Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 95


__ADS_3

pelatihan sudah memasuki hari kelima. beberapa kemajuan sudah dicapai oleh Kenzie maupun Trias. bahkan Bapu Ridhwan sudah mengenalkan sedikit teknik longgo dengan mempergunakan golok.


Chiyome dan Ipah tidak berada dihalaman saat ini. mereka sibuk membantu Nenek Juno membuat beberapa masakan. Nenek Juno sempat kagum ketika mengetahui Chiyome bisa memasak pilitode. ia tak menyangka istri cucunya yang berkebangsaan jepang itu dengan piawai memasak masakan pilitode dari berbagai jenis lauk. Nenek Juno tidak tahu bahwa Chiyome sudah mempelajari semua jenis masakan itu dari Aisyah.



perempuan jepang itu sangat senang dipuji oleh Nenek Juno meskipun sesekali kesal karena pujian si nenek akan berakhir pada cubitan keras dihidung wanita itu yang pasti akan membuat Chiyome menjerit dan meringis.


Ipah sendiri kenal dunia memasak sejak ia kecil. ketika Chiyome tenggelam dalam aktifitas beladiri semasa kecil di jepang, Ipah tenggelam dalam dunia kuliner itu dan untungnya tidak membuat perempuan itu mengalami kelebihan berat badan.



Nenek Juno memberitakan malam nanti, akan ada pertemuan seluruh anggota keluarga Mantulangi. jadi, pada malam itu dirumah kediaman tersebut akan berkumpul semua orang yang menggunakan marga Mantulangi, termasuk Mariana.


mendengar kemungkinan Mariana akan datang sangat menyejukkan hati wanita itu. ia sudah rindu dengan mama mertuanya itu. semakin semangat Chiyome memasak untuk mempersembahkan yang terbaik bagi keluarga ibu mertuanya.


sementara Saburo bermain bersama-sama Bapu Ridhwan, kakek itu terus menginstruksikan Kenzie dan Trias yang sibuk dalam bertarung. Bapu Ridhwan puas melatih kedua anak muda itu, ia kagum dengan kecerdasan keduanya. keduanya punya gaya yang unik masing-masing.



Kenzie terlihat tenang dalam membawakan gerak langga, sementara Trias cenderung agresif. gerakan Trias mirip gelombang samudra, sedangkan Kenzie lebih mirip arakan awan.



"Jika kalian sudah menyelesaikan sebagian dari gerakan longgo, berarti kita akan masuk ke tongkade." ujar Bapu Ridhwan ketika mereka telah menyelesaikan pertarungan mereka.


" Tongkade adalah ujian tertinggi dalam seni langga maupun longgo. kalian harus berkelahi dalam sarung dan saling menikam dengan badik." jawab Bapu Ridhwan sambil mengangkat-angkat Saburo yang berjingkat-jingkat dengan gembira.



Kenzie dan Trias saling berpandangan kemudian menatap kakek itu.


"Apakah tidak ada ujian lain?" tanya Kenzie.


"Itu satu-satunya ujian. tidak ada ujian yang lebih tinggi dari itu dalam seni langga." jawab Bapu Ridhwan sambil terkekeh.


...********...


Siuri Cottages, Tentena, Poso.... 28 Desember 2020 pukul 08.00.



Aisyah duduk menyantaikan dirinya dikursi panjang dan menselonjorkan dirinya menikmati udara pagi yang menghembus di danau Poso. penginapan itu memang berlokasi ditepian danau poso agak jauh dari jalan besar. penginapan yang paling ideal bagi pasangan-pasangan yang ingin menyendiri.


Stefan muncul hanya mengenakan singlet polos dan celana jeans panjang warna biru pudar, menampilkan tubuh atletisnya kemudian memeluk Aisyah dari belakang. sejenak Aisyah kaget lalu membalas pelukan tersebut dengan menempelkan pipinya dipipi sang pemuda.


"Bagaimana? kau suka?" tanya Stefan.


"Suka... terima kasih ya?" jawab Aisyah dengan tersenyum.


