Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 190


__ADS_3

Kenzie membangunkan Sandiaga. anak itu bangun mengucek-ucek matanya. ia menguap lebar dan merenggangkan tubuhnya. Sandiaga menatap ayahnya yang telah berpakaian rapi.


"Pa..." panggil Sandiaga.


"Ayo, nak. kita pulang." ajak Kenzie. "Mama sudah menunggu di Gorontalo."


"Tapi..." ujar Sandiaga dengan ragu dan malas.


"Sudah, jangan banyak tanya. ayo, sebelum Paman Iechika dan Kakek Ienaga bangun." desak Kenzie.


Sandiaga tak membantah. anak itu berkemas-kemas dan mengangkat ransel kecil. ayah dan anak itu perlahan menggeser pintu fusuma dan menyusuri lorong dengan mengendap-endap. mereka mengawasi sekitar hingga tiba di genkan.


"Papa... lihat." ujar Sandiaga dengan berbisik, menunjuk dua sosok lelaki berpakaian hitam yang berdiri di halaman. mereka bersenjatakan senapan AK 200 buatan Rusia.


Kenzie mengangguk dan menatap Sandiaga sambil menempelkan telunjuk ke bibir. Sandiaga paham akan isyarat itu.


Kenzie beranjak meninggalkan Sandiaga yang mendempetkan tubuhnya didinding lorong, sementara Kenzie mengendap-endap ke arah kedua lelaki bersenjata api itu.


BUK!! BUK!!


UHHHH.... UHHHH....


dua lelaki itu jatuh akibat hantaman keras mengejut, pada tengkuk oleh Kenzie. lelaki bercambang itu kemudian menatap tempat bersembunyi Sandiaga dan ia melambaikan tangannya. tak lama dari kegelapan lorong, menyeruaklah Sandiaga menggendong ransel keluar dari lorong dan menuruni genkan dan berlari dengan teknik karasu aruki hayagakejutsu gaya aliran Koga.


keduanya kemudian melangkah setengah berlari. Kenzie sama sekali tak membawa apa-apa selain dompet dan sebatas sepinggang saja. keduanya meninggalkan gerbang.


nun ditempat yang tak disadari oleh Kenzie, nampak Ienaga mengamati kepergian mereka berdua. dibelakangnya nampak Yasunori dan Yasuyori berdiri.


"Haruskah kucegat mereka di Haneda, ayah?" tanya Yasunori.


"Tidak. biarkan saja." jawab Ienaga. "Kita sudah melaksanakan permintaan Chiyome menyandera Kenzie dan putranya sehari penuh. tugas kita sudah selesai." kakek itu menatap kedua putranya. "Mari kita berdoa kepada dewa, semoga Chiyome bisa menegakkan hukum, membela keluarga, sebagaimana ia membela darah Koreyuki kepada musuhnya."


Ienaga kembali menatap gerbang kediaman Mochizuki. ia menghela napas.


Chiyome... aku mengandalkanmu, nak.


...*****...


Trias mengerahkan seluruh personilnya. lelaki itu sangat mengkuatirkan sahabatnya tersebut. Saripah hanya bisa memberikan penguatan secara moril.


"Bantu Chiyome agar tidak melakukan kezaliman. biarkan hukum yang akan melaksanakan tugasnya." kata Saripah.


"Tapi..." ujar Trias dengan pelan lalu menatap istrinya, "Entah mengapa, sisi lain dari diriku justru berharap Chiyome menghabisi bajingan itu." Trias menghela napas. "Sebagai penegak hukum, aku dituntut untuk profesional dan proporsional dalam tindakanku. namun, dengan melihat ketimpangan dan arogansi Stefan, aku mulai berpikir... lebih baik, aku mendiamkan saja hal itu."


"Apa tujuanmu menjadi seorang polisi, Abah?" tanya Saripah dengan lembut.


Trias menatap Saripah, "Untuk melestarikan kebenaran dan keadilan dimuka bumi." jawab lelaki itu dengan mantap.


"Jadi, Abah sudah tahu kan, konsekuensi dari tekad itu?" pancing Saripah.


Trias menghela napas. "Kau benar, Sayang."


"Chiyome adalah sahabat kita. tugas seorang sahabat sejati adalah berupaya mencegah jangan sampai sahabatnya berbuat kezaliman, meskipun itu untuk tujuan kebenaran." ujar Saripah menepuk pundak suaminya dengan pelan dan berulang-ulang. "Abah punya kekuasaan itu, karena Abah seorang petugas negara. seorang penegak hukum!"


Trias bangkit. "Kau benar! aku tak boleh larut dalam kerumitan persahabatan. kebenaran berada diatas segalajya, bersama keadilan." ia menatap Saripah. "Makasih Umma..."


