
Chiyome menghempaskan tubuhnya ke kasur. pikirannya terbang menuju Kenzie. apa yang dilakukan pemuda itu sekarang?
Chiyome menekan nomor seluler Kenzie. tak berapa lama nada sambung itu terkoneksi. keduanya menggunakan video call.
📲 "Halo? Chiyo?" sapa Kenzie nampak dilayar video iru
📲 "Iya, aku. memang siapa lagi?" tanya Chiyome sambil membulatkan matanya.
📲 "Kupikir Papa lagi sadap ponsel kamu" Kenzie terlihat tertawa dan memunculkan emoji 😁
📲 "Gimana kabarmu?" tanya Chiyome.
📲 "Ya mau gimana lagi? aku diskors. nggak boleh kemana-mana seharian ini." jawab Kenzie dengan pasrah.
📲 "Kalau begitu, aku kesana." pinta Chiyome.
📲 "Jangan.... Papa sudah tahu apa yang kita lakukan kemarin malam. tadi Papa marah-marah dan kami berkelahi di belakang rumah. Mama menangis karena sekarang Papa pergi entah kapan mau balik. aku dan Kak Ais sampe bingung ini.... tapi apa mau dikata?" papar Kenzie.
📲 "Kalau besok sudah boleh sekolah, kita ketemuan disana ya?" pinta Chiyome. entah kenapa rasa rindu merayapi benaknya dan ingin sekali berjumpa dengan Kenzie meski hanya ingin melihat wajahnya saja.
📲 "Aku nggak yakin. moga saja Papa pulang cepat dan dia mencabut skors terhadapku. jika iya, berarti beres."
📲 "Aku ketemu Papamu di acara duka. dia bilang nggak akan membunuhmu. ia meminta ijinku untuk menghajarmu. aneh, kan?" kata Chiyome sambil tertawa pelan.
nampak dilayar Kenzie tertawa senang lalu menatap Chiyome dengan tatapan menggoda.
📲 "Kayaknya Papa memang sudah memutuskan menjadikan kamu calon istriku." kata Kenzie sambil tertawa lagi.
Keduanya tertawa bersama. tak berapa lama wajah Kenzie terlihat serius seakan melongok kearah sesuatu. ia kemudian menatapi Chiyome.
📲 "Wiffy, aku tutup dulu ya. kayaknya Papa sudah pulang tuh." kata Kenzie.
📲 "Wiffy?" tanya Chiyome dengan kening berkerut.
📲 "Iya.. nanti kamu panggil aku Hubby.. boleh,kan?" goda Kenzie kemudian merubah wajahnya lagi kembali serius. "Udah ya, ditutup dulu. bye...muach." sehabis mencium layar itu, Kenzie memutuskan sambungan selulernya.
Chiyome terkekeh. ada-ada saja Kenzie. kok suruh panggil dia hubby.. hubby tuh apaan ya?
merasa penasaran, Chiyome membuka situs google dan mencari istilah Hubby disana. ketika membaca penjabaran istilah itu, wajah Chiyome memerah dan tersenyum.
dasar Kenzie... sugoi desune... kamu memang paling the best buatku...
dirasuki eforia kasmaran, gadis itu mencium wajah Kenzie yang tertera pada wallpaper ponselnya sambil berguling-guling diranjang.
...*******...
Kenzie baru saja menyimpan ponselnya mendengar suara detakan sepatu yang menyeberangi ruangan. pemuda itu menajamkan pendengarannya meskipun tak beranjak dari ranjang nya.
Adnan masuk kamar menemui Mariana yang sedang duduk ditepi ranjang masih tetap menangis. keduanya matanya sudah bengkak karena banyak menumpahkan air mata. lelaki itu duduk dibelakang wanita itu dan mulai merengkuhnya.
"Maafkan aku telah melukaimu. aku hanya ingin menunjukkan pada anak kita bahwa setiap perbuatan memiliki resiko dan tanggung jawab. jika dia tidak hati-hati, maka nyawanyalah yang akan melayang." ujar Adnan sambil menyandarkan dagunya dipundak wanita itu.
"Mama paham Pa... yang Mama nggak terima, Papa pukuli dia sampe begitu...." jawab Mariana ditengah isakannya.
"Itukan juga bagian dari pembelajaran, Ma..." sahut Adnan. "Kalau nggak dibegitukan, mana mau dewasa dia? bukankah ketika aku mempelajari langga dari Bapu Agu, juga diajar sekeras itu? tapi aku kan nggak mengeluh. aku paham, bahwa rasa sakit adalah bagian dari pembelajaran menuju kesuksesan."
