
Chiyome dengan sabar menunggu suami dan kedua sahabatnya menyelesaikan ritual sholat dhuhurnya. sebenarnya Chiyome hanya mampir mau mengantar bekal saja. tapi entah kenapa ia justru berlama-lama di sekolah itu. entah bernostalgia akan masa sekolahnya atau memang masih belum bisa melepas rindu kepada sang suami.
ibu muda itu duduk dibalak beton yang biasa diduduki siswa-siswa non muslim. banyak siswa dan siswi mantan teman sekelasnya yang melihat Chiyome langsung menyapa dan menghampirinya. ada yang sekedar berbasa-basi, ada juga yang sampe menanyakan keadaan diri dan bayinya. Chiyome meladeni pertanyaan mereka satu persatu.
hingga akhirnya kegiatan ibadah dhuhur itu selesai dan beberapa siswa dan siswi kemudian keluar dari mushola. Kenzie dan Trias keluar kemudian disusul Ipah muncul dari pintu sisi perempuan. ketiganya mendekati tempat Chiyome duduk.
ibu muda itu menyerahkan bekal masing-masing. untuk Kenzie, ibu muda itu meletakkan bekal dalam tupperware, sedang untuk Trias dan Ipah dimasukkan dalam kotak dus.
"Makasih ya?" ucap Trias dengan senyum lebar. Ipah pun tersenyum menerima bingkisan dus makan siangnya.
" Itadakimasu.... " seru Kenzie sambil tersenyum.
" Tabenasai... " balas Chiyome sambil tersenyum lebar memamerkan seringai ginsulnya.
ketiganya kemudian makan. Chiyome sesekali melahap makanan ketika Kenzie menyuapkannya. Ipah mendecap menikmati makanan itu.
"Enak sekali." puji Ipah.
" Makasiiiiih..." jawab Chiyome. "Kalau Hubby ijinkan, Aku bisa buatkan juga untuk kalian."
Kenzie menggeleng. "Jangan. nanti Triasnya yang manja. kasian Ipah nggak ada kesempatan untuk berbakti."
Syarifah yang mendengar ucapan Kenzie menjadi tersipu sedang Trias hanya cengengesan saja sambil menikmati hidangan siang.
"Kenzie bilang, kamu praktisi beladiri. apa benar?" tanya Ipah.
Chiyome sejenak menatap Kenzie yang seolah cuek karena menikmati hidangan istrinya. ibu muda itu mengangguk.
"Kenapa?" tanya Chiyome sambil tersenyum.
"Kenzie bilang kamu shihan ya?" tambah Ipah.
kembali lagi Chiyome menatapi suaminya sejenak lalu mengangguk dengan perasaan gundah. "sebenarnya aku nggak nyaman dengan hal ini. kesannya aku pamer. tapi, ya... iya."
"Boleh latihan sama-sama nggak? aku masih senpai sih, dan 3." ujar Ipah.
"Oooo... boleh saja. nanti datang saja ke rumah. kalau disana aku nggak segan bagi ilmu sama kamu. tapi kalau diluaran, itu haram bagiku." kata Chiyome sesekali memperhatikan suaminya.
Kenzie sudah menyelesaikan makannya dan sekarang sedang menikmati minuman dalam botol. sementara Ipah membeli dua buah botol air mineral di kedai kecil depan sekolah.
Ipah mengucapkan terima kasih atas kebaikan Chiyome melayani makan siang mereka. kedua sejoli itu bangkit meninggalkan mereka. tinggal Chiyome dan suaminya disana.
"Hubby yang kasih tau ya?" tanya Chiyome sambil merapikan tuppweware bekal makan siang suaminya.
"Iya. sengaja. supaya Ipah mau jajal kemampuan Wiffy. sudah lama Hubby nggak liat Wiffy beraksi." goda Kenzie. "Jadi ingat kita berdua waktu selamatkan Trias."
Chiyome tersenyum. "Maunya Hubby, wiffy ngajari Ipah?"
"Nggak juga seperti itu. lebih ke arah sharing saja. setidaknya perempuan itu bisa berguna melindungi Trias." ujar Kenzie.
"Memangnya Trias tak mampu melindungi dirinya? bukankah tingkatannya sama dengan hubby?" tanya Chiyome lagi.
