
"Kenapa sih Wiffy ngomongi itu sih? kayak nggak ada bahan pembicaraan yang lain aja." gerutu Kenzie.
"Hubby, aku nggak akan bicara itu lagi." kata Chiyome sambil menunduk. kelihatannya gadis itu mau nangis. terdengar isakan yang ditahan-tahan. kondisinya yang lagi PMS memang membuat emosi gadis itu menjadi sensitif.
Kenzie buru-buru memegang tangan Chiyome dengan kedua tangannya. "Gomen, Wiffy... Hubby kayaknya kelewatan... maaf ya?"
gadis itu masih menunduk dan mengangguk meski sesekali sebelah tangannya menyusuti air mata yang sempat keluar. Kenzie tersenyum. bicaranya kini agak menghalus.
"Lagian kenapa sih sampe mimpi disenggamai Hubby. hmmm... pasti Wiffy sebelum tidur nggak berdoa nih.." tegur Kenzie setengah menggoda kekasihnya.
Chiyome mengangkat wajahnya. "Wiffy selalu berdoa sebelum tidur, Hubby... tapi entah kenapa mimpinya malah seperti itu. Wiffy kan nggak minta mimpi begitu. Tuhan saja yang pinginnya kasih mimpi itu." jawab Chiyome setengah merajuk.
"Ceritain kronologisnya gimana.." kata Kenzie.
"Iiiiiih... malu.." jawab Chiyome sambil menahan senyum.
"Cerita saja. toh itu mimpi kita berdua..." jawab Kenzie.
akhirnya Chiyome menceritakan segalanya dari awal hingga akhir. tak ada yang terlewati, tak ada yang tersembunyikan. wajah Kenzie sedikit-sedikit memerah ketika Chiyome menggambarkan dengan teliti tiap detil pernyatuan mereka berdua dalam birahi hingga akhirnya Chiyome sadar bahwa ia ternyata mengalami menstruasi.
Kenzie tersenyum lagi. "Kok sama ya?" gumam pemuda itu.
"Sama?" gumam Chiyome mengerutkan keningnya memikirkan gumam yang keluar dari bibir pemuda tampan itu. tak lama kemudian dia langsung ceria dan tertawa.
"Hubby mimpi begitu juga ya?" goda Chiyome sambil tertawa.
Kenzie kembali tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Untung hanya mimpi. "
"Kalau misalnya nyata?" pancing Chiyome sambil tersenyum memamerkan gigi gingsulnya.
"Wiffy sayang.... Hubby hanya mau menjamahmu kalau kita sudah halal... ngerti?" tandas Kenzie dengan gemas dan mencubit dagu gadis itu.
"Tapi kalau Hubby mau sekarang, Wiffy bisa kasih, kok." pancing Chiyome lagi.
"Astaghfirullah, Wiffy... nggak boleh ngomong begitu." tegur Kenzie serius. "Hubby sudah berjanji sama Papa untuk jagain Wiffy. lindungi Wiffy hingga saatnya tiba, kita menyatu dalam pernikahan. jadi... tak usah mikir itu lagi ya?" pinta Kenzie dengan lembut sambil mengacak rambut anak itu.
Chiyome benar-benar bersyukur terhadap pemuda ini. menurutnya tak ada yang sesempurna seperti lelaki dihadapannya.
"Makasih ya Hubby, mau jagain Wiffy." kata Chiyome pada akhirnya.
"Iya, sayang... kita saling menjaga ya?" balas Kenzie sambil tersenyum.
selesai makan, keduanya berjalan keluar dari kantin sambil bergandengan tangan. Kenzie tak perduli dengan sekitaran yang menatapi mereka dengan tatapan penuh pertanyaan yang bercampur pernyataan.
sejak itu, seluruh siswa-siswi SMUN 3, sudah mengetahui bahwa kedua orang itu adalah pasangan kekasih. para guru hanya bisa menggelengkan kepala ketika mengetahui bahwa pada papan pengumuman tertera selebriti sekolah yang baru, sedikit meredupkan popularitas Trias dan Iyun.
selebriti baru itu adalah Kenzie dan Chiyome.
banyak siswi yang patah hati, banyak pula siswa yang hancur hatinya...
...*********...
Iyun menyuguhkan penganan ringan untuk pasangan selebriti sekolah yang baru itu. Trias duduk mengangkat satu kakinya ke kursi.
"Ngapa datang?" tanya Trias.
"Sadis benar kamu nanyanya seperti itu?" balas Kenzie dengan sinis. "Ini, gaya orang sudah menikah... teman sendiri dianggap lawan..." gerutu pemuda tersebut.