(langga \= seni beladiri asli rakyat gorontalo. gerakannya unik, mirip campuran tarian, taichi dan yawara)
(Bapu \= kakek. bisa juga disebut Ju Panggola.)
Mariana masih diam. namun tangisannya telah berhenti pertanda ia mulai memahami metode Adnan dalam mengajari putranya.
"Papa tau Mama menyayanginya. tapi jangan manjakan dia, Ma." pinta Adnan. "Kenzie itu anak laki-laki, nggak kayak Aisyah. tanggung jawabnya sangat besar. jika dia tidak memperhitungkan segalanya, dia hanya akan menjadi orang yang gampang disingkirkan." ujar Adnan sambil mencium dengan lembut tengkuk istrinya membuat Mariana mendesis.
Mariana berbalik. ia menatapi suaminya yang kemudian tersenyum teduh padanya dan membelai rambut wanita itu. "Baiklah. Mama paham. sekarang temuilah dia dikamarnya. aku tadi marahi dia dan larang dia keluar seharian ini. aku mau kamu maafin dia. nasihati dia."
Adnan tersenyum lalu bangkit menggamit tangan Mariana mengajaknya duduk disofa diruang keluarga. disana juga telah berdiri Aisyah yang tiba-tiba langsung menghambur memeluk kaki lelaki itu membuat Adnan blingsatan.
"Apa ini?... bangun dong Ais.." pinta Adnan.
__ADS_1
"Ais nggak mau lepasin sebelum Papa maafin Ken-ken." rajuk Aisyah.
Adnan tertawa bersama Mariana. Adnan mengangguk dan memberi isyarat agar Aisyah diam. keduanya duduk disofa.
"Panggil adikmu." pinta Adnan.
Aisyah mengangguk ceria lalu bergegas ke kamar Kenzie. dia membukanya kemudian melambai-lambaikan tangan agar Kenzie keluar.
Aisyah kembali ke ruang keluarga diikuti oleh Kenzie. kedua anak itu kemudian duduk dipermadani depan sofa panjang yang diduduki pasangan suami istri itu. Kenzie menunduk.
Adnan memasang wajah datar dan menatapi anak lelakinya. ia kemudian mendehem membuat Kenzie mengangkat wajah menatapi ayahnya.
"Sudah tahu kesalahanmu?" tanya Adnan masih dengan suara datar
"Saya minta maaf Pa, sudah membuat kalian kerepotan dan merasa malu. memang benar saya melakukannya atas dasar kesetiaan kepada teman." Kenzie sejenak berhenti lalu menghela nafas lagi. "Namun dalam hal ini saya tetap bersalah. saya... minta maaf." kata Kenzie kemudian menatapi ayahnya dan kembali menekurkan wajahnya.
Adnan menarik napas lagi lalu melirik kepada Mariana yang kemudian mengangguk pelan.
"Papa maafkan perbuatanmu." kata adnan.
"Benar, Pa?" tanya Kenzie kembali dengan senyumnya yang jenaka.
"Dengan satu syarat!" tandas Adnan. "Jangan berani melakukan hak yang konyol tanpa sepengetahuan Papa. jika apa yang kau lakukan itu menurutmu berbahaya, diskusikan dengan Papa."
"Okey, saya juga mengajukan syarat!" tuntut Kenzie.
"Apa itu?" tanya Adnan sambil mengerutkan keningnya.
"Ajari aku jurus yang Papa pamerin dihalaman belakang. aku bisa gila kalau nggak bisa menguasainya." jawab Kenzie dengan tatapan matanya yang begitu haus akan pengetahuan.
Adnan tertawa lalu melirik Mariana. "Nanti kalau liburan, kita ke Suwawa, menemui kakek buyutmu. dia akan mengajarimu."
"Makasih Pa..." jawab Kenzie sambil tersenyum lebar.
"Ada lagi berita mengejutkan." kata Adnan kembali melirik Mariana lalu menatapi Kenzie. "Ini berhubungan dengan sahabatmu, Trias."
perlahan wajah Adnan mengendur dan kembali tertawa. "Temanmu, Trias, dua hari lagi akan menikah. kita diundang."
Kenzie terbelalak mendengar berita itu. "Nggak mungkin!" pekiknya dengan kaget.
"Beneran kok. Papanya sendiri yang bilang." jawab Adnan sambil menceritakan latar belakangnya.