"Tentu. semua akan kulakukan untukmu." jawab Stefan merayapkan jemarinya ke dada gadis itu dan meremasnya dengan lembut.


Aisyah menampar pelan dan menggerutu, "Masih pagi... dasar mesum."


Stefan tertawa pelan dan menyingkirkan tangannya. kemudian menegakkan diri dan melangkah memutari Aisyah lalu duduk disisi kursi panjang itu.

__ADS_1


"Ah... cuma pegang-pegang sedikit kan nggak apa-apa." tangkis Stefan.


"hmmm... kelihatannya aku baru tahu modusmu ini..." ujar Aisyah sambil memicingkan mata, "Kamu sengaja minta ikut supaya bisa menggerayangiku, kan?!" tebaknya.


"Nggak... aku hanya ingin menghabiskan liburan ini bersamamu." jawab Stefan.


"Tapi kamu selalu memanfaatkan itu untuk melakukan hal-hal semacam itu. kamu tuh bikin risih aku." kata Aisyah.


"Itu kan hanya selingan saja. supaya nggak bosan." tangkis Stefan lagi dengan senyum nakal.



Aisyah berdecak kesal. "Kita belum nikah lho Van. kok kamu senang sekali ya mengerjaiku?"


"Siapa suruh kamu belum mau kunikahi. ya nikmati saja jamahan itu.... hitung-hitung pemanasan." olok Stefan kembali dengan senyum nakalnya.


Aisyah memajukan punggungnya dan memukuli pundak Stefan kemudian menyandarkan dirinya lagi sambil memeluk tubuhnya.


"Kalau begitu, besok aku pulang ke Gorontalo." kata Aisyah.


"Lho? kenapa? liburan kan belum habis?" tanya Stefan dengan kaget.


"Pokoknya aku besok pulang ke Gorontalo!" tandas Aisyah.


"Okey okey... kita pulang ke Gorontalo besok, asalkan kasih tahu apa alasannya." kata Stefan sambil mengembangkan tangan.


"Nggak perlu alasan jika keinginan untuk pulang ke rumah muncul dalam benak." tandas Aisyah sambil menatapi Stefan dengan jengkel.


"Oooo harus dong. kalau nggak ada alasannya, aku nggak akan setuju kamu pulang dan saya sendirian disini." kata Stefan dengan senyum liciknya.



"Aku tak memikirkannya tuh. kedua orang tuaku nggak perlu berpikir dua kali untuk membuang putranya kemana pun mereka mau. aku hanya mengikuti apa maunya mereka." jawab Stefan.


"Van, kamu nggak memikirkan penderitaan mereka ketika kita berdua disini bersenang-senang diatas suar lelah nya mereka itu?" tegur Aisyah.


Stefan menghembuskan napasnya. "Ais... keberadaan kita disini, juga atas sepengetahuan mereka. jadi apa yang mesti kita takutkan?"



"Jika dua muda-mudi itu saling berduaan, maka setan adalah pihak ketiga, Van." tegur Aisyah.


Stefan melangkah menuju pintu beranda lalu memandang ke halaman. di ujung sana nampak sebagian pemandangan danau Poso dari bawah bukit.


"Kelihatannya hari indah untuk jalan-jalan." ujar Stefan mengalihkan pembicaraan. ia menatapi Aisyah yang masih duduk berselonjor.


"Bagaimana kalau kita menyegarkan tubuh kita dulu lalu melanjutkan ke Air terjun Saluopa. Bagaimana menurutmu?" pancing Stefan.


Aisyah menatapi Stefan agak lama membuat pemuda itu jadi kikuk. "Ayolah Ais. aku butuh pendapatmu."


"Aku tak tahu harus menyangggupi atau menolak ajakanmu." kata Aisyah.


"Tinggal bilang ya atau tidak saja kok susah sekali?" gerutu Stefan.


"Aku ingatkan kamu. kalau ke Saluopa, jangan pernah melakukan hal-hal diluar batas. sekali lagi, jangan bertindak diluar batas." kata Aisyah dengan nada menekan.