Trias sendiri hanya terkekeh melihat wajah keruh Kenzie. "Nggak... heran saja. kan nanti bisa ketemuan di sekolah. aku sudah nggak bisa sebebas dulu. tiap mau melakukan apapun, harus seijin istri dulu." jawab Trias.
"Aaaaaa..... alasan saja kamu bilang itu. cuma kamuflase supaya nggak diganggu." balas Kenzie.
Iyun mengajak Chiyome bicara-bicara didalam, tapi tidak dikamarnya. karena kamar mereka sekarang menjadi satu dari dua rahasia rumah tangga yang tak boleh diekspos keluar kepada tetangga maupun kawan. rahasia lainnya adalah dapur.
kamar menunjukkan rahasia pasangan dalam hubungan intim mereka dan dapur adalah rahasia, pendapatan dan pengeluaran kebutuhan hidup rumah tangga. kedua ruangan itu bagi orang Gorontalo, haram untuk diperlihatkan, bahkan kepada saudara sekalipun karena nantinya malah akan jadi bahan karlota (ghibah).
Iyun membawa sahabatnya ke ruang tamu dan mereka bercengkrama berdua disana membiarkan Trias dan Kenzie bercengkrama diberanda.
"Bagaimana? apa pesanku kau laksanakan?" tanya Kenzie.
"Aku lupa memasangnya. begitu selesai langsung kepikiran. sempat nyesal sih, tapi kulihat Iyun biasa-biasa saja. jadi aku juga jadi biasa-biasa saja." jawab Trias santai.
"Aaaaa... kamu ini, kan sudah kuperingatkan. kamu lupa atau sengaja lupa sih?" sembur Kenzie.
"Kok kamu jadi ngurus masalah kamarku sih?" Trias balik menyembur. "Kamu belum tau rasanya dikamar cuma sendirian berdua. segalanya terpampang jelas tak terselubung apapun. memang masih mikir kesitu? ya lupa lah.... yang ada hanya tinggal tuntutan penyaluran birahi, tau nggak kamu?"
Kenzie terdiam. benar juga. aku saja sekarang blingsatan sendiri kalau dekat-dekat Chiyome. dulu nggak begini. ciam-cium biasa saja. gara-gara mimpi sialan itu membuat aku makin nggak bisa konsentrasi kalau dekat Chiyome... apalagi Chiyome doyannya goda aku lagi...hahhhhh...
"Kenapa kamu? apa yang dilamunkan?" todong Trias membuat Kenzie tersadar dan gelagapan sendiri.
__ADS_1
"Hah? apa?" tanya Kenzie yang baru saja mendapatkan kesadarannya.
Trias tersenyum. "Hmmm.... aku sudah tau kamu dari dulu Ken. Kenapa? kamu sudah nggak tahan pengen halalin dia macam caraku ini?" goda Trias sambil menaikkan alisnya berkali-kali dan tersenyum jahil.
"Huangangamu...." jawab Kenzie hanya tersenyum.
(Huangangamu \= dasar mulut besar. bualan.)
keduanya tertawa bersama. Trias kemudian menatapi sahabatnya. "Bagaimana denganmu? apakah mereka menginterogasimu?"
"Sampai sekarang ini, belum ada panggilan tuh." jawab Kenzie heran.
Trias mengerutkan keningnya lalu mengangguk-angguk. Kenzie sejenak mengintari ruangan itu dengan tatapannya.
"Tapi, mereka nggak curiga dengan kita, kan?" tanya Kenzie dengan lirih.
Trias menggeleng. "Nggak. lagipula Kak Bakri juga sudah menjelaskan dan memperagakan langsung dihadapan mereka tentang teknik yang dilakukan pelaku terhadap Burhan. Om Adnan bilang, hipotesa yang dibuat Kak Bakri sama persis dengan hipotesa yang disusun tim forensik. para polisi langsung percaya, aku sendiri nggak nyangka Kak Bakri sekuat itu mampu mematahkan leher dummy ganya dengan ruas jari yang tertekuk. " puji pemuda itu.
"Kak Bakri sekuat itu?" tanya Kenzie dengan sangsi.
Trias mengangguk dengan semangat. "Kulihat sendiri para penyidik sempat keder melihatnya. mulanya mereka yang sedikit memandang rendah Kak Bakri yang kurusan macam kurang vitamin ternyata mampu menghancurkan dummy. sikap mereka langsung berubah 180° langsung bersikap sangat hormat." ujarnya lalu tertawa.
"Aku jadi penasaran..." kata Kenzie.
...********...