Kenzie tertawa ngakak membayangkan bagaimana Trias menggertak ayah mertuanya beserta ayahnya sendiri. dia benar-benar kagum dengan sahabatnya itu.
tiba-tiba ide jahil juga muncul dikepalanya. ditatapi pula ayahnya yang sedang bercakap-cakap dengan ibunya.
"Papa...saya juga minta dinikahi sama Chiyome." pinta Kenzie.
seketika Adnan tersedak bersamaan juga dengan Aisyah. Mariana dan Kenzie sampai bingung melihat ayah-anak itu kompak tersedak bersama-sama.
"Kakak kenapa sih?" tanya Kenzie dengan heran.
"Pilotepa lo pombolumu ti... jangan gila kamu. kalau kau maksa kawin. nanti Chiyome kau mau kasih makan apa?!" bentak Adnan namun dalam hatinya merasa geli. Mariana sendiri justru tertawa berbarengan dengan Aisyah setelah gadis itu menyeka sisa sedakannya.
(pilotepa lo pombolumu \= ditendang buah zakarmu! salah satu ungkapan yang digunakan untuk mengumpat.)
"Kasih makan cinta Pa.." jawab Kenzie sambil tertawa.
"Jangan mainin anak orang Ken. kamu benar serius sama itu anak?" tanya Aisyah.
"Ya serius laaa.. masa nggak. kami jadian di Coffe toffe, dua hari lalu pas dia datang kemari sama-sama dengan Kak Ais." jawab Kenzie.
"Ken... dia orang jepang lho... Nggak lelah kamu bolak-balik ke jepang hanya untuk menemuinya. LDR nya itu lhoo..." kata Mariana.
"Ma... Kenzie sudah putuskan untuk merasakan cinta ini. dan biar Kenzie putuskan sendiri, apakah rasa ini membahagiakan atau menyengsarakan kami berdua. restui kami Pa, Ma... Kenzie nggak mau main-main dengan perasaan ini..." ungkap Kenzie dengan polos.
kedua laki-istri itu saling berpandangan lalu tersenyum
"Anak kita sudah dewasa Ma..." ujar Adnan sambil menggenggam tangan istrinya dan tersenyum. Mariana balas tersenyum lalu menatapi putranya.
__ADS_1
"Nak... perjuangkan cintamu... jika kau sudah yakin... jangan setengah-setengah menjalani sebuah hubungan." nasihat Mariana.
"Jangan lupa Istikharah.. minta petunjuk sama Allah. mudah-mudahan dia jodoh kamu." tambah Aisyah sambil tersenyum.
Kenzie terharu mengetahui bahwa mereka merestui hubungannya dengan Chiyome. pemuda itu bangkit.
"Papa... ijinkan aku menemui Chiyome..." pinta Kenzie.
Adnan mengangguk. "Ingat Ken. jangan kebablasan. kalian belum halal. kuatkan iman... dan satu lagi..." kata Adnan sambil mengepalkan tangan keatas. "Perjuangkan cinta kalian."
Kenzie mengangguk mantap lalu melangkah ke kamar untuk bersalin baju dan berdandan. setelah itu ia menulis chat kepada Chiyome sambil senyum-senyum sendiri.
...*********...
"Sebelum berbuat, harus memperkirakan semua resiko. itu baru benar!" omel Endi kepada putranya saat mereka bercengkrama diruang makan. "Apa kau yang punya ide ****** itu?" tanya Endi sambil memasukkan perkedel nike kedalam piringnya yang penuh dengan nasi lalu mulai memakannya.
Trias mengangguk sambil mengucel nasi dengan sayur kelor. "Aku menyeret Kenzie kedalam permainan ini."
Endi geleng-geleng kepala dan menghela napas. "Anggu yi'o ti uamu... ja mowali mo mikirangi ugagaliyo?.." gerutu pria itu lagi.
(Dasar kau, belum bisa mikir yang benar.)
"Kalau misalnya dalam perkelahian itu, kalian yang tewas? bagaimana?" pancing Endi.
Trias melengos, "Sudah resiko, Pa."
"Dan aku akan menyumpahimu, menyumpahi paitamu (nisanmu)." sembur Endi dengan jengkel. butiran-butiran nasi langsung meluncur layaknya proyektil yang keluar dari senapan gatling, memenuhi wajah Trias.
"Kok Papa se sadis itu bicaranya?" ujar Trias. ia tersinggung sambil membersihkan sisa-sisa nasi yang memenuhi wajahnya karena disembur ayahnya.
