
Aisyah tak mengetahui alasan mengapa ia dibawa Mariana dan Chiyome ke Kantor Urusan Agama... lebih tepatnya Balai Nikah.
Aisyah hanya disuruh mengenakan gaun yang begitu indah. mungkin ini buatan desainer terkenal disalah satu butik di kota. ia menurutinya dan kemudian mengikuti perintah Mariana menaiki mobil dan kedua wanita itu membawanya menuju arah utara kemudian berbelok ke jalanan yang mengarah ke jalan dua arah Andalas.
gadis itu baru tahu ketika mereka menurunkannya. dengan gugup Aisyah menatapi kedua wanita itu.
"Tunggu... Ais mau dinikahkan dengan siapa sih?" tanya jilbaber itu dengan bingung bercampur panik.
"Masuklah." pinta Mariana.
Aisyah tak bertanya lagi. gadis itu masuk dan duduk dibangku ditemani Chiyome yang menggendong Saburo. sementara Mariana mendaftarkan pernikahan Aisyah ke petugas.
ditempat lain, Stefan didandani dengan hem putih dan celana panjang hitam. kopiah bertengger dikepalanya. dengan pengawalan Kenzie, Bakri dan beberapa preman anak buah Endrawan, pemuda itu diantar menuju mobil.
pengantin pria itu dibawa dengan iringan dua mobil. Stefan dinaikkan di mobil depan bersama Bakri yang menyetir mobil dan Adnan yang memperhatikan tingkah laku si calon mantu. sementara mobil dibelakang disupiri oleh salah satu anak buah Endrawan dan Kenzie duduk disisi sopir tersebut.
kendaran itu melaju membelah jalanan dua arah Andalas menuju arah timur, tepatnya menuju Balai Nikah dimana Aisyah berada. ditengah jalan, Adnan menghubungi rektor UNG dan dekan fakultas sastra, kepala jurusan untuk meminta mereka memenuhi undangan nikahan kedua mahasiswa mereka. para pejabat itu tentu saja mengiyakan.
tak lama kemudian dua mobil tiba dipelataran halaman KUA kota utara dan memarkir disisi mobil yang dikendarai Chiyome dan Mariana. rombongan itu keluar dari mobil.
Adnan melangkah menyusuri halaman sedang tangannya mencengkeram pergelangan tangan Stefan dengan erat. mahasiswa itu meringis-ringis kesakitan. sementara Bakri dan Kenzie dengan wajah datar dan tegang mengikuti dari belakang.
"Pengantin prianya sudah datang. mana penghulunya?!" tanya Adnan dengan suara datar, pelan namun menggelegar membuat para petugas kantor sedikit kehilangan nyali. pasalnya tubuh lelaki itu besar dan kekar bukan main. melihat wajah pengantin pria yang meringis-ringis kesakitan dalam cengkraman lelaki itu menggambarkan betapa kuat tenaga sang lelaki tersebut.
"Papa?..." gumam Aisyah dengan terkejut, dan lebih terkejut lagi gadis itu melihat siapa lelaki disamping ayahnya.
"Stefan..." gumamnya lirih dan menutup mulutnya dengan tangannya. kini ia paham mengapa sang ayah tidak muncul selama tiga hari. ternyata mereka berhasil menangkap Stefan. gadis itu memperlihatkan wajah yang mengisyaratkan rasa terima kasih pada Kenzie dan Bakri.
kedua pemuda itu hanya menarik napas panjang dan mengangguk pelan. Aisyah menundukkan wajahnya dan menangis sesenggukan.
sementara itu Mariana dan Adnan sedang berdiskusi dengan petugas agar meminta segera dilaksanakan prosesi akadnya. petugas itu menenangkan Adnan yang terlihat kurang sabar karena takut mengkuatirkan si pengantin pria akan melarikan diri lagi.
Kenzie mendekati Chiyome. pemuda itu kesulitan memamerkan senyum manisnya karena masih terbawa kemarahan yang tersisa karena urusan kakaknya. Chiyome tersenyum manis mengimbangi senyuman kaku suaminya. ternyata Chiyome lebih pandai mengatur emosinya.
"Bagaimana kabarnya Hubby? urusan lancar?" tanya Chiyome.
Kenzie hanya mengangguk. ia mengembangkan tangan lalu memeluk istrinya yang begitu dirindukannya. Saburo dalam pelukan Chiyome bereaksi mengelus pipi ayahnya. perlahan kekakuan yang menggelayuti wajah pemuda itu mengendur dan senyuman manis muncul tersungging dibibirnya.
"Apa Saburo tidak nakal?" tanya Kenzie dengan lembut.
"Sangat nakal." jawab Chiyome membesarkan matanya. "Dia merindukanmu."