"Enak?" tanya Iyun melihat Chiyome makan dengan lahap kue yang disuguhkan sambil menahan tawa.
Chiyome santai saja mengangguk. gara-gara pengaruh menstruasi, nafsu makannya meningkat. untung saja gadis itu membarenginya dengan olahraga keras yang menguras keringat jadi tubuhnya tetap normal meski mengonsumsi makanan berlebih.
"Nanti aku buatkan lagi kalau kurang." goda Iyun membuat Chiyome tersipu dan menghentikan kegiatannya.
"Yun, ceritain dong bagaimana malam pertamanya." desak Chiyome setengah merengek.
"Ih, apaan sih? masa urusan kamar diceritain ke kamu?" tolak Iyun dengan risih.
"Aku kan penasaran..." timpal Chiyome.
"Nanti juga rasa sendiri kalau sudah nikah dengan Kenzie." goda Iyun.
"Aku semalam mimpi erotis..." kata Chiyome setengah berbisik. Iyun tertawa.
"Dengan...." Iyun tak melanjutkan kata-kata dan hanya mengisyaratkan dengan alis yang terangkar-angkat. makin tertawa dia melihat Chiyome mengangguk dengan polos dan tersipu sambil menutup wajah dengan telapak tangannya.
sekali lagi anggukan chiyome yang kemalu-maluan makin menambah intonasi tawa gadis bersuami itu.
"Terus?" pancing Iyun.
"Anehnya, kami berdua mimpi yang sama, dengan rentetan adegan yang sama pula." jawab Chiyome masih tersipu.
"Aduh Chiyome.... keliatannya kalian ini memang soulmate sejati deh. aku kagum. is the best buat kamu berdua." ujar Iyun sambil mengangkat kedua jempol tangannya.
"Tapi jangan bilang-bilang ke Hubby ya? nanti dia marah." pinta Chiyome.
"What? kamu bilang apa tadi? Hubby? gendeng kamu berdua ya? belum halal udah pake nama begituan." seru Iyun kembali tertawa.
Chiyome semakin tersipu dibuatnya.
...*********...
"Itu kenapa nyonya-nyonya pada ribut didalam ya?" tanya Trias penasaran hendak melongokkan kepalanya kedalam tapi langsung ditahan Kenzie.
"Biar saja. urusan anak cewek nggak usah diganggu." kata Kenzie.
Trias kembali duduk dan mempersilahkan Kenzie menghabiskan penganan di piring.
"Lalu, pelaku yang membunuh Burhan sudah bisa diperkirakan siapa orangnya?" tanya Trias.
Kenzie menggeleng. "Belum. katanya masih dalam penyelidikan. kalau menurut kamu, siapa pembunuhnya?"
"Menurut Kak Bakri, pelakunya mungkin pakar beladiri seperti kita, tidak menutup kemungkinan dia juga anggota angkatan bersenjata, atau preman yang kerja kesehariannya membunuh orang." jawab Trias dengan tenang.
"Jangan lupa, Om Yanto, papanya Burhan." kata Kenzie mengingatkan. "Tidak menutup kemungkinan dia juga sedang melakukan penyelidikan sendiri tanpa melibatkan polisi. kurasa ia tak akan rela dengan kematian putranya."
"Kok arahnya jadi ke papanya Burhan sih?" kata Trias. "Perasaan aku nggak musuhan dengan dia..."
"Nggak tau kenapa aku jadi ngarahnya kesana. bukan suudzon sih. tapi, nggak tau juga kenapa." jawab Kenzie dengan bingung.
"Coba, apa hubungannya antara aku, kau dan papanya Burhan?" tantang Trias.
__ADS_1
"Posisi kita saat menemukan Burhan dan lengkapnya penjelasanmu tentang hal yang terjadi disana. kurasa sekarang ini kita sedang diamati. maaf jika membuatmu nggak nyaman." kata Kenzie.
"Kamu jangan begitu doooong..." gerutu Trias .
"Aku bukan menakutimu. aku minta kau waspada. jaga Iyun. jangan sampai ia terseret. aku saja sekarang waspada lho dan berupaya menjaga Chiyome agar tidak terseret masalah." timpal Kenzie.
"Ini murni instingmu, atau..." tanya Trias.
"Aku nggak tahu." potong Kenzie. "Yang jelas, setelah mendengar pemaparanmu tadi, aku langsung ke pikiran kesitu."
Trias mengangguk-angguk. "Oke deh. aku percaya sama kamu. aku akan mulai waspada kali ini."
"Bagus." jawab Kenzie kemudian berdiri. "Oke Ding, aku cabut dulu."
