkah ke halaman membawa secarik surat yang terbalut sampul coklat mendekati Aisyah.
"Ada surat dari Poso, untuk anda." ujar petugas itu sambil memperlihatkan surat itu kepada Aisyah. gadis itu mengambil surat itu dan menandatangani nota besar. setelah kepergian pak Pos, Aisyah kembali kehalaman samping.
ia duduk disisi bangunan dan mulai membuka sampul surat kemudian mengeluarkan secarik kertas putih yang langsung dibuka dan dibacanya.
Lawanga, Poso, 14 juli 2019
Kepada anakda Aisyah.
Assalam alaikum wa rahmatullah wa baraqatuhu
bagaimana kabarmu anakku? semoga kau baik-baik disana. kami disini senantiasa baik. begitu juga dengan Halima. hanya saja hingga saat ini, Halima belum bisa merelakan kamu. namun apa boleh dikata, semuanya memang harus terjadi. namun percayalah kepada kami. cinta kami untukmu tak pernah habis karena 5 tahun bukan waktu yang singkat.
bagaimana dengan rumah barumu? bagaimana sikap Mariana padamu? katakan semua nak. supaya kami bisa menegur jika ada sebuah kekeliruan. kau adalah putri suaminya dan semestinya dia tahu statusnya sebagai perebut laki orang (pelakor) yang telah memisahkan kamu dari kedua orang tuamu.
sampai saat ini pun, kami tak tahu dimana ibumu bekerja. dia tak pernah kirim surat. hanya bicara lewat HP. namun kami bersyukur dia selalu memperhatikanmu.
kami masih punya uang hasil titipan ibumu. dia rajin mengirimkannya. buatlah rekening nak, nanti kami transfer semuanya sekalian kami bilang sama dia nomor rekening barumu. bukan apa-apa, kami takut karena itu bukan hak kami. kami nggak mau nanggung dosa mempergunakan hak kamu tanpa seijinmu.
__ADS_1
sudah mendaftar calon mahasiswa? semoga ujian masuknya nggak susah soalnya. tuntut ilmu dan kejar mimpimu. angkat derajatmu agar kau bisa disegani oleh penduduk bumi dan dicintai oleh penduduk langit. jangan lupa sholat, karena hanya itu bekal dan tempat curahan hatimu. jangan ceritakan hatimu pada manusia. jangan pernah meminta kepada makhluk. memintalah kepada pemilik seluruh makhluk.
sekian dulu ya, nak. dilain waktu, kami akan mengabarimu jika ada yang harus dikabarkan.
peluk cium dari kami.....
Hasnia wadipulu
Aisyah melipat surat itu sambil tersenyum. ia menyusut air mata karena sempat menangis tanpa sadar. surat itu disimpannya dalam kantung roknya dan gadis itu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
sebuah sapaan terdengar membuat ia menghentikan kegiatannya. disana Mariana sementara melangkah mendekatinya. Aisyah berdiri dan berlari menyambutnya.
"Kok Mama lama sekali. Aisyah sendirian disini." rajuknya dengan manja.
Mariana tertawa, "Dododododooo.... anak mama ini... baru ditinggal sebentar sudah macam anak ayam kehilangan induk saja..." goda Mariana sambil mengacak-acak jilbab Aisyah. wanita itu menaiki beranda samping diikuti oleh Aisyah yang memperbaiki jilbabnya karena sempat diacak-acak tadi.
Aisyah membawa loyang tempat kangkung kedalam rumah. Mariana menghempaskan tubuhnya ke sofa. Aisyah duduk dilantai samping sofa dan kembali mengiris batang-batang kangkung.
"Kapan ujianmu dilangsungkan?" tanya Mariana sambil mengipasi wajahnya yang berkeringat.
"Insya Allah, lusa Ma..." jawab Aisyah.
