Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 152


__ADS_3

Kenzie mengangguk. "Oke, nanti kita ketemuan di acara saja ya?" ujar Kenzie kemudian berbalik melambai tangan dan membuka pintu lalu masuk ke ruangannya.


Adnan Fauzi menatap sejenak pintu dimana Kenzie masuk. setelah itu ia membuka pintu dan masuk ke ruangannya.


Kenzie langsung mandi singkat, sebab ia sudah membersihkan dirinya dengan air hangat sewaktu subuh. setelah proses mandi bebek itu, Kenzie keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambutnya. setelah menyemprotkan pengharum dan menggesekkan deodoran ke ketiaknya, Kenzie mulai mengenakan pakaian formalnya, mulai dari kemeja, celana, dasi, rompi dan terakhir jas. setelah itu ia mengenakan kasut kaki dan sepatu pantoufel. arloji handmade buatan jerman dilingkarkannya dipergelangan tangan. dompetnya disisipkan disaku belakang celananya. setelah mematut-matut penampilannya di cermin besar, Kenzie dengan senyum puas keluar dari kamarnya.


lelaki itu melangkah santai menggenggam lembar undangan kegiatan tersebut. jika tanpa lembar istimewa tersebut, ia akan ditolak oleh panitia, sebab acara ini ekslusif. hanya pengusaha saja yang diundang beserta pejabat dan dinas terkait.


Kenzie tiba di Auditorium yang telah dipenuhi sesak oleh para pengusaha. lelaki itu melayangkan pandang. sapaan panitia yang meminta kartu undangan membuatnya sekejap mengalihkan perhatiannya dan melayani permintaan panitia kegiatan tersebut. setelah kartu undangan itu di scanning, Kenzie dipersilahkan memasuki Auditorium tersebut.


pandangannya kembali mengedar. disebelah utara, nampak pasangan suami-istri, David Pramudya dan Sevina Armadja dari Armadja Group. mereka berdua tidak melihat Kenzie karena sibuk diskusi dengan beberapa pengusaha lain. lelaki itu mengambil inisiatif ke bagian barisan bangku sebelah kiri dan duduk disalah satu deretan kursi itu.



nampak beberapa pejabat pemerintah duduk dibagian sofa yang mewah karena disana bertindak sebagai panelis dalam kegiatan itu.


seseorang muncul dan duduk disisinya. Kenzie menoleh. ternyata si tetangga kamarnya. Kenzie tersenyum lagi.


"Hei... ketemu lagi." sapa Kenzie.


lelaki itu menoleh dan tersenyum datar lalu mengangguk cepat, kemudian mengalihkan tatapannya kedepan. sikap lelaki itu membuat Kenzie merasa canggung. ia menghela napas dan mengangkat bahunya dan akhirnya menyibukkan dirinya sendiri pula.


acara kemudian dimulai. pembawa acara menjelaskan tema, maksud dan tujuan acara ini diadakan. akhirnya acara inti berlangsung. Menteri perdagangan, tampil membawakan materi tentang tantangan global terhadap dinamika dunia usaha di Indonesia.


para pengusaha menyimak semua penjelasan sang menteri dengan cermat. Kenzie sendiri menganalisa semua ucapan sang menteri tersebut dan membandingkannya dengan geliat dunia usaha di Gorontalo.


setelah Menteri Perdagangan selesai membawakan materinya, tibalah bagi ketua umum Kadin Indonesia maju dan berdiri dipodium menyampaikan materi bahasannya yang berkeinginan untuk membangun Kadin yang inklusif dan kolaboratif.


acara inti berlangsung dalam dua sesi. sesi pertama selesai pukul 12 siang tepat dan akan dilanjutkan pada esok hari dengan agenda rapat besar anggota Kadin melibatkan para pengusaha yang terdaftar sebagai anggota kadin.


auditorium ramai dengan perbincangan berkelompok para pengusaha. Kenzie baru saja hendak beranjak ketika lelaki disampingnya memanggil.


"Boleh temani saya di lobby?" tanya Adnan Fauzi masih dengan nada yang datar.


Kenzie menatap Adnan agak lama lalu mengangguk. "Sekarang? kalau sekarang saya nggak bisa.... soalnya... " Kenzie mendekat lalu berbisik, "Saya mau sholat dhuhur.."


Kekakuan wajah Adnan seketika mencair. ia tertawa pelan dan mengangguk. "Kebetulan kita punya tujuan yang sama. bagaimana kalau kita mencari lokasi masjid dekat sini dan melaksanakan perintah-Nya?" usul Adnan.


"Ide yang lumayan... aku harus berganti pakaian dulu. malas kalau ibadah pakai pakaian ini." ujar Kenzie.