"Dia kuat. tapi sering menjadi sasaran niat jelek seseorang. makanya dia perlu seorang pengawal. Dia pernah cerita ke Hubby, bahwa hubungannya dengan Ipah itu merupakan rekomendasi tersendiri dari Iyun, seminggu sebelum Iyun wafat. Hubby ingin ia dilindungi. lagi pula, dia calon besan kita bukan?" ujar Kenzie setengah mengolok.
Chiyome tertawa sejenak. sang istri mengangguk. "Boleh. tapi Wiffy nggak mau disebut guru. meskipun Wiffy mengajarinya, dia bukan murid lho."
"Terserah Wiffy saja." kata Kenzie sambil mengelus dagu dan mencubitnya dengan lembut.
"Hubby, bisa nggak bilang sama Mama dan Kak Ais untuk nggak cubitin hidung Wiffy? sakit lho. kenapa sih mereka suka sekali mengusili hidung ini?" ujar Chiyome curhat pada suaminya.
Kenzie tersenyum, "Kamu bikin gemas mereka. utamanya hidung Wiffy. lurus kecil mirip hidung-hidung manga. nggak macam Hubby atau Trias yang hidungnya lebar macam bawang merah."
Chiyome hanya tersipu mendengar jawaban suaminya. "Apakah memang seperti itu? lalu kenapa Hubby nggak cubit hidung Wiffy? masa cuma Kak Ais dan Mama?" rengek ibu muda itu.
Kenzie kembali tersenyum dan mengulurkan jemarinya lalu mencubit hidung istrinya dengan lembut. Chiyome bagai melayang ke awan dengan perlakuan suaminya.
__ADS_1
bel siang berbunyi. Kenzie mendesah. "Aaaa.... Hubby harus masuk lagi." Pemuda itu bangkit dengan malas. "Besok Hubby ngantor. Wiffy ikut ya?"
"Oke deh. sekalian mau inspeksi." kata Chiyome sambil tertawa. "Wiffy mau ketemu sama Lola dan 11 orang satpam yang pernah Wiffy gebuki."
Kenzie tertawa. "Jangan dong. kasian mereka. sudah jatuh tertimpa tangga pula."
Chiyome tertawa lagi. "Oke deh. Hubby masuk aja. nanti kita ngantor sama-sama besok ya?"
Kenzie mengangguk. pemuda itu hendak berbalik ketika mendengar panggilan istrinya. Kenzie menoleh dan mengangkat alisnya. Chiyome memonyongkan bibirnya. Kenzie tersenyum, tahu isyarat itu. wajah pemuda itu mendekat dan menciumi bibir Istrinya dengan lembut. sesaat kemudian Kenzie menarik bibirnya.
"Hubby belajar dulu ya?" kata Kenzie.
"Ganbatte, Hubby Lovely Sweety..." seru Chiyome sambil mengacungkan tinjunya keatas dan tersenyum lebar memamerkan seringai gingsulnya.
"Yesss!" balas Kenzie mengacungkan tinjunya keatas.
pemuda itu berbalik melambaikan tangan dan melangkah menuju koridor. sedangkan Chiyome melambai hingga suaminya menghilang dibalik rimbunan pepohonan pendek penghias taman sekolah. setelah itu, ibu muda itu berbalik menuju mobilnya sambil menjinjing tas bekal. beberapa saat kemudian mobil keluar dari area sekolah dan melaju melintasi jalanan.
...*******...
Ipah memantapkan hati mengunjungi rumah kediaman Lasantu. selama ini ia belum pernah mengunjungi tempat itu, selain baru saja kenal juga canggung.
benar gadis itu penyandang sabuk hitam karate-do tingkat 3, alumnus perguruan INKANAS dan sudah mengikuti beberapa event perguruan.
namun kali ini gadis itu akan berhadapan dengan seorang penyandang sabuk hitam tingkat 9, seorang Shihan. sangat jarang dalam usia seperti itu telah menyandang tingkatan grandmaster, kecuali Chiyome memang dididik sejak kecil dengan penempaan keras.
tebakan gadis itu tidak salah. Chiyome memang dipersiapkan oleh Kameie dan Ienaga menjadi mesin pembunuh. itulah sebab ia dididik dengan pendidikan yang sangat tidak manusiawi. Ipah tidak tahu, dalam pembinaan mental, Chiyome yang waktu itu berusia 10 tahun pernah dilempar ke kandang macan hanya untuk mengetes sejauh mana rasa takut menguasainya. berkali-kali Chiyome gagal dan kadang bermimpi buruk akibat mendengar auman macan yang dirasakannya hampir merampas nyawa dari tubuhnya.
