
Aisyah duduk tenang membwca sebuah novel di halte depan kampus UNG ketika seorang mahasiswa juga muncul dihalte lalu dengan santai tak berdosa langsung duduk disisi jilbaber tersebut bagai tak berbeban.
Aisyah dengan risih menggeser sedikit duduknya meluangkan sedikit ruang diantara mereka. jilbaber itu tak memperhatikan tatapan penuh minat mahasiswa itu kepadanya. Aisyah tetap diam dan fokus pada bacaannya.
"Kamu, anak sastra itu, kan?" tanya mahasiswa itu tiba-tiba.
Aisyah sejenak kaget dengan pertanyaan tersebut. ia mengangkat wajah dan menatapi si pemilik suara itu. seorang pemuda, berwajah chinese dengab kulit terang dan rambut hitam kecoklatan lurus menghias kepalanya.
mahasiswa itu mengenakan jas almamater merah maruun yang membalut kaos hitamnya. celana jins belel membalut kakinya bersama sepasang sepatunya yang stylish.
"I-iya..." jawab Aisyah dengan gugup.
mahasiswa itu langsung mengulurkan tangan hendak menyalami Aisyah. jilbaber itu perlahan mengulurkan tangannya pula menyalami mahasiswa itu. mungkin merasa risih, pemuda itu terus menyalaminya, jilbaber itu melepaskan tangannya.
keduanya terjebak dalam situasi canggung. mahasiswa itu melihat-lihat kondisi halte sedang Aisyah kembali menfokuskan diri membaca novel sambil terus meredakan debaran jantungnya yang tak mau berhenti. mahasiswa itu kembali mencuri pandang kepada jilbaber tersebut.
"Ada yang sedang ditunggu?" tanya mahasiswa itu lagi.
"Tidak juga." jawab Aisyah dengan singkat dan pelan.
"Oh...." gumam mahasiswa tersebut. "Namaku Stefan."
"Aisyah..." jawab jilbaber itu juga menyebutkan namanya.
mahasiswa itu mengurut dagunya. "Aisyah.... sepertinya aku kenal...." gumamnya sambil mengernyitkan dahi seakan berpikir. tiba-tiba matanya membelalak. "Ahaaaa.... aku tahu.... Aisyah itu... nama istrinya Mahomet..."
"Muhammad..." jawab Aisyah meralat penyebutan nama. wajah gadis itu mulai menampakkan ketidak sukaan. Stefan tersenyum.
"Terserah...." kata mahasiswa tersebut sambil mengangkat bahu. "Mungkin lidah saya yang kurang terbiasa menyebut nama-nama islam..." mahasiswa itu mendekatkan wajahnya sedikit kearaj Aisyah.
"Saya pernah 3 tahun hidup di Amerika." ujarnya pelan namun nadanya terdengar bangga.
"Aku nggak nanya juga." balas Aisyah.
Stefan tertawa, "Kamu ini rupanya lucu juga. aku suka."
Aisyah menatapinya dengan kening berkerut. "Tapi aku tak suka..anda asal-asal benar menyebut nama orang."
"Oh... kalau begitu maafkan aku, Aisyah." kata Stefan. "Hm, nama itu agak terlalu panjang. bagaimana biasanya kamu akrab dipanggil?" pancing pemuda itu.
Aisyah kembali menatapi pemuda itu. Stefan sendiri tetap memamerkan senyumnya yang dianggapnya begitu menawan. jilbaber itu menghela napas sejenak.
"Ais... panggil saja aku Ais." kata gadis itu kembali membaca berupaya tidak memperdulikan keberadaan Stefan agar pemuda itu menyerah dan meninggalkannya sendirian di halte tersebut.
namun nyatanya pemuda itu termasuk tipe orang yang tak mau menyerah. gadis itu membiarkan saja. dia tak berhak mengusir pemuda itu dari tempat tersebut.
"Panggil saja aku Evan...." kata pemuda itu.
Aisyah mengangguk tanpa memperhatikan mahasiswa itu membuat Stefan gemas sendiri.
