Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 167


__ADS_3

kehidupan adalah rentetan peristiwa yang berlangsung dari satu silhoute ke silhoute yang lain membentuk bentangan olah karya dan rasa yang mewarnai jalan takdir seseorang.


setiap bentangan peristiwa membawa hikmah tersendiri bagi siapapun yang menjalani garis takdir menuju akhir, apakah itu berakhir baik atau berakhir buruk.


sejak menikahi Saripah, kehidupan Trias semakin membaik dan semakin semangat ia menjalani kehidupannya sebagai aparat negara. Saripah sendiri meskipun merupakan pewaris tunggal tanah perkebunan, ia resign dari Buana Asparaga. Tbk sebagai pengawal Chiyome.


wanita itu juga menyadarinya dan menerima pemberhentian Saripah. wanita itu juga kini mulai aktif sebagai anggota Kemala Bhayangkari terhitung sejak dinikahi oleh bintara tersebut.


Maya Rolot yang super aktif dan penuh perhatian selalu memberikan bimbingan gratis kepada Saripah tentang bagaimana cara menjadi anggota Kemala Bhayangkari yang aktif. Bambang dan Trias hanya bisa menonton dari luar pagar organisasi tanpa boleh mengkritisi apapun yang dilakukan Maya untuk mengenalkan organisasi lebih dalam kepada Saripah.


"Sudah, tenanglah... dia tahu apa yang dia lakukan." ujar Bambang kepada Trias saat keduanya duduk diberanda rumah Bambang menikmati lagi sajian kudapan kopi dan kue buttercake karya Maya.


"Aku percaya Kak Maya akan membimbingnya. hanya aku takut kalau terlalu kepedean. kau kan tahu siapa Kak Maya?" ujar Trias.


Bambang tertawa, "Tentu aku mengenal istriku luar dalam. Maya... yang bisa menandingi kecerewetannya hanyalah ibu ketua saja. keduanya saingan berat malah."


"Kelihatannya hari-hari sibuk kita akan bertambah mulai detik ini." ujar Trias kemudian dibarengi tawa Bambang.


...******...


tidak ada yang lebih membahagiakan ketika beberapa kabar baik datang menghampiri. semuanya terasa indah seakan kehidupan begitu sempurna. sebuah pseudoperception yang mengantar kegembiraan dalam otak.


Aisyah terbangun dengan tubuh yang sangat pegal. lidahnya terasa begitu asin. beberapa kali ia mengumpulkan ludah untuk menelan membasahi hilir kerongkongannya namun justru mual semakin mengundang.


HUEEEEKKKK....UPSS....


Aisyah menangkup bibirnya dengan tangan dan langsung turun dari ranjang. ia berjalan cepat keluar kamar dan berlari kecil menuju kamar kecil yang bersebelahan dengan dapur. rasa mual semakin menusuk.


HUEEEKKKK.... HUEEEEKKKKK.... HUEEEEKKKK...


untunglah kamar kecil dapat digapainya. tanpa menunda dituntaskannya hasrat itu diwastafel hingga titik terakhir. dengan terengah-engah wanita itu melepaskan semua angin dalam lambungnya. ia membersihkan wastafel itu lalu melangkah dengan lesu kembali ke kamar.


disana ternyata Bakri sudah bangun. ia menyadari ada yang salah dengan istrinya. wajah Aisyah pucat dan tubuhnya gemetaran. lelaki itu bangun mendekati istrinya.


"Kamu kenapa sayang? kok pucat sekali?" tegur Bakri.


"Nggak tahu nih. tadi bangun badan pegal sekali, mual dan tadi aku muntah dikamar kecil." keluh Aisyah duduk disisi ranjang.


Bakri menatap lama istrinya lalu mengangguk. "Nanti aku minta tolong adikmu saja ya? aku harus masuk kantor."


Aisyah mengangguk. Bakri tersenyum dan melangkah keluar kamar. disana ia bertemu Kenzie dan Chiyome yang juga baru keluar dari kamar. Chiyome menatap Bakri.


"Kak Ais kemana Kak?" tanya Chiyome. "Apakah Saburo sudah dibangunkan?"


"Kakak minta bantuanmu ya? Kakakmu kayaknya kurang sehat tuh." ujar Bakri dengan penuh makna.


Chiyome mengerutkan dahinya lalu melangkah ke kamar Aisyah. ia mendapati Aisyah sementara duduk mengusap wajahnya pelan sementara Sandiaga masih tidur. wanita itu menyeberangi ranjang dan menyentuh kaki putranya.