"Tentu..." jawab Kenzie kemudian tanpa sungkan mencium pipi dan kening istrinya.
Bakri yang melihatnya langsung menunduk. sedangkan Adnan dan Mariana tersenyum. Aisyah menatap kemesraan kedua adiknya dengan senyum, sedangkan Stefan lebih banyak menatap atap ruangan.
tak lama kemudian penghulu muncul, disusul oleh sebagian civitas akademika yang diundang Adnan. Stefan pias melihat beberapa pejabat UNG yang muncul dan menatapinya dengan tatapan bertanya, namun pemuda itu juga tak bisa memberikan jawabannya.
"Anda sekalian sudah datang. mari silahkan kita ke ruangan sebelah." kata Adnan menyambut para petinggi universitas tersebut.
Kenzie memerintahkan beberapa anak buah Endrawan untuk menghubungi beberapa rumah makan untuk menggelar katering.
"Saya ingin semuanya sempurna hari ini, meskipun ini terkesan dipaksakan. kalian mengerti?" kata Kenzie.
"Siap bos!!!" seru mereka.
"Bergerak sekarang!!" perintah Kenzie.
sebagian preman itu bubar melaksanakan amanat sang calon pewaris Buana Asparaga. Bakri menatapi Kenzie yang memeluk putranya. ia mendekat.
"Bagaimana setelah ini?" tanya Bakri.
Kenzie memastikan keadaan. keberadaan Chiyome tidak ada disana. mungkin ia mengikuti Mariana kedalam bersama-sama Adnan yang akan menjadi saksi pernikahan. Kenzie menatap Bakri.
"Amati perilaku Stefan. aku nggak percaya padanya Kak." pinta Kenzie.
"Tanpa kau minta juga pasti kulakukan." jawab Bakri.
__ADS_1
Kenzie mengangguk. "Jika laki-laki itu mengira bisa memperlakukan Kak Ais seenak dirinya setelah menikah, dia salah besar!"
...********...
pernikahan dadakan antara Stefan dengan Aisyah, sementara berlangsung. sang penghulu mengulurkan tangan dan jabat oleh Stefan dengan sangat terpaksa.
"Stefan! stefan! Stefan!" seru penghulu tersebut. "Hari ini aku nikahkan engkau dengan seorang wanita bernama Aisyah Ardianissa binti Adnan Ardiansyah Lasantu yang diwakilkan kepada saya, dengan mahar seperangkat alat sholat. dengan ini aku nyatakan kamu resmi menjadi suami darinya. apakah engkau terima nikahnya?!"
Stefan diam agak lama. wajahnya terlihat gugup sementara Adnan menatapnya dengan tatapan bengis. karena gugup Stefan malah berkata...
"Boleh saya pikir-pikir dulu pak?" tanya Stefan dengan suara melengking.
PLAK!!!!
sebuah tamparan keras dari Adnan langsung meluncur menghantam tengkuk Stefan membuat pemuda itu terjungkal. para pejabat universitas begitu kaget dengan insiden yang berlangsung dihadapan mereka. mereka terperangah tapi tak bisa berbuat apa-apa.
" Bo donggo po mikirangiomu ma to dimuka utiye?! " hardik Adnan dengan keras dan penuh kemarahan. (Masih juga kau ragu dengan apa yang berada dihadapanmu?)
Kenzie dan Bakri yang berada diluar ruangan langsung belari menuju ruangan itu dan menonton Adnan yang sementara marah-marah dan ditenangkan oleh Mariana. Stefan bangkit dan duduk lagi diperintahkan oleh penghulu. Adnan duduk kembali dengan napas yang memburu dan tubuh yang gemetar karena dikuasai kemarahan. Aisyah benar-benar ketakutan dan sesenggukan lagi, sementara ditenangkan oleh Chiyome.
kini para civitas akademika UNG itu baru menyadari jenis pernikahan apa yang sementara berlangsung dihadapan mereka dan mereka paham mengapa lelaki itu begitu marah. ini adalah pernikahan karena kecelakaan.
penghulu kembali mengulangi kalimat akadnya. akhirnya Stefan membalasnya dengan kalimat kabul dan sah pula para hadirin mengutarakan kesaksiannya. mereka berdua sudah resmi menjadi suami istri.
tapi tidak ada kegembiraan pada wajah Stefan meskipun Adnan tersenyum puas. Aisyah menangis bahagia karena tidak terkatung-katung lagi nasibnya. setiap perubahan wajah Stefan tak pernah luput dari tatapan Kenzie.
Adnan kemudian memberikan sebuah kunci kepada Aisyah. "Papa sudah mempersiapkan kamu rumah. segalanya sudah lengkap. kalian berdua hanya tinggal mendiaminya saja." kata Adnan dengan mata yang sudah mulai berair.
"Terima kasih Pa..." kata Aisyah dengan penuh haru.