"Sudah yakin? Mama nggak mau kamu gagal,Nou..." pesan Mariana.
sapaan 'Nou' adalah nama panggilan untuk anak perempuan dalam bahasa Gorontalo dibagian timur. sedang panggilan untuk laki-laki adalah 'Uti'. untuk wilayah Gorontalo barat, terutama Boalemo dan Pohuwato, kata 'Nou' diganti dengan 'Pi-i' yang artinya 'putri kami'.
Aisyah mengangkat wajah dan tersenyum. "Insya Allah, Ma.." jawab gadis itu sambil bangkit menuju dapur membawa loyang berisi irisan kangkung yang akan dimasak.
"Nggak ada, Ma." jawab Aisyah sementara mempersiapkan wajan dan menyalakan kompor gas. ia menatapi ruang tengah. "Memangnya kenapa, Ma?"
"Temani Mama ke arisan ya? itu kalau kamu mau." pinta Mariana menyusul Aisyah ke dapur dan berdiri dibelakang menonton Aisyah yang sibuk mengiris bawang. wanita itu menyentuh pundak Aisyah. "Kamu mau, kan?"
"Kalau Mama yang ajak, saya mau..." jawab Aisyah berbalik sebentar kearah ibunya lalu kembali sibuk mengiris bawang fan mempersiapkan bumbu. Mariana ikut juga membantu putri sambungnya memasak sayur untuk lauk siang. gorengan ikan rencananya akan dimasak setelah memasak sayur.
"Acaranya dimana, Ma..?" tanya Aisyah.
"Mama mengadakan arisan dirumah ini, sebentar malam." jawab Mariana. "Jangan lupa percantik dirimu."
...********...
Chiyome asyik menyantap hidangan siang yang disuguhkan ibunya. gadis itu benar-benar lahap menghabiskan berbagai hidangan yang tersaji di meja itu. Kameie sendiri bahkan geleng-geleng kepala melihat kelakuan putrinya. Kameie menatapi putrinya.
"Fitri, lain kali jangan lagi kau memasak hidangan gaya kampungmu itu. lama-lama putri kita akan terlihat gembul nantinya." seloroh Kameie sambil menganggukkan kepalanya kearah Chiyome yang tetap tak perduli dengan sindiran ayahnya, terus menikmati hidangan itu. Fitri hanya bisa tersenyum saja.
Fitri Lasabang, bekas istri Adnan Lasantu. paska perceraian itu, ia mendaftarkan diri di Kementerian Tenaga Kerja sebagau TKW bersertifikat setelah menempuh berbagai pelatihan. Fitri memutuskan merantau ke Jepang dan bekerja dengan sangat tekun disebuah restoran. ketekunannya menarik hati pemilik restoran yang kemudian menaikkan jabatannya manjadi pengelola.
kepiawaian Fitri dalam mengelola restoran banyak menarik pemgunjung membuat pemilik restoran kemudian mempercayakan Fitri sebagai manajer utama. semakin meningkat jabatannya, semakin Fitri tenggelam dalam sholatnya dan semakin giat wanita itu bekerja.
di restoran itu pula, Fitri bertemu dengan Kameie ketika Fitri menjamu mereka dalam pertemuan resmi yang diselenggarakan di restoran tersebut. Kameie yang tertarik dengan prestasi Fitri, direkomendasikan sebagai sekretaris pribadi diperusahaan yang dipimpin oleh Tasuku.
__ADS_1
Kameie jatuh cinta kepada wanita itu seiring banyaknya pertemuan mereka dalam kegiatan harian maupun rapat perusahaan. Tasuku kemudian menikahkan Kameie dengan Fitri. mereka menikah secara islam di Masjid Kobe di Osaka.
meskipun memeluk agama islam, Kameie tidak lupa dengan ajaran leluhurnya yang sudah mengakar kuat dalam pribadinya. istilahnya, lelaki itu hanya islam KTP saja. Kameie, selain menggeluti dunia usaha, ia terjun pula dalam kegiatan bawah tanah.
dari hasil pernikahan Kameie dengan Fitri, lahirlah Chiyome dan lima tahun kemudian kebahagiaan lelaki itu bertambah dengan lahirnya Iechika.