"Ya memang harus sadis macam itu." tandas Endi. "Kamu juga tega sama Papa, nggak mendiskusikan terlebih dahulu rencanamu itu. kan sedikit-sedikit, Papa bisa bantu." ujar Endi sembari memakan lagi perkedel nike yang tinggal satu.
"Memang Papa bisa mengalahkan mereka?" ledek Trias sambil terkekeh dan melahap potongan perkedel nike ke mulutnya.
"Papamu ini dulu, preman terkenal di Pasar Sentral. tapi karena menghormati papanya Kenzie, Papa mengundurkan diri dari dunia hitam. Papa pilih jadi pedagang daging." kata Endi sambil mengipasi wajahnya dengan kipas plastik.
"Biar sudah begini, Papa ini masih kuat. Papa masih disegani..." ujar Endi sambik menepuk dada.
"Sejak kapan Papa dengan Om Adnan sahabatan?" tanya Trias dengan serius.
Endi tersenyum dengan pertanyaan putranya. kenangannya lembali terungkit. dulu, Endi adalah biangnya preman Pasar Sentral. tidak ada satupun kawanan bawah tanah yang tak mengenal Endi dan komplotannya.
dilain sisi, Adnan adalah putra seorang penegak hukum, dan juga bertindak layaknya penegak hukum. kawanan Adnan sering bentrok dengan kawanannya Endi.
suatu ketika Endi dijebak dan dikeroyok oleh pengkhianat dalam kelompoknya dan hampir kehilangan nyawa kalau saja tidak ditolong oleh Adnan.
Endi sadar bahwa sebenarnya lawannya hanyalah orang yang menginginkannya menjadi orang yang benar, maka sejak itu keduanya bersahabat. Endi mengundurkan diri dari dunia preman dan memulai hidupnya sebagai pedagang daging bermodal uang yang diberikan Adnan kepadanya.
"Uang haram itu berikan saja semuanya kepada teman-temanmu. dan uang halal ini, gunakan untuk membangun hidupmu. semoga kelak keturunanmu tidak akan mengikuti jejakmu, meskipun secara genetik, ia mengikuti sifatmu." ujar Adnan setelah menyerahkan uang itu.
kalimat itulah yang membuat Endi bertekad merubah nasibnya agar bisa menjadi orang yang benar. uang pemberian Adnan dianggapnya sebagai pinjaman modal. berbekal tekad untuk memperbaiki diri, membuat Endi menjalankan bisnisnya dengan sepenuh hati. uang pinjaman itu berhasil dikembalikannya. namun kembali Adnan menolaknya.
"Aku tak mau memanfaatkan persahabatan kita untuk meminta uang. bagiku, persahabatan kita lebih berharga dari apapun." ujar Endi bersikeras mengembalikan uang itu.
"Tabunglah uang ini, gunakan untuk keperluan anakmu nanti. aku sudah sangat bersyukur, kau telah menjadi orang yang benar. selebihnya, aku nggak pernah mengharap apapun." ujar Adnan kembali mengangsurkan uang itu kepada Endi.
sejak itu Endi menjadi teman terbaik yang dimiliki Adnan. dengan pengalamannya sebagai mantan preman, ia banyak memberi masukan dan informasi menghadapi lawan-lawan bisnis yang mencoba menggoyang posisi Adnan.
untuk menghargai partisipasi lelaki botak itu, lagi-lagi Adnan menginvestasikan saham untuk Endi sebanyak 25 persen. meskipun Endi sehari-hari, menekuni pekerjaan sebagai pedagang daging, setiap bulan ia juga menerima sisa laba dari perusahaan milik Adnan melalui tabungan deposito.
...********...
"Papa? ma mohayali. wolo?" (lagi mengkhayalkan apa?) tanya Trias, membuat Endi gelagapan.
lelaki berkepala plontos itu terkekeh lalu menatap putra tunggalnya. "Nak. persahabatan dengan lawan yang pandai akan lebih berharga, ketimbang persahabatan dengan teman yang bodoh."
"Maksudnya apa tuh Pa?" tanya Trias.
"Pikirin sendiri sana." sembur Endi kembali menyemprotkan beberapa butir proyektil putih ke arah Trias yang langsung ditepis oleh pemuda itu.
Endi bangkit dan menatapi anaknya. "Ingat, lusa kamu nikah. jaga baik-baik badan kamu. jangan buat Iyun nangis lagi gara-gara ngobati badanmu yang banyak bekas luka akibat perkelahian. berpikir dewasa sedikitlah."
__ADS_1
Trias diam mendengar gerutuan ayahnya. []