
04 Januari 2020 pukul 10.00 WITA
seakan menjadi sebuah kesepakatan bersama. tanpa disangka siswa-siswi kelas 11F SMUN 3 Kota Gorontalo datang menjenguk Trias. sebagiannya membawa bingkisan untuk menghibur pemuda itu.
Trias Tertawa melihat berbagai penganan yang dibawa mereka.
"Aku nggak akan bisa menghabiskannya dalam sehari." ujarnya.
"Simpan saja." kata Daming. "Kau sampai saat ini masih punya hutang padaku!"
"Hah? hutang apa?" tanya Trias dengan heran.
"Bukannya kau dan Kenzie berjanji mengajakku mancing? kapan janji itu terealisasi? keadaanmu disini sudah cukup membuatku berhenti berharap kau akan menepatinya." ungkap pemuda ceking itu.
Trias tersenyum masam. "Jadi, bingkisan ini gratifikasi, nih?" sindirnya.
Daming tertawa dan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Fendi Modanggu mendekatinya. "Bagaimana keadaanmu? sudah mendingan, kan?"
"Mungkin aku bisa kembali besok. " jawab Trias. tak lama pemuda itu teringat sesuatu dan menatap ketua kelasnya.
"Kalian tidak ke pemakaman Inayah?" tanya Trias.
Fendi memandangi kawan-lawannya sejenak lalu menatapi Trias. pemuda itu mengangguk namun dengan agak sungkan.
"Kenapa?" tanya Trias merasa tidak enak.
"Kami semua hadir di pemakamannya. hanya saja suasana jadi canggung. anak-anak kelas 11A menatap begitu sinis kepada kami. apalagi saat ini isu sesat itu masih menggelayuti cuaca disekolah..." jawab Fendi Modanggu dengan senyum kecut.
Trias ikut menghela napas dan membuangnya dengan kasar. "Bisa jadi begitu.....
"Bagaimanapun, kau punya tanggung jawab besar untuk membersihkan namamu." tandas Fendi.
"Itu sudah kewajibanku!" balas Trias.
Fendi balas mengangguk. kini giliran Tirta Mahipe menuturkan beberapa materi pelajaran yang tak sempat diikuti oleh Trias akibat insiden penyekapan dan penyiksaan tersebut. pemuda itu menyimak dengan serius segala penjelasan Tirta.
sejam kemudian Fendi mengajak kawan-kawannya meninggalkan ruangan karena waktu besuk sudah habis.
"Kami tunggu kamu disekolah. anak-anak kalau nggak ada panglima, akan terasa sunyi." kata Fendi sambil mengedipkan mata.
"Kami pergi dulu, ya?" ujar Tirta sambil meraba dada Trias yang telanjang. dengan senyum penuh makna, gadis itu kembali menegakkan badan dan melangkah menuju pintu.
tinggal Kenzie dan Chiyome yang berada disana. pemuda itu mengelus pundak dan tengkuk Trias.
"Kalau kau sembuh... kita akan menjenguk pusara Iyun." kata Kenzie kemudian berbalik dan melangkah meninggalkan Trias diikuti oleh Chiyome.
sengaja ia berbalik karena memahami perasaan pemuda itu. Kenzie sendiri tak sanggup melihat Trias mengalirkan air mata. sepeninggal sepasang kekasih itu, Trias menarik selimut ke wajahnya dan mulai terisak-isak.
...********...
Adnan menyeruput kopi dalam cangkir dan meletakkan kembali cangkir itu di meja. dihadapannya, Yanto juga melakukan hal yang sama. hari itu adalah hari istirahat bagi semua karyawan yang menerapkan 5 hari kerja.
aparat negara itu mengenakan pakaian kasual putih dan celana merk famatex warna biru indigo. sedangkan Adnan mengenakan pakaian berkerah dan celana jins biru pudar.
"Kenapa denganmu? masih kepikiran dengan perlakuan ku kemarin?" tantang Adnan menguji reaksi lelaki dihadapannya.