Adnan yang hanya mengenakan pakaian batik tersenyum lagi. "Baiklah.... saya tunggu anda di lobby."


"Siip..." jawab Kenzie lalu mohon pamit meninggalkan tempat. tinggal Adnan disana yang tersenyum-senyum lalu mengeluarkan gawainya. ia menghubungi istrinya.


📱"Assalamualaikum, sayang..." sapa Adnan dengan lembut.


📱"Wa alaikum salam, Mas.... sudah selesai acaranya?" tanya Alina yang saat ini sedang memasak untuk ibu dan ayahnya dirumah orang tuanya.


📱"Baru saja selesai sesi pertamanya." jawab Adnan, "Kamu bagaimana kabarnya? apa lelaki brengsek itu datang mengganggumu?"


📱"Nggak Mas.... sejak perceraian itu dia tak sekalipun menjenguk papa... tapi biarlah, aku lebih senang dia tak ada disini... setidaknya, aku nggak ingin ia mengganggu mood ibu yang sementara hamil." jawab Alina.


📱"Baiklah, yang penting kamu baik-baik saja. oke, Mas tutup dulu telponnya ya? Mas mau sholat." ujar Adnan.


📱"Iya Mas.... assalamualaikum..." ucap Alina mengakhiri pembicaraan sekaligus memutuskan sambungan seluler itu. kali ini Adnan kembali menghubungi orang bayangan nya itu.


📱"Dimana posisimu?" tanya Adnan.


📱"Didepan Kediaman bapak Willy Bagaskara. saya sedang memantau keadaan." jawab orang itu.

__ADS_1


📱"Apakah ada tanda-tanda ancaman?" tanya Adnan.


📱"Sampai saat ini belum ada. hanya saja, kemarin Ibu Sinta hendak melakukan hal yang buruk pada Nyonya Alina, jadi saya melakukan tindakan preventif untuk mencegahnya melakukan hal demikian." jawab Hiro.


📱"Baik... terima kasih atas bantuanmu. kuharap kau tetap melakukan apapun sesuai kode etik yang kita sepakati bersama. oke?" ujar Adnan.


📱"Jangan kuatir pak. saya sangat mengingatnya." jawab Hiro.


Adnan memutuskan sambungan seluler lalu menarik napas panjang. kalau saja agenda ini bukan merupakan agenda wajib setiap pengusaha, tentu dia lebih memilih berada disisi Alina sekarang.


Adnan kembali menarik napas panjang dan bangkit melangkah meninggalkan ruangan itu. langkah lelaki itu terayun menyusuri koridor luas sambil sesekali melirik arloji pada pergelangan tangannya. sesampainya di lift, ia menekan tombol dan masuk ketika pintu menguak.


ada beberapa pengunjung hotel dalam lift itu yang sibuk dengan urusan mereka. sebagian besar mereka menggunakan gawai untuk memainkan game-game online. lelaki itu tak perduli. panggilan Allah lebih ia dahulukan ketimbang panggilan dari manapun, seemergency apapun.


pintu lift membuka, Adnan bersama orang-orang dalam lift itu menyeruak keluar. lelaki itu tetap santai saja melangkah hingga ia tiba di lobby. langkah Adnan terhenti.


ia terlambat. Kenzie rupanya telah berdiri disana menantinya. sesekali lelaki itu mengamati arloji dipergelangan tangannya. pakaian yang dikenakannya agak terlihat unik. sebuah kemeja kombinasi gaya safari dan koko dengan hiasan menerawang pada sisi kanan pakaiannya. dihiasi sulaman bunga artistik. Kenzie menatap ke koridor dan menemukan Adnan yang sedang melangkah mendekatinya.


"Sejak kapan menunggu?" tanya Adnan.


"Entahlah, mungkin sepuluh menit." jawab Kenzie, "Tapi, pentingkah itu kita bahas? ayolah... kita sudah telat." ajak Kenzie.


"Maaf membuatmu menunggu." ujar Adnan mengikuti langkah Kenzie. mereka tiba diluar gedung dan bertemu dengan Abadi Tayeb si sopir travel.


"Di, antarkan kami ke Mesjid terdekat." pinta Kenzie.


"Siap tuan." jawab Abadi dengan tanggap.


sejak dihadiahi bonus uang delapan juta itu, Abadi bertekad untuk memberikan yang terbaik bagi lelaki yang dermawan itu. ia mempersilahkan keduanya memasuki mobilnya.


"Di, jangan ngebut. kita bukan mau ngejar waktu." pesa. Kenzie mengingatkan. Abadi tertawa.


"Kita kemana nih?" tanya Kenzie.


"Ke masjid Agung Trans studio saja Pak. lebih dekat, cuma sekiloan saja." jawab Abadi membelokkan mobil ke kiri mengikuti jalan Trans Studio terus hingga menemukan dua simpangan. Abadi membelokkan lagi kendaraan ke kiri dan kembali lagi ke kiri.