"Nak, bangun! sudah pagi. sekolah kau!" tegur Chiyome menggoncangkan tubuh Sandiaga.


anak itu perlahan membuka matanya. ia menatap ibunya. tak biasanya wanita itu yang membangunkannya. anak lelaki itu membalik menatap Aisyah yang duduk ditepi ranjang.


"Umi kenapa Mama?" tanya Sandiaga sembari bangkit dengan malas. anak itu kemudian menguap dan merenggangkan tubuhnya sejenak.


"Umi lagi sakit. jadi nggak bisa mengantarmu ke sekolah. Papa yang akan mengantarmu ke sekolah. sekarang mandi dan berpakaianlah. setelah itu sarapan. ayo!" ajak Chiyome.


Sandiaga turun dari ranjang dan melangkah keluar kamar. Chiyome kemudian melangkah memutari ranjang dan duduk disisi Aisyah. wanita itu menatap Chiyome dan tersenyum layu.


"Wah... sekali ini kok Kakak loyo benar ya?" ujar Aisyah dengan senyum layu.


Chiyome meraba kening dan leher Aisyah. kemudian ia menekan bagian pergelangan tangan wanita itu dan sesaat kemudian matanya memicing.


"Kenapa dek?" tanya Aisyah dengan lirih.


"Aku nggak yakin, kita berdua harus ke dokter sejam lagi." kata Chiyome sambil berdiri lalu berbalik meninggalkan Aisyah dikamar.


wanita itu melangkah ke ruang makan. disana Kenzie dan Bakri sedang asyik menikmati sarapan. Kenzie memang sudah berpakaian rapi. sedangkan Bakri baru saja selesai mandi.


"Saburo?" tanya Chiyome.


"Baru saja mandi." jawab Bakri.


kamar kecil terbuka dan melangkahlah Sandiaga dengan santai handuk terlilit dipinggangnya membujur panjang hingga ke betis. ia menatapi ketiga orang tuanya yang sementara berada dimeja makan.


"Siapa yang mengantar saya ke sekolah?" tanya Sandiaga.


"Papa... Mama masih mau ngantar Umi ke dokter." jawab Chiyome. "Sudah ganti baju sana. cepat Papa hampir selesai sarapannya."


Sandiaga langsung lari menuju kamar. Chiyome menggeleng kepalanya beberapa kali. ia menatapi suaminya. "Hubby... kita harus paksa Saburo tidur sendiri sekarang."


"Kenapa? biarkan dia tidur dengan kami." kata Bakri.


"Mulai sekarang sudah nggak boleh." jawab Chiyome. "Sebab Kak Ais belum boleh diganggu." Chiyome menyiapkan kotak bekal makan Sandiaga. anak itu biar saja sarapan disekolah.

__ADS_1


"Lho? kelihatannya Ais cuma lesu saja." kilah Bakri. "Nanti juga sehat sendiri."


"Kapan Kak Ais berhenti haid?" tanya Chiyome.


"Waahh..." Bakri tertawa. "Jangan tanyakan ke saya dong. saya mana tahu yang begituan? kalian kaum hawa yang tahu."


"Ih, Kakak gimana sih?" tegur Chiyome. "Masa istri berhenti haid saja nggak tahu? apa sih yang kalian buat dikamar? main petak umpet ya?!"


Kenzie dan Bakri tertawa. Chiyome mendengus dan tak lama kemudian Sandiaga muncul dari kamar telah berpakaian seragam lengkap dengan kopiahnya. Kenzie tersenyum.


"Anak Papa kok keren sekali penampilannya? macam ustadz saja." sapa Kenzie sekaligus menggodanya.


"Papa apaan sih?" ujar Sandiaga kemudian duduk dikursi. "Sandi nggak mau jadi ustadz. jadi pelajar saja susahnya bukan main kok disuruh jadi ustadz." ujarnya menggerutu lalu mengangkat tangan dan berdoa sendiri. setelah itu dengan santai ia mencomot roti bakar dan memakannya.


"Memang siapa yang nyuruh kamu jadi ustadz?" kata Kenzie. "Kamu kalau jadi ustadz, bisa geger satu gorontalo dengan gaya penyampaianmu itu." lelaki bercambang halus itu kemudian menatap putranya.


"Jika kamu mengetahui suatu ilmu, jangan langsung mengumbarnya. ingat, belum tentu orang lain akan langsung menerima apa yang kau ketahui. akan ada konflik sebelum adanya saling kesesuaian paham. jika kau tidak pandai mengolah suatu konflik, yang ada kau malah menyebarkan rasa tidak tenang kepada masyarakat dan otu akan berimbas pada penilaian masyarakat terhadapmu. paham?!" ujar Kenzie.


Sandiaga mengangguk-angguk. Kenzie berdiri. "Ayo Papa antar kamu ke Sekolah." ajak Kenzie.