"Bagaimana? apa yang kau anggukkan tadi?" pancing Stefan supaya gadis itu mau bicara.
Aisyah menghela napas lagi, "Makasih sudah memberi tahu namamu, Evan...."
"Terima kasih kembali, Ais..." balas Stefan. "Ais... nama itu indah, ya?"
jilbaber itu kembali menggeleng-geleng lalu menatapi stefan. "Van.... ini masih sore... gombalanmu itu tak mempan."
sogolan Aisyah membuat Stefan terkagum-kagum. sebuah sensasi aneh menjalari jantungnya. gadis ini .... aku harus bisa mendapatkannya.....
Stefan mengangguk, "Maaf jika kau berpikir, aku menggombal. mungkin kamu berpikir saya non muslim karena wajah chinnesse saya. Tapi benaran, Ais... aku orang islam kok."
"Aku nggak nanya agamamu apa..." kata Aisyah.
Stefan kembali dibuat gemas sendiri. pemuda itu mencabut dompet dari saku belakang celananya.
"Aku nggak mau kamu salah paham." kata Stefan sambil memperlihatkan KTP kepada jilbaber tersebut. Aisyah sendiri hanya melongokkan wajahnya melihat kartu tersebut lalu kembali sibuk membaca novel.
Stefan membuang nafasnya dengan kasar. gadis dihadapannya ini menguji kesabarannya. Aisyah mengangkat wajahnya menatapi Stefan.
"Aku nggak suka kau tatapi begitu. Aku bukan cermin." kata gadis itu sambil bangkit. pemuda itu juga bangkit.
"Maaf, mungkin perkenalan kita tidak berada dalam waktu dan suasana yang tepat. saya permisi dulu, saya hendak pulang." kata Aisyah.
"Bisa saya antar kamu?" tanya Stefan.
"Bukannya menolak. tapi saya biasa jalan sendirian." jawab Aisyah sambil tersenyum datar.
Stefan akhirnya mengangguk hingga Aisyah mwlangkah meninggalkan halte. ia menyetop salah satu bentor yang lewat dan meminta pengendara tersebut mengantarnya ke tempat yang diinginkannya.
sepeninggal jilbaber itu, Stefan tersenyum dan melangkah meninggalkan halte karena waktu sudah menunjukkan masuknya waktu Maghrib.
__ADS_1
...**********...
malam itu, tanggal 31 Desember 2019. semua umat manusia diseluruh dunia pasti akan menunggu momen paling bersejarah dalam perjalanan hidup mereka. sedetik demi sedetik jarum jam berdetak dengan pasti menuju angka 12 yang menjadi puncak tertinggi angka pada arloji, jam dinding maupun jam tempel yang berada didinding tugu perlombaan Telaga.
entah kenapa Iyun yang biasanya tenang kali itu merengek pada suaminya untuk membawanya pesiar-pesiar keliling kota. Trias kenal benar watak dan pribadi wanita yang sudah menjalani hidup bersamanya selama 6 bulan itu.
"Tak biasanya Mim begini, ....tapi, baiklah.... Pipi pikir Mimi mungkin ingin refresing, kan?" tebak Trias.
seketika Iyun mengangguk dengan senang. Trias mengangguk. "Kita gabung dengan bulenditi itu?" tanya Trias menyinggung Kenzie dan Chiyome.
Iyus menggeleng. "Nggak. aku hanya ingin kita berdua saja. aku akan mengenang perjalanan ini sepanjang hidupku."
kening Trias bertaut. mengenang perjalanan? apa maksudnya?
"Ayo dong.... ini akan jadi perjalanan paling bersejarah dalam hidup kita berdua..." rengek Iyun.
Trias mengangguk lalu masuk ke kamar bersalin pakaian. sang istri juga ikut berdandan. ia mengenakan pakaian terbaik yang ia beli di Ginza, Tokyo.
Trias sendiri yang menatapi dandanan Iyun yang tak biasa itu terpesona. "Wauw.... Mimi benar-benar cantik." puii Trias.