Yanto meringis, "Aku belum terlalu fokus pada pekerjaanku. kematian Burhan masih menyisakan rasa perih didadaku. aku belum merelakannya." jawab Yanto dengan jujur.
"Bukankah aku menyuruhmu untuk membawa serta Bubu dalam pertemuan ini?" sindir Adnan sambil menyangga sikutnya pada pinggiran meja. "Mengapa dia tidak datang bersamamu?"
__ADS_1
"Aku tak bisa memaksanya datang. orang itu keras kepala." jawab Yanto sejujurnya.
sejenak Adnan memicingkan matanya lalu mengangguk-angguk. "Hmmm baiklah... " ujar lelaki itu dengan singkat. "Sebaiknya kau melakukan sesuatu harus memiliki pertimbangan matang sebelum hal itu akan membuatmu terlihat begitu ****** dihadapanku."
"Jangan mengungkit-ungkit hal itu. kau mau membuatku merasa bersalah?!" ujar lelaki itu menggerutu.
"Sesuatu hal yang wajar jika aku terus mengungkit hal itu. supaya kau sadar diri tak ada gunanya melakukan sesuatu yang bodoh. kau, tak pernah berubah. masih saja bodoh dibalik seragam yang membuat kesan semu seakan kau pintar dan berprestasi." ujar Adnan dengan senyum mengejek.
Yanto menghela napas. "Aku sudah menegur Bubu dengan keras. kau tak usah kuatir. kejadian itu tak akan terulang lagi." kata lelaki itu.
Adnan hanya tersenyum kembali. "Baiklah, aku berusaha mempercayaimu. jangan terpikir SEDETIKPUN dalam otak tumpulmu itu, untuk mengganggu keluargaku."
"Mengapa kau terus berucap menggunakan kata-kata tak layak kepadaku? aku juga sahabatmu." gerutu Yanto yang mulai tak sabar.
"Sahabat apa yang berani mengatai anak perempuannya sebagai sugar baby? kau rela jika istrimu kubilang ***** kelas gatal?" tukas Adnan kembali memandang Yanto dengan tatapan yang membuat lelaki itu kembali tersudut.
"Sudahlah... aku mengaku salah. aku dibutakan oleh dendamku. aku..." ujar Yanto tak mampu meneruskan kalimatnya.
"Pengakuanmu itu belum sepenuhnya mengembalikan rasa hormatku padamu." ujar Adnan sambil menunjuk permukaan meja. "Satu lagi, Yanto. sepantasnya kau merelakan kematian Burhan. anak itu membawa nama buruk untukmu. dia seorang pengedar narkoba. kau mau aibmu terbongkar? seorang pejabat punya anak pengedar narkoba?"
"Apakah ini ancaman? jika kau terus menyudutkanku. aku juga punya hati, Adnan. Aku takkan membiarkan seseorang menghinaku." kata Yanto dengan geram.
Adnan tertawa. "Kau mengancamku? kau punya nyali? ingat Yanto. posisimu sekarang bagai telur diujung tanduk. jika kau bersikeras unjuk gigimu yang rompal itu, keluarga Gobel tidak akan tinggal diam. aku bisa saja mengarahkan mereka kepadamu karena kaulah tersangka utama dibalik terbunuhnya Inayah Azura Gobel. geng motor yang membununya adalah orang suruhanmu. berarti kaulah dalang pembunuhnya. otakmu jangan kau simpan dibalik dua biji pelermu itu!"
Yanto ingin menumpahkan amarahnya namun tak pernah bisa. Adnan begitu piawai mempermainkan psikologis pejabat itu. dan memang benar. keluarga Gobel bukan keluarga biasa. mereka termasuk keluarga yang terpandang. jika Murad mengetahui para pelaku pembunuhan Iyun merupakan suruhan Yanto Lapananda, bisa dipastikan akan terjadi kericuhan besar di Gorontalo. kota bentor itu akan menggelegak ditengah perang besar antar dua keluarga besar. Yanto sudah bisa memprediksi akibatnya.
akhirnya, lelaki itu hanya bisa kembali menekur dengan lesu. Adnan telah berhasil menjatuhkan harga diri lelaki itu.