dan usahanya memetik hasil. gadis itu menancapkan karirnya sendiri sebagai sang kembang maut yang saat ini ditakuti karena berhasil meluluh lantakkan kelompok Tohoku sendirian. membuat Shinobu Tsukasa sendiri kagum dan berniat menjadikan gadis itu sebagai salah satu dari tangan hukum klan Yamaguchi. tapi Chiyome menolak dan lebih memilih mengikuti suaminya ke Indonesia. aset-aset wilayah Tohoku dan bisnis pachinko di Shibuya diserahkan untuk dikelola oleh Iechika atas nama Chiyome.
meskipun Chiyome tak melibatkan diri dalam bisnis Tekiya secara langsung, namun apabila dibutuhkan oleh Iechika, ibu muda itu pasti akan keluar dari persembunyiannya kembali menggetarkan jagad genyosha, apabila ada yang mengganggu pagar bisnis nya.
Ipah ditemani Trias memasuki dojo pribadi milik Chiyome. gadis itu terpana menatapi arsitektur ruangan tersebut, yang memadukan unsur budaya gorontalo dan unsur budaya kanto, jepang.
"Hei, kenapa berdiri disana? masuklah..." ajak Kenzie yang sementara memondong putranya.
Trias yang melihat bayi Saburo langsung melepas selopnya dan melangkah masuk dengan cepat mendekati Kenzie.
"Kemarikan anak mantuku. aku mau memondongnya juga." kata Trias.
Kenzie tertawa, "Kamu itu belum punya anak, Yas. nantilah kalau sudah punya anak perempuan, barulah kau pantas panggil Saburo, mantumu."
"Alaaa... diam kau! kemarikan mantuku!" paksa Trias.
dengan senyum masam, Kenzie menyerahkan Saburo ke pondongan sahabatnya.
"Ahhhh.... Saburo, kamu tahu nak? Abah sangat merindukan kamu nak." ujar Trias sambil mencium kepala bayi itu membuat Saburo berjingkrak-jingkrak senang dalam pelukan pemuda itu.
"Weh, kamu nikah saja belum sudah ngaku dipanggil Abah, Yas...Yas... obsesi sekali kamu jadi orang tua ya?" sindir Kenzie sambil duduk bersila.
Trias ikut duduk bersila. "Kalau ya, kau mau apa?" tantang pemuda itu.
Kenzie menatapi Ipah yang masih berdiri canggung. pemuda itu tertawa. "Nggak usah gugup. silahkan duduk. Chiyome masih sementara bersalin baju. sebentar lagi dia kemari."
tak lama kemudian Chiyome muncul mengenakan te-gi lengkap dengan obi hitam yang sudah lusuh dan banyak robekan disana-sini. 9 strip emas tersulam diujung sabuk itu. kini Ipah yakin bahwa gadis itu memang seorang grandmaster. ibu muda itu menatapi Ipah yang makin canggung. apalagi tatapan gadis itu sangat berbeda. terasa lebih dingin dan mengintimidasi.
"Kau bawa te-gi, kan?" todong Chiyome dengan datar.
Trias yang melihat Ipah terintimidasi dengan penampilan Chiyome hanya tersenyum. "Santai Ipah. Chiyome itu manusia juga." tegurnya.
__ADS_1
Ipah menarik napas panjang lalu mengangguk. "Ya. aku bawa."
"Pakailah. kamar ganti ada disana dekat kamar mandi." kata Chiyome sambil menunjuk pintu dimana ia muncul tadi.
Ipah melangkah menuju pintu itu. sementara Trias menatap Chiyome. "Bu, jangan terlalu keras ya?"
"Justru harus kukerasi. kelak dia nanti jadi pengawalmu." kata Chiyome dengan dingin.
Trias tersenyum masam. "Kau seakan meragukan kemampuanku."
"Aku nggak meragukan kemampuan kamu. tapi aku menjaga jangan sampai kejadian lama terulang lagi." ungkit Chiyome sambil mengangkat dagunya. "Perempuan iru akan kulatih sampai ambang batas ketidak mampuannya. jika tidak, Ipah tak layak ada disamping kamu!"
"Siapa bilang aku tak layak disampingnya?!" suara Ipah bergema dalam ruangan dojo yang lapang itu. Kenzie dan Trias menatap ke arah pintu.
gadis itu sudah berdiri tegak dengan seragam te-gi putih. bagian pinggangnya telah dililit obi hitam yang ujungnya disulam aksara kanji dituliskan 'karate-do'.