Saripah tersenyum lalu mengangguk pelan. Trias dengan langkah mantap meninggalkan ruangan tersebut.


...******...


Stefan tertawa penuh kemenangan. ia, dengan dukungan salah satu pentolan Sembilan Naga, berhasil mempecundangi hukum ,memanfaatkan celah peraturan peradilan untuk bisa bebas melenggang kembali dengan pongahnya dihadapan umum.

__ADS_1


saat ini, sang lelaki itu menikmati aktifitasnya sebagai pejantan tangguh diantara betina-betina pelacuran yang disewanya untuk memuaskan hasrat pribadinya yang penuh bayangan erotisasi kecendrungan satiro-nympomaniak.


📲 "Jangan kuatir tuan. aku akan lebih meningkatkan ekspansi kita. Gorontalo sudah kita kuasai sepenuhnya dibawah kakiku. kita akan merambah daerah lain dan menyingkirkan pesaing-pesaing kita." ujar Stefan dengan jumawa.


📲 "Aku gembira mendengarnya. kuharap kamu tak akan mengecewakanku." jawab seseorang dibalik suara tersebut. "Aku sudah cukup menggelontorkan dana untukmu. aku ingin dana itu berbunga sekarang." desaknya. "Kupikir, sekarang kau harus punya metode untuk melebarkan sayapmu."


📲 "Tak usah kuatirkan itu, Tuan Chung." jawab Stefan yang membiarkan jemari kirinya meremasi kuat salah satu bongkah dada betinanya yang sedang memacu diatas tubuh kekarnya itu. "Semua terkendali sekarang. sebentar lagi, pundi-pundi kekayaanmu akan kembali bertambah. dan aku akan memberikan anda kekayaan yang lebih."


📲 "Aku suka tekadmu." jawab Mr. Chung. "Aku akan mengamati, sejauh mana kau membuktikan sesumbar jumawamu itu." terdengar helaan napas sejenak. "Kurasa, kedepan kau harus banyak bergerak bersama anak-anaknya Bubu. itu untuk tambahan keamananmu."


📲 "Itu bisa diatur nanti Tuan Chung." jawab Stefan dengan senyum, sementara ia membiarkan linggamnya dihujami terus menerus oleh bagian genitali wanita tersebut, sementara dua orang wanita lainnya sedang sibuk membelai dan menikmati buah pelirnya. "Pokoknya, anda tahu beres. semua berada ditanganku sekarang."


📲 "Baiklah... aku tutup sekarang." ujar orang itu.


pembicaraan seluler itu selesai. Stefan meletakkan gawai pada nakas dan kembali sibuk menyetubuhi ketiga wanita itu bergantian. tenaganya seakan tak pernah habis hanya untuk menumpahkan cairan susu kedalam bagian dalam tubuh dan permukaan kulit para betinanya. ketiga perempuan itu sendiri hanya menjerit dan mendesah kesenangan diperlakukan sedemikian rupa oleh Stefan.


"Aaaahhhhh!!!! menyenangkan!!!" serunya dengan gembira ketika menyemprotkan cairan saripatinya kesalah satu wanita tunggangannya itu. dan...


PRANGGGH!!!!!!


kaca jendela pecah dan menyeruaklah sosok berpakaian hitam menyandang pedang jenis gunto yang telah terhunus sepenuhnya. sosok itu berdiri tegak didepan jendela yang sudah tak berkaca lagi.


Stefan tersentak kaget dan ketiga wanita pelacurnya berteriak ketakutan namun langsung pingsan ketika ditembakkan dengan jarum tipis pada area tertentu oleh Chiyome. Stefan menatap sosok berambut kuncir itu.


"Siapa kau? jangan katakan kalau kau adalah pembunuh sewaan?" tanya Stefan dengan wajah tegang.


"Aku, Kembang Kematian... datang untuk menagih nyawamu!" seru sosok itu tiba-tiba memperlihatkan tiga keping shuriken dan melemparkannya kearah Stefan.


dengan sigap, Stefan langsung memperisai dirinya dengan salah satu pelacur yang kebetulan berada didekatnya.


JLEB! JLEB! JLEB!


tiga keping Shuriken itu menancap tepat dipunggung wanita itu dan ia langsung sekarat disebabkan racun yang berada dibilah senjata lempar itu merasuk langsung ke pembuluh darahnya dan memecahnya dengan cepat.


Stefan sigap mendorong tubuh yang mulai membiru itu. sedang dua wanita tadi menjerit ketakutan.