Trias ikut berdiri. "Yun, Kenzie mau pulang nih.." serunya membuat dua perempuan yang semula sedang bergosip didalam akhirnya keluar.
"Sudah mau pulang.... cepat benar.." kata Iyun sedikit menahan.
"Aku tadi sudah diusir suami kamu. makanya aku tau diri mau pulang, nggak mau gangguin kalian berdua." jawab Kenzie dengan cengegesan membuat Iyun memelototi Trias.
"Siapa bilang aku ngusir?" tolak Trias lalu memelototi Kenzie yang tetap cengengesan. "Kamu sekali lagi bicara sembarangan, ku hamburin gigimu niiiio..."
"Ayo ah..." kata Kenzie sambil menjulurkan tangannya dan Chiyome menyambutnya.
"Ketemu lagi di sekolahan, Bro. jangan lupa, apa yang kubilang..." pesan Kenzie sambil membawa Chiyome meninggalkan kediaman tersebut.
sepeninggal sepasang kekasih itu, tiba-tiba Iyun langsung mencubit pinggang Trias membuat pemuda itu terlonjak kaget.
"Aduh, apaan sih Beb?" tanya Trias yang bingung dengan perbuatan istrinya.
"Kamu kenapa ngusir-ngusir Kenzie? kamu nggak ngerti perasaannya? katanya sahabatan!" tegur Iyun setengah ketus.
"Beb, kok jadi ngurusin Kenzie sih?" tanya Trias dengan kesal.
"Iya! Kenapa?!" tantang Iyun.
"Beb, jangan begitu dong..." rayu Trias hendak memeluk Iyun tapi ditepiskan oleh gadis itu.
"Aku itu masih mau lama-lama cengkrama dengan Chiyome. kok kamu sudah ngusir Kenzie. setidaknya cari-cari topik kek yang apa gitu supaya lama. ah...kamu sekarang memang nggak peka!" sembur Iyun.
"Aku nggak ngusir dia, Beb. swear... dia tadi cuma nitip pesan, aku disuruh jagain kamu karena...." ujar Trias.
"Tuh, yang bukan suamiku saja perhatiannya begitu banget ke aku." potong Iyun. "Kamu tega'an sama sahabatmu sendiri." tegur Iyun dengan kesal.
Trias hanya mendesah. serba salah...
"Aku kasih hukuman sama Pipi. malam ini nggak ada jatah buat Bibi!" tandas Iyun langsung pergi meninggalkan Trias.
sontak pemuda itu kaget dan langsung menyusul Iyun ke dalam. "Mi, jangan gitu dong. nanti channel Pipi gimana sinyalnya?"
"Bodooooo....!!!" balas Iyun langsung mengunci kamar.
brengsek!!! gara-gara Kenzie nih....
dengan kesal Trias langsung mendongak dan berteriak.
"KENZIEEEEE.... LOBUTA AMBUNGUMAAAA!!!!!!"
(Lobutaambunguma \= *******. kata umpatan, makian)
sedang Iyun menahan tawanya dari dalam kamar.
...*********...
Yanto memeriksa file-file yang disodorkan asisten pribadinya. lelaki itu membuka lembar demi lembar dokumen agar bisa menparaf dokumen itu sebelum diteruskan ke meja Sekretaris Propinsi.
tak lama kemudian terdengar dering telepon. bergegas lelaki itu mengangkat gagang telepon.
📞 "Yanto Lapananda disini..." jawab lelaki itu.
terdengar suara diseberang sana. kedua mata Yanto membelalak.
📞 "Benarkah? jangan bohong kamu!" ujar Yanto dengan nada yang agak tinggi. kembali terdengar suara disana. kelihatannya informasi yang diberikan sangat penting membuat wajah lelaki itu beberapa kali terlihat merah padam.
📞 "Kau sudah menemukan pimpinan sindikat itu?" tanya Yanto. kembali lagi terdengar suara disana. beberapa kali kepala pejabat itu terangguk-angguk.
📞 "Baik! pertemukan aku dengannya. aku sendiri yang akan mengkonfirmasi langsung." ujar Yanto menyudahi pembicaraannya dan langsung meletakkan gagang telepon ke tempatnya.
lelaki itu bolak-balik diruangan itu. berbagai pikiran selalu terlintas diotaknya. lelaki itu menimbang.
__ADS_1
jika memang benar informasi itu. berarti aku harus menanyai sendiri anak itu. jika tidak, aku akan terus dikejar oleh rasa penasaranku terhadap pembunhuh Burhan.
jika memang ini adalah kebenarannya, mereka tak akan berani menghalangi jalanku. []