Ipah melangkah dengan anggun mendekati Chiyome. rasa sungkannya hilang ketika mendengar Chiyome mengatakan dirinya tak pantas berada disisi Trias. keduanya kini berhadapan. Ipah mencoba menantang tatapan Chiyome. tak lama gadis itu mulai merasakan tekanan karena Chiyome tak sedikitpun mengendurkan tatapannya.
apa ini... tatapan perempuan ini begitu dingin, menusuk, mengintimidasi.... aduhhhh lepaskan aku Chiyome, aku menyerah kalah deh...
Chiyome mendengus. "Kalau menatap mata lawan. jangan tatapi putihnya. tatapi titik hitam pada korneanya. itu titik paling lemah. jika kau mampu menekan tatapanmu ke titik itu, kau akan bisa mengetahui seluruh kemampuan musuhmu tanpa ia menyedarinya."
Ipah mengakui hal itu. gadis itu perlahan menunduk.
"Jangan menunduk Ipah! tatap mataku!" pinta Chiyome.
bagai diperintah, gadis itu mengangkat wajahnya kembali menatap Chiyome namun tatapannya tak setajam itu lagi.
"Tatap aku, Ipah!" bentak Chiyome.
Ipah terkaget-kaget dengan bentakan itu. pengendalian dirinya guncang. gadis itu gentar.
sementara Saburo dalam pondongan Trias justru makin berjingkrak-jingkrak ceria seakan bentakan ibunya seperti gemerincing lonceng mainan saja. Trias sampai kaget mendengar suara ibu muda itu. sementara Kenzie hanya biasa saja. ia sudah pernah mendengar bentakan itu ketika Chiyome mengejar Nobuo yang telah mengacaukan perayaan nikahnya.
melihat Ipah yang gentar membuat Chiyome mengendurkan tatapannya. ibu muda itu mengulurkan tangannya menyentuh kedua bahu Ipah. kata-katanya kali ini terdengar lembut.
"Kalau menatapku saja kau gentar, gimana mau mengalahkan orang lain?" kata Chiyome kemudian berdiri tegak lagi.
Trias melihat lutut gadis itu gemetar. pengendalian dirinya jatuh. Ipah gentar. Trias mengembalikan Saburo ke pondongan Kenzie. pemuda itu bangkit dan menatapi Chiyome.
"Kurasa pertemuan ini sampai disini dulu. Ipah mungkin letih. boleh kami pergi, Chiyo?" kata Trias.
"Silahkan..." kata Chiyome.
Trias langsung menggandeng Ipah dan memaksanya meninggalkan ruangan itu. Ipah bagai boneka yang mau saja dibawa Trias keluar. ia terasa kosong.
sesampainya diluar, tiba-tiba tubuh Ipah limbung. tanpa sempat digapai Trias, tubuh gadis itu jatuh dan bersimpuh ditanah. napasnya memburu. Trias berjongkok menatapi Ipah yang terlihat gamang.
"Kamu nggak apa-apa sayang?" tanya Trias sambil menyentuh punggung Ipah.
"Manusia macam apa dia? kau nggak lihat?" ujar Ipah menoleh menatapi kekasihnya. Trias menunduk menarik napas panjang lalu mengangguk.
"Kau sudah tahu siapa dia, kan?" ujar Trias dengan pelan. "Itu baru sebagian kecil saja."
"Tatapannya... aku serasa dihempaskan kedalam ruang hampa udara. ... aku.... aku tak mampu bernapas..." Ipah menekan dadanya berupaya mengatur napasnya.
"Berlatihlah lebih keras, sayang. kalau kau bisa menundukkan tatapannya, maka kau akan lebih mudah menerima pelajaran yang berharga." kata Trias menyemangati kekasihnya.
"Benarkah?" tanya Ipah dengan lirih.
Trias mengangguk mantap. "Aku tahu siapa perempuan itu. dia seperti buah durian. berduri diluar... tapi kalau kau sudah dapat membuka kulitnya... kau akan mendapati hatinya selembut buah durian itu. sangat manis."
"Akan kucoba.... akan kucoba.... " ujar Syarifah menguatkan hatinya.
Trias kembali tersenyum lalu mengangguk dan membantu kekasihnya berdiri lalu memeluk Ipah dengan lembut memberi penguatan moril untuknya. []
__ADS_1