BRAKKKK!!!!


pintu menguak paksa dengan lebar dan beberapa lelaki bertampang seram bersenjatakan parang dan senjata tajam lainnya menyeruak masuk. Stefan mendesah lega.


"Ya, kalian! kepung perempuan itu. jangan ragu. taklukkan dia!" seru Stefan menunjuk-nunjuk wanita berpakaian hitam, bertopeng menpo, dan menyandang pedang jenis gunto.


setelah memerintahkan anak buahnya, Stefan langsung lari sambil membawa pakaiannya meloloskan diri, diikuti dua perempuan. salah satu pengawal itu menatap tiga keping shuriken yang menancap dipunggung pelacur yang sudah melepas nyawa tersebut.


"Edan!" umpatnya kemudian menatap si penyusup yang tak lain adalah Chiyome Mochizuki, Sang Kembang Kematian yang mengemban tugas membela nama keluarga, membersihkan angkara murka dan menegakkan keadilan dengan cara hukum rimba. mata dibayar mata dan nyawa dibayar nyawa.


"Jangan sia-siakan usia kalian hanya untuk membela lelaki itu." ujar Chiyome dengan nada pelan. "Aku tak punya urusan dengan kalian." tatapannya mencorong tajam, dirasuki oleh Kanso yang mengaktifkan teknik Karasu tengu no shisen dan langsung membuat setiap pengepungnya merasai sebagian keberanian mereka menguap.


sebagian pengepung itu sebenarnya sudah mulai kehilangan keberanian dan perlahan mundur jika saja salah satunya tidak berteriak.


"Taklukkan perempuan ini! jangan beri ampun. kita keroyok dia!" seru salah satu lelaki membuat keberanian mereka muncul lagi.


mereka mulai merapat mengepung Chiyome. sontak wanita itu langsung mengangkat pedang dengan gaya hasso no kamae seperti gaya Fudo Myo O menggenggam pedang surgawi. tindakan Chiyome tadi membuat pengepungnya sempat mundur melangkah.


"Jangan salahkan aku, jika memanen nyawa kalian yang tak berguna!" hardik Chiyome dengan suara datar serak dan berat.


"Serang!!" komando pimpinan pengepung tersebut.


serentak mereka merubung dan mengeroyok Chiyome. namun wanita itu tak gentar. ia seorang pakar membunuh. sejak belia telah dipersiapkan oleh Kameie dan Ienaga sebagai mesin pembunuh dan telah membuktikan reputasinya sebagai biang kerok paling menakutkan diseantero wilayah Kanto dan Tohoku. bahkan sejak itu, wilayah Kansai, terutama markas besar Yamaguchi memberi penghargaan tak resmi kepadanya sebagai tangan hukum klan yakuza tersebut. siapapun yang mendengar nama Chiyome, akan mengkerut ketakutan.


seorang pengepung telah melepaskan nyawanya setelah Si Penebas Angin merobek perutnya membusaikan usus yang jatuh kelantai. Chiyome bergerak lagi dengan teknik battojutsu, beberapa jurus telah dipraktekkannya dan satu persatu pengepung itu berjatuhan dengan tubuh buntung. dan Chiyome kembali menggerakkan Si Penebas Angin yang kemudian memisahkan kepala pengepung terakhir dari tubuhnya yang kemudian limbung, jatuh ke tanah.

__ADS_1


Chiyome memandangi hamparan bangkai para pengepung itu dengan nanar lalu mengibaskan bilah Si Penebas Angin, menyingkirkan sisa-sisa darah dari bilahan tajamnya. Chiyome dengan tenang meninggalkan ruangan tersebut.


...******...


Trias mendapat laporan tentang kericuhan di rumah kediaman Stefan. segera tim dan dirinya berangkat menuju alamat tersebut. ketujuh orang itu keluar dari Maung hitam milik Trias dan berlari menuju halaman yang kelihatan sunyi. tak ada siapapun disana.


keheningan membuat insting pemburunya meningkat. Trias yang curiga langsung mengeluarkan revolver Raging Bull kebanggaannya dari holster, membuat keenam kawannya juga berbuat yang sama.


mereka memasuki pintu yang terkuak daunnya, membuka lebar bagai moncong gua yang menganga memamerkan kegelapan didalamnya. Trias memandang Aldi dan Koko, mengisyaratkan keduanya masuk memeriksa keadaan.


dengan sigap, Aldi mengarahkan moncong MAG 4 kesetiap arah yang masuk dalam jangkauan pandangannya, sedangkan Koko juga mengarahkan moncong senapan SV-2, waspada penuh terhadap serangan dan pembokongan bersenjata.


setelah memastikan tak ada gerakan mencurigakan, Aldi memberi isyarat aman, maka masuklah segera seluruh anggota tim Pasopati termasuk Trias, memeriksa setiap lekuk dan bilik dalam bangunan itu.