"Benarkah?" tanya Iyun mematut-matut dihadapan suaminya. "Kalau begitu, ayo kita berangkat!" ajak Iyun.
keduanya turun dari rumah. Trias menyalakan mesin motornya dan Iyun kemudian duduk manis di boncengan. tak lama kemudian mereka berdua telah melaju bersama kendaraan mereka membelah jalanan yang sudah sejak tadi dijubel oleh berbagai jenis kendaraan. jalan itu terasa macet.
"Ah, macet disini Pi.... kita cari jalanan yang nggak macet." kata Iyun.
"Kita mau kemana? ke Taruna saja ya?" kata Trias.
"Nggak! kita akan putar-putar Gorontalo ini. aku hanya ingin mengenang perjalanan ini karena nggak akan ada kesempatan kedua kita untuk bersama-sama seperti ini lagi."
DEG DEG DEG....
Yun... apa maksud perkataanmu itu?
perasaan Trias mendadak tidak enak. pemuda itu sebenarnya mulai enggan menyetir laju motornya.
"Pi! lajukan motornya!" pinta Iyun.
kendaraan yang mereka naiki melaju meninggalkan kota. perjalanan membelah kepadatan lalu lintas di jalan Ahmad Wahab tersebut menuju kota Limboto. pukul 11, mereka memasuki kota menara itu.
"Nggak, kita terus ke Isimu lalu memutar ke jalan menuju Batu Da'a, trus ke Raja Eyato,...." Iyun membeberkan rute yang wajib dilalui oleh Trias.
Trias mengangguk. "Pererat pelukannya Mi, Pipi mau ngebut !" kata Trias dengan cekatan memainkan tuas persneling dan gigi gir motor hingga sepeda motor itu melaju dengan lembut dijalanan trans tersebut.
mereka membelok ke jalan Sudirman hingga bertemu lagi dengan rute jalan trans menuju Isimu. Trias kembali melaju. ditengah perjalanan itu tiba-tiba Iyun nyeletuk.
"Pipi juga Mi...." balas Trias sambil memutar setang gas.
"Mimi harap Pipi akan tetap mencintai Mimi, meskipun kita tidak akan bersama lagi." timpal Iyun kembali.
SERRRRRRR......
perasaan Trias semakin tidak menentu. Yun... kenapa lagi kau bicara seperti itu?.... apakah..... ah...nggak, nggak... aku nggak mau membayangkannya...
mereka sudah tiba di perempatan Isimu. Trias membelok ke kiri lalu melaju kembali menyusuri jalan Batuda'a-Isimu. malam mulai semakin larut meskipun begitu terdengar suara-suara terompet yang ditiup oleh anak-anak yang rela bergadang hanya untuk menyambut malam pergantian ditahun 2020 itu.
tanpa mereka sadari segerombolan pengendara bermotor mengekori mereka. hingga kemudian mereka tiba dikawasan pasar Bongomeme, Trias kembali membelok ke kiri menuju jalan yang kembali menuju ke arah Kota Gorontalo.
keduanya dalam perjalanan memasuki desa Batuda'a ketika sekumpulan pengendara motor melaju mendahului mereka. kembali perasaan pemuda itu berdesir. tak pernah sebelumnya Trias mengalami hal seperti ini.
tiba-tiba dua pengendara motor melambatkan lajunya hingga posisi Trias berada ditengah, diapit oleh kedua pengendara tersebut.
"Apa yang mereka lakukan?" bisik Iyun. nada suaranya terdengar cemas.
"Pegangan lebih kuat!" pinta Trias.
pemuda itu langsung memutar gas dan kendaraannya kembali melaju meninggalkan kedua pengendara motor yang berupaya mengapitnya. keduanya terkejut kemudian langsung mengejar dan menjajari lalu mendahului lagi. Trias terkejut melihat beberapa pengendara motor yang sebelumnya mendahului mereka terlihat memalangkan sepeda motor mereka ditengah jalan.