"Tuh masjidnya sudah kelihatan tuan." ujar Abadi.


"Kamu mau sholat barengan kita atau mau nunggu saja dimobil?" tanya Kenzie.


"Ya kalau bapak-bapak berkenan, saya mah ikut sholat barengan saja." jawab Abadi.


"Kenapa harus tanya pendapat kita? kamu punya iman nggak? kayak robot saja pake minta pendapat." omel Ke zie. "Woy, ini sholat, buka rapat tapualemu tonggolopumu..." ujar Kenzie mengakhirinya dengan umpatan. sengaja ia mengatainya dalam bahasa Gorontalo supaya sopir itu tak paham.


"Ih, he mo muwayo ti pak? ja mpomuwayo pak... dadata dusa ti pak utiye." ujar Abadi langsung membuat Kenzie terkaget-kaget. (Bapak memaki ya? jangan memaki pak. dosa besar nanti.)


"Ih, bo hulondalo olo yi'o tiye? harapu'u tawu wewo..." seru Kenzie dengan kekagetan luar biasa. (kiranya orang gorontalo juga kau? kupikir bukan)


"Watiya ti asli mongonu, bo nika tawu lo hulondalo. watiya skarang ti u mokaraja to Trans travel." jawab Abadi menatap Kenzie. (sebenarnya saya asli bolaang mongondow, namun menikahi gadis gorontalo. sekarang saya kerja di Trans Travel) Abadi tertawa, "Empess wa'u ja bisala... " tambahnya (kenapa juga aku terus terang ya?)


"De nde ndali... mam tabiya... alihe'o.." ajak Kenzie menutupi rasa malunya. (kalau begitu, marilah kita sholat... ayo)


sedang Adnan sendiri hanya terbengong-bengong mendengar dua orang itu bicara dalam bahasa daerah. Kenzie kembali menatapnya.


"Pak Adnan, mari kita turun. masjid sudah didepan mata." ajak Kenzie.


Adnan tersentak sejenak lalu gelagapan mengangguk. ia mengikuti Kenzie keluar dari mobil dan disusul oleh Abadi yang masih sempat mengunci mobil menggunakan alarm sirene.


__ADS_1


ketiga orang itu melangkah memasuki masjid berkubah emas itu. arsitekturnya mengikuti gaya Byzantine, Baghdad dan Cordoba. dihalamannya berdiri tegak nan asri pepohonan pinus dan sejenis palem.



sesampainya didalam, masing-masing mereka mengambil tempat untuk melaksanakan sholat sunnah rawatib. menunggu waktu sholat, Adnan sendiri mengeluarkan gawainya dan membuka aplikasi Qur'an Online. ia mendaras ayat-ayat suci melalui gawai tersebut. suaranya pelan namun terdengar merdu, meski tak semerdu para Qari' terkenal.


sementara Kenzie hanya ikut mendengarkan sambil menjentik-jentikkan jarinya menghitung jumlah zikir yang barusan dibacakannya. Abadi sendiri lebih giat melaksanakan sholat sunnah ghairu mu'akkad disholat dhuhur itu.


tak lama kemudian waktu dhuhur tiba. seorang lelaki berdiri dan mengumandangkan iqamat menyuruh dengan tegas setiap jamaah bangkit dan mengambil tempat dalam shaf. Kenzie sengaja langsung cepat-cepat mengambil shaf depan. sedangkan Adnan maupun Abadi harus puas mendapat tempat di shaf ketiga. sang imam adalah seorang pakar makhroj dan hukum-hukum bacaan Qur'an lainnya sehingga tak perlu dikuatirkan akan salah membaca ayat-ayat suci.


empat rakaat telah dilalui dan ritual terakhir adalah sala.. setelah itu masing-masing orang membubarkan diri. ada yang masih betah berlama-lama, ada yang kelihatannya memiliki urusan sehingga tergesa-gesa meninggalkan tempat itu.


Kenzie meski jarang sholat di masjid, namun ia selalu rutin mengerjakan sholat lima waktu dan kadang melakukan amalan sunnah seperti qiyamul lail jika ia memiliki waktu senggang. selama ini amalan sunnah yang dilakukannya adalah sunnah rawatib mu'akkad. satu-satunya ghairu mu'akkad yang pernah dikerjakannya adalah qabliyah maghrib.


penyesalannya hanyalah ketika ia tak melakukan amalan itu saat berada dalam sekapan Puspita, terpaksa melayani nafsu bejat ladyboy itu. sering jika tanpa sadar ingatan itu melintas dalam benak, Kenzie sering terisak sendiri.