Stephen yang pertama menemukan bilik pembantaian tersebut. ia mengerang membuat yang lainnya terpancing mendekat. mereka semua terperangah melihat pemandangan yang menggiriskan. tubuh-tubuh lelaki yang terpisah-pisah bekas ditebas oleh senjata tajam sejenis pedang.


Trias menarik napas panjang dan mendesah. dia sudah meramalkan kejadian itu berdasarkan kenyataan yang diletahuinya bahwa sahabatnya merupakan pentolan kelompok yakuza dan pembunuh dari Burhan Lapananda yang sampai sekarang dia bungkamkan selamanya.


Aldi tak tahan melihat suasana pembantaian itu, memuntahkan isi perutnya lalu keluar dari tempat itu dengan tertatih-tatih. ia lemas, tak menyangka, suasana dalam bilik itu sangat mirip dengan pemandangan pembantaian Poso diakhir desember 1998 sampai pertengahan desember 2001 tersebut. bayangan tubuh yang terpotong-potong itu memualkan dan memulaskan perutnya.


diluar, lelaki itu menarik napas panjang dan langsung meraung keras, menumpahkan kengeriannya. tak lama Stephen muncul.


"Kenapa kau?" tanya Stephen dengan wajah keruh. "Bro, jangan begitu. kau memancing kerumunan!" tegurnya.


Aldi menatap Stephen. "Kau melihat semuanya, kan?"


"Memangnya kenapa? kau belum pernah melihat tubuh tercincang-cincang?" tanya Stephen dengan alis berkerut.


"Bukan begitu." tampik Aldi. "Tapi, sadis benar pelakunya. apa perempuan itu memang sesadis itu?" ujarnya dengan lirih.


"Kan kau sudah dengar keterangan dari Trias. makanya dia kuatir sebab dia sudah bisa meramalkan apa yang akan terjadi jika Stefan bebas." jawab Stephen. "Aku juga menyesalkan sikap Pak Kapolres. kenapa beliau tidak menekan saja pengacara itu untuk tak membebaskan Stefan. setidaknya, emosi keluarga Lasantu masih bisa kita redam dan bujuk agar mereka tidak mengamuk." sesal lelaki jangkung itu.


tak lama kemudian Trias keluar dan bicara sambil memegang gawai.


📲 "Segera kirimkan tim puslabfor. saya mau semuanya clear hari ini." ujarnya kemudian memutuskan pembicaraan dan menyimpan gawainya. ia menatap kedua partnernya.


"Kalian sudah melihat jejak yang ditinggalkan Ny. Chiyome? itu yang dilakukannya kepada siapapun yang berani mengganggu keluarganya." ujar Trias membuat leher Aldi langsung meremang.


Trias memutuskan untuk menghubungi Kenzie. ia menghubungi sahabatnya tersebut.


...*****...


Kenzie meremas tangannya, memandang hamparan lautan Pasifik yang membentang luas saat pesawat jet pribadi itu mengudara diatasnya. sementara Sandiaga menatapi lautan itu juga dari kaca jendela pesawat itu.


ah.. ayolah, cepatlah sedikit... kok lambat sekali pesawat ini???


pesawat itu tidak melambat. namun pikiran Kenzie yang kalut membuatnya merasai waktu begitu lambat berjalan. kekuatirannya yang besar membuatnya seakan terlempar sendirian ke ruang hampa dengan itu ia merasai perjalanan waktu begitu melambat seakan menggoda bahkan mengejeknya.


Sandiaga menatap ayahnya. anak itu tak bicara sepatah katapun. baginya, riak wajah kuatir itu sudah membuktikan bahwa sang ayah begitu memperhatikan sang ibu. anak itu tak kuatir sedikitpun. ia hanya ingin cepat santai dan menemui kakek-neneknya untuk menenangkan mereka. sang ayah biarkan saja memacu diri berjudi dengan waktu untuk menemukan ibunya.


getaran gawai membuyarkan pikiran Kenzie yang gentayangan. ia mengeluarkan gawai itu dan melihat layar kemudian mengaktifkannya.


📲 "Ya, kenapa Bro?" tanya Kenzie.


📲 "Bro! gawat! Chiyo sudah beraksi!" seru Trias.


terdengar napas berat menghembus dari lubang hidung lelaki bercambang itu.


📲 "Kau menemukannya?" tanya Kenzie.


📲 "Chiyome? nggak! aku nggak sempat menemukannya. kami hanya menemukan jejaknya." jawab Trias dengan kuatir. []

__ADS_1


__ADS_2