"Tahede!!!!" umpat Trias dengan geram.
dengan terampil Trias memainkan tuas persneling dan mengatur kelajuan gir hingga mereka kembali melaju. beberapa jarak kemudian mereka mendekati barikade sepeda motor tersebut. Trias mengangkat dan menghentak setang motornya ke belakang bersamaan dengan ia menarik lagi gas.
sepeda motor itu melompat jauh bagai terbang menerjang melewati barikade yang sengaja dibuat sekelompok pengendara motor tersebut, dan mendarat dengan bagus diseberangnya.
"Keparat! kejar mereka!" seru salah satu pengendara bermotor tersebut.
"Pipi! apa yang akan terjadi pada kita?!" teriak Iyun dengan panik.
"Diam!!!" bentak Trias.
sepeda motor yang dikendarainya terus melaju sementara rombongan pengejar mulai menjajari mereka. dari kaca spionnya, Trias memandangi para pengendara yang membonceng mengeluarkan berbagai jenis senjata.
__ADS_1
Trias membatin, perasaan aku nggak ada masalah dengan orang-orang geng motor... mengapa mereka mengejarku?
Trias masih terus melaju dengan Iyun yang sudah ketakutan setengah mati mempererat pelukannya.
"Pipi! jangan-jangan mereka mau balas dendam atas teman mereka yang kalian jebloskan ke penjara karena narkoba!" teriak Iyun.
DEG !!!!
tentu saja!!!! pasti itu !!!
setelah merasa jarak antara dia dan pengejarnya sangat jauh, Trias melambatkan laju sepeda motor dan menepikan kendaraannya ke bahu jalanan. Iyun langsung meloncat dari boncengan kemudian Trias turun dan berdiri di sisi sepeda motornya.
beberapa saat kemudian para pengejar itu tiba dan menepikan kendaraannya tidak beraturan. mereka turun dari kendaraannya menenteng senjatanya sambil memperdengarkan sekehan tawa.
"Sudah lelah berlari, Heh?!" ejek pimpinan kelompok tersebut.
"Apa maunya kalian? aku nggak merasa punya urusan dengan kalian ini." kata Trias dengan perlahan memposisikan dirinya memperisai istrinya dengan tubuhnya.
"Apakah ini ada hubungannya dengan Burhan Lapananda?" tebak Trias lagi.
para pengepung itu tertawa sudah cukup membuat kesimpulan bagi Trias tentang maksud pengepungan ini. dengan cemas ia sesekali menatapi Iyun yang gemetaran memeluk kedua tangannya sendiri.
"Okey. Kalian berurusan denganku, tapi bukan dengan perempuan ini. biarkan dia dan mari kita selesaikan urusan ini secara jantan. kalian bisa?!" tantang Trias.
pimpinan geng motor itu mendengus. "Kali ini, polisi nggak akan bisa membantumu!"
Trias tertawa, "Aku nggak perlu polisi untuk mengalahkan kalian."
"Bagus!!" seru pimpinan geng motor itu mengisyaratkan kepada anggotanya maju menyerang Trias.
Trias berlari ke tengah jalanan agar para pengepung mengejarnya dan melupakan keberadaan Iyun disana yang sementara jongkok ketakutan disisi kendaraan Trias yang terparkir.
malam sudah senyap. keramaian terkonsentrasi ditempat-tempat tertentu karena 15 menit lagi malam pergantian tahun akan dirayakan.
Trias memasang kuda-kuda waspada sementara para pengepung mulai memutar-mutar senjata mereka dengan wajah beringas.
Trias tidak pernah khawatir menghadapi serangan meskipun itu merupakan tindakan pengeroyokan. Trias sudah matang dalam segala jenis medan dan pertarungan, apakah itu sebuah turnamen atau tawuran. pikirannya hanya terpusat pada Iyun. istrinya tak memiliki kaitan apapun dengan hal-hal yang terjadi padanya saat ini. ia khawatir kalau mereka menjadikan Iyun sebagai tameng kelemahan Trias.
Mimi.... hubungilah Kenzie... atau Chiyome.... please, Mimi..