"Sudahlah... cukup sampai disini percakapan kita. makin diteruskan akan makin memanas. saranku, kau intropeksi dirimu sendiri. pastikan orang bernama Bubu itu untuk bertindak benar. jika tidak, aku tak akan membiarkan kalian berdua hidup lega dimuka bumi. camkan kata-kataku." Adnan kemudian berdiri, "Aku masih punya acara lain. aku permisi."
lelaki iru menampar pundak Yanto dengan pelan melangkah meninggalkan lelaki itu. tinggal Yanto yang dengan geramnya menggebrak meja karena jengkal dipermalukan sedemikian rupa oleh Adnan. para pengunjung sempat menatapinya sejenak lalu kembali ke aktifitas mereka semula.
...*******...
bagaimanapun Kameie dan Fitri tinggal disebuah kastil kecil peninggalan keluarga. kastil itu bertingkat tiga dan dipagari tembok tinggi. dihalamannya yang kecil tapi asri itu tumbuh pohon sakura. lahan keluarga itu luas dan menjadikan Kameie seakan tuan tanah pada jaman dulu karena memiliki jumlah pegawai yang memanfaatkan lahannya untuk pertanian.
Iechika menyadari ia tak bisa terlalu mengandalkan Ienaga dan kedua putranya lagi. Ienaga sekarang telah menjadi kepercayaan Tasuku, menggantikan Kameie. sedangkan Yasunori dan Yasuyori mulai mendekati penguasa dengan cara mereka masing-masing untuk memperkuat posisi mereka.
paska insiden kelompok Tohoku, kedudukan kelompok Kanto semakin diperhitungkan oleh lawan-lawan politik maupun kawan segolongan. Iechika tidak ingin ketenaran kelompok Kanto dibawah kepemimpinan Hidesato Fujiwara akan berakhir melalui dirinya. saatnya dia harus berhati-hati mengelola kelompok ranting Tokyo dan mengawasi setiap pergerakan para genyosha disekitarnya.
...********...
05 Januari 2020, Pukul 16.00 WITA (04.00 p.m.)
dua pusara batu berdiri tegak di tengah gundukan tanah lembab. pusara itu adalah milik Inayah Azura, istri tercinta Trias yang rela memperisai dirinya, merelakan dirinya direnggut sang maut hanya demi menyelamatkan Trias dari aksi penikaman itu.
Trias duduk didepan kuburan itu dengan mata yang sembab dan hidung yang merah karena terus mengalirkan ingus bening dari kedua lubangnya. tangan pemuda itu membelai dengan lemah, tanah tersebut.
dibelakang pemuda itu duduk bersila, Kenzie yang ditemani oleh istrinya Chiyome. alunan doa yang lirih terucap dari bibir Trias yang gemetar karena menahan kerinduan yang menggebu namun tak mampu dilampiaskan karena orang yang ingin dibasuhnya dengan pelampiasan kasih sayang telah pergi meninggalkan dirinya. jasadnya sudah berada didalam perut bumi dan ruhnya telah bersemayam dialam adikodrati meninggalkan Trias dalam penantian kerinduan yang tak berkesudahan.
Trias menyelesaikan doa nya dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kenzie mencondongkan tubuhnya menyapu pundak sahabatnya memberi dukungan moril agar Trias kuat melangkah.
" Maaf... aku terlarut dalam suasana..." jawab Trias.
"Nggak apa-apa bro. kami maklum." balas Kenzie dengan senyum layu karena terbawa keharuan suasana.
__ADS_1
"Terima kasih... kalian telah menemaniku." timpal Trias.
pemuda itu kemudian bangkit diikuti oleh Kenzie dan Chiyome. Trias menatapi pusara itu.