__ADS_1


"Memangnya hal diluar batas mana yang kita lakukan?" tantang Stefan sambil bercakak pinggang.


dengan kesal Aisyah memberi isyarat dengan jemari meremas kemudian mengacungkan jari tengahnya dan menaik-turunkannya. Stefan langsung tertawa.


"Oooo.... itu? oke deh, aku janji nggak akan ngelakuin itu, tapi kita lakukannya di hotel ya?" ujar Stefan.


Aisyah kembali berdecak kesal dan melempar pandang ke halaman. ia tak mau beranjak. Stefan akhirnya kembali berjongkok disisi kursi itu.


"Iya, iya... aku nggak akan lakuin itu. janji!" kata Stefan.


"Terus, ucapanmu yang setelah itu bagaimana?!" tanya Aisyah dengan ketus.


"Yang mana?" tanya Stefan.


"Dasar pikun! itu, kamu mau mainin aku lagi dihotel. apakah akan kamu lakukan? jika iya, aku akan langsung meninggalkanmu disini, aku balik ke Lawanga, dan jangan pernah injakkan kakimu dirumah itu maupun dirumahku di Gorontalo!" ancam Aisyah.


Stefan menampar keningnya. "Kok sadis benar ancamannya Ais?" ujarnya memelas.


"Kamu pikir aku gadis apaan??" tanya Aisyah mulai dengab nada tinggi.


Stefan langsung kelabakan dan meminta Aisyah merendahkan suaranya.


"Okey, okey... aku nggak akan menyentuhmu. paham? puas?" ujar Stefan sambil mengangkat tangan.


Setelah mendengar ucapan dan bahasa tubuh pemuda itu akhirnya membuat Aisyah tersenyum dan mengakhiri pemberontakannya.


"Nah gitu dong." ujar Aisyah. "Cukup sekali ini... tadi malam aku biarkan kau menggerayangiku. itu yang terakhir, Van. aku nggak mau terjebak."


"Okey..." jawab Stefan datar.


"Aku masih ingin kuliah sampai tamat, lalu aku tunggu lamaranmu." kata Aisyah.


"Okey". jawab Stefan dengan wajah datar.


Aisyah mengangguk. "Bagus." gadis itu bangkit lalu berdiri tegak menatapi Stefan. "Ayo kita menyegarkan diri."


Stefan tersenyum lalu masuk kembali masuk kedalam ruangan. Aisyah hanya duduk menunggu. akhirnya, Stefan muncul dengan kemeja lengan.panjang yang lengannya digulung. ia mengenakan celana jeans.


sementara Aisyah memang sudah berpakaian casual sejak tadi dan menunggu Stefan ketika dia duduk menselonjorkan kakinya. jilbaber itu sudah bangkit ketika pemida itu telah duduk disisinya. keduanya melangkah menuruni tangga dan menyusuri jalan setapak menuju ke sebuah kafe.


disana mereka memesan softdrink dan teh botol, dua piring mie goreng. sementara menunggu makanan mereka disajikan, Keduanya kembali terlibat dalam pembicaraan.


"Aku tak tahu apa yang membuatmu marah hari ini. aku tak mau membahasnya sekarang. tapi bisakah kamu bersikap biasa?" pinta Stefan.


Aisyah memandang keluar. "Maafkan aku." jawab gadis itu dengan pelan.


Stefan menatapnya agak lama, kemudian mengangkat bahunya. "Okey nggak apa-apa. mungkin kamu lagi PMS."


Aisyah menunduk. "Mungkin saja... perutku kram tadi."


tak lama kemudian seorang pelayan datang membawa baki berisi empat botol minuman dan dua piring mie goreng. ia tiba disisi meja yang ditempati Aisyah dan Stefan dan meletakkan hidangan disitu kemudian meninggalkan tempat mereka.


Stefan sejenak menatapi punggung pelayan itu lalu menatap Aisyah.


"Selamat makan." kata Stefan sambil mengembangkan tangan.[]

__ADS_1


__ADS_2