Adnan juga kelihatannya betah berlama-lama didalam ruangan yang lapang dan selesa itu. ia tak buru-buru pergi karena sebenarnya urusan inti sudah selesai dan nanti dilanjutkan besok dengan agenda rapat anggota Kadin.


Abadi yang kelihatannya agak tidak tenang. ia sesekali menatap Adnan dan Kenzie yang masih betah ditempatnya. akhirnya karena tak tahan, ia beringsut mendekati Kenzie yang masih nikmat berzikir.


"Pak? belum berniat balik?" tanya Abadi setengah berbisik.


Kenzie tersadar dan menoleh. "Kalau kamu punya keperluan ya duluan saja. aku masih ingin diam disini." jawab Kenzie kemudian mengeluarkan dompet dan memberi Abadi selembar lima puluh ribuan. "Untuk uang makanmu. pergilah." suruh Kenzie.


Abadi mengangguk lalu beringsut meninggalkan tempat itu. Kenzie menoleh menatap Adnan yang masih asyik menatap layar gawainya. Kenzie bangkit lalu melangkah mendekati Adnan dan duduk dihadapannya.


"Memikirkan orang rumah?" tebak Kenzie.


Adnan mengangkat wajahnya menatap Kenzie lalu tersenyum datar dan mengangguk.


"Dihubungi saja... kali menghilangkan rindu." usul Kenzis.


"Sudah tadi, waktu di Auditorium." jawab Adnan.


"Syukurlah kalau begitu." ujar Kenzie. "Kalau kamu punya keperluan lain, silahkan. aku nggak apa-apa ditinggalkan sendirian."


Adnan menggeleng, "Aku juga masih malas ke hotel. lebih baik mendinginkan otak yang mumet didalam masjid. itu akan lebih efektif. setidaknya kalau sudah nggak nahan, bisa langsung saja praktekkan gerakan sujud."


Kenzie tertawa sambil duduk bersila. "Urusan kerja? hal yang wajar... seorang raja akan selalu cemas meninggalkan kerajaannya ketika tidak terurus dengan baik."


Adnan hanya tersenyum hambar menanggapi ucapan Kenzie. lelaki itu mendesah lalu membaringkan tubuhnya. tatapannya mengarah ke langit-langit ruangan itu.


"Aku akan menceritakan suatu kisah kepadamu." ujar Kenzie.


Adnan memperhatikan sahabat barunya itu. Kenzie memulai cerita. "Seorang raja yang sudah renta, ingin mencari pewaris kekuasaannya. tapi ia tak menunjuk putra-putrinya untuk mewarisi kerajaan itu. ia menggunakan cara lain."


sampai disini Kenzie diam sejenak mengamati air muka Adnan. lelaki itu tetap diam namun raut wajahnya menunjukkan minat yang besar terhadap kelanjutan cerita. Kenzie melanjutkan.


"Suatu hari, raja berpidato dihadapan rakyatnya. ia hendak memberikan kesempatan bagi setiap pemuda untuk menggantikannya memerintah dengan syarat harus lulus tes. raja memberikan masing-masing pemuda itu sebuah biji. dan memerintahkan mereka untuk menanamnya. sang raja sesumbar akan menyerahkan tahtanya bagi siapapun yang bisa menumbuhkan biji itu menjadi tanaman yang terbaik." tutur Kenzie.


Adnan masih menyimak cerita itu. Kenzie melanjutkan. "Semua pemuda menanam biji pemberian raja dengan penuh harapan. namun dari sekian biji yang ditanam ada sebuah yang tidak tumbuh sama sekali milik seorang pemuda. dia iri, gemas, takut dan murka ketika menyadari dalam setiap usahanya membuat biji itu tumbuh namun berakhir dengan sia-sia."


"Kasihan sekali pemuda itu." komentar Adnan.


"Tak lama, waktu yang ditentukan tiba. masing-masing pemuda membawa sebuah pot berisi tanaman yang indah. sedang sipemuda yang bijinya tak tumbuh itu datang menghadap dengan hati masygul." tutur Kenzie.


"Kurasa, ia akan mendapatkan hukuman dari sang raja." komentar Adnan lagi.


"Raja memeriksa semua tanaman milik para pemuda itu hingga tiba saatnya giliran si pemuda yang bijinya tak tumbuh. dengan perasaan takut ia menyodorkan pot yang gersang itu. sang raja mengangguk dan menatap semua pemuda se kerajaan itu. dia berseru, 'Inilah raja kalian yang baru!." ujar Kenzie.

__ADS_1


Adnan mengerutkan alisnya. Kenzie tersenyum, "Mengapa Raja memilih pemuda yang bijinya tak pernah tumbuh?" pancing Kenzie dengan senyuman nakalnya. []


__ADS_2