"Siap Pak!!!" jawab Sandiaga tegas dan langsung turun dari kursi.


Chiyome langsung menjulurkan tangannya kepada Kenzie lalu mencium tangan suaminya. Kenzie tersenyum lalu melangkah meninggalkan ruang makan.


"Ayo, Boy!!!" ajaknya dengan suara keras.


"Okey Dad!!!" jawab Sandiaga dengan suara tak kalah kwras dan ia mengejar langkah ayahnya.


Bakri kemudian berdiri. "Jadi mau kamu, Ais diperiksa ke dokter?"


"Ya. aku curiga Kak Ais...." ujar Chiyome tak melanjutkan ucapannya.


"Curiga kenapa?" tanya Bakri juga mulai curiga.


"Nggak... aku nggak mau berspekulasi. biar dokter yang memutuskan." kata Chiyome kemudian melangkah namun langsung dihalangi Bakri.


"Katakan saja Chiyo. ada apa? kenapa dengan Ais?" desak Bakri.


Chiyome sejenak menatap Bakri lalu menghela napas. "Aku curiga.... Kak Ais hamil..."


deg....


hamil....


perlahan wajah Bakri menjadi cerah dan senyumnya terkembang. ditatapnya Chiyome.


"Kau... yakin?" ujar Bakri dengan lirih.


"Nggak tahu... tapi dari detak nadi Kak Ais... katanya sih begitu..." ujar Chiyome.


"Lho? kok ragu?" tanya Bakri.


"Ya iyalah. aku kan bukan dokter." ujar Chiyome. "Makanya aku mau ijin Kakak... aku mau bawa Kak Ais ke dokter."


"okelah..." kata Bakri menyanggupi namun bibirnya terus tersungging senyuman.


"Jangan dulu kasih tahu Kak Ais!" kata Chiyome mengingatkan.


"Iya... kalau begitu, Kakak ke kantor dulu ya? kasih berita yang bagus ya?" kata Bakri dengan senyum terkembang lalu berbalik melangkah meninggalkan ruang makan.


Chiyome menghela napas lalu membereskan piring diatas meja. ia meletakkan dua lapis roti bakar dipiring lalu membawanya ke kamar Aisyah.


"Kak, makan dulu." kata Chiyome. "Habis ini, kita ke dokter."


...******...


Trias hari ini tak berniat ke kantor. entah kenapa hari ini Saripah mengeluh pusing dan mual serta tubuhnya terasa pegal disekujurnya. wanita itu baru saja muntah-muntah lalu berbaring sejenak. ia agak demam.


"Abah ke kantor saja. aku nggak apa-apa. ini hanya masuk angin." kata Saripah menenangkan suaminya.


"Kalau masuk angin, nggak mungkin seperti ini." ujar Trias. "Sudahlah. kita ke dokter saja. aku nanti ijin sama komdan Eki, belum masuk."


Saripah mendesah. wanita itu sebenarnya tidak mau membebani Trias. namun lelaki itu bersikeras dengan keputusannya. bahkan ia langsung menelpon atasannya.


📱"Halo Boss... sori, bos... aku hari ini ijin belum ke kantor dulu boss..." ujar Trias.


📱"Kenapa lagi kau? bertengkar kau sama istrimu? biasalah itu... bumbu dalam rumah tangga..." ujar Boss Eki.


📱"Nggak. istriku kurang sehat. tadi pagi, muntah dia. sekarang badannya lesu." jawab Trias.


📱"Eh, segera periksakan ke dokter... aku curiga, hamil dia." tebak Boss Eki.


📱"Ah, masa sih Boss? ini juga baru seminggu." bantah Trias.

__ADS_1


📱"Eh,bengak! kau itu jadi laki-laki tahu sedikitlah tentang perempuan.... siapa tahu pas kau layani dia, dalam masa subur... ah sudahlah, baiknya kau ke dokter saja! kau cari tahu saja disana supaya puas hati kau!" ujar Boss Eki.


📱"Oke Boss kalau begitu, saya ijin ya?" ujar Trias.


📱"Ya sudah. kuijinkan kau sehari ini merawat istrimu!"


sambungan seluler itu berhenti. Trias menyimpan gawainya dan menatap Saripah.


"Kita ke dokter." kata Trias.


Saripah mengangguk. wanita itu hanya mengenakan jaket parasut lalu bangkit dengan pelan dan melangkah dipapah oleh Trias. lelaki itu kemudian membawa istrinya keluar kamar. keduanya bertemu dengan Fahruriza yang baru saja pulang dari kebun.


"Pak, saya pinjam mobilnya ya?" pinta Trias.