Kameie tersentak dari lamunannya ketika mendengar Fitri menegur putrinya.
"Kau dengar itu nak? ibu tak akan lagi memasak makanan itu untukmu." sahut Fitri.
"Otoo-san! kenapa anda menghalangi selera makanku? semuanya itu takkan berpengaruh pada tubuhku. lihat, aku tak bertambah gemuk." bantah Chiyome mengembangkan tangannya. "Ayah bilang, kuah santannya mengandung lemak. ya, memang benar. tapi aku selalu mengeluarkan lebih deras dengan latihan keras setiap hari." kata gadis itu menggembungkan pipinya dengan kening berkerut.
Chiyome kemudian beringsut mendekati ayahnya lalu menghiba. "Kumohon ayah, biarkan aku menyantap hidangan kesukaanku itu. latihan hiden itu sungguh menguras tenagaku. seluruh energi rasanya berkurang sangat banyak." setelah menghiba, ia beringsut kembali ke tempatnya.
Kameie tertawa,"Jaga saja pola makanmu. aku tak mau pewaris perusahaanku adalah seorang wanita gendut dengan berat 100 kilo."
"Aku nggak mau jadi presdir..." jawab Chiyome dengan cepat.
Kameie tertegun mendengar penolakan putrinya. ada sedikit rasa marah dihatinya. Fitri sendiri juga diam, tak mau berkomentar apapun karena ia kenal benar watak suaminya.
sebagai lelaki yang dididik dengan keras diwarnai tata krama keluarga menjadi pribadi yang keras dan teguh. watak kerasnya menular kepada Chiyome, ditambah ia menjalani latihan fisik yang hampir tidak manusiawi.
Chiyome memang mewarisi darah ayahnya. keras, tegar, angkuh dan dingin, jika berada diluar lingkungan rumah dan kawan dekat ayahnya.
"Mengapa putriku tidak mau mewarisi peeusahaanku? berikan aku alasan yang logis agar ayah tidak akan memaksamu." tanya Kameie sambil tersenyum dan meletakkan sumpit disisi meja.
"Aku akan mendirikan perusahaanku sendiri. aku tak ingin berdiri dalam bayangan siapapun meski itu engkau sendiri ayah." jawab Chiyome dengan lugas. "Aku tak mau dibilang orang yang mengandalkan nama ayahnya. aku akan dikenal karena aku sendiri, bukan karena orang lain!" tandas Chiyome.
Kameie sekali lagi tertegun mendengar pernyataan putrinya. lelaki itu kembali tertawa. "Kau benar-benar putriku." pujinya.
"Suatu saat akan kau lihat tekadku!" tandas Chiyome sambil mengepalkan tinjunya keatas.
"Kapan kau akan mewujudkan keinginanmu?" pancing Kameie.
"Setelah aku tamat pendidikan, dan menyelesaikan ritual musho shugyo." jawab Chiyome dengan enteng seraya menyerahkan baskom yang sudah habis isinya. Fitri menyambut dan mulai membereskan meja. wanita itu bergegas ke dapur mencuci piring, membiarkan keduanya terlibat dalam perbincangan serius.
Chiyome tiba-tiba mencondongkan tubuhnya kepada Kameie. tatapan matanya terlihat serius dan dingin. "Aku harap, ayah akan mengabulkan permintaanku kali ini!"
Kameie mengerutkan keningnya dan mulai melipat tangannya didada.
"Permintaan apa?" tanya Kameie.
"Tapi Ayah janji dulu, mau mengabulkan permohonanku." kata Chiyome menarik tubuhnya menjauh lalu bersikap manja.
Kameie menarik napas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan.
"Kalau permintaanmu masuk akal, akan ayah kabulkan." jawab Kameie dengan mantap.
Chiyome tersenyum sejenak, kemudian merubah air mukanya lebih serius.
"Aku akan melanjutkan sekolahku di Indonesia." kata Chiyome dengan mantap.[]
__ADS_1