Iyun sendiri menonton dengan ketakutan dan rasa cemas yang menguasai hatinya. seakan mendapat wangsit, ia segera merogoh saku dan mengeluarkan ponsel dan memencet nomor milik Kenzie....
...*********...
Kenzie sedang asyik menikmati hidangan bersama istrinya di Solaria, Citymall Gorontalo. seperti permintaan Kenzie, sang istri mengenakan kimono model hikizuri yang menjuntai sedikit kelantai. lukisan bunga menghiasi bagian bawah, lengan dan kerahnya. Chiyome sendiri menyanggul rambutnya dengan gaya shimada membuat penampilannya sangat mirip dengan geisha. ia menaburi bagian lehernya yang jenjang hingga ke bagian dekat dada dengan bedak beras. tak lupa kaos kaki tabi dan selop geta, membuat penampilannya sangat sempurna.
Kenzie sendiri mengenakan pakaian semi firmal jas hitam dengan kemeja yang dibuka kerahnya hingga ke dada. celana kain hitam membalut kakinya.
penampilan mereka, terutama Chiyome yang heboh benar-benar menyita perhatian pengunjung Mall Gorontalo. Kenzie benar-benar puas melihat penampilan istrinya malam itu.
"Berpura-puralah sebagai geisha, Wiffy... Hubby akan lebih tersanjung." ujar Kenzie dengan lirih.
Chiyome menutup mulutnya menahan tawa lalu berujar, "Anata wa nante nansensuda...Otoo-sama. " kata Chiyome meniru panggilan yang biasa disematkan oleh ibunya kepada ayahnya, kepada suaminya. (Ada-ada saja suamiku ini..)
Kenzie tertawa, "Hubby suka gaya Wiffy... rasanya ingin Hubby bercinta disini saja." kata Kenzie.
kedua mata Chiyome membesar, "Hah? Anata mo muchudesu..." omel sang istri tapi senyum terkembang membayangkan sensasi main cinta didepan khalayak ramai. (Sudah gila ya?)
"Lagi mikirin apa Wiffy? jangan mesum deh..." ledek Kenzie sambil menusuk daging dengan garpu dan mengirisnya.
"Anata wa henshitsu-shadesu..." balas Chiyome dengan senyum nakal. (Kamu tuh yang mesum).
tiba-tiba ponsel Kenzie berbunyi. pemuda itu berdecak kesal lalu mengambil gadgetnya dan menatapi layar. keningnya berkerut melihat siapa yang melakukan panggilan.
"Iyun? ngapain dia menghubungiku?" tanya Kenzie membuat Chiyome dilanda rasa ingin tahu. Kenzie menekan nada terima dan mendekatkan gadget itu ke telinganya.
📱"Halo, Assalamualaikum, Ada apa Yun?" tanya Kenzie.
📲 "Ken! tolong, Ken! Trias dikeroyok kawanan geng motor!!!" teriak Iyun. nadanya terdengar begitu panik.
Kenzie langsung berdiri dengan kaget.
📱"Apa?! dimana posisi kalian sekarang?! aku kesana sekarang!!" seru Kenzie.
📲 "Kelurahan Tabongo, jalan Isimu. capat Ken!!!!"
hubungan seluler itu terputus. Kenzie menatapi istrinya dengan nanar.
"Wiffy, sekarang hubungi Papa, suruh jemput! Hubby mau menyelamatkan laki-bini itu! Trias dikeroyok!" seru Kenzie.
"Shin'ainaru...tochu de chui shite kudasai..." (hati-hati dijalan, hubby). pesan Chiyome.
Kenzie mengecup bibir istrinya sekejap kemudian dengan langkah bergegas ia meninggalkan Chiyome sendirian. wanita itu mendesah kemudian merogoh hakesode (tas kantung) mengeluarkan ponsel kemudian menghubungi Adnan.
__ADS_1
tak lama kemudian terdengar nada terima panggilan.
📱"Halo, Pa... ada dimana posisinya? bisa jemput Chiyo disini... penting!!!" kata Chiyome kemudian memutus sambungan seluler. ia kemudian mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dan menaruhnya di baki pesanan.[]