"Kenapa dengan Saripah?" tanya Fahruriza menatap Saripah dalam pelukan Trias.


"Kayaknya kurang sehat. ini juga mau ke dokter." jawab Trias.


Fahruriza mengangguk lalu mengeluarkan kunci mobil. benda itu diserahkannya kepada Trias.


"Hati-hati dijalan." pesan Fahruriza. "Bawanya pelan-pelan saja. kasihan Saripah."


Trias membawa Saripah menuju halaman rumah. disana nampak mobil pick up yang biasa digunakan untuk mengangkut sayur. Trias membuka pintu mobil dan mendudukkan Saripah dijok. sedang itu ia menutup pintu lalu melangkah memutar kesisi mobil lainnya dan membuka pintu lalu duduk di jok kemudi. tak lama kemudian kendaraan itu meluncur meninggalkan kediaman Fahruriza.


...******...


Chiyome mengemudikan mobil dengan pelan. disebelahnya duduk Aisyah mengenakan khimar biru laut. wanita itu hanya mengenakan pakaian sederhana saja. mereka tiba di klinik. Chiyome menghentikan mobil dan keluar lalu membimbing Aisyah untuk keluar dari mobil tersebut.


keduanya melangkah memasuki klinik. Chiyome kemudian mendudukkan Aisyah di bangku panjang sementara dia melangkah menuju resepsionis.


"Saya mau cek kesehatan kakak saya." ujar Chiyome.


"Tunggu sebentar ya bu?" ujar petugas tersebut.


diluar terdengar deru kendaraan mendekat. Chiyome melihat sebuah mobil pick up hitam berhenti bersebelahan dengan mobilnya. pintunya membuka dan keluarlah Trias dan Saripah. keduanya masuk dan bersua dengan Chiyome.


"Lho? kamu?" kata Trias.


"Kalian? Saripah kenapa?" tanya Chiyome.


"Nggak tahu. tadi pagi muntah saja kerjanya. lemas badannya." kata Trias.


Chiyome langsung tersenyum. "Semoga benar-benar jadi ya?" katanya kepada Saripah.


Saripah hanya tersenyum layu sedang Trias mengerutkan keningnya. "Jadi apanya?"


"Ah... itu urusan perempuan.... kalian laki-laki diam saja." ujar Chiyome membuat Trias makin tidak paham. ia menatap Saripah.


"Maksudnya apa sih?" tanya Trias.


"Nanti.... kamu juga akan tahu." jawab Saripah dengan lirih.


"Sudah, nanti aku daftarkan ya?" kata Chiyome tanpa persetujuan Trias langsung ke meja resepsionis.


"Ini teman saya juga mau cek kesehatan." ujar Chiyome kepada petugas itu. "Buat satu paket saja ya?" pintanya.


petugas itu mengangguk. "Ya bu... kebetulan ibu pelanggan pertama pagi ini, silahkan masuk..."


Chiyome mengangguk lalu menuju bangku dimana Aisyah duduk. ia membimbing wanita itu menuju kamar periksa.


"Lho? Kak Ais kenapa?" tanya Trias.


"Sama dengan Ipah..." jawab Chiyome dengan tenang.


ia dan Aisyah masuk kedalam. disana telah menunggu dokter. Aisyah didudukkan dan diperiksa. sang dokter tersenyum sambil menyiapkan resep.


"Selamat ya, Ibu Aisyah Lasantu.... anda sekarang sedang hamil 3 minggu...." jawab dokter itu.


Aisyah menutup mulutnya lalu menatap Chiyome. "Chiyo... Kakak..."


Chiyome mengangguk dengan senyum haru. "Ya, Kakak... kakak memang hamil...." ujarnya.


dua tetes bening kebahagiaan jatuh dari kelopak wanita itu. dokter kemudian menyerahkan obat dan vitamin yang harus dikonsumsi wanita itu. Chiyome bangkit membimbing kakaknya keluar dari ruangan. ia bertemu Trias dan Saripah.


"Gimana?" tanya Trias.


"Kakak hamil.... sudah 3 minggu..." jawab Chiyome dengan lirih.


Trias tersenyum. Chiyome kemudian menatap Saripah. "Ipah... kamu... sebentar lagi..."


Trias tak paham dengan ucapan Chiyome. ia bangkit kemudian membawa Saripah ke ruang periksa. dokter menyambut dan memeriksa pasiennya. kembali ia tersenyum dan menuliskan resep serta obat-obatan yang akan dikonsumsi wanita itu.


"Selamat ya bu.... anda hamil... sudah satu minggu...." jawab dokter itu, mengejutkan Trias yang langsung ternganga, tak percaya. []

__ADS_1


__ADS_2