Adnan mengangguk pelan kemudian menatap Stefan. "Aku percayakan putriku padamu." wajah lelaki itu kemudian mendekat dan membisik. "Jangan berani membuatnya menangis. setitik air matanya, akan kau balas dengan setetes darahmu. kau paham?!"
Stefan mengangguk-angguk tanpa komentar. Adnan menarik wajahnya lalu balas mengangguk-angguk. lelaki itu menatap Kenzie lalu mengangguk.
tak berapa lama kemudian katering yang dipesan telah datang. tiga mobil van muncul kemudian beberapa pegawai restoran muncul membawa hidangan ke dalam ruangan dan menyajikannya di lantai. pengantin, penghulu, petugas KUA dan para undangan serta keluarga Lasantu duduk lesehan menikmati hidangan tersebut.
...*********...
"Hubby... Wiffy dengar Hubby mau memutasikan seseorang. apa benar?" tanya Chiyome.
Kenzie memperbaiki kacamata lalu mengangguk. "Iya... kok Wiffy tahu? darimana?" tanya Kenzie meletakkan buku itu di nakas lalu bersila dan menatapi Chiyome.
"Dari Papa..." jawab Chiyome.
"Ya... soalnya dia membuat Hubby malu dipesta yang diselenggarakan oleh MLT.Group. perempuan itu mabuk berat dan... aahhh.... Hubby malas cerita, bikin eneg!" gerutu Kenzie dengan jengkel.
Chiyome tersenyum lalu bangkit dan duduk disisi ranjang. Saburo sudah tidur jadi mereka kini bebas berdiskusi.
"Jengkel atau jengah? mungkin ada..." goda Chiyome sengaja tidak melanjutkan kalimatnya.
Kenzie menatapi istrinya dengan amat dalam. kemudian pemuda itu menarik napas dan mengangguk.
"Hubby mau jujur, tapi Wiffy dilarang marah! janji?" todong Kenzie.
Chiyome menatapi suaminya agak lama kemudian mengangguk pelan.
"Bilang, 'Aku nggak akan marah' gitu..." pinta Kenzie.
Chiyome tersenyum, "Baiklah... Wiffy nggak akan marah. nah silahkan Hubby jujurlah..."
Kenzie kembali menarik napas panjang. lalu berkisah tentang insiden dilift dan kamar hotel. Kenzie juga mengamati wajah Chiyome yang berubah pucat dan kemudian memerah padam pertanda ia menahan emosinya.
"Hubby marahi dia habis-habisan setelah sadar ketika kami pulang ke Gorontalo. dan itulah keputusan Hubby untuk memutasikannya ke bagian lain. Hubby juga sudah menghubungi Papa untuk memberitahukan keputusan itu." ujar Kenzie mengakhiri ceritanya.
Chiyome menunduk. Kenzie memajukan tubuhnya. "Wiffy... Hubby sudah jujur dan Hubby nggak selingkuh. Hubby selalu pegang kata Wiffy. tak pernah sekalipun Hubby melanggarnya..."
nampak dua titik air mata jatuh dan itu membuat Kenzie makin mendekat dan memeluk istrinya.
"Wiffy, kenapa nangis?" tanya Kenzie dengan lirih.
Chiyome menegakkan wajahnya lalu menatapi Kenzie. ia tersenyum. "Betapa beruntungnya Wiffy bersuamikan Hubby. apa jadinya jika kita tidak bertemu dikelas waktu itu? dan Hubby tidak nembak Wiffy sewaktu di Coffe Toffe saat itu?"
__ADS_1
Kenzie menghapus bekas air mata yang membasahi pipi istrinya. "Hubby nggak mau membayangkannya. yang jelas... Hubby mencintai Wiffy dari sini..." ujar Kenzie menunjuk dada kirinya, "Bukan dari sini." sambungnya dengan tangan yang memutar-mutar diwajahnya.
Chiyome tersenyum lagi. "Apa tidak sebaiknya, perempuan itu dipecat saja?" pancing Chiyome.
"Itu keputusan yang nggak bijak." jawab Kenzie. kemudian pemuda itu mendekat dan membisik lirih. "Lagipula, ada sesuatu yang mencurigakan. Hubby dan Trias sementara menelitinya. perempuan itu belum saatnya disingkirkan. ada misteri dalam dirinya."
"Misteri?" tanya Chiyome.
"Ya... makanya Trias Hubby kasih tahu dan Hubby kirimkan data perempuan itu padanya. bagaimanapun, Trias juga masih bagian dari Buana Asparaga, kan? dia adalah tangan ketiga kita." Kenzie kemudian menyentuh punggung tangan istrinya.