"Mi.. Pipi pamit dulu, ya? kapan-kapan, Pipi balik lagi kemari nyambangi Mimi..." ujar Trias.
ucapan itu tanpa sadar menimbulkan rasa sentimental dibenak Chiyome membuatnya langsung mengucurkan air matanya dengan deras. wanita itu terpaksa membenamkan wajahnya dipunggung Kenzie untuk mengusir tangis yang mengacaukan kesadarannya. setelah tenang, Chiyome mengamit lengan Kenzie.
Trias baru saja hendak beranjak ketika mendapati seorang pria juga sedang berdiri disana. pria itu mengenakan pakaian putih yang dibalut surban dilehernya.
Kenzie dan Chiyome saling berpandangan. Kenzie menyapu pundak Trias. "Kami menunggu mu didepan."
kedua laki-bini itu kemudian melangkah meninggalkan Trias dan orang itu. dihadapan kedua sahabatnya, Trias mungkin masih bisa menahan emosinya.
beberapa saat ditinggalkan kedua pasangan itu, Trias langsung melangkah mendekati lelaki itu dan memeluknya menumpahkan tangisnya yang sedari tadi ditahannya.
"Abahhhh..." sedunya dengan nada yang memilukan.
Pria itu tak lain adalah Murad Jalaludin Gobel, mertuanya. lelaki otu menutup matanya membiarkan setitik air mata mengaliri pipinya yang cekung. sebisanya lelaki itu bersikap tegar di tengah sayatan sembilu duka yang mengiris-iris lembar kehidupannya, merampas putrinya dari genggamannya.
setelah menguasai hatinya, Murad melepaskan Trias dari pelukannya.
"Tabahkan hatimu, nak. sebagai makhluk, kita tak akan bisa menghindari takdir yang digariskan kepada kita." ujar lelaki itu sambil menyapu punggung pemuda itu memberikan penguatan moral.
"Tapi saya gagal melindungi Iyun.... saya...."
"Sudahlah... kau jangan mempersalahkan dirimu. Abah sendiri sejak lama sudah merelakannya. ujungnya, kita hanya bisa mendoakannya." ujar Murad sambil membelai lengan Trias yang terbungkus pakaian koko.
"Rasanya, saya tak akan bisa melupakan Iyun..." gumam Trias.
Murad tersenyum dan menggeleng. "Abah hargai perasaanmu kepadanya. tapi ungkapan tadi menandakan kau menolak takdir yang jelas itu adalah kufur nikmat.
"Relakan dia.... mulailah kehidupan baru..." kata Murad. "Bagaimanapun ini adalah bencana yang tak mampu kita tolak. hal paling indah saat ini hanyalah merelakannya dan mendoakan yang terbaik."
di depan gerbang pemakaman keluarga Gobel, Chiyome dan Kenzie menunggu Trias yang masih betah berdiam lama-lama disana.
"Hubby..." panggil Chiyome lagi dengan senyum seringai gigi gingsulnya membuat Kenzie tak mampu berkutik.
"Kenapa Wiffy?" tanya Kenzie dengan lembut.
"Wiffy mau memperlihatkan sesuatu." kata Chiyome merogoh sesuatu dari tas kecilnya dan mengeluarkan sebatang testpack dan mengulurkannya kepada Kenzie.
"Apa ini?" tanya Kenzie mengambil testpack. ia menatap dua garis merah kecil pada test pack.
"Liat saja. sudah tahu maknanya apa?" pancing Chiyome kembali memancing rasa penasaran Kenzie.
lama pemuda itu menatapi dua garis merah pada testpack itu. lama kemudian senyumnya terbit.
"Wiffy... hamil????" tebak Kenzie dengan lirih.
Chiyome hanya mengangguk-angguk dengan wajah lucu. Kenzie menggodanya.
"Memangnya sudah siap?"
Chiyome kembali mengangguk mantap. "Wiffy sangat siap. Wiffy akan berikan Hubby harta terindah dalam hidup kita."
__ADS_1
dengan haru, pemuda itu merengkuh tubuh istrinya dengan mesra. Kenzie berbisik.
"Aku mencintaimu....." []