"Hubby hanya tak mau Wiffy menganggap Hubby memiliki banyak rahasia. ya, walaupun memang ada rahasia yang tetap harus menjadi rahasia demi keseimbangan alam semesta." kata Kenzie.
Chiyome mengerutkan alisnya. "Memangnya ada rahasia seperti itu?"
"Ada no... mau tahu nggak?" pancing Kenzie menggugah rasa penasaran Chiyome. sang istri mengangguk.
"Rahasia yang tetap harus menjadi rahasia.... adalah.... kematian." jawab Kenzie.
Chiyome mendorong dada suaminya. "Ih, kok bicaranya begitu sih?! ah Wiffy nggak mau dengar!" ujar Chiyome kemudian menutup telinganya.
Kenzie tersenyum lalu maju memeluk istrinya. "Hubby janji... kita akan tetap bersama.... tak akan terpisahkan... dalam kehidupan... dan juga dalam kematian... kita akan menjemputnya bersama-sama.... Hubby janji... insya Allah."
Chiyome hendak melepaskan pelukan suaminya. namun dekapan Kenzie begitu kuat dan erat. wanita itu makin sulit melepaskan diri karena Kenzie telah menyerbu bibirnya yang ranum itu dan menggumulinya dengan penuh birahi.
Chiyome menyerah dalam pelukan suaminya. mereka bercinta pada saat itu juga dan melakukan pergumulan itu beberapa ronde. hingga akhirnya keduanya terkapar pasrah dalam kelelahan.
...*******...
Stefan menatapi Aisyah yang duduk disisi ranjang. pemuda itu meloloskan pakaiannya. bukannya melakukan kewajibannya, Stefan malah bersalin pakaian, memakai kaos dan celana jins dan hendak beranjak meninggalkan kamar.
"Van, mau kemana kamu?!" tanya Aisyah.
"Keluar." jawab Stwfan dengan singkat.
"Tapi...." protes Aisyah.
Stefan berbalik dan melangkah mendekati Aisyah. "Aku sudah memenuhi tanggung jawabku. sekarang biarkan aku mengistirahatkan otakku."
"Tapi kau bisa istirahat saja disini." kata Aisyah.
"Aku nggak mau!" tandas Stefan.
"Van! kau belum memberikan hakku." kata Aisyah.
"Aku sudah memberikannya di air terjun Saluopa." jawab Stefan dengan datar lalu berbalim hendak melangkah keluar.
dengan cekatan, Aisyah bangkit dan langsung menghentikan lelaki itu dengan menghalangi pintu.
"Jangan pergi Van." pinta Aisyah.
Stefan menatap istrinya agak lama, kemudian tangannya terulur dan mendorong Aisyah ke samping.
pemuda itu baru saja hendak membuka pintu ketika Aisyah menarik tangannya dan menutup lagi pintu itu. dengan jengkel Stefan mencengkeram dagu istrinya dengan keras. Aisyah terkejut tak menyangka mendapat perlakuan seperti itu. Stefan mendorong Aisyah hingga jatuh lagi diranjang. belum sempat Aisyah bangkit, Stefan sudah mendudukinya.
"Apa-apaan ini Van?!" pekik Aisyah.
"Kau mau menagih hakmu? akan kuberikan sekarang!!" seru Stefan dengan ganas kemudian merobek pakaian Aisyah membuat gadis itu memekik panik. pakaiannya sudah robek hancur tak tersisa. Aisyah menutupi tubuh telanjangnya.
"Lepaskan aku!" pekik Aisyah.
"Sudah terlambat!" jawab Stefan dengan wajah bengis.
dan mereka bergumul. ini bukan sebuah percumbuan, namun sebuah pemaksaan... pemerkosaan!
dan Aisyah akhirnya memekik keras ketika Stefan menghujamkan senjatanya tanpa pemanasan, tanpa cumbuan. vaginanya yang kering menerima hujaman yang kasar membuatnya lecet di sertai rasa sakit yang menyengat. Stefan sukses menyakiti tubuh dan sukma Aisyah lewat persenggamaan. dan makin puas ia menyemprotkan saripatinya lalu mencabutnya tanpa kasihan.
"Aku sudah memberikan hakmu. sekarang biarkan aku pergi sejenak mengistirahatkan otakku!" ujar Stefan kembali memasangkan pakaian ke tubuhnya.
Aisyah yang gemetar kesakitan akibat tindakan masokis itu hanya bisa memandang punggung Stefan yang berlalu dengan hati yang pilu. begitu pintu kamar menutup, Aisyah menumpahkan emosinya dalam tangisan, dalam ketelanjangan yang tersiksa, dalam sukma yang terluka.
ia menangis keras melewati malam yang sunyi tanpa Stefan yang juga telah pergi meninggalkannya setelah memperkosa dan menyiksa sukma istrinya lewat persetubuhan yang brutal. []
__ADS_1